Category Archives: Traveling

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Pengalaman Pertama Ke Luar Negeri

Dulu aku pernah menulis tentang pengalaman pertama ke pulau Sumatra. Maaf kalau kali ini postingannya terkesan agak ndeso lagi. Ya, hari ini atau sore tadi tepatnya, untuk kali pertama aku pergi ke luar negeri, yaitu ke Malaysia.

Aku pergi berdua dengan Jiwo, teman IF’07. Kami menumpang pesawat AirAsia nomor penerbangan QZ7595 dari bandara Husein Sastranegara Bandung pukul 16.15. Pesawat mengalami keterlambatan 30 menit dari yang seharusnya pukul 15.45 sudah take-off.

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Pesawat menuju Kuala Lumpur

Penerbangan dari Bandung ke Kuala Lumpur ditempuh selama 2 jam. Mendarat di Kuala Lumpur International Airport (KLIA) pukul 19.15 waktu setempat, atau sama dengan 18.15 WIB. Sampai di sana, suasananya sudah menjelang maghrib. Kami langsung mengganti kartu SIM ponsel kami dengan kartu SIM setempat. Mereknya DiGi. Harga starter pack-nya  RM 18.5.

Sebenarnya ketika mendarat di bandara KLIA, aku ingin memotret suasana bandara. Tapi ada larangan memotret area bandara. Ya sudah, tak jadi saja aku.

Dari KLIA menuju KL Sentral menggunakan feeder SkyBus yang tiketnya kami beli sekaligus dengan tiket pesawat. Jauh juga ternyata jarak dari KLIA menuju KL Sentral. Kurang lebih ada 40 menit perjalanan kami tempuh dengan bus. Selama di Malaysia nanti, kami akan stay di hotel Shah’s Village yang terletak di kawasan Petaling Jaya.

Di kawasan Kuala Lumpur (atau seluruh Malaysia?) ini ada tol dan gedung pencakar langit di mana-mana. Mirip-mirip Jakarta lah (atau Jakarta mirip KL?). Pemandangan malam itu begitu bagus. Cahaya lampu di mana-mana, perpaduan dari lampu jalan dan juga gedung-gedung pencakar langit.

Kami mampir makan malam di kawasan — sorry, aku lupa namanya — diajak oleh ‘teman’ dari Malaysia. Semacam food court gitu sih tempatnya. Insya Allah halal karena yang punya adalah orang India muslim. Tapi sempat terkejut juga sih ketika ada poster menu yang menawarkan masakan khas Jawa Timur. Jangan-jangan kokinya ada orang Indonesia juga nih. 😀

Menu Jawa Timuran

Menu Jawa Timuran

Oke, malam ini rasanya harus istirahat dulu. Tak sabar untuk menantikan esok hari untuk jalan-jalan di Kuala Lumpur melihat-lihat suasana di sana. 😀

Pertama Kali ke Tanah Sumatra

Ya, mungkin terkesan agak ndeso postingan kali ini. Cuma ke Sumatra saja sampai dibikin postingannya segala. Tapi jujur saja, pengalaman ke Lampung kali ini memang merupakan sejarah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumatra, hehehe.

Jadi ceritanya hari Ahad lalu aku dihubungi oleh seorang teman dan juga “bos” tempatku mroyek sekarang. Terus aku ditawari untuk ikutan proyek temannya di Lampung mulai hari Selasa kemarin (2011/11/29) sampai hari Ahad besok (2011/12/04). Tanpa banyak mikir, aku langsung mengiyakan tanpa tahu proyeknya seperti apa.

Ternyata proyeknya nggak jauh-jauh dari kegiatanku dulu semasa masih aktif di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) ITB, tepatnya di bagian Toserba. Proyek ini tentang sistem informasi akuntansi dan penjualan (Point of Sales) dari sebuah koperasi yang berada di bawah sebuah perusahaan di Lampung. Proyek ini sudah berjalan beberapa bulan dan aku diminta untuk membantu mengerjakan beberapa bagian yang belum selesai.

Oke, hari Selasa aku pun ikut berangkat bersama dua orang lainnya menggunakan pesawat Merpati dari Bandung menuju Lampung langsung. Jujur saja, ini baru kali kedua aku naik pesawat. Sempat kagok juga sih dengan aturan bandara.

Dari bandara Radin Inten II, Bandar Lampung, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 2 jam menuju utara, menempuh jarak kurang lebih 90 km. Ternyata Aku berada di kabupaten Bandar Mataram, hehehe. 😀

Lampung, Lampung … di sini suasananya ternyata Jawa banget ya :D. Di mana-mana ada saja pemandangan orang mengobrol memakai bahasa Jawa. Tanah Sumatra, cita rasa Jawa, hehehe :lol:. Tapi enak … makanan di sini cocok banget dengan selera lidahku. Suatu hal yang jarang sekali kudapatkan di Bandung. Hmm … mungkin karena memang masakannya bercita rasa Jawa ya.

Nonton Langsung Final Bulutangkis SEA Games XXVI

Ini kali kedua aku menonton langsung pertandingan bulutangkis di Istora Senayan, Jakarta. Kalau sebelumnya aku menonton final Djarum Indonesia Open Premier Super Series (DIOPSS) bersama dua orang teman, kali ini aku sendirian saja :(. Habisnya mereka tidak cukup tertarik untuk menyaksikan langsung final bulutangkis SEA Games yang notabene memang kalah gengsinya dibandingkan dengan turnamen bulutangkis sekelas Super Series.

Namun, aku tetap memutuskan berangkat ke Istora sendirian. Kapan lagi bisa menyaksikan langsung jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia tampil di final lima nomor sebuah turnamen.

Aku berangkat dari Bandung pagi-pagi dengan menumpang KA Argo Parahyangan. Sampai di stasiun Gambir langsung jalan kaki menuju shelter busway Monas untuk ganti menumpang busway menuju kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Senayan. Suasana kompleks GBK lebih ramai dibanding aku ketika datang menonton final Indonesia Open dulu. Apalagi sebabnya bila bukan karena timnas U-23 juga akan bertanding petang hari itu. Jadi selain final bulutangkis, juga ada pertandingan semifinal cabang sepakbola.

Sementara itu, suasana Istora Senayan cukup “lengang” kala aku datang ke sana. Tak perlu mengantri untuk mendapatkan tiket. Kali ini aku membeli tiket untuk tribun I. Variasilah, dulu sudah pernah nyoba tribun II, sekarang ingin mencoba juga rasanya menonton dari tribun I :D.

Tiket SEA Games

Tiket SEA Games

Ngomong-ngomong soal tiket, tiket untuk pertandingan cabang badminton ini cover depannya sama dengan cabang-cabang olahraga SEA Games yang lain. Bagian depan dicetak dalam warna dominan biru dengan bahan kertas karton mengkilap. Baru di bagian belakangnya tertera nama cabang yang dipertandingkan dan nama babaknya.

Oh ya, dibandingkan dengan saat penyelenggaraan DIOPSS, kondisi Istora terlihat lebih segar sekarang. Mungkin karena spanduk dan baliho yang dipasang di seantero stadion lebih bervariasi warnanya, tidak seperti penyelenggaraan DIOPSS kemarin yang penuh warna merah (warna sponsor) di mana-mana.

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Motto SEA Games XXVI : Bersatu & Bangkit

Pertandingan final bulutangkis SEA Games ini akan dimulai pukul 14.00. Pintu masuk stadion baru dibuka pukul sekitar pukul 13.15. Aku termasuk beruntung bisa berada di antrian yang agak awal sehingga ketika masuk ke dalam masih belum terlalu ramai sehingga masih bisa mendapatkan tempat yang cukup pewe untuk menyaksikan pertandingan walaupun bukan berada di deretan kursi paling depan.

Setengah jam sebelum pertandingan dimulai, tiba-tiba Nadya Melati, salah satu pemain ganda putri Indonesia, memasuki lapangan bulutangkis. Oh, ternyata dia melakukan uji coba lapangan (atau uji coba shuttle cock ya?). Jadi, dia diminta oleh official pertandingan untuk memukul shuttle cock dari sisi lapangan yang satu ke sisi yang lain. Hmm … aku baru tahu ada prosedur seperti itu. Apa biasanya memang harus seperti itu ya?

Nadya Melati uji coba lapangan

Nadya Melati uji coba lapangan

Sebelum pertandingan pertama dimulai, panitia menyuguhkan tarian adat Jawa — aku lupa namanya — bertempat di court 2. Kira-kira ada sekitar 10 menitlah tarian itu dipertunjukkan.

Tak berapa lama kemudian tibalah saat yang dinanti-nanti, pertandingan pertama final SEA Games cabang bulutangkis antara Anneke Feinya Agustin/Nitya Krishinda Maheswari vs Nadya Melati/Vita Marissa! Dua pasangan ganda putri yang tengah melejit peringkatnya di ranking dunia. Anneke/Nitya kini ada di peringkat 19 dunia di mana sekitar 3 bulan lalu berada di kisaran 30-an. Sedangkan Nadya/Vita saat ini berada di peringkat 10 dunia.

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Anneke/Nitya vs Nadya/Vita

Pertandingan berlangsung seru. Awal-awal set 1 Nadya/Vita tampak mendominasi dengan smash-smash keras mereka. Tapi pertahanan Anneke/Nitya kokoh juga ya. Terbukti saat kedudukan 20-19 untuk Anneke/Nitya, sebuah serangan bertubi-tubi dari Vita yang tampaknya akan membuat mati, dapat dikembalikan dengan baik oleh Nitya sehingga skor pun terkunci di angka 21-19.

Pertandingan itu sendiri akhirnya dimenangkan Anneke/Nitya dengan 2 set langsung yang berarti mereka berhak memperoleh medali emas dan merupakan gelar kedua mereka tahun ini setelah menjuarai Vietnam GP Agustus lalu. Melihat kiprah mereka selama SEA Games yang tak pernah terkalahkan, pasangan ini memang terlihat menjanjikan. Aku optimis peringkat pasangan ini dapat terus meningkat lagi hingga menembus 10 besar dunia.

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Bona/Ahsan vs Kido/Hendra

Pertandingan berikutnya yang digelar adalah partai final ganda putra antara Bona Septano/Mohammad Ahsan vs Markis Kido/Hendra Setiawan. Rekor pertemuan mereka sebelum ini adalah 1-1. Pertandingan yang menarik untuk disimak karena melibatkan dua kakak beradik yang akan saling bermusuhan di lapangan, yakni Markis Kido dan Bona Septano.

Permainan yang dipertontonkan kedua pasangan di set pertama benar-benar sesuai dengan ekspektasiku, banyak jumping smash keras dilancarkan dan skor pun juga ketat alias kejar-kejaran. Terbukti permainan harus diakhiri setelah melalui beberapa kali deuce dan berakhir dengan skor 25-23 untuk Bona/Ahsan.

Namun, sayangnya tidak demikian di set kedua. Bona/Ahsan melejit dengan mudah dan unggul jauh. Entah kenapa, pertahanan Markis/Hendra saat itu begitu buruk dan sering salah pengertian. Kesalahan-kesalahan seperti shuttle cock gagal melewati net juga kerap terjadi. Set kedua pun benar-benar menjadi milik Bona/Ahsan. Sama halnya dengan Anneke/Nitya, medali emas SEA Games ini juga menjadi gelar kedua Bona/Ahsan tahun ini setelah gelar Indonesia GPG sekitar 1-2 bulan yang lalu.

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Fu Mingtian vs Adriyanti Firdasari

Cukup sudah partai All-Indonesian Finalnya. Partai berikutnya giliran mempertemukan tunggal putri Singapura Fu Mingtian melawan jagoan tunggal putri Indonesia, Adriyanti Firdasari. Keduanya sama-sama membuat kejutan dengan mengalahkan unggulan pertama dan kedua dari Thailand, Porntip Buranaprasertsuk dan Inthanon Ratchanok, di semifinal. Fu Mingtian tidak sendirian. Ia didukung beberapa pemain dan official Singapura yang berada di tribun VIP timur. Sementara Firdasari tentu saja didukung oleh ribuan suporter INA.

Set pertama tampak berjalan mudah bagi Firdasari. Apalagi dibantu dengan banyaknya kesalahan yang dilakukan oleh Fu Mingtian. Firda unggul di set pertama dengan skor 21-14. Namun, aku baru tahu kalau Firda tengah cedera di pertandingan itu. Saat break set 1 menuju set 2, Firda meminta spray penghilang rasa sakit. Ternyata dia memang Continue reading

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 3] — Snorkeling

Minggu, 9 Oktober 2011

5.00. Keinginan untuk melihat sunrise tiba-tiba surut. Gara-garanya aku bangun kesiangan atau bahasa Jawanya itu kerinan. Jam 5 pagi di sana itu langit sudah mulai agak terang. Sementara untuk melihat sunrise, aku harus pergi ke arah timur pulau yang jaraknya cukup jauh dari tempat penginapan ini. Belum lagi badan pegal-pegal dari aktivitas sehari sebelumnya, membuat diri ini malas gerak, hahaha. Yang lain pun setali tiga uang.

6.00. Sesuai rencana sebelumnya, pagi jam 6 kami sudah harus bersiap-siap untuk pergi snorkeling. Kami sudah meminta tolong kepada Pak Manshur untuk mengurusi akomodasi yang diperlukan untuk snorkeling. Sewa kapal ke tempat snorkeling Rp300.000 dan perlengkapan snorkeling per orang adalah Rp35.000 yang terdiri atas kaki katak, kacamata dalam air, dan selang pernafasan.

Setelah semuanya selesai diuruskan oleh Pak Manshur, kami pun berangkat menuju tempat persewaan perlengkapan itu dan lanjut ke dermaga Pulau Tidung. Di sana telah merapat beberapa kapal atau perahu yang siap mengantarkan para wisatawan yang akan snorkeling.

7.15. Sampai juga akhirnya di tempat snorkeling. Perjalanan dari Pulau Tidung ke tempat snorkeling ini kira-kira sekitar 20-30 menit. Dalam perjalanan tadi menuju tempat snorkeling kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan nasi uduk bungkusan yang sudah disediakan oleh Pak Manshur. Jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan energi saat snorkeling :D. Ya, biaya sewa kapal ini sudah termasuk sama nasi bungkus yang disediakan oleh Pak Manshur.

Tempat yang kita tuju ini bisa dikatakan sebagai sebuah pulau batu karang. Pulau ini bukan tersusun dari tanah, tapi batu-batu karang yang menumpuk hingga ke permukaan sehingga tampak seperti sebuah pulau.

Tentu saja kami tidak snorkeling di “pulau” itu. Tapi kami snorkeling di jarak sekitar belasan sampai dua puluhan meter dari sanalah. Lautnya tidak dalam, mungkin rentangnya mulai dari 2-5 meter. Selain itu arus lautnya juga tenang. Jadi bagi mereka yang belum bisa berenang pun bisa melakukan snorkeling dengan santai di sini.

Pemandangan bawah air lumayan mengagumkan. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari televisi atau internet kali ini benar-benar tampak di depan mataku. Memang, pemandangannya tak seindah taman laut bunaken yang banyak karang dan ikan berwarna-warni. Karena tempat yang kupilih lautnya dangkal jadi hanya terdapat banyak karang dan sedikit ikan. Kalau mau tempat yang banyak ikannya memang sebaiknya memilih tempat yang arusnya deras.

Rizky siap snorkeling

Rizky siap snorkeling

Sayang sekali tidak ada yang memiliki kamera bawah air di antara kami. Selain itu, fotografer-fotografer handal kami, Rizky dan Jiwo, juga tidak membawa kameranya ke tempat snorkeling, tidak juga di dalam kapal. Untung saja, ada kamera HP si Adi saat itu satu-satunya yang available. Sebenarnya ada sih papan yang dipasang di salah satu rumah yang bilang menyediakan kamera underwater. Kalau tidak salah harga sewanya Rp35.000. Tapi kurang tahu juga itu sewanya untuk berapa lama.

Kurang lebih ada hampir dua jam lah kami snorkeling. Sebenarnya kami dikasih waktu hingga jam 11. Tapi ternyata dua jam itu juga sudah jauh lebih dari cukup. Rata-rata rombongan selain kami malah cuma sekitar sejam lah maksimal snorkeling di sana. Bahkan ada yang datangnya sesudah kami, tapi baliknya duluan.

Bosan juga sih memang lama-lama. Apalagi tidak ada kamera untuk foto-foto di dalam air, hahaha. Seandainya ada kamera underwater, mungkin bakal lebih lama lagi. Soalnya kan sayang biaya sewanya, hehehe.

Snorkeling

Snorkeling

9.45. Sampai juga di penginapan lagi. Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa potong buah semangka dan seteko air teh manis, dan disediakan termos es batu pula. Alhamdulillah … berarti sudah dua kali kami dibuatkan air teh manis ini. 🙂

Makan mie instan

Makan mie instan

Masih ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa telur yang menganggur. Rencananya, kami semalam sebenarnya mau makan mie rebus saja sebelum rencana itu tidak jadi karena tuan rumah tiba-tiba memberi kami makan malam nasi ikan pepes. Nah, rencananya mie instan itu akan kami masak setelah snorkeling. Ya, kami lapar dan kami ingin makan lagi, hehehe. Tiba-tiba seorang ibu — sepertinya pembantu keluarga Pak Manshur — datang untuk menawarkan untuk memasakkan mie instan kami. Bingo, anak-anak pun minta tolong dan berterima kasih kepada ibu tersebut. Dasar mahasiswa, wkwkwk. 😆

Main kartu

Main kartu

11.00. Yeah, It’s time for packing! Rencananya kami jam 12 akan cabut dari penginapan untuk balik ke Jakarta. Menurut jadwal, kapal yang akan kami tumpangi balik ke Jakarta akan berangkat pukul 13.00.

Beberapa orang mulai mengemasi barang-barang. Ada yang mandi. Ada yang sholat Dhuhur. Ya, jam setengah dua belasan, di sana sudah adzan Dhuhur. Beberapa anak lagi masih tampak asyik bermain kartu sambil mengantri giliran mandi atau menunggu yang lain selesai berkemas.

12.20. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang di dermaga Pulau Tidung. Karcis kapal sudah dibelikan oleh Pak Manshur. Enaknya, kami hanya membayar Rp25.000 untuk balik ke Jakarta ini. Tarif normal seharusnya Rp33.000. Lumayanlah dapat kortingan. Baik banget memang Pak Manshur ini :D. Makanya sebelum kami pulang, kami berfoto bersama dulu dengan Pak Manshur sebagai kenang-kenangan atas perjalanan kami selama di Pulau Tidung ini.

Foto bersama dengan Pak Manshur

Foto bersama dengan Pak Manshur

Kami harus menunggu beberapa menit kapal datang. Kapal yang akan kami tumpangi ini adalah KM. Cahaya Laut. Ratusan orang sudah menunggu di tepi dermaga. Banyak sekali ya yang akan balik siang ini. Bakal sepi dong Pulau Tidung habis ini :(.

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Kapal yang ditunggu akhirnya beberapa saat kemudian datang juga. Orang-orang berebutan masuk ke dalam. Walaupun berebutan tapi tidak seperti pengalamanku berebutan naik kereta ekonomi yang sampai senggol-senggolan. Karena kalau sampai tersenggol di sini, siap-siap jatuh ke laut, hihihi.

Pukul 12.50 kapal sudah diberangkatkan. Kondisi kapal saat itu benar-benar penuh. Tidak butuh waktu lama kapal untuk merapat di dermaga. Setelah kapal penuh, kapal langsung segera diberangkatkan. Perjalanan kurang lebih selama 3 jam sudah menunggu di depan. Orang-orang seperti tampak sudah kelelahan. Ya, lelah karena aktivitas-aktivitas plesir yang mereka lakukan selama di Pulau Tidung. Tak heran jika banyak dari mereka yang terlelap sepanjang perjalanan kapal menuju pelabuhan Muara Angke, Jakarta.

15.45. Kapal telah sampai dan merapat di dermaga Muara Angke. Perjalanan belum berakhir. Ini Jakarta bung, bukan Bandung. Kami pun segera turun dan mencari taksi untuk menuju stasiun Gambir. Taksi di Muara Angke membandrol mahal untuk tarif ke stasiun Gmabir, Rp80.000. Padahal dari pengalaman Neo sebelumnya naik taksi yang menggunakan argo, habisnya cuma Rp50.000.

Kami pun mencari taksi di luar pelabuhan. Dapat juga akhirnya taksi yang mau menggunakan argo. Sial bagi kami, sore itu Jakarta macet luar biasa, padahal hari itu hari Minggu. Mulai Mangga Dua sampai Gambir kondisi jalan raya adalah padat merayap. Kami baru sampai di stasiun pukul setengah 6 menjelang maghrib.

Sialnya lagi, tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis sudah habis. Tinggal yang eksekutif saja. Itupun harganya Rp80.000, luar biasa mahal bagi kami. Akhirnya, kami mencari mobil-mobil carteran yang ada di area stasiun Gambir. Nego, nego, nego, akhirnya dapat mobil yang mau mengantar kami sampai ke Dago, Bandung, dengan kesepakatan harga Rp420.000 termasuk biaya tol. Lumayanlah bagi bertujuh, berarti satu orang kena Rp60.000. Oh ya, di Jakarta ini kami harus berpisah dengan Neo dan Luthfi yang akan tetap stay di Jakarta dulu untuk beberapa hari tinggal bersama keluarganya. Jadi yang balik ke Bandung, tinggal bertujuh.

20.30. Alhamdulillah sampai juga di Bandung. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Boleh dibilang dua hari di Pulau Tidung adalah dua hari pelarian kami dari penatnya rutinitas kami di Bandung, hihihi. Ceileee … bahasanya :D.

Boleh dibilang tajuk jalan-jalan kami dua hari itu adalah “Weekend Escape to Tidung Island”. Mantap kan? Ya, rencana backpacking ke Karimun Jawa terpaksa batal dan diganti dengan jalan-jalan ke Pulau Tidung karena dirasa lebih possible buat dilakukan mengingat kesibukan kami yang sudah mulai berbeda satu sama lain. Mudah-mudahan ada kesempatan lain bagi kami untuk backpacking lagi ke tempat lain menikmati indahnya alam ciptaan Alloh ini.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 2] — Menjelajah Pulau Tidung

Sabtu, 8 Oktober 2011

4.15. Sayup-sayup suara adzan Subuh terdengar. Aku dan kawan-kawan semua terjaga dari tidur. Yak, sudah saatnya menunaikan sholat Shubuh.

Beberapa teman pergi menuju toilet untuk menyelesaikan urusan pribadi masing-masing. Sementara yang lain menunggu di depan lift lantai 3 stasiun. Beberapa orang telah selesai urusannya di toilet. Tinggal Adi saja berarti yang belum. Ada lima belas menit kami menunggu Adi. Tak disangka ternyata sempat-sempatnya dia mandi subuh-subuh gini di saat kami harus buru-buru, ckckck … Orang mandi kok disalahin, hahaha. 😀

Kami semua pun bersegera menuju mushola stasiun Gambir yang berada di lantai 1 dengan menumpang lift. Kami menunaikan sholat Shubuh di sana.

4.50. Selesai sholat Shubuh kami menuju area parkir stasiun Gambir. Kami mencari taksi yang mau mengantarkan kami ke dermaga Muara Angke. Neo melakukan negosiasi dengan beberapa sopir taksi di sana.

Ya, Neo memang boleh dibilang berperan sebagai pimpinan rombongan kami. Dia memang sudah pengalaman karena pernah ke pulau Tidung sebelumnya. Bahkan urusan akomodasi di pulau Tidung sudah diurusnya dengan mengontak kembali bapak penyedia jasa wisata pulau Tidung sebelumnya.

Negosiasi yang dilakukan dengan sopir taksi tadi akhirnya menghasilkan kesepakatan harga jatuh pada angka Rp60.000 per mobil. Ada dua mobil, satu taksi untuk 4 orang dan satu mobil Toyota Avanza untuk 5 orang. Tanpa basa-basi lagi, kami pun segera masuk ke dalam mobil dan berangkat menuju pelabuhan Muara Angke.

Perjalanan ke Muara Angke ini kurang lebih memakan waktu 30-40 menit. Kondisi jalan pagi itu memang masih sangat sepi. Seharusnya kami bisa sampai lebih cepat jika sang sopir tidak salah mengantarkan kami ke pelabuhan Sunda Kelapa. Ya, sang sopir mengira pelabuhan yang kami maksud itu adalah pelabuhan Sunda Kelapa karena mereka tak tahu kalau di pelabuhan Muara Angke ada kapal penumpang untuk penyeberangan.

Muara Angke

Muara Angke (photo by Jiwo)

5.45. Begitu tiba di pelabuhan Muara Angke, kami langsung buru-buru mencari kapal yang akan berangkat menuju ke Pulau Tidung. Ya, kata Neo, kapal yang ke Pulau Tidung akan berangkat pukul 6 pagi, makanya kami agak buru-buru saat itu. Eh, ternyata kapal yang kami tumpangi baru akan berangkat pukul 7. Berarti ada satu jam lebih kami harus menunggu. Wajar saja sih, ketika kami naik ke atas kapal, baru segelintir orang yang ada di dalam sana.

Oh ya, Kapal yang kami tumpangi ini bernama KM (Kapal Motor) Kurnia. Cuma ngasih tahu saja sih. Kapal dari Muara Angke yang ke pulau Tidung nggak cuma kapal in. Ada kapal-kapal yang lain dengan jam keberangkatan yang berbeda. Tapi aku kurang tahu juga jadwalnya bagaimana.

6.45. Waktu sudah lewat satu jam. Kondisi kapal kali ini sangat penuh. Kalau boleh menebak, mungkin ada sekitar 200-300an orang yang telah naik di atas kapal ini.

Perlu diketahui saja, kapal ini terdiri atas dua tingkat dan kami duduk lesehan berdesakan di dalamnya. Nggak berdesakan banget juga sih. Masih lebih berdesakan saat aku menumpang kereta ekonomi saat lebaran.

Beberapa saat kemudian kapal diberangkatkan. Ya, ternyata walaupun belum jam 7, tetapi karena kapal sudah penuh, kapal pun lansgung diberangkatkan. Tarif Muara Angke-Pulau Tidung adalah Rp33.000 untuk dewasa dan Rp25.000 untuk anak-anak.

Kapal SPBU (photo by Jiwo)

Kapal SPBU (photo by Jiwo)

Barangkali ini adalah rute penyeberangan keempat yang pernah kulakukan. Pengalaman sebelumnya pernah naik kapal Tanjung Perak-Ujung Kamal Madura, Sendhang Biru-Pulau Sempu, dan yang ketiga adalah Ketapang-Gilimanuk. Dalam penyeberangan kali ini aku menemukan hal baru yang belum pernah kulihat sebelumnya. Yakni, di tengah laut pun ternyata ada SPBU juga :)! Ya, di tengah laut ada kapal SPBU Pertamina yang siap menjual dan mungkin juga langsung mengisi bahan bakar untuk kapal.

Coast Guard (photo by Jiwo)

Coast Guard (photo by Jiwo)

Sekitar 20-30 menit perjalanan, kapal diminta merapat oleh petugas patroli pantai ke kapal Coast Guard. Di sana dilakukan pemeriksaan standar keamanan penumpang oleh petugas. Ya, setiap penumpang diwajibkan untuk mengenakan rompi pelampung selama perjalanan. Kondisi yang ada saat itu, jumlah pelampung yang tersedia di dalam kapal tidak mencukupi untuk digunakan semuanya. Akhirnya, oleh pihak Coast Guard-nya diberikan tambahan jaket pelampung dari mereka. Aku masih ingat kata-kata salah seorang petugas saat itu, “Jaket pelampungnya tolong dipakai. Nanti kalau ada apa-apa, yang susah tim SAR-nya.”

Sebelumnya aku belum pernah naik kapal yang mengharuskan untuk mengenakan pelampung. Maklum, penyeberangan yang kutempuh biasanya paling lama cuma sekitar setengah jam. Sedangkan penyeberangan dari Muara Angke ke Pulau Tidung ini akan menempuh waktu 3 jam. Jadi aku kira wajar sih kalau tingkat antisipasinya lebih tinggi.

Suasana dalam kapal

Suasana dalam kapal

Oh ya, aku belum cerita ya soal pertemuan kami dengan salah seorang kakak angkatan kami di Informatika ITB. Ya, awalnya aku yang menyadari hal tersebut ketika di dalam kapal. Tapi karena aku nggak begitu kenal, hanya tahu nama dan wajah saja, awalnya agak sungkan-sungkan sih untuk menegur dia. Selain itu, nggak yakin juga itu adalah kak Naila, IF 2006. Teman-teman yang lain pun juga merasa demikian. Alasannya mungkin karena teman-teman barengannya nggak ada yang kami kenal. Tapi akhirnya aku mencoba menyapanya karena penasaran. Oh, ternyata memang benar, hahaha. 😆

9.40. Kapal yang kami tumpangi akhirnya merapat juga di dermaga Pulau Tidung. Di sana sudah menyambut kami Pak H. Manshur, bapak yang menyediakan penginapan untuk kami. Kami pun langsung kaki berjalan menuju tempat penginapan.

Haryus di depan rumah penginapan

Haryus di depan rumah penginapan

Tempat penginapan yang kami sewa ini sebenarnya adalah sebuah rumah. Rumah ini menyatu dengan rumah Pak Manshur dengan dihubungkan melalui pintu dapur. Ada dua kamar dan dua kamar mandi. Masing-masing kamar terdapat satu AC dan dua tempat tidur (satu tempat tidur besar dan satu tempat tidur kecil). Di ruang tamu telah disediakan satu TV berukuran 14 inci dan karpet untuk alas kami duduk saat kumpul-kumpul. Ruang tengah tersedia meja makan dengan peralatan makannya, satu buah galon air minum dan dispenser yang dapat kita gunakan untuk membuat air panas maupun air dingin. Di ruang tengah ini juga tersedia ruang kecil untuk tempat kami sholat. Kira-kira dua orang muatlah sholat di sana. Biaya sewa penginapan yang kami keluarkan adalah Rp250.000.

10.30. Kami tidak mau berlama-lama di dalam rumah saja. Setelah beristirahat sejenak dan bersih-bersih diri, kami langsung tancap jalan-jalan menjelajahi Pulau Tidung dengan mengendarai sepeda angin yang kami sewa Rp17.000 per sepeda untuk 24 jam. Di Pulau Tidung ini sepeda angin memang Continue reading

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 1] — Berangkat ke Jakarta

Kali ini aku ingin bercerita tentang jalan-jalan yang kulakukan bersama 8 orang teman ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, pada tanggal 7-9 Oktober kemarin ini. Sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang perjalanan tur ke Sukabumi dan Ciamis. Di tulisan tersebut aku menyebutkan bahwa ada 13 orang yang ikut tur itu. Kini dari 13 orang itu, ada 9 orang yang ikut jalan-jalan ke Pulau Tidung ini. Mereka adalah Kamal, Adi, Khairul, Rizky, Haryus, Jiwo, Neo, Luthfi, dan tentu saja aku.

Nah, Aku mencoba berbagi pengalaman ini dengan menuliskannya dalam bentuk itinerary per hari.

Jumat, 7 Oktober 2011

18.45. Sesuai rencana awal, kami janjian untuk langsung bertemu saja di stasiun Hall Bandung pukul 19.00. Tiket KA Argo Parahyangan kelas bisnis sejumlah 9 buah sudah dibeli sehari sebelumnya.

Aku, Kamal, Khairul, Adi, dan Haryus telah bersiap-siap di kontrakan Padepokan Sandal 36B. Kami akan berangkat bersama menuju ke stasiun dengan menumpang angkot Cisitu-Tegal lega. Sementara yang lain telah bersiap-siap di tempat masing-masing.

19.25. Kami semua telah berkumpul di stasiun Hall Bandung. Menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 20.05. Sambil menunggu keberangkatan kami menunaikan sholat Isya’ dahulu di mushola depan stasiun. Sebagian ada juga yang makan malam.

19.55. Kami semua sudah berada di dalam kereta menunggu keberangkatan. Tiba-tiba terjadi kepanikan di antara kami karena 2 dari 9 tiket yang kami beli ternyata salah tanggal keberangkatan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun turun dari kereta menuju kantor PPKA untuk meminta ganti tiket yang salah tanggal. Petugas KA sempat bergeming untuk tidak mau memberikan ganti tiket karena menganggap ini kesalahan kami yang tidak memeriksa lagi tanggal pada tiket yang tercetak.

Sementara itu, sambil menunggu masalah terselesaikan, petugas KA itu meminta perjalanan kereta untuk ditunda beberapa menit. Akhirnya, petugas KA itu pun mengalah dengan memberikan kami surat keterangan yang menyatakan bahwa tiket kami yang salah tanggal tadi tetap berlaku untuk perjalanan kereta hari itu. Mereka juga meminta maaf karena kesalahan pegawai mereka dalam mencetak tiket. “Maklum, pegawai kami itu masih baru,” kata petugas itu.

Masalah pun terselesaikan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun kembali ke dalam kereta. Sejumut kemudian kereta diberangkatkan. Sepanjang perjalanan beberapa orang bermain kartu di dalam kereta. Sementara itu, aku memilih untuk tidur me-recharge energi saja. 😀

Main kartu di dalam kereta

Main kartu di dalam kereta

23.30.  Pukul 23.30 kami tiba di stasiun Gambir. Suasana stasiun Gambir malam itu sangat lengang. Maklum saja, kereta kami adalah kereta terakhir yang datang pada hari itu. Setelah kereta kami, tidak ada kereta lain yang berangkat atau tiba di stasiun Gambir lagi.

foto berlatar belakang tugu monas

foto berlatar belakang tugu monas

Menurut rencana, kami akan berangkat ke Pulau Tidung dengan menumpang kapal motor (KM) dari dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, pada pagi harinya. Oleh karena itu, kami pun terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu datangnya pagi.

Sambil mengisi waktu, anak-anak kembali bermain kartu lagi. Sebagian ada yang tidur-tiduran atau bahkan tidur benaran. Sebagian lagi ada yang jalan-jalan melihat-lihat stasiun Gambir. Kami juga menyempatkan untuk berfoto-foto di stasiun dengan mengambil latar belakang Tugu Monas di malam hari. Cantik sekali pemandangan malam itu.

 

Tugu Monas

Tugu Monas di foto dari stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Jalan-Jalan Ke Agrowisata Sondokoro Tasikmadu

Pada H+1 lebaran ini (Rabu, 31/8)–aku berlebaran tanggal 30/8–aku bersama keluarga besar Sragen jalan-jalan ke tempat wisata keluarga Agrowisata Sondokoro, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Pada mulanya tempat ini merupakan pabrik gula saja, tempat melakukan penggilingan tebu dan pembuatan gula. Namun, pada perjalanannya untuk mendorong peningkatan industri pariwisata di Kabupaten Karanganyar, sejak tahun 2005 dibangun suatu tempat agrowisata yang lebih mengenalkan tentang pabrik gula sebagai ikon wisata.

Monumen lokomotif sepur lori

Monumen lokomotif sepur lori

Kami sekeluarga tiba di tempat agrowisata Sondokoro sekitar jam setengah sebelas siang. Cuaca saat itu panas menyengat. Namun, ketika masuk area wisata, hawa panas itu berganti menjadi hawa sejuk dan teduh karena banyaknya pohon-pohon besar yang rindang yang berada di area wisata. Melihat pohon-pohon yang begitu besar, aku menduga usia pohon-pohon itu sudah mencapai puluhan atau ratusan tahun.

Tiket masuk area wisata ini per orangnya adalah Rp5.000. Kurang tahu sih, apakah besarnya tiket masuk itu khusus saat momen lebaran saja atau memang biasanya segitu. Kalau memang khusus lebaran, berarti harusnya kalau hari biasa lebih murah lagi.

Rel lori yang melintas di tengah-tengah tempat wisata

Rel lori yang melintas di tempat wisata

Agrowisata Sondokoro memiliki banyak wahana di dalamnya. Setiap wahana, biasanya (atau bahkan semuanya) ditarik tiket masuk lagi. Wahana favorit di Sondokoro ini tentu saja wisata sepur lorinya. Ada banyak rangkaian sepur lori (kereta tebu) yang disiapkan di tempat wisata ini. Kereta tersebut siap berkeliling mengantarkan para pengunjung menikmati seantero tempat wisata ini.

Untuk lebih lengkapnya mengenai daftar wahana yang ada di Sondokoro, silakan lihat foto di bawah ini. 😀

Daftar wahana di Sondokoro

Daftar wahana di Sondokoro

Aku sendiri hanya menikmati wahana “terapi ikan” saja. Tiket masuknya Rp7.000. Di sana kaki kita dicelupkan ke dalam sungai buatan berukuran kecil di wahana tersebut. Tunggu saja, beberapa saat kemudian akan berdatangan ikan-ikan air tawar menciumi (baca: menggigit) kaki kita. Rasanya sih seperti dicubit kaki kita ini oleh ikan-ikan itu. Ikan-ikan yang ada di tempat terapi ikan Sondokoro ini antara lain meliputi ikan mujahir, mas, dan sebagainya.

Ikan-ikan berkumpul di sekitar kaki

Ikan-ikan berkumpul di sekitar kaki

Kesan pertama yang biasa dirasakan adalah sakit keenakan, tertawa geli, dan selanjutnya tubuh mulai merasa lemas, kemudian mengantuk karena nikmatnya suasana di sana yang sejuk dan tenang sambil diiringi gemericik suara air yang mengalir. Terapi ikan ini setelah kubaca dari artikel ini katanya dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh karena telapak kaki merupakan pusat aliran syaraf yang apabila ditotok bisa memperlancar peredaran darah serta membantu metabolisme tubuh. Selain itu gigitan ikan tersebut berguna juga untuk melepaskan kulit mati di sekitar telapak kaki dan jari-Jari. Dampak lainnya secara psikologis adalah membuat kita merasa lebih rileks sih menurutku.

Sayang sih nggak sempat mengeksplor lebih banyak wahana yang ada di Sondokoro. Maklum, keluargaku cucu-cucunya sudah pada besar-besar, hahaha. Sedangkan wahana yang ada di sana memang lebih cocok untuk orang tua bersama anak-anaknya yang masih sekolah atau balita. Lagipula kami juga cuma sebentar mengunjungi Sondokoro ini, cuma sekitar 2 jam di sana.

Sehabis dari Sondokoro, sebelum pulang, kami makan siang dahulu di Lembah Hijau Multifarm, masih di Karanganyar juga. Tempatnya nggak jauh dari Sondokoro. Cuma sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan mobil.