Category Archives: Islam

Marhaban Ya Ramadhan 1434 H

Semoga belum telat ngepost tentang “Ramadan greeting”… 🙂 walaupun sudah memasuki malam hari ketiga. Alhamdulillah pada tahun ini masih diberikan kesempatan. Ya, Ramadhan adalah bulan yang selalu ditunggu-tunggu umat Islam di dunia.

Ibarat anak sekolah, bulan Ramadhan adalah bulan pembinaan sebelum kembali diuji pada sebelas bulan yang lain. Sebab, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Hurairah RA. bahwasannya Rasulullah SAW bersabda: “Apabila tiba bulan Ramadhan, dibuka pintu-pintu Surga dan ditutup pintu-pintu neraka serta syetan-syetan dibelenggu.” Dengan kondisi seperti itu motivasi untuk beribadah (seharusnya) lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan lainnya.

Oleh karena itu, tak mengherankan apabila kemudian banyak orang yang pada bulan Ramadhan menjadi lebih ‘religius’. Melihat fenomena tersebut, janganlah kemudian kita sampai menceng-cengin (apa ya bahasa Indonesianya yang benar) teman atau saudara kita yang ingin berubah tersebut. Termasuk diri kita, janganlah kemudian kita menjadi segan untuk berubah menjadi lebih baik dalam berIslam karena takut atau malu diceng-cengin teman. Yang berbahayanya adalah tidak ada keinginan untuk berubah itu karena ada perasaan angkuh pada diri kita. Na’udzubillahi min dzaalik.

Saya pernah mendapatkan nasihat dari seorang mentor. Tidak jadi beramal baik karena takut dibicarakan oleh manusia, maka sesungguhnya di situlah ada penyakit riya’ di dalam diri kita. Sedangkan beramal baik karena ingin dipuji manusia, maka sesungguhnya perbuatan kita itu bisa digolongkan ke dalam syirik.

Ramadan as turning point

Ramadan as turning point

Marhaban Ya Ramadhan 1434H!

Beli Buku di AlfatihBookStore.com

Dari dulu sebenarnya rencana untuk beli buku-bukunya ustadz Felix Siauw. Tapi beberapa kali ke toko buku Gramedia dan Togamas selalu nggak nemu buku-nemu buku beliau. Sepertinya kehabisan. Akhirnya malah beli buku yang lain.

Dan rencana itu akhirnya baru konkret sekarang. Kali ini langsung pesan online di toko bukunya langsung, di http://www.alfatihbookstore.com/. Alhamdulillah, pesan hari Minggu kemarin, Selasa sampai Bandung.

Selain buku karangan Felix Siauw (Muhammad Al-Fatih 1453 dan Beyond The Inspiration), saya juga membeli 3 buku yang lain. Lumayan, ada stok buku bacaan hingga akhir tahun kayaknya, hehe. Sekarang saya lagi mau menyelesaikan membaca buku yang Steve Jobs itu dulu. Hmm… mungkin bisa sambil paralel salah satu dari kelima buku ini.

Saya selalu ingat kata mentor saya waktu SMA dulu, “Membeli buku itu sama dengan investasi ilmu. Nggak ada kata rugilah.” Ya, term “investasi” tidak selalu identik dengan uang. Ilmu pun bisa diinvestasikan. Apalagi kalau buku kita ada yang meminjam, dan bahkan sampai terjadi diskusi setelahnya terkait dengan isi buku, insyaAllah ilmunya mengalir dan berkah :).

buku

Berlapang Dada Menerima Kebenaran

Menerima suatu kritikan, teguran, nasehat, pelajaran, dan hal yang semacamnya itu dari orang lain itu tak selamanya mudah. Walaupun hal yang disampaikan benar, menerimanya, bagi manusia yang sombong dan berego tinggi, sama artinya dengan menerima kemaluan yang luar biasa besarnya dan terlihat bodoh di hadapan sang penyampai pesan tersebut. Alhasil, tak jarang reaksi yang ditampilkan pun berupa kemarahan atau mendebat balik sang penyampai pesan.

Sering manusia diingatkan bahwasannya jangan menilai sesuatu itu dari siapa yang menyampaikan, tapi fokus kepada apa yang disampaikan. Kerasnya hati dalam menerima kebenaran itu kebanyakan terjadi memang karena seseorang hanya melihat kepada siapa yang menyampaikan.

Nih orang masih anak kemarin sore, ilmunya masih cethek. Dia bukan dari kampus gue, bukan dari harokah gue. Dia orangnya suka mabuk. Dia pekerjaannya cuma gitu doang. Dia ini, itu, dan seterusnya. Pikiran-pikiran seperti itulah yang bila dipelihara bisa mengeraskan hati seseorang. Jika sudah demikian, semua yang disampaikan oleh lawan bicara seolah makin menyesakkan dada. Apa yang disampaikannya hanya menjadi angin lalu di telinga.

Saya kutip dari artikel ‘Jauhilah Sikap Sombong — Muslim.Or.Id‘, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Ketika benih-benih kesombongan semacam itu mulai menghinggapi, istighfar adalah cara yang biasa saya lakukan untuk menghilangkannya serta berusaha untuk berpikiran positif terhadap lawan bicara. Ketika hal tersebut dilakukan, dada menjadi terasa lebih lapang dan bisa mencerna apa yang disampaikan. Bahkan ikut membenarkan apa yang disampaikan jika hal itu memang benar.

Ketika yang diberikannya adalah sebuah teguran, nasehat, atau kritikan, jalan yang terbaik adalah mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Berterima kasih kepadanya atas koreksi yang diberikan. Bukan justru mencari-cari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan.

Saya mencoba mencuplik satu bagian dari artikel di pranala ini, tentang 4 tips dari Syekh Abdus Shamad Al-Palembani dalam kitabnya Hidayatus Salikin agar terhindar dari sikap dan sifat suka menyombongkan diri dengan pesannya, “Seyogyanya engkau i’tiqadkan bahwa dirimu itu hina daripada sekalian makhluk Allah dan hendaklah engkau memandang seseorang itu lebih mulia daripada dirimu, oleh karena itu:

  1.  Jika engkau melihat anak kecil maka katakan dalam hatimu bahwa anak-anak itu tidak pernah berbuat ma’siat kepada Allah, sementara aku suka berbuat ma’siat. Jadi tak ragu lagi bahwa anak kecil itu lebih mulia dari pada aku.
  2.  Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, katakan dalam hatimu bahwa orang tersebut telah beribadah kepada Allah lebih dahulu daripadaku, jadi tidak diragukan lagi bahwa ia lebih mulia dari aku.
  3. Jika engkau melihat orang-orang alim, maka katakan dalam hatimu bahwa mereka  telah diberi ilmu oleh Allah yang tiada diberikan-Nya kepadaku, jadi tidak ragu lagi kalau mereka itu lebih mulia daripadaku.
  4. Jika engkau melihat orang bodoh, katakan dalam hatimu bahwa dia berbuat ma’siat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku berbuat ma’siat dengan ilmuku, maka tidak ragu lagi bahwa ia lebih mulia daripadaku.

Wallahu a’lam.

Menyimak “Perjalanan Spiritual” pada Film Life of Pi

Life of Pi

Life of Pi (marcelosantosiii.com)

Life of Pi ini sebenarnya sudah ada sejak 2001 dalam bentuk novel. Menjelang akhir tahun 2012 kemarin, tepatnya bulan November, film yang mengadaptasi novel tersebut baru saja rilis. Saya sendiri belum pernah membaca novelnya dan baru sempat menonton filmnya baru-baru ini. Tapi tidak ada salahnya kan saya sedikit memberikan sedikit opini mengenai film tersebut, hehehe. Eh, tapi sebelum itu, perlu digarisbawahi ya, opini saya ini belum tentu sama sebagaimana yang dimaksudkan oleh sang author alias penulis cerita aslinya.

Oke, di menit-menit awal menonton film ini saya mulai menebak-nebak akan ke mana dialog antara Pi dewasa dan sang novel writer. Saya pun berpikiran bahwa ‘petunjuk’ menuju kepada substansi dari film ini sebenarnya secara eksplisit telah diungkapkan pada dialog (sekitar menit ke-10) ketika sang novel writer berkata pada Pi dewasa, “He (Mamaji) said you had a story that would make me believe in God.”

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Salah satu scene antara sang writer dengan Pi

Dalam pandangan saya film ini — terlepas dari substansi sesungguhnya yang ingin disampaikan oleh sang penulis novel yang asli — secara umum memang mengisahkan mengenai ‘perjalanan spiritual’ sang tokoh utama, Pi, dalam memercayai keberadaan Tuhan.

Di awal diceritakan bahwa Pi terlahir sebagai seorang Hindu, agama ‘pertama’-nya. “None of us knows God until someone introduces us,” begitu katanya, menyiratkan bahwa ‘pilihan’-nya atas Hindu terjadi karena memang diperkenalkan oleh orang tuanya sedari kecil.

Perjalanan spiritualnya berlanjut ketika Pi remaja berkenalan dengan Kristen dari seorang pendeta di sebuah gereja di suatu desa. Di titik tersebut Pi mengklaim ia menemukan God’s love alias kasih Tuhan di dalam Kristen. Uniknya, dalam satu monolognya Pi berterima kasih kepada Dewa Wisnu (salah satu Tuhan dalam Hindu) karena telah memperkenalkannya pada Kristen.

“But God wasn’t finished with me yet.”

Kali ini Pi berkenalan dengan Islam setelah memperhatikan umat muslim yang sholat berjamaah di sebuah masjid. Ia pun mempraktikkan ibadah sholat tersebut. Di titik itu Pi mengatakan bahwa ia menemukan ketentraman di sana. Akhirnya Pi remaja pun di saat tersebut mempraktikkan ketiga agama tersebut sebagai keyakinannya.

Sampai di titik ini saya bergumam dalam hati saya, “Wew, film ini seperti ingin menyebarkan pemahaman agama universal sebagaimana yang diusung JIL (Jaringan Islam Liberal).” Perjalanan spiritual Pi itu seperti ingin menunjukkan bahwa semua agama adalah jalan-jalan yang sah menuju Tuhan yang sebenarnya sama. Dewa Wisnu, Kristus, dan Allah yang disebutkan oleh Pi itu hanya sekedar nama untuk Tuhan yang sama di agama yang berbeda. Saya berpikir bahwa pesan itulah sebenarnya yang sedang Pi sampaikan.

Namun, hal menarik muncul di meja makan pada suatu momen makan malam keluarga kecil Pi. Kakak Pi menjadikan keyakinan Pi — meyakini dan menjalankan 3 keyakinan sekaligus bersamaan — sebagai bahan becandaan. Ayah Pi pun menimpali dengan mengatakan, “You cannot follow three different religions at the same time, Piscine, because …

believing in everything at the same time is the same as not believing in anything at all.”

Percaya kepada segalanya — dalam hal ini tentu saja yang dimaksud lebih khusus adalah agama — secara bersamaan, sama artinya dengan tidak percaya sama sekali kepada semuanya. Ayah Pi pun melanjutkan,

“Instead of leaping from one religion to the next, why not start with reason?”

Seems familiar, right? Mengingatkan kita akan kisah Nabi Ibrahim bukan? Bedanya, pada kisah Nabi Ibrahim, beliau bukannya berpindah antar keyakinan atau agama, melainkan — sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al-An’am 76-79 — mencoba mengamati ‘kans’ bintang (ayat 76), kemudian bulan (ayat 77), dan kemudian matahari (ayat 78), apakah ‘layak’ untuk menjadi Tuhan. Akan tetapi, dengan reasoning-nya akhirnya beliau mematahkan kaumnya yang meyakini dan menyembah ketiganya. Dan di ayat 79 disebutkan bahwa beliau menyatakan meyakini dan megikuti agama Allah sebagai agama yang benar.

The point is Continue reading

Jika Aku Jatuh Cinta

Sebuah puisi dari Sayyid Qutb. Beliau adalah seorang ilmuwan, sastrawan, dan ahli tafsir dari Mesir yang lahir pada tahun 1906. Sedikit biografinya dapat dibaca di sini.

Puisi ini bisa menjadi semacam muhasabah atau pengingat diri ini ketika sedang jatuh cinta pada seseorang. Karena apa kita mencintai seseorang itu, bagaimana cinta kita kepadanya justru seharusnya membuat kita semakin mencintai Allah, bukan malah semakin melunturkan cinta kita pada-Nya.

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang melabuhkan cintanya pada-Mu,
agar bertambah kekuatan ku untuk mencintai-Mu.

Ya Muhaimin, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak berpaling pada hati-Mu.

Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang merindui syahid di jalan-Mu.

Ya Allah, jika aku rindu,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika Kau halalkan aku merindui kekasih-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahawa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwah pada-MU,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukuhkanlah Ya Allah ikatannya.

Kekalkanlah cintanya.

Tunjukilah jalan-jalannya.

Penuhilah hati-hati ini dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakal di jalan-Mu.

(Sayyid Qutb)

Sumber:
http://www.eramuslim.com/oase-iman/puisi-sayyid-qutb-ketika-ia-jatuh-cinta.htm

Hujan yang Dinanti Pun Mulai Tiba

Aku tak ingat kapan terakhir kali hujan turun tiba di Bandung. Rasanya sudah lama sekali. Tak hanya Bandung, di berbagai daerah di Indonesia pun juga mengalami hal yang sama. Sungguh kemarau yang cukup panjang.

Jikalau kita mengikuti berita-berita di media massa kita juga akan mendapati bahwa kemarau panjang ini memiliki dua dampak utama yang merugikan, yakni persediaan air yang menipis dan produksi pangan yang menurun. Sungguh beruntung kita yang berada di kota-kota besar ini masih merasakan pasokan air dari PDAM. Namun, keadaan kurang beruntung dirasakan oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah.

Di Prambanan, Yogyakarta warga kesulitan air bersih. Di Lebakbarang, Pekalongan malah lebih parah. Akibat debit air sungai yang menyusut, warga di sana tidak dapat menerima pasokan listrik dari pembangkit lisrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di daerah mereka. Dan masih banyak lagi cerita tentang krisis air dan produksi pertanian menurun di negeri ini yang bisa kita temukan di berbagai media massa.

Setelah 3 bulan tak didatangi hujan, pada tanggal 30 Agustus lalu, masyarakat sekitar kawasan Tangkuban Parahu melakukan sholat Istisqo di sekitar kawah Ratu untuk meminta hujan. Subhanallah, keesokan harinya Bandung diguyur hujan. Setelah itu sempat tidak turun hujan lagi selama kurang lebih seminggu. Namun, dalam dua hari terakhir ini alhamdulillah hujan turun lagi.

Di dalam Islam sendiri kita diajarkan untuk selalu mensyukuri hujan yang turun dan berdo’a salah satunya dengan do’a berikut:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعً

“Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).”

Ya, kita selalu berdoa dan mengharapkan hujan yang turun adalah hujan yang membawa kebaikan bukan musibah seperti badai atau banjir. Tapi tentunya kita harus meyakini bahwasannya setiap tetes air hujan itu merupakan rahmat dari Allah dan semua ketetapan akannya merupakan yang terbaik untuk kita.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Adapun ketika turun hujan lebat, kita bisa membaca doa seperti yang dicontohkan oleh Nabi:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Subhanallah, itulah indahnya Islam. Untuk urusan hujan pun juga ada tuntunan terhadapnya.

Selamat Idul Fitri 1433 H

Lama nggak ngeblog nih. Mumpung masih suasana bulan Syawal, dalam kesempatan ini saya mau mengucapkan:

SELAMAT HARI RAYA IDUL FITRI 1433 H

Taqabbalallahu minna wa minkum.

Semoga amal kita semua selama bulan Ramadhan yang lalu diterima oleh Allah SWT dan kita kembali dipertemukan dengan bulan Ramadhan tahun yang akan datang.

Mohon maaf pula atas segala khilaf yang pernah saya perbuat. Semoga kita semua selalu diberikan kelimpahan rahmat dan ampunan-Nya.