Tag Archives: lapang dada

Kritik

Menerima kritik itu memang selalu berat. Tidak pernah menyenangkan. Apalagi jika kritik itu datangnya tiba-tiba, bukan karena diminta. Jikalau diri sendiri yang meminta, secara mental diri ini mungkin sudah siap menerimanya.

Secara alamiah, emosi manusia akan cenderung meninggi ketika zona nyamannya diusik. Jiwa independen manusia akan berontak. Kritikan yang datang dapat diartikan sebagai usaha untuk mengatur dirinya.

Secara naluri, manusia akan bersikap defensif membantah setiap kritikan. Jika ada dua belah pihak saling mengkritik, debat kusir pun tak terelakkan.

Tak perlulah menjaga gengsi. Mari berlapang dada dalam menerima kritik. Menerima kritik tak berarti menurunkan wibawa. Mari mencoba menerima kritik dengan tetap tersenyum. Bukankah senyuman adalah sedekah?

Dari Abu Dzar ra, Rasulullah SAW bersabda, “Senyummu di hadapan saudaramu (sesama muslim) adalah (bernilai) sedekah bagimu.” (HR. Tirmidzi)

Yang namanya kritik selalu terasa pahit. Panas di telinga. Menohok di hati. Di situlah reaksi menjadi kunci.

Sometimes people really need a slap in the face. Kritik jika disikapi dengan benar dapat menjadi katalis bagi diri ini untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.

Manusia berbeda dengan keledai. Keledai bisa jatuh di lubang yang sama.

Kritikan ada agar diri ini tak jatuh pada kesalahan yang sama. Tidak mengulang kesalahan yang sama. Karena manusia lebih cerdas daripada keledai, ya jangan sampai jatuh di lubang yang lain juga :D. Jadikan kritikan itu sebagai cambukan atau sebuah pembuktian.

Jangan bersikap anti kritik. Defensif terhadap kritikan. Ataupun dari luar tampak menerima kritik, tapi sesungguhnya kritikan itu hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.

Berlapang Dada Menerima Kebenaran

Menerima suatu kritikan, teguran, nasehat, pelajaran, dan hal yang semacamnya itu dari orang lain itu tak selamanya mudah. Walaupun hal yang disampaikan benar, menerimanya, bagi manusia yang sombong dan berego tinggi, sama artinya dengan menerima kemaluan yang luar biasa besarnya dan terlihat bodoh di hadapan sang penyampai pesan tersebut. Alhasil, tak jarang reaksi yang ditampilkan pun berupa kemarahan atau mendebat balik sang penyampai pesan.

Sering manusia diingatkan bahwasannya jangan menilai sesuatu itu dari siapa yang menyampaikan, tapi fokus kepada apa yang disampaikan. Kerasnya hati dalam menerima kebenaran itu kebanyakan terjadi memang karena seseorang hanya melihat kepada siapa yang menyampaikan.

Nih orang masih anak kemarin sore, ilmunya masih cethek. Dia bukan dari kampus gue, bukan dari harokah gue. Dia orangnya suka mabuk. Dia pekerjaannya cuma gitu doang. Dia ini, itu, dan seterusnya. Pikiran-pikiran seperti itulah yang bila dipelihara bisa mengeraskan hati seseorang. Jika sudah demikian, semua yang disampaikan oleh lawan bicara seolah makin menyesakkan dada. Apa yang disampaikannya hanya menjadi angin lalu di telinga.

Saya kutip dari artikel ‘Jauhilah Sikap Sombong — Muslim.Or.Id‘, diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ قَالَ رَجُلٌ إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً قَالَ إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. (HR. Muslim no. 91)

Ketika benih-benih kesombongan semacam itu mulai menghinggapi, istighfar adalah cara yang biasa saya lakukan untuk menghilangkannya serta berusaha untuk berpikiran positif terhadap lawan bicara. Ketika hal tersebut dilakukan, dada menjadi terasa lebih lapang dan bisa mencerna apa yang disampaikan. Bahkan ikut membenarkan apa yang disampaikan jika hal itu memang benar.

Ketika yang diberikannya adalah sebuah teguran, nasehat, atau kritikan, jalan yang terbaik adalah mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Berterima kasih kepadanya atas koreksi yang diberikan. Bukan justru mencari-cari pembenaran atas kesalahan yang dilakukan.

Saya mencoba mencuplik satu bagian dari artikel di pranala ini, tentang 4 tips dari Syekh Abdus Shamad Al-Palembani dalam kitabnya Hidayatus Salikin agar terhindar dari sikap dan sifat suka menyombongkan diri dengan pesannya, “Seyogyanya engkau i’tiqadkan bahwa dirimu itu hina daripada sekalian makhluk Allah dan hendaklah engkau memandang seseorang itu lebih mulia daripada dirimu, oleh karena itu:

  1.  Jika engkau melihat anak kecil maka katakan dalam hatimu bahwa anak-anak itu tidak pernah berbuat ma’siat kepada Allah, sementara aku suka berbuat ma’siat. Jadi tak ragu lagi bahwa anak kecil itu lebih mulia dari pada aku.
  2.  Jika engkau melihat orang yang lebih tua darimu, katakan dalam hatimu bahwa orang tersebut telah beribadah kepada Allah lebih dahulu daripadaku, jadi tidak diragukan lagi bahwa ia lebih mulia dari aku.
  3. Jika engkau melihat orang-orang alim, maka katakan dalam hatimu bahwa mereka  telah diberi ilmu oleh Allah yang tiada diberikan-Nya kepadaku, jadi tidak ragu lagi kalau mereka itu lebih mulia daripadaku.
  4. Jika engkau melihat orang bodoh, katakan dalam hatimu bahwa dia berbuat ma’siat kepada Allah karena kebodohannya, sedangkan aku berbuat ma’siat dengan ilmuku, maka tidak ragu lagi bahwa ia lebih mulia daripadaku.

Wallahu a’lam.