Selama pandemi ini seperti kita ketahui bersama, KAI memiliki kebijakan untuk membatasi jumlah kursi penumpang sebanyak 70%. Dari persentase tersebut artinya ada sejumlah pasangan kursi yang hanya boleh diisi seorang saja.
Awalnya saya tidak aware bahwa batasan kursi penumpang itu 70%. Saya pikir karena kebijakan social distancing, maka batasannya adalah 50%. Saya baru menyadari kebijakan 70% itu ketika saya duduk bersebelahan dengan penumpang lain. Padahal sebelumnya saya duduk sendirian.
Saya mencari informasi mengenai konfigurasi tempat duduk kereta api ini di internet dan menemukannya pada twit akun Twitter resmi PT KAI berikut ini:
Sesuai dengan SE 14 tahun 2020 tentang Petunjuk Teknis Pengendalian Transportasi Perkeretaapian Dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru Untuk Mencegah Penyebaran COVID-19, kapasitas tempat duduk di kereta saat ini adalah 70% dari kapasitas maksimum. pic.twitter.com/OSh1YOBpUu
Twit KAI mengenai konfigurasi kursi kereta api selama pandemiKonfigurasi KA kelas Eksekutif dan Bisnis selama pandemiKonfigurasi KA kelas Ekonomi SS 80 seat dan new image 80 seat selama pandemiKonfigurasi KA kelas Ekonomi 80 seat dan difabel 64 seat selama pandemiKonfigurasi KA kelas Ekonomi 106 seat selama pandemi
Kebijakan batas okupansi kereta api 70% ini sepertinya masih akan berlaku untuk beberapa waktu ke depan sampai keadaan normal. Jadi saya akan masih akan perlu melihat infografis ini sebagai acuan dalam memesan tiket perjalanan kereta api. 😁
Menarik membaca laporan riset oleh Media Partners Asia mengenai jumlah pelanggan berbayar layanan video-on-demand di Indonesia. Laporan riset tersebut dirilis pada 19 Januari kemarin di website mereka (artikelnya di sini). Menariknya adalah ternyata Disney+ Hotstar menempati peringkat pertama dengan jumlah 2,5 juta pelanggan.
Jumlah tersebut jauh mengungguli platform Subscription Video-On-Demand (SVOD) lainnya. Menarik karena Disney+ Hotstar sebenarnya baru meluncur di Indonesia pada awal September 2020 kemarin (beritanya di sini). Sementara platform lainnya sudah lama malang melintang lebih dulu.
Di bawah Disney+ Hotstar menyusul Viu (1,5 juta), Vidio (1,1 juta), dan Netflix (0,85 juta). Dari keempat platform tersebut, jujur saya baru mendengar yang namanya Viu. Haha. Kaget juga saat tahu jumlah pelanggannya sebesar itu.
Di Twitter atau media sosial lainnya, yang sering saya lihat sih orang-orang menawarkan jasa langganan Netflix. Atau mungkin ada juga yang menawarkan Viu, tapi saya nggak ngeh saja.
Untuk Vidio, saya juga kaget ternyata banyak juga pelanggannya, bahkan mengungguli Netflix. Saya pribadi berlangganan Vidio karena mengincar tayangan sepakbola (Serie A, Liga Champions, Liga Eropa), badminton, dan tenis mejanya. Tapi sepertinya tidak semata karena itu saja Vidio banyak pelanggannya. Sepertinya ada konten lain yang juga memiliki segmen peminatnya.
Sementara terkait Netflix, walaupun sering mengeluarkan series baru dan memiliki konten yang jauh lebih banyak dibandingkan Disney+ Hotstar, ternyata pelanggannya hanya sepertiga dari Disney+ Hotstar. Mungkin karena harganya yang jauh lebih mahal kali ya.
Dua minggu lalu saya mengikuti event lari Bromo Tengger Semeru (BTS) 100 Ultra. Sesuai namanya, event ini diadakan dengan mengambil jalur lintasan lari di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Race central-nya berada di Lava View Lodge, Desa Cemoro Lawang, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.
Bagi Anda yang pernah ke Bromo — khususnya yang datang dari arah Probolinggo — tentunya nama Desa Cemoro Lawang ini terdengar sangat familiar. Cemoro Lawang adalah sebuah desa yang yang menjadi pintu gerbang menuju kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Banyak penginapan juga di sana.
Untuk mencapai Cemoro Lawang ini kita bisa menggunakan transportasi umum dari Terminal Probolinggo, seperti yang saya lakukan kemarin waktu datang ke event BTS 100 Ultra itu. Moda transportasinya berupa mobil elf atau dikenal juga dengan sebutan bison.
Ini kali pertama saya mencoba naik elf dari Terminal Probolinggo ke Cemoro Lawang. Yang sebelumnya pernah saya coba adalah jalur kebalikannya saja, yakni dari Cemoro Lawang ke Terminal Probolinggo (baca ceritanya di sini).
Nah, melalui tulisan ini, saya ingin memberikan beberapa info kondisi terkini yang semoga bisa bermanfaat bagi rekan-rekan pembaca dalam merencanakan perjalanan ke sana kelak.
1. LokasiElf
Elf jurusan Cemoro Lawang ini dapat Anda temui di Terminal Bayuangga, Kota Probolinggo. Lokasinya tidak persis di dalam terminal, tetapi berada di luar, tepatnya di sisi selatan.
Kalau Anda dari dalam terminal, Anda perlu berjalan keluar kemudian belok ke arah kiri. Anda akan menemui elf-elf yang parkir berjajar di tepi jalan raya. Itulah elf-elf jurusan Cemoro Lawang. Sementara di Cemoro Lawang, terminal elf ini berada di pertigaan dekat sebuah warung bernama “Warung Sederhana Bromo”.
2. JadwalElf
Tidak ada jadwal yang pasti kapan elf akan berangkat. Elf biasanya baru akan berangkat jika sudah dipenuhi penumpang. Tentunya ini akan menjadi petaka bagi Anda yang pergi sendirian.
Beberapa hari lalu saya bersama seorang teman kantor ada perjalanan dinas ke Jakarta untuk rapat di kantor klien. Tiket KA Argo Parahyangan sudah dibeli sehari sebelumnya dengan jadwal keberangkatan jam 5 pagi.
Dengan jadwal tersebut kami bisa mengejar jadwal rapat yang biasanya diadakan pada pukul 9 pagi. Namun pada sore sebelum hari H kami mendapatkan kabar bahwa jadwal rapat mundur ke jam 1 siang. Artinya ada waktu kosong sekitar 4 jam sebelum rapat.
Sempat bingung juga karena tidak tahu kami akan menunggu di mana. Untungnya hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah. Di Stasiun Gambir rupanya ada coworking space.
Lokasinya sangat mudah ditemui. Ia berada di sebelah kiri pintu kedatangan, tepatnya di samping kedai makanan “WOW Eat Drink Click”.
Tidak ada biaya yang dipungut untuk bisa menggunakan coworking space ini. Syaratnya hanya menunjukkan boarding pass kereta api dengan jadwal keberangkatan atau kedatangan pada hari yang sama serta telah meng-install aplikasi KAI Access padaponsel kita.
Selain itu, kita juga akan ditanya mengenai keperluan kita untuk menggunakan coworking space ini. Kami bilang bahwa kami ingin bekerja menggunakan laptop di situ karena memang ada hal yang perlu kami persiapkan untuk meeting di siang harinya.
Selain bekerja, keperluan lainnya sepertinya tidak akan diperbolehkan untuk menggunakan coworking space ini. Saya sempat mendengar ada beberapa ibu-ibu yang ingin duduk-duduk di coworking space untuk menunggu kereta api. Oleh resepsionisnya disarankan untuk duduk di kursi tunggu stasiun saja.
Memang di dalam coworking space ini cukup cozy suasananya. Ada fasilitas AC yang bikin adem dibandingkan harus duduk-duduk di luar. Lalu ada wifi dan colokan yang tentunya membuat kita bisa mengisi daya ponsel atau laptop kita setiap saat.
Interior salah satu sudut coworking space Stasiun Gambir
Di dalam coworking space ini juga kita tidak perlu khawatir kehausan. Ada dispenser air minum yang menyediakan air panas, dingin, dan biasa. Gelas plastik juga sudah disediakan.
Namun di dalam coworkingspace ini, tamu tidak diperbolehkan memakan makanan atau minuman dari luar. Mungkin agar kebersihannya tetap terjaga.
Setiap pengunjungdibatasi maksimal selama 2 jam untuk dapat menggunakan coworking space ini. Namun dalam pengalaman saya kemarin, saya tidak ‘diusir’ walaupun masih bertahan di coworkingspace hingga 2,5 jam. Mungkin karena saat itu pengunjung yang ada hanya sekitar 3 orang dari kapasitasnya yang saya perkirakan bisa memuat hingga 16 orang.
Bagi para pekerja atau mungkin pelajar yang sedang melakukan perjalanan dengan kereta api seperti saya ketika itu, keberadaan coworking space ini tentunya sangat membantu. Kita bisa tetap produktif dengan mengerjakan tugas kantor atau kampus di sela-sela perjalanan.
Kalau berdasarkan artikel ini, kehadiran coworking space di stasiun relatif masih baru sepertinya. Baru menjelang pertengahan tahun ini. Walaupun demikian hadirnya coworking space di stasiun ini merupakan terobosan yang layak diapresiasi!
Masih berkaitan dengan tulisan sebelumnya tentang perjalanan saya ke Solo awal Bulan September kemarin. Pada perjalanan itu akhirnya saya berkesempatan menjajal untuk pertama kalinya SkyBridge yang menghubungkan Terminal Bus Tirtonadi dan Stasiun Solo Balapan.
Setelah tiba dari naik bus Semarang-Solo, saya melanjutkan untuk naik kereta api ke Sragen dari Stasiun Solo Balapan. Sebenarnya ada bus Solo-Sragen. Namun saat itu tidak menjadi pilihan saya karena busnya sangat lambat karena sering ngetem. Sementara saya butuh cepat sampai di Sragen.
Mudah saja menemukan jalan menuju SkyBridge di Terminal Tirtonadi ini. Persis di depan Masjid Al-Musafir, Terminal Tirtonadi, terdapat tangga untuk menuju SkyBridge. Jalurnya terbuka. Siapapun boleh melewatinya. Tidak harus memiliki tiket kereta api.
Saat awal dibuka Juni 2017 lalu SkyBridge ini sebetulnya ditujukan untuk penumpang kereta api baik yang mau naik maupun turun di Stasiun Solo Balapan. Karena itu ada pemeriksaan tiket bagi mereka yang hendak melalui SkyBridge ini menuju Stasiun Solo Balapan. Namun kini terbuka untuk umum.
Tidak banyak pejalan kaki yang saya temui ketika berjalan kaki di SkyBridge ini pada Sabtu siang itu. Mungkin hanya sekitar 5 orang saja. Entahlah. Mungkin memang bukan jam sibuk.
Tidak banyak orang melewati SkyBridgeRumah penduduk di sekitar SkyBridge
Dengan hadirnya SkyBridge ini tentu saja sangat memudahkan mobilitas penumpang yang beralih moda transportasi dari bus ke kereta api atau sebaliknya. Jarak jalan raya yang sebesar 1,5 km dapat dipangkas menjadi sekitar 700 meter. Jarak tersebut saya tempuh dalam waktu kurang lebih 7 menit saja.
Eskalator/Tangga SkyBridge di halaman Stasiun Solo Balapan
SkyBridge ini berakhir di halaman depan Stasiun Solo Balapan. Namun sebelum tangga/eskalator terakhir itu, sebenarnya terdapat beberapa tangga/eskalator turun ke peron Stasiun Solo Balapan, salah satunya peron bangunan stasiun kereta bandara yang sudah hampir jadi. Tetapi semuanya ditutup oleh palang. Mungkin kelak akan dibuat gate agar penumpang bisa langsung turun ke peron tersebut tanpa harus turun dulu di depan Stasiun Solo Balapan.
Saya ingin berbagi pengalaman saya 2 minggu lalu ketika berada di Semarang dan ingin melanjutkan perjalanan ke Solo dengan bus. Setidaknya ada 3 macam transportasi umum yang saya ketahui bisa digunakan dari Semarang menuju Solo sebenarnya. Selain bus, ada kereta api dan travel.
Saya sebenarnya memulai perjalanan ini dari Bandung. Karena rencana perjalanan yang sangat mendadak hari itu, saya tidak bisa mendapatkan tiket kereta api atau bus yang langsung ke Solo. Tiket yang masih tersedia saat itu hanyalah tiket kereta api ke Semarang. Ya sudah apa boleh buat.
Saya turun di Stasiun Semarang Tawang. Idealnya setelah itu saya menyambung perjalanan dengan kereta api ke Solo. Tapi waktu kedatangan saya di Stasiun Tawang tidak pas dengan jadwal keberangkatan kereta api yang ada. Jadwal yang terdekat berselisih 4 jam. Bus pun menjadi opsi saya.
Saya cukup buta dengan Kota Semarang. Untuk mencari tahu cara naik bus ke Solo, saya mengandalkan informasi di internet. Dari hasil googling di internet saya tahu bahwa terminal besar bus di Semarang sudah pindah dari Terboyo ke Mangkang, yang lokasinya sangat jauh di ujung barat Semarang. Di Google Maps jaraknya tercatat 21 km dari Stasiun Tawang.
Untungnya ada Bus Rapid Transit (BRT) Trans Semarang yang melayani rute tersebut walaupun tidak langsung. Kita bisa naik dari halte BRT depan Stasiun Tawang, tepatnya sebelah kanan pintu masuk stasiun.
Di sana saya naik bus koridor IV jurusan Terminal Cangkiran. Kemudian transit di halte BRT Imam Bonjol Udinus — dekat Tugu Muda/Balai Kota Semarang — dan selanjutnya ganti naik bus koridor I jurusan Terminal Mangkang. Tarifnya Rp3.500 saja. Perjalanan Stasiun Tawang-Terminal Mangkang ini kurang lebih mengambil masa 45 menit, termasuk waktu transit menunggu bus berikutnya.
Ini adalah pengalaman pertama saya naik BRT Trans Semarang. Sistemnya sama saja seperti bus TransJakarta. Kita cukup bayar Rp3.500 dan bisa berpindah-pindah bus tanpa perlu membayar lagi. Namun dibandingkan dengan TransJakarta, halte-halte Trans Semarang ini tidaklah terlalu besar dan tidak semua ada petugasnya.
Soal Terminal Mangkang, walaupun terminal ini dari luar tampak megah, sayangnya terkesan tidak terawat. Banyak tanaman liar yang tumbuh di halaman depan bangunan utama. Untuk naik bus tujuan Solo/Yogyakarta pun kita bukannya masuk ke dalam terminal. Tapi menunggu bus yang ngetem di pintu keluar terminal yang berada di sisi timur.
Belakangan saya baru tahu sebetulnya untuk naik bus tujuan Solo ini kita bisa juga naik dari pertigaan Sukun yang jaraknya sekitar 19 km dari Stasiun Tawang karena dari Terminal Mangkang bus akan melewati pertigaan Sukun juga.
Dari Terminal Mangkang jaraknya masih jauh juga ke pertigaan Sukun, yakni 25 km. Jadi lumayan menghemat waktu juga kalau kita langsung nyegat di sana. Cuma risikonya mungkin bus bisa saja sudah terisi penuh dari Terminal Mangkang sehingga kita tidak akan kebagian kursi. Tarif bus patas Semarang-Solo ini adalah Rp30.000.
Pada malam Idul Adha pekan lalu untuk pertama kalinya saya mencoba naik pesawat dari Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB). Nama resminya memang BIJB, tapi bandara ini juga dikenal dengan panggilan Bandara Kertajati karena lokasinya yang berada di Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Bahkan bus Damri yang melayani trayek Bandung-BIJB lebih memilih nama Bandara Kertajati untuk disematkan di papan nama jurusan yang dipasang di kaca depannya.
Pada bulan Agustus ini, kebetulan AirAsia baru saja membuka rute baru Kertajati (KJT)-Surabaya (SUB). Harga yang ditawarkannya masih harga promo, yakni sebesar Rp380 ribu untuk KJT-SUB dan Rp400 ribu untuk SUB-KJT. Jauh lebih murah daripada harga tiket kereta api eksekutif yang umumnya sekitar Rp500 ribu.
Untuk transportasi Bandung-Bandara Kertajati saya menumpang bus Damri. Bus Damri ini berangkat dari pool Damri yang berada di Jalan Kebon Kawung, persis di depan Stasiun Hall Bandung.
Bus Damri parkir di Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung Loket dan ruang tunggu penumpang Pool Damri Jl. Kebon Kawung, Bandung
Sekadar informasi, saat ini bus Damri Bandung-Kertajati masih dalam masa promosi lho. Calon penumpang pesawat cukup menunjukkan tiket pesawatnya kepada petugasloket untuk mendapatkan tiket bus Damri gratis ke Bandara Kertajati.