Category Archives: Curhat

Menulis Diary

Hari ini ketika aku pulang ke rumah orang tua di Malang, iseng-iseng aku merapikan buku-buku di kamarku. Buku-buku yang kugunakan sewaktu ku sekolah dulu. Ya, sampai sekarang aku memang masih menyimpan buku-buku sekolahku. Bisa dibilang aku ini termasuk tipe orang yang sangat menghargai memori. Setiap benda yang berbau kenangan, hampir dipastikan masih kusimpan dengan rapi. Tak terkecuali buku diary.

Semenjak kelas 2 SMP hingga SMA, aku memang memiliki hobi menulis diary. Faktor utama pendorongku adalah karena ikut-ikutan kakak sepupuku — yang kebetulan saat itu kuliah di Malang dan tinggal sekamar denganku — yang juga biasa menulis diary. Saat itu aku melihat menulis diary adalah solusi untuk menuangkan ide-ide atau curahan hati yang ada di pikiranku saat itu.

Namun, sebenarnya saat SD kelas 6 pun aku di sekolah dalam pelajaran bahasa Indonesia juga sudah mendapatkan pengajaran tentang menulis diary. Aku masih ingat betul ketika guruku mengatakan bahwa kita mungkin bisa berbohong kepada orang lain tapi tidak kepada buku diary. Beliau mencontohkan sebuah kasus dugaan pidana korupsi yang menimpa salah satu direktur — saya lupa direktur apa — di Malang. Pengadilan kesulitan menemukan bukti yang menyatakan dia bersalah. Tapi pihak yang berwenang menemukan sebuah tulisan direktur itu dalam sebuah buku — yang ternyata merupakan buku diary-nya — yang berisi curhatan dia setelah melakukan korupsi. Sayangnya, buku diary tidak bisa dijadikan barang bukti karena tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal, seperti kata guru saya tadi, seseorang hampir dipastikan tidak akan pernah berbohong dalam menulis diary.

Apa yang dikatakan oleh guruku itu ternyata memang kurasakan ketika menulis diary. Kecuali dalam kasus di mana kita menulis diary untuk konsumsi ‘publik’. Dalam arti, kita tidak menutup kemungkinan untuk mempersilahkan orang lain untuk membaca buku diary kita. Kalau memang seperti itu, besar kemungkinan kita akan menutup-nutupi beberapa fakta yang kita tidak ingin orang lain tahu.

Ketika membaca-baca buku diary-ku itu, aku cuma bisa tersenyum-senyum. Yap, kebanyakan yang aku tulis dulu memang tentang cinta monyet khas anak sekolah, eaaa … pengalaman jatuh cinta kepada seorang perempuan di sekolah, hehehe. Namun, tidak hanya itu, dalam buku diary itu aku juga banyak bercerita tentang kegiatan yang kujalani hari itu, interaksi dengan teman-teman, serta perjuangan menembus SMA favorit hingga PTN favorit. Kalau membaca tulisan-tulisan itu, jadi bisa merasakan lagi suasana sekolah dulu. Masa sekolah memang masa-masa yang indah.

Masa kuliah sebenarnya juga lebih indah walaupun tekanan yang dirasakan lebih berat. Karena pada masa kuliah itu, kesempatan untuk mengaktualisasi diri dan berkarya terbentang luas. Sayang, setelah lulus SMA, aku berhenti untuk menulis diary. Ya, mungkin karena sudah ada blog ini walaupun sebenarnya tak bisa disamakan antara diary dan blog, hahaha. Menulis blog kan bersifat publik, sementara menulis diary bersifat privat.

Pertama Kali ke Tanah Sumatra

Ya, mungkin terkesan agak ndeso postingan kali ini. Cuma ke Sumatra saja sampai dibikin postingannya segala. Tapi jujur saja, pengalaman ke Lampung kali ini memang merupakan sejarah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumatra, hehehe.

Jadi ceritanya hari Ahad lalu aku dihubungi oleh seorang teman dan juga “bos” tempatku mroyek sekarang. Terus aku ditawari untuk ikutan proyek temannya di Lampung mulai hari Selasa kemarin (2011/11/29) sampai hari Ahad besok (2011/12/04). Tanpa banyak mikir, aku langsung mengiyakan tanpa tahu proyeknya seperti apa.

Ternyata proyeknya nggak jauh-jauh dari kegiatanku dulu semasa masih aktif di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) ITB, tepatnya di bagian Toserba. Proyek ini tentang sistem informasi akuntansi dan penjualan (Point of Sales) dari sebuah koperasi yang berada di bawah sebuah perusahaan di Lampung. Proyek ini sudah berjalan beberapa bulan dan aku diminta untuk membantu mengerjakan beberapa bagian yang belum selesai.

Oke, hari Selasa aku pun ikut berangkat bersama dua orang lainnya menggunakan pesawat Merpati dari Bandung menuju Lampung langsung. Jujur saja, ini baru kali kedua aku naik pesawat. Sempat kagok juga sih dengan aturan bandara.

Dari bandara Radin Inten II, Bandar Lampung, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 2 jam menuju utara, menempuh jarak kurang lebih 90 km. Ternyata Aku berada di kabupaten Bandar Mataram, hehehe. 😀

Lampung, Lampung … di sini suasananya ternyata Jawa banget ya :D. Di mana-mana ada saja pemandangan orang mengobrol memakai bahasa Jawa. Tanah Sumatra, cita rasa Jawa, hehehe :lol:. Tapi enak … makanan di sini cocok banget dengan selera lidahku. Suatu hal yang jarang sekali kudapatkan di Bandung. Hmm … mungkin karena memang masakannya bercita rasa Jawa ya.

Akhirnya Punya Paspor Juga

Alhamdulillah … akhirnya punya paspor juga. Awalnya aku tak pernah berpikir untuk membuat paspor dalam waktu dekat ini. Namun, aku disuruh oleh “bos” tempatku mroyek sekarang ini untuk membuat paspor karena ada salah satu klien yang ingin memberikan training di Singapura.

Paspor baru

Paspor baru

Hmm … aku sendiri tak tahu apakah rencana itu jadi atau tidak, yang penting aku bikin dulu saja. Lagipula aku dan beberapa teman memang sempat ada wacana untuk backpacking ke luar negeri. Itupun kalau jadi dan ada uang :D. Tapi nggak apa-apalah. Setidaknya dengan punya paspor, mudah-mudahan memotivasiku untuk pergi ke luar negeri, entah untuk studi atau urusan yang lain, hehehe. 😆

Mengurus paspor itu ternyata “cuma” butuh waktu seminggu saja (7 hari kerja). Hari pertama kita memasukkan formulir beserta pemeriksaan persyaratan. Hari ketiga pengambilan foto, sidik jari, dan wawancara. Hari keenam atau ketujuh, pengambilan paspor.

Proses pemeriksaan formulir, pengambilan foto, sidik, jari, dan wawancara itu masing-masing tidak memerlukan waktu yang lama. Paling sekitar 5-15 menit. Namun, yang lama itu adalah antriannya. Bisa berjam-jam. Untuk kantor imigrasi di Bandung, buka pukul 7.30. Aku yang datang pukul 10.00 mendapatkan antrian nomor 300-an dan baru mendapat giliran layanan sekitar pukul 13.30, itu juga karena terpotong jam istirahat pukul 12.00-13.00. Makanya, sangat disarankan untuk datang sebelum kantor imigrasi dibuka agar mendapatkan nomor antrian awal-awal.

Tentang persyaratan, beberapa dokumen yang harus kita siapkan meliputi kartu keluarga (asli & fotocopy 1 lembar), KTP (asli & fotocopy 1 lembar), Akte kelahiran (asli & fotocopy 1 lembar), ijazah (asli & fotocopy 1 lembar). Akte kelahiran dan ijazah itu sifatnya opsional, kita cukup memilih salah satu saja. Tapi tak ada salahnya membawa dua-duanya untuk jaga-jaga. Seperti pengalamanku kemarin. Akte kelahiranku tidak diterima karena ada bekas semacam tip-ex di akte kelahiranku sehingga dianggap tidak valid. Akhirnya aku pun memakai ijazah sebagai persyaratan. Sialnya, ijazah yang diminta ternyata ijazah SD, sedangkan aku membawa ijazah SMA saja. Akhirnya, aku pun diminta untuk membawa fotocopy-an ijazah SD saat wawancara.

Terkait dengan dokumen asli, kemarin sempat menyesal juga sih harus meminta dikirimkan kartu keluarga asli dari Malang ke Bandung. Saat memasukkan formulir permohonan, aku cuma menyerahkan persyaratan yang fotocopy-an saja. Sedangkan yang asli tidak aku keluarkan demi melihat respon petugasnya. Ternyata benar, kartu keluarga yang asli tidak diminta. Petugasnya cuma mencocokkan data formulir dengan data yang di fotocopy-an saja. Menyesal karena sudah membayar mahal untuk biaya pos kilat Malang-Bandung tapi ternyata yang asli nggak dipakai. Padahal kalau fotocopy-an saja aku juga sudah punya cadangannya.

ABK Inklusi

Pagi ini sekitar pukul 6 pagi salah satu teman yang juga tetanggaku berkunjung main ke rumah ketika aku tengah menyapu teras depan rumah (di Malang). Temanku ini masih kelas 1 SMK. Dia cowok. Ketika itu dia tengah bersepeda pagi dan kemudian mampir ke rumahku.

Kami pun mengobrol sambil duduk-duduk di kursi teras rumah. Dalam obrolan itu kami sedikit menyelipkan candaan dan dia juga sedikit mengerjaiku. Kemudian aku pun berkata, “Iya, iya, kamu kan emang pinter.”

Aku cukup terkejut ketika dia membalasnya dengan berkata, “Hei mas, sepinter-pintere aku, sek pinter sampeyan. Saya ini kan ABK inklusi, sementara mas anak reguler.”

Jujur, aku baru mendengar istilah “ABK inklusi” saat itu. Mungkin aku pernah mendengar atau membaca sebelumnya, tapi aku tak ingat. Begitu dia pulang, aku pun googling tentang apa yang dimaksud ABK inklusi itu. Aku pun menemukan artikel yang menyebutkan klasifikasi ABK itu di sini.

Jadi ceritanya, dia sempat mengatakan padaku bahwa dia termasuk ABK inklusi kategori hiperaktif. Dia juga mengatakan karena hal itu dia menjadi sangat lemah dalam pelajaran di sekolah, khususnya pelajaran yang ada berhitungnya. Akan tetapi, dia menambahkan, untuk pelajaran agama dan seni, khususnya musik, dia lumayan bagus.

Mungkin dia memang termasuk golongan ABK inklusi, tapi dari pengamatanku dia bersosial sangat baik dengan semua orang di kompleks tempat tinggalku. Dia juga rajin sholat 5 waktu di masjid kompleks, bahkan sering menjadi muadzin. Aku pun mengatakan padanya, “Dik, di mata Alloh ini, semua orang sama. Yang membedakan cuma derajat ketaqwaannya. Mungkin orang lain termasuk kategori reguler, tapi belum tentu mereka lebih baik dari mereka yang ABK inklusi. Kamu rajin sholat di masjid dan suka adzan lagi, itu bagus.”

Yah, aku cuma ingin dia nggak merasa minder saja. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seseorang dibilang pinter bukan dilihat dari akademis saja.

Selama ini aku tak pernah melihat dia sebagai seorang ABK inlusi atau apalah istilahnya. Aku cuma menyadarinya sebagai sosok pribadi yang unik. Tak sungkan-sungkan untuk bersosialisasi dengan semua orang, termasuk dengan bapak-bapak atau ibu-ibu. Dia juga sangat humoris, dan tak jarang aku tertawa karenanya.

Selamat Wisuda Kawan-Kawan Oktopus

Hari ini adalah hari yang bahagia bagi kawan-kawan Oktopus — sebutan yang biasa diberikan kawan-kawan untuk para wisudawan Oktober — karena pada hari ini kawan-kawan diwisuda dari ITB. Sebagaimana tradisi wisudaan di ITB yang sudah bertahan dari masa ke masa, setiap habis acara yudisium di Sabuga kawan-kawan langsung diarak dari Sabuga menuju jurusan masing-masing melalui sebuah prosesi yang sudah diorganisir oleh kabinet mahasiswa. Yang jelas, momen wisuda ini bakal menjadi momen tak terlupakan bagi mereka.

Sayang aku tak bisa datang, baik pada acara syukuran wisuda dua hari lalu maupun pada acara arak-arakan wisuda hari ini. Sebab, aku terpaksa harus pulang ke Malang untuk suatu urusan.

Namun, seandainya aku ada di Bandung pun, tak yakin juga apakah akan hadir ke kedua acara itu. Sebab, jujur, aku masih memendam kekecewaan dan penyesalan yang amat dalam karena gagal wisuda Oktober tahun ini dan baru bisa menyusul paling cepat Juli tahun depan. Ibarat main bola, semua usaha untuk mencetak gol sudah dikerahkan, tapi aku gagal mengkonversinya menjadi sebuah gol karena satu masalah yang seharusnya tak perlu terjadi.

Aku kecewa dan kesal pada diriku sendiri. Seharusnya aku bisa melihat senyum bahagia keluargaku, khususnya kedua orang tuaku di hari wisuda ini, tapi yang terjadi aku malah membuat orang tuaku menangis ketika mengabarkan aku tak jadi wisuda Oktober ini. Sakit rasanya tiap kali ketemu orang, teman, keluarga diselamatin, tapi kemudian aku menjelaskan kepada mereka bahwa aku tak jadi wisuda, lalu mereka tanya kenapa, dan aku harus menjelaskan sebabnya berkali-kali. 😦

Tapi Insya Allah seiring berjalannya waktu aku semakin berusaha untuk ikhlas. Mungkin mimpi buruk ini adalah bentuk peringatan atau cobaan Allah padaku. Ya dengan waktu ekstra yang setahun ini setidaknya aku bisa menjadi memiliki banyak waktu luang yang bisa kumanfaatkan untuk hal-hal positif  untuk pengembangan diri.

Oke, cukup curcolnya, hehehe :D. Yang jelas, kawan-kawan Octopus, di kesempatan ini aku cuma ingin berkata, selamat wisuda kawan-kawan. You are really deserving of this. Selemat menempuh hidup baru. Selamat berkarya untuk bangsa!

Doppelganger

Doppelganger. Aku mendengar istilah ini pertama kali dari seorang teman saat menumpang kereta api 3 bulan yang lalu. Ketika itu kami melihat sesosok anak perempuan yang perawakannya, termasuk model rambut dan senyumnya, yang mirip teman kuliah kami. Temanku itu kemudian berkata, “Wah, ada doppelganger-nya si X.”

Aku baru tahu ternyata itu toh istilah yang dipakai orang-orang untuk menyebut sosok orang yang perawakannya mirip dengan orang lain tapi bukan saudara kembar. Tapi setelah kutelisik, ternyata istilah “doppelganger” ini berasal dari bahasa Jerman, “Doppelgänger“, yang berarti “double walker” dalam bahasa Inggris. Istilah itu awalnya dipakai pada sebuah folklore yang merujuk pada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia dalam hidupnya. Namun, seiring berjalannya waktu, term tersebut dipakai untuk mengistilahkan seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam tulisan ini aku bukan hendak membahas doppelganger yang kaitannya dengan folklore “horor” tadi, melainkan doppelganger dalam pengertian seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam hidup ini orang-orang di sekitar kita selalu ada yang datang dan ada pula yang pergi. Ada yang sangat akrab dengan kita, sebatas saling kenal, kita kenal tapi dia tidak (dan juga sebaliknya), atau saling tidak mengenali satu sama lain.

Dari sekian banyak orang yang pernah kutemui atau kukenal, ada beberapa di antaranya yang kulihat dan kurasakan saling memiliki kemiripan. Tidak hanya fisik, tetapi juga perangai, sifat, karakter, atau apapun itulah. Hmm… kalau kemiripan karakter antara yang satu dan yang lainnya, disebut doppelganger juga nggak ya?

Masih terkait dengan doppelganger, sering aku merasakan bahwa beberapa orang teman atau orang yang aku kenal memiliki karakter yang sangat mirip dengan beberapa teman di masa lalu (baca: saat masih masa sekolah dulu). Dan entah kenapa, ketika aku sudah merasa bahwa seseorang mirip karakternya dengan teman yang sudah kukenal sebelumnya, aku langsung men-judge bahwa “oh… dia pasti akan fine-fine saja kalau aku bercanda atau memperlakukan dia seperti ini” atau “oh… dia pasti akan kesal atau marah kalau aku berlaku seperti ini sebab temanku dulu seperti itu”.

Anyway, judgement seperti yang aku ungkapkan tadi memang tidak selalu tepat. Tapi pengalaman hidup berinteraksi dengan banyak orang dan memahami karakter mereka masing-masing akan membantu kita dalam bagaimana berinteraksi dengan orang-orang baru.

Menunggu Lagi

Tertatih-tatih aku berjalan di atas tanah berkerikil
Namun, pelan tapi pasti aku semakin dekat dengan destinasiku
Tiba-tiba gumpalan awan gelap memenuhi langit
Gemuruh suara guntur terdengar riuh di telinga

Bumi mulai dibanjuri air hujan oleh sang awan gelap
Aku pun terpaksa mencari tempat berteduh
Menunggu rintik air hujan ini mereda
Berharap awan gelap segera pergi dari singgasananya

Sejumput kemudian wajah sang surya menyembul dari balik awan
Memancarkan seberkas cahaya dari senyumnya yang merona
Sang awan gelap pun berangsur-angsur menyingkir
Memberikan singgasananya pada sang surya

Aku mengumpulkan semangat tuk melangkah lagi
Mengejar kawan-kawan yang sudah menunggu di destinasi

Tapi kini jalan tak lagi bersahabat
Selain berkirikil, tanah juga berlumpur dan penuh duri semak belukar
Kontur yang mendaki membutuhkan usaha lebih tuk laluinya
Pelan tapi pasti aku bisa melewati rintangan itu bertahap

Destinasi sudah terlihat di depan
Aku pun semakin bersemangat

Ketika destinasi sudah dekat untuk dicapai, aku terpeleset
Jalan licin dan tak mawas diri membuatku terperosok jatuh ke bawah
Penuh luka kuderita di tubuh ini

Langit tiba-tiba menjadi gelap
Sang surya yang tadi menemaniku kini telah pulang
Awan gelap datang bersamaan dengan datangnya malam
Butiran air hujan kembali membanjuri bumi yang hanya bisa pasrah

Aku menangis terperi akan kemalangan ini
Destinasi yang tadinya sudah di depan mata tinggal menjadi harapan
Harapan yang sama untuk menunggu tampaknya wajah sang surya kembali