Doppelganger

Doppelganger. Aku mendengar istilah ini pertama kali dari seorang teman saat menumpang kereta api 3 bulan yang lalu. Ketika itu kami melihat sesosok anak perempuan yang perawakannya, termasuk model rambut dan senyumnya, yang mirip teman kuliah kami. Temanku itu kemudian berkata, “Wah, ada doppelganger-nya si X.”

Aku baru tahu ternyata itu toh istilah yang dipakai orang-orang untuk menyebut sosok orang yang perawakannya mirip dengan orang lain tapi bukan saudara kembar. Tapi setelah kutelisik, ternyata istilah “doppelganger” ini berasal dari bahasa Jerman, “Doppelgänger“, yang berarti “double walker” dalam bahasa Inggris. Istilah itu awalnya dipakai pada sebuah folklore yang merujuk pada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia dalam hidupnya. Namun, seiring berjalannya waktu, term tersebut dipakai untuk mengistilahkan seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam tulisan ini aku bukan hendak membahas doppelganger yang kaitannya dengan folklore “horor” tadi, melainkan doppelganger dalam pengertian seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam hidup ini orang-orang di sekitar kita selalu ada yang datang dan ada pula yang pergi. Ada yang sangat akrab dengan kita, sebatas saling kenal, kita kenal tapi dia tidak (dan juga sebaliknya), atau saling tidak mengenali satu sama lain.

Dari sekian banyak orang yang pernah kutemui atau kukenal, ada beberapa di antaranya yang kulihat dan kurasakan saling memiliki kemiripan. Tidak hanya fisik, tetapi juga perangai, sifat, karakter, atau apapun itulah. Hmm… kalau kemiripan karakter antara yang satu dan yang lainnya, disebut doppelganger juga nggak ya?

Masih terkait dengan doppelganger, sering aku merasakan bahwa beberapa orang teman atau orang yang aku kenal memiliki karakter yang sangat mirip dengan beberapa teman di masa lalu (baca: saat masih masa sekolah dulu). Dan entah kenapa, ketika aku sudah merasa bahwa seseorang mirip karakternya dengan teman yang sudah kukenal sebelumnya, aku langsung men-judge bahwa “oh… dia pasti akan fine-fine saja kalau aku bercanda atau memperlakukan dia seperti ini” atau “oh… dia pasti akan kesal atau marah kalau aku berlaku seperti ini sebab temanku dulu seperti itu”.

Anyway, judgement seperti yang aku ungkapkan tadi memang tidak selalu tepat. Tapi pengalaman hidup berinteraksi dengan banyak orang dan memahami karakter mereka masing-masing akan membantu kita dalam bagaimana berinteraksi dengan orang-orang baru.

2 thoughts on “Doppelganger

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s