Monthly Archives: August 2011

Jalan-Jalan Ke Agrowisata Sondokoro Tasikmadu

Pada H+1 lebaran ini (Rabu, 31/8)–aku berlebaran tanggal 30/8–aku bersama keluarga besar Sragen jalan-jalan ke tempat wisata keluarga Agrowisata Sondokoro, Tasikmadu, Karanganyar, Jawa Tengah. Pada mulanya tempat ini merupakan pabrik gula saja, tempat melakukan penggilingan tebu dan pembuatan gula. Namun, pada perjalanannya untuk mendorong peningkatan industri pariwisata di Kabupaten Karanganyar, sejak tahun 2005 dibangun suatu tempat agrowisata yang lebih mengenalkan tentang pabrik gula sebagai ikon wisata.

Monumen lokomotif sepur lori

Monumen lokomotif sepur lori

Kami sekeluarga tiba di tempat agrowisata Sondokoro sekitar jam setengah sebelas siang. Cuaca saat itu panas menyengat. Namun, ketika masuk area wisata, hawa panas itu berganti menjadi hawa sejuk dan teduh karena banyaknya pohon-pohon besar yang rindang yang berada di area wisata. Melihat pohon-pohon yang begitu besar, aku menduga usia pohon-pohon itu sudah mencapai puluhan atau ratusan tahun.

Tiket masuk area wisata ini per orangnya adalah Rp5.000. Kurang tahu sih, apakah besarnya tiket masuk itu khusus saat momen lebaran saja atau memang biasanya segitu. Kalau memang khusus lebaran, berarti harusnya kalau hari biasa lebih murah lagi.

Rel lori yang melintas di tengah-tengah tempat wisata

Rel lori yang melintas di tempat wisata

Agrowisata Sondokoro memiliki banyak wahana di dalamnya. Setiap wahana, biasanya (atau bahkan semuanya) ditarik tiket masuk lagi. Wahana favorit di Sondokoro ini tentu saja wisata sepur lorinya. Ada banyak rangkaian sepur lori (kereta tebu) yang disiapkan di tempat wisata ini. Kereta tersebut siap berkeliling mengantarkan para pengunjung menikmati seantero tempat wisata ini.

Untuk lebih lengkapnya mengenai daftar wahana yang ada di Sondokoro, silakan lihat foto di bawah ini. 😀

Daftar wahana di Sondokoro

Daftar wahana di Sondokoro

Aku sendiri hanya menikmati wahana “terapi ikan” saja. Tiket masuknya Rp7.000. Di sana kaki kita dicelupkan ke dalam sungai buatan berukuran kecil di wahana tersebut. Tunggu saja, beberapa saat kemudian akan berdatangan ikan-ikan air tawar menciumi (baca: menggigit) kaki kita. Rasanya sih seperti dicubit kaki kita ini oleh ikan-ikan itu. Ikan-ikan yang ada di tempat terapi ikan Sondokoro ini antara lain meliputi ikan mujahir, mas, dan sebagainya.

Ikan-ikan berkumpul di sekitar kaki

Ikan-ikan berkumpul di sekitar kaki

Kesan pertama yang biasa dirasakan adalah sakit keenakan, tertawa geli, dan selanjutnya tubuh mulai merasa lemas, kemudian mengantuk karena nikmatnya suasana di sana yang sejuk dan tenang sambil diiringi gemericik suara air yang mengalir. Terapi ikan ini setelah kubaca dari artikel ini katanya dapat memberikan efek kesehatan bagi tubuh karena telapak kaki merupakan pusat aliran syaraf yang apabila ditotok bisa memperlancar peredaran darah serta membantu metabolisme tubuh. Selain itu gigitan ikan tersebut berguna juga untuk melepaskan kulit mati di sekitar telapak kaki dan jari-Jari. Dampak lainnya secara psikologis adalah membuat kita merasa lebih rileks sih menurutku.

Sayang sih nggak sempat mengeksplor lebih banyak wahana yang ada di Sondokoro. Maklum, keluargaku cucu-cucunya sudah pada besar-besar, hahaha. Sedangkan wahana yang ada di sana memang lebih cocok untuk orang tua bersama anak-anaknya yang masih sekolah atau balita. Lagipula kami juga cuma sebentar mengunjungi Sondokoro ini, cuma sekitar 2 jam di sana.

Sehabis dari Sondokoro, sebelum pulang, kami makan siang dahulu di Lembah Hijau Multifarm, masih di Karanganyar juga. Tempatnya nggak jauh dari Sondokoro. Cuma sekitar 20 menit perjalanan dengan menggunakan mobil.

Mudik Naik KA Kahuripan

Alhamdulillah, sampai juga di Sragen. Perjalanan Padalarang-Sragen dengan KA Kahuripan ini menghabiskan waktu 13 jam. Ya, pada lebaran kali ini aku memang nggak pulang ke Malang dahulu, tapi langsung mudik ke Sragen, tempat kediaman mbah.

Seperti yang sudah kuceritakan di postingan sebelumnya, aku baru mendapatkan tiket balik untuk tanggal 28/8. Dalam perjalanan mudik ini aku pergi sendirian. Kawan-kawan yang biasa bareng denganku naik Kahuripan sudah pada mudik duluan.

Karena sendirian itu, aku nggak bernafsu untuk dapat tempat duduk walaupun sebenarnya mudah. Tinggal berangkat lebih awal ke stasiun (sore hari misalnya) dan langsung mencari kursi yang masih kosong. Tapi duduk sendiri menunggu di dalam kereta tentu membosankan. Oleh karena itu, aku baru berangkat ke stasiun Padalarang saat menjelang Maghrib dengan menumpang KA Baraya Geulis (Rp5.000) dari stasiun Bandung. Perjalanan Bandung-Padalarang kurang lebih sekitar 20 menit.

Suasana stasiun Padalarang saat Maghrib

Suasana stasiun Padalarang saat Maghrib

KA Kahuripan baru berangkat pukul 20.00 dari stasiun Padalarang. Ketika aku sampai di sana sekitar pukul 6 sore lebih, kondisi kereta sudah penuh penumpang. Rasanya nggak ada kursi kosong yang tersisa. Aku pun memutuskan untuk menunggu keberangkatan kereta di peron stasiun sambil menikmati hidangan buka puasa yang kubeli di stasiun.

Sekitar 15 menit menjelang keberangkatan aku baru naik ke dalam kereta. Sebelum masuk pintu kereta, ada petugas polsuska yang memeriksa tiketku. Setelah itu, baru aku boleh naik.

Kondisi di dalam kereta ternyata sudah penuh sesak, terutama di bagian bordes kereta. Entah kenapa orang-orang sangat suka duduk di bordes kereta padahal dekat dengan toilet yang pesing dan menghalangi pintu masuk kereta. Aku sendiri akhirnya memilih berdiri di dekat pintu masuk (tengah) gerbong.

Salah satu tipsku ketika bepergian sendirian naik kereta ekonomi padat penumpang adalah mencari seorang teman yang kira-kira friendly untuk diajak mengobrol, lebih bagus kalau dia sama-sama bepergian seorang sendiri seperti kita atau sepantaran (sebaya). Perjalanan jauh yang memakan waktu seperti ini bisa boring juga kalau nggak ada orang yang diajak bicara. Teman baru kita itu terkadang juga akan membantu kita dalam menjaga barang atau memberikan tempat yang lebih lapang buat kita. Akan tetapi, kewaspadaan harus tetap ada.

By the way, setelah melalui perjalanan mudik kemarin aku jadi sangsi terhadap peraturan “maksimum penumpang sebesar 150% dari kapasitas normal” dapat mencapai tujuan peraturan itu–memanusiawikan penumpang kereta ekonomi. Kenyataan di lapangan, walaupun jumlah penumpang kereta sudah dibatasi, kereta tetap penuh sesak, bahkan lebih sesak dari biasanya–saat bukan lebaran. Bukan berarti aku tidak mendukung peraturan baru itu. Sangat mendukung malah. Kalau tidak dibatasi, bisa-bisa ada penumpang yang berada di dalam toilet, lokomotif, bahkan atap kereta seperti dulu.

Angka 150% itu sepertinya belum mempertimbangkan banyaknya barang yang dibawa oleh penumpang. Saat-saat arus mudik seperti ini dapat dipastikan barang-barang yang dibawa penumpang akan sangat banyak. Selain membawa tas yang berisi pakaian, biasanya mereka juga membawa kardus-kardus yang berisi oleh-oleh untuk keluarga di kampung halaman. Tempat menaruh barang yang tersedia tidak mencukupi. Akhirnya barang-barang ditumpuk di bawah yang ujung-ujungnya memakan tempat penumpang yang tidak kebagian tempat duduk.

Itu sih yang kuhadapi kemarin. Mau duduk saja susah, apalagi mau selonjor. Kaki pun terpaksa membengkak karena kurang aliran darah, hihi. Tiap kali duduk, harus berdiri lagi untuk memberikan jalan bagi pedagang asongan atau penumpang yang mau lewat. Beberapa kali aku mencoba tetap duduk saat ada orang mau lewat dengan harapan dia mengambil langkah tinggi untuk melangkahi kakiku. Tapi yang ada beberapa kali jari kaki ini kena injak, hiks hiks…

Ada yang Baru dengan Sistem Pengangkutan KA Ekonomi

Ada yang berbeda pada sistem pengangkutan penumpang kereta api (KA) ekonomi pada lebaran kali ini, dan mungkin juga berlaku untuk seterusnya. Yakni, adanya kebijakan batasan jumlah penumpang yang boleh diangkut untuk setiap gerbong sebesar 150% dari kapasitas normal.

Lebih jelasnya, ini dia sumber pengumuman peraturan baru tersebut. Poster yang ditempel di stasiun. Maaf fotonya blurry (kurang jelas).

Pengumuman PT KAI

Pengumuman PT KAI

Tampaknya banyak yang belum tahu kebijakan baru PT KAI ini. Banyak penumpang yang kecele dengan datang ke stasiun saat mendekati jam keberangkatan dan ternyata tiket yang dijual sudah habis. Wajar saja, selain karena kuota yang dibatasi, pemesanan tiket juga sudah bisa dilakukan sejak H-7 keberangkatan sehingga sangat kecil kemungkinannya calon penumpang bisa mendapat tiket beberapa saat menjelang keberangkatan. Mereka yang tidak mendapatkan tiket akhirnya terpaksa gagal mudik pada hari itu dan terpaksa kembali ke rumah.

Saya pun juga termasuk yang menjadi korban “gagal mudik” itu. Hari ini (Jumat, 28/8) sebenarnya saya berencana untuk mudik dengan KA Kahuripan jurusan Padalarang-Kediri. Saya sebenarnya tahu akan kebijakan baru tersebut, bahkan sebelumnya juga sudah memesan untuk keberangkatan hari Rabu tanggal 26/8. Tapi karena ada suatu urusan, saya terpaksa membatalkan perjalanan hari itu. Hari ini saya kelewat optimis bisa memperoleh tiket untuk mudik walaupun mepet dengan jam keberangkatan. Ternyata dugaan saya salah. Saya pun terpaksa untuk balik tanggal 28/8 (Minggu) karena tiket yang tersedia baru ada lagi mulai tanggal segitu.

Aturan lain yang juga baru diterapkan lebaran ini — sepanjang pengamatan saya di stasiun Padalarang tadi — adalah adanya pemeriksaan tiket sebelum keberangkatan di dalam kereta. Sejak awal sebelum kereta berangkat, kondektur bersama Polsuska melakukan pemeriksaan tiket penumpang di dalam kereta. Penumpang yang tak bertiket akan diturunkan dari dalam kereta. Begitu pula, calon penumpang yang baru akan naik juga sudah diperiksa oleh petugas di luar kereta. Ternyata cukup banyak juga penumpang tak bertiket yang terjaring dalam proses pemeriksaan itu. Di antaranya adalah seorang ibu-ibu. Beliau menarik perhatian para pengunjung stasiun karena menangis setelah diturunkan petugas dari kereta. Beliau sepertinya menangis gara-gara nggak bisa mudik hari itu karena kehabisan tiket, tapi tetap memaksa naik hingga akhirnya dipaksa turun petugas.

Heboh ibu menangis di stasiun Padalarang

Heboh ibu menangis di stasiun Padalarang

Sepertinya petugas KA memang benar-benar lebih ketat dalam menjalankan aturan daripada biasanya. Pemandangan penumpang yang tak bertiket hanya menyodorkan duit selembar 10 ribuan kepada petugas agar tidak diturunkan pernah secara langsung saya saksikan di atas KA Kahuripan ini. Mudah-mudahan upaya PT KAI untuk meningkatkan pelayanan KA Ekonomi dengan membuat beberapa perubahan sistem pengangkutan ini bisa secara konsisten dilakukan dan petugasnya memang berkomitmen untuk itu.

[VIDEO] Maher Zain – Insha Allah

Sudah lama sebenarnya lagu ini muncul. Tetapi baru benar-benar akrab di telingaku pas Ramadhan ini. Hampir di setiap stasiun radio yang kudengar sering banget muterin lagu ini. Biasanya sesudah adzan maghrib atau subuh.

Lagu ini sangat enak dan easy listening menurutku. Liriknya juga sangat indah dan maknanya sangat dalam. Menyuratkan pesan bahwa Allah selalu ada di sisi kita untuk menunjukkan jalan yang terang bagi hamba-Nya yang yakin kepada-Nya.

Bagi penggemar lagu-lagu Maher Zain, ada kabar gembira karena ia akan melangsungkan konser di 3 kota di Indonesia dalam waktu dekat ini: Bandung (6 Oktober), Surabaya (8 Oktober), dan Jakarta (9 Oktober). Sayangnya, info yang kuperoleh dari situs ini katanya harga tiket terendahnya Rp300.000. Terus terang bagi mahasiswa sepertiku, harga segitu cukup mahal. Sepertinya memang bukan rezekiku buat menikmati langsung lagu-lagu Maher Zain di konser itu.

Libur 17an, Instal Ulang OS

Sebenarnya tidak ada hubungan implikasi sih antara frase pertama dan frase kedua judul di atas. Setelah 14 bulan bertahan dengan triple O: Windows XP, Windows 7, dan Ubuntu 11.0, akhirnya aku instal ulang OS di laptopku lagi. Kebetulan momennya pas hari kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus, jadi judulnya kubuat seperti itu, hehehe. Oiya, sebelumnya aku ucapkan Dirgahayu RI yang ke-66!

Sudah lama sebenarnya mau instal ulang laptopku ini karena sudah sebulan belakangan kewalahan banget menghadapi virus yang menyerang windows 7-ku. Akibatnya, browser dan microsoft office nggak bisa dibuka, dan sistem jadi sering shut down sendiri. Tapi karena aku masih butuh banget Ubuntu-nya buat mengerjakan TA, jadinya belum kuinstal ulang. Salah juga sih sejak awal nggak instal antivirus. Soalnya, biasanya aku menghapus virusnya manual. Tapi kalau virus yang dihadapi banyak dan muncul-muncul sendiri terus kewalahan juga, haha.

Sekarang laptop sudah diinstal ulang. Kerjaan berikutnya yang agak bikin malas itu adalah menginstal driver-driver dan program-program yang dibutuhkan. Banyak dan lama. Fiuhh…

Inikah Rasanya CINTA

Makan nggak nikmat, jalan-jalan nggak bergairah, main badminton atau olahraga yang lain nggak bisa lepas, setiap mau ngapa-ngapain selalu kepikiran CINTA (Tugas Akhir). Kira-kira itulah sekelumit kesan yang kurasakan sepanjang pengerjaan TA di tingkat empat ini. Perasaan itu semakin bergejolak ketika mendekati deadline pengumpulan draft, seminar, dan juga sidang.

Terkesan berlebihan mungkin. Tapi itulah apa adanya yang kurasakan. Dan setelah share ke sesama pejuang CINTA, ternyata sebagian juga merasakan hal yang sama. Teman-teman mungkin biasa menyebutnya dengan istilah “galau TA”. Kayaknya kalau di Twitter, mereka biasa nge-tweet dengan hashtag #GalauTA, hahaha.

Sisi positifnya, sebenarnya dengan perasaan seperti itu artinya ada rasa aware juga di dalam diri ini untuk segera menyelesaikan TA. Bukan berarti gara-gara nggak ada mood untuk ngapa-ngapain, terus nggak ada mood untuk mengerjakan TA. :mrgreen:

Perasaan galau TA itu kini akhirnya berangsur-angsur lenyap dari diriku, karena tepat pada pagi hari ini tadiSelasa, 16 Agustus 2011 / 16 Ramadhan 1432 H, pukul 10.00-12.00 — aku telah melaksanakan sidang TA S1 ini. Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus bersyarat. Artinya, walaupun lulus, tapi masih ada revisi yang harus dikerjakan. Dan revisi yang harus kukerjakan itu lumayan banyak. Walau demikian, ada sebuncah rasa bahagia yang tiba-tiba kurasakan begitu pernyataan hasil sidang tersebut keluar.

Antara perasaan senang dan tidak percaya juga sih aku bisa melaluinya. Tapi yang jelas, rasanya itu: “plooonngg …”. Sepanjang jalan dari kampus menuju kosan, senyuman tak bisa menghilang dari bibirku. Hahaha, biarinlah dibilang orang aneh atau apa.

Sekarang harus direm dulu perasaan bahagianya. Saatnya menatap ke depan, memulai usaha untuk langkah berikutnya mewujudkan plan yang sudah pernah kurancang karena jalan masih panjang.