Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Warung Ariel

Tiba-tiba saja ingin menulis tentang ini. Gara-garanya, di timeline akun twitter @itweetb lagi membahas tentang warung Indomie (bukan ngiklan). Di daerah kosan mahasiswa-mahasiswa ITB, termasuk daerah Cisitu, warung-warung Indomie ini memang bertebaran. Sebenarnya nggak bertebaran juga sih. Di Cisitu ada 4-5 warung yang kutahu. Menu standarnya selain Indomie, juga ada bubur kacang hijau, bubur ayam, dan minuman (kopi, jahe, susu, STMJ, dsb.).

Warung-warung itu cukup populer di lingkungan kami. Apalagi kalau sudah larut malam atau dini hari gitu. Warung tersebut boleh dibilang menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa. Maklum saja, warung-warung Indomie itu buka 24 jam, kecuali saat Jumatan :D.

Tapi ada satu hal yang menarik. Di Cisitu ada satu warung yang cukup laris karena salah satu mas-mas karyawannya, wajah, potongan rambut, dan posturnya mirip Ariel Peter Pan, hihihi. Makanya teman-teman dekat memberikan sebutan untuk warung itu dengan nama “warung Ariel”. Nah, di tweet akun @itweetb itu ternyata banyak juga yang berpikiran demikian. Tampaknya memang tidak hanya aku dan teman-temanku yang merasa mas-mas itu punya tampang mirip Ariel, anak-anak ITB juga punya pendapat yang sama, hehehe. Sayang nggak ada fotonya. Kalau ada, mungkin bisa dibandingkan :mrgreen: (*kurang kerjaan).

Aplikasi Android untuk Remote Slide Presentasi

Awalnya aku cuma tahu saja bahwa ada aplikasi Android yang bisa digunakan untuk me-remote aplikasi di komputer, entah itu aplikasi media player, slide presentasi, ataupun me-remote desktop langsung. Nah, tiba-tiba saja ketika aku sedang mempersiapkan diri untuk seminar Tugas Akhir II hari ini tadi aku teringat tentang aplikasi Android yang bisa digunakan untuk me-remote slide presentasi tadi. Aku pun mulai mencari-cari aplikasi apa yang user friendly, nggak ribet, dan (yang paling penting) gratis.

Akhirnya, setelah googlinggoogling, dapat satu link menuju situs http://www.vrallev.net/do/apps/android/pptodp_remote/start. Nama aplikasinya adalah PowerPoint OpenOffice Remote atau disebut juga dengan Remote PPT ODP.

PowerPoint OpenOffice Remote is an app for Android OS to remote control PowerPoint and OpenOffice presentations.

Dari situs tersebut aku mendapatkan link menuju halaman review aplikasi itu di situs Android Market. Wow, lumayanlah, ratingnya 4,1 dari skala 5. Yang ngevote juga sudah 91 orang. Persebaran suaranya: 56 orang bintang 5, 13 orang bintang 4, 7 orang bintang 3, 5 orang bintang 2, dan 10 orang bintang 1. Komentar-komentar yang kubaca di halaman itu sebagian besar juga menunjukkan kepuasan. Akhirnya langsung kuputuskan saja mengunduhnya.

Untuk dapat menggunakan aplikasi remote ini, selain (tentu saja) memasang aplikasi tersebut di HP Android, kita juga perlu memasang aplikasi satunya lagi buat yang di desktop. Aplikasi desktop itulah yang akan digunakan untuk menjalin koneksi antara HP dengan PC. Koneksi yang dilakukan adalah via Wi-Fi. Jadi, HP Android itu sebelumnya perlu kita set agar menjadi portable Wi-Fi hotspot sehingga keberadaan HP tersebut terbaca oleh PC.

Aplikasi desktop untuk Remote PPT ODP

Aplikasi desktop untuk Remote PPT ODP

Lalu pada aplikasi desktop kita di-set IP address milik HP itu dan nomor port tempat aplikasi Remote PPT ODP berjalan. Apabila koneksi antar aplikasi sudah terjalin, program akan menjalankan proses screenshot halaman-halaman slide presentasi dan mengeloadnya ke dalam aplikasi pada HP. Setelah itu kita tinggal melakukan navigasi melalui HP (touchscreen) dengan mudah. Cukup touch sekali, slide sudah berganti (next, previous, jump). Bisa juga dengan cara sliding untuk berpindah antar slide (next maupun previous). Oh iya, waktu aku coba kemarin, aplikasi ini ternyata selain bisa digunakan untuk PPT dan ODP, juga bisa untuk PDF.

Dari yang aku googling-googling kemarin sih memang ada aplikasi-aplikasi sejenis lainnya. Tapi karena aplikasi pertama yang aku coba adalah aplikasi ini dan kebetulan pas begitu, akhirnya malas juga mencoba yang lain karena waktu yang terbatas (harus menyiapkan seminar TA II). Aplikasi ini punya dua versi: versi free dan versi berbayar. Yang versi berbayar, katanya ada beberapa fitur tambahan. Hanya saja, saya nggak begitu tahu apa sajakah fitur tambahan itu.

Namun, ada satu hal kekurangan dari aplikasi ini menurutku. Dari sisi waktu aplikasi ini memerlukan waktu untuk proses loading (screenshot + download screenshot) ke HP yang cukup lama, bergantung pada jumlah slide. Mungkin ada aplikasi sejenis yang tidak perlu proses tersebut? Simpel, tinggal klak klik next/previous/jump saja?

# Halaman download aplikasi : http://www.vrallev.net/do/apps/android/pptodp_remote/start

Nonton Langsung Final Indonesia Open PSS 2011

Akhirnya keinginan untuk menonton langsung pertandingan bulutangkis kelas dunia kesampaian juga. Yap, hari Minggu kemarin aku bersama dua orang teman (Rizky IF’07 dan Pras EL’07) pergi ke Jakarta untuk menonton pertandingan final Djarum Indonesia Open Premiere Super Series (DIO PSS) 2011.

Kami berangkat dari Cisitu pukul 6 pagi kurang menuju stasiun Hall Bandung. Kami pergi ke Jakarta dengan menggunakan KA Argo Parahyangan yang berangkat pukul 6.30. Tidak beruntung bagi kami karena tiket dengan tempat duduk kereta saat itu telah habis. Kami pun terpaksa membeli tiket berdiri. Namun, kami sudah mengantisipasinya dengan membawa koran agar bisa duduk nyaman di bawah :).

Monas

Monas

Kurang lebih perjalanan Bandung-Jakarta Gambir yang kami lalui memakan waktu 3,5 jam. Dari stasiun Gambir kami berjalan kaki menuju Monumen Nasional (Monas). Oh, ternyata pagi itu ada event besar yang diadakan di sana. Entah acara apa. Di sana kami melihat ada banyak mahasiswa Trisakti, pelajar-pelajar sekolah Jakarta, dan ada para pejabat negara juga, salah satunya adalah Pak Boediono, wakil presiden RI saat ini.

Sempat berfoto-foto sejenak dan melihat aktivitas-aktivitas yang ada (sekitar setengah jam) di kawasan Monas, kami pun melanjutkan perjalanan lagi ke kawasan Gelora Bung Karno dengan menggunakan bus TransJakarta. Ini pengalaman pertamaku naik busway di Jakarta. Perjalanan menuju Gelora Bung Karno dari shelter Monas itu memakan waktu sekitar 20 menit.

Di senayan

Di senayan

Sampai di arena Gelora Bung Karno kami foto-foto lagi. Megah juga ya kawasan Gelora Bung Karno itu. Berbagai arena olahraga ada di sana. Jadi ingat politik mercu suar yang dijalankan oleh presiden Soekarno pada masa lalu. Dan Gelora Bung Karno ini adalah salah satu hasilnya.

Puas berfoto-foto, kami lanjut berjalan lagi ke Istora Senayan yang jaraknya cuma beberapa meter saja dari posisi kami saat itu. Tampak kerumunan orang sudah memadati kawasan Istora saat itu.

Planet Badminton

Planet Badminton

Kawasan Istora telah disulap menjadi sebuah arena hiburan yang dinamai dengan Planet Badminton. Baliho-baliho bergambar jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia, stand-stand makanan/minuman, merchandise/souvenir, perlengkapan bulutangkis, hingga lapangan bulutangkis mini semua ada di ‘planet’ tersebut.

Antrian tiket

Antrian tiket

Sementara itu, di salah satu sudut arena Planet Badminton, tepatnya di depan ticket box tampak antrian para pengunjung yang ingin membeli tiket. Kami sendiri telah membeli tiket pertandingan final ini jauh-jauh hari secara online. Tapi, kami tetap harus mengantri di tempat penukaran tiket. Hanya saja, antriannya tidak sepanjang dan selama antrian di ticket box itu. Prosesnya lebih cepat dan tiketnya pun lebih murah :).

Tiket sudah di tangan, saatnya untuk jalan-jalan di arena Planet Badminton ini sekedar melihat-melihat atau mampir ke stand yang ada. Karena rasa haus mendera saat itu akibat cuaca yang panas, kami pun mampir ke salah satu stand minuman es yang ada di sana. Betapa kagetnya kami ketika tahu harganya. Tapi mau bagaimana lagi, kami sudah duduk dan ditawari menunya. Terpaksa deh beli minuman itu. Hiks, hiks, mahal sekali harganya.

Dari stand tersebut kami beranjak menuju gedung Istora Senayan. Kami mencari-cari mushola yang ada di Istora. Setelah berputar-putar, tanya sana-tanya sini, akhirnya ketemu juga musholanya. Kami menunaikan sholat Dhuhur (dijamak sekalian dengan Ashar) dulu sebelum menonton gelaran final DIO PSS 2011 hari itu.

Suasana di dalam Istora yang ramai sudah sangat terasa ketika kami tengah berada di dalam antrian masuk ke dalam gedung. Sorak sorai penonton begitu santer terdengar hingga keluar ruangan. Padahal tribun penonton saat itu masih belum penuh. Beberapa sektor masih tampak kosong. Hanya sektor utara-barat saja yang tampak sudah mulai padat.

Alamak… ternyata baru jam 1 siang. Pertandingan pertama baru dimulai pukul 13.30 atau setengah jam lagi. Terpaksa kami menunggu sambil duduk manis di tribun di tengah riuhnya para suporter Indonesia. Di tengah hall, tepatnya di dekat podium tempat ceremony juara, ada Judika, artis yang menghibur para supporter siang hari itu dengan membawakan beberapa lagu yang tak asing lagi bagi para suporter Indonesia.

Suasana Istora saat pukul 1 siang

Suasana Istora saat pukul 1 siang

The 1st battle : All Chinese Men’s Double Final

Tak terasa setengah jam terlalui. Pertandingan pertama pun siap-siap dimulai. Penonton bergemuruh ketika Cai Yun dan Fu Haifeng memasuki lapangan. Begitu pula ketika lawannya, kompatriotnya dari China, Chai Biao dan Guo Zhendong menyusul masuk ke lapangan. Dua-duanya masuk final DIO PSS 2011 ini setelah mengalahkan dua ganda putra Indonesia. Continue reading

Toko Apple di ITB Kebobolan

Aku terkejut pagi ini ketika membaca tweet dari Jiwo. Dia bilang, “Wah, toko Apple di perpustakaan pusat ITB kebobolan”. Aku sempat nggak percaya, tapi setelah itu dia ngasih aku foto TKP-nya.

Toko Apple bobol

Toko Apple bobol (http://yfrog.com/h31slilj, credits to Reza)

Sempat heran sih, kok bisa ya malingnya nggak kepergok. Kalau masuk lewat pintu depan mesti dia bakal kepergok satpam gerbang belakang ITB (seharusnya sih, walaupun jaraknya juga tidak begitu dekat antara kantor satpam-perpustakaan pusat). Lagi pula tidak ada tanda-tanda bekas pengrusakan pada pintu depan perpustakaan pusat. Kata Jiwo, ada kemungkinan malingnya masuk lewat jendela basement. Hmm.. tampaknya memang masih lebih aman lokasi toko Apple yang dulu, yaitu di CC. Selain banyak satpam di sana, tempatnya juga tembus pandang, jadi kalau terjadi apa-apa bisa ketahuan.

Sabana Yang Digemari

Sabana

Sabana

Mendengar kata ‘Sabana’ yang terbayang di benakku pertama kali adalah suatu padang rumput yang amat luas di mana kuda-kuda berlarian di atasnya. Tetapi kini, kata ‘Sabana’ sudah berganti korelasinya menjadi ‘ayam goreng’! Ya, Sabana yang saya bicarakan di sini adalah franchise ayam goreng Sabana yang di daerah sekitar kos-kosanku (Cisitu) lagi digemari.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mempromosikan franchise Sabana ini :D. Tetapi tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang Sabana setelah tahu bahwa pemilik Sabana Cisitu menambah lagi outletnya beberapa hari yang lalu, yang juga masih bertempat di Cisitu.

Sempat terhenyak ketika ada seorang teman yang menulis sebuah note di Facebook mengenai keuntungan yang diperoleh franchise Sabana Cisitu dari hasil ‘wawancara’nya. Kata dia, dalam sehari Sabana Cisitu bisa meraih untung hingga Rp300.000. Wow! Kalau dikalikan selama sebulan, keuntungan yang diraih bisa sampai Rp9juta perbulan! Mungkin karena untung yang besar itu dan demi mendapatkan pasar yang lebih luas lagi, alasan pemilik Sabana Cisitu menambah outlet lagi.

Kalau dipikir-pikir, memang cukup wajar sih bisnis ayam goreng tersebut bisa sampai mendapatkan omzet yang tinggi di Cisitu. Tahu sendirilah, Cisitu merupakan basisnya para kosaners yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Mahasiswa kan maunya yang praktis-praktis saja untuk urusan makan dan kalau bisa murah dan mengenyangkan.

Harga satu ayam goreng (bagian dada/paha atas) plus nasi di sana maksimal ‘cuma’ sampai Rp9000 per porsi. Kalau bagian sayap/paha bawah plus nasi, harganya Rp7000 saja. Harga tersebut bisa dikatakan masih cukup bersaing dengan harga ayam goreng di warung-warung makan sekitar Cisitu. Dengan cita rasa yang enak menurut saya (mirip rasa ayam goreng dari franchise restoran fast food terkenal dari Amerika sana) tentu pelanggan lebih memilih Sabana.

Melihat fenomena tersebut (baca: banyak mahasiswa yang mengkonsumsi ayam goreng (tidak hanya Sabana saja)), saya jadi kepikiran apakah itu pola makan yang sehat. Kata seorang teman yang sangat aware dengan menu makanan, ayam goreng itu memiliki kandungan kolesterol dan lemak yang tinggi. Dia sendiri pernah nggliyeng (diambil dari bahasa Jawa, apa ya bahasa Indonesianya?) setelah makan sampai 2 potong ayam langsung sekali makan. Kata dia itu akibat dia memakan makanan dengan kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Hmm… saya cuma bisa mengangguk saja mendengar apa yang dia bilang. Mungkin anak gizi yang lebih tahu. 🙂

Intinya sih, menjadi anak kosaners urusan makan memang menjadi kendali kita. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai mengatur menu makanan kita agar memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. Mengutip guyonan Loedroek ITB dulu, kalau perlu ‘4 sehat 5 sempurna plus plus’. Plus-plusnya apa ya? Saya lupa, silakan diterjemahkan masing-masing, hehehe.

Saya sendiri sering mengingatkan teman sekosan saya agar tidak sering-sering makan ayam goreng Sabana (dan tentu juga ayam goreng-ayam goreng lainnya). Masak setiap kali dia beli makan, menunya selalu ayam goreng Sabana. Apalagi sejak lokasi outlet ayam goreng Sabana semakin dekat dengan kosan kami.

Menulis dan Berkarya

Baru dapat quote dari grup Facebook SMA yang dikutip oleh guru saya. Saya rasa quote-nya sangat bagus. Quote tersebut merupakan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, penulis kenamaan Indonesia.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer.

Mungkin menulis blog ini adalah termasuk yang dimaksud oleh bung Pramoedya tadi, hehehe. Mahasiswa menulis skripsi atau tugas akhir barangkali juga termasuk yang dimaksud oleh beliau. 😀

Namun, barangkali kalau boleh saya tambahkan, tidak hanya menulis agar tidak hilang dalam masyarakat dan sejarah. Anak Informatika atau Ilmu Komputer misalnya, dengan membuat software komputer, apalagi yang berguna untuk masyarakat banyak, Insya Allah ia tidak akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah itu tadi. Jadi poin utama di sini adalah BERKARYA.

Antara Ide dan Eksekusi

Alkisah, ada dua sahabat sedang bercapak-cakap:
A : “Bro, gue punya ide brilian nih untuk buat start up baru.”
B : “Wah, emang apa ide lu?”
A : “Tapi gue nggak bisa ngasih tau, entar lu curi lagi.”
B : -_________-” (cape deh…)

Potongan percakapan di atas ini saya kutip dari materi seminar yang disampaikan oleh kak Rama, founder DailySocial.net, pada saat kegiatan Free Saturday Lesson yang diadakan oleh Comlabs-ITB sekitar sebulan yang lalu.

Ya, kali ini saya ingin berbicara mengenai ide. Orang sering bilang bahwa menemukan ide itu susah (idea block). Padahal ada yang lebih penting (kalau tidak mau dibilang ‘lebih susah’) daripada itu, yakni bagaimana eksekusinya.

Percuma saja ide brilian, tapi eksekusinya jelek, hasilnya pun akan jelek. Sebaliknya, ide yang biasa-biasa saja, tapi eksekusinya cantik, hasilnya pun akan cantik pula. Apalagi kalau dikombinasikan keduanya, ide sudah brilian, eksekusi menawan, hasilnya pun akan menjadi luar biasa.

Kita sudah melihat contoh nyata dari sebuah kisah yang dialami FacebookFacebook kini menenggak sukses luar biasa dengan menjadi media jejaring sosial terbesar di seluruh jagad raya ini. Padahal kalau kita pernah menonton film Social Network atau membaca novel The Accidental Billionaires, kita akan menemukan bahwa Mark Zuckerberg dituding telah ‘mencuri’ ide Winklevoss bersaudara dan Divya dengan mendirikan situs Facebook itu. Mark memang pernah bekerja sama dengan mereka untuk menggarap konsep mereka tentang media jejaring sosial. Namun, secara misterius Mark keluar dari proyek tersebut dan tiba-tiba melejit dengan Facebooknya. Winklevoss bersaudara dan Divya pun dengan tertatih-tatih melanjutkan proyek mereka hingga akhirnya situs jejaring sosial yang mereka garap online juga. Situs tersebut diberi nama ConnectU. Namun, situs tersebut gagal meraih kesuksesan seperti Facebook.

Saya tidak menganggap mencuri ide itu adalah hal yang diperbolehkan. Tapi poin di sini adalah bahwasannya jangan sampai kita mengalami stuck dalam masalah ide karena ide itu baru jalan awal saja. Contoh Facebook tadi adalah mengenai bagaimana eksekusi itu dijalankan. Saya pikir Mark secara brilian mampu mengemas Facebook sehingga menjadi jejaring sosial yang begitu diminati oleh banyak orang. Mungkin ConnectU sebenarnya memiliki konsep yang lebih bagus daripada Facebook. Saya tidak tahu itu. Tapi Facebook memiliki sebuah keunggulan apa yang disebut dengan ‘keunggulan penggerak pertama’ (first mover advantage). Ya, kesuksesan itu diperoleh karena Facebook bergerak lebih cepat daripada yang lain. Di saat orang mulai bosan dengan Friendster yang monoton, Facebook hadir dengan beragam fiturnya yang menarik dan pertama ada!

Frase ‘pertama ada’ tidak berarti menunjukkan bahwa ide terhadap implementasi itu adalah yang pertama. Hmm, bingung ya? Maksud saya, bisa jadi satu atau lebih orang selain kita di antara 6 miliar penduduk bumi ini pernah atau sedang memikirkan ide serupa. Namun, kitalah yang pertama kali mewujudkannya.

Nah, jadi daripada berlama-lama mencari ide, lebih baik mending gunakan ide sederhana namun eksekusinya digarap dengan brilian. Ide bisa datang dari mana saja. Hal-hal kecil di sekitar kita juga bisa menjadi inspirasi.

Oh ya, saya menulis ini bukan berarti saya orang yang sok punya ide brilian atau jago mengeksekusi. Saya cuma ingin berbagi saja. Saya pun sering mengalami apa yang disebut dengan ‘ide buntu’ atau creative problem dan stuck di dalamnya. Efeknya, tidak ada progress berarti yang dihasilkan.