Antara Ide dan Eksekusi

Alkisah, ada dua sahabat sedang bercapak-cakap:
A : “Bro, gue punya ide brilian nih untuk buat start up baru.”
B : “Wah, emang apa ide lu?”
A : “Tapi gue nggak bisa ngasih tau, entar lu curi lagi.”
B : -_________-” (cape deh…)

Potongan percakapan di atas ini saya kutip dari materi seminar yang disampaikan oleh kak Rama, founder DailySocial.net, pada saat kegiatan Free Saturday Lesson yang diadakan oleh Comlabs-ITB sekitar sebulan yang lalu.

Ya, kali ini saya ingin berbicara mengenai ide. Orang sering bilang bahwa menemukan ide itu susah (idea block). Padahal ada yang lebih penting (kalau tidak mau dibilang ‘lebih susah’) daripada itu, yakni bagaimana eksekusinya.

Percuma saja ide brilian, tapi eksekusinya jelek, hasilnya pun akan jelek. Sebaliknya, ide yang biasa-biasa saja, tapi eksekusinya cantik, hasilnya pun akan cantik pula. Apalagi kalau dikombinasikan keduanya, ide sudah brilian, eksekusi menawan, hasilnya pun akan menjadi luar biasa.

Kita sudah melihat contoh nyata dari sebuah kisah yang dialami FacebookFacebook kini menenggak sukses luar biasa dengan menjadi media jejaring sosial terbesar di seluruh jagad raya ini. Padahal kalau kita pernah menonton film Social Network atau membaca novel The Accidental Billionaires, kita akan menemukan bahwa Mark Zuckerberg dituding telah ‘mencuri’ ide Winklevoss bersaudara dan Divya dengan mendirikan situs Facebook itu. Mark memang pernah bekerja sama dengan mereka untuk menggarap konsep mereka tentang media jejaring sosial. Namun, secara misterius Mark keluar dari proyek tersebut dan tiba-tiba melejit dengan Facebooknya. Winklevoss bersaudara dan Divya pun dengan tertatih-tatih melanjutkan proyek mereka hingga akhirnya situs jejaring sosial yang mereka garap online juga. Situs tersebut diberi nama ConnectU. Namun, situs tersebut gagal meraih kesuksesan seperti Facebook.

Saya tidak menganggap mencuri ide itu adalah hal yang diperbolehkan. Tapi poin di sini adalah bahwasannya jangan sampai kita mengalami stuck dalam masalah ide karena ide itu baru jalan awal saja. Contoh Facebook tadi adalah mengenai bagaimana eksekusi itu dijalankan. Saya pikir Mark secara brilian mampu mengemas Facebook sehingga menjadi jejaring sosial yang begitu diminati oleh banyak orang. Mungkin ConnectU sebenarnya memiliki konsep yang lebih bagus daripada Facebook. Saya tidak tahu itu. Tapi Facebook memiliki sebuah keunggulan apa yang disebut dengan ‘keunggulan penggerak pertama’ (first mover advantage). Ya, kesuksesan itu diperoleh karena Facebook bergerak lebih cepat daripada yang lain. Di saat orang mulai bosan dengan Friendster yang monoton, Facebook hadir dengan beragam fiturnya yang menarik dan pertama ada!

Frase ‘pertama ada’ tidak berarti menunjukkan bahwa ide terhadap implementasi itu adalah yang pertama. Hmm, bingung ya? Maksud saya, bisa jadi satu atau lebih orang selain kita di antara 6 miliar penduduk bumi ini pernah atau sedang memikirkan ide serupa. Namun, kitalah yang pertama kali mewujudkannya.

Nah, jadi daripada berlama-lama mencari ide, lebih baik mending gunakan ide sederhana namun eksekusinya digarap dengan brilian. Ide bisa datang dari mana saja. Hal-hal kecil di sekitar kita juga bisa menjadi inspirasi.

Oh ya, saya menulis ini bukan berarti saya orang yang sok punya ide brilian atau jago mengeksekusi. Saya cuma ingin berbagi saja. Saya pun sering mengalami apa yang disebut dengan ‘ide buntu’ atau creative problem dan stuck di dalamnya. Efeknya, tidak ada progress berarti yang dihasilkan.

One thought on “Antara Ide dan Eksekusi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s