Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Balsamiq: Recommended Mockups Application

Saat ini aku sedang ikut dalam sebuah pengerjaan proyek web bersama beberapa orang kawan. Dalam proyek ini aku berkenalan dengan aplikasi baru bernama “Balsamiq”. Pertama kali mendengar nama ini entah kenapa aku kok langsung teringat “balsem” — salep yang biasa dipakai untuk menghangatkan badan) — ya, hehehe :D.

Ya, Balsamiq bukanlah sebuah nama merek sebuah balsem, tapi ia adalah sebuah aplikasi komputer yang digunakan untuk merancang sebuah mockup dari web yang akan dikerjakan. Dalam pengerjaan sebuah web, adanya mockup akan sangat membantu. Sang programmer akan menjadi lebih fokus dalam proses coding karena desain sudah ada.

Selain itu, mockup juga dapat berperan sebagai media komunikasi yang baik antara klien dan perusahaan serta antara project manager (PM), desainer, dan programmer sebagaimana digambarkan dalam Balsamiq manifesto. Adanya mockup dapat membuat perusahaan, khususnya para developer, untuk memahami requirement yang diminta oleh klien.

mockupsInTheMiddle [balsamiq.com]

mockups in the middle (balsamiq.com)

Installer Balsamiq bisa diunduh di situs Balsamiq langsung. Aplikasi ini dapat berjalan di multiplatform, termasuk WIndows, Linux, dan Mac. Sayangnya aplikasi ini tidak gratis. Untuk dapat menggunakan seluruh fungsionalitasnya (full functionality) kita harus membelinya terlebih dahulu seharga $79 atau sekitar 700 ribu rupiah. Namun, kita bisa mengambil kesempatan untuk mencoba (trial) aplikasi itu secara full functionality selama 7 hari.

Tapi dari beberapa komentar yang kubaca di beberapa forum terkait Balsamiq ini sih kata mereka walaupun harus membayar mahal untuk mendapatkan aplikasi ini, tapi aplikasi ini menurut mereka benar-benar worthy. Banyak ikon/simbol UI (user interface) yang bisa kita gunakan untuk desain mockup kita mulai dari textbox, textarea, image, radio button, checkbox, hingga map, webcam, dan simbol-simbol antah berantah lainnya. Semua ikon/simbol UI itu ditampilkan dalam bentuk gambar sketchy (seperti coret-coretan pensil), termasuk ketika kita memasukkan sebuah gambar atau foto, misal logo atau banner untuk dipasang di web kita. Kita bisa mengkonversinya ke bentuk sketchy juga. Jadi kelihatannya memang lebih artistik dan menunjukkan kalau itu memang mockup sih :).

Screenshoot Balsamiq

Screenshoot Balsamiq

Fitur lain yang juga cukup penting dan akan sangat useful adalah fitur full screen. Full screen ini akan membantu kita untuk mempresentasikan mockup yang sudah dibuat. Bagusnya, kursor yang ditampilkan saat kita dalam mode full screen bukan pointer kecil putih seperti biasanya, tapi pointer yang berwarna biru yang berukuran besar sehingga tampak lebih jelas.

Mode Full Screen Balsamiq

Mode Full Screen Balsamiq

Sebenarnya aplikasi mockup, khususnya untuk desain web, ada juga aplikasi lain selain Balsamiq ini. Salah satunya adalah Pencil. Aplikasi ini gratis, tapi sayangnya kumpulan simbol UI untuk desain webnya kurang kaya. Tapi sudah lumayanlah untuk kategori aplikasi gratisan :). Mungkin Anda punya rekomendasi aplikasi mockup yang lain?

Screenshoot Pencil

Screenshoot Pencil

Jogging Pagi Kontrakan—Alun-Alun Bandung

Akhirnya dengan “susah payah” rencana jogging pagi dari kontrakan menuju alun-alun kota Bandung via balai kota dan Braga terwujud juga :). Alasan kenapa aku tambahkan keterangan “susah payah” karena rencana sebelum-sebelumnya cuma berakhir menjadi sebuah kebambangan alias hoax. Yup, sudah beberapa minggu yang lalu sebenarnya aku dan dua teman sekontrakanku berencana untuk jogging pagi ke Braga, tapi selalu gagal karena susahnya anak-anak bangun subuh-subuh karena kebiasaan begadang malamnya.

Malam kemarin aku minta mereka termasuk aku tidur cepat agar bisa berangkat jogging habis subuh. Kenapa harus berangkat habis subuh, ya karena jalanan pada jam segitu masih sepi-sepinya, jadi kami bisa leluasa untuk jogging tanpa harus berhenti lari.

Kami berangkat dari kontrakan pukul 5 lewat 15 menit. Sebenarnya ini sudah termasuk siang dan lewat dari target untuk berangkat pukul 5 tepat. Langit juga sudah mulai terang dan jalanan mulai bermunculan kendaraan yang lalu lalang. Jogging pagi hari ini kami mengambil rute Sangkuriang-Tamansari-Purnawarman-Balai kota-Braga.

Orang-orang jogging di area balai kota

Orang-orang jogging di area balai kota

Dalam rute perjalanan itu kami menyempatkan mampir ke dalam area lingkungan balai kota Bandung. Masak sudah 4 tahun menetap di Bandung nggak pernah main-main ke dalam areanya, hihihi. Sebenarnya karena kami melihat banyak orang yang juga berolahraga di sana sih, jadi mumpung ramai main-main ke sana saja sekalian foto-foto.

Setelah puas foto-foto dan lari mengelilingi area balai kota serta menikmati udara sejuk dan asrinya pepohonan di sana, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Braga. Langit sudah semakin terang. Jalanan pun semakin ramai. Jam sudah menunjukkan waktu sekitar pukul 6.15.

Jalanan Braga yang lengang

Jalanan Braga yang lengang

Akhirnya sampai juga di Braga. Kami pun berfoto-foto sejenak di sana sambil menikmati jalanan Braga yang agak lengang. Kawasan Braga ini memang terlihat sangat bersih dan trotoarnya pun nyaman untuk dilalui oleh pejalan kaki, tidak seperti beberapa trotoar di tempat lain. Selain itu, trotoarnya juga cukup lebar.

Awalnya niat kami hanya jogging pagi sampai jalanan Braga saja. Tapi kami merasa kurang puas. Cieee… pakai acara nggak puas-puasan segala ini anak-anak. Kami pun melanjutkan langkah kami menuju ke alun-alun kota melalui jalanan Asia-Afrika tentunya.

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Di sekitaran gedung Asia-Afrika lagi-lagi anak-anak berhenti untuk foto-foto kembali. Jalanan Asia-Afrika, tepatnya di area sekitar gedung Merdeka, sudah sangat ramai ketika itu. Walaupun ada beberapa saat di mana jalanan menjadi sangat lengang. Sementara itu, alun-alun dengan menara masjid Agung-nya tampak sangat jelas dari posisi kami saat itu. Ya, jarak kami sudah 100 meteran lagi dari alun-alun.

Setelah sampai alun-alun, terus? Kami berjalan menuju area Pasar Baru untuk mencari angkot ungu yang ke Cisitu. Ya, kami langsung balik pulang dan memutuskan mencari sarapan di daerah Cisitu saja karena ada banyak pilihan. Hmm… lumayanlah jogging pagi hari ini, cukup membakar kalori. Habis ini sepertinya mau merutinkan lari pagi di lapangan SARAGA saja, hehehe.

 

Doppelganger

Doppelganger. Aku mendengar istilah ini pertama kali dari seorang teman saat menumpang kereta api 3 bulan yang lalu. Ketika itu kami melihat sesosok anak perempuan yang perawakannya, termasuk model rambut dan senyumnya, yang mirip teman kuliah kami. Temanku itu kemudian berkata, “Wah, ada doppelganger-nya si X.”

Aku baru tahu ternyata itu toh istilah yang dipakai orang-orang untuk menyebut sosok orang yang perawakannya mirip dengan orang lain tapi bukan saudara kembar. Tapi setelah kutelisik, ternyata istilah “doppelganger” ini berasal dari bahasa Jerman, “Doppelgänger“, yang berarti “double walker” dalam bahasa Inggris. Istilah itu awalnya dipakai pada sebuah folklore yang merujuk pada bayangan diri yang dipercaya menyertai setiap manusia dalam hidupnya. Namun, seiring berjalannya waktu, term tersebut dipakai untuk mengistilahkan seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam tulisan ini aku bukan hendak membahas doppelganger yang kaitannya dengan folklore “horor” tadi, melainkan doppelganger dalam pengertian seseorang yang memiliki kemiripan dengan orang lain.

Dalam hidup ini orang-orang di sekitar kita selalu ada yang datang dan ada pula yang pergi. Ada yang sangat akrab dengan kita, sebatas saling kenal, kita kenal tapi dia tidak (dan juga sebaliknya), atau saling tidak mengenali satu sama lain.

Dari sekian banyak orang yang pernah kutemui atau kukenal, ada beberapa di antaranya yang kulihat dan kurasakan saling memiliki kemiripan. Tidak hanya fisik, tetapi juga perangai, sifat, karakter, atau apapun itulah. Hmm… kalau kemiripan karakter antara yang satu dan yang lainnya, disebut doppelganger juga nggak ya?

Masih terkait dengan doppelganger, sering aku merasakan bahwa beberapa orang teman atau orang yang aku kenal memiliki karakter yang sangat mirip dengan beberapa teman di masa lalu (baca: saat masih masa sekolah dulu). Dan entah kenapa, ketika aku sudah merasa bahwa seseorang mirip karakternya dengan teman yang sudah kukenal sebelumnya, aku langsung men-judge bahwa “oh… dia pasti akan fine-fine saja kalau aku bercanda atau memperlakukan dia seperti ini” atau “oh… dia pasti akan kesal atau marah kalau aku berlaku seperti ini sebab temanku dulu seperti itu”.

Anyway, judgement seperti yang aku ungkapkan tadi memang tidak selalu tepat. Tapi pengalaman hidup berinteraksi dengan banyak orang dan memahami karakter mereka masing-masing akan membantu kita dalam bagaimana berinteraksi dengan orang-orang baru.

Menunggu Lagi

Tertatih-tatih aku berjalan di atas tanah berkerikil
Namun, pelan tapi pasti aku semakin dekat dengan destinasiku
Tiba-tiba gumpalan awan gelap memenuhi langit
Gemuruh suara guntur terdengar riuh di telinga

Bumi mulai dibanjuri air hujan oleh sang awan gelap
Aku pun terpaksa mencari tempat berteduh
Menunggu rintik air hujan ini mereda
Berharap awan gelap segera pergi dari singgasananya

Sejumput kemudian wajah sang surya menyembul dari balik awan
Memancarkan seberkas cahaya dari senyumnya yang merona
Sang awan gelap pun berangsur-angsur menyingkir
Memberikan singgasananya pada sang surya

Aku mengumpulkan semangat tuk melangkah lagi
Mengejar kawan-kawan yang sudah menunggu di destinasi

Tapi kini jalan tak lagi bersahabat
Selain berkirikil, tanah juga berlumpur dan penuh duri semak belukar
Kontur yang mendaki membutuhkan usaha lebih tuk laluinya
Pelan tapi pasti aku bisa melewati rintangan itu bertahap

Destinasi sudah terlihat di depan
Aku pun semakin bersemangat

Ketika destinasi sudah dekat untuk dicapai, aku terpeleset
Jalan licin dan tak mawas diri membuatku terperosok jatuh ke bawah
Penuh luka kuderita di tubuh ini

Langit tiba-tiba menjadi gelap
Sang surya yang tadi menemaniku kini telah pulang
Awan gelap datang bersamaan dengan datangnya malam
Butiran air hujan kembali membanjuri bumi yang hanya bisa pasrah

Aku menangis terperi akan kemalangan ini
Destinasi yang tadinya sudah di depan mata tinggal menjadi harapan
Harapan yang sama untuk menunggu tampaknya wajah sang surya kembali

Cenat-Cenut Gigi Bungsu Tumbuh

Ouchh … sepertinya sudah 2-3 hari ini aku merasakan cenat-cenut pada gigi bagian rahang kanan atas. Awalnya aku bingung, ini rasa sakit muncul dari mana perasaan gigiku nggak bermasalah. Setelah iseng-iseng menggerak-gerakkan lidah mencari bagian yang sakit dan membaca referensi ini, ini, dan ini , kusimpulkan bahwa rasa cenat-cenut ini diakibatkan oleh gigi geraham yang baru tumbuh di rahang kanan atas.

Kata beberapa referensi itu sih memang gigi bungsu alias gigi geraham belakang itu biasa tumbuh saat manusia menginjak usia dewasa sekitar 18-30 tahun. Saat tumbuh, sering kali menimbulkan rasa ngilu di bagian gusi. Kalau mau tahu sebabnya, artikel ini cukup memberikan penjelasan. Kalau tidak salah, rasanya dulu pernah juga tumbuh gigi geraham belakang tapi di bagian rahang yang lain. Apa tumbuhnya nggak barengan ya antar rahang? 😕

Sementara ini sih aku wait and see saja dulu. Kalau masih sakit juga dalam beberapa hari ke depan, mungkin harus ke dokter gigi nih. Benar kata pepatah, “lebih baik sakit hati daripada sakit gigi”. Kalau gigi (atau gusi sih?) sudah cenat-cenut, rasa makanan seenak apapun tidak akan nikmat di mulut ini. Hiks … hiks … 😥

Raket Badminton Baru

Sebulan yang lalu aku membeli raket badminton baru. Yeyy … akhirnya aku punya raket badminton juga :D. Selama ini aku selalu main dengan raket yang sudah kupinjam selama 4 tahun atau selama aku kuliah di Bandung ini. Raket yang bermerek Yonex dengan seri B-650 itu kupinjam dari kakak kelas SMA-ku yang juga berkuliah di ITB dan sampai sekarang belum kukembalikan. Wah parah … hahaha.

Yonex B-650

Yonex B-650

Bingung juga sewaktu akan memilih raket baru itu. Yang jelas incaranku adalah raket yang lebih ringan dari yang raket yang biasa kupakai itu (Yonex B-650) agar tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga saat mengayun raket. Pilihanku akhirnya jatuh ke raket Li-Ning Super Series 98 (SS98). Alasannya, aku ingin mencoba raket merek lain selain Yonex dan Li-Ning cukup punya nama karena merupakan sponsor resmi tim nasional bulutangkis China dan beberapa negara lainnya seperti Thailand dan Singapura.

Namun, raket-raket Li-Ning ternyata mahal juga ya. Aku kira karena produk China banyak yang murah, raket Li-Ning juga murah-murah. Di toko tempat aku beli raket waktu itu, raket Li-Ning paling murah itu 250 ribuan. Sedangkan Yonex yang paling murah sekitar 150 ribuan. Hmm … sempat bimbang juga sih. Akhirnya nggak apa-apalah aku beli raket Li-Ning yang SS98 itu. Saat kucoba dan kubandingkan di toko sih, raket Li-Ning yang SS98 ini memang sangat ringan dibandingkan yang Yonex seharga 150 ribuan itu.

Li-Ning SS98

Li-Ning SS98

Tapi ada yang beda ternyata sama raket Li-Ning SS98 yang baru kubeli itu dibandingkan raket Yonex B-650 yang biasa kupakai sebelumnya. Selain lebih ringan, raket Li-Ning SS98 itu juga lebih panjang. Setelah baca di sini, Li-Ning SS98 itu ternyata panjangnya 67,3 cm atau berselisih sekitar 1 cm dengan raket Yonex-ku yang lama.

Memang sih cuma selisih 1 cm doang. Akan tetapi, tetap saja butuh adaptasi dengan raket itu ternyata. Awal-awal pakai raket SS98 ini sering sekali saat aku buat smash gagal menyeberangi net. Tapi enak sih raket ini ringan, jadi nggak perlu banyak keluar tenaga saat melancarkan pukulan.

Infographic Profil Twitter

Jadi ingin ikutan bung Rizky mencoba aplikasi infographic profil Twitter yang disediakan oleh Visual.ly. Aplikasi ini mencoba menganalisis seperti apakah diri kita dari tweettweet kita. “You are what you tweet,” katanya. Inilah beberapa hasil duel graph twitter antara aku dan dua orang temanku.

1. aku vs fikranfu

2. aku vs lisaayuw

Hmm.. masih penasaran bagaimana cara kerja aplikasi ini dalam melakukan analisis. Masa’ aku dibilang tipe “politician”. Padahal rasanya jarang sekali ngetweet yang berbau politik. Kalau mau jujur, harusnya saya termasuk kategori football fan karena sering ngetweet hal-hal berbau sepak bola.

Atau mungkin tweet-tweet yang bisa dianalisis secara akurat adalah tweet kita yang diketik dalam bahasa Inggris saja :?:. Dugaanku sih bahasa Indonesia belum di-support secara penuh, atau bahkan tidak sama sekali. Soalnya kata-kata seperti “yang”, “nggak”, “di”, “ya”, “dan” kok bisa termasuk topic yang sering ku-tweet. Harusnya kata-kata itu kan termasuk stopwords (kata-kata yang bisa diabaikan karena tidak punya makna penting dalam kalimat). Kelihatan sekali kalau kata-kata yang masuk dalam hot topic kita itu adalah yang paling sering kemunculannya. Hmm… teuing ah … :mrgreen: