Monthly Archives: January 2019

Kawah Cibuni Rengganis

Berendam Air Panas Belerang di Kawah Cibuni Rengganis

Sabtu minggu lalu (19/1) saya bersama teman-teman kantor jalan-jalan ke salah satu tempat wisata di kawasan Ciwidey, Bandung Selatan, yakni Kawah Cibuni atau dikenal juga dengan nama Kawah Rengganis. Kawah Cibuni ini berada tidak jauh dari Situ Patengan, salah satu tempat wisata yang sangat terkenal di Ciwidey.

Kami datang menjelang waktu Dhuhur. Saat itu, Kawah Cibuni ini tidak begitu ramai didatangi pengunjung. Cuaca agak sedikit mendung.

Tidak ada tiket yang dipungut untuk memasuki kawasan wisata ini. Kita hanya dikenakan biaya parkir sepeda motor sebesar Rp5.000 per motor.

Sebelum ini, menurut penuturan teman saya yang sudah 2 kali pergi ke sana, ada biaya tiket masuk yang dikenakan. Ketika itu memang Kawah Cibuni masih dikelola oleh perusahaan swasta. Namun pengelolaan itu sekarang diserahkan ke warga karena perusahaan tersebut rupanya tidak mengantongi izin.

Sepintas topografi Kawah Cibuni ini mengingatkan saya pada kawah di Gunung Papandayan. Asap belerang mengepul dari beberapa lubang di sela-sela bebatuan kapur berwarna kekuningan. Warna kuning itu sepertinya dihasilkan karena batu terpapar asap belerang secara terus-menerus.

Continue reading
Advertisements

Nexus 5 – Stuck in TWRP Bootloop

I was trying to install LineageOS on my Nexus 5 by following the steps mentioned in this link. However my phone got stuck in the TWRP bootloop after installing the TWRP as my custom recovery. It kept showing the message: “Failed to mount ‘/data’ (Invalid argument)“.

I also couldn’t boot into the OS. It always got stuck in the TWRP bootloop. I even couldn’t get to see the TWRP menus.

Fortunately I stumbled upon a thread in Reddit. The TS also had the same issue with me. I tried one of the solution suggested in that thread. In my PC terminal I ran the command: “fastboot format userdata“.

Annddd… It worked like a charm! What happened next was I could get into the TWRP menus and continue to install LineageOS. 🙂

Membentuk Kebiasaan Baru dalam Sekian Hari

Ada poin yang menarik bagi saya pada dialog antara Pandji Pragiwaksono dan Deddy Corbuzier dalam vlog YouTube di bawah ini. Yakni ketika Pandji bertanya berapa lama usaha yang kira-kira ia perlukan untuk memiliki badan atletis seperti Deddy.

Deddy menjawab 21 hari. Menurut Deddy, 21 hari itu adalah jumlah hari yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru.

Setelah mendengar jawaban Deddy itu, saya pun googling dengan kata kunci “21 days rule to form new habit”. Saya penasaran apakah teori ini adalah teori Deddy sendiri atau ada landasan yang dia ikuti.

It turns out that the 21-day rule is really a thing. Dalam artikel ini disebutkan bahwa dr. Maxwell Maltz adalah orang yang mengeluarkan teori tersebut setelah mengamati pola yang terjadi pada pasiennya.

“These, and many other commonly observed phenomena tend to show that it requires a minimum of about 21 days for an old mental image to dissolve and a new one to jell.”

dr. Maxwell Maltz

Tapi yang juga ditekankan oleh dr. Maltz, 21 hari itu adalah jumlah hari minimum untuk menghilangkan kebiasaan lama dan membentuk kebiasaan baru. Jadi bukan selalu 21.

Pada penelitian yang lain oleh dokter yang berbeda — masih disebutkan dalam artikel yang sama — rupanya rata-rata jumlah hari yang diperlukan untuk membentuk kebiasaan baru itu adalah 66 hari. Phillippa Lally, dokter yang melakukan penelitian tersebut, menyebutkan bahwa dari hasil penelitiannya itu juga, sebetulnya jumlah hari itu bisa bervariasi mulai dari 18 hingga 254 hari, tergantung pada beberapa faktor.

Terlepas dari berapa jumlah hari yang scientifically proven, menurut saya penting juga memiliki target jumlah hari sebagai bagian dalam usaha membentuk kebiasaan baru itu. Setidaknya itu ada goal yang konkret yang bisa kita kejar dan evaluasi.

My books in 2018

My 2018 in Books

Setelah 4 tahun yang lalu membuat rangkuman daftar buku-buku yang saya baca di tahun itu (My 2014 in Books), akhirnya tahun ini bisa menulis artikel serupa karena target #ReadingChallenge saya terpenuhi. Hahaha.

Tahun 2018 kemarin saya nggak muluk-muluk. Saya buat target 10 buku saja. Selama 3 tahun sebelumnya rata-rata saya cuma baca 2-4 buku saja rasanya.

Ketika itu saya agak ambisius sih karena buku yang saya baca topiknya berat-berat dan tebal. Saya perlu membaca beberapa kali untuk paham dan selalu menyiapkan HP untuk mencatat hal yang penting.

Jika melihat rata-rata buku yang saya habiskan hanya 2-4 buku per tahun, target 10 buku tentu saja terbilang muluk. Tapi saya menyiasatinya dengan mencari buku-buku dengan topik yang lebih ringan dan tipis. Hahaha.

Ok, jadi ini dia daftar buku yang saya tamatkan pada tahun 2018 kemarin, urut dari waktu saya menamatkannya. Oh ya, sebelumnya disclaimer dulu, beberapa rangkuman di bawah mungkin mengandung spoiler.

Continue reading