My books in 2018

My 2018 in Books

Setelah 4 tahun yang lalu membuat rangkuman daftar buku-buku yang saya baca di tahun itu (My 2014 in Books), akhirnya tahun ini bisa menulis artikel serupa karena target #ReadingChallenge saya terpenuhi. Hahaha.

Tahun 2018 kemarin saya nggak muluk-muluk. Saya buat target 10 buku saja. Selama 3 tahun sebelumnya rata-rata saya cuma baca 2-4 buku saja rasanya.

Ketika itu saya agak ambisius sih karena buku yang saya baca topiknya berat-berat dan tebal. Saya perlu membaca beberapa kali untuk paham dan selalu menyiapkan HP untuk mencatat hal yang penting.

Jika melihat rata-rata buku yang saya habiskan hanya 2-4 buku per tahun, target 10 buku tentu saja terbilang muluk. Tapi saya menyiasatinya dengan mencari buku-buku dengan topik yang lebih ringan dan tipis. Hahaha.

Ok, jadi ini dia daftar buku yang saya tamatkan pada tahun 2018 kemarin, urut dari waktu saya menamatkannya. Oh ya, sebelumnya disclaimer dulu, beberapa rangkuman di bawah mungkin mengandung spoiler.

1. Brain At Your Work (oleh David Rock)

Melalui buku ini David Rock mengajak kita untuk lebih mengenal karakteristik otak kita, bagaimana otak kita bekerja, menyimpan dan memproses informasi.

David Rock menjelaskan semuanya itu melalui ilustrasi yang dialami tokoh-tokoh dalam ceritanya.

David Rock juga memberikan tips-tips bagaimana membuat kerja otak kita menjadi lebih efisien dan efektif dalam memproses informasi.

2. Sapiens (oleh Yuval Noah Harari)

Pada buku ini Yuval Noah Harari menceritakan mengenai sejarah Homo Sapiens dari permulaannya di mana mereka masih hidup berdampingan dalam periode yang sama dengan spesies lain seperti Homo Neanderthals dan Homo Denisovans, hingga akhirnya mendominasi. Ia menceritakan bagaimana awalnya Homo itu bermula dari Afrika kemudian bisa menyebar ke penjuru dunia.

Selanjutnya Harari juga bercerita mengenai sejarah peradaban Homo Sapiens yang awalnya adalah forager di hingga kemudian disusul berkembangnya ilmu bertani hingga sampai akhirnya tiba pada peradaban modern.

Ia juga sempat menyinggung masalah kolonialisasi dan bagaimana latar belakangnya itu bisa terjadi. Di akhir bukunya ia menyinggung bagaimana manusia di abad modern ini masih berusaha mencari apa itu arti kebahagiaan dan cara merekayasanya. Lalu ia juga menyebutkan beberapa penelitian ‘kontroversial’, salah satunya mengenai kematian.

3. Bumi Manusia (oleh Pramoedya Ananta Toer)

Membaca buku ini saya diajak membayangkan bagaimana pada masa pendudukan Belanda dahulu diskriminasi begitu kentara. Kelas sosial dibagi menjadi pribumi, Indo, dan Eropa.

Nyai Ontosoroh yang seorang pribumi bekerja keras membanting tulang mengurus usahanya agar tidak dipandang sebelah mata walaupun ia hanya seorang pribumi dan bekas ‘gundik’. Begitu pula Minke sang tokoh utama, seorang terpelajar yang membuktikan diri bahwa seorang pribumi pun bisa berprestasi dan mengenyam pendidikan tinggi.

Namun, pencapaian mereka tak ada artinya di hadapan pengadilan Belanda ketika mereka dihadapkan pada persoalan hak warisan dari keluarga Mellema. Hak mereka tidak diakui. Perjuangan mereka mempertahankan Annelies kesayangan mereka agar tidak dibawa pergi ke Belanda tidak berhasil dan kalah di pengadilan.

4. Kubah (oleh Ahmad Tohari)

Kubah bercerita tentang seorang pria yang kembali ke kampung halamannya setelah melewati masa pengasingan selama 12 tahun karena terlibat dalam partai “itu”. Keluarga tak ada yang tahu mengenai kabarnya semenjak menghilangnya dia.

Ia mendapati istrinya telah dinikahi oleh pria lain sepeninggal dirinya. Anak perempuannya yang kebetulan akan menikah, ternyata masih mengenali dirinya.

Karman nama pria itu. Kubah juga menceritakan bagaimana kegiatan Karman dalam partai dan bagaimana ia melarikan diri dari pengejaran yang dilakukan aparat sebelum akhirnya tertangkap.

5. The Alchemist (oleh Paulo Coelho)

The Alchemist bercerita mengenai seorang penggembala kambing yang tinggal di Andalusia bernama Santiago. Ia meninggalkan kampung halamannya di Andalusia untuk mencari batu filsuf (philosopher’s stone).

Dalam petualangannya itu ia banyak menemui tantangan dan pelajaran. Banyak juga kearifan yang ia dapatkan dari orang yang ia temui di sepanjang perjalanan.

6. The Subtle Art of Not Giving a F*ck (oleh Mark Manson)

Masalah atau kegagalan akan selalu terjadi setiap hari. Banyak hal yang yang tidak berjalan sesuai rencana atau keinginan kita.

Mark Manson mengajak kita agar jangan larut dalam kekecewaan atau kekesalan karena hal tersebut. Setiap manusia memiliki kekurangan dan keterbatasan.

Kita harus belajar menerima. Kita juga harus berani menghadapi berbagai tantangan dan kekecewaan yang kelak mungkin akan datang kembali itu. Bukan justru menghindarinya.

Fokus kepada hal-hal yang memang berarti untuk kita. The ones that we give a f*ck.

7. Gaza: Stay Human (oleh Vittorio Arrigoni)

Gaza Stay Human ini ditulis layaknya sebuah diary. Vittorio Arrigoni, jurnalis dan aktivis kemanusiaan berkebangsaan Italia, menceritakan pengalamannya secara langsung ketika Israel melakukan agresi militer di Jalur Gaza pada bulan Desember 2008-Januari 2009.

Arrigoni dengan sangat baik mendeskripsikan tempat dan situasi yang tengah terjadi di sekitarnya sehingga membuat kita bisa membayangkan bagaimana tegangnya dan kesulitan yang dihadapi.

Satu hal yang juga menarik bagi saya adalah ketika Arrigoni bertanya kepada rekannya di Italia melalui telepon bagaimana respon masyarakat terhadap agresi tersebut. Apakah ada demonstrasi yang diadakan untuk menentang agresi tersebut karena adanya demonstrasi cukup berperan dalam memberikan tekanan dunia internasional pada Israel agar menghentikan agresinya.

8. Test Driven Development: By Example (oleh Kent Beck)

Dalam buku ini Kent Beck menjelaskan Test-Driven Development dengan menyertakan ilustrasi beberapa permasalahan dengan contoh pemrograman unit test-nya.

Membaca buku ini akan lebih baik jika sekaligus dengan praktik agar lebih mudah memahami contoh yang disampaikan.

9. When Breath Becomes Air (oleh Paul Kalanithi)

Paul Kalanithi adalah seorang neurosurgeon. Sebagai seorang neurosurgeon, menghadapi pasien yang tengah berada dalam situasi antara hidup dan mati adalah makanannya sehari-hari. 

Kegiatannya sangat padat sebagai neurosurgeon hingga suatu saat ia dihadapkan pada situasi di mana ia divonis menderita kanker. Sebagai seorang dokter yang berpengalaman, perbedaan pendapat dengan dokter yang menanganinya beberapa kali sempat terjadi selama masa perawatannya.

Suatu ketika dia akhirnya divonis hanya memiliki harapan hidup yang tidak lama. Ia mengantisipasi kemungkinan terburuk dengan menyiapkan segala hal yang perlu dikerjakannya sebelum ‘waktu’ itu datang. Termasuk menulis catatan hidupnya yang kemudian dibukukan ini.

10. Problem Solving 101 (oleh Ken Watanabe)

Dalam kehidupan sehari-hari selalu akan ada saja masalah yang dihadapi. Menyelesaikan masalah (problem solving) akan lebih efektif jika kita mengetahui bagaimana sikap dan cara berpikir yang harus kita hadirkan.

Dalam buku ini Ken Watanabe mengajarkan kepada kita beberapa teknik dalam melakukan problem solving ituMungkin beberapa teknik itu tanpa kita sadari sebenarnya sudah kita terapkan. Tapi alangkah baiknya jika kita juga mengetahui teorinya.

Secara umum proses problem solving menurut Ken Watanabe bisa dibagi menjadi beberapa bagian, yakni (1) memahami situasi, (2) mengidentifikasi akar permasalahan, (3) merencanakan langkah-langkah efektif penyelesaiannya, dan (4) melakukan modifikasi terhadap langkah-langkah penyelesaian tersebut hingga akhirnya masalah terselesaikan.

Teknik-teknik penyelesaian itulah yang Ken Watanabe coba jelaskan dalam buku ini.

Itulah kesepuluh buku yang telah saya tamatkan sepanjang tahun 2018 yang lalu. Pada tahun 2019 ini saya memasang target yang tidak berbeda jauh, yakni menghabiskan 12 buku.

Advertisements

2 thoughts on “My 2018 in Books

  1. Indra Kurniawan

    Saya penasaran dengan buku Sapiens, cuma saya ragu. Dengan sangat minimnya pengalaman membaca buku non-fiksi (pernah membaca dan mentok setengah buku), apakah buku Sapiens ini sekiranya begitu menarik sampai bisa kuselesaikan?

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Sampai 3/4 buku rasanya masih menarik sih. Banyak pengetahuan baru yg bikin penasaran untuk baca kelanjutannya. Setelah itu 1/4 buku terakhir lebih banyak berisi opini penulis, sehingga mungkin cenderung membosankan. Tapi bahasa yg dia gunakan relatif sederhana kok dalam menjelaskan sesuatu, jadi nggak bikin pusing. 😀

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s