Monthly Archives: September 2013

Run To Work

Akhirnya tadi pagi nyobain juga lari ke tempat kerja alias “Run To Work”. Tapi jangan bayangkan aku berlari dengan mengenakan tas dan pakaian rapi untuk dipakai kerja. Sehari sebelumnya semua perlengkapan kerja, termasuk pakaian dan laptop, kutinggal di kantor. Aku hanya berlari dengan mengenakan kaos lari dan tas punggung kecil.

Jarak kosan dengan kantor lewat jalan ‘normal’ sebenarnya cuma sekitar 3-4 km saja. Namun, karena ingin mendapatkan jarak yang lebih jauh agar berkeringat lebih banyak, aku memilih jalan memutar lewat Dago Pojok dan Dago Atas. Lumayan bisa menambah jarak hingga 3 km.

Tiga kilometer pertama kontur jalan lebih banyak berupa tanjakan (bisa dilihat di diagram di bawah). Setelah itu, jalanan terus menurun hingga ke kantor. Berlari di jalan raya memang jauh berbeda dengan berlari di trek lari khusus. Pelari harus berhati-hati dengan lalu lalang kendaraan di sekitar. Karena itu tak heran average pace saat lari kemarin menurun hingga 6:29 menit/km. Padahal biasanya rata-rata di trek mendatar average pace sekitar 5 menit/km.

Begitu sampai di kantor, pendinginan sebentar, terus mandi. Wuih … segarnya. 😀

lari dago-cigadung

 

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

Pemandangan jalan dan sekitar yang dilalui

 

Advertisements

Pekerjaan: Tukang Unggah Video YouTube

Alkisah beberapa bulan yang lalu, secara viral ada beberapa teman membagikan link video di YouTube berjudul “Candy Crush The Movie (Official Fake Trailer)” yang diupload oleh seseorang dengan akun bernama nigahiga. Video itu menurutku sangat lucu dan menghibur. Karena itu aku kemudian penasaran siapa nigahiga ini. Aku pun men-subscribe akun dia dan mengikuti video-video terbaru yang diunggahnya ke YouTube. Pendapatku masih sama, video-videonya benar-benar lucu dan menghibur.

Video-video yang diunggahnya konsisten mendapatkan 3-7 juta views. Bahkan, ada salah satu videonya yang ditonton hingga 13 juta views. Total subscriber-nya sendiri mencapai angka 10 jutaan.

Melihat cara dia berkarya, yakni mengunggah video secara berkala … wait … what … hampir setiap minggu(!!!), timbul pertanyaan dalam diriku, “Kok ada ya orang yang seniat ini kegiatannya setiap minggu cuma bikin video dan upload ke YouTube.” Video-video yang Ryan Higa — nama asli pemegang akun — dkk buat itu bukan video parodi asal-asalan. Ada ide dan alur cerita yang mereka susun. Ada pembagian peran yang mereka lakukan. Ada kostum dan make-up untuk memperkuat karakter di dalam cerita. Ada penyuntingan video dengan menyisipkan efek animasi untuk membuat parodi lebih menghibur. Hanya dua kata yang cukup untuk mewakili apa yang mereka lakukan itu: niiaatt abisss!!

Dan di YouTube, orang-orang seperti Ryan Higa ini sangat banyak. Maka tak heran bila kemudian dewasa ini sering kita dengar istilah Seleb YouTube. Orang-orang yang meraih popularitasnya setelah video-video yang diunggahnya ngehit di YouTube.

Aku pun penasaran, sebenarnya apa sih yang mungkin dikejar orang-orang ini. Googling, googling, googling … eh, dari hasil “ngupload” video itu mereka bisa menerima pendapatan (Revenue) ratusan ribu hingga jutaan dolar pertahunnya. Besarnya revenue yang mereka dapat itu tergantung dari jumlah view yang mereka hasilkan dari video mereka. Coba deh, lihat Infographic di bawah ini:


Image source: MoneySupermarket

Faktanya, sejak YouTube meluncurkan program yang disebutnya dengan nama “YouTube Partner Program” pada April 2012, setiap pengguna YouTube berpeluang untuk mendapatkan uang dengan jalan memonetisasi videonya. Yakni, dengan mengizinkan YouTube untuk menampilkan iklan di video kita. Jadi sebenarnya iklan yang muncul di video YouTube itu tak akan muncul jika sang uploader tidak mengizinkannya. Untuk mengaktifkan iklan tersebut, pengguna dapat melakukan pengaturan di bagian Monetization di akun YouTube-nya.

Walaupun demikian, tidak semua video bisa dimonetisasi. Ada kriteria-kriteria yang ditetapkan oleh YouTube yang harus dipatuhi oleh uploader. Intinya adalah orisinalitas dan tidak melanggar copyright orang lain. Video diperbolehkan untuk menggunakan musik milik orang lain selama pengunggah bisa membuktikan bahwa ia sudah mengantongi izin dari pemiliknya. Penjelasan lebih detail mengenai kriteria-kriteria tersebut bisa dibaca langsung di sini. Untuk mengetahui lebih detail mengenai YouTube Partner Program termasuk hal-hal berkaitan dengan monetization bisa mengunjungi tautan ini.

Memang berapa sih bagaimana menghitung revenue yang diterima oleh sang pengunggah video? Well, sejauh ini tak ada pernyataan resmi yang dirilis oleh YouTube terkait itu. Namun, sesuai yang dikatakan oleh Infographic di atas, dipercaya bahwa untuk iklan pre-roll video (cuplikan iklan yang tayang sebelum video diputar) bisa menghasilkan setidaknya $5.00 untuk setiap 1000 views. Sedangkan iklan banner dipercaya dapat menghasilkan $0.80-$1.00 untuk setiap 1000 views. Oleh karena itu tak mengherankan bila pada awal tahun ini, PSY dengan Gangnam Style-nya, yang jumlah view-nya mencapai 1,2 miliar kala itu, dikabarkan oleh orang Google sendiri (FYI bagi Anda yang belum tahu, YouTube adalah milik Google) mampu memperoleh $8 juta dari iklan. Wow!!

Well, makanya tak mengherankan bila ada orang-orang yang sampai rutin meluncurkan video secara berkala ke YouTube dan konten videonya pun dibuat dengan sangat serius. Entah itu video parodi seperti nigahiga, video remake lagu seperti AlexGMusic7, video tutorial atau kursus, dan lain sebagainya. Kalau sudah begitu, jangan heran di era sekarang apabila kita menanyai seseorang pekerjaan dia apa, kemudian dijawab: Tukang Unggah (Upload) Video YouTube! Hehehe… Nggaklah. Rasanya jawaban “YouTube Artist” lebih elegan dan keren. 😀

Serunya Ikutan Bromo Marathon

Wow… what can I say? What an amazing running race, amazing views, amazing organizers, amazing volunteers, and amazing locals!

Aku dan 2 orang teman kuliahku, Neo dan Kuncoro, hari Minggu kemarin (1/9) mengikuti event lari Bromo Marathon. Dari namanya sudah ketahuanlah di mana lokasinya. Tidak tepat di Gunung Bromo atau kaldera di sekelilingnya juga sih, tetapi rutenya mengambil jalan di pedesaan sekitar Bromo.

Bromo Marathon kemarin menjadi pengalaman yang tak biasa bagiku. Lari 10K di perbukitan dengan medan yang terdiri atas campuran 20/80 dirt trails vs roads. Jujur aku sempat underestimate rute yang akan kulalui setelah melihat ilustrasi elevasi medan untuk rute 10K yang dipos organiser.

Bromo 10K Course Elevations (BromoMarathon.com)

Bromo 10K Course Elevations (BromoMarathon.com)

“Wah, banyak turunannya,” pikirku. Eh, ternyata aku salah. Walaupun turunannya lebih banyak, tapi ternyata tanjakannya berat-berat. Bahkan, di 2 Km terakhir full tanjakan dengan kemiringan yang lumayan. Nafasku sudah kedodoran di 2 Km terakhir. Di 2 Km terakhir itu lebih banyak kuhabiskan untuk berjalan dibandingkan berlari. Luckily, I managed to finish in 12th position in 01:21:11. Lihat hasil lengkap di sini

Sebenarnya aku berpeluang untuk finish di #5 kategori 10K itu bila aku tidak disalip oleh 7 orang di 3 Km terakhir. Bahkan, sebelumnya aku sempat berada di #3 sampai KM 3. Setelah itu berada di #4 sampai KM 6-7.

Namun, bukan peringkat sebenarnya yang kucari. Tapi berlari di pegunungan, dengan ladang-ladang di sekeliling, penduduk yang antusias menonton di sepanjang desa yang dilalui, dan tak jarang mereka menyapa dan menyemangati pelari yang sedang berlari, benar-benar pengalaman yang tak didapatkan ketika berlari di event-event lari “mainstream”.

Sayang euy nggak ikutan yang kategori half marathon atau full marathon. View yang ditawarkan di rute itu lebih ‘wah’ daripada yang ada di kategori 10K. Pelari akan melalui kawasan Penanjakan I, yang memang sudah terkenal sebagai lokasi terbaik untuk melihat sunrise kaldera Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Mungkin tahun depan jika ada kesempatan, aku akan mencoba mengikuti kategori half marathon. Selain itu, di rute tersebut kabarnya malah lebih banyak dirt trails-nya. Sekitar 70/30 antara trails vs roads.

Salah satu rute dirt trail

Salah satu rute trail

Berlari di Bromo Marathon ini, walaupun medan yang dilalui cukup berat, ternyata tak terlalu memeras keringat — literally — bila dibandingkan dengan event-event lari yang pernah kuikuti di Jakarta. Mungkin karena sepanjang rute tersebut, udara dingin selalu berhembus sehingga tubuh tidak merasa kepanasan. Padahal start lari 10K baru dilakukan pukul 8.00, waktu yang sudah sangat siang untuk memulai lomba lari.

Anyway, semua pelari yang berhasil finish sebelum waktu cut-off masing-masing kategori berhak mendapatkan medali. Akhirnya aku punya medali lari juga, haha. Desan medalinya ciamik banget, euy. Bahannya juga bagus. Kelihatan kokoh.

Narsis bersama medali. *foto kanan oleh Kuncoro*

Narsis bersama medali. *foto kanan oleh Kuncoro*

Suasana Menjelang Start

Suasana Menjelang Start 10K

Selain event lari itu sendiri, panitia Bromo Marathon juga menyuguhkan mata acara yang menampilkan pergelaran seni asli Suku Tengger (dan propinsi Jawa Timur secara umum) sehari sebelumnya (31/8) di depan pendopo Desa Wonokitri. Ada kesenian Tari Remo, Drama tentang legenda asal muasal Upacara Kasadha dan terbentuknya Gunung Batok, Kidungan, dan kesenian lainnya. Selain peserta Bromo Marathon, masyarakat sekitar juga antusias menyaksikan acara tersebut.

Drama tentang asal-usul Upacara Kasadha

Drama tentang asal-usul Upacara Kasadha

Overall, untuk ukuran event yang baru diselenggarakan pertama kali, penyelenggaraan Bromo Marathon sudah cukup memuaskan. Shuttle gratis yang mengantarkan peserta dari Wonokitri (pusat kegiatan) ke desa-desa tetangga PP, volunteer yang ramah dan kooperatif, desain single lari dan medali finisher yang ciamik, trek lari dengan pemandangan sekitar yang mengagumkan, sambutan masyarakat lokal yang hangat, dan hal-hal lain yang tak dapat kusebutkan satu persatu. Can’t wait for the next year Bromo Marathon! 🙂

More photos of Bromo Marathon on my Flickr:

img70img69img68img49img67img48
img66img65img47img46img64img45
img63img44img62img43img61img42
img60img41img40img59img39img58

Bromo Marathon 2013, a set on Flickr.