Monthly Archives: June 2011

Toko Apple di ITB Kebobolan

Aku terkejut pagi ini ketika membaca tweet dari Jiwo. Dia bilang, “Wah, toko Apple di perpustakaan pusat ITB kebobolan”. Aku sempat nggak percaya, tapi setelah itu dia ngasih aku foto TKP-nya.

Toko Apple bobol

Toko Apple bobol (http://yfrog.com/h31slilj, credits to Reza)

Sempat heran sih, kok bisa ya malingnya nggak kepergok. Kalau masuk lewat pintu depan mesti dia bakal kepergok satpam gerbang belakang ITB (seharusnya sih, walaupun jaraknya juga tidak begitu dekat antara kantor satpam-perpustakaan pusat). Lagi pula tidak ada tanda-tanda bekas pengrusakan pada pintu depan perpustakaan pusat. Kata Jiwo, ada kemungkinan malingnya masuk lewat jendela basement. Hmm.. tampaknya memang masih lebih aman lokasi toko Apple yang dulu, yaitu di CC. Selain banyak satpam di sana, tempatnya juga tembus pandang, jadi kalau terjadi apa-apa bisa ketahuan.

Sabana Yang Digemari

Sabana

Sabana

Mendengar kata ‘Sabana’ yang terbayang di benakku pertama kali adalah suatu padang rumput yang amat luas di mana kuda-kuda berlarian di atasnya. Tetapi kini, kata ‘Sabana’ sudah berganti korelasinya menjadi ‘ayam goreng’! Ya, Sabana yang saya bicarakan di sini adalah franchise ayam goreng Sabana yang di daerah sekitar kos-kosanku (Cisitu) lagi digemari.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mempromosikan franchise Sabana ini :D. Tetapi tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang Sabana setelah tahu bahwa pemilik Sabana Cisitu menambah lagi outletnya beberapa hari yang lalu, yang juga masih bertempat di Cisitu.

Sempat terhenyak ketika ada seorang teman yang menulis sebuah note di Facebook mengenai keuntungan yang diperoleh franchise Sabana Cisitu dari hasil ‘wawancara’nya. Kata dia, dalam sehari Sabana Cisitu bisa meraih untung hingga Rp300.000. Wow! Kalau dikalikan selama sebulan, keuntungan yang diraih bisa sampai Rp9juta perbulan! Mungkin karena untung yang besar itu dan demi mendapatkan pasar yang lebih luas lagi, alasan pemilik Sabana Cisitu menambah outlet lagi.

Kalau dipikir-pikir, memang cukup wajar sih bisnis ayam goreng tersebut bisa sampai mendapatkan omzet yang tinggi di Cisitu. Tahu sendirilah, Cisitu merupakan basisnya para kosaners yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Mahasiswa kan maunya yang praktis-praktis saja untuk urusan makan dan kalau bisa murah dan mengenyangkan.

Harga satu ayam goreng (bagian dada/paha atas) plus nasi di sana maksimal ‘cuma’ sampai Rp9000 per porsi. Kalau bagian sayap/paha bawah plus nasi, harganya Rp7000 saja. Harga tersebut bisa dikatakan masih cukup bersaing dengan harga ayam goreng di warung-warung makan sekitar Cisitu. Dengan cita rasa yang enak menurut saya (mirip rasa ayam goreng dari franchise restoran fast food terkenal dari Amerika sana) tentu pelanggan lebih memilih Sabana.

Melihat fenomena tersebut (baca: banyak mahasiswa yang mengkonsumsi ayam goreng (tidak hanya Sabana saja)), saya jadi kepikiran apakah itu pola makan yang sehat. Kata seorang teman yang sangat aware dengan menu makanan, ayam goreng itu memiliki kandungan kolesterol dan lemak yang tinggi. Dia sendiri pernah nggliyeng (diambil dari bahasa Jawa, apa ya bahasa Indonesianya?) setelah makan sampai 2 potong ayam langsung sekali makan. Kata dia itu akibat dia memakan makanan dengan kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Hmm… saya cuma bisa mengangguk saja mendengar apa yang dia bilang. Mungkin anak gizi yang lebih tahu. 🙂

Intinya sih, menjadi anak kosaners urusan makan memang menjadi kendali kita. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai mengatur menu makanan kita agar memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. Mengutip guyonan Loedroek ITB dulu, kalau perlu ‘4 sehat 5 sempurna plus plus’. Plus-plusnya apa ya? Saya lupa, silakan diterjemahkan masing-masing, hehehe.

Saya sendiri sering mengingatkan teman sekosan saya agar tidak sering-sering makan ayam goreng Sabana (dan tentu juga ayam goreng-ayam goreng lainnya). Masak setiap kali dia beli makan, menunya selalu ayam goreng Sabana. Apalagi sejak lokasi outlet ayam goreng Sabana semakin dekat dengan kosan kami.

Menulis dan Berkarya

Baru dapat quote dari grup Facebook SMA yang dikutip oleh guru saya. Saya rasa quote-nya sangat bagus. Quote tersebut merupakan kata-kata Pramoedya Ananta Toer, penulis kenamaan Indonesia.

“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” — Pramoedya Ananta Toer.

Mungkin menulis blog ini adalah termasuk yang dimaksud oleh bung Pramoedya tadi, hehehe. Mahasiswa menulis skripsi atau tugas akhir barangkali juga termasuk yang dimaksud oleh beliau. 😀

Namun, barangkali kalau boleh saya tambahkan, tidak hanya menulis agar tidak hilang dalam masyarakat dan sejarah. Anak Informatika atau Ilmu Komputer misalnya, dengan membuat software komputer, apalagi yang berguna untuk masyarakat banyak, Insya Allah ia tidak akan hilang di dalam masyarakat dan sejarah itu tadi. Jadi poin utama di sini adalah BERKARYA.

Antara Ide dan Eksekusi

Alkisah, ada dua sahabat sedang bercapak-cakap:
A : “Bro, gue punya ide brilian nih untuk buat start up baru.”
B : “Wah, emang apa ide lu?”
A : “Tapi gue nggak bisa ngasih tau, entar lu curi lagi.”
B : -_________-” (cape deh…)

Potongan percakapan di atas ini saya kutip dari materi seminar yang disampaikan oleh kak Rama, founder DailySocial.net, pada saat kegiatan Free Saturday Lesson yang diadakan oleh Comlabs-ITB sekitar sebulan yang lalu.

Ya, kali ini saya ingin berbicara mengenai ide. Orang sering bilang bahwa menemukan ide itu susah (idea block). Padahal ada yang lebih penting (kalau tidak mau dibilang ‘lebih susah’) daripada itu, yakni bagaimana eksekusinya.

Percuma saja ide brilian, tapi eksekusinya jelek, hasilnya pun akan jelek. Sebaliknya, ide yang biasa-biasa saja, tapi eksekusinya cantik, hasilnya pun akan cantik pula. Apalagi kalau dikombinasikan keduanya, ide sudah brilian, eksekusi menawan, hasilnya pun akan menjadi luar biasa.

Kita sudah melihat contoh nyata dari sebuah kisah yang dialami FacebookFacebook kini menenggak sukses luar biasa dengan menjadi media jejaring sosial terbesar di seluruh jagad raya ini. Padahal kalau kita pernah menonton film Social Network atau membaca novel The Accidental Billionaires, kita akan menemukan bahwa Mark Zuckerberg dituding telah ‘mencuri’ ide Winklevoss bersaudara dan Divya dengan mendirikan situs Facebook itu. Mark memang pernah bekerja sama dengan mereka untuk menggarap konsep mereka tentang media jejaring sosial. Namun, secara misterius Mark keluar dari proyek tersebut dan tiba-tiba melejit dengan Facebooknya. Winklevoss bersaudara dan Divya pun dengan tertatih-tatih melanjutkan proyek mereka hingga akhirnya situs jejaring sosial yang mereka garap online juga. Situs tersebut diberi nama ConnectU. Namun, situs tersebut gagal meraih kesuksesan seperti Facebook.

Saya tidak menganggap mencuri ide itu adalah hal yang diperbolehkan. Tapi poin di sini adalah bahwasannya jangan sampai kita mengalami stuck dalam masalah ide karena ide itu baru jalan awal saja. Contoh Facebook tadi adalah mengenai bagaimana eksekusi itu dijalankan. Saya pikir Mark secara brilian mampu mengemas Facebook sehingga menjadi jejaring sosial yang begitu diminati oleh banyak orang. Mungkin ConnectU sebenarnya memiliki konsep yang lebih bagus daripada Facebook. Saya tidak tahu itu. Tapi Facebook memiliki sebuah keunggulan apa yang disebut dengan ‘keunggulan penggerak pertama’ (first mover advantage). Ya, kesuksesan itu diperoleh karena Facebook bergerak lebih cepat daripada yang lain. Di saat orang mulai bosan dengan Friendster yang monoton, Facebook hadir dengan beragam fiturnya yang menarik dan pertama ada!

Frase ‘pertama ada’ tidak berarti menunjukkan bahwa ide terhadap implementasi itu adalah yang pertama. Hmm, bingung ya? Maksud saya, bisa jadi satu atau lebih orang selain kita di antara 6 miliar penduduk bumi ini pernah atau sedang memikirkan ide serupa. Namun, kitalah yang pertama kali mewujudkannya.

Nah, jadi daripada berlama-lama mencari ide, lebih baik mending gunakan ide sederhana namun eksekusinya digarap dengan brilian. Ide bisa datang dari mana saja. Hal-hal kecil di sekitar kita juga bisa menjadi inspirasi.

Oh ya, saya menulis ini bukan berarti saya orang yang sok punya ide brilian atau jago mengeksekusi. Saya cuma ingin berbagi saja. Saya pun sering mengalami apa yang disebut dengan ‘ide buntu’ atau creative problem dan stuck di dalamnya. Efeknya, tidak ada progress berarti yang dihasilkan.

Berendam Air Panas di Cipanas Garut

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang rafting di Cimanuk, Garut, kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman berendam air panas di Cipanas, Garut. Setelah rafting, kira-kira pukul 17.15, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Cipanas, yang lokasinya juga masih di Kabupaten Garut. Butuh sekitar 40 menit perjalanan untuk mencapai ke sana dari lokasi tempat kami finish rafting itu. Jadi sampai di sana tepat saat adzan Maghrib.

Pemandian Purbasari

Pemandian Purbasari

Nama tempat yang kami jujugi adalah ‘Pemandian & Kolam Renang Purbasari’. Tarif masuknya adalah Rp4500 per orang. Di sana ada papan dengan tulisan keterangan tambahan “Mandi atau tidak mandi tetap bayar” :D.

Saat kami memasuki area kolam renang itu, tak banyak pengunjung yang berada di sana. Wajar saja karena hari itu merupakan hari kerja biasa. Di area pemandian Purbasari tersebut tersedia satu buah kolam renang dan 2 buah kamar mandi untuk pria dan wanita serta beberapa kamar ganti dan WC. Air? Jangan khawatir, air di sana sangat melimpah dan panas! Nggak terlalu panas juga sih. Yang jelas kalau menurutku panasnya pas-lah. Sumber air panas di Purbasari dan daerah Cipanas pada umumnya itu berasal dari Gunung Guntur. Itu yang kuketahui dari Luthfi yang memang anak Garut.

Kurang lebih cuma satu jam kami berada di dalam lokasi ‘Pemandian & Kolam Renang Purbasari’ itu. Setelah puas bermain-main air panas di kolam renang, kami membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia. Airnya? Masih air panas, hehehe. Rasanya segar banget. Enaklah buat relaksasi. Rasa pegal-pegal sehabis rafting dapat dinetralisir dengan berendam air panas di sana.

Sebenarnya aku ingin masang foto-foto kolam renangnya. Tapi kok nggak ada yang nggak ada orangnya. Ya sudah, nggak jadi kalau begitu, hehehe.

Setelah bersih-bersih diri, kami bersiap untuk pulang. Tapi berhubung angkot yang kami carter belum datang ke lokasi, karena mengantarkan teman-teman KMPA ke basecamp MAPALA Garut, kami pun dengan sabar menunggu di warung di depan lokasi Purbasari. Di sana kami duduk-duduk di depan warung itu sambil mengisi perut. Ada siomay, pop mie, bacang, dll.

Nongkrong di depan warung

Nongkrong di depan warung

Sekitar pukul 19.30 angkot yang kami tunggu akhirnya datang juga. Kami pun langsung bersiap-siap untuk pulang. Perjalanan Garut-Bandung ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam lebih beberapa menit. Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 ketika aku sampai rumah kontrakan.

Rafting di Sungai Cimanuk Garut

Hari Senin kemarin (2011-06-13) aku dan beberapa teman sefakultas pergi arung jeram (rafting) ke sungai Cimanuk, Kabupaten Garut. Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan merupakan ide salah seorang teman bernama Kuncoro (Sistem Teknologi Informasi ’07). Dia yang mengatur semuanya mulai dari memberikan pengumuman ke anak-anak Informatika ’07, menghimpun peserta, hingga mengurus ke Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) “Ganesha” ITB. Sayangnya, pada saat menjelang hari H ternyata dia berhalangan karena ada urusan akademik yang harus diselesaikan.

Peserta rafting ini terdiri atas 11 orang anak Elektro ’07, Informatika ’07,  dan Sistem Teknologi Informasi ’07, yaitu aku, Luthfi, Kamal, Rizky, Khairul, Luqman, Jiwo, Ian, Haris (IF ’07), Veri (STI ’07), dan Pras (EL ’07). Semua orang tersebut, kecuali Luqman, Ian, Haris, dan Veri, merupakan teman-teman yang ikut tur ke Sukabumi-Ciamis Maret lalu. Dalam rafting kali ini, selain kami, juga ada 12 rekan mahasiswa dari Geodesi ’08 dan tentu saja rekan-rekan dari KMPA yang berjumlah 6 orang. Jadi total ada 29 orang, di mana empat orang di antaranya adalah perempuan (dua orang dari KMPA dan dua orang lagi dari Geodesi.

Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB tepat pukul 7 pagi dengan menaiki angkot carteran. Anak-anak KMPA sebagian ada yang menggunakan mobil dan motor pribadi menuju ke tempat rafting. Untuk peralatan rafting, sebagian ada yang dimasukkan ke dalam angkot, dan lainnya lagi dimasukkan ke dalam mobil KMPA.

Perjalanan dari kampus menuju Sungai Cimanuk, Garut, memakan waktu hampir 2,5 jam. Perjalanan berangkat mengambil jalur melalui tol Pasteur-Cileunyi terus melewati Cicalengka, Nagrek, dan Kabupaten Garut. Saat perjalanan mulai melintasi Garut, hamparan sawah di kanan kiri jalan hampir menjadi pemandangan wajib sepanjang perjalanan.

Kami tiba di tempat start rafting sekitar pukul 9.30. Setelah itu kami langsung melakukan persiapan. Kami langsung mengenakan perlengkapan rafting mulai dari rompi pelampung, helm rafting, dan memegang dayung masing-masing.

Di jembatan start
Di jembatan start

Sebelum memulai rafting, kami diberikan pengarahan oleh salah seorang anggota KMPA mengenai hal-hal yang harus diketahui saat rafting. Utamanya adalah masalah komando skipper. Skipper adalah salah seorang di atas raft yang menjadi pemimpin perjalanan rafting. Dia akan memberikan komando kapan dan bagaimana kita harus mendayung. Oleh karena itu, sang anak buah harus mengerti jenis-jenis komando yang diberikan.

Bersiap-siap rafting

Bersiap-siap rafting

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Setelah pengarahan, kami melakukan pemanasan selama kurang lebih 15 menit. Pemanasan penting dilakukan agar fisik kita tidak kaku saat melakukan pengarungan.

Habis pemanasan, selanjutnya adalah pembagian kelompok raft. Satu raft diisi kurang lebih 4-5 orang ditambah dengan satu orang skipper dari anak KMPA. Total ada lima raft dalam pengarungan ini, salah satu di antaranya merupakan perahu rescue.

Aku sendiri berada dalam satu raft dengan Luthfi, Ian, Rizky, Kamal, dan Yasir (STI ’07 juga). Dalam raft kami ini Yasir yang bertindak sebagai skipper. Untuk memudahkan penyebutan nantinya, kita sebut saja kelompok kami ini kelompok ‘Merah 1’. Kenapa merah? Sebab raft yang kita tumpangi memang berwarna merah dan raft yang berwarna merah ada 3 buah. Kelompok yang lain, sebut saja ‘Merah 2’, terdiri atas Haris, Veri, Luqman, Pras, Jiwo, Moundri (Geodesi ’08), dan Dani (Farmasi ’07). Dalam kelompok tersebut yang bertindak sebagai skipper adalah Dani yang juga anak KMPA. Dua kelompok lainnya (selain perahu raft rescue) kita sebut saja ‘Merah 3’ dan ‘Kuning’. Khairul berada di kelompok Merah 3.

Pengarungan pun dimulai!

Tak berapa lama kemudian, pengarungan pun dimulai. Continue reading

Mendeley: Asisten Virtual Akademisi

Mendeley adalah sebuah nama software. Saya pertama kali megetahui tentang software ini saat diperkenalkan oleh kakak asisten dosen kuliah Teknologi Basis Data semester lalu untuk pengerjaan tugas penyusunan makalah. Saya pun ketika itu langsung mengunduh Mendeley yang versi desktop untuk Windows. Oiya, satu hal, aplikasi ini gratis :mrgreen:.

So, software apakah Mendeley itu? Kenapa asisten dosen saya itu merekomendasikan software tersebut? Jadi, Mendeley merupakan sebuah aplikasi yang berguna untuk mengorganisasikan atau mengelola kumpulan paper-paper yang kita miliki. Kalau dengar kata ‘paper’, rasanya sudah tahulah, sangat erat kaitannya dengan kerjaan para akademisi. Yup, aplikasi ini memang rasanya lebih diperuntukkan dan sangat membantu bagi kalangan akademisi.

Dokumen-dokumen yang bisa dikenali oleh aplikasi Mendeley ini adalah file-file BIB, RIS, XML, ZOTERO.SQLITE dan PDF. Naumn, di antara tipe file tersebut barangkali yang familiar untuk tipe file paper cuma PDF saja.

Di dalam Mendeley ini kita bisa menambahkan dokumen-dokumen yang kita punya di komputer ke dalam koleksi kita ke dalam Mendeley dan mengelompokkannya ke dalam kategori-kategori. Sesudah itu, aplikasi akan me-retrieve metadata yang terdapat pada dokumen, antara lain berupa nama author, title, year published, dan nama event paper tersebut dipublikasikan.

Dengan sekali klik pada salah satu item dokumen, selanjutnya aplikasi akan langsung membuka dokumen tersebut pada tab baru. Dalam mode view tersebut kita bisa me-review dokumen tersebut dan memberikan highlight kepada bagian yang kita anggap penting. Ya, mirip sebagaimana kalau kita me-review tulisan dalam bentuk hardcopy yang bisa kita tandai pakai stabilo.

Terakhir, ini barangkali fitur yang sangat membantu kita para akademisi, yakni automatic bibliography generator. Kita dapat mengekstraksi bibliografi dalam format mengikuti standar yang bisa kita pilih. Mau IEEE, modern language association, nature journal, ACM SIGCHI, dll. Jadi, kita tidak perlu lagi susah-susah mengetik bibiliografi secara manual, hehe.

Saya sendiri benar-benar merasa nyaman dengan aplikasi Mendeley ini. Benar-benar membantu saya ketika akan menyusun makalah maupun Tugas Akhir (TA). 🙂

Screenshoot Mendeley

Screenshoot Mendeley