Monthly Archives: June 2011

Tentang Tokek

Tokek

Tokek (jabar.tribunnews.com)

Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan suara tokek lagi saat pulang kampung ke Malang. Suara tokek itu sering terdengar dari belakang kamar saya yang memang merupakan kawasan pemakaman alias kuburan.

Tiba-tiba saya jadi tersadar, ternyata selama saya tinggal di Bandung rasanya saya belum pernah mendengar suara tokek di lingkungan sekitar tempat tinggal saya itu. Padahal saya sudah berpindah tempat kosan hingga 3 kali. Namun, di tiap daerah kosan yang saya tinggali, saya belum pernah mendengar suara tokek itu lagi. Padahal di lingkungan tempat tinggal saya di Malang, suara tokek itu sudah menjadi teman akrab sehari-hari (dulu, nggak tau kalo sekarang, hehe).

Waktu masa kecil dulu saya dan teman-teman sering mendapati tokek-tokek berkeliaran di dinding rumah-rumah kosong yang ada di lingkungan tempat tinggal kami. Pernah suatu kali kami dapat tokek kecil yang kebetulan jatuh dari dinding. Namanya anak kecil, suka usil, salah seorang dari kami ada yang usil naruh tokek tersebut ke punggung salah satu anak, hihi.

Hmm… sebenarnya saya penasaran banget sama si tokek a.k.a gecko ini. Mengapa ya tokek itu mengeluarkan bunyinya pada waktu tertentu saja dan suaranya keras sekali? Maksud saya, dibandingkan dengan bangsa reptil lainnya dia satu-satunya yang memiliki keunikan di situ. Kalau iseng kita hitung, setiap kali bersuara, jumlah kata ‘tekek’ yang dia keluarkan juga tidak selalu sama. Pengaruhnya apa ya?

Saya sudah coba googling di Internet, tapi belum menemukan artikel riset yang membahas tentang gecko phenomena ini. Kalau berita di Indonesia, yang ada malah berita tentang praktik jual beli tokek ini yang nilainya (katanya) sampai puluhan juta rupiah.

Kembali ke rasa penasaran saya tadi. Hmm… kenapa ya? Ada yang tahu?

Blaast

Mungkin sebagian sudah ada yang pernah mendengar tentang judul di atas. Blaast? Makanan apaan sih itu :D? Saya sendiri pertama kali mendengar tentang “Blaast” adalah sekitar bulan Maret lalu ketika ada teman yang memosting di milis jurusan bahwa ‘mereka’ akan datang ke ITB jauh-jauh dari Finlandia untuk mengadakan sosialisasi dan kerja sama dengan civitas ITB. Namun, saat itu saya sendiri belum begitu menaruh perhatian, hingga akhirnya kemarin ada kakak angkatan yang memosting kembali di milis dan memberikan sedikit informasi mengenai Blaast.

Buat yang ingin tahu Blaast itu apa, mengutip dari salah satu postingan di milis jurusan saya, Blaast itu adalah suatu mobile development platform yang berbasis cloud service. Kalau teman-teman buka situsnya, di sana jelas tertera tagline mereka: “forget hardware, your next phone is in the cloud”. Selain itu, dalam sedikit company profile sebagaimana yang tertera di situs ArcticStartup mereka (Blaast Ltd) menyatakan, “At Blaast, we believe that everything from your mobile apps to personal data, from email to settings, will be in the cloud. That’s why we’re building the world’s first cloud-based mobile platform.” Dari situ tampaknya sudah jelas bahwa aplikasi-aplikasi Blaast akan bersifat cloud-based alias semua aplikasi itu akan di-hosting di cloud (baca: internet).

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aplikasi-aplikasi Blaast itu dicoding dengan menggunakan Javascript. Jenis-jenis mobile devices yang support J2ME otomatis akan support juga terhadap Blaast ini. Untuk platform Android, kabarnya saat ini mereka tengah mengusahakan untuk compatible juga di sana.

Rencana ke depannya mereka juga akan membuat market place sendiri (Blaast App Store), di mana semua aplikasi akan disimpan di cloud server mereka. Untuk mendorong pertumbuhan developer Blaast, mereka pun mengadakan kompetisi membuat aplikasi Blaast yang dimulai dari tanggal 14 Mei sampai 11 Juli 2011. Hadiah yang ditawarkan pun sangat menarik, di antaranya Macbook Pro, Trip to Europe, dan Smartphones. Kalau dilihat dari salah satu hadiahnya, yakni ‘Trip to Europe’, agaknya mereka memang mengincar developer-developer dari luar Eropa, khususnya Asia. Bahkan, kabarnya mereka akan melakukan launching secara resmi di Indonesia (simak video di bawah).

Wah, saya jadi tertarik untuk ngoprek nih. Mudah-mudahan di tengah kesibukan Tugas Akhir (TA) ini masih bisa menyisihkan waktu untuk ngoprek kakas yang satu ini. Buat teman-teman yang mungkin tertarik juga untuk ngoprek dan bahkan ikutan bikin aplikasi Blaast bisa download SDK-nya di sini. Kecil kok ukurannya, cuma 10 MB. Di salah satu menu di sana juga terdapat tutorial/guide serta referensi untuk bekerja dengan SDK tersebut. Tetapi untuk bisa mengunduh dan membaca guide dan referensi tersebut, kita harus sign up dulu ke situs developer.blaast.com. Dalam paket SDK itu juga terdapat beberapa contoh aplikasi yang dapat kita jalankan dan pelajari source code-nya. So, happy exploring! 😀

Screenshoot Blaast Rocket

Screenshoot Blaast Rocket developer tool


Portal Badminton Tournament Video Sharing

Berawal setelah menonton event Piala Sudirman 2011 yang ditayangkan di televisi, gairahku terhadap badminton pun bangkit lagi. Sudah lama aku tidak mengikuti perkembangan berita bulutangkis. Terakhir kali adalah saat Indonesia kalah di final Piala Thomas 2010 melawan China 0-3.

Jujur, dengan keringnya prestasi yang diraih oleh tim bulutangkis Indonesia saat ini membuatku rindu pada masa kecilku dulu di mana Indonesia ketika itu benar-benar digdaya di dunia bulutangkis, khususnya bagian putra. Pada masa itu setiap ada turnamen bulutangkis seperti Thomas & Uber Cup, Indonesia Open, Olimpiade atau turnamen bulutangkis lainnya yang ditayangkan di televisi, dapat dipastikan demam bulutangkis melanda masyarakat. Di mana-mana orang main bulutangkis, termasuk aku dan teman-teman tetanggaku saat itu. Kami juga membuat turnamen sendiri dengan setiap anak mewakili satu nama jagoan bulutangkisnya ketika itu. Nyatanya saat itu banyak sekali nama jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia yang bisa kita ‘pilih’ sampai kita bingung sendiri, hehehe.

Yah, itu tadi sekedar intermezzo saja. Untuk mengobati rasa rindu itu dan mengingat dunia internet sekarang sudah semakin ramai, aku pun iseng-iseng mencari video-video rekaman pertandingan bulutangkis dunia melalui media search engine mbah Google. Barangkali ada yang juga iseng mengunggahnya di internet. Alhamdulillah, ternyata ada satu portal situs berbagi file (file sharing) yang menyediakan koleksi pertandingan bulutangkis mulai dari tahun 1980-an sampai yang terbaru (2011). Alamatnya ada di sini.

Aksi-aksi jagoan bulutangkisku seperti Ricky-Rexy yang juara Men Doubles di Olimpiade 1996, Indonesia yang secara heroik mengandaskan China 3-0 di Thomas Cup 2000 dan Malaysia 3-2 di Thomas Cup 2002 pun juga ada. Tidak perlu password khusus untuk bisa mengakses portal tersebut karena sudah diset public. Namun, ada beberapa video yang dikompres dengan diberi password. Untuk tahu password-nya, teman-teman harus menjadi anggota dulu di BadmintonCentral.com.

Mengenai kualitas video, ada macam-macam. Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Namun lumayanlah buat bernonstalgia dengan menonton pertandingan-pertandingan klasik masa lalu. Enjoy it! 🙂

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

 

Pulang Ke Malang Naik Kahuripan

Alhamdulillah Ya Allah… akhirnya sampai juga di rumah orang tua di Malang. Perjalanan panjang selama kurang lebih 25 jam mulai dari keluar rumah kontrakan di Bandung hingga menginjakkan kaki di dalam rumah di Malang telah terlewati juga. Dalam perjalanan pulang kampung ke Malang kali ini aku naik kereta ekonomi KA Kahuripan bersama dengan adik kelasku, Alimin (EL’09). Mumpung ada ‘liburan’ cuti bersama beberapa hari, kesempatan itu aku manfaatkan untuk pulang ke Malang. Di tengah hiruk pikuk kesibukan kuliah, termasuk tugas akhir, aku memang butuh banget suasana yang berbeda.

Kemarin, setelah menyelesaikan beberapa urusan akademik, termasuk pendaftaran semester pendek, aku pun mulai bersiap-siap untuk pulang. Barang-barang, di antaranya berkas-berkas kuliah yang sudah tak terpakai, kukemasi dalam kardus. Aku berangkat meninggalkan rumah kosan pukul 15.15 dan sampai di stasiun Hall sekitar 25 menit kemudian. Mengingat perjalanan pulang kali ini bertepatan dengan ‘liburan’ panjang, aku dan Alimin sudah mengantisipasinya dengan naik KA Kahuripan sejak awal di stasiun Padalarang. Pukul 16.00 kami menaiki KRD Patas menuju stasiun Padalarang dengan ongkos Rp5.000 per orang. Sesampainya di sana kami langsung berjalan masuk ke dalam rangkaian KA Kahuripan yang sudah stand by di jalur 4 stasiun. Benar dugaan kami. Kondisi dalam kereta sudah terisi banyak orang. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30 atau 3 jam menjelang keberangkatan. Kebanyakan dari mereka ternyata adalah para tentara muda yang akan pulang kampung juga.

Tiga jam menunggu tentu bosan juga. Barangkali itu pula yang dirasakan oleh mas-mas tentara itu. Di tengah-tengah masa penungguan keberangkatan, tiba-tiba ada kelompok pengamen, yang terdiri atas 1 orang pegang gitar, 1 orang biola, dan 1 orang pegang kendang besar. Para mas-mas tentara itu pun tampak sumringah. Bahkan, mereka sampai request 4-5 lagu tambahan. Sang pengamen pun tampaknya juga tidak keberatan. Malahan mereka senang karena mendapatkan penumpang yang antusias dan artinya mereka akan dapat rezeki banyak :).

Tidak hanya request, mas-mas tentara yang jumlahnya ada belasan atau sekitar 20-an itu juga berjoget riang. Penumpang lain pun cuma bisa tersenyum melihat tingkah mas-mas tentara yang menghibur itu. Tampaknya virus Briptu Norman mulai menyebar, hihihi :D.

Mas-mas tentara nyanyi dan joget bareng

Mas-mas tentara nyanyi dan joget bareng

Lumayan juga ya ternyata kehadiran pengamen-pengamen tadi bisa membunuh waktu yang membosankan itu tadi. Selang beberapa saat kemudian suasana kereta sudah benar-benar padat. Bahkan, sudah ada yang nggak dapat tempat duduk. Sekitar pukul 19.30 akhirnya kereta berangkat.

Kondisi padat penumpang ini ternyata tidak berakhir walau kereta sudah berhenti di stasiun Lempuyangan, Purwosari, Solo Jebres, dan Madiun. Selalu saja ada penumpang yang naik lagi walaupun tak seramai saat keberangkatan dari Bandung. Barangkali inilah kali pertama aku naik Kahuripan dengan kondisi penuh hingga stasiun akhir, Kediri. Biasanya paling sampai Jogja, Solo, atau Madiun, kereta sudah longgar banget.

Kahuripan sendiri sampai di Kediri saat pukul 11.30. Lumayan ‘tepat waktu’lah. Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan ke Malang dengan menumpang bus Puspa Indah. Tarifnya ternyata masih tetap, Rp17.000 Kediri-Malang. Sampai di terminal Landungsari, Malang, waktu ‘masih’ menunjukkan jam 3 sore lebih sedikit. Aku dan Alimin pun makan bakso dulu di terminal. Habis makan, masih lanjut lagi naik angkot pulang ke rumah. Sampai di rumah tepat pukul 16.30. Total perjalanan pun 25 jam :D.