Rafting di Sungai Cimanuk Garut

Hari Senin kemarin (2011-06-13) aku dan beberapa teman sefakultas pergi arung jeram (rafting) ke sungai Cimanuk, Kabupaten Garut. Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan merupakan ide salah seorang teman bernama Kuncoro (Sistem Teknologi Informasi ’07). Dia yang mengatur semuanya mulai dari memberikan pengumuman ke anak-anak Informatika ’07, menghimpun peserta, hingga mengurus ke Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) “Ganesha” ITB. Sayangnya, pada saat menjelang hari H ternyata dia berhalangan karena ada urusan akademik yang harus diselesaikan.

Peserta rafting ini terdiri atas 11 orang anak Elektro ’07, Informatika ’07,  dan Sistem Teknologi Informasi ’07, yaitu aku, Luthfi, Kamal, Rizky, Khairul, Luqman, Jiwo, Ian, Haris (IF ’07), Veri (STI ’07), dan Pras (EL ’07). Semua orang tersebut, kecuali Luqman, Ian, Haris, dan Veri, merupakan teman-teman yang ikut tur ke Sukabumi-Ciamis Maret lalu. Dalam rafting kali ini, selain kami, juga ada 12 rekan mahasiswa dari Geodesi ’08 dan tentu saja rekan-rekan dari KMPA yang berjumlah 6 orang. Jadi total ada 29 orang, di mana empat orang di antaranya adalah perempuan (dua orang dari KMPA dan dua orang lagi dari Geodesi.

Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB tepat pukul 7 pagi dengan menaiki angkot carteran. Anak-anak KMPA sebagian ada yang menggunakan mobil dan motor pribadi menuju ke tempat rafting. Untuk peralatan rafting, sebagian ada yang dimasukkan ke dalam angkot, dan lainnya lagi dimasukkan ke dalam mobil KMPA.

Perjalanan dari kampus menuju Sungai Cimanuk, Garut, memakan waktu hampir 2,5 jam. Perjalanan berangkat mengambil jalur melalui tol Pasteur-Cileunyi terus melewati Cicalengka, Nagrek, dan Kabupaten Garut. Saat perjalanan mulai melintasi Garut, hamparan sawah di kanan kiri jalan hampir menjadi pemandangan wajib sepanjang perjalanan.

Kami tiba di tempat start rafting sekitar pukul 9.30. Setelah itu kami langsung melakukan persiapan. Kami langsung mengenakan perlengkapan rafting mulai dari rompi pelampung, helm rafting, dan memegang dayung masing-masing.

Di jembatan start
Di jembatan start

Sebelum memulai rafting, kami diberikan pengarahan oleh salah seorang anggota KMPA mengenai hal-hal yang harus diketahui saat rafting. Utamanya adalah masalah komando skipper. Skipper adalah salah seorang di atas raft yang menjadi pemimpin perjalanan rafting. Dia akan memberikan komando kapan dan bagaimana kita harus mendayung. Oleh karena itu, sang anak buah harus mengerti jenis-jenis komando yang diberikan.

Bersiap-siap rafting

Bersiap-siap rafting

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Setelah pengarahan, kami melakukan pemanasan selama kurang lebih 15 menit. Pemanasan penting dilakukan agar fisik kita tidak kaku saat melakukan pengarungan.

Habis pemanasan, selanjutnya adalah pembagian kelompok raft. Satu raft diisi kurang lebih 4-5 orang ditambah dengan satu orang skipper dari anak KMPA. Total ada lima raft dalam pengarungan ini, salah satu di antaranya merupakan perahu rescue.

Aku sendiri berada dalam satu raft dengan Luthfi, Ian, Rizky, Kamal, dan Yasir (STI ’07 juga). Dalam raft kami ini Yasir yang bertindak sebagai skipper. Untuk memudahkan penyebutan nantinya, kita sebut saja kelompok kami ini kelompok ‘Merah 1’. Kenapa merah? Sebab raft yang kita tumpangi memang berwarna merah dan raft yang berwarna merah ada 3 buah. Kelompok yang lain, sebut saja ‘Merah 2’, terdiri atas Haris, Veri, Luqman, Pras, Jiwo, Moundri (Geodesi ’08), dan Dani (Farmasi ’07). Dalam kelompok tersebut yang bertindak sebagai skipper adalah Dani yang juga anak KMPA. Dua kelompok lainnya (selain perahu raft rescue) kita sebut saja ‘Merah 3’ dan ‘Kuning’. Khairul berada di kelompok Merah 3.

Pengarungan pun dimulai!

Tak berapa lama kemudian, pengarungan pun dimulai. Raft rescue berada paling depan, sedangkan raft lainnya menyusul di belakang.

Hari itu bisa dibilang kami kurang beruntung (atau malah beruntung?) arus tak sederas biasanya karena sudah lama tidak turun hujan di daerah sana. Debit air saat itu juga tidak terlalu tinggi. Namun, kondisi seperti itu memang cocok buat kami yang sebagian besar baru pertama kali itu melakukan rafting. Karena arus yang tidak terlalu deras, kami pun dapat melakukan pengarungan dengan santai.

“Satu dua, satu dua, satu dua, …”, seru kami berbarengan. Yup, kami memang perlu meneriakkan aba-aba itu berbarengan agar dayungan kami seirama. Karena apabila dayungan tidak seirama, dapat dipastikan perahu akan susah untuk bergerak lurus.

Namanya juga kumpulan anak Informatika yang akrab dengan bilangan biner, aba-aba “satu dua, satu dua” pun kami pelesetkan jadi “Nol satu, nol satu, nol satu”. Kadang-kadang kami pelesetkan juga jadi “Dji sam soe, dji sam soe” meniru iklan-iklan di TV:mrgreen:.

Dalam rafting itu paling seru memang ketika kita melintasi jeram-jeram di sungai. Rasanya seperti sedang berada di wahana Dufan (Dunia Fantasi). Padahal aku ke Dufan saja belum pernah, dasar sok tahu, hehehe. Itu tadi sih kata temanku saja😀.

Pengarungan

Pengarungan

Setelah kurang lebih 2,5 jam melakukan pengarungan atau setara dengan separuh perjalanan, kami bersiap-siap untuk beristirahat di tepi sungai untuk makan siang. Namun, sebelum itu, kami melakukan simulasi ‘raft terbalik’ terlebih dahulu. Simulasi ini dilakukan untuk mengenalkan kita pada situasi di mana raft terbalik karena suatu hal dan bagaimana tindakan yang harus diambil.

Sebelum simulasi, bung Yasir memberikan pengarahan kepada kami bagaimana cara membalikkan raft, menentukan siapa yang bertugas membalik raft, menerangkan bagaimana cari membalikkan raft seperti semula, dan menentukan siapa yang bertugas mengembalikan raft tersebut. Akhirnya diputuskan di kelompok kami, Rizky yang bertugas membalikkan raft hingga terbalik dan Kamal yang akan membalikkan raft hingga seperti semula.

Simulasi dimulai!

Setiap kelompok melakukan simulasi secara bergantian satu per satu. Kelompokku berada di urutan ketiga.

Saat-saat yang dinanti pun tiba. Kami semua berpindah ke posisi kanan raft agar berat raft menjadi tidak seimbang. Rizky juga mulai menarik kuat-kuat raft agar terbalik. Dan… raft pun langsung terjungkal. Kejadian itu begitu cepat. Sempat terbenam di balik raft, tahu-tahu aku sudah terapung-apung di sungai dan mencari pegangan di raft. Kamal berusaha menaiki raft namun tidak bisa-bisa. Rizky juga sudah mendorong Kamal agar bisa naik ke atas raft, tapi hasilnya tetap nihil. Sebenarnya tidak hanya Kamal yang berusaha naik. Yang lain pun juga sudah berusaha, namun sama saja hasilnya, masih gagal. Akhirnya kami pun terdampar di pinggir sungai tanpa berhasil membalikkan raft.

Simulasi raft terbalik

Simulasi raft terbalik

Luthfi berusaha naik ke atas raft

Luthfi berusaha naik ke atas raft

Veri dan Luqman

Veri dan Luqman

Dalam simulasi itu ada satu kelompok yang berhasil, yaitu kelompok ‘Merah 2’. Si Dani yang berhasil naik ke atas raft dan membalikkan posisi raft seperti semula.

Ada kejadian lucu di kelompok ‘Merah 2’. Saat prosesi simulasi itu dilakukan, Haris yang saat rafting mengenakan sandal, terpaksa sandalnya hanyut dalam simulasi tersebut. Hanya satu sandal yang bisa diselamatkan. Namun, lucunya, sandal itu akhirnya diketemukan juga di tengah pengarungan berikutnya setelah istirahat. Alhamdulillah, untung saja. Kalau tidak, terpaksa pulang nyeker nih😀.

Dani dan Haris (beserta sandalnya yang terselamatkan)

Dani dan Haris (beserta sandalnya yang terselamatkan)

Istirahat

Setelah mengarungi separuh perjalanan, kami pun beristirahat makan siang di pinggir sungai. Makan siang berupa nasi bungkus sudah disiapkan oleh KMPA untuk kami semua. Kami pun memakan dengan lahapnya.

Di sekitar tempat istirahat kami banyak anak-anak kecil yang tengah bermain di sungai. Mereka berenang-renang di sungai tanpa rasa takut dan dengan penuh keriangan. Mereka juga tampak penasaran sekali dengan perahu rafting yang kita gunakan. Anak-anak kecil itu mendekati raft kami dan mengamati perlengkapan yang kami gunakan dengan seksama. Akhirnya, oleh Yasir anak-anak kecil itu diajak untuk menaiki raft dan berputar-putar di area sungai itu.

Makan siang

Makan siang

Oiya, aku lupa memperkenalkan satu orang lagi. Namanya Pak Yana. Dalam foto di atas, beliau yang berada di sebelah kanan. Jelas yang kanan lah ya, wong yang laki-laki memang yang kanan, hehehe. Tapi cewek yang sebelah kiri itu namanya juga Yana lho. Dia anak Perminyakan ’08 dan merupakan anggota KMPA juga. Pak Yana ini dari cerita si Yasir, tampaknya sudah menjadi seperti bapak (atau teman akrab) bagi anak-anak KMPA. Beliau katanya sudah berkecimpung di dunia arung jeram ini sejak usia 20 tahun dan masih aktif hingga sekarang (usianya sudah sekitar 60 tahun).

Pengarungan dilanjutkan kembali

Kurang lebih ada satu jam kita istirahat makan siang. Sehabis itu, kami melanjutkan pengarungan kembali. “Dalam pengarungan sehabis istirahat ini akan banyak jeram besar yang kita temui.” begitu yang kata Yasir saat itu. Artinya, pengarungan akan menjadi lebih seru!

Namun, dalam pengarungan kali ini Yasir dan teman-teman KMPA lainnya tidak boleh menjadi skipper. Pak Yana meminta kami, selain anak KMPA, untuk mencoba menjadi skipper sendiri bergantian.

Nah, saat menjadi skipper itulah aku baru tahu ternyata skipper mempunyai jenis dayung yang berbeda dan cara mendayungnya pun beda. Tidak gampang ternyata menjadi seorang skipper itu. Harus sering berlatih tentunya. Jika skipper tak pandai, pasti perahu rafting yang ditumpanginya akan dibuatnya berputar-putar ke sana kemari.

Benar kata Yasir, di sesi kedua pengarungan ini kami menemukan banyak jeram sepanjang sungai. Seru abiss! Ada kalanya raft kami tersangkut batu sehingga kami harus berpindah ke depan atau ke belakang raft agar berat raft terpusat pada salah satu bagian. Dengan cara itu kami dapat melepaskan raft dari batu tersebut. Saat kami berpusat ke salah satu bagian dari raft, risiko raft untuk terbalik menjadi sangat besar. Namun, dengan menjaga keseimbangan, sampai akhir pengarungan raft kami belum pernah terbalik. Mungkin jika menemui arus yang besar, bisa jadi kami akan mengalami itu.

Jeram paling besar yang kami hadapi adalah jeram goodbye. Dinamakan demikian karena beberapa menit setelah melintasi jeram tersebut, pengarungan akan berakhir. Sungguh seru saat melintasi jeram tersebut. Ada sensasi mengasyikkan yang kami rasakan. Barangkali kalau arus saat itu lebih besar, sensasinya juga akan lebih terasa.

Setelah melalui jeram goodbye, kami semua diminta berhenti oleh Pak Yana. Pak Yana ingin menyampaikan sesuatu.

“Setelah ini kita start bareng-bareng dan cepet-cepetan menuju tempat finish. Oleh karena itu, kerahkan tenaga kalian sekuat mungkin dalam mendayung. Kurang lebih ada 15 menit kita lalui untuk menuju finish.”

“Okeee…!” seru anak-anak.

Kami pun langsung mengatur posisi start dengan antar raft berada dalam posisi sejajar. Setelah semuanya siap, Pak Yana pun membunyikan peluit dan kami langsung mendayung sekuat-kuatnya.

“Satu dua, satu dua, satu dua,…” teriak kami.

Sayangnya, posisi kami kelompok ‘Merah 1’ saat start kurang ideal. Kami telat beberapa detik dalam mendayung. Akhirnya, posisi kami pun tertinggal menjadi paling buncit, yaitu nomor 4. Tak berapa lama kemudian, raft rescue yang posisi startnya di belakang kami semua, malah menyalip kami juga. Itu semua terjadi karena kami sempat nyangkut di salah satu batu.

Namun, dengan usaha sekuat tenaga dan dibantu keberuntungan, kami pun bisa menyalip kembali raft rescue dan raft kelompok ‘Merah 3’. Dua raft tersebut juga sempat terhambat perjalanannya karena nyangkut di salah satu batu juga. Akan tetapi, posisi kami saat itu masih jauh tertinggal dari kelompok ‘Kuning’ dan ‘Merah 2’. Tapi pada akhirnya kami bisa finish di urutan kedua menyalip kelompok ‘Merah 2’ yang ‘salah finish‘, hehehe.

Beres-beres

Kira-kira pukul 16.30 kami selesai melakukan pengarungan. Jarak yang kami tempuh kira-kira ada sekitar 15 km. Total waktu pengarungan itu sendiri berarti kurang lebih ada sekitar 6 jam, termasuk istirahat di tengah pengarungan selama hampir sejam.

Setelah itu kami langsung memberesi perlengkapan rafting kami. Perahu-perahu rafting itu kami angkut bareng-bareng dari sungai ke atas jembatan, tempat di mana angkot kami telah menunggu. Berat juga ngangkat perahu rafting itu. Sebenarnya tidak berat sih, hanya saja karena kami harus mengangkatnya sambil mendaki, jadi terasa berat.

Habis rafting

Pakaian masih basah sehabis rafting

Kelompok Merah 1

Kelompok Merah 1

Kelompok Merah 2

Kelompok Merah 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yak, akhirnya pengarungan selama 6 jam hari itu pun selesai. What’s next? Beranjak dari Cimanuk kami berangkat menuju Cipanas, masih di Kabupaten Garut, untuk berelaksasi dengan berendam air panas.

Sekian dulu untuk cerita tentang pengarungan atau rafting kali ini. Cerita tentang berendam air panasnya akan aku tulis di tulisan terpisah. Tunggu saja.😀

2 thoughts on “Rafting di Sungai Cimanuk Garut

  1. Eni

    halooww dhito.. boleh minta rincian biaya rafting di cimanuk berapa ? sepertinya rafting di Garut menantang, saya ingin coba di sungai tsb.. klo boleh, minta dieimail yaahh rinciannya ke eni.maisaroh@gmai.com
    tengkyu yaahh dhito..🙂

    Like

    Reply
    1. otidh Post author

      Wah, maaf kk Eni… sudah lama banget ini dan saya nggak nyimpan dokumentasi rincian biayanya. Seingat saya sih tiap orang iuran sekitar 100 ribu. Selain itu acara ini di-EO-in oleh temen2 KMPA ITB.

      Kalau kk Eni pingin tahu lebih detail mungkin bisa kontak ke http://terasnusantara.com/. Ini usahanya teman2 saya yang dulu nge-EO-in acara rafting saya ini.😀

      Like

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s