Solo Backpacking ke Penang (Bagian 1): Pesan Tiket Pesawat & Penginapan

Seperti yang sudah kuceritakan di artikel sebelumnya, plan awal perjalanan ke Penang ini sebenarnya adalah untuk mengikuti event lari Penang Bridge International Marathon. Namun, karena pinggang yang masih mengalami cedera, rencana tersebut batal dan agenda selama di Penang pun berganti, yakni hanya jalan-jalan saja selama di sana, hehe. 😀

Nah, catatan dari perjalanan kemarin rencananya akan aku bagi ke dalam 3 artikel. Artikel pertama, atau artikel yang sedang Anda baca ini, akan kutuliskan sedikit cerita mengenai hunting tiket, booking penginapan, dan bagaimana perjalanan dari Bandung hingga tiba di Penang International Airport. Artikel kedua akan menceritakan mengenai ‘petualangan’ hari pertama di Penang, dan artikel ketiga sudah barang tentu akan menceritakan mengenai petualangan di hari kedua atau terakhir di Penang.

Ambil Penerbangan Rute Bandung-Medan-Penang PP

Agak bingung sebenarnya aku dalam merencanakan keberangkatan dan kepulangan Bandung-Penang PP ini. Pasalnya, tak ada penerbangan langsung Bandung-Penang. Sedangkan penerbangan langsung dari Jakarta (yang terjangkau) cuma ada AirAsia pukul 17.45. Itupun sebenarnya masih termasuk mahal ongkosnya, yakni sudah kisaran 1 juta rupah saat aku cek. Selain itu, kalau aku mengambil penerbangan jam segitu, artinya aku sudah harus cabut 6 jam sebelumnya dari Bandung. Sebuah pilihan yang sulit, karena dengan begitu artinya aku harus ambil cuti atau kerja cuma setengah hari saja.

Beruntunglah ada situs seperti Traveloka (bukan promosi, hehe). Dengan mesin pencarinya aku bisa mendapatkan daftar kombinasi penerbangan yang dari sisi schedule dan harga oke buatku. Dari daftar tersebut aku memperoleh informasi bahwa rute penerbangan AirAsia Bandung-Medan-Penang adalah yang paling oke dari sisi schedule dan harganya pun paling murah di antara opsi yang lain. Bahkan opsi tersebut jauh lebih murah daripada penerbangan langsung AirAsia dari Jakarta tadi. Selisih sampai hampir 400 ribu rupiah. Apalagi rute AirAsia Bandung-Medan dan Medan-Penang itu lagi promo saat itu. Medan-Penang bahkan cuma Rp105.000!

Selain karena harga, sebenarnya faktor yang paling meyakinkanku untuk memilih opsi itu (transit di Medan) adalah karena jadwalnya yang bersahabat, tak perlu membuatku untuk izin kerja. Oh ya, ada satu faktor lagi, yakni rasa penasaran untuk melihat kayak bagaimana sih Bandara Kuala Namu yang dibanggakan itu, haha.

Namun, sialnya sekitar 2-3 minggu sebelum hari H keberangkatan, AirAsia menginformasikan bahwa mereka membatalkan penerbangan Bandung-Medan pukul 19.45. Sebagai gantinya, penerbanganku diganti oleh mereka menjadi pukul 8.00. What??!

Sempat terpikir olehku apa aku sekalian mengambil cuti saja ya agar bisa sekalian jalan-jalan di Medan, sambil menunggu penerbangan ke Penang. Sempat bimbang juga sih. Tapi nggak enak ah kalau ambil cuti di minggu hectic gini. Akhirnya, seminggu sebelum hari H aku baru mengkonfirmasi pembatalan kepada AirAsia. Aku mengisi form refund tiket secara online di website AirAsia. Btw, ini kali pertama aku melakukan pembatalan tiket pesawat. Kalau tiket kereta api mah sudah sering, hehe.

Penerbangan Bandung-Medan pun batal. Sebagai gantinya aku memilih penerbangan dengan Lion Air dari Jakarta pukul 21.35. Kupilih karena itu adalah opsi penerbangan paling malam menuju Medan dari Soekarno-Hatta, dan juga harganya nggak jauh beda dengan tiket AirAsia yang kubatalkan itu.

Booking Penginapan

Karena perjalanan ini bakal menjadi pengalaman pertamaku melakukan backpacking sendirian, aku berusaha menyiapkan segala sesuatunya sejelas mungkin, termasuk penginapan. Online booking adalah cara yang paling mudah. Layanan online booking yang kupilih adalah Agoda, mengingat reputasinya yang sudah cukup populer.

Aku cari-cari penginapan dengan kriteria lokasi yang berada di Georgetown (ibukota Penang), dan sebisa mungkin jaraknya dekat dengan Terminal Bus KOMTAR, terminal pusat bus interchange di Penang, agar akses ke mana-mana mudah. Selain itu, sebisa mungkin tarif kamar per malamnya di bawah IDR 100 ribu.

Ada beberapa hostel yang sesuai dengan kriteriaku. Setelah membaca beberapa testimonial user lain baik di Agoda dan juga TripAdvisor, akhirnya pilihanku jatuh pada Kimberley House. Tipe kamar yang kupilih adalah kamar dengan model dormitory, yang satu kamarnya berisi 3 kasur tingkat. Tarif per malamnya adalah Rp 84.370, sudah termasuk pajak hotel 6% dan service charge 10%.

Untuk pembayarannya, karena aku tidak punya kartu kredit, aku mencoba googling cari jasa agen tour & travel yang bisa bantu booking hotel via Agoda. Sebenarnya bisa saja sih aku numpang kartu kredit milik teman. Tapi nggak enak karena sudah terlalu sering, hehe. Ujungnya aku pun menemukan link agen tour & travel yang melayani jasa booking hotel Agoda.

Sempat ragu-ragu sih jangan-jangan itu agen abal-abal. Setelah komunikasi via email, menurutku jawaban mereka sangat meyakinkan, akhirnya aku pesan melalui agen ini. Dan Alhamdulillah di hari H, semua lancar tanpa masalah. Aku bisa langsung check-in di Kimberley House dengan hanya menunjukkan voucher hotel dari Agoda yang dikirim oleh agen ini beserta pasporku.

Jumat, 15 November

Aku sudah pasrah hari itu jika aku sampai ketinggalan pesawat. Penyebabnya aku ketinggalan travel Xtrans yang akan mengantarkanku ke Cengkareng, yang berangkat dari Bandung pukul 15.30. Asumsi perjalanan Bandung-Jakarta adalah 5 jam (sudah termasuk macet-macetnya), maka itu adalah jadwal terakhir yang paling aman untuk sampai di bandara tepat pada waktunya.

Namun, untungnya aku masih bisa mengejar travel Cititrans yang seharusnya berangkat pukul 15.45, tapi hingga pukul 16.00 masih belum berangkat karena tak ada penumpang saat itu. Karena itu, jadilah aku penumpang satu-satunya yang berangkat dengan Cititrans sore itu. Btw, ini jadi pengalaman pertamaku naik travel sendirian (bersama sopir tentunya).

Alhamdulillah walaupun macet hampir di sepanjang jalan (cuma waktu di tol cipularang yang bisa ngebut buanget), travel bisa sampai di terminal 1B Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu sekitar 4,5 jam. Masih ada waktu 45 menit sebelum batas masuk boarding gate.

Malam itu, pesawat Lion Air yang akan kutumpangi mengalami delay sampai 30 menit. Nggak terlalu masalah sih buatku, sebab pesawat ke Penang baru berangkat pukul 06.30 keesokan harinya! Pesawatku sendiri malam itu mendarat di Bandara Kuala Namu menjelang pukul 1 malam.

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Selasar terminal keberangkatan Bandara Kuala Namu

Aku benar-benar dibuat terkesan dengan bandara Kuala Namu ini. Yang paling mencolok adalah hall kedatangannya yang super luas, ada eskalator dan lift ke hall keberangkatan, dan di depan pintu keluar hall kedatangan langsung menghadap ke stasiun kereta api bandara. Mungkin detail ceritanya akan kutuliskan di artikel tersendiri. 🙂

Malam itu aku terpaksa menunggu keberangkatan sambil tiduran di bangku di selasar terminal keberangkatan. Kurang cocok nih Kuala Namu untuk para backpacker yang mau numpang nginap di bandara. Bandara Juanda menurutku lebih bagus soal ini karena punya hall khusus untuk tempat tiduran para calon penumpang yang menginap. Tiduran di bangku itu nggak nyaman saudara-saudara. Apalagi selasar terminal keberangkatan ini menghadap ke ruang terbuka, jadi anginnya lumayan kencang. Dingin lagi. Jadi nggak nyenyak tidur malam itu. Tapi lumayan bisa memejamkan mata selama hampir 1,5 jam.

Mission Failed di PBIM 2013

Event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2013 Kemarin Minggu (17/11) harusnya menjadi event lari pertama yang kuikuti di luar negeri. Selain itu, juga akan menjadi event lari kategori half marathon pertama yang kuikuti. Hehe, ceritanya lagi mau naik kelas sedikitlah. 😀

Dua bulan yang lalu aku sudah registrasi ke situs official PBIM 2013 ini. Tiket pesawat dan penginapan pun sudah ku-booking pula. Sayang, teman tak ada yang bisa saat kuajak. Akhirnya, terpaksa pergi sendirian. Bondo nekad sajalah. 😀

Melihat galeri foto event PBIM ini di tahun-tahun sebelumnya bikin aku penasaran. Start lari dini hari dan lari melintasi jembatan yang menghubungkan dua daratan yang terpisahkan oleh laut, wow… membayangkannya saja sepertinya sudah luar biasa. Memang sih, kata beberapa kenalan, walaupun larinya dini hari gitu, bukan hawa dingin yang dirasakan, tapi hawa lembab khas laut yang bikin gerah!

Walaupun begitu keinginan untuk lari sambil menikmati view Penang Bridge masih menarikku. Demi bisa lari melintasi lebih jauh Penang Bridge yang memang ikonik itu, aku pun mendaftarkan diri di kategori half marathon (21 km). Karena kalau lari 10K, cuma kebagian ujung jembatannya aja, kurang sampai ke tengah. Sedangkan kalau ikut lari yang full marathon, aku merasa kurang yakin karena half marathon saja aku belum pernah.

Untuk mempersiapkan itu, sebulan sebelumnya aku mulai merutinkan lari dengan jarak minimal 10 km tiap 3 hari sekali, dan menaikkan kilometernya sedikit demi sedikit. Sayang, dua minggu sebelum hari H, daerah pinggang mengalami cedera setelah jatuh dari sepeda ketika downhill dari Bukit Moko. Rasa sakitnya ternyata masih bertahan hingga dua minggu kemudian.

Jumat pagi, hari terakhir sebelum aku berangkat ke Penang, rasa sakit itu masih terasa hingga akhirnya kuputuskan aku mundur saja dari keikutsertaan di PBIM 2013 ini. Lari 5 km sambil menahan sakit mungkin aku masih sanggup, tapi lari 21 km? Umm… I don’t think so. 

Sebagai gambaran, karena demi menghindari rasa sakit itu pula, aku nggak bisa gerak-gerak berbaring ke kiri dan kanan saat tidur. Untuk mengganti posisi tidur itu, bahkan sering terjaga terlebih dahulu sebelum dengan perlahan merubah posisi badan. Eh, kok malah jadi curhat. 😀

Namun, apa daya nasi sudah menjadi bubur, tiket pesawat dan penginapan sudah terlanjur dibeli. Sayang kalau gara-gara nggak jadi ikut event lari, perjalanan ke Penang dibatalkan juga. Akhirnya dua hari kemarin (Sabtu dan Minggu) kumanfaatkan dengan berjalan-jalan di Penang, dengan itinerary yang dipersiapkan agak mendadak. Untuk catatan perjalanannya, akan aku share di tulisan berikutnya. Tunggu saja. 😉

Tapi tetap saja, walaupun dua hari kemarin alhamdulillah puas menjelajahi Pulau Penang, hari ini setelah lihat foto-foto acara kemarin di akun Facebook-nya PBIM, aku cuma bisa meringis saja. Makin mupeng setelah melihat cover photo-nya PBIM yang diunggah tadi. Kayaknya seru tuh sensasi lari di atas laut. Semoga tahun depan ada kesempatan untuk ikut event ini.

[Book] Halal Is My Way

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Q.S. Al-Maidah : 88)

Melalui ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalal thayyiban). Tidak cuma halal, tapi juga baik (untuk tubuh kita). Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertakwa kepada Allah. Usaha kita mencari hal-hal yang halal dan menjauhi yang haram, ibarat penggaris yang mengukur keimanan kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib tahu mengenai apa-apa yang masuk kategori halal dan haram.

Sebab walaupun kita tinggal di negara yang mayoritasnya Muslim, ternyata tidak menjamin bahwa makanan-makanan yang disajikan, terutama di restoran-restoran oriental atau masakan barat, bebasa dari zat yang diharamkan oleh syariat. Untuk itu, kita dituntut untuk selalu berhati-hati agar tidak sampai mengonsumsi makanan haram. Dan kehati-hatian itu perlu didukung juga dengan wawasan yang cukup.

Buku "Halal Is My Way"

Buku “Halal Is My Way”

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku “Halal Is My Way” karya Aisha Maharani (pengelola akun @halalcorner). Buku ini cukup ringan dibaca (dan dibawa :D). Konten utamanya saya hitung tidak sampai 100 halaman. Jadi cocok buat Anda yang suka mabuk duluan lihat buku tebal, hehe.

Buku ini dikemas dengan cukup menarik. Ada beberapa bab materi yang menjelaskan mengenai latar belakang edukasi halal, dampak mengonsumsi barang haram, ciri-ciri makanan dan minuman yang diharamkan, hingga pengetahuan mengenai proses sertifikasi halal. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa cerita kartun yang saya rasa akan menarik bagi anak-anak untuk belajar tentang halal sejak dini. Tak hanya itu, di buku ini juga disisipi resep-resep makanan dan minuman sederhana yang tentunya halal juga dong.

Bagi saya sendiri, setelah membaca buku ini saya mendapatkan banyak wawasan baru. Wawasan baru itu terutama mengenai varian zat bahan tambahan pangan (BTP) dan proses sertifikasi halal. Selain wawasan baru, melalui buku ini saya juga kembali diingatkan mengenai dampak-dampak dari mengonsumsi barang haram terhadap amalan ibadah dan juga efeknya bagi tubuh kita.

Well, saya tidak akan menceritakan detail isi buku ini tentunya. Bagi rekan-rekan pembaca yang tertarik membeli buku “Halal Is My Way” ini, bisa memesan secara online melalui websitenya di sini. Harganya Rp39.000 (belum termasuk ongkos kirim).

Satu kekurangan buku ini menurut saya adalah bukunya yang kurang tebal :P. Sebenarnya saya mengharapkan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai praktik penggunaan varian zat-zat yang diharamkan pada produk makanan dan kosmetik di masa yang teknologinya sudah semakin canggih ini. Tapi katanya akan dibahasa secara khusus di seri buku berikutnya. Mari kita tunggu saja. 🙂

Nikmat Selamat Dalam Perjalanan

Sering kita membaca atau mendengar berita di media massa tentang peristiwa kecelakaan kereta api, mobil, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki sekali pun, seperti kejadian dua minggu lalu yakni meninggalnya seorang mahasiswa ITB karena tertabrak motor ketika tengah menyeberang. Atau peristiwa terbaru, yakni hilangnya seorang mahasiswa ITB ketika tengah melakukan pendakian gunung (baca di sini).

Ketika membaca berita dua peristiwa yang secara kebetulan menimpa anak ITB ini dan waktu kejadiannya juga berdekatan, tiba-tiba ada momen yang membuatku merenung, bahwasannya ternyata nikmat selamat dalam perjalanan itu mahal. Dan parahnya manusia seringkali lupa untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu. Ya, jika bukan karena nikmat-Nya, bisa jadi namaku pun akan masuk ke dalam koran dengan berita yang sama saat mendaki Gunung Gede beberapa waktu yang lalu.

Seorang first timer yang akan melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat untuk pertama kali, biasanya akan merasakan kegelisahan (anxiety) ketika akan memulai perjalanan. Yang dimaksud dengan ‘pertama kali’ itu bermacam-macam contohnya. Pertama kalinya dia akan ke tempat itu, pertama kali dia akan mendaki gunung, pertama kali dia akan bepergian dengan pesawat, dan lain sabagainya. Lalu, Sebagaimana tabiat alami manusia, yakni ketika merasa terancam, kesusahan, ketakutan, atau kegelisahan, kita akan berdo’a kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam perjalanan. Namun, setelah tiba dengan selamat di tempat tujuan, sebagian dari kita seringkali lupa untuk bersyukur kepada Allah, persis sebagaimana yang disindir oleh Allah dalam Q.S. Yunus ayat 12: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.”

Sementara itu, bagi mereka yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh, entah itu naik gunung, atau bepergian dengan pesawat, atau lain sebagainya, bahkan untuk berdoa sebelum memulai perjalanan saja kadang-kadang lupa. Sebab bisa jadi bagi mereka perjalanan yang akan mereka lakukan itu adalah just another trip saja.

Sebenarnya pun tak harus perjalanan jauh. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita pasti melakukan perjalanan meninggalkan rumah, baik untuk pergi ke tempat bekerja, ke kampus, ke mal, berkunjung ke rumah teman, atau sekedar ke warung untuk membeli sesuatu. Di dalam perjalanan itu bisa jadi kita mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, bisa kembali lagi ke rumah dengan selamat tanpa kurang satu apapun adalah nikmat luar biasa dari Allah yang harus kita syukuri.

Sebagai seorang muslim sudah seyogyanya kita perlu mengetahui, mempelajari, dan alhamdulillah jika bisa mengamalkan adab-adab yang telah diajarkan di dalam syariat perihal berpergian atau safar ini. Saya menemukan artikel yang bagus di muslim.or.id ini yang menjelaskan adab-adab sekembalinya seseorang dari safar. Salah satu adabnya adalah membaca takbir 3 kali dan doa “Aayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduun. Lirobbinaa haamiduun (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).” Artikel yang saya tautkan itu sebenarnya adalah artikel berseri, yang menjelaskan tentang adab safar. Di artikel sebelum itu (adab kembali dari safar), kita juga bisa membaca artikel yang menjelaskan perihal adab persiapan dan ketika safar.

Anyway, saya menulis ini bertujuan untuk pengingat dan renungan saya pribadi yang sering lupa untuk bersyukur atas nikmat keselamatan dalam perjalanan yang dianugerahkan-Nya. Semoga kita semua bisa menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Gowes Hari Ini: Nyasar ke Moko Daweung

Awalnya cuma spontan saja sih. Pagi ada perlu sebentar di daerah Pasir Impun. Terus kepikiran kenapa nggak sekalian saja nggowes lewat bukit-bukit di sana mencari jalan tembusan ke Dago via Maribaya. Akhirnya dipilihlah rute Dago-Tubagus Ismail-Cikutra-Cicaheum-Ujung Berung-Pasir Impun-Maribaya. Perjalanan berangkat ini — kalau dilihat di Google Maps — jauhnya sekitar 15 km lebih.

Tahu sendirilah perjalanan dari Dago sampai Ujung Berung ini masih enak, soalnya jalannya memang jalan kota yang ramai dilalui kendaraan dan tracknya juga menurun. Setelah belok ke Pasir Impun, jalannya mulai menanjak. Semakin ke dalam, jalannya semakin menanjak terus. Jarang sekali jalan mendatar. Tekstur jalannya awalnya beraspal, tapi lama kelamaan jalan yang dilalui mulai berbatu-batu.

Setelah melalui SDN Cikawari (di Google Maps tertulis SDN Cikawao 03 itu salah), jalan yang dilalui mulai campuran antara jalan berbatu dan tanah. Mulai terlihat pemandangan bukit-bukit di sekitar. Bahkan, setelah menempuh beberapa ratus meter, pemandangan bukit dengan hutan hijau yang rapat tersaji dan sejenak aku bergumam dalam hati, “Wow, beneran nih aku harus menembus hutan ini?”

Peta rute

Peta rute

Kalau berdasarkan peta dari Google Maps itu, warna hijau-hijau itu ternyata memang menunjukkan kawasan hutan. Tapi sepertinya aku tak bisa memercayai sepenuhnya peta yang ditampilkan Google Maps. Seperti yang kubuatkan garisnya di gambar, walaupun sudah berusaha mengikuti jalan setapak yang ada, somehow aku keluar dari hutan dan bertemu pertigaan dengan ‘prasasti’ bertuliskan “Waroeng Daweung”.

Di pertigaan itu aku istirahat sebentar di toko salah satu warga sekalian membeli air minum di sana. Wow, secara kebetulan aku ‘nyasar’ sampai Waroeng Daweung. Padahal rencana awal mau menembus hutan-hutan itu untuk menyeberangi bukit menuju Maribaya. Sayang sekali GPS hpku tidak bekerja dengan baik ketika berada di dalam hutan. Aku kehilangan informasi di mana posisiku berada.

Nah jalan menuju Warung Daweung ini ternyata tak ada di dalam Google Maps (lihat garis merah yang kutandai di peta menuju Warung Daweung). Jalan di Warung Daweung ini sebenarnya buntu, sudah tak ada jalan lagi, kecuali pematang di antara ladang-ladang penduduk. Akhirnya aku memutuskan untuk melalui pematang yang ternyata jalannya mengarah menuju ke dalam hutan.

Di hutan ini aku benar-benar mengandalkan insting saja. Sudah nggak tahu lagi mana arah yang benar. Di hutan ini cukup banyak percabangan jalan. Sempat ketemu beberapa rombongan motor trail yang lagi off road di sana.

Setelah berjalan menyusuri dalam hutan, akhirnya bisa keluar juga dan mendapati ladang-ladang penduduk. Nama desanya Pamuncangan. Aku baru sadar aku telah salah mengambil jalan keluar di hutan. Pamuncangan ini kalau di peta sebenarnya sejajar dengan jalan menuju Moko Daweung. Artinya, aku masuk ke dalam hutan tadi hanya mengambil jalan memutar saja (lihat peta). Harusnya aku berjalan lurus menembus Maribaya.

Mau nggak mau perjalanan harus tetap dilanjutkan. Harus cari jalan lagi ke arah Maribaya, walaupun memutar. Sialnya, baterai hp sudah habis, aku tak bisa melihat peta lagi. Terpaksa benar-benar mengandalkan insting saja. Singkat cerita, setelah jauh-jauh mengayuh sepeda menaiki dan menuruni bukit, ternyata keluarnya di daerah Bojong Koneng. Glek! -_-

Ujung-ujungnya aku kembali lagi ke Cikutra. Tapi aku tetap bersyukur akhirnya menemukan jalan pulang, haha. Aku sempat kurang lebih 1-2 jam mengayuh sepeda dan don’t have a clue where I am actually.

Btw, aku sempat terjungkal dari sepeda ketika keluar dari hutan melalui jalan setapak berupa turunan yang sangat curam menuju Pamuncangan. Tekstur jalan setapak yang berupa tanah berpasir, membuat rem tidak bekerja dengan baik, dan sepeda meluncur dengan kencang. Sialnya tanahnya tidak rata sehingga membuatku susah mengontrol sepeda. Tahu-tahu aku sudah terjungkal saja dari sepeda.

Lutut berdarah tapi alhamdulillah hanya luka biasa. Tapi yang sakitnya masih terasa sampai sekarang adalah di daerah pinggang sisi sebelah kanan belakang. Sepertinya memar terkena benturan dengan batu sewaktu terjatuh. Mudah-mudahan segera hilang rasa sakit ini sehingga aku bisa ikut dua event lari dalam dua pekan yang akan mendatang. 😦

Lari Aja Bayar Mahal

Kemarin ada percakapan dengan teman-teman backpacker semasa kuliah di grup Whatsapp. Jadi awal mulanya aku ngepost tentang event lari yang bakal diadakan di Penang, Malaysia sono. Biaya registrasi larinya sih sekitar 200 ribu rupiah. Nggak jauh beda sebenarnya dengan yang biasa diadakan di Indonesia. Event lari sekarang kisarannya memang segitu. Yang kategori 10K saja rata-rata biayanya 150 ribu. Yang half marathon dan full marathon tentu lebih mahal lagi, apalagi kalau eventnya skala internasional.

Nah, setelah aku ngepost event lari di Penang itu ada teman menimpali, “Lari aja kok bayar sih, kenapa nggak lari-lari sendiri aja.” Kemudian ada teman yang menambahkan, “+1, lari aja bayar mahal.”

Terus terang sebenarnya aku juga setuju sama dua temanku ini. Olahraga lari sebenarnya olahraga paling murah dibandingkan jenis-jenis olahraga yang lain. Cuma modal badan aja sebenarnya sudah bisa lari. Kalau mau larinya lebih nyaman, paling pol cuma perlu ngeluarin biaya untuk beli sepatu lari. Trek lari? Jalan di sekitar kompleks tempat tinggal bisa dipakai. Atau kalau mau lebih aman, bisa di trek lari di taman kota atau stadion yang biaya masuknya biasanya cuma 1000-2000 rupiah saja. Maksimal 5000 mungkin. So, actually running is really (supposed to be) the cheapest sport!

Dua orang peserta sedang berlari

Event lari Bromo Marathon

Namun, kalau sudah bicara tentang event lari, tentu wajar sih jika calon peserta harus mengeluarkan uang untuk mengikuti suatu event lari. Sebab, dalam event yang melibatkan massa banyak seperti itu tentu tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, baik itu untuk dari sistem registrasinya yang menggunakan teknologi informasi, logistik untuk peserta (kaos, air mineral, pisang, dll), hingga pensterilan dan pengamanan jalan selama event dilangsungkan.

Tapi sering juga sih aku ketika membaca info event lari, terus kepikiran kok biaya registrasinya mahal-mahal ya sekarang. Memang kalau kita perhatikan, olahraga lari sekitar setahun belakangan ini sedang booming. Banyak komunitas lari di setiap kota, bahkan termasuk yang scope kecil seperti perusahaan atau kampus. Semakin ke sini, semakin banyak event lari bermunculan. Pesertanya pun juga semakin banyak. Hmm… apa karena itu ya kesannya EO-EO event lari sekarang jadi opportunis. Biaya registrasinya dinaikin, toh yang ikut bakal tetap banyak juga sih.

Sayangnya kebanyakan event lari itu di Jakarta sih. Di Bandung dalam setahun event lari bisa dihitung dengan jari. Nah, jadinya aku mau nggak mau harus selektif sih. Pilih event yang menguntungkan, gratis registrasi misalnya, atau dapat kulineran gratis (seperti di Mandiri Run), hehe. Atau event yang skalanya memang gede. Soalnya perlu ngitung ongkos perjalanan juga sih dari Bandung ke Jakarta :D.

Nah, sekarang pertanyaannya, kok (masih) mau-maunya sih ikut event lari yang harus bayar itu? Kalau aku ditanya seperti itu, jawabanku sederhana: challenge (tantangan). Memang sih aku bukanlah seorang atlet. Aku juga bukan mengincar peringkat 1, 2, dst agar bisa mendapat hadiah (yang rasanya juga merupakan mission impossible bersaing dengan mereka yang memang sudah atlet pro). Seperti yang sering aku post di tulisan tentang event lari yang kuikuti sebelumnya, challenge yang kumaksud itu adalah target pribadi saja. Bisa nggak (atau sejauh mana aku bisa) memperbaiki atau mempertahankan catatan lariku sebelumnya seiring bertambahnya usia, hehe.

Nah, kemampuan terbaik itu biasanya muncul ketika mengikuti event-event lari seperti itu. Di sana ada latihan mental juga sih kadang-kadang. Bisa nggak aku nggak down ketika melihat orang-orang yang lari lebih cepat dan menyalip dari belakang. Dan ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa memasuki garis finish setelah ‘menaklukkan’ rute yang sangat jauh.

» Bagaimana dengan Anda? Suka ikut event lari juga kah?

 

 

Wisuda Terakhir

Bandung, 19 Oktober 2013. Hari itu adalah hari wisuda pertama sarjana ITB tahun 2013/2014. Bagi angkatan 2007, wisuda hari itu adalah ‘kesempatan’ wisuda terakhir yang diberikan oleh ITB. Artinya, setelah ini tak ada lagi momen bagi kami untuk kembali ke kampus mengarak teman-teman angkatan yang diwisuda.

Momen wisuda selalu menjadi momen yang tempat bagi kami yang sudah berpencar di kota tempat bekerja masing-masing untuk bertemu, bercengkerama, saling bertukar cerita mengenai kesibukan masing-masing, dan ditutup dengan pergi kuliner bareng, futsal bersama, atau acara hiburan lainnya.

Momen wisuda kali ini benar-benar menjadi lonceng pertanda bahwa sudah 6 tahun berlalu sejak kami memasuki gerbang Ganesha untuk pertama kali. Oh, sungguh waktu terasa begitu cepat. Mungkin baru 4 tahun, 14 tahun yang akan datang atau lebih, kami baru berkumpul bersama lagi satu angkatan dalam sebuah tajuk “Temu Alumni”. Yah, semoga tidak selama itu. Semoga masih ada event dan kesempatan yang bisa mempertemukan kami beramai-ramai.

Well, selamat wisuda untuk teman-teman angkatan 2007. Semoga sukses di kehidupan berikutnya. 🙂

Bersama yang diwisuda

Bersama yang diwisuda

photo by Hafid (Image source: Facebook)

IF'07 Bersama ibu Kaprodi

IF’07 bersama ibu Kaprodi

photo by Edria (Image source: Facebook)