Tag Archives: running

PBIM 2014

Lari di Penang Bridge International Marathon 2014

Setelah tahun lalu gagal berpartisipasi, akhirnya tahun ini kesampaian juga lari di event Penang Bridge International Marathon (PBIM), pada tiga minggu yang lalu (18/11). Tahun ini PBIM bertempat di jembatan Penang yang baru, yakni jembatan Sultan Abdul Halim Muadzam Shah atau yang dikenal juga dengan Penang Second Bridge.

Aku tidak sendirian mengikuti PBIM ini. My running partner buddy, Khairul, juga ikut serta dalam event ini. Sebenarnya suatu hal yang tak disengaja dia ikut PBIM ini. Dia menggantikan teman kantornya yang tidak jadi ikut ambil bagian. Khairul juga yang mengambilkan racepack-ku di Queensbay Mall sebelum aku tiba di Penang. Kebetulan memang Khairul ini tengah bekerja di Penang. Kami berdua sama-sama ikut kategori Half Marathon Men’s Open.

Half Marathon Men’s Open ini mengambil start pukul 03.00 dini hari waktu setempat (GMT+8). Aku dan Khairul sudah tiba di lokasi sejak pukul 01.00. Aku datang ke lokasi event dengan menumpang free shuttle bus yang disediakan oleh panitia dari terminal KOMTAR. Aku datang lebih awal sebagai antisipasi seandainya terjadi antrian yang sangat panjang untuk menaiki free shuttle bus ini. Benar saja, aku sempat mengantri selama kurang lebih 15 menit sebelum bisa menaiki free shuttle bus itu.

Karena datang lebih awal, kami pun dapat menyaksikan pesta kembang api yang menandai dibukanya event PBIM 2014 ini. Pesta kembang api dilakukan beberapa saat sebelum start Full Marathon Men’s Open. Pesta kembang api berlangsung sekitar 10 menit.

Pesta kembang api

Pesta kembang api

Setelah pesta kembang api usai, start untuk kategori Full Marathon Men’s Open dilakukan tepat pada pukul 1.30. Setelahnya, berturut-turut dilakukan start untuk kategori Full Marathon Women’s Open pada pukul 1.45 dan Full Marathon Men & Women’s Veteran pada pukul 2.00.

Setengah jam sebelum start Half Marathon Men’s Open dimulai, MC acara sudah memanggil para peserta untuk berkumpul di belakang garis start. Beberapa pelari tampak melakukan pemanasan. Semakin mendekati pukul 3 pagi, jalan tempat akan dilangsungkannya start semakin padat. Sepuluh ribu orang lebih sepertinya. Well, FYI, jumlah peserta yang tercatat mengikuti PBIM 2014 ini secara keseluruhan mencapai 60 ribuan orang.

Khairul sebelum start lari

Khairul sebelum start lari

Pukul 3 lewat 5 menit start Half Marathon Men’s Open pun dimulai, terlambat 5 menit dari yang dijadwalkan. Sekitar 200 meter pertama, aku hanya bisa berlari kecil-kecil karena Continue reading

Lari Aja Bayar Mahal

Kemarin ada percakapan dengan teman-teman backpacker semasa kuliah di grup Whatsapp. Jadi awal mulanya aku ngepost tentang event lari yang bakal diadakan di Penang, Malaysia sono. Biaya registrasi larinya sih sekitar 200 ribu rupiah. Nggak jauh beda sebenarnya dengan yang biasa diadakan di Indonesia. Event lari sekarang kisarannya memang segitu. Yang kategori 10K saja rata-rata biayanya 150 ribu. Yang half marathon dan full marathon tentu lebih mahal lagi, apalagi kalau eventnya skala internasional.

Nah, setelah aku ngepost event lari di Penang itu ada teman menimpali, “Lari aja kok bayar sih, kenapa nggak lari-lari sendiri aja.” Kemudian ada teman yang menambahkan, “+1, lari aja bayar mahal.”

Terus terang sebenarnya aku juga setuju sama dua temanku ini. Olahraga lari sebenarnya olahraga paling murah dibandingkan jenis-jenis olahraga yang lain. Cuma modal badan aja sebenarnya sudah bisa lari. Kalau mau larinya lebih nyaman, paling pol cuma perlu ngeluarin biaya untuk beli sepatu lari. Trek lari? Jalan di sekitar kompleks tempat tinggal bisa dipakai. Atau kalau mau lebih aman, bisa di trek lari di taman kota atau stadion yang biaya masuknya biasanya cuma 1000-2000 rupiah saja. Maksimal 5000 mungkin. So, actually running is really (supposed to be) the cheapest sport!

Dua orang peserta sedang berlari

Event lari Bromo Marathon

Namun, kalau sudah bicara tentang event lari, tentu wajar sih jika calon peserta harus mengeluarkan uang untuk mengikuti suatu event lari. Sebab, dalam event yang melibatkan massa banyak seperti itu tentu tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, baik itu untuk dari sistem registrasinya yang menggunakan teknologi informasi, logistik untuk peserta (kaos, air mineral, pisang, dll), hingga pensterilan dan pengamanan jalan selama event dilangsungkan.

Tapi sering juga sih aku ketika membaca info event lari, terus kepikiran kok biaya registrasinya mahal-mahal ya sekarang. Memang kalau kita perhatikan, olahraga lari sekitar setahun belakangan ini sedang booming. Banyak komunitas lari di setiap kota, bahkan termasuk yang scope kecil seperti perusahaan atau kampus. Semakin ke sini, semakin banyak event lari bermunculan. Pesertanya pun juga semakin banyak. Hmm… apa karena itu ya kesannya EO-EO event lari sekarang jadi opportunis. Biaya registrasinya dinaikin, toh yang ikut bakal tetap banyak juga sih.

Sayangnya kebanyakan event lari itu di Jakarta sih. Di Bandung dalam setahun event lari bisa dihitung dengan jari. Nah, jadinya aku mau nggak mau harus selektif sih. Pilih event yang menguntungkan, gratis registrasi misalnya, atau dapat kulineran gratis (seperti di Mandiri Run), hehe. Atau event yang skalanya memang gede. Soalnya perlu ngitung ongkos perjalanan juga sih dari Bandung ke Jakarta :D.

Nah, sekarang pertanyaannya, kok (masih) mau-maunya sih ikut event lari yang harus bayar itu? Kalau aku ditanya seperti itu, jawabanku sederhana: challenge (tantangan). Memang sih aku bukanlah seorang atlet. Aku juga bukan mengincar peringkat 1, 2, dst agar bisa mendapat hadiah (yang rasanya juga merupakan mission impossible bersaing dengan mereka yang memang sudah atlet pro). Seperti yang sering aku post di tulisan tentang event lari yang kuikuti sebelumnya, challenge yang kumaksud itu adalah target pribadi saja. Bisa nggak (atau sejauh mana aku bisa) memperbaiki atau mempertahankan catatan lariku sebelumnya seiring bertambahnya usia, hehe.

Nah, kemampuan terbaik itu biasanya muncul ketika mengikuti event-event lari seperti itu. Di sana ada latihan mental juga sih kadang-kadang. Bisa nggak aku nggak down ketika melihat orang-orang yang lari lebih cepat dan menyalip dari belakang. Dan ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa memasuki garis finish setelah ‘menaklukkan’ rute yang sangat jauh.

» Bagaimana dengan Anda? Suka ikut event lari juga kah?

 

 

Ikutan Mandiri Run

Pada hari Minggu kemarin (26/05) aku berpartisipasi dalam event lari Mandiri Run yang mengambil garis start dan finish di Senayan City, Jakarta. Ini kali kedua aku mengikuti event lari yang diadakan oleh Bank Mandiri. Yang pertama diadakan pada bulan Oktober tahun lalu (baca artikelnya di sini) dalam rangka ulang tahun Bank Mandiri. Pada tahun ini entah kenapa jadwal pelaksanaannya menjadi lebih maju.

Sama seperti tahun lalu, aku dan Khairul mendaftar pada kategori lari 10 KM. Rutenya hampir sama seperti tahun lalu, bedanya hanya lokasi garis start dan finish saja. Menurut data terakhir yang diumumkan oleh situs panitia Mandiri Run di sini, jumlah peserta lari 10 K adalah 653 orang.

Start lari tepat dilakukan pada pukul 6.30. Aku mengawali lari dengan pace yang tak sebagus tahun lalu. Di KM 3 kaki sudah terasa berat. Sepertinya karena akumulasi fatigue efek lari 10 K yang kulakukan 3 hari sebelumnya, main futsal pada hari Jumat, dan jalan kaki 2 kali bolak-balik menyusuri koridor busway Semanggi yang memang cukup panjang sehari sebelumnya. Haha… #alibi.

Menjelang start

Menjelang start

Dalam race kemarin aku berhasil mencatatkan pace 5’18” (5:18 menit/km). Sebenarnya itu sudah di atas pace rata-rata keseharianku tiap lari pagi di trek Saraga (Sasana Olahraga Ganesha) yang biasanya cuma sekitar 5 menit 20-an detik per km. Pace terbaik yang pernah kucatat masih di angka 4’55” saat Mandiri Run tahun lalu. Sesuatu yang belum pernah kucapai kembali. Bahkan, untuk sekedar berada di bawah 5’1”.

Namun, ada hal yang mengusik perhatianku dalam race kemarin. Total jarak yang kutempuh menurut catatan aplikasi Runkeeper yang kugunakan adalah 9.15 KM. Not even close to 10 KM!! Aku sempat berpikir jangan-jangan aku salah mengambil jalur lari. Tapi ternyata tidak hanya aku yang menyadari hal tersebut. Beberapa pelari lain pun juga mengeluhkan hal yang sama. Pantas saja, dalam waktu 48’26” aku sudah berhasil finish. Biasanya sih di kisaran 55 menitan aku baru finish 10 KM. Oh ternyata…

Pembagian air mineral dan pisang

Pembagian air mineral dan pisang sesudah lari

Sekarang tinggal menunggu hasil resmi dari panitia. Untuk hasil mentahnya sih, sudah bisa dilihat di sini sebenarnya » http://202.146.227.19/marathonapp/rpt_result_komersil.aspx. Namun belum diurutkan berdasarkan peringkat finish-nya.

Mengenai target pribadi… sebenarnya untuk event kali ini sih aku menargetkan dapat memperbaiki peringkat tahun lalu (peringkat 101). Tapi melihat kenyataan pace yang turun jauh, sulit sepertinya untuk bisa masuk 100 besar :(. Mungkin karena faktor usia, hehe.

Di event kemarin aku sempat bertemu dengan beberapa teman seangkatan sesama jurusan IF/STI. Bahkan, ada juga adik angkatan yang ikut. Ternyata di IF/STI ini cukup banyak juga yang menggemari olahraga lari ini, bahkan sampai ikutan race-nya. 😀

Bersama teman-teman IF/STI

Bersama teman-teman IF/STI (photo by Khairul)

Selain lari, di event Mandiri Run ini juga ada festival kuliner nusantara. Setiap finisher mendapatkan voucher Rp 50.000 untuk menikmati makanan/minuman yang diperjualbelikan di festival. Uniknya voucher itu dibagikan dalam bentuk gelang e-money. 

Di festival kuliner itu aku sempat mencoba bakso Malang, sate padang, dan pempek palembang, serta membeli minuman air mineral 1 botol, kopiko 2 botol, dan 1 botol teh pucuk harum. Eh, segitu masih tersisa sekitar 10 ribuan, haha. Wah, nggak sehat ini, habis lari makannya tetap nggak terkontrol, hehe. 😀

Lari di #Mandiri4Nation

Akhirnya setelah beberapa tahun, aku ikutan lomba lari 10K lagi. Terakhir kali aku ikut lomba lari adalah pada saat SMP kelas 3. Saat itu aku ikutan kategori 10K Marathon Nasional Malang (MNM) dan finish 20 besar di tingkat sekolah.

Setelah 8 tahun berselang aku ikutan lari 10K lagi di Jakarta dalam event “Mandiri Run For Our Nation” tanggal 7 Oktober 2012 baru saja ini. Sebenarnya selama ini aku menjadikan lari cuma sebagai hobi saja. Tak pernah terpikir untuk ikutan lomba atau semacamnya. Tapi berhubung akhirnya ada seorang teman — Khairul — yang mengajak untuk ikutan event lomba lari ini, tanpa pikir panjang aku mengiyakan ajakan itu.

Sebelumnya dia sempat mengajak ikutan lari di Adidas King of The Road dan Jakarta Marathon pada bulan yang lalu. Tapi ternyata pendaftaran sudah ditutup dan ada bentrok dengan jadwal yang lain. Namun kali ini konkret juga akhirnya.

#mandiri4nation

#mandiri4nation

Jadilah event #Mandiri4Nation ini menjadi ajang comeback — yoii… bahasanya — setelah 8 tahun absen dari ajang lomba lari. Awalnya nggak yakin juga sewaktu mendaftar kategori 10K. Biasanya tiap lari sendirian, bisa dapat 5K saja sudah luar biasa, haha.

Tapi alhamdulillah, selama sebulan belakangan ini semenjak libur lebaran bisa rutin lari dengan jarak tempuh rata-rata 4-5 Km. Bahkan, dua hari sebelum perlombaan, aku memaksa latihan lari di lapangan SARAGA hingga mencapai jarak minimal 10K. Nggak nyangka sanggup juga menyelesaikan jarak tempuh 10,18 Km dalam waktu 55:32.

Catatan itu lumayan memberi kepercayaan diri buat lomba dua hari berikutnya. Target sih nggak muluk-muluk. Bisa finish 10K dalam waktu kurang dari sejam.

Sempat khawatir juga sih aku bakal kehabisan tenaga di tengah perlombaan. Soalnya dalam perjalanan menuju ke tempat lomba, aku dan Khairul sempat harus berjalan kaki setidaknya ada minimal 1K gara-gara harus memutar dari belakang gedung JCC menuju tempat garis start.

Alhamdulillah ternyata kekhawatiran itu tak terbukti. Bahkan, aku bisa memperbaiki catatan waktuku di latihan 2 hari sebelumnya. Menurut catatan aplikasi Runkeeper yang kugunakan, aku menempuh jarak 10,60 Km dalam waktu 52:02.

Sampai saat ini aku juga masih menunggu catatan waktu dari panitia yang katanya akan segera dirilis sesudah perlombaan di sini. Tapi faktanya sampai tulisan ini kubuat, belum dirilis juga. Begitu pula foto-foto selama lomba.

Seru juga ternyata ikut lomba lari itu. Adalah kepuasan tersendiri ketika bisa menyalip beberapa orang di depan. Aku salut juga sama beberapa cewek yang konsisten lari hingga 10K tanpa pernah berhenti. Kuat sekali mereka.

Setelah perlombaan, semua peserta lari mendapat kartu prabayar Mandiri E-Toll dengan saldo 50.000. Lumayan … bisa makan ‘gratis’ di food court di arena acara #Mandiri4Nation dengan kartu itu, hahaha. 😀

Hore, finish....!

Hore, finish….!

Gerbang Finish

Timer

Khairul & Neo

Khairul & Neo

Running With Runkeeper

Baru sekitar sebulan ini aku menggunakan aplikasi Android Runkeeper. Boleh dibilang telat sih aku tahu aplikasi ini. Runkeeper ini adalah salah satu aplikasi sport tracker yang tersedia di Android dan juga beberapa platform mobile yang lain. 

Sebelumnya pernah pasang aplikasi Endomondo, tapi belum pernah sampai mencobanya untuk tracking lari beneran. Paling-paling cuma buat tracking sewaktu lagi jalan kaki atau saat badminton, hahaha.

Akhirnya aku iseng cari-cari aplikasi sejenis sport tracker di Google Play Store yang banyak penggunanya. Di sana aku menemukan aplikasi Runkeeper ini.

Asyik juga pakai aplikasi ini. Ada fitur social connect ke banyak aplikasi social media seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Google, dll. Bandingkan dengan Endomondo yang setahuku hanya menyediakan connect to Facebook

Ketika kita menghubungkan Runkeeper ke Foursquare, setelah melalui beberapa kali lari kita akan mendapatkan badge warming up. Terus, kalau kita bisa menyelesaikan lari 5 KM akan dapat badge 5 KM, dst. Memang sih, bagi sebagian orang pasti berpikir, buat apa sih memang badge-badge semacam itu. Nggak ada gunanya kali. Memang benar sih. Tapi bagiku itu kujadikan semacam milestone untuk memotivasi bahwa lari hari ini harus baik dari lari-lari sebelumnya, hahaha.

Screenshot aplikasi Runkeeper di Android

Screenshot aplikasi Runkeeper di Android

Di Runkeeper itu sendiri kita juga bisa merancang goal alias target yang ingin kita capai dalam batas waktu yang bisa kita tentukan. Misal, saya harus menyelesaikan total jarak lari 30 KM dalam sebulan, atau saya harus mampu lari dalam jarak minimal 10 KM dalam waktu sebulan ini, atau saya harus mengikuti satu perlombaan lari 10 KM dalam sebulan ini, dll. Jika bisa mencapainya tentu akan menjadi kepuasan pribadi.

Nah, terkait dengan lomba lari, kita juga bisa mendaftarkan nama event lomba lari yang kita ikuti ke situs Runkeeper. Bisa kita sendiri yang buat, atau orang lain. Di aplikasi kita bakal ada semacam countdown menuju hari dan waktu perlombaan. Setelah itu, aktivitas perlombaan kita pun juga akan di-tracking. Kita bisa tahu siapa saja pengguna Runkeeper yang sedang mengikuti lomba lari itu bersama kita.

Lapangan SARAGA, tempat favoritku untuk lari

Lapangan SARAGA, tempat favoritku untuk lari

Oh ya, satu lagi … apabila kita menghubungkan akun Runkeeper kita dengan Twitter, kita juga akan terdaftar di situs http://world-rank.in (akun Twitter: @world_rankin). Itu adalah sebuah situs yang membuat pemeringkatan orang-orang di seluruh dunia yang lari (atau olahraga lain) dengan menggunakan Runkeeper berdasarkan akumulasi jumlah jarak lari selama sebulan. Contohnya aku nih, yang mendapatkan rank page di sini » http://world-rank.in/rank/muhdhito, hehehe.

Recommended bangetlah aplikasi ini. Dulu saya hobi lari. Tapi sejak kenal aplikasi Runkeeper, saya jadi semakin rajin berlari. Terima kasih Runkeeper! You’ve really motivated me to run more! 😀

#bukanpromosi