Category Archives: Traveling

Catatan Perjalanan Tur ke Sukabumi & Ciamis (Day 2) : Jalan-Jalan di Ujung Genteng

Sekitar pukul 5 subuh suara alarm handphone anak-anak meraung-raung. Aku pun terbangun pagi itu oleh suara alarm mereka. Seketika itu aku langsung beranjak ke kamar mandi dan mengambil air wudlu kemudian menunaikan sholat Subuh. Iseng-iseng ketika sebagian teman lagi tidur, kuambil foto mereka, hihihi. Maaf, fotonya agak buram. 😀

Teman-teman lagi tidur

Teman-teman lagi tidur

Ketika langit mulai terang, sekitar pukul 7 pagi, aku bersama sebagian teman-teman pergi ke pasar untuk membeli kebutuhan untuk sarapan. Kami berbelanja barang kebutuhan tersebut di Pasar Surade. Kami cuma membeli telor 1 kg, mie telor 2 bungkus, beras 5 kg, minyak goreng, dan cabe rawit.

Selesai berbelanja di pasar, kami kembali lagi ke tempat penginapan. Bahan-bahan makanan itu kami serahkan ke bibi dan nenek di dapur tempat penginapan ini. Oiya, perlu diketahui, nenek tersebut masih ada hubungan keluarga dengan Adi. Jadilah pagi itu kami sarapan dengan menu buatan neneknya Adi itu. Mau tahu rasanya? Hmm… Enak tenan. Apalagi sambalnya yang pedes-pedes gimana gitu, bikin kami ketagihan :D. Kalau tidak salah, namanya sambal Jampang. CMIIW.

Suasana sarapan pagi saat itu benar-benar menyenangkan. Kami sambil duduk lesehan mengitari lauk pauk dan nasi. Suasana desa begitu kental terasa. Apalagi menu yang kami makan itu dimasak dengan menggunakan arang. Jadi ingat suasana keluarga besar dari Bapak. Benar-benar guyublah pokoknya saat itu.

Sarapan pagi

Sarapan pagi

Setelah semuanya selesai sarapan dan mandi, kami langsung bersiap-siap untuk memulai jalan-jalan hari itu. Tujuan pertama kami adalah Curug Cikaso, wisata air terjun yang banyak orang menyebutnya sebagai “Niagara”-nya Indonesia. Retribusi untuk masuk kawasan wisata ini adalah sebesar Rp5.000 per orang.

Untuk mencapai lokasi air terjunnya, kami harus menyusuri areal persawahan dan lapangan ilalang terlebih dahulu. Begitu sampai di lokasi, Subhanallah… terus terang aku terkagum-kagum melihat keindahan panorama yang tersaji di hadapanku saat itu. Aku dan teman-teman sudah tak sabar untuk mengambil gambar-gambar di lokasi Curug Cikaso itu. Mungkin ini adalah air terjun terindah yang pernah kusaksikan. Di Malang seingatku aku pernah berkunjung ke wisata air terjun Coban Rondo dan Coban Manten. Kedua coban itu masih belum bisa mengalahkan indahnya panorama Curug Cikaso ini.

Rasanya ada yang kurang kalau ke tempat wisata air terjun tapi kita nggak ikut nyebur ke dalamnya. Begitu puas memotret pemandangan alam yang indah itu, aku langsung menyusul teman-teman menceburkan diri ke dalam sungai di bawah air terjun itu. Kami puas-puaskan bermain air di bawah rintikan air terjun itu sambil berfoto-foto. Rasanya benar-benar puas karena Curug Cikaso saat itu memang menjadi milik kami. Tidak ada pengunjung lain selain kami dan anak-anak kecil penduduk sekitar yang bermain-main di sana.

Berjalan menuju lokasi Curug Cikaso

Berjalan menuju lokasi Curug Cikaso

Curug Cikaso

Curug Cikaso

Main air di Curug Cikaso

Main air di Curug Cikaso

Foto komplit di Curug Cikaso

Foto komplit di Curug Cikaso

Puas bermain-main di Curug Cikaso, tepat adzan Dhuhur kami bersiap-siap untuk kembali ke penginapan lagi. Yap, kami berencana untuk beristirahat barang sejam di penginapan sembari menyiapkan kebutuhan untuk acara ke pantai ujung genteng dan sekitarnya sore hingga malam harinya. Kebutuhan yang dipersiapkan itu antara lain, nasi kurang lebih untuk 13 orang, sambal, bumbu masakan, pisau, kayu bakar, minyak tanah, dsb. Dari rupa-rupa barang yang kami bawa tampaknya sudah kelihatan kami mau ngapain. Benar sekali, kami berencana bakar-bakar ikan di pinggir pantai sekaligus makan malam di sana. Untuk ikan, kami berencana membelinya di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Genteng pada sore harinya.

Jadilah siang itu kami berangkat menuju ke Ujung Genteng. Perjalanan menuju ke sana cukup lama, sekitar sejam. Namun, sebelum ke pantai Ujung Genteng, kami singgah dulu di kawasan semacam resort, namanya “villa Amanda Ratu”. Di sana kami cuma mampir untuk foto-foto saja. Ya, biar kesannya kalau orang lihat, kami kelihatan habis menginap di sana, hehehe.

Oiya, di dekat kawasan villa Amanda Ratu ini terdapat sebuah bongkahan batu besar, mirip seperti yang terdapat di Tanah Lot, Bali. Oleh karena itu, kata Adi, objek tersebut sering disebut dengan “Tanah Lot-nya Sukabumi”. Bedanya, kalau “Tanah Lot” yang ini nggak ada pura di atas bongkahan batu besarnya itu. Selain itu, “Tanah Lot” yang satu ini menjadi tempat muara sungai besar yang ada di sana sehingga warna air lautnya pun agak bercampur dengan warna air sungai yang cokelat.

Bergaya di Villa Amanda Ratu

Bergaya di Villa Amanda Ratu

Tanah Lot-nya Sukabumi

Tanah Lot-nya Sukabumi

Tidak lama kami berada di villa Amanda Ratu itu karena sebenarnya tujuan yang satu ini tidak masuk dalam agenda kami. Kami pun melanjutkan perjalanan lagi ke arah selatan menuju pantai Ujung Genteng. Ada dua portal yang harus dilalui menuju ke sana. keduanya meminta retribusi Rp25.000 per mobil yang melintas masuk.

Kesan yang kami dapat saat berada di Ujung Genteng ini adalah pantai ini masih sangat alami. Banyak bebatuan karang dan kehidupan biota laut yang terdapat di sekitaran pantai itu yang bisa kita amati. Suasana pantai pada sore hari itu juga tidak ramai. Hanya ada beberapa wisatawan saja yang mengunjungi pantai ini yang bisa dihitung dengan jari.

Perlu diketahui, posisi pantai di Ujung Genteng itu tidak langsung berbatasan dengan laut lepas di mana di hadapan pantai tersebut terdapat “genangan” air yang di dalamnya terdapat karang dan hewan laut lainnya seperti yang kami temui itu ada terong laut, bulu babi, landak laut, kepiting, dsb. Di Ujung Genteng ini juga terdapat bekas bangunan yang sudah roboh, yang kalau tidak salah bekas benteng (atau pelabuhan?) zaman Belanda dulu.

pantai Ujung Genteng

pantai Ujung Genteng

"Genangan air laut" Ujung Genteng

"Genangan air laut" Ujung Genteng

Biota laut di Ujung Genteng

Biota laut di Ujung Genteng

Pantai Ujung Genteng bukanlah persinggahan terakhir kami untuk menghabiskan sore hari itu. Dari Pantai Ujung Genteng kami beranjak pergi menuju Pantai Pangumbahan. Tetapi sebelumnya, kami mampir dulu ke Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Ujung Genteng yang berada tidak jauh dari pantai. Kami membeli ikan bawal segar sejumlah 2 kg dengan harga Rp25.000 per kg. Ikan-ikan tersebut rencananya akan kami bakar sebagai lauk makan malam nantinya.

Dari TPI kami berjalan lagi menuju Pantai Pangumbahan. Jalan yang dilalui benar-benar seperti medan off road. Jalan tersebut bukan berupa aspal, melainkan tanah pantai yang kadang-kadang terdapat genangan air laut di atasnya. Belum lagi di beberapa tempat kanan-kiri jalan terdapat banyak semak belukar. Di tengah jalan menuju Pangumbahan kami (lagi-lagi) mampir di Pantai Cibuaya untuk sekedar berfoto-foto ria. Habisnya pemandangan di pantai itu bagus sih, sehingga menggoda kami untuk berfoto di tempat tersebut.

Foto bareng di pantai Cibuaya

Foto bareng di pantai Cibuaya

Cuma sebentar kami berada di Pantai Cibuaya itu. Kemudian kami melanjutkan perjalanan kembali. Tak lama waktu untuk mencapai Pantai Pangumbahan. Kira-kira 15 menit kemudian kami sudah sampai.

Pantai Pangumbahan merupakan pantai yang dijadikan sebagai salah satu tempat perlindungan dan budidaya penyu di Indonesia. Di area pantai ini dibuatkan tempat penangkaran untuk penyu. Tujuannya adalah penyu-penyu dapat bertelur dengan aman dan berkembang biak dengan lancar, menghindarkan dari tangan-tangan jahil yang memburunya.

Nah, pada sore hari itu, tepat pukul 17.30 diadakan pelepasan penyu-penyu mungil ke lautan. Acara pelepasan penyu ini diadakan setiap hari pada waktu sore, dan pengunjung yang hadir bisa ikut berpartisipasi di dalamnya dengan membantu pelepasan penyu ini. Sebenarnya ada acara lain yang bisa kita ikuti juga, yaitu melihat penyu bertelur. Sayangnya kalau yang satu ini tidak ada jadwal rutinnya alias tidak bisa dipastikan waktunya :P.

Sore itu, kami juga tidak ketinggalan dalam menyemarakkan acara pelepasan penyu-penyu mungil itu ke laut. Kami masing-masing setidaknya dapat satu jatah penyu kecil untuk dipegang kemudian dilepaskan bebarengan ke pantai. Selanjutnya penyu-penyu tersebut akan terseret air laut kemudian hidup bebas di dalam lautan luas sana.

Neo dan Haryus bawa penyu

Neo dan Haryus bawa penyu

Penyu merambat menuju laut

Penyu merambat menuju laut

Tak terasa, ufuk merah di ujung langit barat sana mulai tampak. Artinya waktu senja sudah mulai tiba. Matahari pun secara perlahan tampak tertelan oleh batas cakrawala. Kesempatan melihat pemandangan sunset yang mempesona tersebut tidak kami sia-siakan dan kami abadikan dengan memotretnya.

Sunset di Pantai Pangumbahan

Sunset di Pantai Pangumbahan

Langit senja di Pangumbahan

Langit senja di Pangumbahan

Dari Pantai Pangumbahan, berikutnya kami beranjak kembali menuju ke Pantai Cibuya. Tempat itulah yang kami pilih untuk melaksanakan acara api unggun atau bakar-bakar ikan sekaligus makan malam. Tentunya setelah mendapatkan izin dari warga sekitar.

Langit pada maghrib kala itu tampak mendung pertanda hujan tidak lama lagi akan turun. Saat kami menyiapkan api unggun pun sebenarnya sempat beberapa kali turun hujan rintik-rintik kecil. Tapi itu cuma sebentar saja sehingga tidak sampai mengganggu jalannya acara kami. So, acara bakar-bakar ikan pun terus berjalan.

Cahaya api unggun pun menerangi malam yang gelap di pinggir pantai kala itu. Malam yang dingin pun turut terminimalisasi dengan panas yang dihasilkan api unggun tersebut. Begitu semua ikan selesai dibakar, kami langsung bersantap bebarengan dengan menu nasi plus lauk ikan bakar dan sambel jampang yang enak dan pedasnya bikin nagih. Nasi dan ikan bakar itu kami sajikan di atas gelaran kertas pangsit (kertas yang biasa digunakan untuk membungkus makanan) yang ditata secara memanjang laiknya meja makan. Masing-masing orang mengambil posisi di sepanjang gelaran tersebut menghadap ke arah makanan yang tersaji. Suasana makan malam saat itu benar-benar terasa guyub. Penuh dengan kesederhanaan dibalut dengan suasana kekeluargaan pula.

Selesai santap malam, sisa-sisa makanan dan bungkusan lainnya tidak lupa kami bereskan agar tidak meninggalkan sampah di pantai Cibuaya tersebut. Selesai beres-beres, kami tidak langsung pulang, tetapi menikmati sisa api unggun yang masih menyala itu dan mengisi malam itu dengan bernyanyi bersama-sama menyanyikan lagu-lagu jadul ketika kami masih zaman SMP dan SMA dulu, hihihi. Walaupun suara kami fals, tapi tidak mengurangi asyiknya malam itu :P.

Bakar-bakar ikan

Bakar-bakar ikan

Ikan bakar. Hmm... harumnya... :)

Ikan bakar. Hmm... harumnya... 🙂

Makan malam bareng

Makan malam bareng

Nyanyi bareng

Nyanyi bareng

Tiba-tiba beberapa menit kemudian hujan deras mulai turun. Kami pun balik segera balik ke mobil sambil membereskan barang-barang yang kami keluarkan di pantai. Lalu kami langsung cabut kembali ke tempat penginapan. Akan tetapi, karena langit gelap dan tidak terdapat cukup penerangan di daerah sekitar pantai itu, mobil kami sempat nyasar ke daerah pantai yang banyak bebatuan di sana alias jalan buntu. Kami pun harus putar balik mobil. Namun, karena jalan pantai tersebut terdapat bebatuan yang cukup besar, kami pun benar-benar berhati-hati dalam memutar balik mobil kami tersebut. Sementara itu, hujan deras terus mengguyur kawasan pantai ketika itu. Jarak mobil terhadap garis pantai juga sangat dekat, kurang lebih ada 1-2 meter. Permukaan air laut kelihatan sedikit demi sedikit mengalami kenaikan. Kami sepakat, suasana saat itu terasa agak horor seperti di film-film :D. Langit gelap, hujan deras mengguyur, air laut yang nyaris meluap, dsb. Ada sekitar 15-20 menit kami berusaha memutar mobil ke arah sebaliknya. Akhirnya, usaha kami berhasil dan selanjutnya kami dapat menemukan kembali jalan yang benar. Kami pun melanjutkan perjalanan pulang lagi. Alhamdulillah, satu jam kemudian kami semua akhirnya sampai di tempat penginapan dengan selamat :D.

Catatan Perjalanan Tur ke Sukabumi & Ciamis (Day 1) : Perjalanan Dimulai

Latar Belakang Perjalanan

Ide awal rencana jalan-jalan ini sebenarnya sudah tercetus sejak kami (aku, Neo, Khairul, dan Kamal) kembali dari jalan-jalan ke Bali-Malang-Jogja akhir tahun 2010 atau sekitar 3 bulan yang lalu. Kami berniat untuk mengadakan backpacking lagi ke tempat lain di Indonesia. Muncullah wacana suatu saat kami akan berjalan-jalan lagi ke objek wisata alam di Jawa Barat, Lombok, Rajaampat Papua, Sulawesi, dan Sumatra. Wacana ini kami gulirkan ke teman-teman yang lain.

Kebetulan ketika itu aku sedang baca-baca post di forum Traveller-nya Kaskus. Aku melihat cerita-cerita perjalanan anak-anak Kaskus ke Sukabumi dan Green Canyon, Ciamis. Khusus Green Canyon, jujur aku baru tahu ada tempat seindah itu ketika membaca postingan di Kaskus itu. Aku pun mengusulkan Green Canyon jadi objek alam wajib yang harus dikunjungi pada kesempatan jalan-jalan berikutnya. Akhirnya, anak-anak memang memilih Sukabumi dan Ciamis sebagai tujuan jalan-jalan berikutnya. Kebetulan ada dua orang teman yang masing-masing memiliki villa/rumah yang bisa ditinggali di dua kota itu. Lumayan kan bisa menghemat pengeluaran :D. Waktu yang dipatok sudah jelas, yakni sehabis UTS, tepatnya hari Jumat-Senin.

Persiapan Perjalanan

Mulailah teman-teman di-invite via Facebook dengan membuat note dan ajakan secara langsung. Run down dan anggaran biaya juga sudah disusun dalam note itu. H-2 sebelum perjalanan kami semua berkumpul di Padepokan Sandal36B (Sebutan untuk kontrakanku, hehehe) membahas persiapan jalan-jalan dan mem-fix-kan semua rencana yang sudah disusun, termasuk daftar orang yang ikut. Semuanya memang harus dipersiapkan secara matang karena perjalanan ini melibatkan banyak orang dan juga waktu yang terbatas. Perjalan kali ini kami beri code name “Tour D’Jabar” (walaupun sebenarnya cuma dua kota saja yang dikunjungi, hehehe).

Rapat persiapan @ Sandal36B House

Rapat persiapan @ Padepokan Sandal36B

Perjalanan Pun Dimulai

Sore itu (Jumat, 18 Maret 2011) sebagian anak-anak Informatika ITB sedang menghadapi UTS Sosioteknologi Informasi, termasuk aku dan beberapa teman pasukan perjalanan Tour D’Jabar. Entah kerasukan apa aku saat itu, ujian yang sebenarnya dijatah waktu 2 jam itu, hanya 50 menit saja waktu yang kuhabiskan untuk mengerjakan soal-soal yang diberikan itu. Maklum, ujiannya hafalan banget soalnya. Meskipun demikian, aku bukanlah yang pertama keluar dari ruang kelas saat ujian itu. Sudah ada belasan anak yang selesai sebelum aku.

Begitu kelar ujian, aku langsung cabut balik ke kontrakan mengambil barang-barang yang sudah kusiapkan untuk jalan-jalan. Bersama Adi, Kamal, dan Pras, kami berangkat bareng-bareng dari kontrakan menuju gerbang depan kampus, tempat kami berkumpul.

Kami tiba di gerbang depan kampus sekitar pukul 17.15. Tapi tidak ada tanda-tanda pasukan yang lain berkumpul di situ. Setelah dicari-cari ternyata sebagian pasukan yang lain sudah menunggu di bawah jam ITB, sementara sebagian yang lain sedang berada di tempat rental menunggu mobil yang akan disewa dikembalikan penyewa sebelumnya. Yang jelas rencana keberangkatan kami yang dijadwalkan pada pukul 17.30 berantakan gara-gara penyewa mobil sebelumnya telat mengembalikan. Kami baru bisa berangkat saat jam menunjukkan pukul 20.15.

Walaupun telat, antusiasme teman-teman tetap tinggi mengikuti perjalanan ini. Tujuan kami malam itu adalah sampai di rumah penginapan kami di Surade, Kabupaten Sukabumi. Perjalanan kami menuju Surade memakan waktu sekitar 5 jam lebih.Jalan yang kami lalui tidak selamanya mulus. Saat memasuki petak jalan menuju Surade, ada beberapa teman kami menjadi korban mengalami mual-mual malam itu, bahkan hingga muntah. Maklum, jalan yang dilalui berkelak-kelok dan aspal jalan yang sangat jelek, banyak lubang di mana-mana.

Oiya, di tengah perjalanan itu kami menyempatkan untuk mampir makan malam di rumah makan di Cianjur. Ngomong-ngomong, enak euy sate Maranggi yang kami santap saat makan malam itu. Sebandinglah sama harganya, haha.

Makan malam di Cianjur

Makan malam di Cianjur

Kami sampai di tempat penginapan sekitar pukul satu malam lebih. Rasanya benar-benar lega saat itu. Tempatnya juga benar-benar nyaman, menggoda kami untuk segera pergi tidur malam itu. Kata “nyaman” di sini jangan dibayangkan di sana kami semua tidur di atas tempat tidur yang empuk atau mendapatkan fasilitas yang wah. Walaupun kami tidur beralaskan karpet dan harus tidur berjejer-jejer bagaikan barisan ikan pindang dijemur, kami sudah cukup senang. Karena di sanalah rasa kekeluargaan kami benar-benar terasa. Kalau orang Jawa bilang, “makan nggak makan, yang penting ngumpul” rasanya memang pas dengan kondisi kami saat itu.

Nah, supaya Anda-anda tidak bertanya-tanya siapa sih orang yang disebutkan dalam tulisanku ini, sekarang akan saya perkenalkan masing-masing orang tersebut berikut ini:

Pasukan komplit

Pasukan komplit

Dari kiri ke kanan :

  1. Pras : cah Lamongan, temanku  satu SMA dulu, satu-satunya peserta jalan-jalan yang bukan anak Informatika (dia anak Elektro).
  2. Saya sendiri 😀 : bendahara jalan-jalan kali ini, kameramen dengan narasi garing.
  3. Luthfi : asli Garut, selalu bersikap cool.
  4. Haryus : sama-sama berasal dari daerah plat N sepertiku (tapi dia anak Pasuruan), salah satu driver  dalam perjalanan ini, suka dibuli-buli selama perjalanan, asisten fotografer dalam jalan-jalan kali ini. 😀
  5. Adi : asli Sukabumi, tour guide kami selama di Sukabumi, turut membantu memberikan tumpangan rumah selama di Sukabumi (losmen), paling bolang di antara yang lain.
  6. Kamal : asli Pekanbaru, paling sanguinis di antara yang lain.
  7. Kuncoro : asli Sragen, satu-satunya anak Informatika yang bukan dari prodi Teknik Informatika alias dari prodi Sistem & Teknologi Informasi.
  8. Ginanjar : asli Banjar, turut menyediakan tumpangan rumah selama kami jalan-jalan di Ciamis, suka menggaring, driver dalam perjalanan ini.
  9. Rizky : Obama dari Depok, salah satu driver dalam jalan-jalan, fotografer kami selama jalan-jalan, tapi selalu jadi bahan buli-buli.
  10. Neo : asli Padang, driver paling ngebut dalam jalan-jalan ini, koordinator EO acara jalan-jalan ini.
  11. Khairul : asli Bukittinggi, paling banyak tidur kayaknya, suka dibuli-buli juga.
  12. Tere : asli Aceh, sama seperti Luthfi selalu bersikap cool.
  13. Jiwo : cah Magetan, fotografer utama dalam perjalanan ini, salah satu driver juga.

Report perjalanan lengkap selama 3 hari itu selanjutnya akan aku posting secara berurutan. Nantikan saja. 🙂

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 9) : The Last Day, Going to Merapi

Sabtu, 1 Januari 2011. Wah, sudah sampai hari ke-9 aja. Waktu ternyata berjalan begitu cepat. Hari ke-9 ini sesuai rencana adalah hari terakhir kami melakukan tur Bali-Malang-Jogja.

Pagi itu tampaknya anak-anak masih merasakan kantuk yang cukup berat. Wajar saja, malamnya kami baru kembali ke stasiun Tugu jam 1 dan baru bisa tidur mungkin sekitar jam setengah 2 dini hari. Tapi aku beruntung pagi itu ketika terbangunkan karena ada seorang calon penumpang yang tiba-tiba menyenggol kakiku saat sedang tidur di bangku stasiun. Kenapa beruntung? Karena saat aku terbangun pas sekali adzan shubuh di mushola stasiun itu berkumandang. Aku pun tidak ketinggalan sholat shubuh berjamaah di mushola stasiun.

Namun, rasa kantuk ternyata masih menderaku. Habis sholat aku pun mencari tempat kosong untuk berbaring lagi. Tapi ada yang beda dengan stasiun saat itu. Di mana-mana banyak orang tiduran. Tampaknya mereka sama seperti kami backpacker-backpacker yang menumpang tidur dan mandi di stasiun. Pantas saja kamar mandi antrinya panjang banget. Akhirnya aku terpaksa tidur sambil duduk saja.

Yang namanya tidur sambil duduk memang nggak nyaman. Makanya, tidak sampai satu jam aku terbangun dan sudah tidak bisa tidur lagi. Ternyata stasiun sudah dipenuhi calon penumpang saat aku terbangun. Satpam-satpam stasiun pun bertindak. Orang-orang yang tiduran di bangku pun dibangunkan semua agar bangku-bangku stasiun itu dapat ditempati calon penumpang “sungguhan”.

Memburu tiket bus malam di terminal Giwangan

Seperti yang sudah aku bilang di awal, stasiun pagi itu sangat ramai, begitu pula antrian kamar mandinya. Karena itu, nggak enak juga sama pengantri yang lain saat menggunakan kamar mandi itu. Akhirnya aku cuma cuci muka dan gosok-gosok badan saja pagi itu.

Habis bersih-bersih diri kami pergi menuju shelter Malioboro I untuk menyegat busway. Tujuan kami kala itu akan pergi ke terminal bus Giwangan untuk membeli tiket bus balik ke Bandung. Kami terpaksa berencana membeli tiket bus karena kehabisan tiket KA Malabar ekonomi yang ke Bandung.

Di dalam busway

Di dalam busway

Wah, mahal amat tiket bus malam ke Bandung. Entah karena memang musim liburan atau karena mereka ingin menipu kami, harganya tinggi sekali saat itu. Harga tiket bus K#amat D#ati sampai Rp150.000 dan bisa ditawar sampai Rp135.000. Sementara itu bus R#jaw#li harganya Rp120.000 tapi non-AC. Mahal amat ya. Sayangnya Bus B#dim#n yang biasa aku naiki Bandung-Jogja, tidak buka agen di terminal itu. Kalau hari biasa dia cuma Rp80.000 saja (setahun lalu). Akhirnya, kami pun membatalkan niat untuk menaiki bus malam. Pilihan terakhir kami jatuh ke KA Kahuripan yang berangkat pukul 20.15 dari stasiun Lempuyangan, Jogja.

Menengok daerah letusan Merapi

Dari shelter terminal Giwangan kami naik busway jalur 3A menuju shelter Kenthungan. Dari shelter Kenthungan kami berjalan sebentar menuju perempatan Ring Road Utara, tepatnya sekitar Jalan Raya Kaliurang Km 6. Kami melanjutkan perjalanan dengan menaiki bus Jogja-Kaliurang. Ongkos bus dari Ring Road menuju Kaliurang itu Rp5.000 per orang. Kami sendiri tidak turun sampai terminal Pakem, tapi turun di pertigaan besar dekat pasar Pakem.

Kami sempat bingung akan melanjutkan perjalanan ke Merapi dengan apa. Padahal perjalanan masih jauh. Kata salah satu penduduk di sana jaraknya kurang lebih sekitar 16 km lagi. Gayung bersambut, ternyata di sana terdapat pangkalan ojek yang menawarkan jasa perjalanan ke Merapi melihat daerah bekas letusan Merapi.

Kami sempat melakukan tawar menawar dengan bapak tukang ojeg yang kami datangi pertama. Gila aja, beliau menawarkan Rp100.000 per orang untuk sampai di desa Kinahrejo tempatnya Mbah Maridjan itu. Alasan beliau, situasi saat itu sedang ramai, banyak orang berlibur. Tapi tambah beliau, itu belum termasuk uang sukarela untuk warga daerah korban letusan. Padahal kata beliau, posnya itu nggak cuma satu. Wah, kami jadi berpikir ulang untuk pergi ke sana.

Kami pun berlalu menuju pangkalan ojeg yang lain. Di sanalah akhirnya kami deal dengan tukang ojeg mengenai ongkos ke daerah korban letusan itu. Ongkos per orang Rp70.000. Kata tukang ojeg kalau hari biasa, biasanya Rp50.000. Lagi-lagi alasan musim liburan dan jalanan ramai kena macet orang-orang yang mau ke Merapi, sehingga ongkosnya naik. Entah benar atau tidak. Tapi, ya sudahlah kalau begitu. Kami pun jadi pergi ke sana.

Singkat cerita, kami akhirnya tiba di suatu daerah yang bernama Kalikuning. Sesampainya di sana kami membayar Rp10.000 per orang kepada warga sana. Terus terang kami nggak tahu mekanisme pembayaran masuk di sana karena ini benar-benar pengalaman pertama dan kami juga belum punya cerita dari teman-teman dekat yang pernah ke sana sehingga bisa dijadikan bahan komparasi. Kami sih berpikir positif saja, mereka tidak sedang menipu kami. 😦

Di kawasan Kalikuning itu kami melihat sisa-sisa hutan yang pepohonannya sudah pada gundul dan mati akibat wedhus gembel dan juga lahar dingin yang melintasi daerah itu. Sesaat aku berpikir, subhanallah… begitu besarnya kekuasaan Allah. Jika Dia sudah berkehendak, kun fayakun, jadilah maka jadilah. Daerah itu yang sebelumnya dipenuhi pepohonan hijau dan menjadi tempat tinggal makhluk-makhluk-Nya sekarang musnah begitu saja. namun, seiring berjalannya waktu, daerah itu mulai ditumbuhi tunas-tunas tanaman hijau yang masih mungil-mungil yang Insya Allah semakin lama akan membuat daerah itu hijau kembali.

Oiya, saat melihat-lihat kondisi daerah itu, kami juga ditemani seorang pemuda yang juga penduduk asli daerah itu. Dia banyak bercerita mengenai kondisi Merapi saat meletus, kondisi sesungguhnya mbah Maridjan saat meninggal, hingga perkembangan daerah itu pasca letusan Merapi. Mengenai kondisi mbah Maridjan di mana media-media mengatakan bahwa beliau sedang bersujud (seolah-olah sudah pasrah akan datangnya kematian) ketika meninggal, hal itu diluruskan oleh pemuda itu. Sebenarnya, saat itu beliau juga ingin turun bersama warga yang lain. Akan tetapi, nasib berkata lain. Beliau tertimpa runtuhan balok kayu dan jatuh tersujud hingga akhirnya ikut terkena wedhus gembel.

Dari pemuda itu kami juga ditunjukkan Desa Kinahrejo tempat tinggal mbah Maridjan. Tapi sayangnya ternyata jauh dari Kalikuning itu. Kami pun sempat merasa ditipu tukang ojeg itu karena tujuan kami sebenarnya ingin pergi ke sana juga. Kami sempat protes kepada tukang ojeg itu karena tidak jadi diantarkan ke sana. Tapi tukang ojeg berdalih jalanan menuju ke sana macet, bakal lama sampai sana sehingga nggak akan terburu. Bisa-bisa baru balik ketika hari sudah gelap. Ya sudahlah. Akhirnya, untuk menutupi “kekurangan” itu saat pulangnya, kami minta diantarkan hingga tempat untuk nyegat kendaraan umum yang balik ke Jogja (habisnya lumayan jauh sih jarak dari pangkalan ojeg itu ke terminal).

Yak, inilah foto-foto ketika berkunjung ke daerah Kalikuning itu. Mohon maaf sebagian foto ada yang kurang begitu jelas karena terpaksa menggunakan kamera handphone yang sudah jadul.

Jalan bersama "tour guide" (jaket hitam)

Jalan bersama "tour guide" (jaket hitam)

Pepohonan yang gersang

Pepohonan yang gersang

aku dan neo

aku dan neo

Tunas-tunas baru

Tunas-tunas baru

Kembali ke Bandung

Puas memenuhi hasrat ingin tahu akan kondisi terbaru daerah yang terkena letusan Merapi, kami kembali lagi ke Jogja. Kami diantar tukang ojek itu sampai terminal Pakem. Di sana kami melanjutkan lagi naik kendaraan umum dengan mobil jenis L300. Kami sempat diturunkan di tengah jalan karena saking sepinya. Akhirnya kami ganti naik minibus Kaliurang-Jogja. Herannya bus yang satu ini malah cukup ramai penumpang. Kami turun di shelter Kenthungan untuk ganti kendaraan dengan busway menuju shelter Malioboro. Kami harus naik busway dua kali untuk menuju Malioboro. Pertama naik busway ke terminal Jombor, baru setelah itu ganti naik busway busway yang menuju ke Malioboro.

Sampai di Malioboro kami langsung mengambil tas di stasiun Tugu. Tanpa banyak mengulur waktu, kami langsung kembali lagi ke shelter Malioboro untuk menaiki busway menuju stasiun Lempuyangan. Hari sudah malam ketika kami sampai di stasiun Lempuyangan, yaitu sekitar pukul 19.15. Sesampainya di sana kami langsung membeli tiket KA Kahuripan untuk 3 orang ke Bandung dengan ongkos per orangnya Rp 24.000.

Suasana stasiun kala itu sangat ramai. Bahkan, untuk kereta tujuan Jakarta seperti KA Gaya Baru Malam Selatan, banyak penumpang yang terpaksa tidak bisa naik karena saking ramainya. Selain itu, hujan rintik-rintik juga mewarnai malam sebelum kembalinya kami ke “kehidupan sebenarnya” di Bandung.

Kereta yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Kereta sempat mengalami keterlambatan sekitar setengah jam dari jadwal yang seharusnya. Lagi-lagi, kami tidak dapat tempat duduk sepanjang perjalanan. Tapi Khairul dan Neo lebih beruntung karena bisa dapat tempat duduk di tengah-tengah penumpang dengan menduduki kardus-kardus penumpang yang kebetulan besar-besar dan diperbolehkan si empunya. Aku sendiri terpaksa duduk di bordes sambil sesekali terkena tetesan air karena atap kereta yang bocor :D. Keesokan harinya kami tiba dengan selamat di stasiun Hall Bandung sekitar pukul 8.00. Alhamdulillah…

Suasana sore Malioboro pada malam kepulangan

Suasana sore Malioboro pada malam kepulangan

Menunggu kereta

Menunggu kereta

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 8) : Wisata Sejarah di Jogjakarta

Jumat, 31 Desember 2010. Stasiun Tugu Jogjakarta ini tampaknya akan menjadi “rumah” kami selama berada di Jogjakarta. Bagaimana tidak, demi pengiritan pengeluaran, untuk urusan tidur dan mandi, semua kami lakukan di stasiun itu. Selain itu, carrier-carrier yang kami bawa juga kami titipkan di tempat penitipan barang di selatan stasiun.

Seperti pada pagi hari itu. Begitu sholat shubuh kami langsung mandi di toilet umum di sebelah mushola stasiun Tugu. Nggak bawa sabun mandi? Beli saja di bapak penjaga toilet itu. Selain sabun mandi, bapak itu juga menjual sampo dan peralatan mandi lainnya.

Selesai mandi, aku dan kawan-kawan menikmati udara pagi itu di stasiun sambil mengamati kereta api yang datang dan pergi di stasiun itu. Di dekat pintu masuk peron timur terdapat spot tourist information center yang dapat menjadi tempat bertanya mengenai pariwisata di Jogjakarta ini. Di sana kita juga bisa memperoleh peta wisata Jogjakarta secara gratis. Aku pun memanfaatkan fasilitas itu untuk bertanya mengenai jalur-jalur busway menuju tempat wisata yang ada di Jogja.

Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Tempat penitipan barang yang berada di bangunan selatan stasiun sudah buka. Kami pun segera menitipkan barang-barang kami di tempat itu. Biaya untuk sewa satu loker (ukuran lumayan besar, bisa menampung hingga 3-4 tas besar) mulai dari pagi sampai malam adalah Rp10.000. Di parkir selatan stasiun sebenarnya juga menerima penitipan barang. Lebih murah, cuma Rp1.000 per tas. Tapi demi alasan keamanan kami memilih tempat penitipan yang lebih mahal itu.

Dari stasiun kami beranjak menuju shelter Malioboro I yang berada tidak jauh dari stasiun. Kira-kira hanya 5 menit dengan jalan kaki untuk mencapai sana. Tarif “masuk” shelter itu adalah Rp3.000 dan kita bisa naik busway sepuasnya, termasuk berganti-ganti busway, asalkan kita belum keluar meninggalkan shelter :D. Tujuan kami saat itu adalah ke Candi Prambanan. Kami ke sana dengan menaiki busway jalur 1A dan menempuh perjalanan sekitar 1 jam.

Wisata Candi Prambanan dan Situs Ratu Boko

Aku tak ingat kapan terakhir kali berwisata ke candi Prambanan ini. Yang kuingat, sudah dua kali aku ke sana. Pertama, saat liburan kelulusan SD bersama teman-teman satu sekolah (tahun 2001), dan kedua, jalan-jalan bersama keluarga saat lebaran di Jogjakarta (lupa kapan).

Ada yang berbeda dengan wisata Candi Prambanan saat ini. Saat akan masuk, kita ditawari apakah mau mengambil paket wisata ke Situs Ratu Boko juga atau tidak. Jika iya, tiket masuknya Rp30.000 dan jika tidak (hanya ke Candi Prambanan saja), tiket masuknya Rp23.000. Karena selisihnya tanggung banget, kami pun ambil saja paket yang include wisata Situs Ratu Boko itu.

Dari Prambanan ke Ratu Boko kami menaiki kendaraan yang sudah disediakan oleh pengelola wisata setempat. Sistemnya antar jemput pulang-pergi dari Ratu Boko-Prambanan. Tapi, begitu ada mobil yang stand by kita bisa langsung menaikinya selama masih ada tempat duduk tersisa. Jika tidak, terpaksa harus mengantri dulu dengan calon penumpang yang lain. Oiya, Jarak kompleks Prambanan-Ratu Boko hanya 2 km saja. Jadi perjalanan Ratu Boko-Prambanan ini tidak lama, paling cuma sekitar 15 menit.

Di Candi Ratu Boko

Begitu tiba di kompleks Situs Ratu Boko kami berjalan menuju plaza Andrawina (sebuah halaman dengan paving block yang luas) yang berada di dekat pintu masuk kompleks tersebut. Dari atas plaza tersebut kami bisa melihat pemandangan luas ke arah kompleks Candi Prambanan dan wilayah Jogjakarta. Aku membayangkan pasti pemandangan saat malam hari akan lebih indah dilihat dari atas sini karena akan terlihat gemerlap lampu di bawah sana. Dari atas plaza ini pula pengunjung sering menikmati datangnya sunrise atau sunset. Selain itu, ternyata tempat ini juga sering digunakan untuk pesta pernikahan lho.

Pemandangan dari atas plaza

Pemandangan dari atas plaza

Berfoto di atas plaza Andrawina

Berfoto di atas plaza Andrawina

Dari plaza Andrawina itu kami berjalan lagi menuju kompleks situs Ratu Boko. Perlu diketahui, situs Ratu Boko ini diduga kuat merupakan bekas bangunan keraton atau istana raja. Sama sekali berbeda dengan situs-situs candi pada umumnya yang merupakan tempat pemujaan atau ibadah. Lebih lengkapnya, informasi penelitian mengenai situs Ratu Boko ini dapat dibaca di Wikipedia atau di sini atau di sini.

Situs yang menempati lahan seluas 250.000 m2 ini memiliki bangunan-bangunan yang terdiri atas gapura utama, lapangan, candi pembakaran, kolam, pendapa, kompleks keputren dan kompleks gua. Di sebelah utara candi pembakaran terdapat gardu pandang yang berada di atas bukit. Dari gardu pandang itu kita bisa melihat pesona kawasan Jogjakarta dengan sebagai latar belakangnya dari ketinggian. Di halaman depan dekat pintu masuk wisata dan sebelum gapura utama ada sebuah kandang rusa di sana. Kalau yang ini, tentu saja bukan termasuk peninggalan Ratu Boko. 😀

Oiya, ada yang kelupaan. Ada charge yang harus kita bayar kalau kita mau memakai kamera atau cam recorder di dalam kompleks Ratu Boko. Kamera Rp5.000, dan Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 7) : Jatim Park

Kamis, 30 Desember 2010. Tidak lama waktu kami singgah di Malang. Cukup satu malam saja. Pagi itu sekitar pukul 9 aku dan kawan-kawan sudah berpamitan kepada keluargaku untuk melanjutkan perjalanan kembali.

Dari rumahku kami menaiki angkot menuju Polowijen. Di sana kami mampir dulu ke toko oleh-oleh khas Malang “Ken Arok” yang terletak persis di bawah fly over dekat persimpangan rel kereta api dan tepat berada di samping kantor kelurahan Polowijen. Khairul dan Neo tampak bersemangat sekali mencari oleh-oleh keripik buah yang memang menjadi khas oleh-oleh asal Malang. Sementara itu, aku dan Kamal menunggu mereka di depan toko tersebut.

Mampir ke toko oleh-oleh khas Malang

Mampir ke toko oleh-oleh khas Malang

Neo mencari oleh-oleh

Neo memilih oleh-oleh

Dari toko oleh-oleh “Ken Arok” kami lanjut lagi menaiki angkot ke stasiun Malang Kota Baru. Di sana kami berencana menitip tas-tas kami yang berat-berat untuk diambil pada waktu sore harinya. Ya, kami mau jalan-jalan dulu. Masih ada waktu sekitar lima jaman sebelum kereta Malabar yang akan kami tumpangi berangkat.

Main-main di Jatim Park

Dari stasiun kami pergi menuju terminal Landungsari. Di sana sudah menunggu teman kami satu jurusan yang sebenarnya juga temanku satu sekolah mulai dari SD sampai kuliah sekarang, yakni Haris. Perjalanan berlanjut lagi dengan menaiki angkot Landungsari-Batu. Ya, kami akan bermain-main di Jawa Timur Park atau yang biasa disebut cukup dengan “Jatim Park” saja. Tidak sampai setengah jam perjalanan dari Landungsari ke terminal Batu. Dari sana kami melanjutkan perjalanan yang tinggal berjarak beberapa ratus meter saja.

Woww..! kami sempat terperangah begitu mengetahui harga tiket masuk Jatim Park mencapai Rp50.000 per orang. Tiket masuk itu sudah bersifat terusan. Maksudnya, kita dapat dengan gratis masuk atau menaiki 53 wahana yang ada di sana tanpa perlu membayar biaya lagi. Kata salah seorang teman yang sudah sering pergi ke sana, sebenarnya untuk hari biasa, Senin-Kamis, harga tiket terusannya Rp35.000 per orang.  Kalau hari Jumat-Minggu Rp45.000 per orang. Mungkin ini gara-gara masa liburan anak sekolah sehingga harga tiketnya mencapai segitu.

Sudah lama aku nggak berkunjung ke Jatim Park ini. Terakhir kali ke sini seingatku adalah 8,5 tahun yang lalu (sekitar Juni 2002) saat aku masih kelas 1 SMP . Kala itu, aku ke Jatim Park karena sekolahku, MTsN Malang I, mengadakan studi tur ke sana. Seluruh siswa kelas satu diwajibkan untuk mengikuti acara ini. Di sana kami selain bersenang-senang juga harus membuat rangkuman atas pengetahuan yang kami dapat dari penjelasan atau eksperimen yang ditampilkan di wahana pembelajaran.

Aku juga masih ingat, saat itu wahana yang ada belum sebanyak sekarang dan harga tiketnya masih Rp7.500 untuk hari biasa dan Rp15.000 untuk hari libur. Tapi sistemnya masih belum terusan. Artinya, setiap kita akan memasuki wahana permainan, kita perlu membayar lagi.

Oke, sekarang balik lagi ke jalan-jalanku yang sekarang. Masa lalu ya cukup diingat saja. 😀

Cara penunjukkan tiket terusan di Jatim Park ini cukup unik. Setiap orang harus melingkarkan tiketnya di pergelangan tangan masing-masing. Setiap akan memasuki wahana permainan, “gelang” pengunjung akan ditandai oleh petugas wahana. Jadi setiap orang tidak bisa memasuki wahana lebih dari satu kali.

Mempelajari peta lokasi wahana-wahana di Jatim Park

Mempelajari peta lokasi wahana-wahana di Jatim Park

Pamer gelang tiket

Pamer gelang tiket

Masuk Jatim Park

Begitu masuk Jatim Park

Superneo penolong Khairul :D

Superneo penolong Khairul 😀

Banyak sekali wahana di Jatim Park ini. Ada 53 wahana yang boleh dimasuki secara gratis untuk pengunjung dengan tiket terusan. Di luar itu, beberapa wahana seperti gokart dan flying fox, pengunjung dikenakan biaya tambahan. Angka 53 itu sepertinya terdengar sangat banyak. Akan tetapi, angka 53 itu sebagian besar disumbangkan oleh banyaknya wahana yang memang diperuntukkan hanya untuk anak-anak saja dan wahana pembelajaran seperti sains dan sejarah. Jadi, wahana permainan yang memang dapat dimasuki oleh anak-anak remaja atau dewasa mungkin hanya beberapa persen dari angka 53 itu. Tapi overall, seru juga wahana-wahana yang ada di Jatim Park ini buat senang-senang atau lucu-lucuan sama teman-teman.

Sekedar saran saja. Kalau ingin main ke Jatim Park sebaiknya jangan bertepatan dengan momen liburan anak-anak sekolah. Jika tidak, Anda akan mengalami nasib yang sama seperti dengan yang kami alami: antrian padat mengular! Jika Anda memang mengalokasikan waktu seharian penuh di sana, maka saran tadi silakan diabaikan. 😛

Nah, karena antrian yang padat itu tidak banyak wahana yang bisa kami kunjungi. Apalagi waktu kami juga terbatas.

Wahana pertama yang kami kunjungi, pertama, adalah rumah hantu. Untuk menikmati wahana ini, kami harus mengantri terlebih dahulu, setidaknya ada setengah jam. Saat memasuki wahana ini, kesan seram (lebih tepatnya mungkin kesan “mengagetkan”) yang ingin diciptakan kurang terasa karena Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 6) : Malangku Rumahku

Rabu, 29 Desember 2010. Dari pelabuhan Ketapang kami berjalan menuju stasiun Banyuwangi Baru yang berjarak tidak sampai 1 km. Menurut rencana, rute berikutnya adalah naik Gunung Bromo melalui jalur Probolinggo. Untuk sampai ke Probolinggo, kami akan menumpang KA Tawang Alun yang berangkat pukul 5 tepat dari stasiun Banyuwangi Baru. Akan tetapi, kabar yang menyebutkan bahwa erupsi Gunung Bromo masih terus berlangsung, membuat kami memikirkan ulang rencana tersebut. Sempat terjadi diskusi yang cukup lama di antara kami mengenai keputusan yang akan diambil. Namun, pada akhirnya kami seapakat bahwa kami akan membeli tiket KA Tawang Alun dengan mengambil tujuan ke Malang. Jika dalam perjalanan kondisi abu tidak terlalu parah, kami akan turun di stasiun Probolinggo dan jadi pergi ke Gunung Bromo. Setelah itu, aku langsung membeli empat tiket KA Tawang Alun jurusan Malang seharga Rp18.500 per orang.

Perjalanan dengan KA Tawang Alun

Pukul setengah 5 ketika kami memasuki peron, sudah stand by KA Tawang Alun di jalur 2 stasiun Banyuwangi Baru. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum berangkat. Aku pun mencari toilet dan mushola untuk melaksanakan sholat shubuh.

KA Tawang Alun

KA Tawang Alun

Pukul 5 pagi tepat kereta diberangkatkan. Pagi itu KA Tawang Alun terdiri atas 4 gerbong ekonomi bermotif nutri sari dan ditarik 1 lokomotif berjenis BB. Kondisi dalam gerbong penumpang masih cukup sepi. Mungkin karena baru berangkat dari stasiun pertama dan di samping itu stasiun Banyuwangi Baru juga berada di sebuah daerah pinggiran Banyuwangi yang tidak begitu ramai. Begitu kereta berangkat ketiga temanku yang lain itu langsung tertidur. Masih ngantuk sepertinya mereka karena kurang tidur.

Tertidur

Tertidur

Ketika kereta Tawang Alun tiba di stasiun Klakah (55 km sebelum Probolinggo), kepala stasiun Klakah meminta penumpang untuk menutup semua jendela dan pintu kereta untuk mengantisipasi masuknya abu Gunung Bromo ke dalam kereta. Benar saja, sepanjang perjalanan setelah Klakah ini, di sisi kanan dan kiri terlihat abu-abu beterbangan. Walaupun semua jendela sudah ditutup, tetap saja masih banyak debu yang masuk melalui celah-celah di dalam kereta. Yang paling kentara adalah tumpukan pasir yang tiba-tiba sudah nyaris tebal saja di atas meja kecil samping jendela kereta. Tumbuhan-tumbuhan dan rumah-rumah yang dilalui sepanjang perjalanan juga tampak terselimuti abu. Aku berani bilang, abu yang sekarang ini lebih tebal dari pada sewaktu kami berangkat ke Bali 4 hari yang lalu. Orang-orang di dalam kereta pun semuanya ikut mengenakan masker.

Melihat kondisi abu yang cukup parah itu, kami akhirnya memutuskan untuk tidak jadi ke Bromo. Mungkin lain waktu ya teman-teman. Yang paling tampak kekecewaanya adalah si Neo yang terlihat sangat berkeinginan untuk pergi ke Bromo. Aku sendiri sudah pernah sekali ke Bromo sewaktu SMA dulu.

Tanaman pun tertutup abu

Tanaman pun tertutup abu

Para penumpang menggunakan masker (kecuali Kamal :D)

Para penumpang menggunakan masker (kecuali Kamal :D)

Tiba di Malang

Waktu telah menunjukkan sekitar pukul 1 siang ketika kami sampai di Lawang, atau “pintu”nya Kota Malang ini. Belasan menit kemudian kereta tengah melalui kawasan Karangploso ketika Neo berkata, “Bau rokoknya kok menyengat ya di sini.” Ya wajar saja di kiri kereta ini terletak sebuah pabrik rokok yang sangat besar di Malang yang sudah dikenal orang.

Akhirnya tiba juga kereta ini di Malang. Kami turun di stasiun Malang Kota Baru. Suasana stasiun saat itu sangat ramai. Banyak calon penumpang yang menunggu kereta. Bahkan sebagian besar dari mereka langsung berebut naik kereta yang baru saja kami tumpangi ini. Kami pun terpaksa berdesak-desakan mencari jalan keluar.

Sampai di luar stasiun, kami tidak langsung pergi. Kami mampir dulu ke Continue reading

Catatan Liburan Akhir Tahun 2010 (Day 5) : Rainy Day In Denpasar

Selasa, 28 Desember 2010. Badan ini rasanya pegal-pegal semua pagi itu ketika aku terbangun. Capai juga tiduran semalaman di dalam mobil. Waktu menunjukkan telah pukul 4.15 WITA. Ouww, ternyata aku orang yang pertama bangun. Padahal rencana kami sebelumnya adalah bangun pagi-pagi kemudian berangkat ke pantai Sanur untuk melihat sunrise di sana. Makanya, begitu bangun aku juga langsung membangunkan teman-teman yang lain. Beberapa menit kemudian kami langsung berangkat menuju pantai Sanur.

Menuju Pantai Sanur

Lokasi pantai Sanur tidak begitu jauh dari Kuta. Jaraknya hanya sekitar 15 km. Jalanan yang masih sepi karena masih jam 5 pagi membuat perjalanan menjadi lebih cepat.

Sekitar 20 menit kemudian kami sudah sampai di pantai Sanur. “Lho, tapi mana pantainya?” gumam kami. “Kok nggak meyakinkan gitu ya.” Tidak terlihat tempat parkir yang disediakan untuk pengunjung. Dari mobil pantai di depan sana terlihat hanya sekelumit saja. kemudian kami mencoba bertanya kepada bapak-bapak yang sedang sibuk menyiapkan sesuatu di jalan. “Pak, lokasi pantai Sanur di sebelah mana ya?” tanya Kamal. “Dari perempatan itu belok kiri dik.” kata bapak itu.

Kami pun langsung cabut kembali ke perempatan itu dan berbelok ke kiri. Kira-kira ada ratusan meter mobil melaju. Tak lama kemudian terlihat papan penunjuk jalan “Sanur Beach 300 M”. Kami pun berbelok menuju jalan itu. Supaya lebih meyakinkan, kami bertanya dulu kepada penjaga minimarket yang ada di dekat ujung jalan masuk itu. “Mas, kalau mau ke pantai Sanur lewat sini ya?” tanyaku. “Sanur yang mana mas?” tanya balik masnya. Dalam hati aku bertanya-tanya apa maksud orang ini dengan kata “Sanur yang mana”. Memangnya pantai Sanur ada banyak ya. “Di depan jalan itu kan ada tulisan ‘Sanur Beach 300 M’ mas. Kalau mau ke Sanur Beach benar lewat sini kan?” tanyaku lagi. “Oh, mau ke Sanur Beach… Iya, benar, lewat sini.” jawabnya. Oke, setelah itu kami pun melaju mantap menyusuri jalan itu menuju “Sanur Beach”.

Akhirnya tiba juga kami di ujung jalan. Pantai sudah terlihat di depan mobil sana. Tapi… “Kok tempat parkirannya sempit banget ya. Selain itu ada tulisan lagi di samping kanan jalan: ‘Selain pekerja kontruksi bangunan, dilarang parkir di sini’.” gumam kami lagi. Selain itu pantainya juga kecil. Cuma ada dua orang yang sedang berada di tepi pantai menunggu sunrise. Kami pun balik lagi ke tempat minimarket tadi untuk bertanya kembali.

“Mas, beneran nggak sih pantai Sanurnya itu yang 300 M dari sini tadi?” tanyaku. “Lho, masnya ini mau ke ‘pantai Sanur’ atau ke ‘Sanur Beach’ sih?” tanya balik masnya. “Ke pantai Sanur.” jawabku. “Oalah, lha sampeyan tadi nanyanya mau ke ‘Sanur Beach’. Saya kira mau ke hotel. Makanya saya sempat bingung tadi. kalau ke hotel ‘Sanur Beach’ memang lewat sini.” kata masnya sambil sedikit tertawa. Dalam hati aku juga ingin tertawa.

Di dalam bahasa Bali ternyata ada juga kata “sampeyan” sebagaimana di dalam bahasa jawa. Cukup banyak juga kosa kata bahasa Bali yang mirip bahasa Jawa. Selain kata “sampeyan” ada juga kata “tingali” yang artinya menengok atau melihat. Kata ini sempat aku dengar dari bapak rental mobil yang kami sewa kemarin.

Oke, kembali ke topik. Nah, oleh masnya, dikasih tahu kalau pantai Sanur itu kalau dari tempat kami tinggal jalan lurus saja ke utara kemudian sampai perempatan belok kanan. “Lho, itu kan tempat yang kami datangi pertama tadi.” gumam kami. Kami pun langsung cabut kembali menuju tempat itu.

Sampai di sana, tiba-tiba saja sudah ramai manusia. Wajar saja, saat itu sudah jam 6 pagi WITA. Jalan yang pagi-pagi begitu lengang dan tidak ada “pintu masuk” objek wisata di sana, sekarang sudah ada. Penjaga pintu masuknya ternyata bapak yang pertama kali kami tanya. “Wah, parah benar. Kami disesatkan.” gerutu kami. Ya sudahlah, tidak apa-apa. Kami membayar Rp5.000 untuk tiket masuk berempat plus mobil.

Langit Mendung di Pantai Sanur

Pagi itu kami kurang beruntung. Kami baru sampai di Pantai Sanur ketika waktu menunjukkan sekitar pukul 6 lebih. Padahal sudah berangkat pagi-pagi. Sayangnya, gara-gara “nyasar“, kami jadi kesiangan sampai pantainya. Sudah gitu, mendung pula pagi itu.

Yup, pagi itu matahari tampak malu-malu. Ia tak mau memperlihatkan mukanya yang bersinar. Langit di ujung timur sana pun demikian, tampak gelap karena terselimuti awan mendung. Tapi, samar-samar terlihat bayang-bayang garis sinar matahari yang terpantul di atas permukaan laut.

 

Sunrise yang tertutup awan

Sunrise yang tertutup awan

Hotel dan sebuah motor boat yang berada di kawasan Sanur

Hotel dan sebuah motor boat yang berada di kawasan Sanur

Menikmati pagi di Sanur

Menikmati pagi di Sanur

Tidak lama kami berada di pantai Sanur itu. Mungkin hanya setengah jam. Setelah itu kami kembali ke mobil. Kemudian masing-masing dari kami pergi mencari toilet umum untuk mandi! Biaya penggunaan toilet untuk mandi di sana standar seperti toilet umum pada umumnya, yakni Rp2.000 saja.

Selang beberapa menit setelah semua selesai mandi, tiba-tiba turun hujan deras. Kami pun langsung kembali ke mobil lalu melanjutkan perjalanan lagi ke Bali Selatan. Tujuan kami adalah Pantau Dreamland dan Suluban.

Sampai di Uluwatu

Tidak sampai satu jam dari pantai Sanur untuk mencapai kawasan Uluwatu ini. Jalan-jalan yang digambarkan dalam peta yang kami beli kemarin sudah sangat jelas. Selain itu papan penunjuk jalan di setiap persimpangan juga sangat membantu.

Tapi ketika sampai di persimpangan terakhir, kami salah mengambil jalan lurus. Harusnya mengambil jalan ke kanan jika ingin ke pantai Dreamland atau Suluban. Begitu mengambil jalan lurus di depan sudah ada pintu masuk menuju pura Uluwatu. Karena sudah terlanjur dan bayar karcis parkir sebesar Rp5.000, kami pun masuk saja.

Tidak beberapa lama begitu kami masuk, hujan yang sebelumnya sudah reda, ternyata mengguyur lagi dengan derasnya. Bahkan kali ini bisa dibilang cuaca di sana mendekati badai. Angin berhembus kencang sekali dari arah laut. Bahkan, aku melihat ada satu pohon yang tumbang di kawasan sana karena diterpa angin yang begitu kencang. Daun-daun berguguran. Naumn, begitu hujan reda kami bisa melihat pemandangan yang indah di lautan bawah sana.

 

Pemandangan sekitar Uluwatu

Pemandangan sekitar Uluwatu

Hempasan ombak di Uluwatu

Hempasan ombak di Uluwatu

Jalan-Jalan Mencari Souvenir

Dari Uluwatu kami langsung kembali ke Kuta untuk mengembalikan mobil. Waktu yang tersisa untuk sewa mobil sudah tidak cukup untuk keliling-keliling lagi. Tepat pukul 11 kurang sedikit mobil kami kembalikan.

Acara selanjutnya adalah jalan-jalan mencari souvenir. Tas-tas kami yang berat kami titipkan kepada salah seorang teman Kamal yang kebetulan berdomisili di Denpasar. Kami pun bisa berjalan-jalan dengan nyaman tanpa membawa beban yang berat.

Baru melangkah sekitar 1-2 km, tiba-tiba di tengah perjalanan turun hujan deras. Terpaksa kami berteduh di salah satu bangunan yang terletak di depan jalan Majapahit sambil menunggu hujan reda. Hujan yang ditunggu ternyata cuma sebentar saja. Kami pun melanjutkan langkah lagi.

Setengah jam berjalan tiba-tiba Continue reading