Category Archives: Curhat

Mati Listrik, Ngapain Ya?

Mati listrik (ilustrasi)

Nyala lilin di kontrakan

Tumben-tumbenan sore ini tadi mati listrik hingga 3 jam, dari sekitar jam 4 sore hingga jam 7 malam. Cukup lama juga mati listrik sore ini. Termasuk yang terlama yang pernah kurasakan selama di Bandung.Dulu pernah sih, mati listrik selama itu sebelumnya, tapi itu terjadi saat malam hari di mana orang-orang sudah terlelap, jadi nggak begitu terasa, hehe.

Bingung juga tadi sore begitu pulang dari kampus sehabis UAS, dihadapkan dengan listrik mati di kontrakan. Mau balik ke kampus, tapi ngapain. Akhirnya aku ambil sisi positifnya sajalah. Aku jadi tidak menghabiskan banyak waktu di depan komputer. Sudah lama juga merindukan suasana hening dan gelap seperti ini. Hitung-hitung memberi kesempatan indera penglihatan dan pendengaran ini untuk sementara dari keramaian cahaya dan suara yang hampir setiap saat ditemui (kecuali waktu tidur :P).

Kesempatan itu aku manfaatkan juga ngumpul-ngumpul bareng anak-anak sekontrakan yang beberapa memang lagi ada di rumah. Kami ngumpul di kamar Khairul yang memang lebih luas dan lebih terang. Kami pun ngobrol ngalor-ngidul ke mana-mana dan seperti biasa si Wafi selalu memancing perdebatan.

Kalau kalian gimana? 😀

Ikutan Forum Keinformatikaan di Dunia Maya

Akhir-akhir ini saya aktif ikutan forum di dunia maya. Forum dunia maya yang saya maksud di sini bukan seperti Facebook atau Kaskus yang memang topik pembahasan di dalamnya sangat general. Forum atau mailinglist yang saya ikuti adalah yang berkaitan dengan keprofesian atau disiplin ilmu yang saya geluti, yakni Informatika atau computer science.

Sangat terlambat memang, mengingat saya sudah menginjak tingkat 4 akhir. Saya baru giat melakukan ini karena baru menemukan kebutuhan untuk mengikuti forum-forum itu. Apalagi kalau bukan gara-gara TA (Tugas Akhir) :). Kalau dahulu, ketika menemukan kesulitan di perkuliahan, misal dalam programming, saya tinggal ketikkan query di Google, maka langsung akan ketemu jawabannya.

Namun, dalam pengerjaan TA saya ini hal tersebut tidak selamanya saya dapatkan. Apalagi TA yang saya ambil tidak terlalu banyak dokumentasi yang beredar di dunia internet. Akhirnya, mau tidak mau saya harus berinteraksi “langsung” dengan mereka melalui forum atau mailinglist yang ada, Ngomong-ngomong tentang hal ini, saya jadi teringat perkataan yang pernah disampaikan Pak Budi Rahardjo dalam kuliah yang saya ikuti. Saya tidak ingat detail ucapannya, tapi intinya adalah jika Anda ingin jago dalam bidang Informatika, maka cobalah “being nerd/geek”. Beliau mencontohkan diri beliau yang sangat menyenangi dunia informatika. Segala hal keinformatikaan beliau coba dan pelajari. Dalam bidang programming, hampir semua bahasa pernah beliau coba. Setiap ada jejaring sosial baru, beliau selalu bikin akun dan memahami konsepnya. Yah, saya pun jadi ingin mengikuti beliau, tapi dengan cara saya, yakni mencoba aktif di forum-forum keinformatikaan yang ada dan ingin berkontribusi di dalamnya. Nggak cuma jadi leecher saja :).

Karena topik TA saya adalah OpenNLP saya pun berinteraksi dan mengikuti mailinglist dengan alamat opennlp-users@incubator.apache.org dan forum yang kebetulan saya dapati juga ikut membahasnya, yakni http://agsforum.agstechnet.com. Hitung-hitung juga sekalian latihan menerapkan bahasa Inggris saya dalam bentuk tulisan, hehehe. Alhamdulillah, respon di sana cepat dan sangat welcome. Jujur, masukan dari mereka sangat membantu untuk TA yang saya kerjakan. Bahkan, saya sampai YM-an dengan user yang ada di forum itu karena kebetulan apa yang kami kerjakan juga mirip, sehingga saya berdiskusi dengan dia juga via YM itu, Kebetulan dia sedang mengerjakan POS-Tagger untuk bahasa Romania dengan OpenNLP itu.

Seru juga ternyata berdiskusi dengan teman-teman yang sedang melakukan riset yang sama seperti itu. Yang lebih seru lagi itu kita berdiskusi bukan dengan bahasa ibu kita, sehingga itu menjadi tantangan tersendiri bagi kita untuk menyampaikan hal agar bisa dimengerti orang lain. 🙂


Perpustakaan Pusat Yang Terlupakan

Jangan salah mengartikan judul di atas. Dengar dulu penjelasan saya. Kata “terlupakan” di judul ini bukan berarti perpustakaan ini benar-benar dilupakan keberadaannya oleh mahasiswa ITB. Lebih tepatnya, sebenarnya judul itu saya tujukan untuk diri saya pribadi. kalau diingat-ingat sudah lama saya tidak mengunjungi perpustakaan pusat ITB ini. Terakhir kali kalau tidak salah saat aku semester 3. Waduhh… lama sekali itu. Kalau mengunjungi perpustakaan untuk sekedar menumpang sholat di musholla atau mampir ke toilet beda lagi ceritanya. Tentu saja itu sering saya lakukan, hehehe.

Yup, saya ingin bercerita menenai aktivitas saya seminggu terakhir ini di mana saya benar-benar intens mengunjungi perpustakaan pusat ITB ini. Untuk apa? Apalagi kalau bukan terkait urusan Tugas Akhir alias TA :D. Awalnya saya iseng mengunjungi perpustakaan ini untuk mencari buku-buku tentang Tata Bahasa Indonesia sebaga bahan TA saya. Eh, tak taunya ada. Tidak saya sangka memang, sebab notabene ITB adalah kampus sains dan teknik (plus seni). Tidak pernah terpikir oleh saya ada buku sastra di sana. Ternyata perpustakaan pusat ini memiliki koleksi yang lengkap. Bahkan, koleksi buku keinformatikaannya rasanya tidak kalah banyaknya dengan yang ada di perpustakaan prodi T. Informatika. Jadi, buat apa beberapa waktu yang lalu saya jauh-jauh ke perpustakaan Sastra Unpad (Universitas Padjadjaran). Memang sih, koleksi buku sastranya tidak selengkap yang ada di Unpad, tapi rasanya cukuplah buat jadi referensi TA saya. Tapi ada kekurangannya juga sih koleksi buku di perpustakaan pusat ini. Bukunya kebanyakan buku-buku jadul semua. Jarang sekali saya menemukan buku baru di sana, atau saya saja yang tidak tahu tempatnya, hihihi.

Namun, terus terang perpustakaan pusat ini benar-benar tempat yang nyaman buat belajar atau mengerjakan tugas. Jadi ingat saat masa saya tingkat 1 dulu. Perpustakaan pusat ini menjadi tempat favorit saya setiap akan ujian.

Perpustakaan pusat juga sudah banyak berbenah dibandingkan saat masa saya tingkat 1 dulu. Banyak fasilitas baru dan banyak acara juga di sana. Hmm, rasanya untuk mengerjakan tugas akhir ini, saya sudah memiliki tempat yang pas untuk menjadi tempat nongkrong saya, hehehe.

Perpustakaan pusat tampak dari atas

Perpustakaan pusat tampak dari atas

Salah satu sudut perpustakaan

Salah satu sudut perpustakaan

 

Saya Ingin Lanjut Kuliah Ke Luar Negeri

Hahaha… sesuai judulnya, ada kata-kata “ingin”, artinya saya memang masih belum tahu apakah bakal kesampaian untuk kuliah ke sana. Tapi saat saya menulis ini, saya mulai memantapkan niat untuk melangkah ke sana. Yak, terus terang awalnya tak ada bayangan dari saya untuk melanjutkan kuliah S2. Yang terbayang adalah ingin lulus S1 lalu mendapatkan pekerjaan yang layak atau bikin start up company bersama teman-teman dan mendapatkan gaji yang tinggi untuk menghidupi keluarga saya kelak (hahaha…).

Tapi perspektif berpikir saya mulai berubah setelah (lebih tepatnya sedang) menjalani Tugas Akhir (TA) di tingkat terakhir ini. Adalah dosen pembimbing saya yang mengatakan bahwa kalau saya mau serius mengerjakan TA saya ini, TA saya itu dapat berguna untuk melanjutkan S2 di luar negeri. Beliau menceritakan itu karena memang beliau sudah pengalaman (beliau S3 di JKU Linz-Austria). Ketika saya mendengar itu pertama kali, saya merasa biasa-biasa saja, sampai akhirnya saya mulai mengerjakan TA dan banyak membaca paper-paper dari luar negeri sebagai bahan TA saya. Saya mulai berpikir, “Wah, asyik juga ya kalau bisa melakukan riset seperti ini. Saya bisa memberikan sesuatu yang kontributif untuk masyarakat banyak.” Terus terang saya kagum dengan banyaknya riset yang ada di luar negeri. Bahkan, untuk topik TA yang saya ambil, banyak juga paper dari Vietnam yang saya peroleh dari internet. Selain itu banyak juga paper yang saya baca juga berasal dari negara-negara Eropa Timur, seperti Bulgaria dan Republik Ceko. Dari sini saya melihat dunia riset di negara-negara berkembang ternyata sangat banyak juga. Ayo, Indonesia jangan mau kalah… 😀

Kembali lagi ke perihal lanjut S2. Entah kenapa tiba-tiba saya memilih untuk berusaha mengambil S2 di Korea Advanced Institute of Science and Technology (KAIST), Daejeon, Korea Selatan. Mungkin karena topik TA yang saya ambil serupa dengan salah seorang kakak angkatan yang saat ini sedang mengambil S2 di KAIST sana, hehehe.

Saya pun banyak berdiskusi dengan dia mengenai perkuliahan di sana dan bagaimana kehidupan di Daejeon sana, terutama bagi seorang muslim seperti saya ini. Ternyata, menurut dia, boleh dibilang perguruan tinggi di luar negeri yang sangat kondusif bagi mahasiswa muslim itu ya di KAIST itu. Di sana ada Mushola yang disediakan dalam kampus, makanan halal juga tidak susah diperoleh, sholat Jumat juga mudah karena hanya berjarak 15 menit dari Islamic Center of Daejeon (ICD). Biaya hidup di sana juga tergolong sangat murah. Dari 900 ribu won yang dia terima dari beasiswa perbulannya (1 won = Rp 9) katanya dia cuma menghabiskan 300 ribu won saja.

Sisi lain Daejeon, di sana juga banyak tempat-tempat riset perusahaan multi nasional seperti Samsung, LG, Hyundai, dll. Bisa dibilang Daejeon itu sillicon valley-nya Korea, kata dia. Kayak Bandung mungkin ya, dengan ITB salah satu di dalamnya :D.

Mendengar cerita dari kakak itu tentang KAIST, potensi, peluang, dan kehidupan di sana membuat saya semakin mantap untuk berusaha agar bisa kuliah di sana. Tapi jauh sebelum itu harus saya selesaikan dulu TA saya ini, hehehe. Apalagi, yang dibilang dosen pembimbing saya (seperti yang saya sebutkan di awal) ternyata memang benar. TA dia sewaktu masih S1 dulu ternyata menjadi pertimbangan profesor di sana untuk bisa diterima di KAIST.

Tulisan ini saya buat bukan untuk menyombongkan diri (memang apanya yang mau disombongkan? :D), melainkan untuk pemacu diri saya saja dan siapa tahu ada teman-teman yang sudah kuliah di luar negeri (syukur kalau alumni KAIST) mau share juga kepada saya. Bagi saya, cita-cita memang harus tinggi, karena usaha kita akan berbanding lurus dengan tingginya cita-cita yang kita canangkan. Dulu saya sewaktu SMA bercita-cita masuk ITB, saya buka webnya, dan hal yang paling banyak saya lakukan saat browsing itu cuma melihat foto-foto kampus dan kehidupan di dalamnya. Tujuannya sih supaya di otak saya saat itu berpikir “ITB, ITB, ITB, dan ITB”, hahaha. Belajar pun jadi semangat. Makanya saya sisipin foto KAIST di tulisan ini juga, hehehe. Bismillahirrahmanirrahim, yang penting TA dulu! 😀

KAIST (source: apec-smeic.org)

KAIST (source: apec-smeic.org)


Semua Repot Karena Kucing

Kurang lebih sudah ada 2 bulan ini, Kuma (seekor kucing betina yang kami beri nama demikian), selalu ngendon di kontrakan kami. Entah gimana awalnya hingga ia tiba-tiba jadi ikut menjalani hidup bersama kami dalam satu atap. Perasaanku dulu kucing ini langsung ngacir setiap kepergok masuk ke dalam rumah. Anehnya sekarang kok nggak ada rasa takut sama sekali. Kayaknya karena sudah terlanjur kami manja dengan sering kami kasih makan jadinya kucing ini jadi betah di rumah kami. Ketika sebagian anak-anak pergi saat liburan semester kemarin si kucing ini jadi sering tidur di dalam rumah, bahkan sampai tidur di kasur kami. Oiya, nama Kuma ini yang beri si Kamal, entah apa alasannya diberi nama itu.

Nah, beberapa hari yang lalu si Kuma ini melahirkan bayi kucing yang lucu-lucu. Jumlahnya nggak tanggung-tanggung: 6! Udah gitu, si Kuma ngelahirinnya di kamar salah satu penghuni kontrakan kami, namanya Wafi. Terpaksa dia ngalah, dan ia menyingkir dari kamarnya untuk sementara waktu, numpang tidur di tempat penghuni kontrakan yang lain, Haris, selama beberapa malam. Akan tetapi, setelah hari kelahiran anak-anak Kuma itu, beberapa hari kemudian si Wafi ini iba sampai ngurusin Kuma ma bayi-bayainya. Mulai menyediakan kardus buat tempat tidur bayi-bayinya, membuatkan susu untuk anak-anak si Kuma, dsb. Ya Allah, sungguh lelaki yang berhati mulia temanku satu ini… 🙂

Bahkan, saking antusiasnya dengan kelahiran anak-anak Kuma, Si Wafi sampai beberapa kali update status di Facebook menceritakan segala hal terkait Kuma. Ini salah satu screenshot status Wafi di Facebook:

Status facebook Wafi tentang Kuma

Status facebook Wafi tentang Kuma

Sampai akhirnya kemarin, kamis pagi, tiba-tiba si Wafi teriak-teriak di rumah kalau anaknya si Kuma mati. Jumlahnya cukup banyak, ada separuhnya (3). Aku sendiri belum jelas matinya si Kuma kenapa. Kata Wafi sih, anaknya mati kedinginan, sementara kata Kamal anaknya mati karena “dibunuh” sama kucing garong yang tiba-tiba sering menyusup ke dalam rumah.

Yang jelas, apapun sebab matinya 3 bayi kucing itu, si Kuma tiba-tiba saja jadi agresif. Ia menjadi sangat posesif terhadap anaknya. Aku pegang sedikit saja anaknya, dia langsung mengeong-ngeong seolah meneriakiku agar menyingkir dari anak-anaknya.

Sepanjang pagi hari itu, si Kuma survei ke tempat-tempat yang ada di dalam kontrakan. Tampaknya ia akan mencari tempat tinggal baru yang aman dan nyaman buat anak-anaknya. Orang-orang di rumah (terutama Wafi) jadi repot sendiri ngurusin perpindahan Kuma. Awalnya sempat dipindahin ke dalam kardus dan ditaruh di luar. Tiba-tiba ada pemulung yang mengambil kardusnya dan membiarkan anak-anak Kuma terlantar di jalanan. Wah, wah, dunia memang kejam.

Akhirnya, si Kuma mindahin satu-satu anaknya ke dalam rumah. Kasihan juga si Haris. Kasurnya, sempat jadi tempat tinggal si anak-anak Kuma itu. Kebetulan Haris waktu itu nggak ada di rumah. Jadi, begitu aku tahu kasurnya Haris dijadikan sarang baru bagi mereka, langsung aku pindahin anak-anaknya Kuma ke dalam kardus yang baru. Tapi dasar Kuma pinginnya tetap tinggal di dalam rumah, aku pun menaruh kardus itu di dalam rumah, tepatnya di ruang tamu. Tapi ya gitu, tiap ada orang makan dia langsung dempet-dempet. Arrgghhh… bikin repot aja. Tiap mau makan harus pindah-pindah menghindari kucing satu ini. Kalau nggak gitu, siap-siap aja kucing ini bakal nekad menerjang lauk yang ada di piring.

Repot memang ngurus kucing satu ini. Tiap pagi, pasti kami harus mberesin tempat sampah yang ada di dalam kontrakan karena malamnya diberantakin ma si Kuma. Duh, harus sabar…

Kuma dan anak-anaknya

Kuma dan anak-anaknya

Futsal Rileks dan Badminton Informatika

Sabtu ini benar-benar hari yang melelahkan buatku, tapi sehat :D!! Pagi-pagi jam 8 aku udah sampai di lapangan futsal YPKP daerah Suci sana menunggu teman-teman Rileks Futsal Club (klub futsal anak-anak aktivis thread sepakbola forum rileks.comlabs.itb.ac.id) yang belum datang. Yak, hari itu adalah hari pertamaku berkesempatan main futsal bareng (sekaligus kopi darat) anak-anak Rileks (akhirnya… :D). Sudah lama aku menantikan kesempatan ini. Tapi, selalu aja gagal gara-gara tiap hari Sabtu pagi pasti ada aja acara lain di kampus yang nggak bisa dinomorduakan oleh acara futsal ini.

Gilaa… Baru 10 menit main aku udah ngos-ngosan. Padahal waktu masih zaman keemasanku dulu (cieee..), di mana tiap pulang sekolah selalu main sepakbola panas-panasan sampai item kayak sekarang, aku kuat main sepakbola berjam-jam, nggak kalah kayak main winning eleven zaman SD dulu yang baru berhenti kalau yang punya Playstation udah bosen main sama aku :P.

Mungkin gara-gara terlalu semangat hari itu akhirnya bisa main futsal lagi. Dengan bermain lebih sabar dan mengatur nafas, akhirnya aku tetep bisa main dari awal sampai akhir pertandingan full time, hehehe… Teknik-teknik yang kupunya dulu ternyata masih belum hilang (horee…).

Senang juga bisa main bareng sama anak-anak rileks. Terus terang, semuanya baru kukenal saat itu, kecuali mas Ageng yang memang sudah kenal di Comlabs dan Thoriq yang kebetulan adik angkatanku di jurusan.

Habis main futsal

Tampang-tampang lelah habis main futsal

Selesai main futsal, aku langsung meluncur kembali ke daerah Cisitu. Yak, sesuai jadwal, mulai Sabtu ini aku ada latihan badminton rutin tiap hari Sabtu sama anak-anak Informatika 2007, di antaranya ada Rizky, Kamal, Tere, Ginanjar, Neo, Haryus, dan Dana. Kebetulan kami sama-sama pecinta badminton juga, jadi rencana main badminton rutin ini bisa konkret juga akhirnya. Jumlah itu kemungkinan masih bisa bertambah mengingat teman-teman yang lain juga ada yang berminat untuk ikutan.

Lumayan, hari itu kami bisa puas main badminton selama 3 jam, mulai dari jam 10 pagi sampai jam 1 siang. Tak, tok, tak, tok… Wah, kangen dengan suara-suara raket nampol kok kayak gitu. Jadi ingat zaman SMA dulu waktu masih aktif ikut ekskul badminton, bisa main sepuas-puasnya mulai dari jam 1 siang sampai jam 5 sore di lapangan bulutangkis Aula SMA Tugu. Sudah gitu gratis lagi. Paling cuma iuran kok aja tiap bulannya. Kalau sekarang, harus patungan buat nyewa lapangan, hiks.. hiks..

Capek juga siang hari itu. Tapi rasanya super puas. Badan ini jadi segar bugar lagi. Belum lagi, besoknya masih harus latihan kungfu Wingchun yang rutin tiap hari Minggu di kampus. Sudah terbayang esoknya badan ini nggak cuma segar bugar lagi, tapi udah remeg, hihihi…

Sore hari itu aku lanjut ke acara makan-makan bareng karyawan TOKEMA dan pengurus TOKEMA yang baru di rumah makan Selasih, Cikutra. Asyik… makan-makan gratis. Di acara itu aku ikut ngasih sambutan sebagai mantan pengurus lama yang digantikan. Seru juga kangen-kangenan sama bapak-bapak karyawan TOKEMA yang sudah aku anggap sebagai orang tua dan teman selama aku menjabat pengurus. Maafkan anakmu ini ya Pak yang sudah banyak ngrepotin selama di TOKEMA… 🙂 Buat pengurus-pengurus yang baru, ingat pesan saya saat ngasih sambutan kemarin: Tentukan apa yang akan Anda cari di TOKEMA, inovasi apa yang ingin Anda torehkan dalam sejarah TOKEMA, dan terakhir, jaga semangat kalian yang sudah hebat ini sampai akhir kepengurusan!

Main Badminton Bareng Anak-Anak Comlabs

Kamis ini tanggal merah. Bingung nggak ada kerjaan. Baca-baca berita di internet, ngikutin berita tentang revolusi Mesir di TV, baca-baca dikit buku kuliah NLP, argghhh… bosen! Pingin olahraga tapi nggak ada teman.

Sampai akhirnya ada info di milis himpunan kalau ada main futsal di Cipedes. Seneng banget ada yang mau main futsal, tapi sayang aku nggak tahu tempatnya. Mau cari temen barengan, anak-anak sekosan pada nggak suka main futsal. Ya udah terpaksa pending lagi main futsalnya.

Di tengah keputusasaan kegaringan hari ini, tiba-tiba ada SMS dari mas Ageng ngajak main badminton bareng anak-anak Comlabs. Tanpa banyak menerawang ke mana-mana, aku langsung bales SMS-nya. “Makasih mas ajakannya. Insya Allah ane ikut.”

Langsung deh, malemnya habis sholat Maghrib aku langsung berangkat ke GOR Cisitu. Ternyata dalam perjalanan ke sana ketemu mas Ageng sama Seno. Beberapa menit kemudian peserta nambah lagi ada Pudel ma kang Adi. Asyik… akhirnya bisa main badminton lagi. Pukulan-pukulan smash yang sudah lama tidak aku keluarkan, akhirnya bisa tersalurkan malem ini. Hehehe…

Malam ini hasrat untuk bermain badminton akhirnya tersalurkan. Tapi bermain-main dengan olahraga tepok bulu ini nggak berhenti sampai di sini. Sabtu lusa, aku akan bermain lagi, kali ini giliran sama anak-anak Informatika 07. Hahaha… 😀

Habis main badminton

Habis main badminton