Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Berendam Air Panas di Cipanas Garut

Melanjutkan tulisan sebelumnya tentang rafting di Cimanuk, Garut, kali ini aku akan berbagi cerita tentang pengalaman berendam air panas di Cipanas, Garut. Setelah rafting, kira-kira pukul 17.15, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Cipanas, yang lokasinya juga masih di Kabupaten Garut. Butuh sekitar 40 menit perjalanan untuk mencapai ke sana dari lokasi tempat kami finish rafting itu. Jadi sampai di sana tepat saat adzan Maghrib.

Pemandian Purbasari

Pemandian Purbasari

Nama tempat yang kami jujugi adalah ‘Pemandian & Kolam Renang Purbasari’. Tarif masuknya adalah Rp4500 per orang. Di sana ada papan dengan tulisan keterangan tambahan “Mandi atau tidak mandi tetap bayar” :D.

Saat kami memasuki area kolam renang itu, tak banyak pengunjung yang berada di sana. Wajar saja karena hari itu merupakan hari kerja biasa. Di area pemandian Purbasari tersebut tersedia satu buah kolam renang dan 2 buah kamar mandi untuk pria dan wanita serta beberapa kamar ganti dan WC. Air? Jangan khawatir, air di sana sangat melimpah dan panas! Nggak terlalu panas juga sih. Yang jelas kalau menurutku panasnya pas-lah. Sumber air panas di Purbasari dan daerah Cipanas pada umumnya itu berasal dari Gunung Guntur. Itu yang kuketahui dari Luthfi yang memang anak Garut.

Kurang lebih cuma satu jam kami berada di dalam lokasi ‘Pemandian & Kolam Renang Purbasari’ itu. Setelah puas bermain-main air panas di kolam renang, kami membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia. Airnya? Masih air panas, hehehe. Rasanya segar banget. Enaklah buat relaksasi. Rasa pegal-pegal sehabis rafting dapat dinetralisir dengan berendam air panas di sana.

Sebenarnya aku ingin masang foto-foto kolam renangnya. Tapi kok nggak ada yang nggak ada orangnya. Ya sudah, nggak jadi kalau begitu, hehehe.

Setelah bersih-bersih diri, kami bersiap untuk pulang. Tapi berhubung angkot yang kami carter belum datang ke lokasi, karena mengantarkan teman-teman KMPA ke basecamp MAPALA Garut, kami pun dengan sabar menunggu di warung di depan lokasi Purbasari. Di sana kami duduk-duduk di depan warung itu sambil mengisi perut. Ada siomay, pop mie, bacang, dll.

Nongkrong di depan warung

Nongkrong di depan warung

Sekitar pukul 19.30 angkot yang kami tunggu akhirnya datang juga. Kami pun langsung bersiap-siap untuk pulang. Perjalanan Garut-Bandung ditempuh dalam waktu sekitar 2 jam lebih beberapa menit. Jam sudah menunjukkan pukul 22.15 ketika aku sampai rumah kontrakan.

Rafting di Sungai Cimanuk Garut

Hari Senin kemarin (2011-06-13) aku dan beberapa teman sefakultas pergi arung jeram (rafting) ke sungai Cimanuk, Kabupaten Garut. Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan merupakan ide salah seorang teman bernama Kuncoro (Sistem Teknologi Informasi ’07). Dia yang mengatur semuanya mulai dari memberikan pengumuman ke anak-anak Informatika ’07, menghimpun peserta, hingga mengurus ke Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) “Ganesha” ITB. Sayangnya, pada saat menjelang hari H ternyata dia berhalangan karena ada urusan akademik yang harus diselesaikan.

Peserta rafting ini terdiri atas 11 orang anak Elektro ’07, Informatika ’07,  dan Sistem Teknologi Informasi ’07, yaitu aku, Luthfi, Kamal, Rizky, Khairul, Luqman, Jiwo, Ian, Haris (IF ’07), Veri (STI ’07), dan Pras (EL ’07). Semua orang tersebut, kecuali Luqman, Ian, Haris, dan Veri, merupakan teman-teman yang ikut tur ke Sukabumi-Ciamis Maret lalu. Dalam rafting kali ini, selain kami, juga ada 12 rekan mahasiswa dari Geodesi ’08 dan tentu saja rekan-rekan dari KMPA yang berjumlah 6 orang. Jadi total ada 29 orang, di mana empat orang di antaranya adalah perempuan (dua orang dari KMPA dan dua orang lagi dari Geodesi.

Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB tepat pukul 7 pagi dengan menaiki angkot carteran. Anak-anak KMPA sebagian ada yang menggunakan mobil dan motor pribadi menuju ke tempat rafting. Untuk peralatan rafting, sebagian ada yang dimasukkan ke dalam angkot, dan lainnya lagi dimasukkan ke dalam mobil KMPA.

Perjalanan dari kampus menuju Sungai Cimanuk, Garut, memakan waktu hampir 2,5 jam. Perjalanan berangkat mengambil jalur melalui tol Pasteur-Cileunyi terus melewati Cicalengka, Nagrek, dan Kabupaten Garut. Saat perjalanan mulai melintasi Garut, hamparan sawah di kanan kiri jalan hampir menjadi pemandangan wajib sepanjang perjalanan.

Kami tiba di tempat start rafting sekitar pukul 9.30. Setelah itu kami langsung melakukan persiapan. Kami langsung mengenakan perlengkapan rafting mulai dari rompi pelampung, helm rafting, dan memegang dayung masing-masing.

Di jembatan start
Di jembatan start

Sebelum memulai rafting, kami diberikan pengarahan oleh salah seorang anggota KMPA mengenai hal-hal yang harus diketahui saat rafting. Utamanya adalah masalah komando skipper. Skipper adalah salah seorang di atas raft yang menjadi pemimpin perjalanan rafting. Dia akan memberikan komando kapan dan bagaimana kita harus mendayung. Oleh karena itu, sang anak buah harus mengerti jenis-jenis komando yang diberikan.

Bersiap-siap rafting

Bersiap-siap rafting

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Setelah pengarahan, kami melakukan pemanasan selama kurang lebih 15 menit. Pemanasan penting dilakukan agar fisik kita tidak kaku saat melakukan pengarungan.

Habis pemanasan, selanjutnya adalah pembagian kelompok raft. Satu raft diisi kurang lebih 4-5 orang ditambah dengan satu orang skipper dari anak KMPA. Total ada lima raft dalam pengarungan ini, salah satu di antaranya merupakan perahu rescue.

Aku sendiri berada dalam satu raft dengan Luthfi, Ian, Rizky, Kamal, dan Yasir (STI ’07 juga). Dalam raft kami ini Yasir yang bertindak sebagai skipper. Untuk memudahkan penyebutan nantinya, kita sebut saja kelompok kami ini kelompok ‘Merah 1’. Kenapa merah? Sebab raft yang kita tumpangi memang berwarna merah dan raft yang berwarna merah ada 3 buah. Kelompok yang lain, sebut saja ‘Merah 2’, terdiri atas Haris, Veri, Luqman, Pras, Jiwo, Moundri (Geodesi ’08), dan Dani (Farmasi ’07). Dalam kelompok tersebut yang bertindak sebagai skipper adalah Dani yang juga anak KMPA. Dua kelompok lainnya (selain perahu raft rescue) kita sebut saja ‘Merah 3’ dan ‘Kuning’. Khairul berada di kelompok Merah 3.

Pengarungan pun dimulai!

Tak berapa lama kemudian, pengarungan pun dimulai. Continue reading

Mendeley: Asisten Virtual Akademisi

Mendeley adalah sebuah nama software. Saya pertama kali megetahui tentang software ini saat diperkenalkan oleh kakak asisten dosen kuliah Teknologi Basis Data semester lalu untuk pengerjaan tugas penyusunan makalah. Saya pun ketika itu langsung mengunduh Mendeley yang versi desktop untuk Windows. Oiya, satu hal, aplikasi ini gratis :mrgreen:.

So, software apakah Mendeley itu? Kenapa asisten dosen saya itu merekomendasikan software tersebut? Jadi, Mendeley merupakan sebuah aplikasi yang berguna untuk mengorganisasikan atau mengelola kumpulan paper-paper yang kita miliki. Kalau dengar kata ‘paper’, rasanya sudah tahulah, sangat erat kaitannya dengan kerjaan para akademisi. Yup, aplikasi ini memang rasanya lebih diperuntukkan dan sangat membantu bagi kalangan akademisi.

Dokumen-dokumen yang bisa dikenali oleh aplikasi Mendeley ini adalah file-file BIB, RIS, XML, ZOTERO.SQLITE dan PDF. Naumn, di antara tipe file tersebut barangkali yang familiar untuk tipe file paper cuma PDF saja.

Di dalam Mendeley ini kita bisa menambahkan dokumen-dokumen yang kita punya di komputer ke dalam koleksi kita ke dalam Mendeley dan mengelompokkannya ke dalam kategori-kategori. Sesudah itu, aplikasi akan me-retrieve metadata yang terdapat pada dokumen, antara lain berupa nama author, title, year published, dan nama event paper tersebut dipublikasikan.

Dengan sekali klik pada salah satu item dokumen, selanjutnya aplikasi akan langsung membuka dokumen tersebut pada tab baru. Dalam mode view tersebut kita bisa me-review dokumen tersebut dan memberikan highlight kepada bagian yang kita anggap penting. Ya, mirip sebagaimana kalau kita me-review tulisan dalam bentuk hardcopy yang bisa kita tandai pakai stabilo.

Terakhir, ini barangkali fitur yang sangat membantu kita para akademisi, yakni automatic bibliography generator. Kita dapat mengekstraksi bibliografi dalam format mengikuti standar yang bisa kita pilih. Mau IEEE, modern language association, nature journal, ACM SIGCHI, dll. Jadi, kita tidak perlu lagi susah-susah mengetik bibiliografi secara manual, hehe.

Saya sendiri benar-benar merasa nyaman dengan aplikasi Mendeley ini. Benar-benar membantu saya ketika akan menyusun makalah maupun Tugas Akhir (TA). 🙂

Screenshoot Mendeley

Screenshoot Mendeley

Tentang Tokek

Tokek

Tokek (jabar.tribunnews.com)

Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan suara tokek lagi saat pulang kampung ke Malang. Suara tokek itu sering terdengar dari belakang kamar saya yang memang merupakan kawasan pemakaman alias kuburan.

Tiba-tiba saya jadi tersadar, ternyata selama saya tinggal di Bandung rasanya saya belum pernah mendengar suara tokek di lingkungan sekitar tempat tinggal saya itu. Padahal saya sudah berpindah tempat kosan hingga 3 kali. Namun, di tiap daerah kosan yang saya tinggali, saya belum pernah mendengar suara tokek itu lagi. Padahal di lingkungan tempat tinggal saya di Malang, suara tokek itu sudah menjadi teman akrab sehari-hari (dulu, nggak tau kalo sekarang, hehe).

Waktu masa kecil dulu saya dan teman-teman sering mendapati tokek-tokek berkeliaran di dinding rumah-rumah kosong yang ada di lingkungan tempat tinggal kami. Pernah suatu kali kami dapat tokek kecil yang kebetulan jatuh dari dinding. Namanya anak kecil, suka usil, salah seorang dari kami ada yang usil naruh tokek tersebut ke punggung salah satu anak, hihi.

Hmm… sebenarnya saya penasaran banget sama si tokek a.k.a gecko ini. Mengapa ya tokek itu mengeluarkan bunyinya pada waktu tertentu saja dan suaranya keras sekali? Maksud saya, dibandingkan dengan bangsa reptil lainnya dia satu-satunya yang memiliki keunikan di situ. Kalau iseng kita hitung, setiap kali bersuara, jumlah kata ‘tekek’ yang dia keluarkan juga tidak selalu sama. Pengaruhnya apa ya?

Saya sudah coba googling di Internet, tapi belum menemukan artikel riset yang membahas tentang gecko phenomena ini. Kalau berita di Indonesia, yang ada malah berita tentang praktik jual beli tokek ini yang nilainya (katanya) sampai puluhan juta rupiah.

Kembali ke rasa penasaran saya tadi. Hmm… kenapa ya? Ada yang tahu?

Blaast

Mungkin sebagian sudah ada yang pernah mendengar tentang judul di atas. Blaast? Makanan apaan sih itu :D? Saya sendiri pertama kali mendengar tentang “Blaast” adalah sekitar bulan Maret lalu ketika ada teman yang memosting di milis jurusan bahwa ‘mereka’ akan datang ke ITB jauh-jauh dari Finlandia untuk mengadakan sosialisasi dan kerja sama dengan civitas ITB. Namun, saat itu saya sendiri belum begitu menaruh perhatian, hingga akhirnya kemarin ada kakak angkatan yang memosting kembali di milis dan memberikan sedikit informasi mengenai Blaast.

Buat yang ingin tahu Blaast itu apa, mengutip dari salah satu postingan di milis jurusan saya, Blaast itu adalah suatu mobile development platform yang berbasis cloud service. Kalau teman-teman buka situsnya, di sana jelas tertera tagline mereka: “forget hardware, your next phone is in the cloud”. Selain itu, dalam sedikit company profile sebagaimana yang tertera di situs ArcticStartup mereka (Blaast Ltd) menyatakan, “At Blaast, we believe that everything from your mobile apps to personal data, from email to settings, will be in the cloud. That’s why we’re building the world’s first cloud-based mobile platform.” Dari situ tampaknya sudah jelas bahwa aplikasi-aplikasi Blaast akan bersifat cloud-based alias semua aplikasi itu akan di-hosting di cloud (baca: internet).

Sebelumnya, perlu diketahui bahwa aplikasi-aplikasi Blaast itu dicoding dengan menggunakan Javascript. Jenis-jenis mobile devices yang support J2ME otomatis akan support juga terhadap Blaast ini. Untuk platform Android, kabarnya saat ini mereka tengah mengusahakan untuk compatible juga di sana.

Rencana ke depannya mereka juga akan membuat market place sendiri (Blaast App Store), di mana semua aplikasi akan disimpan di cloud server mereka. Untuk mendorong pertumbuhan developer Blaast, mereka pun mengadakan kompetisi membuat aplikasi Blaast yang dimulai dari tanggal 14 Mei sampai 11 Juli 2011. Hadiah yang ditawarkan pun sangat menarik, di antaranya Macbook Pro, Trip to Europe, dan Smartphones. Kalau dilihat dari salah satu hadiahnya, yakni ‘Trip to Europe’, agaknya mereka memang mengincar developer-developer dari luar Eropa, khususnya Asia. Bahkan, kabarnya mereka akan melakukan launching secara resmi di Indonesia (simak video di bawah).

Wah, saya jadi tertarik untuk ngoprek nih. Mudah-mudahan di tengah kesibukan Tugas Akhir (TA) ini masih bisa menyisihkan waktu untuk ngoprek kakas yang satu ini. Buat teman-teman yang mungkin tertarik juga untuk ngoprek dan bahkan ikutan bikin aplikasi Blaast bisa download SDK-nya di sini. Kecil kok ukurannya, cuma 10 MB. Di salah satu menu di sana juga terdapat tutorial/guide serta referensi untuk bekerja dengan SDK tersebut. Tetapi untuk bisa mengunduh dan membaca guide dan referensi tersebut, kita harus sign up dulu ke situs developer.blaast.com. Dalam paket SDK itu juga terdapat beberapa contoh aplikasi yang dapat kita jalankan dan pelajari source code-nya. So, happy exploring! 😀

Screenshoot Blaast Rocket

Screenshoot Blaast Rocket developer tool


Portal Badminton Tournament Video Sharing

Berawal setelah menonton event Piala Sudirman 2011 yang ditayangkan di televisi, gairahku terhadap badminton pun bangkit lagi. Sudah lama aku tidak mengikuti perkembangan berita bulutangkis. Terakhir kali adalah saat Indonesia kalah di final Piala Thomas 2010 melawan China 0-3.

Jujur, dengan keringnya prestasi yang diraih oleh tim bulutangkis Indonesia saat ini membuatku rindu pada masa kecilku dulu di mana Indonesia ketika itu benar-benar digdaya di dunia bulutangkis, khususnya bagian putra. Pada masa itu setiap ada turnamen bulutangkis seperti Thomas & Uber Cup, Indonesia Open, Olimpiade atau turnamen bulutangkis lainnya yang ditayangkan di televisi, dapat dipastikan demam bulutangkis melanda masyarakat. Di mana-mana orang main bulutangkis, termasuk aku dan teman-teman tetanggaku saat itu. Kami juga membuat turnamen sendiri dengan setiap anak mewakili satu nama jagoan bulutangkisnya ketika itu. Nyatanya saat itu banyak sekali nama jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia yang bisa kita ‘pilih’ sampai kita bingung sendiri, hehehe.

Yah, itu tadi sekedar intermezzo saja. Untuk mengobati rasa rindu itu dan mengingat dunia internet sekarang sudah semakin ramai, aku pun iseng-iseng mencari video-video rekaman pertandingan bulutangkis dunia melalui media search engine mbah Google. Barangkali ada yang juga iseng mengunggahnya di internet. Alhamdulillah, ternyata ada satu portal situs berbagi file (file sharing) yang menyediakan koleksi pertandingan bulutangkis mulai dari tahun 1980-an sampai yang terbaru (2011). Alamatnya ada di sini.

Aksi-aksi jagoan bulutangkisku seperti Ricky-Rexy yang juara Men Doubles di Olimpiade 1996, Indonesia yang secara heroik mengandaskan China 3-0 di Thomas Cup 2000 dan Malaysia 3-2 di Thomas Cup 2002 pun juga ada. Tidak perlu password khusus untuk bisa mengakses portal tersebut karena sudah diset public. Namun, ada beberapa video yang dikompres dengan diberi password. Untuk tahu password-nya, teman-teman harus menjadi anggota dulu di BadmintonCentral.com.

Mengenai kualitas video, ada macam-macam. Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Namun lumayanlah buat bernonstalgia dengan menonton pertandingan-pertandingan klasik masa lalu. Enjoy it! 🙂

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

 

Pulang Ke Malang Naik Kahuripan

Alhamdulillah Ya Allah… akhirnya sampai juga di rumah orang tua di Malang. Perjalanan panjang selama kurang lebih 25 jam mulai dari keluar rumah kontrakan di Bandung hingga menginjakkan kaki di dalam rumah di Malang telah terlewati juga. Dalam perjalanan pulang kampung ke Malang kali ini aku naik kereta ekonomi KA Kahuripan bersama dengan adik kelasku, Alimin (EL’09). Mumpung ada ‘liburan’ cuti bersama beberapa hari, kesempatan itu aku manfaatkan untuk pulang ke Malang. Di tengah hiruk pikuk kesibukan kuliah, termasuk tugas akhir, aku memang butuh banget suasana yang berbeda.

Kemarin, setelah menyelesaikan beberapa urusan akademik, termasuk pendaftaran semester pendek, aku pun mulai bersiap-siap untuk pulang. Barang-barang, di antaranya berkas-berkas kuliah yang sudah tak terpakai, kukemasi dalam kardus. Aku berangkat meninggalkan rumah kosan pukul 15.15 dan sampai di stasiun Hall sekitar 25 menit kemudian. Mengingat perjalanan pulang kali ini bertepatan dengan ‘liburan’ panjang, aku dan Alimin sudah mengantisipasinya dengan naik KA Kahuripan sejak awal di stasiun Padalarang. Pukul 16.00 kami menaiki KRD Patas menuju stasiun Padalarang dengan ongkos Rp5.000 per orang. Sesampainya di sana kami langsung berjalan masuk ke dalam rangkaian KA Kahuripan yang sudah stand by di jalur 4 stasiun. Benar dugaan kami. Kondisi dalam kereta sudah terisi banyak orang. Padahal jam masih menunjukkan pukul 16.30 atau 3 jam menjelang keberangkatan. Kebanyakan dari mereka ternyata adalah para tentara muda yang akan pulang kampung juga.

Tiga jam menunggu tentu bosan juga. Barangkali itu pula yang dirasakan oleh mas-mas tentara itu. Di tengah-tengah masa penungguan keberangkatan, tiba-tiba ada kelompok pengamen, yang terdiri atas 1 orang pegang gitar, 1 orang biola, dan 1 orang pegang kendang besar. Para mas-mas tentara itu pun tampak sumringah. Bahkan, mereka sampai request 4-5 lagu tambahan. Sang pengamen pun tampaknya juga tidak keberatan. Malahan mereka senang karena mendapatkan penumpang yang antusias dan artinya mereka akan dapat rezeki banyak :).

Tidak hanya request, mas-mas tentara yang jumlahnya ada belasan atau sekitar 20-an itu juga berjoget riang. Penumpang lain pun cuma bisa tersenyum melihat tingkah mas-mas tentara yang menghibur itu. Tampaknya virus Briptu Norman mulai menyebar, hihihi :D.

Mas-mas tentara nyanyi dan joget bareng

Mas-mas tentara nyanyi dan joget bareng

Lumayan juga ya ternyata kehadiran pengamen-pengamen tadi bisa membunuh waktu yang membosankan itu tadi. Selang beberapa saat kemudian suasana kereta sudah benar-benar padat. Bahkan, sudah ada yang nggak dapat tempat duduk. Sekitar pukul 19.30 akhirnya kereta berangkat.

Kondisi padat penumpang ini ternyata tidak berakhir walau kereta sudah berhenti di stasiun Lempuyangan, Purwosari, Solo Jebres, dan Madiun. Selalu saja ada penumpang yang naik lagi walaupun tak seramai saat keberangkatan dari Bandung. Barangkali inilah kali pertama aku naik Kahuripan dengan kondisi penuh hingga stasiun akhir, Kediri. Biasanya paling sampai Jogja, Solo, atau Madiun, kereta sudah longgar banget.

Kahuripan sendiri sampai di Kediri saat pukul 11.30. Lumayan ‘tepat waktu’lah. Selanjutnya, kami meneruskan perjalanan ke Malang dengan menumpang bus Puspa Indah. Tarifnya ternyata masih tetap, Rp17.000 Kediri-Malang. Sampai di terminal Landungsari, Malang, waktu ‘masih’ menunjukkan jam 3 sore lebih sedikit. Aku dan Alimin pun makan bakso dulu di terminal. Habis makan, masih lanjut lagi naik angkot pulang ke rumah. Sampai di rumah tepat pukul 16.30. Total perjalanan pun 25 jam :D.