Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Mutual Friend di Facebook

Pernah nggak sih kalian ketika facebook-an, terus tiba-tiba terlintas di pikiran, “Lho, ternyata si A kenal juga sama si B.”

Atau kadang-kadang bisa juga, “Oh, si A ternyata pernah satu sekolah sama si C.” Dan lain sebagainya. Di Facebook kita mengenal fitur mutual friends untuk menemukan “irisan” teman-teman kita dengan seseorang.

Nah, jadi ceritanya kenapa tiba-tiba aku menulis artikel ini adalah karena baru saja aku mengetahui ada seorang teman di ITB (selisih 1 tahun denganku) — sebut saja si A — yang ternyata kenal dengan kakak kelasku di SMA 3 dulu (selisih 3 tahun denganku) — sebut saja si B. Si B dulu kuliah di ITS dan sekarang melanjutkan S2 di NTUST Taiwan. Kebetulan si A baru saja masuk di NTUST dan di sanalah mereka berkenalan. Aku tahu mereka saling kenal ketika melihat si A itu memberikan komentar di status si B di Facebook.

Lalu ada juga cerita tentang seorang teman SMA — sebut saja si C — yang tiba-tiba ngetag foto teman kuliahku — sebut saja si D. Setelah kulihat-lihat profil mereka, ternyata mereka dulu pernah satu sekolah di Jakarta sewaktu masih SD.

Kayaknya seru juga ya kalau di Facebook ada fitur “How I met his/her”, atau “Where I met his/her”, atau “When I met his/her” gitu. Halah, kok jadi kayak film serial How I Met Your Mother gini, hahaha. Terus ada semacam meeting record map gitu. Misal simpelnya kayak gini nih:

Kadang-kadang kan kita suka mengingat-ngingat ya, gimana sih ceritanya aku bisa kenal sama si ini, si itu, dan lainnya. Kadang-kadang juga kita penasaran ingin tahu, di mana sih si A bisa kenal sama si B. Kalau ada fitur ini, bakal semakin melengkapi fitur Timeline-nya Facebook. Jadi suatu saat mungkin akan ada tambahan info di detail mutual friend: “Si A bertemu dengan si B pada saat Ospek di Kampus ITX pada tanggal 30 Februari 2012.”


Tiket Promo Kereta Api

Tiket promo kereta api

Tiket promo kereta api

Akhirnya ngerasain juga dapat tiket promo kereta api. Aku dapat 2 tiket promo untuk perjalanan dengan KA Argo Parahyangan Bandung-Jakarta Gambir PP. Lumayan kan, bisa naik kelas eksekutif dengan harga miring (Rp 20.000), lebih murah daripada kelas bisnis (Rp 45.000) dan tentu saja harga eksekutif normal, Rp 80.000. Tapi jadwalnya masih lama sih. Aku pesan buat bulan depan, hehehe.

Kebetulan sekarang PT KAI memang sedang menyediakan tiket promo untuk beberapa perjalanan kereta kelas eksekutif. Setiap perjalanan ada paling tidak 4-10 tiket promo. Untuk mengetahui apakah suatu perjalanan kereta menyediakan tiket promo atau nggak, kita bisa mengecek situs PT KAI di http://kereta-api.co.id. Pilih stasiun asal dan tujuan perjalanan, lalu akan muncul daftar kereta bersama dengan rincian harga tiket per kelasnya. Kalau memang tersedia tiket promo, maka di sana akan tertera harga untuk tiket promo.

Setelah itu, datang ke stasiun dan mengisi formulir pemesanan. Cantumkan di sana bahwa kita ingin tiket promo. Kalau tidak ditulis, kita bisa juga ngomong langsung ke petugas loketnya. Tentu saja selama persediaan tiket promo masih ada. Tapi ingat, tiket ini tidak bisa dibatalkan atau dialihkan.

[Kuliner] Abuba Steak

Rib eye

Rib eye

Sudah lama nggak keluar kulineran bareng temen-temen kosan. Kali ini sasaran kami adalah Abuba Steak. Ini untuk pertama kalinya kami ke sana. Padahal lokasinya terbilang cukup dekat dengan kosan kami — masih sama-sama di daerah Dago — apalagi jauh lebih dekat dengan kampus kami.

Hmm … melihat daftar menunya — dan tentu juga harganya 🙂 — really killing me. Paling murahnya steak dengan daging sapi lokal itu sekitar 40 ribuan. Sedangkan yang daging impor dari USA dan New Zealand, harganya sekitar 50-100 ribuan, tergantung daging sapi bagian mana dan berapa bobotnya. Pantes saja semasa kuliah anak-anak lebih suka traktiran atau makan-makan di Warung Steak & Shake, Javan, ataupun D’Kos karena harganya relatif terjangkau untuk mahasiswa, selain tentu saja lokasinya juga tidak jauh dari kampus.

Aku sendiri mencoba menu “Rib Eye” daging sapi New Zealand seperti yang ada di foto di atas ini. Maaf, jepretannya jelek, hehehe. Oh ya, harganya Rp 65.000. Mahal bukan 🙂 ? Tapi dari segi rasa, menurutku cukup worth it lah. Sekali-sekali nggak apa-apalah ya. *siap-siap puasa 3 hari ke depan :P*

KA Ekonomi Pun Kini Banyak Calo

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Kereta ekonomi (ilustrasi)

Tulisan ini kubuat karena aku sudah tidak paham lagi dengan sistem penjualan tiket kereta di negeri ini, khususnya kereta ekonomi. Sudah tiga kali aku gagal pulang kampung gara-gara kehabisan tiket KA Kahuripan.

Pertama, pada libur long weekend Nyepi pada akhir Maret lalu. Aku datang ke stasiun untuk membeli tiket pada H-2. Tiket habis. Ok, aku paham.

Kedua, pada libur long weekend Paskah pada awal April lalu. Aku datang ke stasiun pada H-3. Tiket habis. Ok, aku paham. Lain kali aku harus datang lebih awal lagi.

Sampailah pada hari Rabu kemarin tanggal 9 Mei atau H-7 sebelum rencana keberangkatan. Aku datang ke stasiun Kiaracondong pada pukul 7.30 dan berencana untuk membeli tiket KA Kahuripan untuk keberangkatan tanggal 16 Mei. Antrian cukup panjang ketika itu. Aku termasuk berada di antrian tengah-tengah. Mungkin ada sekitar 12-15 orang yang antri di depanku. Nah, ketika sampai pada giliranku — waktu menunjukkan pukul 8.05, aku pun memesan tiket KA Kahuripan. Tak dinyana, petugas mengatakan bahwa tiket KA Kahuripan sudah habis. Beliau menawarkan tiket KA Pasundan yang tentu saja tidak mungkin buatku untuk membelinya karena tidak sesuai dengan tujuan dan jam keberangkatan yang ku bisa.

Serius? Loket baru buka sekitar sejam, tapi tiket sudah habis. Ok, anggaplah  sekali perjalanan kereta membawa 6 gerbong penumpang yang masing-masing kapasitasnya 103 (CMIIW). Dikali 6 berarti ada sejumlah 618 kursi. Ok, mungkin aku mengabaikan fakta bahwa sistem ticketing ini sudah online di mana semua stasiun yang dilalui bisa melayani pemesanan tiket di saat bersamaan. Belum lagi pemesanan Indomaret, kantor pos, dan agen-agen. Tapi satu tiket pun masa tak tersisa di saat pemesanan dilakukan pada 1 jam setelah loket buka?

Yang bikin kesal, di luar stasiun ada saja calo-calo yang menawarkan tiket. Sebelumnya nggak pernah ada istilah kereta ekonomi itu dicaloin karena kapasitasnya yang ‘tak terbatas’. Kalau aku sih, lebih baik nggak pulang daripada harus beli tiket di calo. Toh, transportasi yang lain masih ada, walaupun tidak akan semurah naik kereta ekonomi. Hmm … mungkin lain kali harus menginap di stasiun kali ya biar bisa dapat antrian pertama.

Hardcore Coding

Judulnya agak lebay sih memang. Bukan codingannya yang hardcore. Tapi sesungguhnya, apa yang kulakukan ini bisa dibilang juga lebay, hihihi :D.

Berawal dari malasnya diriku untuk berganti-ganti window antara IDE, tampilan desain, browser buat googling, dan browser atau emulator buat menjalankan aplikasi. Akhirnya aku meminjam dua monitor teman sekosanku dan kupasang — bersama laptopku — berjejer di atas meja, yang juga minjam dari teman sekosan, hehehe. Sebenarnya bukan karena malas juga sih. Tapi lebih ke niatan supaya bisa multitasking sih.

Secara kebetulan si Bonci, kucing kosanku, lagi tidur-tiduran di dekat monitor. Ya udah, aku foto dulu momen ini. Jarang-jarang bisa dapat pinjaman dua monitor sekaligus serta mejanya.

So, hasilnya? Trust me, it works! 🙂

[Video] Undrip; Ngerap untuk Fund Raising Startup

Baru dikasih tahu oleh teman ada sebuah IT startup company di USA sana yang bikin single hit rap gitu untuk fund raising usahanya. Nama startup-nya adalah Undrip. Nih dia salah satu video clipnya yang berjudul “We Need An Angel” yang dikemas dengan cukup pro untuk ukuran home video made :):

Enak juga sih musik rapnya. So catchy. Sepak terjang Undrip ini — terkait dengan rilis video klip mereka, bukan terkait portfolio IT startup dan sejenisnya — sempat dibahas juga oleh TechCrunch, media online di bidang teknologi IT yang sangat populer, di artikel ini.

Bagi yang ingin tahu video-video rap lainnya dari Undrip bisa kunjungi langsung homepage YouTube-nya di sini. Dan bagi yang ingin tahu mengenai profil Undrip dan personel, eh karyawan-karyawannya, bisa lihat di link ini.

Midnight in Mid Valley

Saat ini sedang berada di Kuala Lumpur, Malaysia untuk suatu urusan. Baru saja tiba malam tadi dan akan berada di KL ini selama 3 hari ke depan. Beda dengan kunjungan sebelumnya di mana kami biasa menginap di Petaling Jaya, kali ini kami menginap di kawasan Mid Valley, Kuala Lumpur.

Pemandangan Kuala Lumpur diambil dari The Gardens Hotel & Residences, Mid Valley di tengah malam ini:

Mid Valley at midnight

Mid Valley at midnight