Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Mission Failed di PBIM 2013

Event Penang Bridge International Marathon (PBIM) 2013 Kemarin Minggu (17/11) harusnya menjadi event lari pertama yang kuikuti di luar negeri. Selain itu, juga akan menjadi event lari kategori half marathon pertama yang kuikuti. Hehe, ceritanya lagi mau naik kelas sedikitlah. 😀

Dua bulan yang lalu aku sudah registrasi ke situs official PBIM 2013 ini. Tiket pesawat dan penginapan pun sudah ku-booking pula. Sayang, teman tak ada yang bisa saat kuajak. Akhirnya, terpaksa pergi sendirian. Bondo nekad sajalah. 😀

Melihat galeri foto event PBIM ini di tahun-tahun sebelumnya bikin aku penasaran. Start lari dini hari dan lari melintasi jembatan yang menghubungkan dua daratan yang terpisahkan oleh laut, wow… membayangkannya saja sepertinya sudah luar biasa. Memang sih, kata beberapa kenalan, walaupun larinya dini hari gitu, bukan hawa dingin yang dirasakan, tapi hawa lembab khas laut yang bikin gerah!

Walaupun begitu keinginan untuk lari sambil menikmati view Penang Bridge masih menarikku. Demi bisa lari melintasi lebih jauh Penang Bridge yang memang ikonik itu, aku pun mendaftarkan diri di kategori half marathon (21 km). Karena kalau lari 10K, cuma kebagian ujung jembatannya aja, kurang sampai ke tengah. Sedangkan kalau ikut lari yang full marathon, aku merasa kurang yakin karena half marathon saja aku belum pernah.

Untuk mempersiapkan itu, sebulan sebelumnya aku mulai merutinkan lari dengan jarak minimal 10 km tiap 3 hari sekali, dan menaikkan kilometernya sedikit demi sedikit. Sayang, dua minggu sebelum hari H, daerah pinggang mengalami cedera setelah jatuh dari sepeda ketika downhill dari Bukit Moko. Rasa sakitnya ternyata masih bertahan hingga dua minggu kemudian.

Jumat pagi, hari terakhir sebelum aku berangkat ke Penang, rasa sakit itu masih terasa hingga akhirnya kuputuskan aku mundur saja dari keikutsertaan di PBIM 2013 ini. Lari 5 km sambil menahan sakit mungkin aku masih sanggup, tapi lari 21 km? Umm… I don’t think so. 

Sebagai gambaran, karena demi menghindari rasa sakit itu pula, aku nggak bisa gerak-gerak berbaring ke kiri dan kanan saat tidur. Untuk mengganti posisi tidur itu, bahkan sering terjaga terlebih dahulu sebelum dengan perlahan merubah posisi badan. Eh, kok malah jadi curhat. 😀

Namun, apa daya nasi sudah menjadi bubur, tiket pesawat dan penginapan sudah terlanjur dibeli. Sayang kalau gara-gara nggak jadi ikut event lari, perjalanan ke Penang dibatalkan juga. Akhirnya dua hari kemarin (Sabtu dan Minggu) kumanfaatkan dengan berjalan-jalan di Penang, dengan itinerary yang dipersiapkan agak mendadak. Untuk catatan perjalanannya, akan aku share di tulisan berikutnya. Tunggu saja. 😉

Tapi tetap saja, walaupun dua hari kemarin alhamdulillah puas menjelajahi Pulau Penang, hari ini setelah lihat foto-foto acara kemarin di akun Facebook-nya PBIM, aku cuma bisa meringis saja. Makin mupeng setelah melihat cover photo-nya PBIM yang diunggah tadi. Kayaknya seru tuh sensasi lari di atas laut. Semoga tahun depan ada kesempatan untuk ikut event ini.

[Book] Halal Is My Way

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Q.S. Al-Maidah : 88)

Melalui ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalal thayyiban). Tidak cuma halal, tapi juga baik (untuk tubuh kita). Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertakwa kepada Allah. Usaha kita mencari hal-hal yang halal dan menjauhi yang haram, ibarat penggaris yang mengukur keimanan kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib tahu mengenai apa-apa yang masuk kategori halal dan haram.

Sebab walaupun kita tinggal di negara yang mayoritasnya Muslim, ternyata tidak menjamin bahwa makanan-makanan yang disajikan, terutama di restoran-restoran oriental atau masakan barat, bebasa dari zat yang diharamkan oleh syariat. Untuk itu, kita dituntut untuk selalu berhati-hati agar tidak sampai mengonsumsi makanan haram. Dan kehati-hatian itu perlu didukung juga dengan wawasan yang cukup.

Buku "Halal Is My Way"

Buku “Halal Is My Way”

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku “Halal Is My Way” karya Aisha Maharani (pengelola akun @halalcorner). Buku ini cukup ringan dibaca (dan dibawa :D). Konten utamanya saya hitung tidak sampai 100 halaman. Jadi cocok buat Anda yang suka mabuk duluan lihat buku tebal, hehe.

Buku ini dikemas dengan cukup menarik. Ada beberapa bab materi yang menjelaskan mengenai latar belakang edukasi halal, dampak mengonsumsi barang haram, ciri-ciri makanan dan minuman yang diharamkan, hingga pengetahuan mengenai proses sertifikasi halal. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa cerita kartun yang saya rasa akan menarik bagi anak-anak untuk belajar tentang halal sejak dini. Tak hanya itu, di buku ini juga disisipi resep-resep makanan dan minuman sederhana yang tentunya halal juga dong.

Bagi saya sendiri, setelah membaca buku ini saya mendapatkan banyak wawasan baru. Wawasan baru itu terutama mengenai varian zat bahan tambahan pangan (BTP) dan proses sertifikasi halal. Selain wawasan baru, melalui buku ini saya juga kembali diingatkan mengenai dampak-dampak dari mengonsumsi barang haram terhadap amalan ibadah dan juga efeknya bagi tubuh kita.

Well, saya tidak akan menceritakan detail isi buku ini tentunya. Bagi rekan-rekan pembaca yang tertarik membeli buku “Halal Is My Way” ini, bisa memesan secara online melalui websitenya di sini. Harganya Rp39.000 (belum termasuk ongkos kirim).

Satu kekurangan buku ini menurut saya adalah bukunya yang kurang tebal :P. Sebenarnya saya mengharapkan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai praktik penggunaan varian zat-zat yang diharamkan pada produk makanan dan kosmetik di masa yang teknologinya sudah semakin canggih ini. Tapi katanya akan dibahasa secara khusus di seri buku berikutnya. Mari kita tunggu saja. 🙂

Nikmat Selamat Dalam Perjalanan

Sering kita membaca atau mendengar berita di media massa tentang peristiwa kecelakaan kereta api, mobil, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki sekali pun, seperti kejadian dua minggu lalu yakni meninggalnya seorang mahasiswa ITB karena tertabrak motor ketika tengah menyeberang. Atau peristiwa terbaru, yakni hilangnya seorang mahasiswa ITB ketika tengah melakukan pendakian gunung (baca di sini).

Ketika membaca berita dua peristiwa yang secara kebetulan menimpa anak ITB ini dan waktu kejadiannya juga berdekatan, tiba-tiba ada momen yang membuatku merenung, bahwasannya ternyata nikmat selamat dalam perjalanan itu mahal. Dan parahnya manusia seringkali lupa untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu. Ya, jika bukan karena nikmat-Nya, bisa jadi namaku pun akan masuk ke dalam koran dengan berita yang sama saat mendaki Gunung Gede beberapa waktu yang lalu.

Seorang first timer yang akan melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat untuk pertama kali, biasanya akan merasakan kegelisahan (anxiety) ketika akan memulai perjalanan. Yang dimaksud dengan ‘pertama kali’ itu bermacam-macam contohnya. Pertama kalinya dia akan ke tempat itu, pertama kali dia akan mendaki gunung, pertama kali dia akan bepergian dengan pesawat, dan lain sabagainya. Lalu, Sebagaimana tabiat alami manusia, yakni ketika merasa terancam, kesusahan, ketakutan, atau kegelisahan, kita akan berdo’a kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam perjalanan. Namun, setelah tiba dengan selamat di tempat tujuan, sebagian dari kita seringkali lupa untuk bersyukur kepada Allah, persis sebagaimana yang disindir oleh Allah dalam Q.S. Yunus ayat 12: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.”

Sementara itu, bagi mereka yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh, entah itu naik gunung, atau bepergian dengan pesawat, atau lain sebagainya, bahkan untuk berdoa sebelum memulai perjalanan saja kadang-kadang lupa. Sebab bisa jadi bagi mereka perjalanan yang akan mereka lakukan itu adalah just another trip saja.

Sebenarnya pun tak harus perjalanan jauh. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita pasti melakukan perjalanan meninggalkan rumah, baik untuk pergi ke tempat bekerja, ke kampus, ke mal, berkunjung ke rumah teman, atau sekedar ke warung untuk membeli sesuatu. Di dalam perjalanan itu bisa jadi kita mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, bisa kembali lagi ke rumah dengan selamat tanpa kurang satu apapun adalah nikmat luar biasa dari Allah yang harus kita syukuri.

Sebagai seorang muslim sudah seyogyanya kita perlu mengetahui, mempelajari, dan alhamdulillah jika bisa mengamalkan adab-adab yang telah diajarkan di dalam syariat perihal berpergian atau safar ini. Saya menemukan artikel yang bagus di muslim.or.id ini yang menjelaskan adab-adab sekembalinya seseorang dari safar. Salah satu adabnya adalah membaca takbir 3 kali dan doa “Aayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduun. Lirobbinaa haamiduun (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).” Artikel yang saya tautkan itu sebenarnya adalah artikel berseri, yang menjelaskan tentang adab safar. Di artikel sebelum itu (adab kembali dari safar), kita juga bisa membaca artikel yang menjelaskan perihal adab persiapan dan ketika safar.

Anyway, saya menulis ini bertujuan untuk pengingat dan renungan saya pribadi yang sering lupa untuk bersyukur atas nikmat keselamatan dalam perjalanan yang dianugerahkan-Nya. Semoga kita semua bisa menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Gowes Hari Ini: Nyasar ke Moko Daweung

Awalnya cuma spontan saja sih. Pagi ada perlu sebentar di daerah Pasir Impun. Terus kepikiran kenapa nggak sekalian saja nggowes lewat bukit-bukit di sana mencari jalan tembusan ke Dago via Maribaya. Akhirnya dipilihlah rute Dago-Tubagus Ismail-Cikutra-Cicaheum-Ujung Berung-Pasir Impun-Maribaya. Perjalanan berangkat ini — kalau dilihat di Google Maps — jauhnya sekitar 15 km lebih.

Tahu sendirilah perjalanan dari Dago sampai Ujung Berung ini masih enak, soalnya jalannya memang jalan kota yang ramai dilalui kendaraan dan tracknya juga menurun. Setelah belok ke Pasir Impun, jalannya mulai menanjak. Semakin ke dalam, jalannya semakin menanjak terus. Jarang sekali jalan mendatar. Tekstur jalannya awalnya beraspal, tapi lama kelamaan jalan yang dilalui mulai berbatu-batu.

Setelah melalui SDN Cikawari (di Google Maps tertulis SDN Cikawao 03 itu salah), jalan yang dilalui mulai campuran antara jalan berbatu dan tanah. Mulai terlihat pemandangan bukit-bukit di sekitar. Bahkan, setelah menempuh beberapa ratus meter, pemandangan bukit dengan hutan hijau yang rapat tersaji dan sejenak aku bergumam dalam hati, “Wow, beneran nih aku harus menembus hutan ini?”

Peta rute

Peta rute

Kalau berdasarkan peta dari Google Maps itu, warna hijau-hijau itu ternyata memang menunjukkan kawasan hutan. Tapi sepertinya aku tak bisa memercayai sepenuhnya peta yang ditampilkan Google Maps. Seperti yang kubuatkan garisnya di gambar, walaupun sudah berusaha mengikuti jalan setapak yang ada, somehow aku keluar dari hutan dan bertemu pertigaan dengan ‘prasasti’ bertuliskan “Waroeng Daweung”.

Di pertigaan itu aku istirahat sebentar di toko salah satu warga sekalian membeli air minum di sana. Wow, secara kebetulan aku ‘nyasar’ sampai Waroeng Daweung. Padahal rencana awal mau menembus hutan-hutan itu untuk menyeberangi bukit menuju Maribaya. Sayang sekali GPS hpku tidak bekerja dengan baik ketika berada di dalam hutan. Aku kehilangan informasi di mana posisiku berada.

Nah jalan menuju Warung Daweung ini ternyata tak ada di dalam Google Maps (lihat garis merah yang kutandai di peta menuju Warung Daweung). Jalan di Warung Daweung ini sebenarnya buntu, sudah tak ada jalan lagi, kecuali pematang di antara ladang-ladang penduduk. Akhirnya aku memutuskan untuk melalui pematang yang ternyata jalannya mengarah menuju ke dalam hutan.

Di hutan ini aku benar-benar mengandalkan insting saja. Sudah nggak tahu lagi mana arah yang benar. Di hutan ini cukup banyak percabangan jalan. Sempat ketemu beberapa rombongan motor trail yang lagi off road di sana.

Setelah berjalan menyusuri dalam hutan, akhirnya bisa keluar juga dan mendapati ladang-ladang penduduk. Nama desanya Pamuncangan. Aku baru sadar aku telah salah mengambil jalan keluar di hutan. Pamuncangan ini kalau di peta sebenarnya sejajar dengan jalan menuju Moko Daweung. Artinya, aku masuk ke dalam hutan tadi hanya mengambil jalan memutar saja (lihat peta). Harusnya aku berjalan lurus menembus Maribaya.

Mau nggak mau perjalanan harus tetap dilanjutkan. Harus cari jalan lagi ke arah Maribaya, walaupun memutar. Sialnya, baterai hp sudah habis, aku tak bisa melihat peta lagi. Terpaksa benar-benar mengandalkan insting saja. Singkat cerita, setelah jauh-jauh mengayuh sepeda menaiki dan menuruni bukit, ternyata keluarnya di daerah Bojong Koneng. Glek! -_-

Ujung-ujungnya aku kembali lagi ke Cikutra. Tapi aku tetap bersyukur akhirnya menemukan jalan pulang, haha. Aku sempat kurang lebih 1-2 jam mengayuh sepeda dan don’t have a clue where I am actually.

Btw, aku sempat terjungkal dari sepeda ketika keluar dari hutan melalui jalan setapak berupa turunan yang sangat curam menuju Pamuncangan. Tekstur jalan setapak yang berupa tanah berpasir, membuat rem tidak bekerja dengan baik, dan sepeda meluncur dengan kencang. Sialnya tanahnya tidak rata sehingga membuatku susah mengontrol sepeda. Tahu-tahu aku sudah terjungkal saja dari sepeda.

Lutut berdarah tapi alhamdulillah hanya luka biasa. Tapi yang sakitnya masih terasa sampai sekarang adalah di daerah pinggang sisi sebelah kanan belakang. Sepertinya memar terkena benturan dengan batu sewaktu terjatuh. Mudah-mudahan segera hilang rasa sakit ini sehingga aku bisa ikut dua event lari dalam dua pekan yang akan mendatang. 😦

Lari Aja Bayar Mahal

Kemarin ada percakapan dengan teman-teman backpacker semasa kuliah di grup Whatsapp. Jadi awal mulanya aku ngepost tentang event lari yang bakal diadakan di Penang, Malaysia sono. Biaya registrasi larinya sih sekitar 200 ribu rupiah. Nggak jauh beda sebenarnya dengan yang biasa diadakan di Indonesia. Event lari sekarang kisarannya memang segitu. Yang kategori 10K saja rata-rata biayanya 150 ribu. Yang half marathon dan full marathon tentu lebih mahal lagi, apalagi kalau eventnya skala internasional.

Nah, setelah aku ngepost event lari di Penang itu ada teman menimpali, “Lari aja kok bayar sih, kenapa nggak lari-lari sendiri aja.” Kemudian ada teman yang menambahkan, “+1, lari aja bayar mahal.”

Terus terang sebenarnya aku juga setuju sama dua temanku ini. Olahraga lari sebenarnya olahraga paling murah dibandingkan jenis-jenis olahraga yang lain. Cuma modal badan aja sebenarnya sudah bisa lari. Kalau mau larinya lebih nyaman, paling pol cuma perlu ngeluarin biaya untuk beli sepatu lari. Trek lari? Jalan di sekitar kompleks tempat tinggal bisa dipakai. Atau kalau mau lebih aman, bisa di trek lari di taman kota atau stadion yang biaya masuknya biasanya cuma 1000-2000 rupiah saja. Maksimal 5000 mungkin. So, actually running is really (supposed to be) the cheapest sport!

Dua orang peserta sedang berlari

Event lari Bromo Marathon

Namun, kalau sudah bicara tentang event lari, tentu wajar sih jika calon peserta harus mengeluarkan uang untuk mengikuti suatu event lari. Sebab, dalam event yang melibatkan massa banyak seperti itu tentu tak sedikit biaya yang harus dikeluarkan, baik itu untuk dari sistem registrasinya yang menggunakan teknologi informasi, logistik untuk peserta (kaos, air mineral, pisang, dll), hingga pensterilan dan pengamanan jalan selama event dilangsungkan.

Tapi sering juga sih aku ketika membaca info event lari, terus kepikiran kok biaya registrasinya mahal-mahal ya sekarang. Memang kalau kita perhatikan, olahraga lari sekitar setahun belakangan ini sedang booming. Banyak komunitas lari di setiap kota, bahkan termasuk yang scope kecil seperti perusahaan atau kampus. Semakin ke sini, semakin banyak event lari bermunculan. Pesertanya pun juga semakin banyak. Hmm… apa karena itu ya kesannya EO-EO event lari sekarang jadi opportunis. Biaya registrasinya dinaikin, toh yang ikut bakal tetap banyak juga sih.

Sayangnya kebanyakan event lari itu di Jakarta sih. Di Bandung dalam setahun event lari bisa dihitung dengan jari. Nah, jadinya aku mau nggak mau harus selektif sih. Pilih event yang menguntungkan, gratis registrasi misalnya, atau dapat kulineran gratis (seperti di Mandiri Run), hehe. Atau event yang skalanya memang gede. Soalnya perlu ngitung ongkos perjalanan juga sih dari Bandung ke Jakarta :D.

Nah, sekarang pertanyaannya, kok (masih) mau-maunya sih ikut event lari yang harus bayar itu? Kalau aku ditanya seperti itu, jawabanku sederhana: challenge (tantangan). Memang sih aku bukanlah seorang atlet. Aku juga bukan mengincar peringkat 1, 2, dst agar bisa mendapat hadiah (yang rasanya juga merupakan mission impossible bersaing dengan mereka yang memang sudah atlet pro). Seperti yang sering aku post di tulisan tentang event lari yang kuikuti sebelumnya, challenge yang kumaksud itu adalah target pribadi saja. Bisa nggak (atau sejauh mana aku bisa) memperbaiki atau mempertahankan catatan lariku sebelumnya seiring bertambahnya usia, hehe.

Nah, kemampuan terbaik itu biasanya muncul ketika mengikuti event-event lari seperti itu. Di sana ada latihan mental juga sih kadang-kadang. Bisa nggak aku nggak down ketika melihat orang-orang yang lari lebih cepat dan menyalip dari belakang. Dan ada kepuasan tersendiri ketika kita bisa memasuki garis finish setelah ‘menaklukkan’ rute yang sangat jauh.

» Bagaimana dengan Anda? Suka ikut event lari juga kah?

 

 

Wisuda Terakhir

Bandung, 19 Oktober 2013. Hari itu adalah hari wisuda pertama sarjana ITB tahun 2013/2014. Bagi angkatan 2007, wisuda hari itu adalah ‘kesempatan’ wisuda terakhir yang diberikan oleh ITB. Artinya, setelah ini tak ada lagi momen bagi kami untuk kembali ke kampus mengarak teman-teman angkatan yang diwisuda.

Momen wisuda selalu menjadi momen yang tempat bagi kami yang sudah berpencar di kota tempat bekerja masing-masing untuk bertemu, bercengkerama, saling bertukar cerita mengenai kesibukan masing-masing, dan ditutup dengan pergi kuliner bareng, futsal bersama, atau acara hiburan lainnya.

Momen wisuda kali ini benar-benar menjadi lonceng pertanda bahwa sudah 6 tahun berlalu sejak kami memasuki gerbang Ganesha untuk pertama kali. Oh, sungguh waktu terasa begitu cepat. Mungkin baru 4 tahun, 14 tahun yang akan datang atau lebih, kami baru berkumpul bersama lagi satu angkatan dalam sebuah tajuk “Temu Alumni”. Yah, semoga tidak selama itu. Semoga masih ada event dan kesempatan yang bisa mempertemukan kami beramai-ramai.

Well, selamat wisuda untuk teman-teman angkatan 2007. Semoga sukses di kehidupan berikutnya. 🙂

Bersama yang diwisuda

Bersama yang diwisuda

photo by Hafid (Image source: Facebook)

IF'07 Bersama ibu Kaprodi

IF’07 bersama ibu Kaprodi

photo by Edria (Image source: Facebook)

Open Trip ke Bromo

Menjelang pulang kampung Idul Adha minggu lalu, salah seorang kawan tiba-tiba mengajakku untuk ikut open trip (terjemahannya: perjalanan terbuka?) yang diadakan sebuah EO — kalau nggak salah namanya @trip_with_us. Objek wisata yang akan dikunjungi adalah Bromo. Sempat bimbang juga sih antara ikutan atau nggak. Sudah dua kali aku ke Bromo. Tapi pemandangan spektakuler di Bromo selalu menggoda untuk kembali ke sana. akhirnya, karena penasaran sama bagaimana rasanya ikut open trip dan mumpung ada teman juga, aku pun mengiyakan ajakan kawanku itu.

Jadwal pulang ke Malang pun tak berubah sesuai dengan tiket kereta api yang sudah jauh lebih dulu kupesan, yakni hari Jumat, 11 Oktober. Tiba di Malang pagi keesokan harinya. Sementara itu, kawanku ini sudah terlanjur membeli tiket kereta api ke Surabaya dengan jadwal yang sama.

Sabtu, 12 Oktober

Pihak EO sudah menyediakan 2 mobil yang akan menjemput peserta trip yang datang baik dari Malang maupun Surabaya. Jadi ceritanya ada 4 kelompok yang bergabung dalam open trip ini. Tiga kelompok — masing-masing terdiri atas 2 orang dari Tangerang dan 4 orang dari Jakarta serta aku sendiri — berangkat dari Malang. Sementara kelompok satunya terdiri atas 4 orang yang berangkat dari Surabaya. Kelompok terakhir yang dimaksud adalah kawanku yang pergi bersama 2 rekan kantor dan 1 orang teman SMA-nya.

Karena jadwal kedatangan kami berbeda-beda, kejadian saling menunggu tak terelakkan. Singkat cerita, siang menjelang sore kami baru bisa berkumpul di Bandara Abdul Rahman Malang, kemudian mobil bergerak ke Probolinggo. Di sana kami mampir makan siang di restoran Rawon Nguling. Pulang ke Jawa Timur memang kurang lengkap kalau nggak makan rawon:D. Kata sopirnya sih ini rawon yang populer di sana. Ketika sampai di sana, eh beneran lah, ada foto Pak SBY pas lagi di sana, haha. Fotonya gede, dipasang di dinding dalam restoran.

Perut pun sudah terisi. Perjalanan dilanjutkan kembali ke desa Sukapura, Probolinggo. Perjalanan menempuh waktu 1 jam lebih. Di sana kami sudah disediakan villa untuk menginap. Nggak ada acara khusus malamnya. Kebetulan lagi ada pertandingan kualifikasi Piala Asia U-19 Indonesia vs Korsel. Jadi kami isi malam itu dengan acara nontong bareng timnas.

Villa

Suasana di dalam Villa

Minggu, 12 Oktober

Pukul 2.15 dini hari kami sudah bangun dari tidur masing-masing. Kami bersiap-siap untuk berangkat ke Penanjakan I untuk menyaksikan sunrise. Perjalanan dengan jeep memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Sempat macet juga sih. Macet di antrian gerbang masuk Taman Nasional di Cemoro Lawang. Perjalanan dari Sukapura ini melalui rute Cemoro Lawang, kemudian turun ke lautan pasir dan mendaki lagi di bukit Penanjakan hingga puncaknya.

Sampai di Penanjakan jam 4 kurang sedikit. Beberapa saat kemudian sayup-sayup terdengar suara adzan Shubuh berkumandang. Aku menyempatkan sholat dulu di mushola yang tersedia di dekat gardu pandang tempat menyaksikan sunrise. Btw, air wudlu di sana bayar 2000. Tapi walaupun bayar, sebaiknya tetap dihemat airnya ketika berwudlu agar yang lain tetap kebagian. Maklum, di sana airnya sepertinya dibawa secara manual dari desa.

Suasana di Penanjakan I saat itu ramai sekali. Rata-rata pengunjungnya didominasi oleh rombongan muda-mudi yang touring sepeda motor dari kota-kota lain di Jawa Timur. Baru sebagian lainnya merupakan rombongan keluarga. Bule-bule pun juga ada, tapi jumlahnya tak terlalu banyak.

Oh ya, walaupun ini kali ketiga aku main ke Bromo, ini pertama kalinya aku melihat sunrise di Penanjakan I. Kunjungan pertama tanpa pakai acara lihat sunrise. Kunjungan kedua lihat sunrise dari Penanjakan II.

Beuhh… pemandangannya lebih mantap ternyata dari Penanjakan I ini. Kalau pernah lihat foto view sunrise Bromo yang populer di National Geographic, di sinilah tempatnya. Tapi ramainya sungguh terlalu ketika itu. Kurang enjoy jadinya. Terpaksa mencari tempat di pinggir-pinggir. Sempat nekat manjat pagar juga untuk turun ke tebing-tebing. Tapi tak lama kemudian aku balik lagi karena ditegur orang yang sepertinya salah satu petugas di sana.

View Bromo-Batok-Semeru

View Bromo-Batok-Semeru

Pukul 5.30 kami cabut dari gardu pandang. Turun mampir ke warung untuk sarapan (bakso). Kami juga nyobain sate kentang yang banyak dijajakan di jalan sepanjang pintu masuk gardu pandang. Konon kata temen kentang rebus di sana sangat enak. Setelah aku cobain, kok rasanya nggak se-wah yang diceritain temenku itu ya, haha. Tapi worth untuk dicoba. Oleh penjualnya dipatok harga 10 ribu tiga tusuk. Agak mahal sih, temen ada yang bisa nawar satu tusuknya 2 ribu.

Setelah perut terisi, kami kembali menuju mobil jeep. Agenda berikutnya adalah Continue reading