Monthly Archives: December 2011

Menulis Diary

Hari ini ketika aku pulang ke rumah orang tua di Malang, iseng-iseng aku merapikan buku-buku di kamarku. Buku-buku yang kugunakan sewaktu ku sekolah dulu. Ya, sampai sekarang aku memang masih menyimpan buku-buku sekolahku. Bisa dibilang aku ini termasuk tipe orang yang sangat menghargai memori. Setiap benda yang berbau kenangan, hampir dipastikan masih kusimpan dengan rapi. Tak terkecuali buku diary.

Semenjak kelas 2 SMP hingga SMA, aku memang memiliki hobi menulis diary. Faktor utama pendorongku adalah karena ikut-ikutan kakak sepupuku — yang kebetulan saat itu kuliah di Malang dan tinggal sekamar denganku — yang juga biasa menulis diary. Saat itu aku melihat menulis diary adalah solusi untuk menuangkan ide-ide atau curahan hati yang ada di pikiranku saat itu.

Namun, sebenarnya saat SD kelas 6 pun aku di sekolah dalam pelajaran bahasa Indonesia juga sudah mendapatkan pengajaran tentang menulis diary. Aku masih ingat betul ketika guruku mengatakan bahwa kita mungkin bisa berbohong kepada orang lain tapi tidak kepada buku diary. Beliau mencontohkan sebuah kasus dugaan pidana korupsi yang menimpa salah satu direktur — saya lupa direktur apa — di Malang. Pengadilan kesulitan menemukan bukti yang menyatakan dia bersalah. Tapi pihak yang berwenang menemukan sebuah tulisan direktur itu dalam sebuah buku — yang ternyata merupakan buku diary-nya — yang berisi curhatan dia setelah melakukan korupsi. Sayangnya, buku diary tidak bisa dijadikan barang bukti karena tidak bisa dipertanggungjawabkan. Padahal, seperti kata guru saya tadi, seseorang hampir dipastikan tidak akan pernah berbohong dalam menulis diary.

Apa yang dikatakan oleh guruku itu ternyata memang kurasakan ketika menulis diary. Kecuali dalam kasus di mana kita menulis diary untuk konsumsi ‘publik’. Dalam arti, kita tidak menutup kemungkinan untuk mempersilahkan orang lain untuk membaca buku diary kita. Kalau memang seperti itu, besar kemungkinan kita akan menutup-nutupi beberapa fakta yang kita tidak ingin orang lain tahu.

Ketika membaca-baca buku diary-ku itu, aku cuma bisa tersenyum-senyum. Yap, kebanyakan yang aku tulis dulu memang tentang cinta monyet khas anak sekolah, eaaa … pengalaman jatuh cinta kepada seorang perempuan di sekolah, hehehe. Namun, tidak hanya itu, dalam buku diary itu aku juga banyak bercerita tentang kegiatan yang kujalani hari itu, interaksi dengan teman-teman, serta perjuangan menembus SMA favorit hingga PTN favorit. Kalau membaca tulisan-tulisan itu, jadi bisa merasakan lagi suasana sekolah dulu. Masa sekolah memang masa-masa yang indah.

Masa kuliah sebenarnya juga lebih indah walaupun tekanan yang dirasakan lebih berat. Karena pada masa kuliah itu, kesempatan untuk mengaktualisasi diri dan berkarya terbentang luas. Sayang, setelah lulus SMA, aku berhenti untuk menulis diary. Ya, mungkin karena sudah ada blog ini walaupun sebenarnya tak bisa disamakan antara diary dan blog, hahaha. Menulis blog kan bersifat publik, sementara menulis diary bersifat privat.

Fitur Plot Mathematical Function di Google Search Engine

Tengah-tengah malam begini ketika sedang online Twitter, tiba-tiba ada satu tweet dari akun official-nya Google yang mengabarkan fitur baru yang dirilisnya, yakni plot mathematical function. Yap, dengan fitur ini, kita dapat memasukkan suatu persamaan matematika ke dalam kotak pencarian. Kemudian Google pun akan melakukan pencarian dengan kata kunci persamaan tersebut serta menampilkan gambar plot persamaan atau fungsi tersebut dalam sebuah bidang koordinat.

Asyik nggak tuh? Belajar kalkulus pun menjadi lebih mudah dan tentunya menyenangkan. Coba dari dulu ketika aku masih berjibaku di TPB (Tahap Persiapan Bersama) alias tahun pertama kuliah di ITB. Ketika zaman pusing-pusingnya belajar kalkulus. Zaman di mana ketiduran di kelas gara-gara sudah nggak kuat lagi mikir konsep-konsep kalkulus menjadi pemandangan yang biasa kita lihat saat kuliah. 😀

Btw, masih ada yang nyantol nggak ya kuliah kalkulus yang dipelajari dulu? 😀

Persamaan lingkaran

Persamaan lingkaran

persamaan-persamaan kalkulus

persamaan-persamaan kalkulus

 

 

Foto Kunjungan ke Gunung Madu

Selama lima hari aku berada di Lampung, tepatnya menginap di Senior Mess, perumahan II Gunung Madu. Selama lima hari itu akitivitas tidak jauh-jauh dari mess dan koperasi gunung madu. Boleh dibilang kawasan perumahan ini berada di daerah “pedalaman” :D.

Gunung Madu memiliki berhektar-hektar — mungkin ratusan bahkan ribuan — perkebunan tebu. Perumahan dibangun untuk tempat tinggal para karyawannya. Di daerah sekitar perumahan itu, khususnya tempat aku menginap, suasananya begitu asri, banyak pepohonan. Ada “kebun binatang” juga, yang cuma dihuni menjangan. Lalu juga ada semacam danau buatan kecil — lebih pas disebut kolam sebenarnya.

Lima hari berada di sana membuat pikiran dan indera ini menjadi rileks. Mungkin karena lingkungan dan suasana di sana masih sepi. Tidak seperti kota Bandung yang super padat di mana-mana. Sumpek, hehehe.

Kandang menjangan

Kandang menjangan

Jalan yang sepi

Jalan yang sepi

Kolam ikan

Kolam ikan

 

Pertama Kali ke Tanah Sumatra

Ya, mungkin terkesan agak ndeso postingan kali ini. Cuma ke Sumatra saja sampai dibikin postingannya segala. Tapi jujur saja, pengalaman ke Lampung kali ini memang merupakan sejarah pertama kalinya aku menginjakkan kaki di tanah Sumatra, hehehe.

Jadi ceritanya hari Ahad lalu aku dihubungi oleh seorang teman dan juga “bos” tempatku mroyek sekarang. Terus aku ditawari untuk ikutan proyek temannya di Lampung mulai hari Selasa kemarin (2011/11/29) sampai hari Ahad besok (2011/12/04). Tanpa banyak mikir, aku langsung mengiyakan tanpa tahu proyeknya seperti apa.

Ternyata proyeknya nggak jauh-jauh dari kegiatanku dulu semasa masih aktif di Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (Kokesma) ITB, tepatnya di bagian Toserba. Proyek ini tentang sistem informasi akuntansi dan penjualan (Point of Sales) dari sebuah koperasi yang berada di bawah sebuah perusahaan di Lampung. Proyek ini sudah berjalan beberapa bulan dan aku diminta untuk membantu mengerjakan beberapa bagian yang belum selesai.

Oke, hari Selasa aku pun ikut berangkat bersama dua orang lainnya menggunakan pesawat Merpati dari Bandung menuju Lampung langsung. Jujur saja, ini baru kali kedua aku naik pesawat. Sempat kagok juga sih dengan aturan bandara.

Dari bandara Radin Inten II, Bandar Lampung, kami melanjutkan perjalanan selama kurang lebih 2 jam menuju utara, menempuh jarak kurang lebih 90 km. Ternyata Aku berada di kabupaten Bandar Mataram, hehehe. 😀

Lampung, Lampung … di sini suasananya ternyata Jawa banget ya :D. Di mana-mana ada saja pemandangan orang mengobrol memakai bahasa Jawa. Tanah Sumatra, cita rasa Jawa, hehehe :lol:. Tapi enak … makanan di sini cocok banget dengan selera lidahku. Suatu hal yang jarang sekali kudapatkan di Bandung. Hmm … mungkin karena memang masakannya bercita rasa Jawa ya.