Monthly Archives: March 2010

Jalan-Jalan ke Tangkuban Perahu

Akhirnya setelah hampir 3 tahun kuliah di Bandung, kesampaian juga jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Sebelumnya, aku sudah pernah jalan-jalan tempat wisata alamdi daerah sekitaran Bandung, di antaranya kawah putih Ciwidey (3x), Situ Patengang (2x), dan beberapa tempat outbond seperti Ciwangun Indah Camp, Hutan Raya Juanda, dsb. Cukup banyak memang wisata alam yang terdapat di daerah sekitar Bandung ini.

Ok, kenapa tiba-tiba di tengah kesibukan kuliah seperti ini aku malah jalan-jalan… jadi ceritanya begini… Setelah menjalani UTS selama dua minggu kemarin ditambah dengan berbagai tugas besar, aku dan teman-teman satu kontrakanku mulai merasa jenuh dengan rutinitas tersebut. Intinya, kami perlu refreshing. Bayangkan saja, selama dua minggu itu dunia kami terasa sempit, wilayah yang dijangkau cuma Cisitu, Sangkuriang, dan kampus ITB. 😀

Nah, mumpung ada waktu kosong pada hari Sabtu kemarin dan tugas-tugas kuliah juga masih banyak yang belum keluar, maka secara spontan muncul ide untuk jalan-jalan. Tentunya bukan jalan-jalan ke mall yang menjamur di Bandung. Menurut kami solusi tempat yang pas untuk menghilangkan kejenuhan dengan rutinitas kuliah dan ramainya kehidupan perkotaan, tentu saja adalah dengan pergi ke alam. Aku pun mengusulkan untuk pergi ke Tangkuban Perahu saja karena aku belum pernah ke sana. :p

Sabtu pagi pukul 8.00 kami berempat penghuni satu kontrakan, yaitu aku, Khairul, Haris, dan Adi berangkat dari rumah menuju Tangkuban Perahu. Hanya saja, yang disayangkan adalah penghuni kontrakan yang lain Kamal dan Wafi tidak bisa ikut serta karena memiliki acara pribadi masing-masing. Tiket masuk ke wisata alam Tangkuban Perahu ini harganya total adalah Rp 13.000/orang.

Kawah Ratu, kawah terbesar di Tangkuban Perahu

Kawah Ratu, kawah terbesar di Tangkuban Perahu

Sabtu itu Tangkuban Perahu sedang padat pengunjung. Ada beberapa orang berpakaian biksu yang juga menikmati pemandangan alam di sana. Banyak juga orang bule yang plesir di sana. Bahkan Adi dan Khairul sempat berfoto dengan keluarga dari India. Kebetulan saat itu mereka hanya bisa meminta untuk berfoto dengan neneknya (berpakaian sari).

Adi dan Khairul berfoto dengan seorang Ibu dari India

Adi dan Khairul berfoto dengan seorang Ibu dari India

Tangkuban Perahu, dari informasi yang kami dapatkan dari salah seorang pedagang di sana, katanya memiliki 9 kawah. Wew… Banyak sekali ya. Pulangnya aku googling, ternyata memang benar (link). Yang menyebabkan mengapa Tangkuban Perahu dapat memiliki banyak kawah karena banyaknya letusan yang terjadi dalam 1.5 abad terakhir.

Sebenarnya sih ingin juga untuk menjelajahi seluruh kawah di sana. Namun, karena keterbatasan waktu, akhirnya kami cuma bisa mengunjungi 2 kawah saja. Selain kawah utama yang paling besar, yaitu kawah ratu, kami juga mengunjungi kawah upas (kawah terbesar kedua) yang berada sekitar 1,2 km dari kawah ratu. Sebenarnya kami juga sudah sempat jalan ke kawah domas, karena jaraknya juga cukup jauh dan takut kemalaman karena kebetulan sorenya ada janji tugas kelompok maka niat itu diurungkan.

Nah, kalau menurutku pribadi sih, kawah yang pesonanya paling menakjubkan itu di antara keduanya adalah kawah upas. Subhanallah… Di kawah tersebut bisa hidup beberapa pohon di tengah-tengahnya. Meliha pemandangan itu aku jadi merasa seperti pemandagan sebuah pantai dengan pohon bakau di perairannya. Kami pun menghabiskan waktu berlama-lama di kawah itu. Bagaimana tidak betah, kami bisa bermain-main air di situ dan berfoto ria hehehehe….

Berada di Tengah Kawah Upas

Aku dan Khairul berada di tengah Kawah Upas

Bergaya di tengah kawah

Bergaya di tengah kawah

Berempat di tengah-tengah pepohonan

Berempat di tengah-tengah pepohonan

Setelah puas menikmati pemandangan alam yang mengagumkan di Tangkuban Perahu, akhirnya kami pulang juga dari sana pukul 14.00. Kami menyempatkan mapir dulu jalan-jalan keliling UPI, menyempatkan sholat Ashar di Masjid DaruTauhid, dan menikmati wisata kuliner di daerah sekitar Darut Tauhid, Gegerkalong Girang tersebut.

Nah, jalan-jalannya sudah cukup. Semangat juga sudah di-refill. Saatnya menjalani kesibukan di kampus kembali… 😀

Di Balik Cerita My Name Is Khan

Baru saja kemarin malam aku dan beberapa kawan di KOKESMA menonton film My Name is Khan di salah satu sinema di Kota Bandung ini. Cukup telat sih karena sudah sebulan yang lalu film ini dirilis. Aku cukup tertarik untuk menontonnya karena mendengar dari beberapa teman tentang ide cerita dari film ini yang mencoba mengangkat fenomena islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Film Bollywood yang hak distribusinya dibeli oleh FOX STAR ini memang berbeda dengan film-film Bollywood seperti kebanyakan yang banyak menyelipkan musik-musik dan tarian India.

My Name is Khan menceritakan tentang perjalanan hidup seorang muslim India bernama Rizvan Khan, yang diperankan oleh Shahruk Khan. Dalam film ini Rizvan Khan diceritakan sebagai seorang yang memiliki kelainan mental “Aspergus Syndrome”. Meskipun demikian, dia adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Saat dewasa, pasca meninggalnya ibunya,  ia memutuskan untuk menyusul adiknya, Zakir, yang lebih dahulu menetap di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat ia menikahi seorang wanita janda beranak satu bernama Mandira. Pernikahan tersebut sempat ditentang adiknya karena tidak setuju Rizvan menikahi wanita yang berbeda agama dengan dirinya (Mandira seorang Hindu).

Rizvan dan istrinya menjalani kehidupan dengan penuh bahagia dan mereka berdua memiliki usaha produk kosmetik sendiri yang berjalan sukses. namun semuanya berubah sejak kejadian 9/11. Suatu ketika istrinya mengalami depresi berat akibat terbunuhnya anak mereka yang bernama Sameer Khan dalam sebuah insiden yang dilatarbelakangi kebencian teman-temannya karena Sameer adalah anak seorang muslim. Kematian itu sangat menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh Mandira. Mandira mempersalahkan keputusannya menikah dengan seorang muslim sehingga menyebabkan terbunuhnya satu-satunya anak mereka. Mandira pun dalam keadaan emosi yang luar biasa meluapkan amarahnya kepada Rizvan dan meminta suaminya itu memberitahukan kepada seluruh rakyat Amerika dan juga presiden AS bahwa Rizvan Khan adalah seorang muslim dan ia bukan teroris.  Ia tidak diperbolehkan kembali ke istrinya sebelum misinya terpenuhi.

Perjalanan panjang ditempuh Rizvan untuk menunaikan misinya yaitu menyampaikan pesan “My Name is Khan, and I’m not a Terrorist” kepada presiden AS. Berbulan-bulan dan berbagai upaya dilakukan demi misi tersebut. Segala rintangan ia hadapi dengan tenang dan kepolosannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemui presiden amerika dan menyampaikan pesannya.

My Name is Khan menyuguhkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad.

Namun, di balik cerita film tersebut ada beberapa bagian di dalamnya yang menggelitikku. Pertama, pesan dari ibu Rizvan Khan kepada dirinya sewaktu masih kecil saat terjadi konflik Islam dan Hindu di India. Dalam dialognya, ibu Rizvan berkata bahwa “Semua manusia itu sama, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang tidak baik”. Aku menangkap ada ide pluralisme yang ingin disampaikan di sana yaitu bahwa semua agama adalah sama. Memang secara general, semua agama di dunia pasti mengajarkan kebaikan di dalamnya. Namun, di dalam QS. Ali Imran ayat 19 sudah dijelaskan bahwasannya agama yang diridloi di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Jika memang meyakini Islam sebagai Ad-Diin, sudah seharusnya konsep bahwa tidak ada perbedaan Islam dengan agama yang lainnya itu ditolak.

Bagian lainnya adalah ketika Rizvan bersikeras menikahi Mandira, yang seorang Hindu, padahal sudah diingatkan oleh Zakir, adiknya, bahwasannya haram menikahi wanita yang berbeda keyakinan. Namun, Rizvan memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang buruk. Sehingga ia tetap menikahi Mandira. Shahrukh Khan sendiri dalam kehidupan aslinya juga memiliki istri yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Di dalam Al-Quran dinyatakan bahwa seorang muslim haruslah menikahi seorang muslim juga atau menikahi seorang ahli kitab. Ahli kitab adalah orang yang menjadikan kitabnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Masih ada lagi. Yaitu saat Rizvan ikut melakukan doa dan bernyanyi bersama di dalam gereja saat ia berada di Wilhelmina, Georgia. Fenomena yang kutangkap seolah ingin menjelaskan bagaimana sebuah nilai kemanusiaan itu bisa melebihi batas-batas pemisah antar agama. Untuk masalah akidah, Islam secara jelas dan tegas menyatakan bahwa untukku agamaku dan untukmu agamamu (QS. Al-Kafiruun). Toleransi adalah menghormati masing-masing pemeluk agama untuk beribadah sesuai agamanya. Mengikuti acara berdoa bersama dengan pemeluk agama lain bukanlah bentuk toleransi yang dibenarkan itu.

Film ini memang mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat. Film ini turut membantu memulihkan citra bahwa Islam bukan agama terorisme seperti anggapan yang terbentuk pada masyarakat barat secara umum. Film ini juga diharapkan mampu mengurangi perlakuan rasisme yang diterima masyarkat muslim di  negara barat.

Secara keseluruhan film ini memang cukup bagus ditonton karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Namun, di balik itu semua, juga harus dilihat seluruh substansi yang dikandung film “My Name Is Khan” ini dan secara bijak memfilter pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini. Jangan sampai diri ini tertanam pesan yang salah tentang Islam karena terbuai dengan jalan cerita dan akting tokoh-tokohnya. Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini hanya pendapat pribadiku saja yang mencoba melihat film ini dari sudut pandang lain.

Maafkanlah Aku, Kawan

Malam ini sewaktu membuka-buka “brankas” kumpulan artikelku yang sudah kukumpulkan sejak SMA, aku menemukan sebuah artikel yang cukup menarik. Sebenarnya lebih tepatnya mungkin disebut artikel renungan karena mengajak kita memahami makana yang tersirat di dalamnya. Hanya saja sayangnya aku lupa memperoleh artikel ini itu dari mana. Jadi mungkin jika ada teman-teman yang pernah tahu artikel ini, tolong dibagikan sumber asalnya. Saya cukup terkesan dengan makna yang tersirat dalam artikel ini yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan itu, apalagi persahabatan di mana di dalamnya terdapat aktivitas saling mengingatkan satu sama lain, terutama dalam masalah kebaikan dan keimanan (misal, mengingatkan untuk sholat, akademik, dsb.). Berikut ini ceritanya yang juga telah menginspirasiku:

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.

Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Tugas Besar 1 Mata Kuliah Intelegensia Buatan

Akhirnya selesai juga tugas besar 1 mata kuliah Intelegensia Buatan ini. Dalam tugas besar kali ini aku sekelompok dengan teman-teman satu kontrakan minus Wafi (belum mengambil mata kuliah tersebut) plus Neo dan Aden. Topik Tugas Besar 1 ini  adalah mengenai problem solving dengan menggunakan teknik pencarian sederhana (path finding search dan constraint satisfaction problem (CSP)) untuk permainan turn-based strategy. Pembuatan modul utama dikerjakan bersama oleh perwakilan seluruh kelompok (Salutlah buat teman-teman yang sudah meluangkan diri untuk membuat modul utama ini. Keren…). Sedangkan setiap kelompok mendapatkan tugas untuk merancang sendiri-sendiri algoritma pencarian tersebut sesuai dengan strategi yang akan digunakan. Jadi untuk teknik pencarian yang sama, misal Algoritma A* (A-star), antara satu kelompok yang satu dengan kelompok yang lain akan berbeda tergantung kepada goal state yang ditentukannya. Tools yang digunakan dalam membuat permainan ini adalah Microsoft XNA 3.1 (Visual C# 2008).

Dalam permainan turn-based strategy tersebut ada dua tim yang terlibat di dalam pertandingan tersebut. Masing-masing tim dapat ditentukan komposisinya, yaitu terdiri atas 11 unit, di mana dalam tim tersebut setidaknya ada satu unit yang merupakan jenis Archer, Swordsman, Spearman, Rider, dan Medic. Selain komposisinya yang dibebaskan, algoritma yang akan digunakan dalam bertanding pun juga dapat dipilih sebelumnya. Algoritma yang harus dimiliki oleh setiap tim adalah algoritma Breadth First Search (BFS), Depth Fisrt Search (DFS), uniform cost search (UCS), Greedy, A*, dan Constraint Satisfaction Problem (CSP). Tapi saat bertanding algoritma yang digunakan hanya satu jenis saja. Aku sendiri dalam kelompokku kebagian jatah untuk merancang algoritma CSP.

Nah, setelah masing-masing kelompok telah mengumpulkan tugasnya masing-masing, menurut rencana, pekerjaan peserta kuliah Intelegensia Buatan ini akan didemokan di kelas saat kuliah tanggal 8 Maret 2010 nanti. Algoritma dan komposisi tim masing-masing kelompok akan diadu dalam sebuah turnamen round-robin di mana juaranya akan mendapatkan nilai plus-plus untuk tugas ini. Wah, menarik ditunggu nih.

Antarmuka permainan Tubes IB

Antarmuka permainan Tubes IB

Wisma UNISBA Ciburial

Masih berkaitan dengan tulisanku sebelumnya, kali ini aku mau berbagi gambaran mengenai Wisma UNISBA Ciburial ini. Diklatsar KOKESMA di wisma tersebut memang baru pertama kali. Sebelumnya kami sering mengadakan diklatsar tersebut di daerah Lembang.

Jarak wisma UNISBA ini kalau dari daerah Simpang Dago sebenarnya tidaklah jauh. Kalau naik motor, mungkin sekitar 15-20 menit sampailah. Bisa juga naik angkot Ciburial-Ciroyom ke daerah tersebut, tapi setelah sampai Ciburial harus melanjutkan dengan jalan kaki tetapi jaraknya tidak jauh. Angkot tersebut juga melewati daerah Simpang Dago.

Menurutku wisma UNISBA ini memang cocok buat mengadakan kegiatan-kegiatan sejenis diklat gitu karena lingkungan dan fasilitasnya sangat mendukung. Pertama, lokasinya berada di kawasan pegunungan. Suasananya yang dingin dan jauh dari keramaian membuat peserta diklat dapat mengikuti acara dengan fokus dan rileks. Kedua, fasilitas di sana yang cukup lengkap. Ada masjid yang cukup megah, ada ruang makan terpusat yang luas, ada asrama untuk penginapan, ada aula untuk rapat/seminar, dan ada lapangan yang cukup luas juga. Jadi, dijamin acara yang kita susun akan bisa lebih bervariasi. Yang uniknya lagi, di sana juga dipasang tali merentang dari pohon di dekat masjid ke salah satu bangunan di wisma tersebut yang posisinya lebih tinggi, yang kabarnya dapat digunakan untuk flying fox juga. Tapi, waktu kami berada di sana saat diklatsar kemarin tidak tampak perangkat untuk flying fox tersebut selain cuma tali dan tempat pendaratannya.

Ruang Makan

Ruang Makan

Masjid Wisma Unisba

Masjid Wisma Unisba

Tempat Flying Fox

Tempat Flying Fox

Banyak kegiatan diklat-diklat seperti itu yang diadakan oleh organisasi mahasiswa seperti Kabinet KM ITB yang mengadakan Diklat Aktivis Terpusat dan diklat yang diadakan Keluarga Mahasiswa Islam (GAMAIS) ITB. Keduanya juga mengadakan di wisma UNISBA tersebut. Nah, ITB apakah punya tempat seperti itu ya? 😀

Diklatsar KOKESMA-ITB di Ciburial

Padahari Sabtu & Minggu tanggal 27-28 Februari 2010 yang lalu Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa (KOKESMA) ITB mengadakan kegiatan Pendidikan dan Pelatihan Dasar (Diklatsar) untuk para DESF (Development & Education Student Forum) 2009 atau kalau di himpunan mungkin istilahnya sama dengan anggota muda. Diklatsar ini diadakan sebagai tahapan awal DESF 2009 untuk menjadi maganger KOKESMA. Kegiatan ini sendiri diadakan di Wisma UNISBA, Ciburial, Bandung. Acara dimulai pukul 7.30 (27/02/2010) dengan persiapan keberangkatan di Kantin Barat Laut (KBL) milik KOKESMA dan berakhir keesokan harinya (28/02/2010) pada pukul 10.15.

Aku sendiri tidak mengikuti kegiatan tersebut dari awal karena memang posisiku bukan sebagai panitia. Selain itu juga karena pada hari Sabtu paginya aku ada latihan voli di HMIF sampai jam 11 pagi dan kumpul tim sukses dan promotor calon senator HMIF Luqman Abdul Mushawwir pada jam 12 siangnya.

Baru pada pukul 17.30 aku berangkat menyusul ke Wisma UNISBA dengan mengendarai sepeda pancalku. Aku memang sudah niat ingin ke sana dengan mengendarai sepeda. Setelah mengayuh beberapa kilo dan sempat kesasar juga, akhirnya aku sampai di Wisma UNISBA, tempat dilaksanakannya kegiatan tersebut tepat saat adzan maghrib sekitar pukul 18.15. Jaraknya sebenarnya tidak terlalu jauh dari Simpang Dago. Hanya saja karena aku belum pernah ke sana dan jalannya yang terdapat banyak tanjakan, ditambah rem sepedaku yang ternyata rusak, akhirnya perjalanan jadi lama. Letih memang, tapi aku merasa jadi lebih segar karena banyak berkeringat :D.

Setibanya aku di sana, aku langsung ikut sholat maghrib berjamaah di masjid di lingkungan wisma tersebut. Habis itu acara dilanjutkan dengan makan malam. Pas sekali momennya… hehehe…

Pada pukul 21.00 para DESF 2009 melakukan persembahan masing-masing kelompok dalam acara malam apresiasi dengan mengelilingin api unggun. Wah, anak-anak DESF 2009 sangat kompak dan kreatif. Persembahan yang dihadirkan pun membuat para panitia dan anggota DESF yang lain menjadi terhibur. Kira-kira acara tersebut selesai pukul 22.45. Setelah itu, acara dipegang oleh para “SWASTA” KOKESMA alias Anggota KOKESMA angkatan 2006. Acara yang disebut “Malam Inspirasi” itu bukan acara seperti “Malam SWASTA” yang ada di himpunan-himpunan, melainkan sebuah acara di mana para “SWASTA” tersebut berbagi pengalaman dan motivasi kepada para calon maganger. Pukul 00.15 acara tersebut selesai. Para calon maganger diperlakan beristirahat di asrama masing-masing untuk mempersiapkan diri mengikuti acara berikutnya.

Para panitia dan pengurus inti KOKESMA berkumpul di aula untuk mengikuti briefing tentang acara untuk jam 2.30 pagi. Parahnya, acara yang sudah disusun tersebut ternyata gagal dilaksanakan gara-garasebagian panitia sudah tepar dan ketiduran hingga pukul 4.00. Akhirnya diadakan penyusunan ulang acara berikutnya dan diagendakan yang seharusnya pukul 2.30 menjadi 5.00 sehabis Sholat Shubuh.

Puncak acara diklatsar itu sendiri terjadi saat para calon maganger dikumpulkan di lapangan dan dimintai komitmen oleh panitia. Flow acara sempat menjadi tinggi. Namun, akhirnya antiklimaks terjadi saat ketua umum KOKESMA, Sofyan Reza, dan para ketua bidang dan ketua divisi usaha mengumumkan nama-nama maganger baru dan divisi mana dia diterima.

Pukul 10.15 seluruh peserta diklatsar dipulangkan kembali ke kampus ITB. Aku sendiri juga pulang dengan naik sepeda lagi. Kali ini jalannya banyak turunannya. Tapi karena rem sepedaku blong, akhirnya lebih banyak kutuntun sepedaku sepanjang perjalanan. Sempat kucoba menuruni jalanan dengan naik sepeda dan benar saja sepedaku tidak bisa kukendalikan, bahkan aku sempat menyalip beberapa sepeda motor. Alhamdulillah untungnya tidak ada kendaraan besar yang memakan bahu jalan, sehingga aku bisa melenggang tanpa halangan. Tapi aku kapok juga nekat mengendarai sepeda pada jalan turun berikutnya karena setiap berhenti masak aku harus mengerem pakai sandal, kalau nggak begitu mencari lahan kosong di kanan kiri jalan untuk menghentikan sepedaku. 😀

By the way… terlepas dari itu semua, setelah acara diklatsar tersebut, divisi yang kupegang, yaitu TOKEMA sendiri kebagian jatah 18 maganger baru. Wow kk wow… Banyak sekali. Memecahkan rekor tahun-tahun sebelumnya. Padahal pengurus TOKEMA jumlahnya tidak jauh dari kisaran 6-7 orang. Dampaknya pun akan terjadi kompetisi yang cukup sengit untuk memperebutkan posisi pengurus TOKEMA ini nantinya.

Okelah, yang penting sekarang aku ucapkan dulu selamat buat para DESF yang telah diterima menjadi maganger TOKEMA. Semoga kalian memang tidak salah pilih di sini. Semoga dengan menjadi maganger TOKEMA, harapan dan motivasi yang ada pada diri kalian dapat terpenuhin di TOKEMA.

Peserta diklatsar dibariskan