Category Archives: Traveling

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 6-Tamat): Hari ke-4, The Hong Kong Part

(Masih) Selasa, 14 Januari 2014

Jalan-Jalan di Kowloon Park

Tepat pukul 15.30 kapal ferry Turbo Jet yang kutumpangi merapat di Hong Kong China Ferry Terminal, Kowloon. Tujuan pertamaku adalah Kowloon Park yang berada tak jauh dari pelabuhan. Kedua tempat dihubungkan oleh sebuah jembatan yang melintasi jalan raya di bawahnya.

Kowloon Park ini menempati lahan yang sangat luas. Suasananya sangat asri. Banyak pohon di dalam area taman. Suasana yang asri itu sangat nyaman untuk dipakai jogging, membaca buku, atau sekedar melihat-lihat flora dan fauna yang berhabitat di taman tersebut. Itulah aktivitas-aktivitas yang umumnya orang-orang lakukan di taman sore itu.

Sayangnya aku tidak membawa perlengkapan lari dalam perjalanan backpacking-ku ke Hong Kong ini. Padahal sepertinya menyenangkan sekali jogging di taman ini. Aku pun duduk-duduk saja di bangku taman sambil mengamati tingkah polah burung-burung flamingo yang tengah bermain-main di kolam.

Kowloon Park ini memang sangat luas. Kita bisa-bisa tersasar di dalamnya jika baru datang pertama kali. Namun, tenang saja, di beberapa sudut taman terdapat denah taman yang menampilkan simbol yang menerangkan posisi di mana kita berada.

Sholat Ashar di Masjid Kowloon

Sayang, sore itu aku tak bisa berlama-lama di taman. Sebab, tak lama kemudian waktu Ashar segera masuk. Aku ingin merasakan suasana sholat berjamaah di Masjid Kowloon (Kowloon Mosque), yang berada di salah satu sudut Kowloon Park, dekat dengan stasiun MTR Tsim Sha Tsui. Karena itu aku segera buru-buru menuju masjid.

Masjid Kowloon ini sangat megah. Lokasinya sangat strategis. Berada di pinggir jalan yang terkenal amat sibuk di Hong Kong, Nathan Road.

Suasana masjid sore itu cukup ramai. Banyak orang yang sedang berada di dalam masjid. Dari wajahnya, umumnya etnis Pakistan dan sekitarnya, serta ada beberapa orang Afrika. Ada juga rombongan anak berseragam sekolah yang sepertinya sedang melakukan studi tur ke masjid ini. Menarik juga. Dari wajahnya jelas mereka siswa-siwa lokal situ dan tampaknya mereka pelajar setingkat SMA.

Menyeberang ke Wan Chai, menuju Masjid Ammar

Seusai sholat Ashar berjamaah di Masjid Kowloon, aku berjalan kaki menuju Star Ferry Pier Tsim Sha Tsui. Sengaja aku berjalan santai saat itu karena ingin menikmati sore terakhir di Hong Kong ini. Aku berjalan menyusuri jalan Haiphong dan Canton Road sambil mengamati hiruk pikuk lautan manusia berjalan kaki pulang dari kantor. Yep, sore itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan sepertinya memang jam 5 sore adalah jam pulang kantor para pekerja di Hong Kong ini.

Dari pelabuhan Star Ferry aku naik kapal tujuan Wan Chai. Ongkosnya HKD 3,4. Tujuanku ke Wan Chai ini adalah Masjid Ammar. Sepertinya bisa dibilang agenda hari ini itu berkunjung dari masjid ke masjid, hehe. Setelah berkunjung ke Masjid Makau, Masjid Kowloon, sekarang berkunjung ke Masjid Ammar di kawasan Wan Chai, Hong Kong.

Kalau menurut Google Maps, jarak dari pelabuhan Star Ferry Wan Chai ke Masjid Ammar adalah sekitar 800-1000 meter, tergantung rute yang kita pilih. Karena itu aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya, kenyataan di lapangan tak seindah yang tertera di Google Maps. Di jalan Google Maps ini tak bisa membantuku karena smartphone-ku tak memiliki akses internet. Alhasil, aku sering salah mengambil belokan. Ujung-ujungnya, aku baru tiba 30 menit kemudian di Masjid Ammar. Padahal kalau kata Google Maps, harusnya aku bisa sampai dalam waktu 12 menitan.

Makan malam di Islamic Centre Canteen, Masjid Ammar

Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 5): Hari ke-4, The Macau Part

Karena ceritanya cukup panjang, akhirnya khusus cerita hari ke-4 ini saya bagi ke dalam dua artikel. Artikel pertama menceritakan pengalaman di Makau, dan artikel dua menceritakan pengalaman di Hong Kong, termasuk menjelang kepulangan ke Indonesia. Yang sedang Anda baca ini adalah artikel pertama yang bercerita tentang kegiatan saya di Makau pada hari ke-4.

Selasa, 14 Januari 2014

Waktu subuh di Makau hari itu adalah pukul 6.30. Aku bangun tidur sekitar pukul 6 lewat beberapa menit. Karena masih belum masuk Subuh, aku akhirnya memutuskan untuk mandi pagi sekalian. Dinginnya pagi itu tak menjadi masalah karena SanVa hotel ini memiliki shared bathroom dengan shower air panas.

Setelah mandi, aku melaksanakan sholat shubuh di kamar. Seusai sholat, aku membuka tourist map Makau yang kudapatkan kemarin di pelabuhan ferry. Aku mencoba menyusun agendaku hari itu, menentukan tempat-tempat mana yang akan kudatangi hari itu. Tidak seperti 3 hari sebelumnya, hari ini aku jalan sendirian karena dua orang temanku sudah kembali duluan ke Jakarta. Ada hikmahnya juga jalan sendirian, walaupun agak kesepian, tapi aku bisa lebih bebas menentukan agendaku sendiri.

Pagi hari aku berencana untuk pergi ke objek yang dekat-dekat terlebih dahulu, yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki. Baru setelah itu aku berencana untuk pergi ke tempat yang jauh. Sebenarnya aku tertarik untuk berkunjung ke Macau Giant Panda Pavillion. Seumur-umur aku rasanya belum pernah melihat panda secara langsung (eh, atau sudah pernah ya di kebun binatang Surabaya waktu kecil dulu, memang ada gitu?). Sayangnya karena jaraknya jauh, yakni berada di Coloane, sisi selatan Taipa, aku mengurungkan niat ke sana karena menginginkan efektifitas waktu. Aku perkirakan kalau lihat jaraknya di peta, perjalanan ke sana bakal memerlukan waktu setidaknya 1 jam, itupun jika aku bisa langsung dapat bus saat tiba di halte. Belum lagi aku nggak memiliki uang receh tersisa untuk naik bus, hihi. Rugi kalau harus mengeluarkan pecahan uang kertas HKD 10 yang kupunyai (haha, dasar traveler kere!)

Akhirnya, aku meniatkan diri untuk mengalir saja. Nggak ada target ke mana-mana. Yang jelas pagi itu aku berencana untuk sightseeing objek-objek di dekat hotel saja terlebih dahulu. Baru setelah itu menentukan agenda berikutnya.

Jalan-jalan pagi ke Large De Senado, Fortaleza do Monte, dan Ruinas de S. Paulo

Berbekal tourist map yang kupunya, aku memulai perjalanan ini dengan menuju ke Large de Senado. Oh ya, jangan bingung ya dengan nama-nama ke-Portugis-an yang kutulis di atas. Maklum, Makau ini dahulu adalah jajahan Portugis. Dan mereka masih melestarikan identitas mereka sebagai bekas jajahan Portugis itu dengan selalu mencantumkan nama-nama tempat di kawasan mereka dalam bahasa Portugis selain tentunya bahasa Cantonese (eh, atau Chinese ya) sebagai bahasa sehari-hari dan bahasa Inggris sebaga bahasa Internasional.

Jarak dari penginapan ke Largo de Senado a.k.a. Senado Square ini kurang lebih sekitar 200 meteran saja. Largo de Senado ini adalah kawasan alun-alunnya Makau. Paving stone-nya memiliki kekhasan tersendiri, yakni memiliki pola warna hitam seperti ombak.

Largo de Senado ini merupakan objek yang termasuk dalam world heritage. Di seberangnya terdapat gedung Leal Senado yang juga termasuk dalam world heritage. Leal Senado ini adalah gedung dewan pemerintahan di Makau.

Tampaknya malam sebelumnya di Largo de Senado ini sedang ada suatu event. Sepertinya event rakyat dalam rangka perayaan menyambut Tahun Baru China yang memasuki tahun kuda. Ada replika kuda soalnya di situ.

Yang aku suka di Makau ini, mereka menyediakan peta dan petunjuk jalan ke tempat-tempat heritage-nya. Di Large de Senado ini terdapat papan informasi berbentuk kotak yang berisi gambar peta lokasi dan daftar objek-objek heritage di sekitar situ.

Aku pun jalan kaki menuju Fortaleza do Monte dengan bantuan peta itu dan papan-papan petunjuk arah di beberapa sudut jalan. Jalan yang kulalui ternyata melewati sekolah dan pemukiman penduduk di sana. Aku sempat melihat aktivitas penduduk sekitar. Ada yang berangkat kerja, ada beberapa orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, ada yang dagang sayuran, dll.

Fortaleza Do Monte a.k.a. Mount Fortress ini adalah sebuah benteng yang berada di atas sebuah bukit. Benteng ini tentu saat ini sudah tak berfungsi kembali. Namun beberapa meriam bekas masih terpasang dengan baik di dinding-dinding benteng ini. Di dalam benteng ini terdapat Museu De Macau alias Macau Museum. Tentu saja museum ini adalah bangunan baru, bukan bagian dari sejarah benteng ini. Sayang museum itu baru buka pukul 10 pagi atau masih dua jam lagi dari waktu ku berkunjung ke sana.

Pagi itu di pelataran benteng ini tengah diadakan senam pagi. Lebih tepatnya senam tai chi sih. Kebanyakan pesertanya adalah ibu-ibu separuh baya. Mereka melakukan senam tai chi sambil diiringi musik khas mereka.

Ah… suasana pagi itu memang sangat menyenangkan. Selain ibu-ibu yang senam tai chi ini, juga banyak warga lokal yang berolahraga pagi di pelataran dan area di sekitar benteng ini. Ada yang berlatih kung fu sendiri, tapi umumnya melakukan jogging di sekitaran benteng ini. Udara yang dingin ternyata tak menghalangi warga untuk beraktivitas, khususnya berolahraga. Aplikasi smartphone-ku mencatat suhu saat itu sempat mencapai 11-12 derajat celcius.

Oh ya, dari atas benteng ini ternyata kita bisa melihat dengan jelas pemandangan sekitar Makau Peninsula ini. Macau Tower dan Hotel Grand Lisboa juga terlihat dari sini, walaupun Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 4): Hari ke-3, Hong Kong-Makau

Senin, 13 Januari 2014

Pagi itu waktu terasa berjalan lambat. Stamina dua orang temanku tengah drop. Kedua orang temanku masih butuh istirahat. Akhirnya rencana berangkat pagi-pagi ke Makau terpaksa diubah. Sembari menunggu mereka bangun tidur, aku memutuskan untuk mandi duluan saja agar nanti tak perlu antri mandi. Setelah mandi, menonton TV dan browsing-browsing internet di kamar saja.

Pukul 9 pagi mereka bangun. Setelah itu, mereka mandi dan kemudian kami semua mulai mengemasi barang-barang kami. Pukul 10 pagi kami check out dari penginapan. Kami mampir mencari sarapan. Setelah sarapan, mampir ke apotek yang berada di sekitaran Chungking Mansion untuk membeli vitamin.

Naik ferry ke Makau

Setelah membeli vitamin, kami berjalan kaki menuju Hong Kong China Ferry Terminal, Kowloon, yang berjarak sekitar 500 meter. Sempat agak bingung mencari letak pelabuhan ferry yang satu ini. Pasalnya petunjuk jalan menuju pelabuhan ferry ini justru mengarahkan ke dalam gedung yang penampakannya seperti hotel bintang lima.

Melihat kami kebingungan, ada seorang ibu berpakaian security yang menghampiri kami. Kami pun menanyakan lokasi pelabuhan ferry itu. Ternyata benar, jalannya melalui gedung yang seperti hotel ini. Namun untuk menuju departure hall pelabuhan kami harus naik lift menuju lantai 3.

Wow, keren banget ternyata pelabuhan ferry Kowloon ini. Interiornya benar-benar memberikan kesan lux. Mewah banget, nggak kalah sama interior bandara-bandara mewah.

Departure hall pelabuhan

Departure hall pelabuhan

Di departure hall ini ada beberapa konter penjualan tiket dari berbagai macam operator ferry. Kami membeli tiket ferry Turbo Jet dengan tarif HKD 159 per orang (kelas ekonomi). Jadwal perjalanan Turbo Jet beserta tarifnya dapat dilihat di sini.

Setelah check-in dan mendapatkan nomor kursi, kami masuk menuju ruang tunggu keberangkatan. Namun sebelumnya kami harus melalui imigrasi dulu. Proses imigrasi berjalan mulus, sebentar saja prosesnya.

Kami mendapatkan ferry dengan keberangkatan pukul 13.00. Masih ada waktu setengah jam lebih bagi kami untuk menunggu. Kami menghabiskan waktu berinternetan di ruang tunggu ini dengan smartphone masing-masing. Jarang-jarang bisa dapat akses internet sekencang di sini, hehe.

Sepuluh menit menjelang pukul 13.00, pintu gerbang menuju kapal telah dibuka. Para calon penumpang, termasuk kami, beranjak menuju kapal. Walaupun kami cuma membeli tiket kelas ekonomi, namun fasilitasnya cukup nyaman ternyata. Ruangan ber-AC, reclining seat, dan bagasi. Kursinya pun memiliki ruang untuk kaki selonjor yang cukup lega.

Di dalam kapal ferry ini penumpang nggak diperbolehkan untuk jalan-jalan jika tidak ada keperluan mendesak seperti ke toilet. Mau foto-foto di pinggir jendela? Siap-siap saja ditegur oleh petugas, hihi. Apalagi ketika kondisi ombak sedang tidak bersahabat, seluruh penumpang diwajibkan untuk tetap duduk di kursi masing-masing. Pemberitahuan tersebut disampaikan melalui speaker di dalam kapal.

Naik shuttle bus gratis ke Hotel & Casino Grand Lisboa

Perjalanan Kowloon-Makau ini memakan waktu 1 jam. Ada dua pelabuhan di Makau ini. Kapal ferry Turbo Jet yang kami tumpangi ini berlabuh di Macau Outer Harbour Ferry Terminal a.k.a. Macau Maritime Ferry Terminal. Lokasi pelabuhan ini ada di Macau Peninsula. Sementara pelabuhan satunya, yakni Macau Taipa Ferry Terminal, berada di pulau Taipa. Operator ferry yang berlabuh di sini setahuku ada Cotai Water Jet.

Outer Harbour Ferry Terminal (difoto dari seberang jalan)

Outer Harbour Ferry Terminal (difoto dari seberang jalan)

Setibanya di pelabuhan, kami berjalan menuju keimigrasian untuk diproses di sana. Proses imigrasi berjalan lancar. Seperti halnya Hong Kong, Makau ini juga memiliki kebijakan tidak memberikan stempel imigrasi pada paspor pengunjung negara mereka. Kami hanya diberi potongan kertas kecil yang terdapat print-out tanggal kita masuk dan tanggal batas waktu kami diizinkan tinggal di Makau ini.

Sebelum pergi meninggalkan pelabuhan, jangan lupa mengambil brosur tourist guide di main hall pelabuhan. Begitu keluar dari keimigrasian kita pasti akan melihat tempat brosur ini kok. Tourist guide ini sangat berguna, selain memuat peta Makau, yang paling penting adalah karena di dalamnya juga memuat rute-rute bus kota di Makau ini. Di Makau bus kota adalah satu-satunya transportasi umum yang tersedia, selain taksi tentunya.

Well, pikiran yang terlintas setiap kali kita menyebut Makau adalah negara ini adalah negera judi. Yup, stigma itu benar adanya. Suasana negara judi itu sudah terasa sejak kita Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 3): Hari ke-2, Hong Kong-Shenzhen-Hong Kong

Minggu, 12 Januari 2014

Pagi itu menjelang pukul 9, setelah sarapan pagi di warung makan India di lantai dasar Chungking Mansion, kami berjalan kaki menuju stasiun MTR East Tsim Sha Tsui. Molor 1 jam dari itinerary yang sudah kami susun. Idealnya kami sudah cabut pukul 8 harusnya agar memiliki waktu lebih banyak di Shenzhen nanti. Yup, hari ini kami memang sudah berencana untuk menengok Shenzhen. Kami berencana untuk sehari saja di sana. Berangkat pagi, pulang maghrib.

Stasiun East Tsim Sha Tsui ini letaknya tidak begitu jauh dari stasiun Tsim Sha Tsui. Kami jalan ke sana melalui tunnel underground melalui pintu tunnel yang sama jika kami hendak ke stasiun Tsim Sha Tsui. Kami tinggal mengikuti petunjuk-petunjuk yang ada di tunnel untuk mencapai stasiun East Tsim Sha Tsui.

Dari stasiun East Tsim Sha Tsui kami naik MTR jalur ungu menuju ke stasiun Hung Hom, lalu ganti MTR jalur biru menuju stasiun Lo Wu. Dari East Tsim Sha Tsui ke Hung Hom ini tidak ada stasiun antara, karena jaraknya memang dekat. Nah, sedangkan stasiun Lo Wu itu adalah stasiun MTR terakhir. Perjalanan Hung Hom-Lo Wu ini kurang lebih sekitar 45 menit. Lama bukan. Jaraknya memang jauh. Ongkos dari East Tsim Sha Tsui ke Lo Wu ini adalah HKD 37,5 (mahal kan?).

Oh ya, sebelum ke Shenzhen jangan lupa persiapkan pecahan uang dalam mata uang Renminbi (RMB) alias China Yuan (CNY). Jangan bingung antara penyebutan RMB atau CNY. Keduanya sama saja. Cuma orang di sana, termasuk Hong Kong, sepertinya lebih familiar dengan penyebutan Renminbi. Kami menukar uang US Dollar kami (kami sengaja membawa uang USD untuk kami tukarkan di luar jika uang kami kurang) ke Renminbi di konter Western Union di Chungking Mansions ini. Ada banyak money changer di sana. Di Western Union ini mereka juga menerima uang rupiah lho. Rate-nya pun juga bagus kata teman saya yang kemarin sempat menukarkan uang 300 ribu rupiahnya di sana.

Imigrasi masuk Shenzhen

Sebenarnya ada beberapa pintu perbatasan untuk masuk Shenzhen ini. Tapi yang paling populer kabarnya ya lewat perbatasan Lo Wu (Hong Kong)-Luohu (Shenzhen) ini. Berbeda dengan Hong Kong, warga negara Indonesia (WNI) yang hendak masuk ke dalam negeri China daratan harus mengurus visa terlebih dahulu di negara asalnya. Namun, Shenzhen memiliki kebijakan khusus. Pemegang paspor Indonesia bisa mengajukan Visa on Arrival (VOA) di keimigrasian Shenzhen.

Begitu tiba di stasiun MTR Lo Wu, kami berjalan menuju perbatasan dan masuk ke bagian wilayah Shenzhen bernama Luohu. Lo Wu dan Luohu ini dipisahkan oleh sebuah sungai. Imigrasi keduanya sebenarnya berada di dalam gedung yang terpisah, namun dihubungkan dengan jembatan di dalam ruangan yang melintasi sungai tersebut.

Setelah mendapat cap keluar Hong Kong kami berjalan menuju imigrasi Shenzhen. Gedung ini sangat besar, tapi petunjuk-petunjuknya sudah sangat membantu. Pertama-tama kami mencari tempat di mana kami harus meng-apply VOA. Lokasinya ternyata berada di lantai 2 keimigrasian Shenzhen. Proses untuk mendapatkan VOA ini sangat mudah. Lagi-lagi petunjuk bagaimana prosesnya dilakukan sudah sangat jelas, digambarkan dalam sebuah diagram alir di depan ruang apply VOA. Tarifnya pun juga sudah diumumkan dalam sebuah papan. Untuk WNI, tarifnya adalah 168 RMB.

Pertama-tama kita mengisi form imigrasi yang sudah disediakan. Lalu mengambil nomor antrian loket VOA. Duduk menunggu dipanggil. Setelah dipanggil, menuju loket 1 untuk menyerahkan paspor dan form imigrasi tadi. Lalu berjalan ke loket 2 untuk melakukan pembayaran visa. Balik duduk lagi menunggu visa diproses. Nanti akan dipanggil kembali sesuai nomor antrian untuk mengambil paspor beserta visa yang sudah ditempel di dalamnya, di loket 3. Simpel kan? Jika antriannya tidak terlalu panjang, 10-15 menit sudah bereslah. Visa ini berlaku selama 5 hari untuk di Shenzhen saja.

Visa masuk Shenzhen

Visa masuk Shenzhen

Setelah menerima VOA, baru kita menuju pintu imigrasi Shenzhen. Jangan lupa untuk mengisi form imigrasi di sini. Ini form yang berbeda dengan yang apply VOA tadi, tapi isinya kurang lebih sama. Di form ini kita harus memasukkan nomor visa yang sudah kita terima.

Mengintip kebudayaan China di Splendid China & China Folk Culture Villages

Baca-baca di internet baik forum ataupun blog, umumnya orang-orang merekomendasikan dua objek utama untuk dikunjungi jika berwisata ke Shenzhen, yakni Window Of The World dan Splendid China & China Folk Culture Villages. Karena kami punya waktu efektif kurang lebih setengah hari, kami pun memutuskan hanya mengunjungi Splendid China & Folk Culture Villages. Untuk mencapai ke sana, begitu kami keluar gerbang imigrasi Luohu, kami berjalan ke bawah ke stasiun metro Luohu yang berada persis di seberang pintu keluar gedung imigrasi. Setelah itu, kami menaiki metro alias kereta bawah tanah Shenzhen ini menuju stasiun OCT (Overseas Chinese Town).

Jarak stasiun OCT ke Splendid China ini sangat dekat. Cuma puluhan meter sepertinya. Begitu keluar stasiun OCT, tinggal jalan kaki lurus saja nanti ketemu deh tempat di mana kami foto bertiga di bawah ini. Oh ya, di depan Splendid China ini ada stasiun monorailnya ternyata. Sepertinya ini monorail cuma buat keliling Splendid China saja seperti model monorail yang ada di Taman Mini Indonesia Indah (TMII). Soalnya di dalam Splendid China ini ternyata juga ada stasiunnya. Sayang kami nggak sempat naik saat itu.

Oh ya, sebelumnya bagi yang belum tahu, Splendid China & China Folk Culture Villages itu sebenarnya adalah dua theme park yang tergabung menjadi satu. Tiket masuknya menjadi satu, yakni sebesar RMB 150. Splendid China adalah miniatur-miniatur dari landmark-landmark populer di negeri China seperti Tembok Besar China, The Imperial Palace, dll. Sedangkan China Folk Culture Villages adalah theme park yang menyajikan keunikan dan pertunjukan seni atau budaya khas suku-suku daerah China. Atau dengan kata lain China Folk Culture Villages ini TMII-nya China lah :D.

Jadi kalau Anda memang cuma memiliki waktu sehari dan bingung memilih antara Window of The World atau Splendid China, saya rekomendasikan ke Splendid China & China Folk Culture Villages saja. Di sini kita bisa lebih mengenal kebudayaan mereka. Areanya sangat luas, butuh waktu sehari paling tidak untuk bisa menjelajahi seluruh tempat ini. Kami yang hanya punya waktu setengah hari benar-benar merasa kurang puas. Banyak tempat yang belum kami lihat.

Setelah membeli tiket masuk, jangan lupa ambil brosur guide map tempat-tempat di dalam theme park ini. Di sana tertera peta lokasi-lokasi atraksi beserta jadwalnya.

Atraksi paling recommended adalah “Horseback Battle”. Ini adalah atraksi peperangan antar pasukan berkuda. Menonton atraksi ini membuatku seperti terbawa ke cerita-cerita peperangan masa lampau. Aku benar-benar terhibur dengan skill berkuda yang mereka tunjukkan.

Sayang acara ini Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 2): Hari ke-1, di Hong Kong

Sabtu, 11 Januari 2014

Jam telah menunjukkan lewat pukul 12 malam ketika kami — aku, Neo, dan Doga (teman kantor Neo) — mulai merasakan kantuk menunggu pesawat yang dijadwalkan akan take-off pukul 00.50. Alhamdulillah pesawat Tigerair Mandala nomor penerbangan RI652 yang hendak membawa kami ke Hong Kong tepat berangkat sesuai jadwal. Begitu diumumkan boarding, penumpang mulai berjalan kaki menuju ke dalam pesawat.

Kami duduk di barisan kursi untuk emergency exit, sehingga sandaran kursi pun tak bisa dimiringkan ke belakang. Walaupun demikian, kami tetap bisa tidur lelap sepanjang perjalanan walau akhirnya badan terasa pegal-pegal. Perjalanan Jakarta-Hong Kong ini memakan waktu sekitar 5 jam. Waktu Subuh di Hong Kong adalah pukul 6 kurang 5 menit. Waktu di Hong Kong sendiri lebih cepat 1 jam (GMT+8) daripada di Indonesia Bagian Barat (GMT+7).

Form imigrasi Hong Kong

Form imigrasi Hong Kong

Yaayy! Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di Hong Kong. Kami tiba di Hong Kong International Airport (HKIA) menjelang pukul 7 pagi. Langit masih agak gelap walaupun matahari sebenarnya mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur sana. Udara dingin mulai terasa. Yep, sebagaimana negara-negara bumi belahan utara lainnya, pada bulan Januari ini Hong Kong tengah memasuki musim dingin. Walaupun demikian tak ada salju di sini. Suhu pagi itu adalah sekitar 15 derajat Celsius.

Sebelum menuju imigrasi, semua foreigner diwajibkan untuk mengisi form imigrasi terlebih dahulu. Form ini ada satu copy (pakai karbon) yang harus kita bawa dan kita serahkan saat akan meninggalkan Hong Kong. Sementara yang asli diserahkan saat tiba di Hong Kong ini. Oh ya, satu hal lagi, jangan lupa untuk mengambil brosur tourist information yang terdapat di rak-rak sebelum imigrasi. Gratis! Ada berbagai macam brosur di sana. Umumnya informasi mengenah denah HKIA dan getting around di Hong Kong dengan transportasi umum.

Beli Octopus Card

Kalau boleh mengatakan, memiliki octopus card ini “wajib” hukumnya jika Anda berada di Hong Kong. Naik MTR (Mass Transit Railway), bus kota, kapal ferry, belanja di 7-Eleven, McDonald’s, dsb. hampir semuanya menerima pembayaran dengan Octopus Card ini. Khusus untuk bus, yang jelas sopir bus tidak akan memberikan kembalian jika kita membayar dengan uang lebih. Karena itu, pembayaran di Hong Kong ini menjadi lebih praktis dengan menggunakan octopus card ini.

Sistemnya mirip beli pulsa saja. Pertama kita beli kartunya senilai HKD 150, HKD 100 untuk transaksi dan HKD 50 lagi sebagai deposit. Nantinya kartu ini bisa di-refund jika sudah tidak digunakan lagi, namun dipotong biaya sebesar HKD 9. Cara menggunakannya tinggal tap saja, maka saldo akan berkurang. Kita bisa mengisi ulang saldo kita di konter-konter stasiun MTR atau 7-Eleven senilai HKD 50 atau HKD 100.

Nah, begitu keluar dari pintu imigrasi HKIA, jangan lupa untuk membeli octopus card ini di konter Airport Express di samping McDonald’s. Nggak susah kok mencari konter ini. Begitu keluar dari pintu sudah kelihatan di depan kita konter Airport Express dengan baliho besar.

Octopus Card

Octopus Card

Ke Ngong Ping

Tujuan pertama kami begitu keluar dari bandara adalah objek wisata Ngong Ping. Objek wisata ini terletak di Lantau Island. Dari bandara kami menaiki bus nomor S1 dan berhenti di halte Tung Chung Cable Car Terminus. Perjalanan sekitar 30 menit dan ongkosnya adalah HKD 3,5.

Naik bus kota di Hong Kong ini sangat mudah. Informasinya sudah sangat jelas. Di dalam bus ada tulisan digital yang menginformasikan setiap next stop. Tempat berhenti Tung Chung Cable Car Terminus ini juga gampang dikenali. Lihat saja ada bangunan besar yang menjadi stasiun bagi cable car dan di seberangnya terdapat mall besar bernama Citygate Outlets.

Di Tung Chung ini kami cuma transit saja. Untuk menuju Ngong Ping ada dua pilihan, mau naik bus atau cable car. Tarif cable car  (yang standard cabin) ini adalah HKD 105 one way atau HKD 105 return. Namun, baru beroperasi pukul 9 pagi. Kami sepakat untuk naik bus saja menuju Ngong Ping ini dan baliknya baru naik cable car karena ingin merasakan suasana berbeda antara pergi dan baliknya.

Bus yang menuju Ngong Ping berada di terminal yang berada di samping mall Citygate Outlets tersebut. Bus ini berbeda dengan bus kota Hong Kong pada umumnya. Bus ini hanya beroperasi untuk transportasi di Lantau Island saja. Bus yang kami tumpangi untuk menuju Ngong Ping ini adalah bus New Lantao no. 23. Tarifnya adalah HKD 17,20. Bus ini sendiri memiliki jadwal keberangkatan yang sudah ditentukan (lihat jadwalnya di sini).

Perjalanan Tung Chung-Ngong Ping dengan bus ini memakan waktu kurang lebih 50 menit. Bus melalui jalan yang mendaki dan melewati beberapa kompleks pemukiman penduduk sekitar. Mungkin kalau di Hong Kong daerah sini termasuk kawasan “pedesaan”-nya kali ya. Suasananya begitu asri, berbukit-bukit dan masih banyak pohonnya juga.

Ada apa saja di Ngong Ping ini? Sebenarnya kami juga tidak tahu pasti ada apa saja di sini, hehe… kidding. Di sini kami jalan-jalan saja melihat-lihat dan foto-foto di Ngong Ping Piazza. Lalu jalan menyusuri anak tangga melihat-lihat patung Giant Buddha. Dari atas tempat patung tersebut berada kami bisa melihat pemandangan sekitar Ngong Ping ini. ada bukit-bukit, hutan-hutan, dan pemukiman warga sekitar. Di kejauhan juga tampak jalur cable car dan laut di sisi barat daya Lantau Island ini.

Di Ngong Ping ini kami juga sempat berjalan kaki menuju Wisdom Path. Lumayan juga jalan kaki selama kurang lebih 15-20 menit dengan membawa backpack begini. Apalagi jalannya lumayan naik juga walaupun sangat landai. Wisdom Path ini area di mana terdapat sejumlah batang kayu yang menjulang tinggi dengan tulisan di tiap batangnya. Kurang paham juga sih artinya.

Kalau dipikir-pikir, agak menyesal juga Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 1): Beli Tiket Pesawat, Booking Penginapan, dan Menyusun Itinerary

Tiket Promo ke Hong Kong

Sekitar bulan Oktober-November yang lalu Tigerair Mandala mengadakan promo “Perginya Bayar, Pulangnya Dibayarin” alias return for freeTapi bukan berarti harganya murah banget sampai di bawah sejuta PP ya :P. Itu cuma trik marketing aja sebenarnya. Kalau dihitung-hitung, memang cenderung mendekati harga normal, tapi masih lebih murahlah.

Cuma kebetulan ada teman yang ngajak, jadi aku tertarik ikutan beli. Kebetulan juga pada tanggal yang ditentukan ada hari kecepit (11-14 Januari 2014), jadi nggak perlu cuti banya-banyak. Selain itu motivasi lainnya adalah karena aku belum pernah ke luar negeri selain Malaysia, wkwkwk. Nah, sayangnya aku sempat pikir panjang sih apakah jadi beli atau tidak tiket promo ini. Akhirnya return for free buat tanggal 14-nya malah keburu habis, yang ada tanggal 15-nya. Akhirnya terpaksa extend 1 hari.

Tapi Desember lalu ada yang menemukan kombinasi promonya Tigerair Mandala yang baru membuka rute Surabaya-Hong Kong dan Denpasar-Hong Kong. Berangkat Denpasar-Hong Kong 5 ribu, dan baliknya Hong Kong-Surabaya 193 ribu rupiah.

Tips: Kalau mau cari tiket murah ke Hong Kong, pertama coba cek dulu Tigerair (bukan promosi ya), karena mereka satu-satunya maskapai low cost yang menyediakan direct flight Indonesia (Jakarta, Surabaya, Denpasar)-Hong Kong. Setelah itu baru maskapai low cost carrier yang lain seperti Cebu Pacific Air atau AirAsia. Memang keduanya tidak ada direct flight Jakarta-Hong Kong, tapi perlu transit dulu di Manila (Cebu) atau Kuala Lumpur (AirAsia). Cebu cukup sering mengadakan promo 1 peso (raw fare) atau kurang lebih ujung-ujungnya biasanya jatuhnya dapat 1,5 juta PP Jakarta-Hong Kong via Manila.

Penginapan di Hong Kong

Sekitar dua minggu menjelang hari H kami mulai mencari-cari penginapan. Untuk urusan penginapan di Hong Kong ini aku serahkan kepada temanku karena dia memiliki kartu kredit yang memang diperlukan untuk membooking penginapan ini. Namun, sebelumnya kami sudah sepakat untuk mencari penginapan di kawasan Tsim Sha Tsui. Kenapa di sana? Pertimbangan kami adalah karena kawasan tersebut sangat strategis. Akses ke Avenue of Stars, stasiun MTR, dan pelabuhan sangat mudah dan dekat. Kurang lebih dibutuhkan hanya 10-15 menit jalan kaki saja.

Sekitar seminggu menjelang keberangkatan aku dikabari sama temanku itu bahwa dia sudah memesan 1 kamar untuk 3 orang di Australian Guesthouse via Agoda. Sebenarnya kami mencari 1 kamar dengan triple bed, tapi dapatnya malah 1 kamar dengan 2 double bed. Australian Guesthouse ini berlokasi di gedung Chungking Mansions. Kami patungan Rp 580.000 per orang untuk dua malam.

Ngomong-ngomong tentang Chungking Mansions, di sinilah tempat yang paling digemari oleh para backpackers atau budget travelers yang mengunjungi Hong Kong. Sebab di sini berkumpul berbagai guesthouse yang menawarkan kamar dengan rate (yang kabarnya) termurah di Hong Kong. Maklum, Hong Kong ini termasuk kota besar di dunia dengan living cost tinggi di dunia. Jadi agak susah mencari penginapan murah (menurut ukurang orang Indonesia) di Hong Kong ini sebenarnya.

Kamar yang kami tempati ini walaupun rate-nya mungkin tak terlihat murah, namun menurut teman kami yang berasal dari China (nanti akan aku perkenalkan di tulisan berikutnya), rate segitu termasuk murah melihat fasilitas yang didapatkan. Selain 2 double bed, ada kamar mandi dalam dengan hot shower, pendingin ruangan (AC), TV, telepon (free local call ), dan safety deposit boxes. Di sana juga tersedia free wifi dan LAN dengan akses internet yang sangat kencang. Aku nggak sempat mengecek berapa speed internetnya sih, tapi temanku mencoba menelepon temannya di Indonesia via aplikasi LINE lancar jaya. Selain itu, di guesthouse ini kami juga bebas untuk mengambil hot drinking water di ruang tamu untuk membuat kopi (Nescafe sachet) yang disediakan gratis.

Kekurangan dari Australian Guesthouse ini dan mungkin juga guesthouse-guesthouse lain di Chungking Mansions ini pada umumnya adalah ukuran kamarnya yang sempit-sempit. Ransel-ransel sampai terpaksa kita masukkan ke dalam kolong tempat tidur agar ruangan tetap terasa lapang. Untuk sholat pun terpaksa bersempit-sempitan di antara tempat tidur agar bisa menghadap kiblat.

Selain ukuran kamar yang sempit, kekurangan lainnya adalah akses menuju kamar yang lumayan susah. Jadi di dalam Chungking Mansions ini terbagi 6 blok dari A sampai F. Setiap blok memiliki dua akses lift, satu lift untuk lantai genap dan satunya lagi untuk lantai ganjil. Gedung ini memiliki 16 lantai. Nah, kamar kami berada di lantai 14. Untuk naik dan turun kami beberapa kali harus mengantri untuk menggunakan lift bergantian dengan tamu-tamu guesthouse yang lain. Satu lift kurang lebih muat hingga maksimal 8 orang.

Oh ya, Chungking Mansions ini selain merupakan tempat berkumpulnya guesthouse-guesthouse murah di Hong Kong, tampaknya juga menjadi tempat berkumpulnya etnis Asia Selatan seperti India, Pakistan, dsb. Di lantai dasar terdapat banyak toko dan tempat makan yang hampir semuanya dikelola oleh orang-orang dari etnis mereka. Guesthouse yang aku tempati pun juga dikelola oleh orang India.

Bagi yang ingin mencari makanan halal, jangan khawatir Continue reading

Nonton Malaysia Open 2014

Weekend kemarin (18-19 Januari) aku dan Pambudi terbang ke Kuala Lumpur untuk menonton Malaysia Open Super Series Premier (MOSSP) 2014. Perjalanan ini sudah direncanakan sejak sebulan sebelumnya. Kebetulan saat itu ada tiket promo AirAsia Bandung-Kuala Lumpur Rp 500 ribu PP (sama seperti naik kereta api kelas bisnis Bandung-Malang PP).

Pertandingan Malaysia Open ini diselenggarakan di Putra Stadium, Bukit Jalil. Harga tiket untuk semifinal dan final sama, yakni kelas premium RM 65, lower tier RM 50, dan upper tier RM 35. Kalau dirupiahkan, tidak jauh beda dengan tiket nonton Indonesia Open SSP 2013 kemarin. Bahkan untuk kelas premiumnya jauh lebih murah dibandingkan dengan kelas VIP Indonesia Open.

Layout tribun penonton Putra Stadium

Layout tribun penonton Putra Stadium

Di hari pertama (semifinal) kami membeli tiket kelas premium. Sayang ketika kami tiba di stadion, sudah berlangsung match ketiga, yakni partai antara Goh V Shem/Lim Khim Wah (Malaysia) vs Angga Pratama/Ryan Agung Saputro (Indonesia).

Kami melewatkan dua partai wakil Indonesia sebelumnya, yakni Tontowi Ahmad/Lilyana Natsir dan Tommy Sugiarto. Rugi banget.

Ini gara-gara pesawat AirAsia yang delay sampai 1,5 jam. 😦 Sudah begitu Angga/Ryan kalah pula. Alhasil cuma Tommy saja yang masuk ke final. Karena itulah kami memesan tiket kelas upper tier untuk pertandingan final keesokan harinya.

Menonton di tribun upper tier ini ternyata nyaman-nyaman saja. Bahkan, kita bisa bebas memilih tempat duduk di mana saja. Beda dengan kelas premium yang nomor kursinya sudah ditentukan. Jika tidak beruntung, malah bisa dapat bangku yang jauh dari lapangan utama.

Di tribun upper tier ini penontonnya jauh lebih sepi. Aku bahkan bisa sampai selonjoran ke bangku depan. Hanya saja dari tribun upper tier ini agak susah dalam membedakan shuttle cock lambung atau tipis di atas net. Tapi view-nya masih sangat jelas kok. Shuttle cock dan wajah pemain masih tetap jelas terlihat dari tribun tersebut.

Final ganda campuran

Final ganda campuran

Final ganda putra

Final ganda putra

Victory ceremony ganda campuran

Victory ceremony ganda campuran

Btw, aku suka banget sama perpaduan warna karpet dan lighting di dalam arena pertandingan kemarin. Karpet lapangan menggunakan warna kuning, sedangkan karpet di main hall-nya menggunakan warna hitam.

Untuk lighting-nya, lampu di tribun penonton dimatikan. Hanya lapangan saja yang disorot oleh lampu. Alhasil, lapangannya pun terlihat menyala di tengah kegelapan.

Sayang dalam pertandingan final yang berlangsung hari Ahad itu, satu-satunya wakil Indonesia, Tommy Sugiarto, harus takluk dari andalan tuan rumah Malaysia, Lee Chong Wei. Luar biasa memang Lee Chong Wei di pertandingan ini. Kelihatan sekali Lee Chong Wei berada di level yang berbeda dengan Tommy. Namun, sebenarnya di set pertama penampilan Tommy sempat memberikan harapan. Sayang, di set kedua Tommy kelihatan sekali kehabisan ide untuk meladeni permainan Lee Chong Wei.

Di luar hall terdapat berbagai macam stand makanan dan Yonex. Seusai pertandingan final, aku dan Pambudi membeli jersey Lee Chong Wei collection dengan signature di lengan kirinya. Sayang ada Continue reading