Tag Archives: star ferry

Route Planner Transportasi Publik di Hong Kong

Mengetahui transportasi apa saja yang akan digunakan saat traveling sangat berguna bagi calon traveler dalam menyusun itinerary dan memperkirakan berapa duit yang harus disiapkan untuk perjalanan. Nah, bagi Anda yang ingin jalan-jalan di Hong Kong, terutama yang pertama kali, tentu tak ingin kan jika waktu Anda terbuang di sana karena harus mencari tahu dulu mau naik apa ke tempat tujuan dan ujung-ujungnya mungkin bisa keluar duit lebih banyak karena salah jurusan atau tak tahu ada alternatif yang lebih murah. Untungnya Hong Kong memiliki sistem transportasi yang kalau kubilang tarafnya sudah world class lah, terutama dalam penyajian informasinya.

Dua jenis transportasi publik utama di Hong Kong, MTR dan bus, memiliki fitur route planner di website-nya sehingga memudahkan kita dalam menyusun rencana perjalanan. Oke, mari kita lihat satu-satu:

1. MTR (Mass Transit Railway)

Website: http://www.mtr.com.hk/eng/homepage/cust_index.html

Di negara lain mungkin kita lebih sering mengenal istilah MRT (Mass Rapid Transit), LRT (Light Rail Transit), atau Metro train. Kalau di Hong Kong mereka menyebutnya MTR.

Trayek MTR di Hong Kong ini terdiri atas 10 jaringan (bisa dicek di wikipedia). Kalau istilahnya di Bus TransJakarta itu koridor. Yah, jaringan itu maksudnya koridor gitu. Biasanya agak pusing sih kalau harus lihat peta rutenya, apalagi jika belum tahu lokasi stasiun yang hendak kita tuju di peta.

Untungnya MTR memiliki peta interaktif route planner a.k.a. journey planner di website yang aku sebutkan di atas tadi. Enak banget, kita tinggal mengetikkan nama stasiun asal dan stasiun tujuan kemudian peta akan menampilkan rute MTR yang bisa kita naiki. Informasi yang ditampilkan juga sudah mencakup interchange station (stasiun tempat berpindah antar koridor), perkiraan waktu tempuh, dan ongkos yang harus kita bayar (baik menggunakan octopus card maupun single journey ticket).

MTR Route Planner: Tung Chung-Tsim Sha Tsui

MTR Route Planner: Tung Chung-Tsim Sha Tsui

Pada peta interaktif tersebut kita juga bisa melihat informasi umum lokasi stasiun, seperti attraction recommendation di dekat situ, kondisi fasilitas untuk penyandang disabilitas, dan toko-toko apa saja yang ada di stasiun tersebut. Lengkap bukan? Untuk mengetahui informasi tersebut, kita tinggal hover nama stasiun lalu akan muncul menu informasi seperti screen shot di atas.

Hebatnya, peta interaktif ini tidak hanya memuat rute MTR di Hong Kong saja. Namun juga MTR di Shenzhen, atau yang lebih dikenal dengan sebutan “metro”. Shenzhen ini adalah sebuah kota di China yang berbatasan dengan Hong Kong.

2. Citybus & NWFB

Website: http://www.nwstbus.com.hk/home/default.aspx

Citybus & NWFB (New World First Bus) ini hanyalah salah dua operator bus umum di Hong Kong. Masih ada operator bus umum yang lain seperti KMB (Kowloon Bus Motor), LWB (Long Win Bus), dan New Lantao Bus. Namun, selama backpacking di Hong Kong 3 bulan yang lalu, aku hanya menggunakan jasa bus Citybus & NWFB dan New Lantao saja. Untuk bus New Lantao, aku hanya naik sekali, yakni bus no. 23 saat perjalanan dari Tung Chung ke Ngong Ping (baca jadwalnya di sini).

Citybus & NWFB ini di websitenya memiliki fitur Point-to-Point Search. Enak sekali, kita tinggal memasukkan nama tempat asal dan nama tempat tujuan. Setelah itu, aplikasi akan menampilkan daftar trayek bus yang available. Nah, di tiap item trayek bus itu kita bisa melihat lebih detail informasi meliputi berapa meter jarak halte terdekat dari lokasi keberangkatan dan halte terdekat dari lokasi tujuan, halte apa saja yang dilewati, dan berapa tarifnya.

Bus route Central Ferry Pier-Garden Road Peak Tram Terminal

Bus route Central Ferry Pier-Garden Road Peak Tram Terminal

Pada peta interaktif tersebut kita juga bisa menggali informasi tiap halte bus meliputi daftar trayek bus yang berhenti di halte, pemberitahuan dari operator bus, next bus arrival time, dan foto serta Google street view lokasi halte berada. Enak banget kan?

Perlu diketahui bahwa MTR di Hong Kong ini memiliki jam operasi yang terbatas. Umumnya maksimal hingga pukul 1 malam. Untuk informasi lebih detailnya bisa dicek jadwal di masing-masing stasiun. Sedangkan bus umum di Hong Kong bisa dibilang beroperasi 24 jam. Namun, mereka menyediakan trayek bus yang berbeda untuk jam operasi overnight, yaitu jam lewat tengah malam (24.00) hingga pukul 5 pagi.

Selain MTR dan bus, masih ada kapal ferry yang digunakan untuk menyeberang antar lokasi di Hong Kong. Yang paling populer adalah Star Ferry yang digunakan untuk menyeberang dari Tsim Sha Tsui (Kowloon Peninsula) ke Central/Wan Chai (Hong Kong Island) PP. Star Ferry memiliki jam operasi mulai jam 6.30 hingga 23.30 dengan frekuensi penyeberangan mulai tiap 6 menit hingga 20 menit (tergantung jam-jam tertentu).

Advertisements

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 6-Tamat): Hari ke-4, The Hong Kong Part

(Masih) Selasa, 14 Januari 2014

Jalan-Jalan di Kowloon Park

Tepat pukul 15.30 kapal ferry Turbo Jet yang kutumpangi merapat di Hong Kong China Ferry Terminal, Kowloon. Tujuan pertamaku adalah Kowloon Park yang berada tak jauh dari pelabuhan. Kedua tempat dihubungkan oleh sebuah jembatan yang melintasi jalan raya di bawahnya.

Kowloon Park ini menempati lahan yang sangat luas. Suasananya sangat asri. Banyak pohon di dalam area taman. Suasana yang asri itu sangat nyaman untuk dipakai jogging, membaca buku, atau sekedar melihat-lihat flora dan fauna yang berhabitat di taman tersebut. Itulah aktivitas-aktivitas yang umumnya orang-orang lakukan di taman sore itu.

Sayangnya aku tidak membawa perlengkapan lari dalam perjalanan backpacking-ku ke Hong Kong ini. Padahal sepertinya menyenangkan sekali jogging di taman ini. Aku pun duduk-duduk saja di bangku taman sambil mengamati tingkah polah burung-burung flamingo yang tengah bermain-main di kolam.

Kowloon Park ini memang sangat luas. Kita bisa-bisa tersasar di dalamnya jika baru datang pertama kali. Namun, tenang saja, di beberapa sudut taman terdapat denah taman yang menampilkan simbol yang menerangkan posisi di mana kita berada.

Sholat Ashar di Masjid Kowloon

Sayang, sore itu aku tak bisa berlama-lama di taman. Sebab, tak lama kemudian waktu Ashar segera masuk. Aku ingin merasakan suasana sholat berjamaah di Masjid Kowloon (Kowloon Mosque), yang berada di salah satu sudut Kowloon Park, dekat dengan stasiun MTR Tsim Sha Tsui. Karena itu aku segera buru-buru menuju masjid.

Masjid Kowloon ini sangat megah. Lokasinya sangat strategis. Berada di pinggir jalan yang terkenal amat sibuk di Hong Kong, Nathan Road.

Suasana masjid sore itu cukup ramai. Banyak orang yang sedang berada di dalam masjid. Dari wajahnya, umumnya etnis Pakistan dan sekitarnya, serta ada beberapa orang Afrika. Ada juga rombongan anak berseragam sekolah yang sepertinya sedang melakukan studi tur ke masjid ini. Menarik juga. Dari wajahnya jelas mereka siswa-siwa lokal situ dan tampaknya mereka pelajar setingkat SMA.

Menyeberang ke Wan Chai, menuju Masjid Ammar

Seusai sholat Ashar berjamaah di Masjid Kowloon, aku berjalan kaki menuju Star Ferry Pier Tsim Sha Tsui. Sengaja aku berjalan santai saat itu karena ingin menikmati sore terakhir di Hong Kong ini. Aku berjalan menyusuri jalan Haiphong dan Canton Road sambil mengamati hiruk pikuk lautan manusia berjalan kaki pulang dari kantor. Yep, sore itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan sepertinya memang jam 5 sore adalah jam pulang kantor para pekerja di Hong Kong ini.

Dari pelabuhan Star Ferry aku naik kapal tujuan Wan Chai. Ongkosnya HKD 3,4. Tujuanku ke Wan Chai ini adalah Masjid Ammar. Sepertinya bisa dibilang agenda hari ini itu berkunjung dari masjid ke masjid, hehe. Setelah berkunjung ke Masjid Makau, Masjid Kowloon, sekarang berkunjung ke Masjid Ammar di kawasan Wan Chai, Hong Kong.

Kalau menurut Google Maps, jarak dari pelabuhan Star Ferry Wan Chai ke Masjid Ammar adalah sekitar 800-1000 meter, tergantung rute yang kita pilih. Karena itu aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya, kenyataan di lapangan tak seindah yang tertera di Google Maps. Di jalan Google Maps ini tak bisa membantuku karena smartphone-ku tak memiliki akses internet. Alhasil, aku sering salah mengambil belokan. Ujung-ujungnya, aku baru tiba 30 menit kemudian di Masjid Ammar. Padahal kalau kata Google Maps, harusnya aku bisa sampai dalam waktu 12 menitan.

Makan malam di Islamic Centre Canteen, Masjid Ammar

Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 2): Hari ke-1, di Hong Kong

Sabtu, 11 Januari 2014

Jam telah menunjukkan lewat pukul 12 malam ketika kami — aku, Neo, dan Doga (teman kantor Neo) — mulai merasakan kantuk menunggu pesawat yang dijadwalkan akan take-off pukul 00.50. Alhamdulillah pesawat Tigerair Mandala nomor penerbangan RI652 yang hendak membawa kami ke Hong Kong tepat berangkat sesuai jadwal. Begitu diumumkan boarding, penumpang mulai berjalan kaki menuju ke dalam pesawat.

Kami duduk di barisan kursi untuk emergency exit, sehingga sandaran kursi pun tak bisa dimiringkan ke belakang. Walaupun demikian, kami tetap bisa tidur lelap sepanjang perjalanan walau akhirnya badan terasa pegal-pegal. Perjalanan Jakarta-Hong Kong ini memakan waktu sekitar 5 jam. Waktu Subuh di Hong Kong adalah pukul 6 kurang 5 menit. Waktu di Hong Kong sendiri lebih cepat 1 jam (GMT+8) daripada di Indonesia Bagian Barat (GMT+7).

Form imigrasi Hong Kong

Form imigrasi Hong Kong

Yaayy! Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di Hong Kong. Kami tiba di Hong Kong International Airport (HKIA) menjelang pukul 7 pagi. Langit masih agak gelap walaupun matahari sebenarnya mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur sana. Udara dingin mulai terasa. Yep, sebagaimana negara-negara bumi belahan utara lainnya, pada bulan Januari ini Hong Kong tengah memasuki musim dingin. Walaupun demikian tak ada salju di sini. Suhu pagi itu adalah sekitar 15 derajat Celsius.

Sebelum menuju imigrasi, semua foreigner diwajibkan untuk mengisi form imigrasi terlebih dahulu. Form ini ada satu copy (pakai karbon) yang harus kita bawa dan kita serahkan saat akan meninggalkan Hong Kong. Sementara yang asli diserahkan saat tiba di Hong Kong ini. Oh ya, satu hal lagi, jangan lupa untuk mengambil brosur tourist information yang terdapat di rak-rak sebelum imigrasi. Gratis! Ada berbagai macam brosur di sana. Umumnya informasi mengenah denah HKIA dan getting around di Hong Kong dengan transportasi umum.

Beli Octopus Card

Kalau boleh mengatakan, memiliki octopus card ini “wajib” hukumnya jika Anda berada di Hong Kong. Naik MTR (Mass Transit Railway), bus kota, kapal ferry, belanja di 7-Eleven, McDonald’s, dsb. hampir semuanya menerima pembayaran dengan Octopus Card ini. Khusus untuk bus, yang jelas sopir bus tidak akan memberikan kembalian jika kita membayar dengan uang lebih. Karena itu, pembayaran di Hong Kong ini menjadi lebih praktis dengan menggunakan octopus card ini.

Sistemnya mirip beli pulsa saja. Pertama kita beli kartunya senilai HKD 150, HKD 100 untuk transaksi dan HKD 50 lagi sebagai deposit. Nantinya kartu ini bisa di-refund jika sudah tidak digunakan lagi, namun dipotong biaya sebesar HKD 9. Cara menggunakannya tinggal tap saja, maka saldo akan berkurang. Kita bisa mengisi ulang saldo kita di konter-konter stasiun MTR atau 7-Eleven senilai HKD 50 atau HKD 100.

Nah, begitu keluar dari pintu imigrasi HKIA, jangan lupa untuk membeli octopus card ini di konter Airport Express di samping McDonald’s. Nggak susah kok mencari konter ini. Begitu keluar dari pintu sudah kelihatan di depan kita konter Airport Express dengan baliho besar.

Octopus Card

Octopus Card

Ke Ngong Ping

Tujuan pertama kami begitu keluar dari bandara adalah objek wisata Ngong Ping. Objek wisata ini terletak di Lantau Island. Dari bandara kami menaiki bus nomor S1 dan berhenti di halte Tung Chung Cable Car Terminus. Perjalanan sekitar 30 menit dan ongkosnya adalah HKD 3,5.

Naik bus kota di Hong Kong ini sangat mudah. Informasinya sudah sangat jelas. Di dalam bus ada tulisan digital yang menginformasikan setiap next stop. Tempat berhenti Tung Chung Cable Car Terminus ini juga gampang dikenali. Lihat saja ada bangunan besar yang menjadi stasiun bagi cable car dan di seberangnya terdapat mall besar bernama Citygate Outlets.

Di Tung Chung ini kami cuma transit saja. Untuk menuju Ngong Ping ada dua pilihan, mau naik bus atau cable car. Tarif cable car  (yang standard cabin) ini adalah HKD 105 one way atau HKD 105 return. Namun, baru beroperasi pukul 9 pagi. Kami sepakat untuk naik bus saja menuju Ngong Ping ini dan baliknya baru naik cable car karena ingin merasakan suasana berbeda antara pergi dan baliknya.

Bus yang menuju Ngong Ping berada di terminal yang berada di samping mall Citygate Outlets tersebut. Bus ini berbeda dengan bus kota Hong Kong pada umumnya. Bus ini hanya beroperasi untuk transportasi di Lantau Island saja. Bus yang kami tumpangi untuk menuju Ngong Ping ini adalah bus New Lantao no. 23. Tarifnya adalah HKD 17,20. Bus ini sendiri memiliki jadwal keberangkatan yang sudah ditentukan (lihat jadwalnya di sini).

Perjalanan Tung Chung-Ngong Ping dengan bus ini memakan waktu kurang lebih 50 menit. Bus melalui jalan yang mendaki dan melewati beberapa kompleks pemukiman penduduk sekitar. Mungkin kalau di Hong Kong daerah sini termasuk kawasan “pedesaan”-nya kali ya. Suasananya begitu asri, berbukit-bukit dan masih banyak pohonnya juga.

Ada apa saja di Ngong Ping ini? Sebenarnya kami juga tidak tahu pasti ada apa saja di sini, hehe… kidding. Di sini kami jalan-jalan saja melihat-lihat dan foto-foto di Ngong Ping Piazza. Lalu jalan menyusuri anak tangga melihat-lihat patung Giant Buddha. Dari atas tempat patung tersebut berada kami bisa melihat pemandangan sekitar Ngong Ping ini. ada bukit-bukit, hutan-hutan, dan pemukiman warga sekitar. Di kejauhan juga tampak jalur cable car dan laut di sisi barat daya Lantau Island ini.

Di Ngong Ping ini kami juga sempat berjalan kaki menuju Wisdom Path. Lumayan juga jalan kaki selama kurang lebih 15-20 menit dengan membawa backpack begini. Apalagi jalannya lumayan naik juga walaupun sangat landai. Wisdom Path ini area di mana terdapat sejumlah batang kayu yang menjulang tinggi dengan tulisan di tiap batangnya. Kurang paham juga sih artinya.

Kalau dipikir-pikir, agak menyesal juga Continue reading