Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 2): Hari ke-1, di Hong Kong

Sabtu, 11 Januari 2014

Jam telah menunjukkan lewat pukul 12 malam ketika kami — aku, Neo, dan Doga (teman kantor Neo) — mulai merasakan kantuk menunggu pesawat yang dijadwalkan akan take-off pukul 00.50. Alhamdulillah pesawat Tigerair Mandala nomor penerbangan RI652 yang hendak membawa kami ke Hong Kong tepat berangkat sesuai jadwal. Begitu diumumkan boarding, penumpang mulai berjalan kaki menuju ke dalam pesawat.

Kami duduk di barisan kursi untuk emergency exit, sehingga sandaran kursi pun tak bisa dimiringkan ke belakang. Walaupun demikian, kami tetap bisa tidur lelap sepanjang perjalanan walau akhirnya badan terasa pegal-pegal. Perjalanan Jakarta-Hong Kong ini memakan waktu sekitar 5 jam. Waktu Subuh di Hong Kong adalah pukul 6 kurang 5 menit. Waktu di Hong Kong sendiri lebih cepat 1 jam (GMT+8) daripada di Indonesia Bagian Barat (GMT+7).

Form imigrasi Hong Kong

Form imigrasi Hong Kong

Yaayy! Akhirnya kami menjejakkan kaki juga di Hong Kong. Kami tiba di Hong Kong International Airport (HKIA) menjelang pukul 7 pagi. Langit masih agak gelap walaupun matahari sebenarnya mulai menampakkan wajahnya di ufuk timur sana. Udara dingin mulai terasa. Yep, sebagaimana negara-negara bumi belahan utara lainnya, pada bulan Januari ini Hong Kong tengah memasuki musim dingin. Walaupun demikian tak ada salju di sini. Suhu pagi itu adalah sekitar 15 derajat Celsius.

Sebelum menuju imigrasi, semua foreigner diwajibkan untuk mengisi form imigrasi terlebih dahulu. Form ini ada satu copy (pakai karbon) yang harus kita bawa dan kita serahkan saat akan meninggalkan Hong Kong. Sementara yang asli diserahkan saat tiba di Hong Kong ini. Oh ya, satu hal lagi, jangan lupa untuk mengambil brosur tourist information yang terdapat di rak-rak sebelum imigrasi. Gratis! Ada berbagai macam brosur di sana. Umumnya informasi mengenah denah HKIA dan getting around di Hong Kong dengan transportasi umum.

Beli Octopus Card

Kalau boleh mengatakan, memiliki octopus card ini “wajib” hukumnya jika Anda berada di Hong Kong. Naik MTR (Mass Transit Railway), bus kota, kapal ferry, belanja di 7-Eleven, McDonald’s, dsb. hampir semuanya menerima pembayaran dengan Octopus Card ini. Khusus untuk bus, yang jelas sopir bus tidak akan memberikan kembalian jika kita membayar dengan uang lebih. Karena itu, pembayaran di Hong Kong ini menjadi lebih praktis dengan menggunakan octopus card ini.

Sistemnya mirip beli pulsa saja. Pertama kita beli kartunya senilai HKD 150, HKD 100 untuk transaksi dan HKD 50 lagi sebagai deposit. Nantinya kartu ini bisa di-refund jika sudah tidak digunakan lagi, namun dipotong biaya sebesar HKD 9. Cara menggunakannya tinggal tap saja, maka saldo akan berkurang. Kita bisa mengisi ulang saldo kita di konter-konter stasiun MTR atau 7-Eleven senilai HKD 50 atau HKD 100.

Nah, begitu keluar dari pintu imigrasi HKIA, jangan lupa untuk membeli octopus card ini di konter Airport Express di samping McDonald’s. Nggak susah kok mencari konter ini. Begitu keluar dari pintu sudah kelihatan di depan kita konter Airport Express dengan baliho besar.

Octopus Card

Octopus Card

Ke Ngong Ping

Tujuan pertama kami begitu keluar dari bandara adalah objek wisata Ngong Ping. Objek wisata ini terletak di Lantau Island. Dari bandara kami menaiki bus nomor S1 dan berhenti di halte Tung Chung Cable Car Terminus. Perjalanan sekitar 30 menit dan ongkosnya adalah HKD 3,5.

Naik bus kota di Hong Kong ini sangat mudah. Informasinya sudah sangat jelas. Di dalam bus ada tulisan digital yang menginformasikan setiap next stop. Tempat berhenti Tung Chung Cable Car Terminus ini juga gampang dikenali. Lihat saja ada bangunan besar yang menjadi stasiun bagi cable car dan di seberangnya terdapat mall besar bernama Citygate Outlets.

Di Tung Chung ini kami cuma transit saja. Untuk menuju Ngong Ping ada dua pilihan, mau naik bus atau cable car. Tarif cable car  (yang standard cabin) ini adalah HKD 105 one way atau HKD 105 return. Namun, baru beroperasi pukul 9 pagi. Kami sepakat untuk naik bus saja menuju Ngong Ping ini dan baliknya baru naik cable car karena ingin merasakan suasana berbeda antara pergi dan baliknya.

Bus yang menuju Ngong Ping berada di terminal yang berada di samping mall Citygate Outlets tersebut. Bus ini berbeda dengan bus kota Hong Kong pada umumnya. Bus ini hanya beroperasi untuk transportasi di Lantau Island saja. Bus yang kami tumpangi untuk menuju Ngong Ping ini adalah bus New Lantao no. 23. Tarifnya adalah HKD 17,20. Bus ini sendiri memiliki jadwal keberangkatan yang sudah ditentukan (lihat jadwalnya di sini).

Perjalanan Tung Chung-Ngong Ping dengan bus ini memakan waktu kurang lebih 50 menit. Bus melalui jalan yang mendaki dan melewati beberapa kompleks pemukiman penduduk sekitar. Mungkin kalau di Hong Kong daerah sini termasuk kawasan “pedesaan”-nya kali ya. Suasananya begitu asri, berbukit-bukit dan masih banyak pohonnya juga.

Ada apa saja di Ngong Ping ini? Sebenarnya kami juga tidak tahu pasti ada apa saja di sini, hehe… kidding. Di sini kami jalan-jalan saja melihat-lihat dan foto-foto di Ngong Ping Piazza. Lalu jalan menyusuri anak tangga melihat-lihat patung Giant Buddha. Dari atas tempat patung tersebut berada kami bisa melihat pemandangan sekitar Ngong Ping ini. ada bukit-bukit, hutan-hutan, dan pemukiman warga sekitar. Di kejauhan juga tampak jalur cable car dan laut di sisi barat daya Lantau Island ini.

Di Ngong Ping ini kami juga sempat berjalan kaki menuju Wisdom Path. Lumayan juga jalan kaki selama kurang lebih 15-20 menit dengan membawa backpack begini. Apalagi jalannya lumayan naik juga walaupun sangat landai. Wisdom Path ini area di mana terdapat sejumlah batang kayu yang menjulang tinggi dengan tulisan di tiap batangnya. Kurang paham juga sih artinya.

Kalau dipikir-pikir, agak menyesal juga sih jalan-jalan bawa backpack yang lumayan berat seperti ini. Ketika jalan, semua jadi serba terburu-buru karena ingin cepat-cepat sampai. Jadi kurang menikmati deh jadinya. Tapi lumayan bisa mengirit ongkos titip tas, hehe.

Sehabis dari Wisdom Path, kami jalan kaki menuju ke Ngong Ping Village. Nah, saat jalan balik ini perasaan waktu tempuhnya jadi terasa lebih cepat 5 menit. Mungkin karena jalannya menurun, jadi jalan kaki jadi lebih ringan.

Ngong Ping Village ini pusatnya tempat beli souvenir di Ngong Ping ini. Selain toko souvenir, ada beberapa cafe dan resto di sini. Kami di sini cuma numpang lewat dan sekedar lihat-lihat saja sih. Tujuan kami adalah terminal cable car Ngong Ping yang berada di ujung Ngong Ping Village ini. Oh ya, cuma info saja sih, di Ngong Ping Village ini ada free wifi lho.

Naik cable car

Dari Ngong Ping kami balik ke Tung Chung dengan menaiki cable car. Saran saya, Anda harus mencoba naik cable car ini setidaknya sekali lah. Ongkosnya memang mahal, tapi worth the money. View dan sensasi yang ditawarkannya sebandinglah. Dari atas cable car ini kita bisa melihat view di Lantau Island ini, termasuk bandara internasional Hong Kong yang berada di pulau buatan.

Perjalanan dengan cable car ini juga lebih cepat dibandingkan jika menaiki bus, yakni hanya 30 menit saja. Alhamdulillah antrian yang hendak naik cable car dari Ngong Ping ini nggak begitu ramai kala itu. Sebaliknya ketika kami tiba di Tung Chung Cable Car Terminus, kami melihat pengunjung yang antri sangat ramai. Ada lah itu mungkin 30 menitan ngantri untuk bisa naik cable car.

Check-in penginapan

Dari Tung Chung Cable Car Terminus, kami berjalan kaki menuju stasiun Tung Chung. Dari sana kami naik MTR menuju stasiun Lai King (orange line) lalu ganti naik MTR green line menuju Tsim Sha Tsui. Yup, sebagaimana yang sudah aku ceritakan di artikel bagian 1, sebelum berangkat ke Hong Kong ini, kami sudah memesan terlebih dahulu penginapan di Australian Guesthouse yang berlokasi di Chungking Mansions via Agoda. Dari stasiun Tsim Sha Tsui kami keluar di Gate E lalu jalan kaki beberapa meter ke Chungking Mansion.

Resepsionis Australian Guesthouse ini berada di lantai 16 blok D. Resepsionis ini ternyata jadi satu dengan beberapa guesthouse yang lain. Kami dapat kamar yang berada di lantai 14.

Nah, ketika check-in ini aku baru tahu kalau ternyata Neo sudah janjian dengan seorang teman AIESEC-nya dahulu yang berasal dari Ghuangzou, China, untuk main ke sini. Namanya Fong Dik. Namun dia juga punya nama latin, yakni Francesc. Bahasa Inggrisnya sangat bagus. Dia pernah menetap di Bandung selama 2 bulan, jadi dia juga mengerti beberapa kosa kata bahasa Indonesia. Hebatnya lagi dia juga sudah paham mengenai ajaran di dalam Islam mengenai definisi halal-haram makanan. Karenanya, ketika kami berada di Hong Kong ini dia dengan senang hati selalu menanyakan kepada penjual makanan di beberapa restoran yang akan kami kunjungi apakah makanan tersebut mengandung pork atau minyak babi.

Setelah itu kami janjian untuk bertemu lagi jam 3 sore untuk jalan-jalan bersama. Sementara itu sambil menunggu jam 3 sore kami mengisinya dengan istirahat tidur siang. Rasa letih karena posisi tidur yang tidak nyaman di pesawat dan membawa-bawa backpack sambil jalan-jalan masih terasa.

Jalan-jalan sore di Avenue of Stars

Segar sekali rasanya habis tidur kemudian mandi sore itu. Setelah itu kami pun ketemuan lagi dengan Francesc yang sudah menunggu di ruang tamu penginapan. Kami jalan-jalan sore menikmati keramaian di kawasan Nathan Road ini. Kami berjalan kaki menuju Avenue of Stars.

Kawasan Avenue of Stars ini ramai sekali sore itu. Kebanyakan sih yang orang-orang lakukan di sini adalah foto-foto. Namun, ada juga beberapa orang yang tampak berolahraga lari di area ini. Wah… pingin banget ngerasain lari di sini. Udaranya sejuk menjurus dingin. Maklum, lagi musim dingin saat itu.

Di Avenue of Stars ini kami pun sama seperti orang-orang itu, yakni berfoto-foto ria dengan mengambil background objek-objek yang ada di sana. Mulai dari Victoria Clock Tower, tanda cap tangan atau kaki artis-artis perfilman Hong Kong, replika obor Oilimpiade Beijing 2008, hingga patung Bruce Lee yang memang sangat tersohor di sana.

Menyeberang naik kapal ferry ke Central

Menjelang maghrib kami beranjak meninggalkan kawasan Avenue of Stars menuju pelabuhan ferry Tsim Sha Tsui (Star Ferry Pier Tsim Sha Tsui). Pelabuhan ini melayani penyeberangan dari Tsim Sha Tsui menuju pelabuhan Central dan pelabuhan Wanchai di Hong Kong Island. Ongkosnya cuma HKD 3,4. Jadwal ferrynya sendiri selalu ada setiap kurang lebih 10-15 menit.

Kami menaiki ferry menuju pelabuhan Central. Perjalanan ditempuh kurang lebih dalam waktu 10 menit. Asyik juga menaiki kapal ferry menyeberangi laut malam-malam sambil menikmati gemerlap lampu gedung-gedung sepanjang Victoria Harbour ini. Di Pelabuhan Central ini kapal ferry dari Tsim Sha Tsui tiba dan berangkat melalui gate no. 7.

Keluar pelabuhan kami berjalan menuju IFC Mall melalui skywalk yang sudah menghubungkan kedua tempat ini. Tujuan ini agak di luar rencana kami sebenarnya. Ketika berjalan keluar dari pelabuhan, terlihat gedung Apple Store yang begitu terang berada di salah satu bagian dari gedung IFC Mall dan tengah ramai dikunjungi orang. Temanku yang merupakan penggemar produk Apple jadi tertarik untuk berkunjung ke sana. Siapa tahu bisa dapat lebih murah daripada di Indonesia. Aku sendiri kurang begitu mengikuti produk Apple sebenarnya. Jadi ketika sampai sana nggak yakin juga apakah harga di sana memang lebih murah atau sama saja dengan harga yang ada di Indonesia.

Ke The Peak

Cuma sebentar saja kami berada di Apple Store, IFC Mall ini. Setelah itu kami balik lagi menuju tempat kami keluar dari pelabuhan Central tadi. Di depan pelabuhan Central ini ada terminal bus kota. Dari sanalah kami menaiki bus nomor 15C. Ongkosnya adalah HKD 4,2. Tujuan akhir bus ini adalah The Peak Tram Lower Terminus alias stasiun tram yang melayani perjalanan menuju The Peak.

Model bus ini adalah bus double decker dengan atap terbuka. Kami pun memilih duduk di bagian atas. Angin dingin semriwing terasa benar di atas bus ini. Tapi asyik bisa menikmati pemandangan sekeliling sepanjanga jalan yang dilalui.

Kami sempat mengernyitkan dahi ketika tiba di stasiun tram ini. Antriannya sungguh panjang. Kami baru teringat kalau malam tersebut adalah malam minggu. Pantas saja banyak pasangan muda-mudi Hong Kong yang mengantri untuk menaiki tram menuju The Peak ini.

Kami membeli tiket single trip include tiket masuk Sky Terrace 428 dengan harga HKD 63. Mahal di tiket Sky Terrace-nya sebenarnya. Sky Terrace ini adalah tempat tertinggi di The Peak untuk menikmati pemandangan Hong Kong di bawah sana. Tiket tramnya sendiri tanpa termasuk Sky Terrace adalah HKD 28 untuk yang single dan HKD 40 untuk yang return.

Kami mengantri selama kurang lebih 30 menit. Perjalanan dengan tram ini sendiri memakan waktu kurang lebih 10-15 menit. Oh ya, ada satu titik di mana kemiringan rel tiba-tiba sangat curam sehingga tanpa sadar kita melihat bangunan sekeliling kita menjadi miring. Serulah, haha.

Oh ya, kalau mau ke Madame Tussauds, cek terlebih dahulu link website yang kuberikan di atas. Cek saja siapa tahu harga dan opening hours-nya berubah. Soalnya ketika aku menulis artikel ini dan kulihat kembali websitenya, harganya ternyata sudah turun dan waktu tutupnya pun kini menjadi pukul 22.00 dari yang sebelumnya adalah pukul 22.45.

Menikmati pemandangan dari SKy Terrace

Tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Kami pun bergegas menuju Sky Terrace. Ramai banget malam itu pengunjung Sky Terrace ini. Kami sempat bertemu juga dengan sekumpulan muda-mudi sesama Indonesia.

Semakin malam semakin terasa dinginnya Hong Kong malam itu. Angin yang berhembus di atas Sky Terrace ini juga cukup kencang. Muka ini rasanya seperti kena semprot hair dryer, bedanya anginnya yang keluar rasanya sangat dingin.

Pemandangannya sangat bagus sih. Gemerlap lampu gedung-gedung bertingkat. Sayang di antara kami nggak ada yang punya kamera macam DSLR. Semuanya cuma memanfaatkan kamera HP saja. Namun, jadinya aku pun nggak terlalu ambil pusing mau potret sana potret sini. Aku cuma berusaha menikmati setiap jengkal pemandangan yang terpampang di depan mata ini.

Pemandangan dari Sky Terrace

Pemandangan dari Sky Terrace

Tur di dalam Madame Tussauds

Setelah puas menikmati pemandangan dari Sky Terrace, kami turun menuju Madame Tussauds yang masih berada di dalam gedung yang sama. Bagi yang belum tahu, Madame Tussauds adalah museum yang menampilkan patung lilin orang-orang ternama di dunia. Skala ukuran patungnya adalah 1×1 alias sesuai dengan ukuran orang aslinya.

Kami sudah memesan tiket masuk Madame Tussauds ini beberapa hari sebelumnya secara online melalui situs berikut http://www.madametussauds.com/HongKong/en/BuyTickets/Default.aspx. Kami sengaja memesan tiket Super Late Saver supaya mendapatkan diskon 50%. Mahal soalnya harga tiket aslinya, yakni HKD 240. Hanya saja syarat untuk pemegang tiket ini adalah baru diperbolehkan masuk mulai pukul 9 malam. Waktu tutupnya sendiri adalah pukul 22.45.

Kami sendiri baru masuk pukul 21.45. Sudah mau ditutup ketika itu pintu masuknya. Kami baru tahu kalau batas masuknya adalah pukul 21.45. Kami menjadi orang terakhir yang masuk ke museum malam itu. Di dalam pun hanya tinggal segelintir orang saja.

Nggak enaknya jadi rombongan terakhir, kita jadi ditungguin oleh mbak-mbak petugasnya. Museum ini dibagi-bagi menjadi beberapa zona. Ada zona artis-artis Hollywood, tokoh-tokoh pemimpin dunia, olahragawan dunia, musisi dunia, artis-artis perfilman Hong Kong, karakter-karakter super hero, dsb. Nah, ketika kita sudah masuk ke zona selanjutnya, sama mbak-mbaknya kita nggak diperbolehkan untuk balik kucing ke zona sebelumnya. Soalnya kalau dibiarkan bakal malam banget beresnya, hehe.

Eh, tapi ada enaknya lho ketika ambil Super Late Saver ini. Walaupun waktu kita terbatas, tapi kita nggak perlu gantian dengan pengunjung yang lain untuk foto-foto dengan tokoh yang kita inginkan. Mau praktekin berbagai macam pose bisa sebebas-bebasnya karena nggak perlu merasa nggak enakan ada yang ngantri setelah kita.

Pulang ke penginapan

Akhirnya selesai juga “tur” kami di museum lilin Madame Tussauds ini. Waktu sudah menunjukkan pukul 22.35 saat kulihat jam di HP-ku. Kami pun keluar menuju terminal bus di seberang The Peak ini. Kami menaiki bus nomor 15 menuju Central. Ongkosnya adalah HKD 9,8.

Suasana terminal bus The Peak

Suasana terminal bus The Peak

Bus ini melalui jalan yang berkelak-kelok menuju Central. Maklum, namanya juga naik bus dari bukit. Perjalanannya cukup lama. Ada lah itu 45 menitan sepertinya. Yang jelas aku sampai tertidur pulas di dalam bus karena saking lelahnya.

Aku dibangunkan oleh temanku ketika bus telah tiba di halte dekat stasiun MTR Central. Kami melanjutkan perjalanan ke Tsim Sha Tsui dengan MTR. Perjalanan MTR dari Central ke Tsim Sha Tsui ini cukup sebentar. Antara 10-15 menit saja sepertinya. Yang aku baru sadari ketika itu, MTR ini ternyata melintasi bawah laut.

Kami berpisah dengan Francesc dalam perjalanan menuju hotel setelah keluar dari stasiun MTR. Dia melanjutkan perjalanan lagi dengan taksi pulang ke rumah temannya. Fiuhh… hari yang melelahkan namun menyenangkan. :D (bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s