Monthly Archives: March 2014

Hasil Undian Babak Grup Piala Thomas & Uber 2014

Baru saja Maghrib tadi telah dilangsungkan pengundian babak penyisihan Piala Thomas & Uber 2014 di New Delhi, India. Ini dia hasil undian tersebut:

Piala Thomas

Thomas Cup Draw

Thomas Cup Draw

Piala Uber

Uber Cup Draw

Uber Cup Draw

Setelah melihat hasil undian di atas, tanpa menganggap remeh tim lain, di atas kertas tim Thomas Indonesia harusnya bisa menjadi juara grup. Lawan terberat mungkin akan datang dari tim Thailand. Sedangkan mengenai tim Uber Indonesia, aku pikir mereka sangat berpeluang lolos mendampingi Korea ke babak perempat final. Namun, Singapura tentunya tak bisa dianggap remeh karena secara teknik mereka memiliki kemampuan mencuri poin dari Indonesia.

Bagaimana dengan penentuan babak knock-out alias babak perempat final hingga final? Jika menilik regulasi Badminton World Federation (BWF) terkait Thomas & Uber Cup 2014 pasal 5.8.3 di sini, juara grup akan diurutkan berdasarkan ranking dunia masing-masing tim sehingga unggulan 1 dan 2 tidak akan bertemu sebelum final. Sementara runner-up masing-masing grup akan diundi untuk menentukan siapa lawan yang akan dihadapi. Oleh karena itu, jika Indonesia dan China bisa menjadi juara di grup masing-masing, mereka hanya akan bisa bertemu di babak final Thomas Cup.

Arak-arakan tim Thomas Indonesia 2002

Taufik Hidayat & Hendrawan saat diarak bersama piala Thomas 2002

Menurut rencana Piala Thomas & Uber 2014 ini akan berlangsung pada tanggal 18-25 Mei di New Delhi. Pada penyelenggaraan Piala Thomas & Uber tahun ini Indonesia masing-masing menempati unggulan ke-1 dan 5/8. Yup, untuk pertama kalinya mungkin sejak terakhir kali juara Piala Thomas 2002, tim Thomas Indonesia berhasil menempati unggulan pertama dalam Piala Thomas. Artinya, sebenarnya Indonesia kali ini secara matematis memiliki peluang yang sangat besar untuk merebut kembali Piala Thomas yang terakhir kali diraih pada tahun 2002 di Guangzhou, China.

Semoga saja Piala Thomas bisa kembali lagi ke Indonesia tahun ini! Untuk Piala Uber, aku tak berharap muluk-muluk. Lolos ke semifinal sudah menjadi prestasi luar biasa bagi Indonesia.

Advertisements
Selamat Datang di Pantai Drini

Main ke Pantai Drini

Masih seputar objek wisata di Jogjakarta. Jadi ceritanya, seusai cave tubing di Goa Pindul, aku dan teman-teman kantor beranjak ke arah selatan Kabupaten Gunungkidul. Tujuan kami adalah pantai-pantai cantik yang berderet-deret di selatan Gunungkidul itu. Yup, sebagai kawasan yang berbatasan langsung dengan laut selatan, Kabupaten Gunungkidul memang mempunyai obyek wisata pantai yang melimpah.

Jarak sekitar 32 km kami tempuh dalam waktu kurang lebih 45 menit dengan mobil. Tiket masuk dihitung Rp10.000 per orang. Tiket tersebut sudah mencakup seluruh pantai di kawasan tersebut, meliputi Pantai Baron, Pantai Kukup, Pantai Drini, Pantai Krakal, Pantai Sundak, Pantai Indrayanti, dst. Jarak antar pantai tersebut memang terbilang dekat bila ditempuh dengan kendaraan. Waktu sehari jelas tak akan cukup untuk menjelajahi dan menikmati seluruh pantai tersebut.

Tujuan pertama kami adalah Pantai Indrayanti. Nama “resmi” Pantai Indrayanti ini sebenarnya adalah Pantai Pulang Syawal. Namun nama Indrayanti jauh lebih populer dan lebih sering disebut daripada Pulang Syawal.

Siang menjelang sore itu Pantai Indrayanti cukup ramai. Padahal hari itu adalah hari Senin dan buka musim liburan. Ternyata ada rombongan bus besar yang sedang berwisata ke sana. Kami pun beranjak pindah ke pantai lainnya.

Secara random bagaimana ceritanya tiba-tiba kami memilih Pantai Drini. Mungkin karena ada baliho yang menampilkan kecantikan Pantai Drini di dekat-dekat situ.

Selamat Datang di Pantai Drini

Selamat Datang di Pantai Drini

Beruntung sekali kami sore itu ternyata Pantai Drini ini tengah sepi. Hanya segelintir orang saja yang berwisata ke sana. Kebanyakan malah penduduk lokal yang sedang memanen rumput-rumput laut yang berada di antara karang-karang di pinggir pantai ini. Sore itu air laut sepertinya memang tengah surut. Karang-karang pantai pun menyembul ke permukaan.

Di sepanjang bibir Pantai Drini ini memang terbentang bebatuan karang datar. Di sana terdapat beberapa biota laut yang menarik untuk dilihat. Namun, bermain-main di karang-karang laut itu kita perlu hati-hati. Jangan sampai kita menginjak bulu babi yang banyak bermukim di sana.

Di Pantai Drini ini juga terdapat dua bukit, masing-masing di sisi kanan dan kirinya. Sayang aku hanya sempat berkunjung ke bukit di sisi kanan (sebelah barat) saja. Sore itu hujan terburu turun. View dari atas bukit ini sangat indah. Harus dicoba! Sayang cuacanya waktu aku ke sana sudah mendung. Langit sudah agak gelap. Di balik bukit karang itu juga terdapat area pantai yang lebih lebar dan sepi. Kami sempat bermain-main di sana.

Sembari menunggu hujan, kami berteduh di salah satu gazebo. Kami membeli kelapa muda di salah satu warung milik warga yang berada di dekat gazebo itu. Alhamdulillah, pas ketika kami selesai minum air kelapa muda, tak lama kemudian hujan pun mulai reda. Setelah itu, kami ambil foto bersama beberapa kali di Pantai Drini ini kemudian kembali ke mobil dan balik ke Kota Yogya.

Foto bersama sebelum pulang

Foto bersama sebelum pulang

Cave Tubing di Goa Pindul

Senin lalu (17/3) aku bersama teman-teman kantor berlibur ke Jogja. Salah satu objek wisata yang kami tuju adalah Goa Pindul. Goa Pindul berlokasi di Desa Bejiharjo, Kabupaten Gunungkidul, DI Yogyakarta. Untuk mendapatkan lokasi yang lebih akurat lagi, bisa menggunakan GPS dengan memasukkan titik koordinat -7.928505,110.647902.

Sehari sebelum ke sana aku mencoba menghubungi salah satu contact number pengelola (atau agen?) wisata Goa Pindul ini sesuai yang tertera di website goapindul.com via SMS. Aku juga sempat menginvitasi BBM-nya. Namun, respon SMS-nya ternyata lebih cepat. Aku bertanya bagaimana mekanisme untuk reservasinya dan dibalas untuk datang saja langsung ke lokasi besoknya tidak perlu melakukan reservasi.

Sepertinya memang lagi low season jadi tidak masalah untuk tidak reservasi. Namun, apabila pengunjungnya sangat ramai, sang contact person bilang bahwa rombongan kami akan mendapatkan prioritas. Yang jelas aku sempat bertukar SMS beberapa kali. Contact number yang tertera di website tersebut cukup responsif menjawab pertanyaanku.

Berangkat ke Goa Pindul

Hari Senin-nya kami berangkat dari hotel kami yang berada di Jalan Pasar Kembang, Yogya, menuju Desa Bejiharjo pukul 9 pagi. Kami mengendarai mobil menuju ke sana. Kami mengambil rute Yogyakarta – Jalan Raya Wonosari – Piyungan – Bukit Patuk – Hutan Bunder – Jalan Raya Wonosari (Patuk-Playen).

Ketika tengah berada di Bukit Patuk tiba-tiba aku ditelepon oleh contact number yang sehari sebelumnya kuhubungi. Beliau menanyakan posisi kami sudah sampai di mana. Beliau mengatakan bahwa perwakilan mereka nanti akan menunggu di SPBU pertama yang berjarak 500 meter dari tulisan “Selamat Datang di Kota Wonosari”. Perwakilan itu yang akan memandu kita untuk jalan menuju Desa Bejiharjo-nya.

Mereka merasa harus jemput bola agar kami tidak kena calo. Di sepanjang Jalan Raya Wonosari menuju Goa Pindul ini banyak sekali tempat yang memasang baliho semacam “Pusat Informasi Goa Pindul”, “Goa Pindul Lewat Sini”, dll. Yang jelas itu bukan resmi dari pengelola Goa Pindul-nya.

Tiba di sekretariat objek wisata Goa Pindul

Kami tiba di sekretariat objek wisata Goa Pindul setelah menempuh perjalanan +- 43 km selama kurang lebih 1,5 jam. Sesampainya di sana kami langsung berganti pakaian untuk basah-basahan. Setelah itu kami berkumpul di sekretariat.

Sekretariat objek wisata Goa Pindul

Sekretariat objek wisata Goa Pindul

Pilihan paket wisata

Pilihan paket wisata

Di sana kami mendapatkan penjelasan oleh perwakilan pengelola mengenai paket-paket wisata apa saja yang ada di sini. Yup, selain Cave Tubing Goa Pindul, masih ada dua paket wisata lain yang disediakan, yakni River Tubing Kali Oyo dan Caving Goa Gelatik. Tiap paketnya memiliki harga yang berbeda. Kami memilih Cave Tubing Goa Pindul karena memang sejak awal ingin menjajal cave tubing di sana. Kami mendapatkan pengarahan mengenai aktivitas cave tubing di Goa Pindul ini.

Setelah selesai pengarahan, kami menuju tempat registrasi. Rombongan kami berjumlah 10 orang plus 1 balita berusia 3 bulan. Sebenarnya ada 1 orang lagi, tapi beliau tidak ikut karena sedang hamil. Sebenarnya wanita hamil aman-aman saja kata mas pemandunya. Sebelumnya ada yang sudah pernah juga. Kami membayar biaya Rp 30 ribu/orang. Balita tidak ikut dihitung. Kalau kita sempat perhatikan, di website tertulis biaya Rp 35 ribu/orang. Itu adalah biaya jika kita mendaftar melalui calo. Dan faktanya Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 6-Tamat): Hari ke-4, The Hong Kong Part

(Masih) Selasa, 14 Januari 2014

Jalan-Jalan di Kowloon Park

Tepat pukul 15.30 kapal ferry Turbo Jet yang kutumpangi merapat di Hong Kong China Ferry Terminal, Kowloon. Tujuan pertamaku adalah Kowloon Park yang berada tak jauh dari pelabuhan. Kedua tempat dihubungkan oleh sebuah jembatan yang melintasi jalan raya di bawahnya.

Kowloon Park ini menempati lahan yang sangat luas. Suasananya sangat asri. Banyak pohon di dalam area taman. Suasana yang asri itu sangat nyaman untuk dipakai jogging, membaca buku, atau sekedar melihat-lihat flora dan fauna yang berhabitat di taman tersebut. Itulah aktivitas-aktivitas yang umumnya orang-orang lakukan di taman sore itu.

Sayangnya aku tidak membawa perlengkapan lari dalam perjalanan backpacking-ku ke Hong Kong ini. Padahal sepertinya menyenangkan sekali jogging di taman ini. Aku pun duduk-duduk saja di bangku taman sambil mengamati tingkah polah burung-burung flamingo yang tengah bermain-main di kolam.

Kowloon Park ini memang sangat luas. Kita bisa-bisa tersasar di dalamnya jika baru datang pertama kali. Namun, tenang saja, di beberapa sudut taman terdapat denah taman yang menampilkan simbol yang menerangkan posisi di mana kita berada.

Sholat Ashar di Masjid Kowloon

Sayang, sore itu aku tak bisa berlama-lama di taman. Sebab, tak lama kemudian waktu Ashar segera masuk. Aku ingin merasakan suasana sholat berjamaah di Masjid Kowloon (Kowloon Mosque), yang berada di salah satu sudut Kowloon Park, dekat dengan stasiun MTR Tsim Sha Tsui. Karena itu aku segera buru-buru menuju masjid.

Masjid Kowloon ini sangat megah. Lokasinya sangat strategis. Berada di pinggir jalan yang terkenal amat sibuk di Hong Kong, Nathan Road.

Suasana masjid sore itu cukup ramai. Banyak orang yang sedang berada di dalam masjid. Dari wajahnya, umumnya etnis Pakistan dan sekitarnya, serta ada beberapa orang Afrika. Ada juga rombongan anak berseragam sekolah yang sepertinya sedang melakukan studi tur ke masjid ini. Menarik juga. Dari wajahnya jelas mereka siswa-siwa lokal situ dan tampaknya mereka pelajar setingkat SMA.

Menyeberang ke Wan Chai, menuju Masjid Ammar

Seusai sholat Ashar berjamaah di Masjid Kowloon, aku berjalan kaki menuju Star Ferry Pier Tsim Sha Tsui. Sengaja aku berjalan santai saat itu karena ingin menikmati sore terakhir di Hong Kong ini. Aku berjalan menyusuri jalan Haiphong dan Canton Road sambil mengamati hiruk pikuk lautan manusia berjalan kaki pulang dari kantor. Yep, sore itu waktu sudah menunjukkan pukul 5 dan sepertinya memang jam 5 sore adalah jam pulang kantor para pekerja di Hong Kong ini.

Dari pelabuhan Star Ferry aku naik kapal tujuan Wan Chai. Ongkosnya HKD 3,4. Tujuanku ke Wan Chai ini adalah Masjid Ammar. Sepertinya bisa dibilang agenda hari ini itu berkunjung dari masjid ke masjid, hehe. Setelah berkunjung ke Masjid Makau, Masjid Kowloon, sekarang berkunjung ke Masjid Ammar di kawasan Wan Chai, Hong Kong.

Kalau menurut Google Maps, jarak dari pelabuhan Star Ferry Wan Chai ke Masjid Ammar adalah sekitar 800-1000 meter, tergantung rute yang kita pilih. Karena itu aku memutuskan untuk jalan kaki saja. Sayangnya, kenyataan di lapangan tak seindah yang tertera di Google Maps. Di jalan Google Maps ini tak bisa membantuku karena smartphone-ku tak memiliki akses internet. Alhasil, aku sering salah mengambil belokan. Ujung-ujungnya, aku baru tiba 30 menit kemudian di Masjid Ammar. Padahal kalau kata Google Maps, harusnya aku bisa sampai dalam waktu 12 menitan.

Makan malam di Islamic Centre Canteen, Masjid Ammar

Continue reading

Backpacking Hong Kong-Shenzhen-Makau (Bag. 5): Hari ke-4, The Macau Part

Karena ceritanya cukup panjang, akhirnya khusus cerita hari ke-4 ini saya bagi ke dalam dua artikel. Artikel pertama menceritakan pengalaman di Makau, dan artikel dua menceritakan pengalaman di Hong Kong, termasuk menjelang kepulangan ke Indonesia. Yang sedang Anda baca ini adalah artikel pertama yang bercerita tentang kegiatan saya di Makau pada hari ke-4.

Selasa, 14 Januari 2014

Waktu subuh di Makau hari itu adalah pukul 6.30. Aku bangun tidur sekitar pukul 6 lewat beberapa menit. Karena masih belum masuk Subuh, aku akhirnya memutuskan untuk mandi pagi sekalian. Dinginnya pagi itu tak menjadi masalah karena SanVa hotel ini memiliki shared bathroom dengan shower air panas.

Setelah mandi, aku melaksanakan sholat shubuh di kamar. Seusai sholat, aku membuka tourist map Makau yang kudapatkan kemarin di pelabuhan ferry. Aku mencoba menyusun agendaku hari itu, menentukan tempat-tempat mana yang akan kudatangi hari itu. Tidak seperti 3 hari sebelumnya, hari ini aku jalan sendirian karena dua orang temanku sudah kembali duluan ke Jakarta. Ada hikmahnya juga jalan sendirian, walaupun agak kesepian, tapi aku bisa lebih bebas menentukan agendaku sendiri.

Pagi hari aku berencana untuk pergi ke objek yang dekat-dekat terlebih dahulu, yang bisa dijangkau hanya dengan jalan kaki. Baru setelah itu aku berencana untuk pergi ke tempat yang jauh. Sebenarnya aku tertarik untuk berkunjung ke Macau Giant Panda Pavillion. Seumur-umur aku rasanya belum pernah melihat panda secara langsung (eh, atau sudah pernah ya di kebun binatang Surabaya waktu kecil dulu, memang ada gitu?). Sayangnya karena jaraknya jauh, yakni berada di Coloane, sisi selatan Taipa, aku mengurungkan niat ke sana karena menginginkan efektifitas waktu. Aku perkirakan kalau lihat jaraknya di peta, perjalanan ke sana bakal memerlukan waktu setidaknya 1 jam, itupun jika aku bisa langsung dapat bus saat tiba di halte. Belum lagi aku nggak memiliki uang receh tersisa untuk naik bus, hihi. Rugi kalau harus mengeluarkan pecahan uang kertas HKD 10 yang kupunyai (haha, dasar traveler kere!)

Akhirnya, aku meniatkan diri untuk mengalir saja. Nggak ada target ke mana-mana. Yang jelas pagi itu aku berencana untuk sightseeing objek-objek di dekat hotel saja terlebih dahulu. Baru setelah itu menentukan agenda berikutnya.

Jalan-jalan pagi ke Large De Senado, Fortaleza do Monte, dan Ruinas de S. Paulo

Berbekal tourist map yang kupunya, aku memulai perjalanan ini dengan menuju ke Large de Senado. Oh ya, jangan bingung ya dengan nama-nama ke-Portugis-an yang kutulis di atas. Maklum, Makau ini dahulu adalah jajahan Portugis. Dan mereka masih melestarikan identitas mereka sebagai bekas jajahan Portugis itu dengan selalu mencantumkan nama-nama tempat di kawasan mereka dalam bahasa Portugis selain tentunya bahasa Cantonese (eh, atau Chinese ya) sebagai bahasa sehari-hari dan bahasa Inggris sebaga bahasa Internasional.

Jarak dari penginapan ke Largo de Senado a.k.a. Senado Square ini kurang lebih sekitar 200 meteran saja. Largo de Senado ini adalah kawasan alun-alunnya Makau. Paving stone-nya memiliki kekhasan tersendiri, yakni memiliki pola warna hitam seperti ombak.

Largo de Senado ini merupakan objek yang termasuk dalam world heritage. Di seberangnya terdapat gedung Leal Senado yang juga termasuk dalam world heritage. Leal Senado ini adalah gedung dewan pemerintahan di Makau.

Tampaknya malam sebelumnya di Largo de Senado ini sedang ada suatu event. Sepertinya event rakyat dalam rangka perayaan menyambut Tahun Baru China yang memasuki tahun kuda. Ada replika kuda soalnya di situ.

Yang aku suka di Makau ini, mereka menyediakan peta dan petunjuk jalan ke tempat-tempat heritage-nya. Di Large de Senado ini terdapat papan informasi berbentuk kotak yang berisi gambar peta lokasi dan daftar objek-objek heritage di sekitar situ.

Aku pun jalan kaki menuju Fortaleza do Monte dengan bantuan peta itu dan papan-papan petunjuk arah di beberapa sudut jalan. Jalan yang kulalui ternyata melewati sekolah dan pemukiman penduduk di sana. Aku sempat melihat aktivitas penduduk sekitar. Ada yang berangkat kerja, ada beberapa orang tua yang mengantarkan anak-anaknya ke sekolah, ada yang dagang sayuran, dll.

Fortaleza Do Monte a.k.a. Mount Fortress ini adalah sebuah benteng yang berada di atas sebuah bukit. Benteng ini tentu saat ini sudah tak berfungsi kembali. Namun beberapa meriam bekas masih terpasang dengan baik di dinding-dinding benteng ini. Di dalam benteng ini terdapat Museu De Macau alias Macau Museum. Tentu saja museum ini adalah bangunan baru, bukan bagian dari sejarah benteng ini. Sayang museum itu baru buka pukul 10 pagi atau masih dua jam lagi dari waktu ku berkunjung ke sana.

Pagi itu di pelataran benteng ini tengah diadakan senam pagi. Lebih tepatnya senam tai chi sih. Kebanyakan pesertanya adalah ibu-ibu separuh baya. Mereka melakukan senam tai chi sambil diiringi musik khas mereka.

Ah… suasana pagi itu memang sangat menyenangkan. Selain ibu-ibu yang senam tai chi ini, juga banyak warga lokal yang berolahraga pagi di pelataran dan area di sekitar benteng ini. Ada yang berlatih kung fu sendiri, tapi umumnya melakukan jogging di sekitaran benteng ini. Udara yang dingin ternyata tak menghalangi warga untuk beraktivitas, khususnya berolahraga. Aplikasi smartphone-ku mencatat suhu saat itu sempat mencapai 11-12 derajat celcius.

Oh ya, dari atas benteng ini ternyata kita bisa melihat dengan jelas pemandangan sekitar Makau Peninsula ini. Macau Tower dan Hotel Grand Lisboa juga terlihat dari sini, walaupun Continue reading