Author Archives: otidh

Unknown's avatar

About otidh

Muslim | Informatician | Blogger | Interisti | Kera Ngalam | Railfan | Badminton-Football-Running-Cycling-Hiking-Traveling-Book Enthusiast

Nexus 4 Red Light of Death

Nexus 4 Red Light of Death

Nexus 4 Red Light of Death

Nexus 4-ku sedang ku-charge melalui USB ketika secara tiba-tiba ia mati mendadak tanpa pesan peringatan apapun. Tak ada tulisan “shutting down…” sebagaimana normalnya ketika ponsel sengaja dimatikan ataupun mati secara otomatis karena baterai lemah. Kondisi baterai saat itu tengah berada di level 70-an persen ketika sedang diisi.

Setelah mati, LED di bagian bawah memancarkan sinar berwarna merah. Fenomena yang agak janggal pikirku mengingat ini kali pertama aku melihatnya. Biasanya ketika HP di-charge dalam keadaan mati, layar akan menampilkan ikon baterai yang sedang diisi tanpa nyala lampu LED. Namun, yang kutemui saat itu, ikon baterai tidak muncul dan LED berwarna merah. Tombol power kutekan tak memberikan reaksi apapun. Begitu pula ketika tombol power dan volume down kutekan — yang seharusnya akan membuat HP masuk ke mode bootloader — ternyata juga tidak memberikan reaksi apapun.

Ada yang tidak beres nih. Khawatir juga sih kalau sampai ada kerusakan di mesinnya. Masih trauma dengan ponsel LG KP220-ku sebelumnya yang mengalami rusak mesin sehingga tidak bisa di-charge. Biaya perbaikannya hampir menyamai harga beli ponsel second itu sendiri ketika itu. Karena itu, sampai sekarang ponsel ini masih belum kuperbaiki.

Lalu aku pun mencoba googling-googling dengan kata kunci “Red LED Nexus 4”. Banyak artikel — kebanyakan dari forum XDA Developer — bertebaran mengeluhkan hal yang sama. Nah, setelah membaca artikel-artikel tersebut ada beberapa solusi yang diusulkan beberapa pengguna berdasarkan pengalaman pengguna Nexus 4 dalam menghadapi masalah tersebut, yang kurangkum sebagai berikut:

  1. Charge seperti biasa menggunakan wall charger (charger biasa, bukan wireless charger atau USB charger) selama 1 jam atau lebih. Kemudian coba tekan tombol power. Setelah itu seharusnya ponsel akan menyala. Jika tidak, tunggu beberapa saat dan coba nyalakan lagi. [source: XDA Developer, Android Central, Android StackExchange]
  2. Masuk ke bootloader dan flash ke stock ROM. [source: XDA Developer]
  3. Buka casing ponsel, copot baterai, dan charge secara manual. Metode ini cukup berisiko karena jelas akan merusak garansi. Selain itu, diperlukan tools yang lengkap untuk ‘membedah’ ponsel. [source: XDA Developer]

Sebenarnya masih ada trik-trik yang lain. Tapi kurang lebih hampir sama dengan ketiga trik di atas, cuma dengan percobaan variasi teknik yang lain.

Aku sudah mencoba tips nomor 1 dan 2. Namun tak ada perkembangan sama sekali. Bahkan, aku sudah charge selama semalaman, tetap saja tak memberikan efek apa-apa. Untuk trik no. 3 tidak aku lakukan. Selain karena aku tak memiliki peralatan-peralatan yang diperlukan, aku tak ingin merusak garansi yang masih berlaku. Oleh karena alasan itu pulalah, kemudian aku memutuskan untuk membawanya ke LG service center di BEC (Bandung Electronic Center), Bandung.

Setelah diperiksa teknisinya, katanya ada kerusakan di mesin. Cuma aku tak menanyakan lebih detail mengenai apa penyebabnya dan perbaikannya bagaimana. Yang pasti, aku harus menunggu kurang lebih sekitar 30-45 menit Nexus 4 ini diperbaiki. Data-data yang tersimpan sebelumnya ikut terhapus. Nggak masalahlah, yang penting ponsel segera bisa digunakan lagi walaupun aku harus menginstal aplikasi-aplikasi dari awal.

Di tautan XDA Developer yang kuberikan di atas sebenarnya juga ada pengguna yang memberikan teori-teori mengenai penyebab red light of death ini. Tapi belum ada jawaban yang memuaskan, dalam artian mungkin teori itu benar, tapi untuk kasus yang kualami mungkin penyebabnya berbeda karena teori mereka berbeda dengan fakta-fakta yang kutemukan untuk kasusku. Yang jelas, begitu ponselku bisa menyala lagi, persentase baterai masih berada di kisaran 70-an persen, persis dengan kondisi sebelum ponsel mati.

Hmm… adakah pengguna Nexus 4 di sini yang mengalami kasus serupa?

Naik Kereta Surabaya-Bandung Lewat Pantura

Perjalanan arus balik ke Bandung kemarin menjadi pengalaman pertamaku menaiki kereta api melalui jalur pantai utara (pantura) dari Surabaya. Terhitung sejak 1 Maret 2013, KA Harina yang aslinya hanya melayani trayek Bandung-Semarang (stasiun Semarang Tawang), diperpanjang rutenya hingga Surabaya (stasiun Surabaya Pasar Turi). Mungkin ini adalah kali pertama ada kereta Surabaya-Bandung yang melintasi jalur utara.

Menurut jadwal, KA Harina berangkat dari stasiun Surabaya Pasar Turi pukul 16.00. Untuk mengantisipasi seandainya jalanan macet, aku pun berangkat sekitar 5 jam lebih awal dari Malang. Sekitar pukul 10.15 aku menaiki bus patas HAZ dari terminal Arjosari Malang menuju Surabaya. Perjalanan Malang-Surabaya ternyata sangat lancar. Pukul 12 siang lebih sedikit bus sudah tiba di terminal Bungurasih.

Setiap singgah di terminal Bungurasih ini aku hampir selalu menyempatkan untuk mampir ke warung dan menyantap nasi rawon. Nggak ada warung khusus sih. Dan nggak cuma di terminal Bungurasih ini. Pokoknya kalau pas lagi mampir di terminal atau stasiun di Jawa Timur, selalu aku sempatin mampir makan rawon di warung. Maklum, makanan favoritku ini, haha, dan kalau di Bandung susah sekali menemukan warung yang menyediakan rawon.

Setelah makan, aku langsung menuju ke terminal bus dalam kota. Untuk mencapai stasiun Surabaya Pasar Turi dari terminal Bungurasih ini kita bisa menumpang bus kota nomor 32, melewati Jayabaya dan Kupang, kemudian baru stasiun Pasar Turi. Ongkosnya 5000 rupiah. Jalanan Surabaya siang itu cukup lancar. Hanya sempat agak merambat di jalan Ahmad Yani, tapi masih dalam batas wajar. Perjalanan terminal Bungurasih-stasiun Pasar Turi pun ditempuh dalam waktu setengah jam, dan masih harus menunggu sekitar 2,5 jam sebelum waktu keberangkatan KA Harina.

KA Harina

KA Harina

Btw, ini pertama kalinya pula aku berkunjung ke stasiun Pasar Turi. Ternyata bangunan stasiunnya masih kalah besar dengan stasiun Gubeng. Tapi di stasiun Pasar Turi ini terdapat dipo lokomotif dan trek-trek untuk parkir beberapa rangkaian kereta. Uniknya, di ujung utara stasiun terdapat gedung semacam mall(?) yang di bawah gedung itu melintas rel-rel dari stasiun Pasar Turi. Mirip seperti stasiun Surabaya Kota (Semut). Kalau nggak salah, dari sekian rel di bawah gedung itu, hanya ada satu atau dua rel yang menembus gedung menuju Dipo Sidotopo.

Dibandingkan jalur selatan, jalur utara ini ternyata tidak terlalu ramai lalu lintas kereta apinya. Setidaknya sepanjang rute Surabaya-Semarang. Hanya sekali berpapasan, yakni dengan KA Argo Bromo Anggrek di stasiun Bojonegoro kalau tidak salah. Setelah Semarang, ya mulai terasa ramainya.

Secara keseluruhan waktu tempuh KA Harina ini mengacu pada GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api), lebih lama setengah jam dibandingkan KA Mutiara Selatan yang melalui lintas selatan. Yang unik dari KA Harina ini, sesampainya di stasiun Cikampek, lokomotif akan berpindah ke ‘belakang’ rangkaian, dan akan menarik ‘mundur’ kereta ke Bandung via Purwakarta. Selama 2 jam perjalanan Cikampek-Bandung, penumpang akan duduk dengan menghadap ke belakang kereta. 🙂

 

Akhirnya… Juara Dunia Lagi!

Wow… what a beautiful day for Indonesia Badminton! Bertempat di TianHe Indoor Stadium, Guangzhou, China, kemarin Indonesia akhirnya berhasil menggondol gelar juara dunia kembali, mengakhiri puasa gelar yang bertahan sejak tahun 2007. Tak tanggung-tanggung, 2 gelar sekaligus diperoleh melalui nomor ganda putra (Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan) dan ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir). Prestasi ini mengulang prestasi pada tahun 2007, juga melalui wakil yang hampir sama, dengan partner yang berbeda (Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir).

Prestasi Indonesia di World Championship 2013 ini seolah memupus rasa dahaga masyarakat Indonesia akan keringnya prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Apalagi tahun lalu Indonesia terpaksa memutus tradisi emas di Olimpiade 2012 yang sudah bertahan sejak Olimpiade 1992.

Sayangnya pertandingan final kemarin tak ada satu stasiun TV (non-berbayar) yang menayangkannya. Terpaksa deh menonton melalui streaming YouTube, walau sering patah-patah streaming-nya. Tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.

Next target, mudah-mudahan tahun depan giliran Thomas atau Uber Cup yang bisa dibawa pulang. 😀

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

Berburu Tiket Sisa Arus Balik

Alhamdulillah akhirnya dapat juga tiket untuk arus balik ke Bandung :). Seperti tahun-tahun sebelumnya, aku memang suka membeli tiket balik mepet menjelang atau sesudah lebaran. Agak spekulatif memang. Risiko untuk kehabisan tiket kereta selalu ada.

Habisnya mau bagaimana lagi, schedule lebaranku (berasa orang sibuk aje… :D) tiap tahunnya sering berbeda. Maksudnya, kepastian apakah aku balik ke Bandung dari Malang kah, atau Solo kah, atau Jogja kah, tergantung dari jadwal acara keluarga saat mudik.

Nah, sampai pagi tadi tak ada tiket tersisa untuk kereta jurusan ke Bandung, baik dari Malang, Surabaya, atau bahkan Solo/Jogja. Sesekali setiap beberapa menit mengecek ketersediaan tiket melalui situs http://tiket.kereta-api.co.id ataupun aplikasi Android ‘Tiket Kereta Api’.

Mau naik pesawat, sayang di ongkos karena tarif pesawat Surabaya-Bandung minimal sudah mencapai 700 ribuan. Itu belum termasuk ongkos transport dari Malang ke bandara Juandanya. Akhirnya cuma bisa berharap ada orang-orang yang membatalkan tiket keretanya.

Sisa kursi KA Harina

Sisa kursi KA Harina

Alhamdulillah menjelang siang, ngecek lagi situs Tiket KA, ternyata ada 2 kursi yang tersedia untuk KA Harina. Ndak apa-apalah naik yang ini saja walaupun terpaksa harus ke Surabaya dulu. Daripada nanti kehabisan lagi karena menunggu kursi kosong KA Malabar yang nggak datang-datang :D.

Cukup diuntungkanlah dengan sistem tiket online yang sekarang. Masih teringat beberapa tahun yang lalu harus ngecek langsung ke stasiun untuk melihat ketersediaan tiket. Dan enaknya sekarang bayarnya juga bisa secara online, jadi bagi mereka yang ingin membeli tiket, bisa melakukan transaksi pembelian tiket dari mana saja, tak perlu ke stasiun.

Bagi Anda yang masih belum mendapatkan tiket, pantau saja terus situs tiket KA itu. Refresh setiap beberapa menit. Begitu ada tiket tersedia harus langsung gerak cepat agar tidak keduluan oleh para pemburu tiket lainnya. Berdasarkan pengalaman-pengalaman sebelumnya, pembatalan tiket ini biasanya masih berpeluang terjadi hingga sejam menjelang keberangkatan.

Vandalisme Terhadap Kereta Api

Aku tengah asyik membaca buku ketika tiba-tiba seorang yang berada di seberang kanan bangkuku berteriak, “Awasss…!,” sambil memandang ke arah jendela samping kiriku.

Aku terkejut dengan teriakan Ibu itu dan secara spontan langsung menunduk dan menutupi mukaku dengan tangan. Tanpa menoleh pun aku tahu teriakan Ibu dimaksudkan mengenai adanya batu yang terbang ke arah jendela di samping kiriku itu. Sebab, sebelum itu ada setidaknya 3-5 kali terdengar hantaman batu pada badan kereta.

“Jeduarr…!” Suara hantaman batu pada kaca terdengar sangat cepat namun keras. Kali ini lemparan itu menyasar ke jendela tepat di sampingku. Kaca jendela pun pecah. Ya, pecah! Bukan sekedar menimbulkan garis-garis retakan pada kaca.

Jendela kaca pun nyaris bolong dibuatnya. Aku yakin hanya dengan sekali dorongan tangan, retakan yang sudah sangat rapuh itu akan membuat bolong kaca itu.

Sementara itu, serpihan-serpihan pecahan kaca nan kecil dan lembut terbang hingga ke lantai bawah Ibu yang berada di seberang kanan bangkuku. Tanpa sadar jempol kaki Ibu tersebut terluka kena serpihan tersebut. Sementara aku, alhamdulillah serpihan pecahan kaca itu tak sampai melukai. Namun, lantai kereta di bawahku telah dipenuhi serpihan-serpihan kaca itu. Celanaku pun tak luput jadi tempat mendarat beberapa serpihan tersebut.

Petugas kebersihan kereta secara sigap datang dan menyapu serpihan-serpihan kaca yang berceceran. Petugas keamanan kereta juga secara sigap datang dan mencatat kejadian tersebut ke dalam buku laporan yang dia pegang. Tak hanya itu, dia juga memplester retakan-retakan kaca tersebut dengan lakban. Bagian kaca yang nyaris lobang juga diplesternya dengan kardus.

Kaca jendela yang terkena lemparan batu

Kaca jendela yang terkena lemparan batu

Kejadian ini terjadi dalam perjalanan KA Malabar Bandung-Malang 3 Agustus kemarin. Kejadiannya di tengah area persawahan, petak antara Stasiun Cibatu dan Stasiun Bumiwaluya, sekitar pukul 17.15. Cerita tadi mungkin terkesan terlalu didramatisir, tapi aku ceritakan apa adanya.

Jujur, aku nggak habis pikir apa sih yang ada di pikiran orang-orang yang suka lempar batu ke kereta api itu. Oke, lebih tepatnya mungkin bukan ‘orang-orang’ tapi ‘anak-anak’. Selama ini aku tahunya yang suka iseng(?) lempar batu itu anak-anak. Mungkin mereka tidak cukup mengerti bahayanya tindakan mereka itu.

Ini pengalaman pertamaku kena lempar batu persis di jendela samping bangku tempat dudukku. Sebelum ini, beberapa kali naik kereta dan mendapati anak-anak yang melempar batu ke kereta. Di Purwakarta pernah, di petak Krian-Mojokerto pernah, dan paling sering di jalur sepanjang Garut ini, termasuk yang kemarin.

Pernah juga ada yang lempar lumpur dari sawah hingga masuk ke dalam kereta. Salah seorang ibu-ibu pakaiannya pun kotor terkena cipratan lumpur. Ketika itu kereta kelas bisnis belum dipasang AC sehingga celah di atas jendela masih bisa dibuka. Kejadiannya di sekitar Krian kalau nggak salah.

Pernah juga ada batu melayang hingga masuk ke dalam kereta. Untung tak sampai mengenai penumpang di dalamnya.

Solusi apa ya yang tepat untuk masalah seperti ini… . Idealnya sih memang jalur sepanjang rel itu steril dari pemukiman atau aktivitas warga dalam radius tertentu. Pengalaman naik kereta di Malaysia sih seperti itu. Sepanjang jalur kereta dikasih pagar. Tapi sepertinya susah diterapkan di Indonesia.

Mau tidak mau berarti harus ada tindakan hukum yang konkret sih terhadap pelaku-pelaku vandalisme seperti itu. Kalau pelakunya masih anak-anak, ya dikasih pembinaan. Peran orang tua, terutama warga di sekitar rel, sangat dibutuhkan untuk mendidik anaknya, agar tidak melakukan hal yang merusak dan membahayakan orang lain tersebut.

[Video] Insiden Perkelahian di Badminton Canada Open 2013

Rasa-rasanya sejauh yang kutahu belum ada sejarahnya kejadian perkelahian antar pemain di suatu permainan badminton. Sejauh ini kejadian kontroversial di lapangan yang kuketahui adalah partai final beregu putra ASIAN GAMES 2002 ketika Taufik Hidayat bertemu wakil tuan rumah Korea Selatan, Shon Seung-Mo. Dalam pertandingan itu Taufik melakukan walk-out dan meluapkan kekesalannya setelah merasa dicurangi oleh linesman pertandingan tersebut. Kasus serupa juga terjadi pada tahun 2008 ketika Lin Dan bertemu pemain Korea, Lee Hyun Il. Lin Dan bahkan nyaris mengajak duel pelatih Korea sebelum akhirnya dicegah.

Dua kejadian tadi mungkin masih tergolong dalam kategori ‘under control’ lah ya. Namun, insiden perkelahian antara dua pemain ganda putra sesama Thailand di Canada Open dua hari yang lalu ini benar-benar mengejutkan. Bahkan di Kanada yang konon berita olahraganya hanya seputar hoki es, baseball, atau basket, akhirnya menayangkan berita tentang badminton. Sayang, sekalinya masuk berita, eh justru bad news-nya yang kena publikasi.

Ini dia beberapa video rekaman insiden tersebut yang dirilis oleh Global News Canada dan diunggah oleh salah satu pengguna di YouTube:

Artikel berita terkait video tersebut, masih dari Global News, ada di link ini » http://globalnews.ca/news/732881/fight-between-two-badminton-players-caught-on-tape-at-richmond-oval/. Kalau lihat rekamannya, kelihatan seru sekali #eh mengerikan. Persis scene di film-film laga. Ada adu mulutnya, ada kejar-kejarannya, ada pukul raketnya, ada lempar kursinya, ada hantamannya, ada tendangannya. Si Bodin sendiri telinganya sampai berdarah di insiden ini. Jadi ingat insiden telinga Evander Holyfields yang digigit oleh Mike Tyson hingga cuil dan berdarah.

Sebagai penggemar badminton, aku sendiri sudah tak asing dengan nama Maneepong Jongjit dan Bodin Issara ini. Keduanya dulu adalah pasangan bermain ganda putra nomor satu Thailand. Prestasinya cukup menonjol. Satu gelar Superseries dan perempatfinalis olimpiade 2012 London. Sayang, tanpa alasan yang cukup jelas, di awal tahun 2013 keduanya berpisah. Sempat tersiar kabar kalau Bodin Issara mengundurkan diri dari tim nasional dan akan pensiun dari badminton karena harus merawat Ibunya.

Namun, dengan insiden ini setidaknya penyebab keluarnya Bodin Issara menjadi semakin jelas. Di balik insiden ini sudah ada konflik pribadi yang terjadi sebelumnya, sampai akhirnya mereka bertemu kembali sebagai ‘lawan’ di pertandingan resmi di final ganda putra Canada Open 2013 ini.

Intinya adalah konflik bermula karena Bodin kecewa dengan Maneepong yang ‘mengkhianati’ rencana mereka untuk keluar dari tim nasional dan beralih menjadi pemain independen setelah olimpiade. Dan seperti yang kita ketahui sekarang, Bodin akhirnya menjadi pemain independen dan Maneepong masih tetap bertahan di tim nasional. Mereka menjalani karir mereka dengan pasangan baru masing-masing. Nah menjelang pertandingan final Canada Open tersebut, entah siapa yang memulai, perseteruan mereka tak terelakkan dengan terjadinya adu mulut. Lalu kejadian yang tak terduga ketika pergantian game tiba-tiba Bodin lepas kontrol dan ingin menghajar Maneepong.

Lebih detailnya bisa baca postingan salah satu member di Badminton Central yang berbaik hati sudi menerjemahkan wawancara salah satu stasiun TV dengan Bodin Issara menggunakan bahasa Thailand. Ini dia linknya » http://www.badmintoncentral.com/forums/showthread.php/129868-2013-Yonex-CANADA-Open-GP-Qualification-FINAL-(16th-21st-July-2013)?p=2115718#post2115718.

Haha, panjang amat ya tulisan ini. Padahal niatnya tadi cuma mau share video. Sudah kayak artikel berita aja. Saking nggak percayanya mungkin, kok bisa ada kejadian seperti ini di badminton. 😀

Pendakian Gunung Gede 2.0 (Hari 2)

Subuh itu (7/7) udara dingin terasa amat menusuk sampai ke tulang. Kami semua masih berbaring di dalam tenda berjejer-jejer seperti ikan-ikan yang sedang dijemur. Bayangkan 1 tenda kapasitas 6 orang benar-benar diisi maksimum oleh 6 orang beserta ransel-ranselnya. Jadinya mau mau selonjor atau membaringkan badan ke samping pun agak susah, haha.

Begitu terbangun, aku langsung mencoba sholat Subuh di dalam tenda. Air wudlu terasa sungguh dingin sekali. Saat itu kami terpaksa menggagalkan rencana untuk melakukan summit attack pada dini hari. Teman-teman sepertinya masih kelelahan. Selain itu, keinginan kami, khususnya aku, untuk melihat sunrise juga tidak terlalu menggebu karena sudah pernah pada pendakian sebelumnya. Justru yang belum pernah adalah menikmati pagi yang cerah di hamparan padang Edelweiss Surya Kencana :).

Hamparan Edelweiss

Hamparan Edelweiss di pagi yang cerah

Kami mulai mempersiapkan keperluan untuk sarapan pagi. Kala itu, sang surya telah bersinar dengan terangnya. Walaupun demikian, hangatnya sinar mentari itu tak cukup untuk meredakan dinginnya angin yang berhembus di Surya Kencana pagi itu. Karena itu kami semua masih mengenakan jaket ataupun atribut penghangat lainnya.

Beruntung pagi itu kami mendapatkan pinjaman kompor dari tenda sebelah. Kesempatan itu tidak kami sia-siakan. Kuncoro langsung menggunakan kompor tersebut untuk menanak nasi. Cukup lama kami menunggu nasi tersebut hingga matang. Ada mungkin sekitar 45-60 menit kami menunggu. Sambil menunggu itu kami menghabiskan waktu untuk berfoto-foto serta memulai packing barang-barang yang bisa dimasukkan ke dalam ransel saat itu.

Memasak nasi

Memasak nasi

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Foto-foto sambil menunggu nasi matang

Aktivitas tersebut ternyata benar-benar efektif untuk menunggu nasi hingga matang, hihi. Sayangnya ternyata kompornya sudah buru-buru hendak diminta balik oleh si empunya. Kami pun tak sempat merebus telor atau memasak mie instan sebagai pelengkap karena jelas tak akan terburu. Kami hanya sempat memanaskan sarden untuk lauk sarapan pagi itu. Tapi untungnya nasi yang kita masak pagi itu merupakan nasi liwet atau nasi gurih yang sudah ‘berasa’ karena bumbu-bumbu di dalamnya. Continue reading