Monthly Archives: November 2017

River of Life

River of Life

Dua minggu lalu ketika tengah berada di Kuala Lumpur, saya menyempatkan diri untuk pergi ke Masjid Jamek. Dari tempat saya menginap saya naik LRT menuju Stasiun Pasar Seni. Dari sana kemudian saya berjalan kaki menyusuri tepi Sungai Klang menuju Masjid Jamek.

Alangkah terkejutnya saya dengan penampilan baru kawasan tersebut. Di Pasar Seni ini telah dibangun jalur pedestrian yang memanjang sampai seberang Masjid Jamek. Jalur pedestrian tersebut tampak elegan dengan pilihan jenis dan warna kayu yang menyusunnya.

Jalur pedestrian yang terbuat dari kayu, memanjang dari Pasar Seni hingga Masjid Jamek

Jalur pedestrian yang terbuat dari kayu, memanjang dari Pasar Seni hingga Masjid Jamek

Di bagian tengahnya, tepatnya di bagian yang berbatasan dengan jalan raya, juga dibangun sebuah plaza atau ruang publik terbuka. Banyak orang yang mengambil foto Masjid Jamek dari sana. Belakangan saya baru tahu tempat tersebut rupanya dinamai Masjid Jamek Lookout Point.

Masjid Jamek tampak dari Lookout Point

Masjid Jamek tampak dari Lookout Point

Di sekeliling Masjid Jamek, tempat pertemuan Sungai Klang dan Sungai Gombak itu, terdapat air mancur yang memancar dari berbagai penjuru. Saat malam dari kedua tepi sungai itu akan tampak bercahaya warna biru seperti tampak dalam video YouTube ini.

Air mancur di sekeliling Masjid Jamek

Air mancur di sekeliling Masjid Jamek

River of Life. Itulah nama projek yang dikerjakan oleh Pemerintah Malaysia untuk merevitalisasi dan mempercantik kawasan di sekitar pertemuan Sungai Klang dengan Sungai Gombak.

Kawasan tersebut kini menjadi salah satu favorit turis untuk dikunjungi dan tentu saja juga menjadi tempat yang instagrammable kalau kata netizen. Di sepanjang jalur pedestrian itu juga dipasang bangku-bangku kayu yang akan membuat pengunjung nyaman duduk sambil menikmati suasana kawasan sungai.

 

Advertisements

Piala Dunia Tanpa Italia (dan Buffon)

Mimpi buruk itu akhirnya kejadian juga. Sejak mengetahui hasil undian kualifikasi zona Eropa di mana Italia berada satu grup dengan Spanyol usai Euro 2016 lalu, saya langsung pesimis Italia bakal lolos langsung ke Piala Dunia 2018 dengan menjadi juara grup. Apalagi ketika mengetahui Gian Piero Ventura ditunjuk menggantikan Antonio Conte sebagai pelatih Timnas Italia.

Saya cukup meragukan kapabilitas beliau di level tertinggi karena memang belum memiliki pengalaman menangani tim-tim besar. Terbukti dengan monotonnya formasi dan taktik yang diterapkan beliau sepanjang babak kualifikasi Piala Dunia ini.

Padahal dalam 2 tahun terakhir ini banyak talenta muda Italia yang bermunculan dan semakin matang. Berbeda dengan masa Antonio Conte yang memiliki pilihan yang terbatas. Tak heran usai Italia gagal memastikan lolos ke Piala Dunia, kritikan lebih banyak dialamatkan kepada beliau dan juga presiden FIGC (PSSI-nya Italia) sebagai pihak yang menunjuk beliau sejak pertama.

Nasi sudah menjadi bubur. Bagi saya, Piala Dunia 2018 nanti akan kurang terasa gairahnya karena tak ada Italia. Tak ada tim yang saya dukung.

Apalagi sejak beberapa turnamen internasional terakhir ini — Euro dan Piala Dunia, saya hanya menonton pertandingan yang melibatkan Italia saja. Itupun kalau yang dini hari biasanya belum tentu nonton. Kecuali bener-bener big match. Jadi kayaknya untuk Piala Dunia 2018 ini, saya bakal mengikuti highlight-nya saja. Wkwkwkk.

Tapi sebenarnya yang masih disayangkan tentu saja tidak jadi melihat Gianluigi Buffon mengakhiri karir sepak bolanya di sebuah pentas di mana banyak mata orang dari berbagai belahan dunia akan tertuju. Entahlah. Sebagai generasi kids jaman 90-an yang hobi bermain sepak bola, rasanya seperti ada keterikatan batin dengan Buffon (yang sepertinya) merupakan nama besar satu-satunya yang bermain sejak tahun 90-an yang tersisa sekarang.

Sambel Gledek

Makan Makanan Pedas

Setiap orang memiliki caranya masing-masing untuk meredakan stress yang melanda dirinya. Tak terkecuali saya.

Salah satu cara saya untuk menghilangkan stress tersebut adalah dengan melampiaskannya pada makanan pedas. Saat stress biasanya saya menjadi kurang bernafsu makan. Karena itu, untuk meningkatkan nafsu makan itu saya biasanya mencari makanan pedas.

Di Bandung ini ada 1-2 tempat makan favorit saya yang menyajikan menu dengan sambal yang pedas. Saking pedasnya mereka ada yang menyebutnya dengan sambel gledek atau sambel membara.

Begitu melihat warnanya yang oranye merona seperti itu saja sudah bertambah nafsu makan saya. Begitu memakannya, muncul perasaan seperti terhibur dalam diri saya.

Dihinggapi rasa penasaran, saya mencari penjelasan ilmiahnya. Menurut artikel ini katanya makan makanan pedas dapat meningkatkan produksi hormon serotonin. Hormon tersebut menurut para peneliti merupakan hormon yang berperan dalam menyeimbangkan mood manusia, memberikan rasa bahagia atau sejenisnya.

Itu ternyata sebabnya. Jadi, walaupun harus berpeluh keringat dan kadang berlinang air mata, makan makanan pedas ternyata bisa membuat hati gembira. Hahaha. 😀