Monthly Archives: October 2017

Naik Kereta Gantung di Genting Highlands

Kesempatan pergi ke Kuala Lumpur minggu lalu saya manfaatkan untuk jalan-jalan ke Genting Highlands. Kebetulan ada waktu kosong di hari Sabtu-nya.

Dalam beberapa kali kesempatan ke Kuala Lumpur, baru kali ini saya pergi ke Genting. Ke Genting ini dalam rangka memenuhi rasa penasaran saja sih melihat Genting kayak apa.

Kebetulan teman saya yang ikut pergi bareng ke Kuala Lumpur minggu lalu itu mau diajak ke Genting. Dia sendiri motivasinya karena lebih penasaran sama sensasi naik kereta gantung (cable car).

Rencana Awal Naik dari KL Sentral

Sabtu pagi kira-kira pukul 8.30 kami berjalan kaki dari penginapan menuju terminal bus KL Sentral. Sesampainya di depan loket penjualan tiket, terpampang pemberitahuan bahwa tiket bus yang tersedia berikutnya adalah untuk keberangkatan pukul 11.30. Tiket untuk semua perjalanan bus sebelum itu sudah ludes.

Oh, meeenn… masak kami menunggu kurang lebih selama 3 jam. Kami pun googling mencari alternatif lain. Ternyata ada bus ke Genting dari Terminal Bus Pekeliling.

Akhirnya Naik dari Terminal Bus Pekeliling

Kami langsung masuk ke dalam KL Sentral dan naik LRT menuju Stasiun Titiwangsa. Tapi kami harus transit dulu di Stasiun Masjid Jamek untuk berganti dengan LRT Ampang Line.

Dari Stasiun Titiwangsa menuju Terminal Bus Pekeliling ini kita cukup berjalan kaki saja. Paling cuma sekitar 5 menit.

Terminal Bus Pekeliling

Terminal Bus Pekeliling

Kami langsung mencari loket tempat dijualnya tiket bus ke Genting Highlands. Di Terminal Bus Pekeliling ini ada beberapa jalur keberangkatan. Di sana mereka menyebutnya Continue reading

Advertisements
Manual Coffee Grinder

Giling Kopi Manual

Beberapa minggu yang lalu saya iseng-iseng mencari penggiling biji kopi di sebuah website e-commerce. Harganya ternyata bervariasi. Mulai dari 80 ribuan sampai ratusan ribu. Yang jutaan pun juga ada.

Karena cuma untuk memenuhi rasa penasaran saya saja, maka saya cari yang paling murah saja, yang harga 80 ribuan. Dengan harga segitu dapatnya coffee grinder yang manual saja. Terbuat dari kayu.

Sebelumnya saya tidak sengaja membeli satu bungkus biji kopi 200 gram. Ini pertama kali saya membeli kopi yang masih dalam bentuk biji. Biasanya selalu membeli kopi bubuk. Karenanya saya membeli coffee grinder itu.

The sooner you use coffee after grinding it, the more of the original intended flavors there will be. (https://www.theroasterie.com/blog/should-i-buy-ground-coffee-beans-or-whole-coffee-beans/)

Katanya memang lebih enak minum kopi yang diseduh dari kopi yang baru saja digiling. Rasa “asli”-nya masih terasa banget. Setelah mencobanya sendiri, saya pun sangat setuju dengan pendapat itu.

Akan tetapi rupanya tidak mudah menghasilkan rasa yang konsisten dengan manual coffee grinder ini. Lebih tepatnya disebabkan karena susah untuk menghasilkan ukuran butiran kopi yang konsisten. Kadang butiran kopinya halus, kadang kasar, dan dalam satu gilingan ukurannya bisa berbeda-beda.

Tapi tidak menjadi masalah karena saya tidak perlu sedetail itu ada dalam menyeduh kopi. Dengan ukuran yang berbeda-beda itu saya pun jadi bisa mencoba berbagai variasi dalam rasa kopi yang saya saya minum.