Tag Archives: coffee

Manual Coffee Grinder

Giling Kopi Manual

Beberapa minggu yang lalu saya iseng-iseng mencari penggiling biji kopi di sebuah website e-commerce. Harganya ternyata bervariasi. Mulai dari 80 ribuan sampai ratusan ribu. Yang jutaan pun juga ada.

Karena cuma untuk memenuhi rasa penasaran saya saja, maka saya cari yang paling murah saja, yang harga 80 ribuan. Dengan harga segitu dapatnya coffee grinder yang manual saja. Terbuat dari kayu.

Sebelumnya saya tidak sengaja membeli satu bungkus biji kopi 200 gram. Ini pertama kali saya membeli kopi yang masih dalam bentuk biji. Biasanya selalu membeli kopi bubuk. Karenanya saya membeli coffee grinder itu.

The sooner you use coffee after grinding it, the more of the original intended flavors there will be. (https://www.theroasterie.com/blog/should-i-buy-ground-coffee-beans-or-whole-coffee-beans/)

Katanya memang lebih enak minum kopi yang diseduh dari kopi yang baru saja digiling. Rasa “asli”-nya masih terasa banget. Setelah mencobanya sendiri, saya pun sangat setuju dengan pendapat itu.

Akan tetapi rupanya tidak mudah menghasilkan rasa yang konsisten dengan manual coffee grinder ini. Lebih tepatnya disebabkan karena susah untuk menghasilkan ukuran butiran kopi yang konsisten. Kadang butiran kopinya halus, kadang kasar, dan dalam satu gilingan ukurannya bisa berbeda-beda.

Tapi tidak menjadi masalah karena saya tidak perlu sedetail itu ada dalam menyeduh kopi. Dengan ukuran yang berbeda-beda itu saya pun jadi bisa mencoba berbagai variasi dalam rasa kopi yang saya saya minum.

Advertisements
Warung Kopi

Menikmati Kopi Pahit

Mungkin sudah 3 tahunan ini saya menjadi penikmat kopi pahit. Kopi hitam tanpa gula. Dan ternyata memang lebih nikmat demikian.

Sebenarnya bukan suatu kesengajaan tiba-tiba saya menjadi penikmat kopi pahit ini. Sebelumnya, walaupun saya sudah suka minum kopi, kopi yang saya minum adalah kopi sachetan yang tentu saja rasanya sudah manis by default.

Sejak kuliah saya menjadi penggemar kopi sachetan ini. Mencoba beraneka merek dan rasa. Menjadi teman di kala begadang mengerjakan tugas kuliah.

Kesukaan saya terhadap kopi pahit ini mungkin bermula sejak sekitar 3 tahun lalu ketika ada seorang teman saya yang baik hati membawakan kopi ‘beneran’, oleh-oleh dari tempat dinasnya. Kebetulan dia memang sering dinas ke luar pulau.

Ketika itu dia membawakan beberapa jenis kopi. Saya pun karena sudah diberi, mencoba kopi tersebut. Saya mencobanya dengan tanpa gula, alias apa adanya.

Oleh-oleh kopi dari teman

Oleh-oleh kopi dari teman

Karena belum biasa, pahit sekali rasanya di lidah saya. Tapi ada satu hal yang membuat saya menjadi suka dengan kopi tanpa gula ini. Rasa kopinya jadi benar-benar terasa di lidah saya, tidak tersamarkan oleh rasa manis dari gula.

Efek yang ditimbulkannya pun lebih terasa. Kopi pahit pertama yang saya minum ini sukses membuat saya susah tidur, hahaha.

Dan perbedaan lain yang saya rasakan dibandingkan kopi sachet adalah perut saya lebih mudah menerimanya ternyata. Sebelumnya, tiap habis minum kopi sachet, saya tak jarang merasakan sakit/mules di perut. Sedangkan setiap habis minum kopi pahit ini rasa mules tersebut ternyata hampir tidak pernah saya rasakan.

Lama-lama saya pun juga sudah biasa dengan rasa pahit kopi itu. Dan ini terbawa ke kebiasaan minum yang lain. Saya sudah mengurangi sekali minum yang manis-manis. Teh pun kalau buat sendiri saya lebih cenderung suka minum tanpa gula.

Ngoding sambil ngopi

Ngoding sambil ngopi

Di sisi lain, saya nggak tahu, apakah ini bisa disebut kecanduan juga. Rasanya jika sehari nggak minum kopi pahit, ada yang kurang dalam seharian itu. Kurang bergairah rasanya. Kopi pahit ini sudah seperti mood booster bagi saya.

Di tengah-tengah ngoding pun, rasanya nikmat sekali sembari sesekali nyeruput kopi. Kalau sudah ngopi, berpikir pun bisa lebih lancar. 😀