Monthly Archives: September 2012

Running With Runkeeper

Baru sekitar sebulan ini aku menggunakan aplikasi Android Runkeeper. Boleh dibilang telat sih aku tahu aplikasi ini. Runkeeper ini adalah salah satu aplikasi sport tracker yang tersedia di Android dan juga beberapa platform mobile yang lain. 

Sebelumnya pernah pasang aplikasi Endomondo, tapi belum pernah sampai mencobanya untuk tracking lari beneran. Paling-paling cuma buat tracking sewaktu lagi jalan kaki atau saat badminton, hahaha.

Akhirnya aku iseng cari-cari aplikasi sejenis sport tracker di Google Play Store yang banyak penggunanya. Di sana aku menemukan aplikasi Runkeeper ini.

Asyik juga pakai aplikasi ini. Ada fitur social connect ke banyak aplikasi social media seperti Facebook, Twitter, Foursquare, Google, dll. Bandingkan dengan Endomondo yang setahuku hanya menyediakan connect to Facebook

Ketika kita menghubungkan Runkeeper ke Foursquare, setelah melalui beberapa kali lari kita akan mendapatkan badge warming up. Terus, kalau kita bisa menyelesaikan lari 5 KM akan dapat badge 5 KM, dst. Memang sih, bagi sebagian orang pasti berpikir, buat apa sih memang badge-badge semacam itu. Nggak ada gunanya kali. Memang benar sih. Tapi bagiku itu kujadikan semacam milestone untuk memotivasi bahwa lari hari ini harus baik dari lari-lari sebelumnya, hahaha.

Screenshot aplikasi Runkeeper di Android

Screenshot aplikasi Runkeeper di Android

Di Runkeeper itu sendiri kita juga bisa merancang goal alias target yang ingin kita capai dalam batas waktu yang bisa kita tentukan. Misal, saya harus menyelesaikan total jarak lari 30 KM dalam sebulan, atau saya harus mampu lari dalam jarak minimal 10 KM dalam waktu sebulan ini, atau saya harus mengikuti satu perlombaan lari 10 KM dalam sebulan ini, dll. Jika bisa mencapainya tentu akan menjadi kepuasan pribadi.

Nah, terkait dengan lomba lari, kita juga bisa mendaftarkan nama event lomba lari yang kita ikuti ke situs Runkeeper. Bisa kita sendiri yang buat, atau orang lain. Di aplikasi kita bakal ada semacam countdown menuju hari dan waktu perlombaan. Setelah itu, aktivitas perlombaan kita pun juga akan di-tracking. Kita bisa tahu siapa saja pengguna Runkeeper yang sedang mengikuti lomba lari itu bersama kita.

Lapangan SARAGA, tempat favoritku untuk lari

Lapangan SARAGA, tempat favoritku untuk lari

Oh ya, satu lagi … apabila kita menghubungkan akun Runkeeper kita dengan Twitter, kita juga akan terdaftar di situs http://world-rank.in (akun Twitter: @world_rankin). Itu adalah sebuah situs yang membuat pemeringkatan orang-orang di seluruh dunia yang lari (atau olahraga lain) dengan menggunakan Runkeeper berdasarkan akumulasi jumlah jarak lari selama sebulan. Contohnya aku nih, yang mendapatkan rank page di sini » http://world-rank.in/rank/muhdhito, hehehe.

Recommended bangetlah aplikasi ini. Dulu saya hobi lari. Tapi sejak kenal aplikasi Runkeeper, saya jadi semakin rajin berlari. Terima kasih Runkeeper! You’ve really motivated me to run more! 😀

#bukanpromosi

Advertisements

Hujan yang Dinanti Pun Mulai Tiba

Aku tak ingat kapan terakhir kali hujan turun tiba di Bandung. Rasanya sudah lama sekali. Tak hanya Bandung, di berbagai daerah di Indonesia pun juga mengalami hal yang sama. Sungguh kemarau yang cukup panjang.

Jikalau kita mengikuti berita-berita di media massa kita juga akan mendapati bahwa kemarau panjang ini memiliki dua dampak utama yang merugikan, yakni persediaan air yang menipis dan produksi pangan yang menurun. Sungguh beruntung kita yang berada di kota-kota besar ini masih merasakan pasokan air dari PDAM. Namun, keadaan kurang beruntung dirasakan oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah.

Di Prambanan, Yogyakarta warga kesulitan air bersih. Di Lebakbarang, Pekalongan malah lebih parah. Akibat debit air sungai yang menyusut, warga di sana tidak dapat menerima pasokan listrik dari pembangkit lisrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di daerah mereka. Dan masih banyak lagi cerita tentang krisis air dan produksi pertanian menurun di negeri ini yang bisa kita temukan di berbagai media massa.

Setelah 3 bulan tak didatangi hujan, pada tanggal 30 Agustus lalu, masyarakat sekitar kawasan Tangkuban Parahu melakukan sholat Istisqo di sekitar kawah Ratu untuk meminta hujan. Subhanallah, keesokan harinya Bandung diguyur hujan. Setelah itu sempat tidak turun hujan lagi selama kurang lebih seminggu. Namun, dalam dua hari terakhir ini alhamdulillah hujan turun lagi.

Di dalam Islam sendiri kita diajarkan untuk selalu mensyukuri hujan yang turun dan berdo’a salah satunya dengan do’a berikut:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعً

“Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).”

Ya, kita selalu berdoa dan mengharapkan hujan yang turun adalah hujan yang membawa kebaikan bukan musibah seperti badai atau banjir. Tapi tentunya kita harus meyakini bahwasannya setiap tetes air hujan itu merupakan rahmat dari Allah dan semua ketetapan akannya merupakan yang terbaik untuk kita.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Adapun ketika turun hujan lebat, kita bisa membaca doa seperti yang dicontohkan oleh Nabi:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Subhanallah, itulah indahnya Islam. Untuk urusan hujan pun juga ada tuntunan terhadapnya.

Jalan-Jalan ke Kelagian & Kiluan

Setelah terakhir tahun lalu ke Tidung — walaupun sebagian juga ada yang backpacking keliling Asia Tenggara yang aku tidak ikut di dalamnya Maret lalu dan sebagian hiking ke Gunung Gede Juni lalu, kini kami bisa berkumpul lagi dan melakukan trip bersama-sama. Kali ini tujuan kami adalah ke Kelagian & Kiluan, Lampung.

Jumat, 31 Agustus 2012

Rombongan peserta trip kali ini terdiri atas dua orang domisili Bandung dan lima orang domisili Jakarta. Aku dan Kamal berangkat dari Bandung dan berkumpul di Stasiun Gambir, Jakarta bersama empat orang yang lain. Kami bersama-sama menumpang bus DAMRI Jakarta Gambir-Bandar Lampung. Sedangkan satu orang lagi, Adi, memilih untuk pergi pakai cara ngeteng, maksudnya nyambung-nyambung pakai transportasi umum gitu.

Sabtu, 1 September 2012

Rombongan 6 orang tiba lebih dulu di terminal Rajabasa, Bandar Lampung pada pukul 6.30. Sedangkan Adi menyusul tiba sekitar setengah jam kemudian. Untuk perjalanan selama di Lampung, kami menyewa mobil rental. Di rental tersebut sewa mobil diharuskan untuk menggunakan sopir dari mereka.

Sebelum berangkat ke tujuan sesungguhnya, kami mampir sejenak untuk sarapan di pinggir jalan depan Museum Lampung. Sembari sarapan, kami merencanakan itinerary untuk dua hari itu.

Sarapan

Sarapan

Seusai sarapan, kami langsung melaju menuju Pantai Klara. Oh ya, trip leader kami kali ini adalah Adi. Dia yang merencakan dan mengatur agenda kami di Lampung ini. Perjalanan ke Pantai Klara menempuh waktu kurang lebih 1,5 jam. Kami mampir dahulu di minimarket di kota untuk membeli bekal selama berada di ‘pelosok’ nanti.

Di hari Sabtu itu pantai Klara begitu sepi. Tentang pantainya itu sendiri, kalau boleh dibilang pantai ini sebenarnya ‘biasa-biasa’ saja. Tapi tiba-tiba ada tukang perahu menghampiri. Dia menawarkan jasa untuk mengantarkan ke pulau Kelagian. Tarif yang dia tawarkan Rp15.000 per orang PP. Kami berjumlah 7 orang dan harusnya kena Rp105.000. Setelah mencoba menawar, akhirnya sepakat di angka Rp90.000.

Perjalanan pantai Klara-pulau Kelagian ini memakan waktu skitar 20 menit menggunakan perahu. Sepanjang perjalanan menuju pulau Kelagian itu, tukang perahu itu menceritakan mengenai pulau Kelagian itu yang katanya punya pasir putih nan lembut itu. Selain itu, pulau ini sering dijadikan tempat latihan militer Angkatan Laut (AL). Bahkan, katanya pulau ini seringkali dijadikan sasaran tembak rudal dalam latihan AL yang markasnya berada di pulau seberang. Apabila AL akan melakukan latihan, otomatis pulau ini akan ditutup untuk masyarakat umum sementara waktu.

Menuju pulau Kelagian

Menuju pulau Kelagian

Begitu sampai di Kelagian, hanya ada satu kata di dalam benakku, “Wow!”

Benar yang dikatakan masnya. Pasir pantai di Kelagian ini benar-benar halus dan lembut. Hampir tak ada kerikil atau benda kasar apapun. Berguling-guling di pasir pun juga menyenangkan. Bahkan, si Neo, Luthfi, sama Rizky sampai menguburkan diri di pasir :D. Tampak sekali mereka begitu menikmati ‘luluran’ dengan pasir pantai Kelagian ini.

Menguburkan diri di pasir pantai

Menguburkan diri di pasir pantai

Asyik juga berada di pulau ini. Pasirnya putih, bersih, dan lembut. Suasananya begitu tenang, sepi, tak banyak orang di sana. Bahkan ketika kami ke sana, wisatawan pulau ini hanya rombongan kami dan ada satu rombongan lagi yang hanya mampir sebentar ke pulau ini sebelum lanjut ke spot snorkeling. Sayang euy, di sana kami tidak sempat snorkeling. Baru tahu dari teman setelah pulang dari Lampung kalau di sana itu sebenarnya ada spot snorkeling yang sangat cantik. Bahkan ada ikan ‘nemo’ juga katanya.

Beberapa gubug di Kelagian

Beberapa gubug di Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Putih dan lembutnya pantai Kelagian

Puas bermain-main di pulau Kelagian, kami pun beranjak kembali ke pantai Klara. Di pantai Klara itu kami bersih-bersih diri di toilet umum yang terdapat di sana.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Teluk Kiluan. Perjalanan dari pantai Klara ke Teluk Kiluan ini memakan waktu kurang lebih 1,5 jam. Jaraknya sendiri sekitar 40-an km. Namun, akses menuju ke sana harus melalui jalanan yang berlubang sana-sini. Bahkan, ada Continue reading

Mirip Artis?

[Story 1] Suatu ketika di sebuah warung pulsa dekat kosan.

S (Saya) : “Teh, mau beli pulsa.”
T1 (Teteh penjual pulsa) : “Sok a’ ditulis nomornya.”
S : (lagi menulis nomor HP di kertas)
T1 : “Kok rasanya pernah lihat aa’ di TV. Main di acara apaaa… gitu.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
T2 (teman si teteh jualan pulsa) : “Teh ini ngefans sama mas.”
T1 : “Nggaakk … cuma ngerasa aja pernah lihat si aa’ di TV.”
S : (Pura-pura antusias) “Wah, siapa ya teh artisnya?”
T1 : “Nah itu, saya lupa.”
S : “Pulsanya sudah masuk teh. Makasih ya.”

[Story 2] Suatu ketika di tempat laundry dekat kosan.

S (Saya) : “Assalammu’alaikum.”
T (Teteh pemilik laundry) : “Wa’alaikumsalam. Oh, Dhito ya?”
S : “Iya teh, bener.”
T : (Sambil menghitung laundry-an) “Eh, Dhito kemarin Ramadhan atau lebaran gitu habis main film ya?”
S : (Bingung tiba-tiba ditanya begitu) “Ah, nggak teh. Saya di Ramadhan di Bandung, sama mudik ke Malang.”
T : “Tapi kemarin sempat nonton film ada yang mirip sama Dhito. Saya pikir itu Dhito.” (Menunjukkan gerak-gerik mengingat-ingat sesuatu)
S : “Ah, teteh bisa aja. Saya mah nggak pernah main film teh, hehehe.”
T : “Bener itu bukan Dhito?” (Dengan nada yang agak memaksa)
S : “Haha, bukan teh, saya jamin.”
S : “Udah teh, gitu aja ya. Saya pamit dulu. Makasih. Assalammu’alaikum.”
T : “Wa’alaikumsalam.”