Category Archives: Olahraga

[VIDEO] Fu Haifeng Teaches You How To Smash

Ada video bagus nih buat kita yang mau belajar bagaimana caranya melakukan smash yang mantep di bulutangkis. Shuttler yang dijadikan model untuk melakukan smash adalah si Fu Haifeng. Bagi pecinta bulutangkis tentu nama dia sudah tak asing lagi. Dialah pemegang rekor smash terkencang di dunia saat ini. Dulu sih rekornya 334 km/jam. Tapi kalau tidak salah, dia baru saja memecahkan rekor lagi di Singapore Open Juni 2011 kemarin, sekitar 350 km/jam. Kenceng banget nggak tuh … 🙂

Sayangnya video itu menggunakan narasi bahasa Mandarin. Nggak ada subtitle-nya pula. Yang nggak ngerti bahasa Mandarin seperti diriku ini tentu cuma bisa manggut-manggut saja, hihihi. Tapi buat yang mau belajar cara jumping smash, bisa memerhatikan cara si Fu Haifeng melakukan jumping smash di video ini.

Mantep abis lah smash-an si Fu Haifeng ini. So powerful! Bunyinya udah kayak letusan peluru aja. Jadi, kalau di badminton benda yang dipukul itu biasa disebut dengan shuttle cock, nah setelah di-smash sama si Fu Haifeng, shuttle cock itu berubah menjadi shuttle bullet, hehehe. 😆

Di video itu juga ditunjukkan gerak lambat jumping smash Fu Haifeng. Jadi kelihatan bangetlah step-step mulai dari lompat, posisi kaki, posisi tangan, posisi raket, dan ayunan raket, sampai tumpuan ketika jatuh setelah lompat. Bagus banget buat referensi kita-kita yang main badminton cuma untuk menyalurkan hobi atau sekedar memeras keringat dan bukan anggota klub badminton tertentu. Hmm … jadi tidak sabar untuk mempraktikkan nih. 😀

Raket Badminton Baru

Sebulan yang lalu aku membeli raket badminton baru. Yeyy … akhirnya aku punya raket badminton juga :D. Selama ini aku selalu main dengan raket yang sudah kupinjam selama 4 tahun atau selama aku kuliah di Bandung ini. Raket yang bermerek Yonex dengan seri B-650 itu kupinjam dari kakak kelas SMA-ku yang juga berkuliah di ITB dan sampai sekarang belum kukembalikan. Wah parah … hahaha.

Yonex B-650

Yonex B-650

Bingung juga sewaktu akan memilih raket baru itu. Yang jelas incaranku adalah raket yang lebih ringan dari yang raket yang biasa kupakai itu (Yonex B-650) agar tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga saat mengayun raket. Pilihanku akhirnya jatuh ke raket Li-Ning Super Series 98 (SS98). Alasannya, aku ingin mencoba raket merek lain selain Yonex dan Li-Ning cukup punya nama karena merupakan sponsor resmi tim nasional bulutangkis China dan beberapa negara lainnya seperti Thailand dan Singapura.

Namun, raket-raket Li-Ning ternyata mahal juga ya. Aku kira karena produk China banyak yang murah, raket Li-Ning juga murah-murah. Di toko tempat aku beli raket waktu itu, raket Li-Ning paling murah itu 250 ribuan. Sedangkan Yonex yang paling murah sekitar 150 ribuan. Hmm … sempat bimbang juga sih. Akhirnya nggak apa-apalah aku beli raket Li-Ning yang SS98 itu. Saat kucoba dan kubandingkan di toko sih, raket Li-Ning yang SS98 ini memang sangat ringan dibandingkan yang Yonex seharga 150 ribuan itu.

Li-Ning SS98

Li-Ning SS98

Tapi ada yang beda ternyata sama raket Li-Ning SS98 yang baru kubeli itu dibandingkan raket Yonex B-650 yang biasa kupakai sebelumnya. Selain lebih ringan, raket Li-Ning SS98 itu juga lebih panjang. Setelah baca di sini, Li-Ning SS98 itu ternyata panjangnya 67,3 cm atau berselisih sekitar 1 cm dengan raket Yonex-ku yang lama.

Memang sih cuma selisih 1 cm doang. Akan tetapi, tetap saja butuh adaptasi dengan raket itu ternyata. Awal-awal pakai raket SS98 ini sering sekali saat aku buat smash gagal menyeberangi net. Tapi enak sih raket ini ringan, jadi nggak perlu banyak keluar tenaga saat melancarkan pukulan.

Nonton Langsung Final Indonesia Open PSS 2011

Akhirnya keinginan untuk menonton langsung pertandingan bulutangkis kelas dunia kesampaian juga. Yap, hari Minggu kemarin aku bersama dua orang teman (Rizky IF’07 dan Pras EL’07) pergi ke Jakarta untuk menonton pertandingan final Djarum Indonesia Open Premiere Super Series (DIO PSS) 2011.

Kami berangkat dari Cisitu pukul 6 pagi kurang menuju stasiun Hall Bandung. Kami pergi ke Jakarta dengan menggunakan KA Argo Parahyangan yang berangkat pukul 6.30. Tidak beruntung bagi kami karena tiket dengan tempat duduk kereta saat itu telah habis. Kami pun terpaksa membeli tiket berdiri. Namun, kami sudah mengantisipasinya dengan membawa koran agar bisa duduk nyaman di bawah :).

Monas

Monas

Kurang lebih perjalanan Bandung-Jakarta Gambir yang kami lalui memakan waktu 3,5 jam. Dari stasiun Gambir kami berjalan kaki menuju Monumen Nasional (Monas). Oh, ternyata pagi itu ada event besar yang diadakan di sana. Entah acara apa. Di sana kami melihat ada banyak mahasiswa Trisakti, pelajar-pelajar sekolah Jakarta, dan ada para pejabat negara juga, salah satunya adalah Pak Boediono, wakil presiden RI saat ini.

Sempat berfoto-foto sejenak dan melihat aktivitas-aktivitas yang ada (sekitar setengah jam) di kawasan Monas, kami pun melanjutkan perjalanan lagi ke kawasan Gelora Bung Karno dengan menggunakan bus TransJakarta. Ini pengalaman pertamaku naik busway di Jakarta. Perjalanan menuju Gelora Bung Karno dari shelter Monas itu memakan waktu sekitar 20 menit.

Di senayan

Di senayan

Sampai di arena Gelora Bung Karno kami foto-foto lagi. Megah juga ya kawasan Gelora Bung Karno itu. Berbagai arena olahraga ada di sana. Jadi ingat politik mercu suar yang dijalankan oleh presiden Soekarno pada masa lalu. Dan Gelora Bung Karno ini adalah salah satu hasilnya.

Puas berfoto-foto, kami lanjut berjalan lagi ke Istora Senayan yang jaraknya cuma beberapa meter saja dari posisi kami saat itu. Tampak kerumunan orang sudah memadati kawasan Istora saat itu.

Planet Badminton

Planet Badminton

Kawasan Istora telah disulap menjadi sebuah arena hiburan yang dinamai dengan Planet Badminton. Baliho-baliho bergambar jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia, stand-stand makanan/minuman, merchandise/souvenir, perlengkapan bulutangkis, hingga lapangan bulutangkis mini semua ada di ‘planet’ tersebut.

Antrian tiket

Antrian tiket

Sementara itu, di salah satu sudut arena Planet Badminton, tepatnya di depan ticket box tampak antrian para pengunjung yang ingin membeli tiket. Kami sendiri telah membeli tiket pertandingan final ini jauh-jauh hari secara online. Tapi, kami tetap harus mengantri di tempat penukaran tiket. Hanya saja, antriannya tidak sepanjang dan selama antrian di ticket box itu. Prosesnya lebih cepat dan tiketnya pun lebih murah :).

Tiket sudah di tangan, saatnya untuk jalan-jalan di arena Planet Badminton ini sekedar melihat-melihat atau mampir ke stand yang ada. Karena rasa haus mendera saat itu akibat cuaca yang panas, kami pun mampir ke salah satu stand minuman es yang ada di sana. Betapa kagetnya kami ketika tahu harganya. Tapi mau bagaimana lagi, kami sudah duduk dan ditawari menunya. Terpaksa deh beli minuman itu. Hiks, hiks, mahal sekali harganya.

Dari stand tersebut kami beranjak menuju gedung Istora Senayan. Kami mencari-cari mushola yang ada di Istora. Setelah berputar-putar, tanya sana-tanya sini, akhirnya ketemu juga musholanya. Kami menunaikan sholat Dhuhur (dijamak sekalian dengan Ashar) dulu sebelum menonton gelaran final DIO PSS 2011 hari itu.

Suasana di dalam Istora yang ramai sudah sangat terasa ketika kami tengah berada di dalam antrian masuk ke dalam gedung. Sorak sorai penonton begitu santer terdengar hingga keluar ruangan. Padahal tribun penonton saat itu masih belum penuh. Beberapa sektor masih tampak kosong. Hanya sektor utara-barat saja yang tampak sudah mulai padat.

Alamak… ternyata baru jam 1 siang. Pertandingan pertama baru dimulai pukul 13.30 atau setengah jam lagi. Terpaksa kami menunggu sambil duduk manis di tribun di tengah riuhnya para suporter Indonesia. Di tengah hall, tepatnya di dekat podium tempat ceremony juara, ada Judika, artis yang menghibur para supporter siang hari itu dengan membawakan beberapa lagu yang tak asing lagi bagi para suporter Indonesia.

Suasana Istora saat pukul 1 siang

Suasana Istora saat pukul 1 siang

The 1st battle : All Chinese Men’s Double Final

Tak terasa setengah jam terlalui. Pertandingan pertama pun siap-siap dimulai. Penonton bergemuruh ketika Cai Yun dan Fu Haifeng memasuki lapangan. Begitu pula ketika lawannya, kompatriotnya dari China, Chai Biao dan Guo Zhendong menyusul masuk ke lapangan. Dua-duanya masuk final DIO PSS 2011 ini setelah mengalahkan dua ganda putra Indonesia. Continue reading

Rafting di Sungai Cimanuk Garut

Hari Senin kemarin (2011-06-13) aku dan beberapa teman sefakultas pergi arung jeram (rafting) ke sungai Cimanuk, Kabupaten Garut. Acara ini sudah direncanakan jauh-jauh hari dan merupakan ide salah seorang teman bernama Kuncoro (Sistem Teknologi Informasi ’07). Dia yang mengatur semuanya mulai dari memberikan pengumuman ke anak-anak Informatika ’07, menghimpun peserta, hingga mengurus ke Keluarga Mahasiswa Pecinta Alam (KMPA) “Ganesha” ITB. Sayangnya, pada saat menjelang hari H ternyata dia berhalangan karena ada urusan akademik yang harus diselesaikan.

Peserta rafting ini terdiri atas 11 orang anak Elektro ’07, Informatika ’07,  dan Sistem Teknologi Informasi ’07, yaitu aku, Luthfi, Kamal, Rizky, Khairul, Luqman, Jiwo, Ian, Haris (IF ’07), Veri (STI ’07), dan Pras (EL ’07). Semua orang tersebut, kecuali Luqman, Ian, Haris, dan Veri, merupakan teman-teman yang ikut tur ke Sukabumi-Ciamis Maret lalu. Dalam rafting kali ini, selain kami, juga ada 12 rekan mahasiswa dari Geodesi ’08 dan tentu saja rekan-rekan dari KMPA yang berjumlah 6 orang. Jadi total ada 29 orang, di mana empat orang di antaranya adalah perempuan (dua orang dari KMPA dan dua orang lagi dari Geodesi.

Kami berangkat dari gerbang belakang kampus ITB tepat pukul 7 pagi dengan menaiki angkot carteran. Anak-anak KMPA sebagian ada yang menggunakan mobil dan motor pribadi menuju ke tempat rafting. Untuk peralatan rafting, sebagian ada yang dimasukkan ke dalam angkot, dan lainnya lagi dimasukkan ke dalam mobil KMPA.

Perjalanan dari kampus menuju Sungai Cimanuk, Garut, memakan waktu hampir 2,5 jam. Perjalanan berangkat mengambil jalur melalui tol Pasteur-Cileunyi terus melewati Cicalengka, Nagrek, dan Kabupaten Garut. Saat perjalanan mulai melintasi Garut, hamparan sawah di kanan kiri jalan hampir menjadi pemandangan wajib sepanjang perjalanan.

Kami tiba di tempat start rafting sekitar pukul 9.30. Setelah itu kami langsung melakukan persiapan. Kami langsung mengenakan perlengkapan rafting mulai dari rompi pelampung, helm rafting, dan memegang dayung masing-masing.

Di jembatan start
Di jembatan start

Sebelum memulai rafting, kami diberikan pengarahan oleh salah seorang anggota KMPA mengenai hal-hal yang harus diketahui saat rafting. Utamanya adalah masalah komando skipper. Skipper adalah salah seorang di atas raft yang menjadi pemimpin perjalanan rafting. Dia akan memberikan komando kapan dan bagaimana kita harus mendayung. Oleh karena itu, sang anak buah harus mengerti jenis-jenis komando yang diberikan.

Bersiap-siap rafting

Bersiap-siap rafting

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Posisi start rafting di sungai Cimanuk

Setelah pengarahan, kami melakukan pemanasan selama kurang lebih 15 menit. Pemanasan penting dilakukan agar fisik kita tidak kaku saat melakukan pengarungan.

Habis pemanasan, selanjutnya adalah pembagian kelompok raft. Satu raft diisi kurang lebih 4-5 orang ditambah dengan satu orang skipper dari anak KMPA. Total ada lima raft dalam pengarungan ini, salah satu di antaranya merupakan perahu rescue.

Aku sendiri berada dalam satu raft dengan Luthfi, Ian, Rizky, Kamal, dan Yasir (STI ’07 juga). Dalam raft kami ini Yasir yang bertindak sebagai skipper. Untuk memudahkan penyebutan nantinya, kita sebut saja kelompok kami ini kelompok ‘Merah 1’. Kenapa merah? Sebab raft yang kita tumpangi memang berwarna merah dan raft yang berwarna merah ada 3 buah. Kelompok yang lain, sebut saja ‘Merah 2’, terdiri atas Haris, Veri, Luqman, Pras, Jiwo, Moundri (Geodesi ’08), dan Dani (Farmasi ’07). Dalam kelompok tersebut yang bertindak sebagai skipper adalah Dani yang juga anak KMPA. Dua kelompok lainnya (selain perahu raft rescue) kita sebut saja ‘Merah 3’ dan ‘Kuning’. Khairul berada di kelompok Merah 3.

Pengarungan pun dimulai!

Tak berapa lama kemudian, pengarungan pun dimulai. Continue reading

Portal Badminton Tournament Video Sharing

Berawal setelah menonton event Piala Sudirman 2011 yang ditayangkan di televisi, gairahku terhadap badminton pun bangkit lagi. Sudah lama aku tidak mengikuti perkembangan berita bulutangkis. Terakhir kali adalah saat Indonesia kalah di final Piala Thomas 2010 melawan China 0-3.

Jujur, dengan keringnya prestasi yang diraih oleh tim bulutangkis Indonesia saat ini membuatku rindu pada masa kecilku dulu di mana Indonesia ketika itu benar-benar digdaya di dunia bulutangkis, khususnya bagian putra. Pada masa itu setiap ada turnamen bulutangkis seperti Thomas & Uber Cup, Indonesia Open, Olimpiade atau turnamen bulutangkis lainnya yang ditayangkan di televisi, dapat dipastikan demam bulutangkis melanda masyarakat. Di mana-mana orang main bulutangkis, termasuk aku dan teman-teman tetanggaku saat itu. Kami juga membuat turnamen sendiri dengan setiap anak mewakili satu nama jagoan bulutangkisnya ketika itu. Nyatanya saat itu banyak sekali nama jagoan-jagoan bulutangkis Indonesia yang bisa kita ‘pilih’ sampai kita bingung sendiri, hehehe.

Yah, itu tadi sekedar intermezzo saja. Untuk mengobati rasa rindu itu dan mengingat dunia internet sekarang sudah semakin ramai, aku pun iseng-iseng mencari video-video rekaman pertandingan bulutangkis dunia melalui media search engine mbah Google. Barangkali ada yang juga iseng mengunggahnya di internet. Alhamdulillah, ternyata ada satu portal situs berbagi file (file sharing) yang menyediakan koleksi pertandingan bulutangkis mulai dari tahun 1980-an sampai yang terbaru (2011). Alamatnya ada di sini.

Aksi-aksi jagoan bulutangkisku seperti Ricky-Rexy yang juara Men Doubles di Olimpiade 1996, Indonesia yang secara heroik mengandaskan China 3-0 di Thomas Cup 2000 dan Malaysia 3-2 di Thomas Cup 2002 pun juga ada. Tidak perlu password khusus untuk bisa mengakses portal tersebut karena sudah diset public. Namun, ada beberapa video yang dikompres dengan diberi password. Untuk tahu password-nya, teman-teman harus menjadi anggota dulu di BadmintonCentral.com.

Mengenai kualitas video, ada macam-macam. Tapi jangan berharap terlalu tinggi. Namun lumayanlah buat bernonstalgia dengan menonton pertandingan-pertandingan klasik masa lalu. Enjoy it! 🙂

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

Screenshoot pertandingan Tony-Rexy di Thomas Cup 2000

 

Moonwalk Ala Prince Boateng

Hari minggu dini hari kemarin, baik waktu Indonesia maupun Italia, selepas pertandingan melawan Cagliari, AC Milan mengadakan pesta selebrasi atas gelar scudetto Serie A Italia yang telah mereka raih musim ini di stadion San Siro. Uniknya dalam selebrasi tersebut juga disuguhkan penampilan tarian moonwalk khas Michael Jacksondi atas podium di tengah stadion. Namun, bukan Michael Jackson yang tampil malam itu, melainkan gelandang anyar AC Milan musim ini, yaitu Kevin Prince Boateng, yang berasal dari Ghana.

Prince Boateng April lalu memang pernah berjanji akan melakukan tarian moonwalk apabila AC Milan menjadi juara Serie A (baca di sini). Ternyata Boateng benar-benar menepati janjinya pada saat malam selebrasi itu. Tak disangka, Prince Boateng sungguh lihai dalam memeragakan tarian moonwalk tersebut, tidak kalah dengan Michael Jackson. Tak pelak, banyak sanjungan yang diberikan publik Italia dan Milanisti di dunia, termasuk rekan-rekannya di tim AC Milan terhadap penampilannya malam itu.

Bagi yang belum melihat tarian moonwalk ala Prince Boateng, bisa tonton di video Youtube ini:


Kocak, Trofi Copa Del Rey Jatuh dan Terlindas Bus

Ada kejadian unik saat Real Madrid melakukan pawai perayaan atas gelar juara Copa Del Rey yang baru saja mereka peroleh. Trofi Copa Del Rey yang mereka raih itu terpaksa harus direlakan karena trofi tersebut rusak setelah “dijatuhkan” Sergio Ramos dari atas bus yang mengangkut para pemain Real Madrid dalam pawai kemenangan.

Walaupun kejuaraan yang dimenangkan hanya sekelas Copa Del Rey, Real Madrid menyambut kemenangan itu dengan penuh euforia. Maklum, terakhir kali Real Madrid menjuarai turnamen ini adalah pada tahun 1993 atau 18 tahun yang lalu. Selain itu, gelar terakhir yang mereka raih juga terjadi 3 tahun yang lalu.

Jadi, ceritanya malam hari setelah pertandingan final, Real Madrid langsung mengadakan penyambutan besar-besaran bersama para suporternya di kota Madrid. Dalam pawai itu para pemain Real Madrid diangkut dengan menumpang di atas bus sambil memamerkan trofi Copa Del Rey. Dalam video yang diunggah di Youtube, Sergio Ramos, bek Real Madrid asal Spanyol, terlihat hendak menurunkan trofi. Malangnya, trofi tersebut ternyata malah terjatuh. Begitu terjatuh, trofi tersebut langsung dilindas oleh bus Real Madrid itu. Selanjutnya sudah bisa ditebak, kondisi trofi itu pun menjadi rusak dan terdapat beberapa bagian yang patah. Untungnya, pembuat trofi Copa Del Rey mempunyai cadangan replika trofi tersebut. Keesokan paginya, trofi tersebut langsung diserahkan kepada Real Madrid.

Sumber: Goal.com Indonesia [1 2]