Category Archives: Informasi

Akhirnya… Juara Dunia Lagi!

Wow… what a beautiful day for Indonesia Badminton! Bertempat di TianHe Indoor Stadium, Guangzhou, China, kemarin Indonesia akhirnya berhasil menggondol gelar juara dunia kembali, mengakhiri puasa gelar yang bertahan sejak tahun 2007. Tak tanggung-tanggung, 2 gelar sekaligus diperoleh melalui nomor ganda putra (Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan) dan ganda campuran (Tontowi Ahmad/Liliyana Natsir). Prestasi ini mengulang prestasi pada tahun 2007, juga melalui wakil yang hampir sama, dengan partner yang berbeda (Markis Kido/Hendra Setiawan dan Nova Widianto/Liliyana Natsir).

Prestasi Indonesia di World Championship 2013 ini seolah memupus rasa dahaga masyarakat Indonesia akan keringnya prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Apalagi tahun lalu Indonesia terpaksa memutus tradisi emas di Olimpiade 2012 yang sudah bertahan sejak Olimpiade 1992.

Sayangnya pertandingan final kemarin tak ada satu stasiun TV (non-berbayar) yang menayangkannya. Terpaksa deh menonton melalui streaming YouTube, walau sering patah-patah streaming-nya. Tapi lumayanlah daripada tidak ada sama sekali.

Next target, mudah-mudahan tahun depan giliran Thomas atau Uber Cup yang bisa dibawa pulang. 😀

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

Ahsan/Hendra dan Liliyana/Tontowi

[Video] Insiden Perkelahian di Badminton Canada Open 2013

Rasa-rasanya sejauh yang kutahu belum ada sejarahnya kejadian perkelahian antar pemain di suatu permainan badminton. Sejauh ini kejadian kontroversial di lapangan yang kuketahui adalah partai final beregu putra ASIAN GAMES 2002 ketika Taufik Hidayat bertemu wakil tuan rumah Korea Selatan, Shon Seung-Mo. Dalam pertandingan itu Taufik melakukan walk-out dan meluapkan kekesalannya setelah merasa dicurangi oleh linesman pertandingan tersebut. Kasus serupa juga terjadi pada tahun 2008 ketika Lin Dan bertemu pemain Korea, Lee Hyun Il. Lin Dan bahkan nyaris mengajak duel pelatih Korea sebelum akhirnya dicegah.

Dua kejadian tadi mungkin masih tergolong dalam kategori ‘under control’ lah ya. Namun, insiden perkelahian antara dua pemain ganda putra sesama Thailand di Canada Open dua hari yang lalu ini benar-benar mengejutkan. Bahkan di Kanada yang konon berita olahraganya hanya seputar hoki es, baseball, atau basket, akhirnya menayangkan berita tentang badminton. Sayang, sekalinya masuk berita, eh justru bad news-nya yang kena publikasi.

Ini dia beberapa video rekaman insiden tersebut yang dirilis oleh Global News Canada dan diunggah oleh salah satu pengguna di YouTube:

Artikel berita terkait video tersebut, masih dari Global News, ada di link ini » http://globalnews.ca/news/732881/fight-between-two-badminton-players-caught-on-tape-at-richmond-oval/. Kalau lihat rekamannya, kelihatan seru sekali #eh mengerikan. Persis scene di film-film laga. Ada adu mulutnya, ada kejar-kejarannya, ada pukul raketnya, ada lempar kursinya, ada hantamannya, ada tendangannya. Si Bodin sendiri telinganya sampai berdarah di insiden ini. Jadi ingat insiden telinga Evander Holyfields yang digigit oleh Mike Tyson hingga cuil dan berdarah.

Sebagai penggemar badminton, aku sendiri sudah tak asing dengan nama Maneepong Jongjit dan Bodin Issara ini. Keduanya dulu adalah pasangan bermain ganda putra nomor satu Thailand. Prestasinya cukup menonjol. Satu gelar Superseries dan perempatfinalis olimpiade 2012 London. Sayang, tanpa alasan yang cukup jelas, di awal tahun 2013 keduanya berpisah. Sempat tersiar kabar kalau Bodin Issara mengundurkan diri dari tim nasional dan akan pensiun dari badminton karena harus merawat Ibunya.

Namun, dengan insiden ini setidaknya penyebab keluarnya Bodin Issara menjadi semakin jelas. Di balik insiden ini sudah ada konflik pribadi yang terjadi sebelumnya, sampai akhirnya mereka bertemu kembali sebagai ‘lawan’ di pertandingan resmi di final ganda putra Canada Open 2013 ini.

Intinya adalah konflik bermula karena Bodin kecewa dengan Maneepong yang ‘mengkhianati’ rencana mereka untuk keluar dari tim nasional dan beralih menjadi pemain independen setelah olimpiade. Dan seperti yang kita ketahui sekarang, Bodin akhirnya menjadi pemain independen dan Maneepong masih tetap bertahan di tim nasional. Mereka menjalani karir mereka dengan pasangan baru masing-masing. Nah menjelang pertandingan final Canada Open tersebut, entah siapa yang memulai, perseteruan mereka tak terelakkan dengan terjadinya adu mulut. Lalu kejadian yang tak terduga ketika pergantian game tiba-tiba Bodin lepas kontrol dan ingin menghajar Maneepong.

Lebih detailnya bisa baca postingan salah satu member di Badminton Central yang berbaik hati sudi menerjemahkan wawancara salah satu stasiun TV dengan Bodin Issara menggunakan bahasa Thailand. Ini dia linknya » http://www.badmintoncentral.com/forums/showthread.php/129868-2013-Yonex-CANADA-Open-GP-Qualification-FINAL-(16th-21st-July-2013)?p=2115718#post2115718.

Haha, panjang amat ya tulisan ini. Padahal niatnya tadi cuma mau share video. Sudah kayak artikel berita aja. Saking nggak percayanya mungkin, kok bisa ada kejadian seperti ini di badminton. 😀

Ceramah Tarawih Ridwan Kamil di Cisitu

Seorang Ridwan Kamil — walikota Bandung yang baru saja terpilih — mengisi ceramah tarawih mungkin hal yang biasa saja. Masjid Salman ITB selalu rutin mengundang banyak tokoh nasional untuk mengisi tarawih di sana. Nah, kalau mengisinya di sebuah masjid di sebuah perkampungan padat penduduk nan jalannya berupa gang sempit yang hanya selebar dua motor… hmm… rasanya jarang mendengar hal itu terjadi.

Nah, itulah yang terjadi dua hari yang lalu (10/07), tepatnya pada malam hari ke-2 bulan Ramadhan, di Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo, Cisitu Lama, Bandung. Usai sholat subuh pengurus DKM mengumumkan bahwa penceramah tarawih malam itu adalah Ridwan Kamil. Rasanya agak sukar dipercaya, seorang walikota datang ke masjid yang terletak di dalam suatu gang perkampungan padat begini.

Ba’da maghrib ketika aku pulang kerja dan mampir ke sebuah warung, antusiasme warga menyambut kedatangan kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) dapat kurasakan. Bapak-bapak yang kebetulan berkumpul di warung itu, tengah membicarakan Ridwan Kamil. Anak-anak kecil yang tengah bermain dipelataran masjid pun juga tahu akan kedatangan Ridwan Kamil. “Eh, nanti ada Ridwan Kamil lho di tarawihan,” begitu kata salah satu dari mereka. Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo malam itu juga sepertinya penuh sekali. Ada muka-muka baru yang kulihat. Jamaah yang biasanya sholat di masjid lain, sepertinya khusus malam itu menyempatkan untuk mengikuti sholat Isya’ dan tarawih di sini.

Di awal ceramahnya beliau mengutip ayat perintah puasa, yakni Al-Baqarah 183. Lalu beliau juga mengutip beberapa ayat Ar-Rahman, mengingatkan jamaah akan betapa pentingnya untuk selalu bersyukur. Menyambung hal tersebut beliau mencoba mengaitkan bahwasannya tiket kebahagiaan itu tak ada hubungannya dengan jumlah kekayaan. Indonesia, walaupun secara GDP (Gross Domestic Product) masih kalah jauh dari negara-negara maju, tingkat kebahagiaannya atau yang dikenal dengan Happy Planet Index (HPI) pada tahun 2012 berada pada peringkat 12, di atas negara-negara maju. (bisa dilihat di sini: wikipedia)

Sebagai warga kota, tanggung jawab kita untuk menjaga kenyamanan kota. Jika kota tetap seperti itu-itu saja tidak mau berubah mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk, bukan tidak mungkin ketika kita baru keluar rumah, kemacetan sudah menunggu di depan. Kota yang nyaman salah satu indikatornya adalah warganya nyaman untuk bepergian ke luar rumah, tidak kena copet dan tidak takut kena macet.

Selanjutnya beliau menyinggung beberapa program beliau saat menjabat walikota. Pertama, Masjid-Net. Yakni, memasang wifi atau spot-spot internet di masjid-masjid. Ide di balik gagasan ini adalah untuk mengajak generasi muda yang saat ini haus akan informasi dan gemar mengakses internet untuk mengunjungi masjid. Daripada nongkrong-nongkrong tidak jelas dan tidak bermanfaat, dengan adanya akses internet di masjid ini akan menarik bagi mereka untuk ke masjid. Program itu selaras dengan keinginan beliau untuk memanfaatkan menara masjid sebagai menara untuk pemancar seluler juga. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebutuhan akan lahan untuk memasang menara seluler di kota Bandung. Beliau mengatakan bahwa beliau telah berkomunikasi dengan ketua umum MUI Bandung, bapak K.H. Miftah Farid terkait hal ini.

Program kedua adalah 1 kampung 1 taman bermain (aku tak ingat dengan pasti apakah beliau menyebut 1 RW atau 1 kampung). Idenya adalah dewasa ini anak-anak kita, terutama di pemukiman yang padat penduduk, sedikit sekali yang memiliki area lapang untuk bermain. Idealnya memang satu kampung memiliki satu area terbuka. Oleh karena itu, beliau akan meminta setiap kampung yang belum punya area terbuka tersebut untuk mengajukan kepada pemkot dan akan dibantu oleh pemkot untuk membebaskan lahannya. Range luas lahan itu sekitar 100-200 meter persegi. Sejauh ini sudah ada dua area lahan yang dibebaskan, salah satunya ada di Kopo.

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Program ketiga adalah anggaran 100 juta/RW/tahun. Untuk mendapatkan ‘jatah’ ini setiap RW perlu mengajukan proposal akan digunakan apa saja anggaran 100 juta itu. Terkait dengan program ini, di akhir pelaksanaan sholat Tarawih dan Witir Kang Emil mengadakan sesi bincang-bincang khusus untuk berinteraksi dengan warga sekitar setengah jam. Nah, di sesi tersebut itulah muncullah saran atau ide-ide kegiatan atau pengadaan fasilitas untuk memanfaatkan uang 100 juta itu. Dari ceramah dan sesi bicang-bincang itu, beliau menekankan harapannya agar warga Bandung dapat menjadi masyarakat madani, yakni masyarakat yang mampu menemukan solusi untuk permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Anyway, aku sangat antusias dengan acara seperti ini. Seorang pemimpin mendatangi warganya untuk secara langsung menyampaikan program-programnya sekaligus mendengarkan masukan-masukan dari warganya. Aku tak melihat adanya pencitraan di sini. Dari dulu sejak beliau belum menjadi walikota, sudah banyak kontribusi konkret yang beliau berikan untuk Kota Bandung ini pada khususnya. Semoga ini menjadi awal yang baik sebelum beliau resmi menjabat sebagai walikota per tanggal 16 September nanti. Semoga beliau tetap istiqomah dan amanah ketika menjalankan tugasnya. 🙂

Drawing Indonesia Open 2013

Gong pergelaran turnamen badminton Indonesia Open Premier Super Series 2013 tinggal menghitung hari. Kurang dari dua minggu lagi, atau tepatnya tanggal 10 Juni, babak kualifikasi akan menandai dimulainya turnamen super series dengan hadiah tertinggi nomor dua setelah Korea Open. Berbeda dengan pergelaran sebelum-sebelumnya dan turnamen super series lainnya, Indonesia Open 2013 akan berlangsung selama 7 hari di mana babak 32 besar akan dibagi pelaksanaannya ke dalam dua hari.

Rencananya, aku sendiri akan menyaksikan babak semifinal dan final turnamen Indonesia Open. Tiket Indonesia Open dapat dibeli secara online melalui situs Blibli.com.

Edisi Indonesia Open tahun ini akan terasa lebih spesial karena akan menjadi farewell tournament (turnamen perpisahan) bagi legenda bulutangkis kita, Taufik Hidayat. Yup, turnamen ini akan menjadi turnamen terakhirnya sebelum ia secara resmi akan gantung raket.

Pada sore hari kemarin (28/5) Badminton World Federation (BWF) telah melakukan drawing untuk Indonesia Open 2013. Dari hasil drawing tersebut tampaknya jalan yang akan dilalui Taufik tidak akan mulus. Taufik berpeluang bertemu Lin Dan, rival abadinya, di pertandingan pertamanya. Jika menang pun, Taufik akan berpeluang melawan Lee Chong Wei yang saat ini tengah menduduki peringkat 1 dunia. Jika Taufik bisa mengalahkan kedua rivalnya tersebut, tentu akan menjadi kenangan manis walaupun, seandainya, Taufik gagal menjadi juara di turnamen ini. Tapi bisa jadi sebaliknya, di penghujung karirnya, Taufik mencatatkan rekor terburuknya sepanjang sejarah Indonesia Open yang diikutinya.

Hasil drawing selengkapnya bisa diunduh melalui tautan ini.

Beberapa pertandingan yang menarik untuk dinantikan di babak 32 besar:

  • Tommy Sugiarto vs Chen Long [2] — partai ketiga dalam sebulan setelah dua pertemuan di Sudirman Cup. Mampukah kali ini Tommy melakukan revans? 
  • Lee Chong Wei [1] vs Wang Zhengming 
  • Lindaweni Fanetri vs Saina Nehwal [2] — Saina yang populer di kalangan fans Indonesia tentu kali ini tak akan mendapatkan dukungan itu saat melawan Linda yang merupakan tunggal putri nomor satu Indonesia saat ini.
  • Hiroyuki Endo/Kenichi Hayakawa [4] vs Mohammad Ahsan/Hendra Setiawan — Berharap Ahsan/Hendra sudah kembali ke performa terbaiknya untuk melawan sang unggulan ke-4.
  • Ricky Karanda/Muhammad Ulinnuha vs Kim Ki Jung/Kim Sa Rang [6] — Menantikan pembuktian apakah Ricky/Ulin sudah siap untuk menemani Rian/Angga sebagai ganda masa depan Indonesia
  • Nitya Krishinda/Greysia Polii vs Christinna Pedersen/Kamilla Rytter Juhl [3]
  • Ko Sung Hyun/Kim Ha Na vs Markis Kido/Pia Zebadiah — Duel sesama ganda campuran yang lagi naik daun
  • Xu Chen/Ma Jin [1] vs Irfan Fadhilah/Weni Anggraini
  • Sudket Prapakamol/Saralee Thoungthongkam [6] vs Riky Widianto/Richi Puspita

TVC Indonesia Open 2013:

Internetan di Malaysia dengan DiGi

Pada masa sekarang ini memang mau tidak mau harus diakui internet sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Apalagi ketika tengah berada di negeri orang (luar negeri maksudnya…). Dengan berlangganan paket internet, komunikasi online melalui aplikasi semacam WhatsApp, Line, BBM, Skype, atau instant messenger lainnya bisa jauh lebih murah dibandingkan melalui SMS atau phone call, apalagi untuk komunikasi internasional, yang tarifnya tentu lebih mahal.

Nah, di tulisan kali ini saya ingin sharing sedikit pengalaman menggunakan internet selama di Malaysia kemarin. Selama 4 hari di Malaysia kemarin saya berlangganan internet dengan menggunakan salah satu operator seluler lokal, DiGi. Tidak ada alasan yang terlalu khusus sih kenapa saya memilih operator ini. Cuma googling-googling aja terus entah kenapa banyak yang merekomendasikan DiGi. Katanya sih lebih murah dibanding operator lain. Tapi saya kurang begitu memperhatikan detail perbandingan tarif paket layanannya dengan yang lain.

Ketika turun dari area imigrasi bandara LCCT, di area pertokoan bandara kita akan menemui 3 kios operator seluler: Celcom, DiGi, dan Maxis. Banyak pilihan sih sebenarnya. Saya membeli kartu perdana (starter pack) DiGi seharga RM 26, dengan pulsa (balance) awal RM 21. Kartu perdana DiGi ini juga menyediakan SIM card ukuran micro.

baca juga : Internetan di Malaysia dengan Hotlink

Penjaga kios DiGi yang melayani saya ketika itu cukup kooperatif. Dia mau saja saya minta untuk menyettingkan paket internet. Sebenarnya ada beberapa macam paket internet yang ditawarkan oleh DiGi. Saya memilih paket daily internet dengan kuota sebesar 150 MB/hari, tarif RM 3/hari. Bagi saya itu sudah cukup sekali, toh ketika saya berada di kantor atau beberapa tempat publik tertentu, bisa menggunakan wifi. Lagipula yang saya butuhkan cuma browsing dan mengakses social media saja.

Oh ya, belakangan setelah itu, saya tahu untuk berlangganan (subscribe) paket internet DiGi bisa melalui *116#. Di sana akan ditampilkan menu berbagai macam data plan yang bisa kita pilih. Untuk menyetop layanan (unsubscribe) paket internet pun juga melalui nomor tersebut. Untuk mengecek sisa pulsa, bisa menekan *126#.

Kualitas layanan data DiGi di Kuala Lumpur dan sekitarnyaberdasarkan pengalaman saya cukup baik. Rata-rata dapat sinyal 3G atau HSDPA. Ya, memang ada beberapa lokasi yang hanya bisa menerima sinyal Edge saja.

Anyway, sekali lagi tulisan ini cuma bermaksud sharing saja. Tak ada maksud mengiklankan DiGi, hehe. Jadi kalau Anda pernah menggunakan operator yang lain, bolehlah di-share juga. 🙂

 

Daylight Saving Time

Ah, bodohnya saya baru ngeh tentang daylight saving time atau biasa disingkat dengan DST. Selama ini cuma sering dengar tanpa tahu maksudnya. Maklum, di Indonesia istilah ini tidak cukup populer karena memang tidak pernah menerapkannya.

Saya baru menyadarinya ketika kemarin mau menonton final turnamen Australia Badminton Open Grand Prix Gold 2013 via live streaming. Hari-hari sebelumnya selisih waktu antara WIT (West Indonesia Time) alias WIB (Waktu Indonesia Barat) dengan waktu lokal Sydney sebagaimana yang disebutkan oleh situs World Time Server adalah 4 jam.

Nah, seharusnya pukul 09.00 WIB atau 13.00 waktu lokal Sydney pertandingan final sudah dimainkan. Nyatanya sampai pukul 9 lewat, belum mulai juga. Setelah dicek lagi, eh ternyata selisih waktu Sydney dengan WIB berubah menjadi hanya 3 jam. Dari yang semula zona waktu Sydney adalah Australian Eastern Daylight Time (AEDT) GMT+11 berubah menjadi Australian Eastern Standard Time (AEST) GMT+10.

Setelah googling-googling, ternyata daylight saving time ini memang kebanyakan diterapkan di sebagian besar negara-negara yang berada di belahan bumi utara dan selatan, termasuk Australia itu. Sejarah latar belakang kenapa diterapkannya daylight saving time bisa dibaca di link ini. Daftar negara-negara di dunia mana saja yang menggunakan DST bisa dibaca di link ini. Uniknya ternyata Malaysia yang notabene masih berada di kawasan tropis pun pernah menerapkan sistem tersebut. Yakni, ketika masih menjadi wilayah koloni Inggris dan setelah merdeka, masih menggunakannya hingga tahun 1981.

Apai itu daylight saving time? Sederhananya, ketika masuk masa daylight saving time itu, jam kawasan setempat akan dimajukan sejam dan ketika masa daylight saving time berakhir, jam kawasan tersebut akan di-‘kembalikan’ alias mundur sejam. Sebagai ilustrasi, bisa dilihat di link berikut untuk kawasan Sydney dan sekitarnya.

Oh, jadi ngeh juga kenapa pada bulan April-September jadwal pertandingan sepak bola Eropa lebih awal sejam — menurut waktu di Indonesia dan juga negara-negara yang tidak menggunakan DST — dibandingkan dengan pada periode Oktober-Maret. Padahal sebenarnya jam pertandingan menurut waktu setempat mah tetap-tetap saja. 😀

Perubahan Jadwal Kereta Api Mulai 1 April 2013

Terhitung mulai tanggal 1 April 2013 kemarin, PT KAI telah menerapkan GAPEKA (Grafik Perjalanan Kereta Api) baru. Perubahan ini patut diperhatikan oleh para pelanggan layanan kereta api karena sebagian besar perjalanan mengalami perubahan jadwal yang selisih waktu keberangkatan dan kedatangan antara yang baru dengan yang lama bisa sangat drastis.

Contohnya KA Malabar yang kemarin saya tumpangi. Di GAPEKA lama kereta berangkat dari Malang pukul 15.45 dan tiba pukul 6.49 di stasiun Bandung. Nah, di GAPEKA baru kereta dijadwalkan berangkat dari Malang pukul 12.45 dan tiba pukul 04.10. Wew, selisihnya 3 jam lebih awal bukan?! Kalau sudah terbiasa dengan jadwal perjalanan yang lama dan tidak teliti dengan jadwal yang baru, bisa-bisa kita ketinggalan kereta atau datang terlalu dini di stasiun.

Untuk mengetahui GAPEKA yang baru — jadwal seluruh perjalanan kereta api jarak jauh di Sumatra dan Jawa, rekan-rekan bisa mengunduhnya di tautan berikut: http://www.kereta-api.co.id/ebook_infoka.html

GAPEKA 2013

GAPEKA 2013