Monthly Archives: December 2019

Naik Bus Pahala Kencana Bandung-Malang

Seperti yang sudah saya singgung di artikel sebelumnya, pada liburan Natal kali ini saya pulang kampung ke Malang dengan naik bus Pahala Kencana. Seumur-umur, ini kali pertama saya naik bus malam dari Bandung ke Malang.

Semasa kuliah dulu saya belum pernah sekalipun. Yang pernah hanyalah naik bus dari arah Malang ke Bandung-nya. Jadi perjalanan kali ini menjadi pengalaman baru bagi saya.

Bus Pahala Kencana yang saya tumpangi ini menurut jadwal seharusnya berangkat dari Pool Pahala Kencana di Jl. RE. Martadinata (alias Jl. Riau) pada pukul 13.00. Tapi bus baru datang sekitar pukul 13.25. Tapi bus tidak bisa langsung parkir di pool karena tak ada ruang.

Di depan kantor ketika itu sedang stand by 2 bus Pahala Kencana tujuan Palembang dan Blitar. Setelah bus Pahala Kencana tujuan Palembang berangkat, barulah bus Pahala Kencana tujuan Malang bisa masuk.

Bus Pahala Kencana tujuan Malang parkir di Pool Jl. Riau, Bandung

Para penumpang yang sudah ready di pool pun segera naik ke dalam bus, termasuk saya. Di dalam bus ada petugas yang “mengabsen” penumpang satu per satu. Tak lama kemudian setelah penumpang dipastikan lengkap, bus pun berangkat meninggalkan pool.

Kursi di dalam bus memiliki formasi 2-2 dengan jumlah 8 baris. Kursinya cukup nyaman, berupa reclining seat, bisa direbahkan ke belakang dan ada tatakan kaki yang bisa dinaik-turunkan.

Continue reading

Beli Tiket Bus di RedBus

Libur Natal kali ini sebenarnya saya tidak berencana pulang kampung. Tapi minggu kemarin ketika melihat kalender ternyata ada hari kecepit antara hari Minggu dan libur Natal, saya pun jadi berubah pikiran untuk pulang.

Sayangnya tiket kereta api sudah pada habis. Mau naik pesawat pun harga tiket sudah mahal. Akhirnya mencoba alternatif lain, yakni bus.

Saya jarang sekali naik bus malam jarak jauh. Dalam setahun bisa dihitung dengan jari. Terakhir kali naik bus jarak jauh rasanya tahun lalu.

baca juga: Beli Tiket Bus di Traveloka

Pada beberapa kesempatan terakhir, untuk urusan tiket bus ini biasanya saya membelinya di Traveloka. Tapi entah kenapa pada tanggal yang saya inginkan, daftar bus tujuan Bandung-Malang yang keluar di aplikasi Traveloka hanya ada PO. Gunung Harta. Itu pun sudah habis. PO. Pahala Kencana tidak ada.

Saya pun iseng mencari di aplikasi bus lainnya, yakni RedBus. Ternyata PO. Pahala Kencana ada di daftar hasil pencarian. Masih ada 3 kursi lagi yang tersisa. Alhamdulillah, batin saya.

Harga tiketnya ternyata naik. Seingat saya terakhir kali naik bus Malang-Bandung tahun lalu masih di kisaran Rp250.000-280.000. Sekarang menjadi Rp340.000. Mungkin karena bertepatan dengan libur Natal dan Tahun Baru juga.

Enaknya di RedBus ini ternyata sedang ada promo untuk pengguna baru (sampai 31 Desember 2019). Kebetulan saya baru kali ini pakai RedBus juga. Dengan memasukkan kode NEW pengguna baru akan mendapatkan diskon 50% (maksimal Rp80.000) dan cashback ke RedBus wallet sebesar Rp50.000. Waktu itu juga lagi ada promo cashback OVO 10% atau 20% gitu jadi saya mendapatkan OVO points 10.000. Alhamdulillah.

Memilih kursi ketika memesan tiket bus di RedBus

Ketika check-in naik bus, kita cukup menunjukkan e-ticket berupa PDF yang dikirim ke email. Atau bisa juga kita menginstal aplikasi RedBus dan menunjukkan e-ticket yang terdapat dalam aplikasi. Tidak perlu melakukan penukaran tiket atau nge-print segala. Saat istirahat makan prasmanan, kita pun juga cukup melakukan prosedur yang sama.

E-ticket dalam bentuk PDF dari RedBus

Di RedBus ini kalau saya lihat di webnya, ada fitur untuk ubah jadwal. Entah apakah berlaku untuk semua PO (Perusahaan Otobus) atau hanya PO tertentu saja. Saya belum mencobanya. Fitur ini belum tersedia di Traveloka saat terakhir kali saya membeli tiket bus di sana tahun lalu. Entah apakah saat ini sudah tersedia atau belum.

Cemoro sewu Gunung Lawu

Lari di Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu 20K (Part 2/2)

Minggu, 10 November 2019

Pukul 5 pagi saya keluar dari penginapan menuju ke pertigaan Sekipan. Niatnya hendak mencari tukang ojek untuk mengantarkan saya ke Cemoro Kandang, tempat Race Central. Tapi alhamdulillah nasib baik saya berjumpa dengan mobil pelari lain. Mereka menawari tebengan kepada saya.

Tanpa pikir panjang, saya menerima ajakan tersebut. Ada 3 pelari dalam mobil tersebut. Mereka berasal dari Surabaya. Di dalam mobil kami mengobrol ngalor-ngidul seputar pengalaman lari. Rupanya ini kali kedua mereka mengikuti ajang Goat Run di Lawu.

Menurut jadwal, Goat Run Lawu kategori 20K yang saya ikuti akan mengambil start pada pukul 7 pagi. Masih ada waktu sekitar 1 jam lebih sebelum start dilaksanakan. Saya memanfaatkan waktu tersebut dengan pemanasan dan mengobrol dengan beberapa pelari lain.

Goat Run Lawu
Puncak Gunung Lawu tampak dari garis start

Lari dimulai

Tepat pukul 7 race dimulai. Dari garis start rute langsung berbelok menuju ke arah pintu loket pendakian Cemoro Kandang. Beberapa pelari tampak langsung tancap gas. Saya berusaha sedapat mungkin menjaga jarak dengan pelari terdepan agar tidak ketinggalan terlalu jauh.

Melewati loket pendakian Cemoro Kandang

Di awal-awal, trek menanjak dengan elevation gain yang lumayan besar. Pada 3,5 km pertama kami sudah harus berlari dari ketinggian 1933 mdpl ke 2533 mdpl.

Shortcut

Saya berlari mengikuti marka-marka yang disiapkan panitia. Di awal saya selalu sabar mengikuti marka-marka tersebut walaupun saya melihat ada shortcut yang bisa diambil.

Tipikal jalur pendakian di gunung memang biasanya terdapat percabangan yang nantinya juga akan bertemu lagi. Di antara percabangan tersebut terdapat jalur yang lebih curam dan jalur yang lebih landai. Jalur yang diberi marka ini umumnya memiliki rute yang lebih landai tapi sedikit lebih panjang karena jalannya memutar.

Continue reading
Sekipan

Lari di Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu 20K (Part 1/2)

Seminggu setelah mengikuti lari lintas alam (trail running) di BTS Ultra 100 (ceritanya ada di sini), saya kembali mengikuti lari lintas alam lainnya di ajang Goat Run Lunar Series – Gunung Lawu. Ajang ini masih satu rangkaian dengan ajang yang saya ikuti di Gunung Salak 3 bulan sebelumnya. Kali ini ada 3 kategori yang diperlombakan, yakni 20K, 30K, dan 50K. Saya ikut kategori terpendek, 20K.

Transportasi

Gunung Lawu terletak di perbatasan Provinsi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Untuk melakukan pendakian di Gunung Lawu ini kita bisa melalui Tawangmangu, Karanganyar, Jawa Tengah atau Sarangan, Magetan, Jawa Timur.

Ajang Goat Run ini mengambil tempat start dan finish di Cemoro Kandang, Tawangmangu. Sementara untuk race pack collection dan race briefing-nya ada di Sekipan, Tawangmangu. Untuk mencapai Tawangmangu ini kota besar terdekat yang menjadi akses masuknya adalah melalui Solo.

Dari Bandung saya naik kereta api ke Solo via Semarang. Sangat tidak praktis sebetulnya via Semarang. Apa boleh buat, saya beli tiketnya mendadak dan dapatnya KA Harina jurusan Surabaya Pasar Turi via Semarang. Dari Semarang saya lanjut naik KA Kalijaga jurusan Solo Balapan.

Dari Stasiun Solo Balapan kemudian saya berjalan kaki melalui Sky Bridge ke Terminal Tirtonadi. Di Terminal Tirtonadi saya naik bus tujuan Tawangmangu.

Menunggu bus di Terminal Tirtonadi

Bus ini berukuran sedang. Kursinya dua-dua. Busnya tidak ber-AC. Perjalanan Solo-Tawangmangu dikenakan tarif sebesar Rp15.000.

Lama perjalanannya ketika itu kurang lebih 2 jam. Bus cukup sering berhenti menaikturunkan penumpang di tengah jalan. Perjalanan bus ini berakhir di Terminal Tawangmangu.

Suasana Terminal Tawangmangu

Race Pack Collection

Saya tiba di Terminal Tawangmangu sekitar pukul 15.15. Ketika itu cuaca tengah hujan deras. Sembari menunggu hujan reda, saya mampir makan dulu di warung soto yang berada di sebelah terminal. Murah saja semangkuk soto ayam dengan nasi hanya Rp7.000.

Continue reading
Berlari di BTS Ultra 100

Lari Lintas Alam 30K di BTS Ultra 100 (Part 2/2)

Minggu, 3 November 2019

Hujan yang turun sejak malam sebelumnya rupanya belum benar-benar berhenti. Suara hujan rintik-rintik masih terdengar di luar penginapan. Ketika itu jam menunjukkan jam 4 subuh. Di Cemoro Lawang ini, waktu subuh datang lebih awal, yakni jam 4 kurang.

Usai sholat subuh, saya berganti pakaian dan mempersiapkan gears yang perlu dibawa untuk race. Jam 5 pagi langit sudah terang. Saya pergi meninggalkan penginapan menuju Lava View Lodge, race central tempat garis start dan finish BTS Ultra 100 ini.

Baru setengah jalan, hujan mulai semakin deras. Saya pun mampir sejenak di sebuah kedai untuk mengenakan jas hujan. Baru setelah itu lanjut jalan kaki menuju race central.

Para pelari berteduh di Lava View Lodge menunggu hujan reda

Waktu Start Diundur

Hujan deras ini rupanya masih terus berlangsung hingga menjelang waktu start kategori 30K. Menurut jadwal, seharusnya kategori 30K start pada pukul 6 pagi. Mempertimbangkan kondisi cuaca yang kurang bersahabat serta beberapa titik rute lari terendam banjir, panitia memutuskan untuk menunda waktu start menjadi pukul 7 pagi.

Alhamdulillah sebelum jam 7, hujan sudah agak reda walaupun masih turun rintik-rintik kecil. Namun kondisi tersebut tidak menghalangi panitia untuk tetap melakukan start pada jam 7 pagi.

Para pelari bersiap di garis start

Garis Start-Puncak B29

Tepat pukul 7 pagi start untuk BTS Ultra 100 kategori 30K resmi dilaksanakan. Start bertempat di jalan aspal depan Lava View Lodge. Jalan aspal menanjak tapi landai langsung terhampar di hadapan.

Setelah itu kontur trek berikutnya berganti naik turun dengan kemiringan yang cukup landai. Treknya juga berganti dari aspal menjadi tanah.

Berlari menerobos kabut tidak jauh dari garis start

Trek berikutnya pada KM 2,7 hingga 4,3, peserta lari mulai menuruni tebing dinding kaldera hingga tiba di lautan pasir. Kondisi cuaca saat itu sangat berkabut.

Hujan masih terus turun. Bahkan sempat turun lebih deras. Di lautan pasir terdapat beberapa bagian jalan yang digenangi air.

Tiba di lautan pasir setelah menuruni tebing kaldera

Pendek saja jalur yang ditempuh di lautan pasir ini. Tak lama kemudian pada KM 5,6 para pelari harus kembali naik menyusuri tebing kaldera. Menurut catatan Strava saya, elevasi yang harus ditempuh adalah setinggi 530 meter.

Continue reading