Monthly Archives: February 2018

Pertama Kali ke Ranah Minang

Dua minggu lalu (10/2) untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Ranah Minang. Perjalanan saya ke Provinsi Sumatera Barat ini sebenarnya dalam rangka untuk datang ke resepsi pernikahan seorang sahabat masa kuliah saya dulu, Neo, di Padang.

Sekitar 2-3 minggu sebelumnya, Neo membagikan undangan via Whatsapp ke grup sahabat jalan-jalan masa kuliah kami dulu. Salah seorang kawan saya di grup tersebut, Rizky, kemudian melalui private message mengajak saya untuk menghadiri pernikahan Neo tersebut.

Tanpa pikir panjang, saya pun menyambut baik ajakan tersebut. Kapan lagi ada momen untuk pergi ke Tanah Minangkabau ini, pikir saya. Sudah lama sebetulnya saya penasaran ingin main ke sana.

Bagaimana tidak penasaran. Selama masa kuliah dulu beberapa kawan dekat saya banyak yang berasal dari sana. Sampai-sampai saya yang ketika tinggal di Malang bisa dihitung dengan jari berapa kali makan nasi Padang dalam setahun, sejak berteman dengan mereka, dalam seminggu minimal sekalilah makan nasi Padang. Hahaha.  Eh, ada hubungannya nggak ya? 😅

Karena itulah momen perjalanan ke Sumatra Barat ini pun, selain datang ke pernikahan Neo, juga saya manfaatkan untuk jalan-jalan mengeksplorasi Kota Padang. Rizky yang sebelumnya sudah pernah mengunjungi Sumatera Barat dalam rangka urusan pekerjaan merekomendasikan untuk sekalian mengunjungi ke Bukittinggi dan daerah sekitarnya.

Jadilah disepakati usai acara pernikahan Neo, saya dan Rizky langsung pergi jalan-jalan. Sebelumnya, di acara pernikahan Neo pun kami sudah menjajal beberapa kuliner khas Minang. Ada Sate Padang, Martabak Kubang, dan tentu saja Nasi Padang. Hehehe.

Untuk cerita jalan-jalan di Padang dan sekitarnya akan saya coba tulis terpisah di artikel berikutnya. Btw, selamat menempuh hidup baru Neo! Semoga sakinah mawaddah wa rahmah.

 

 

Advertisements

Menikmati Lemang To’ki di Bentong-Pahang

Dalam perjalanan pulang selepas mengikuti LDB International 2018 di Lurah Bilut, Ab mengajak saya untuk mampir makan siang di rumah makan yang sangat populer di Bentong, Pahang. Lemang To’ki namanya.

Siang itu Lemang To’ki tengah ramai dengan pengunjung. Kata Ab, kebanyakan orang yang singgah di sini adalah para traveler yang sedang melakukan perjalanan dari Kuala Lumpur ke Terengganu atau sebaliknya.

Lokasi Lemang To’ki ini memang persis berada persis di pinggir jalan utama Bentong yang merupakan jalan lintas negara bagian itu. Tempatnya sebenarnya agak terpencil. Jauh dari kota. Di sekelilingnya terdapat perkampungan dan juga hutan.

Salah satu yang membuat spesial tempat ini adalah di sini kita bisa melihat bagaimana lemang disiapkan secara langsung. Mulai dari beras ketan dibungkus dengan selembar daun pisang, dimasukkan ke dalam seruas bambu, sampai akhirnya kemudian bambu tersebut dibakar hingga matang.

Bambu-bambu berisi lemang tengah dibakar

Bambu-bambu berisi lemang tengah dibakar

Sesuai namanya, menu utama yang ditawarkan di Lemang To’ki ini adalah lemang, yang disajikan dengan beberapa macam pilihan lauk. Saya memesan 1 set lemang dengan rendang daging. Harganya cukup bersahabat, yakni RM4,50 saja.

Selain lemang, ada menu lain juga yang tersedia. Kalau melihat tempat pembakarannya, tampak ada ikan, ayam, dan daging yang tengah dibakar juga.

Harga menu Lemang To'ki

Harga menu Lemang To’ki

Selain makanan, di sana juga menyediakan beraneka macam minuman. Saya memesan es cendol untuk dinikmati bersama dengan lemang. Cocok sekali untuk suasana siang itu yang memang sangat terik.

Lemang + rendang daging dan es cendol

Lemang + rendang daging dan es cendol

Secara penampilan lemang ini mungkin mirip lemper kalau di tempat saya. Bedanya kalau lemper ada isi daging ayamnya, kalau lemang hanya nasinya saja. Kalau lemang dimakan sendirian tanpa lauk pendamping rasanya menjadi hambar.

Setelah mendapatkan meja kosong untuk duduk, saya pun tak sabar untuk segera menyantap lemang ini selagi masih hangat. Daun pisang yang membungkus lemang saya kelupas secara perlahan.

Total ada 4 potong lemang kecil-kecil. Saya lahap satu-persatu bercampur dengan potongan daging rendang dalam satu suapan. Ahh… sedapnya. Aroma daun pisang yang panas akibat pembakaran bambu tadi ikut meresap dalam lemang tersebut. Kombinasi antara lemang dengan rendangnya juga pas banget. Rasanya mantap.

Lemang + Rendang Daging

Lemang + Rendang Daging

Lemang ini mengingatkan saya dengan penganan sejenis yang berasal dari Kota Batu. Yakni, Pos Ketan Legendaris yang berlokasi di kawasan Alun-Alun Kota Batu itu. Kalau di sana beras ketan yang dimasak saya nikmati bersama durian (dan kuah durian) yang manis, di sini dinikmati bersama rendang yang rasanya asin. Dua-duanya sama-sama sedap.

 

 

 

Trail Run di LDB International 2018

Tiga hari setelah naik Gunung Angsi, saya diajak Ab untuk mengikuti event trail run bertajuk LDB International 2018 – Trail Run & MTB. Event tersebut diselenggarakan oleh Felda (Federal Land Development Authority) di Lurah Bilut, Bentong, Pahang. Sesuai namanya, event ini tidak hanya memperlombakan trail run saja, tetapi juga MTB.

Ini untuk pertama kalinya saya pergi ke Negara Bagian Pahang. Perjalanan ke sana ditempuh selama kurang lebih 2 jam dari Kuala Lumpur. Di Lurah Bilut inilah saya melihat gambaran pedesaan di Malaysia, yang selama ini dengan Kuala Lumpurnya, lebih dikenal dengan banyaknya gedung bertingkat.

Pada event ini, peserta MTB mendapatkan privilege untuk mulai jalan terlebih dahulu, yakni pukul 8 pagi, dan menempuh jarak 30 km. 15 Menit kemudian peserta trail run menyusul dengan menempuh rute lebih pendek, yakni 12 km.

 

Walaupun namanya trail run, kalau dihitung secara kasar, mungkin proporsinya 50% lari di jalan beraspal dan 50% lainnya baru lari di trail, tepatnya di kawasan ladang kelapa sawit yang dikelola oleh Felda. 

Meskipun demikian, rute yang dilalui cukup berat bagi saya.Apalagi saya sudah lama tidak rutin berlari. Cukup banyak tanjakan dan turunan sepanjang rute ini. Selain itu, tak jarang rute melewati tanah berlumpur dan tergenang air sehingga harus melaluinya secara pelan-pelan.

Saya sendiri akhirnya finish di urutan 116 dari 300-an peserta. Jarak yang hampir 12 km tersebut saya tempuh dalam masa kurang lebih 1 jam 20 menit.

Medali Trail Run LDB International 2018

Medali Trail Run LDB International 2018

Dari segi penyelenggaraan event, saya cukup puas sih. Dengan biaya pendaftaran RM50, dapat goodie bag dan kaos yang bahannya juga ok banget menurut saya. Persediaan air minum selama berlangsungnya event juga mencukupi. Usai lari pun peserta juga mendapatkan menu makanan berat. Worth the price lah.

(Nyaris) Kehilangan Paspor

Masih menyambung tulisan sebelum ini. Siang itu, selepas pulang dari main ATV, kami mampir ke Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights untuk melaksanakan sholat Dhuhur sekaligus bersih-bersih diri.

Kami bergantian menggunakan toilet surau yang memang hanya ada 2 saja. Usai bersih-bersih diri, saya dan Kun masuk ke dalam surau untuk melaksanakan sholat Dhuhur.

Selesai sholat Dhuhur, saya memindahkan barang-barang saya dari tas Ab yang saya pinjam. Barang-barang Kun yang ikut dititipkan dalam tas Ab tersebut pun diambilnya.

Sampai di situ saya pikir semua barang punya saya sudah saya pindahkan ke tas saya. Namun rupa-rupanya, ketika saya tiba di hotel untuk check-in dan harus menunjukkan paspor, saya tidak menemukan paspor di dalam tas saya. Saya pun panik kalang kabut.

Semua tas sudah saya geledah, tetapi tidak ada penampakan paspor saya sama sekali. Saya pun menghubungi Ab untuk menanyakan apakah ia melihat paspor saya di dalam tasnya yang saya pinjam. Ternyata tidak ada.

“Deg-deg… deg-deg… deg-deg…”

Dada saya berdegup karena mulai Continue reading

ATV Kg. Jkin

Main ATV di Kg. Jkin

Bersambung dari tulisan sebelumnya. Usai mendaki Gunung Angsi, kami segera beranjak pergi menuju ATV Kg. Jkin Extreme Park, Seremban, Negeri Sembilan. Lokasinya tidak jauh dari Ulu Bendul, tempat pintu masuk Gunung Angsi. Mungkin hanya 5-10 menit saja perjalanan ke sana.

Di Kg. Jkin ini kami berjumpa lagi dengan 4 kawan Ab dan DJ yang telah menunggu. Sayangnya kali ini saya tak ingat siapa saja namanya, hahaha.

Untuk main ATV di Kg. Jkin ini memang disarankan untuk booking sebelumnya karena kuota yang memang cukup terbatas dan peminat yang banyak. Terutama ketika hari libur. Dalam setiap satu batch sesi berkendara ATV kurang lebih tersedia slot untuk 12 orang. Setiap sesi kurang lebih berlangsung selama 45 menit-1 jam.

DJ sudah booking sejak beberapa hari sebelumnya. Jadi ketika kami datang, tinggal daftar ulang dan menunggu giliran saja. Ada form mengenai data diri yang harus diisi oleh setiap orang.

Foto bersama sebelum bermain ATV

Foto bersama sebelum bermain ATV (photo credit: DJ)

Setelah menunggu kurang lebih selama 1 jam, akhirnya giliran kami tiba juga. Terus terang ini pertama kalinya saya berkendara ATV. Agak kagok juga awalnya. Mirip Continue reading

Mendaki Gunung Angsi

Hari Rabu minggu lepas (31/1) di Malaysia merupakan hari libur nasional dalam rangka Hari Thaipusam. Ketika itu kebetulan saya tengah berada di Malaysia.

Saya bersama kawan saya, Kun, diajak oleh kenalan kami di Kuala Lumpur, Ab, untuk pergi hiking ke Gunung Angsi, Negeri Sembilan, bersama teman-temannya. Tentu saja kami menyambut dengan senang hati ajakan tersebut.

Pukul 4 pagi Ab datang menjemput kami di KL Sentral. Kami pergi bersama menuju McDonald’s Bandar Seri Putera. Tempat tersebut adalah meeting point kelompok hiking kami pagi itu. Di sanalah pula saya berkenalan dengan DJ, Zu, Farihah, Arif, dan Faridah, kawan-kawan Ab dalam pendakian ini.

Kami sempat menikmati sarapan di McDonald’s tersebut. Usai sarapan kami pergi menuju Surau Ibnu Khaldun di Lavender Heights. Kami mampir untuk melaksanakan sholat subuh di sana sekitar pukul 6.30.

Kemudian melanjutkan perjalanan kembali menuju Ulu Bendul, pintu masuk Gunung Angsi di Kuala Pilah. Kurang lebih 10 menit saja dari Lavender Heights itu.

kabut di gunung angsi

Pepohonan berkabut di kawasan pintu masuk Gunung Angsi

Suasana pepohonan dengan penuh kabut menyambut kami. Sementara itu, langit di ufuk timur berwarna merah merekah menandakan posisi matahari perlahan mulai naik meninggalkan garis cakrawala.

Tiket masuk kawasan Gunung Angsi ini adalah 5 Ringgit saja per orang. Setiap orang juga diharuskan Continue reading