Tag Archives: bandung

Hujan yang Dinanti Pun Mulai Tiba

Aku tak ingat kapan terakhir kali hujan turun tiba di Bandung. Rasanya sudah lama sekali. Tak hanya Bandung, di berbagai daerah di Indonesia pun juga mengalami hal yang sama. Sungguh kemarau yang cukup panjang.

Jikalau kita mengikuti berita-berita di media massa kita juga akan mendapati bahwa kemarau panjang ini memiliki dua dampak utama yang merugikan, yakni persediaan air yang menipis dan produksi pangan yang menurun. Sungguh beruntung kita yang berada di kota-kota besar ini masih merasakan pasokan air dari PDAM. Namun, keadaan kurang beruntung dirasakan oleh saudara-saudara kita yang berada di daerah.

Di Prambanan, Yogyakarta warga kesulitan air bersih. Di Lebakbarang, Pekalongan malah lebih parah. Akibat debit air sungai yang menyusut, warga di sana tidak dapat menerima pasokan listrik dari pembangkit lisrik tenaga mikro hidro (PLTMH) di daerah mereka. Dan masih banyak lagi cerita tentang krisis air dan produksi pertanian menurun di negeri ini yang bisa kita temukan di berbagai media massa.

Setelah 3 bulan tak didatangi hujan, pada tanggal 30 Agustus lalu, masyarakat sekitar kawasan Tangkuban Parahu melakukan sholat Istisqo di sekitar kawah Ratu untuk meminta hujan. Subhanallah, keesokan harinya Bandung diguyur hujan. Setelah itu sempat tidak turun hujan lagi selama kurang lebih seminggu. Namun, dalam dua hari terakhir ini alhamdulillah hujan turun lagi.

Di dalam Islam sendiri kita diajarkan untuk selalu mensyukuri hujan yang turun dan berdo’a salah satunya dengan do’a berikut:

اللَّهُمَّ صَيِّبًا نَافِعً

“Ya Allah, (jadikan hujan ini) hujan yang membawa manfaat (kebaikan).”

Ya, kita selalu berdoa dan mengharapkan hujan yang turun adalah hujan yang membawa kebaikan bukan musibah seperti badai atau banjir. Tapi tentunya kita harus meyakini bahwasannya setiap tetes air hujan itu merupakan rahmat dari Allah dan semua ketetapan akannya merupakan yang terbaik untuk kita.

أَفَرَأَيْتُمُ الْمَاءَ الَّذِي تَشْرَبُونَ (68) أَأَنْتُمْ أَنْزَلْتُمُوهُ مِنَ الْمُزْنِ أَمْ نَحْنُ الْمُنْزِلُونَ (69)

“Maka terangkanlah kepadaku tentang air yang kamu minum. Kamukah yang menurunkannya atau Kamikah yang menurunkannya?” (QS. Al Waqi’ah [56] : 68-69)

Adapun ketika turun hujan lebat, kita bisa membaca doa seperti yang dicontohkan oleh Nabi:

اللَّهُمّ حَوَالَيْنَا وَلَا عَلَيْنَا,اللَّهُمَّ عَلَى الْآكَامِ وَالْجِبَالِ وَالظِّرَابِ وَبُطُونِ الْأَوْدِيَةِ وَمَنَابِتِ الشَّجَرِ

“Ya Allah, turunkanlah hujan di sekitar kami, bukan untuk merusak kami. Ya Allah, turukanlah hujan ke dataran tinggi, gunung-gunung, bukit-bukit, perut lembah dan tempat tumbuhnya pepohonan.”

Subhanallah, itulah indahnya Islam. Untuk urusan hujan pun juga ada tuntunan terhadapnya.

Berkunjung ke Negeri Ringgit (Lagi)

Malaysia

Malaysia

Hari ini — tepatnya pagi tadi pukul 8.30 — aku berangkat dari Bandara Husein Sastranegara, Bandung menuju Kuala Lumpur LCCT, Malaysia dengan menumpang pesawat AirAsia. Beda dengan keberangkatan aku sebelumnya ke Malaysia yang bersama Jiwo, kali ini aku harus terbang sendirian ke Malaysia. Benar-benar pengalaman pertama berpergian naik pesawat sendiri, dan juga pengalaman pertama ke luar negeri sendiri. Untungnya aku sudah paham prosedur check-in dan berhadapan dengan pihak keimigrasian. Selain itu aku juga masih ingat bagaimana mencapai KL Sentral dan beberapa tempat di Kuala Lumpur setibanya di Bandara Kuala Lumpur.

Sebuah tantangan sih sebenarnya berada di negeri orang sendirian tanpa ada yang memandu. Aku harus aktif bertanya kepada orang lokal atau memahami berbagai papan informasi yang dipasang di setiap tempat.

Aku masih sering kagok di sini. Walaupun bahasa Malaysia dan bahasa Indonesia mirip-mirip, tapi ada beberapa kata yang aku harus mikir dulu arti kata itu apa dan apakah mereka ngerti kata dalam bahasa Indonesia yang aku ucapkan. Seperti kata ‘kamar’. Mereka menyebutnya ‘bilik’. Terus tempat tidur atau kasur, mereka menyebutnya ‘katil’. Akhirnya, terpaksa harus dicampur dengan bahasa Inggris untuk beberapa kata yang aku atau mereka tak familiar dengan kata-kata dalam bahasa asli masing-masing.

Amcorp Mall

Amcorp Mall

Oh ya, tentang tempat makanan baru, kali ini aku mencoba makan di food court yang ada di lantai bawah Amcorp Mall, yakni di Restoran Al-Hayat. Menunya nasi paprik kantonis (RM 6.10) dan teh ais (RM 1.40). Mahal juga ya. Kalau malam, memang susah sih nyari makanan di Petaling jaya — kawasan tempatku menginap — yang harganya sekelas harga menu warung.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 3] — Snorkeling

Minggu, 9 Oktober 2011

5.00. Keinginan untuk melihat sunrise tiba-tiba surut. Gara-garanya aku bangun kesiangan atau bahasa Jawanya itu kerinan. Jam 5 pagi di sana itu langit sudah mulai agak terang. Sementara untuk melihat sunrise, aku harus pergi ke arah timur pulau yang jaraknya cukup jauh dari tempat penginapan ini. Belum lagi badan pegal-pegal dari aktivitas sehari sebelumnya, membuat diri ini malas gerak, hahaha. Yang lain pun setali tiga uang.

6.00. Sesuai rencana sebelumnya, pagi jam 6 kami sudah harus bersiap-siap untuk pergi snorkeling. Kami sudah meminta tolong kepada Pak Manshur untuk mengurusi akomodasi yang diperlukan untuk snorkeling. Sewa kapal ke tempat snorkeling Rp300.000 dan perlengkapan snorkeling per orang adalah Rp35.000 yang terdiri atas kaki katak, kacamata dalam air, dan selang pernafasan.

Setelah semuanya selesai diuruskan oleh Pak Manshur, kami pun berangkat menuju tempat persewaan perlengkapan itu dan lanjut ke dermaga Pulau Tidung. Di sana telah merapat beberapa kapal atau perahu yang siap mengantarkan para wisatawan yang akan snorkeling.

7.15. Sampai juga akhirnya di tempat snorkeling. Perjalanan dari Pulau Tidung ke tempat snorkeling ini kira-kira sekitar 20-30 menit. Dalam perjalanan tadi menuju tempat snorkeling kami sempatkan untuk mengisi perut terlebih dahulu dengan memakan nasi uduk bungkusan yang sudah disediakan oleh Pak Manshur. Jadi kami tidak perlu khawatir kehabisan energi saat snorkeling :D. Ya, biaya sewa kapal ini sudah termasuk sama nasi bungkus yang disediakan oleh Pak Manshur.

Tempat yang kita tuju ini bisa dikatakan sebagai sebuah pulau batu karang. Pulau ini bukan tersusun dari tanah, tapi batu-batu karang yang menumpuk hingga ke permukaan sehingga tampak seperti sebuah pulau.

Tentu saja kami tidak snorkeling di “pulau” itu. Tapi kami snorkeling di jarak sekitar belasan sampai dua puluhan meter dari sanalah. Lautnya tidak dalam, mungkin rentangnya mulai dari 2-5 meter. Selain itu arus lautnya juga tenang. Jadi bagi mereka yang belum bisa berenang pun bisa melakukan snorkeling dengan santai di sini.

Pemandangan bawah air lumayan mengagumkan. Pemandangan yang sebelumnya hanya bisa kulihat dari televisi atau internet kali ini benar-benar tampak di depan mataku. Memang, pemandangannya tak seindah taman laut bunaken yang banyak karang dan ikan berwarna-warni. Karena tempat yang kupilih lautnya dangkal jadi hanya terdapat banyak karang dan sedikit ikan. Kalau mau tempat yang banyak ikannya memang sebaiknya memilih tempat yang arusnya deras.

Rizky siap snorkeling

Rizky siap snorkeling

Sayang sekali tidak ada yang memiliki kamera bawah air di antara kami. Selain itu, fotografer-fotografer handal kami, Rizky dan Jiwo, juga tidak membawa kameranya ke tempat snorkeling, tidak juga di dalam kapal. Untung saja, ada kamera HP si Adi saat itu satu-satunya yang available. Sebenarnya ada sih papan yang dipasang di salah satu rumah yang bilang menyediakan kamera underwater. Kalau tidak salah harga sewanya Rp35.000. Tapi kurang tahu juga itu sewanya untuk berapa lama.

Kurang lebih ada hampir dua jam lah kami snorkeling. Sebenarnya kami dikasih waktu hingga jam 11. Tapi ternyata dua jam itu juga sudah jauh lebih dari cukup. Rata-rata rombongan selain kami malah cuma sekitar sejam lah maksimal snorkeling di sana. Bahkan ada yang datangnya sesudah kami, tapi baliknya duluan.

Bosan juga sih memang lama-lama. Apalagi tidak ada kamera untuk foto-foto di dalam air, hahaha. Seandainya ada kamera underwater, mungkin bakal lebih lama lagi. Soalnya kan sayang biaya sewanya, hehehe.

Snorkeling

Snorkeling

9.45. Sampai juga di penginapan lagi. Di meja makan ternyata sudah tersedia beberapa potong buah semangka dan seteko air teh manis, dan disediakan termos es batu pula. Alhamdulillah … berarti sudah dua kali kami dibuatkan air teh manis ini. 🙂

Makan mie instan

Makan mie instan

Masih ada beberapa bungkus mie instan dan beberapa telur yang menganggur. Rencananya, kami semalam sebenarnya mau makan mie rebus saja sebelum rencana itu tidak jadi karena tuan rumah tiba-tiba memberi kami makan malam nasi ikan pepes. Nah, rencananya mie instan itu akan kami masak setelah snorkeling. Ya, kami lapar dan kami ingin makan lagi, hehehe. Tiba-tiba seorang ibu — sepertinya pembantu keluarga Pak Manshur — datang untuk menawarkan untuk memasakkan mie instan kami. Bingo, anak-anak pun minta tolong dan berterima kasih kepada ibu tersebut. Dasar mahasiswa, wkwkwk. 😆

Main kartu

Main kartu

11.00. Yeah, It’s time for packing! Rencananya kami jam 12 akan cabut dari penginapan untuk balik ke Jakarta. Menurut jadwal, kapal yang akan kami tumpangi balik ke Jakarta akan berangkat pukul 13.00.

Beberapa orang mulai mengemasi barang-barang. Ada yang mandi. Ada yang sholat Dhuhur. Ya, jam setengah dua belasan, di sana sudah adzan Dhuhur. Beberapa anak lagi masih tampak asyik bermain kartu sambil mengantri giliran mandi atau menunggu yang lain selesai berkemas.

12.20. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang di dermaga Pulau Tidung. Karcis kapal sudah dibelikan oleh Pak Manshur. Enaknya, kami hanya membayar Rp25.000 untuk balik ke Jakarta ini. Tarif normal seharusnya Rp33.000. Lumayanlah dapat kortingan. Baik banget memang Pak Manshur ini :D. Makanya sebelum kami pulang, kami berfoto bersama dulu dengan Pak Manshur sebagai kenang-kenangan atas perjalanan kami selama di Pulau Tidung ini.

Foto bersama dengan Pak Manshur

Foto bersama dengan Pak Manshur

Kami harus menunggu beberapa menit kapal datang. Kapal yang akan kami tumpangi ini adalah KM. Cahaya Laut. Ratusan orang sudah menunggu di tepi dermaga. Banyak sekali ya yang akan balik siang ini. Bakal sepi dong Pulau Tidung habis ini :(.

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Luthfi, Kamal, Neo terlelap

Kapal yang ditunggu akhirnya beberapa saat kemudian datang juga. Orang-orang berebutan masuk ke dalam. Walaupun berebutan tapi tidak seperti pengalamanku berebutan naik kereta ekonomi yang sampai senggol-senggolan. Karena kalau sampai tersenggol di sini, siap-siap jatuh ke laut, hihihi.

Pukul 12.50 kapal sudah diberangkatkan. Kondisi kapal saat itu benar-benar penuh. Tidak butuh waktu lama kapal untuk merapat di dermaga. Setelah kapal penuh, kapal langsung segera diberangkatkan. Perjalanan kurang lebih selama 3 jam sudah menunggu di depan. Orang-orang seperti tampak sudah kelelahan. Ya, lelah karena aktivitas-aktivitas plesir yang mereka lakukan selama di Pulau Tidung. Tak heran jika banyak dari mereka yang terlelap sepanjang perjalanan kapal menuju pelabuhan Muara Angke, Jakarta.

15.45. Kapal telah sampai dan merapat di dermaga Muara Angke. Perjalanan belum berakhir. Ini Jakarta bung, bukan Bandung. Kami pun segera turun dan mencari taksi untuk menuju stasiun Gambir. Taksi di Muara Angke membandrol mahal untuk tarif ke stasiun Gmabir, Rp80.000. Padahal dari pengalaman Neo sebelumnya naik taksi yang menggunakan argo, habisnya cuma Rp50.000.

Kami pun mencari taksi di luar pelabuhan. Dapat juga akhirnya taksi yang mau menggunakan argo. Sial bagi kami, sore itu Jakarta macet luar biasa, padahal hari itu hari Minggu. Mulai Mangga Dua sampai Gambir kondisi jalan raya adalah padat merayap. Kami baru sampai di stasiun pukul setengah 6 menjelang maghrib.

Sialnya lagi, tiket kereta Argo Parahyangan kelas bisnis sudah habis. Tinggal yang eksekutif saja. Itupun harganya Rp80.000, luar biasa mahal bagi kami. Akhirnya, kami mencari mobil-mobil carteran yang ada di area stasiun Gambir. Nego, nego, nego, akhirnya dapat mobil yang mau mengantar kami sampai ke Dago, Bandung, dengan kesepakatan harga Rp420.000 termasuk biaya tol. Lumayanlah bagi bertujuh, berarti satu orang kena Rp60.000. Oh ya, di Jakarta ini kami harus berpisah dengan Neo dan Luthfi yang akan tetap stay di Jakarta dulu untuk beberapa hari tinggal bersama keluarganya. Jadi yang balik ke Bandung, tinggal bertujuh.

20.30. Alhamdulillah sampai juga di Bandung. Benar-benar perjalanan yang menyenangkan. Boleh dibilang dua hari di Pulau Tidung adalah dua hari pelarian kami dari penatnya rutinitas kami di Bandung, hihihi. Ceileee … bahasanya :D.

Boleh dibilang tajuk jalan-jalan kami dua hari itu adalah “Weekend Escape to Tidung Island”. Mantap kan? Ya, rencana backpacking ke Karimun Jawa terpaksa batal dan diganti dengan jalan-jalan ke Pulau Tidung karena dirasa lebih possible buat dilakukan mengingat kesibukan kami yang sudah mulai berbeda satu sama lain. Mudah-mudahan ada kesempatan lain bagi kami untuk backpacking lagi ke tempat lain menikmati indahnya alam ciptaan Alloh ini.

Catatan Perjalanan Pulau Tidung [Hari 1] — Berangkat ke Jakarta

Kali ini aku ingin bercerita tentang jalan-jalan yang kulakukan bersama 8 orang teman ke Pulau Tidung, Kepulauan Seribu, pada tanggal 7-9 Oktober kemarin ini. Sebelumnya aku sudah pernah bercerita tentang perjalanan tur ke Sukabumi dan Ciamis. Di tulisan tersebut aku menyebutkan bahwa ada 13 orang yang ikut tur itu. Kini dari 13 orang itu, ada 9 orang yang ikut jalan-jalan ke Pulau Tidung ini. Mereka adalah Kamal, Adi, Khairul, Rizky, Haryus, Jiwo, Neo, Luthfi, dan tentu saja aku.

Nah, Aku mencoba berbagi pengalaman ini dengan menuliskannya dalam bentuk itinerary per hari.

Jumat, 7 Oktober 2011

18.45. Sesuai rencana awal, kami janjian untuk langsung bertemu saja di stasiun Hall Bandung pukul 19.00. Tiket KA Argo Parahyangan kelas bisnis sejumlah 9 buah sudah dibeli sehari sebelumnya.

Aku, Kamal, Khairul, Adi, dan Haryus telah bersiap-siap di kontrakan Padepokan Sandal 36B. Kami akan berangkat bersama menuju ke stasiun dengan menumpang angkot Cisitu-Tegal lega. Sementara yang lain telah bersiap-siap di tempat masing-masing.

19.25. Kami semua telah berkumpul di stasiun Hall Bandung. Menurut jadwal, kereta akan berangkat pada pukul 20.05. Sambil menunggu keberangkatan kami menunaikan sholat Isya’ dahulu di mushola depan stasiun. Sebagian ada juga yang makan malam.

19.55. Kami semua sudah berada di dalam kereta menunggu keberangkatan. Tiba-tiba terjadi kepanikan di antara kami karena 2 dari 9 tiket yang kami beli ternyata salah tanggal keberangkatan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun turun dari kereta menuju kantor PPKA untuk meminta ganti tiket yang salah tanggal. Petugas KA sempat bergeming untuk tidak mau memberikan ganti tiket karena menganggap ini kesalahan kami yang tidak memeriksa lagi tanggal pada tiket yang tercetak.

Sementara itu, sambil menunggu masalah terselesaikan, petugas KA itu meminta perjalanan kereta untuk ditunda beberapa menit. Akhirnya, petugas KA itu pun mengalah dengan memberikan kami surat keterangan yang menyatakan bahwa tiket kami yang salah tanggal tadi tetap berlaku untuk perjalanan kereta hari itu. Mereka juga meminta maaf karena kesalahan pegawai mereka dalam mencetak tiket. “Maklum, pegawai kami itu masih baru,” kata petugas itu.

Masalah pun terselesaikan. Neo, Luthfi, dan Haryus pun kembali ke dalam kereta. Sejumut kemudian kereta diberangkatkan. Sepanjang perjalanan beberapa orang bermain kartu di dalam kereta. Sementara itu, aku memilih untuk tidur me-recharge energi saja. 😀

Main kartu di dalam kereta

Main kartu di dalam kereta

23.30.  Pukul 23.30 kami tiba di stasiun Gambir. Suasana stasiun Gambir malam itu sangat lengang. Maklum saja, kereta kami adalah kereta terakhir yang datang pada hari itu. Setelah kereta kami, tidak ada kereta lain yang berangkat atau tiba di stasiun Gambir lagi.

foto berlatar belakang tugu monas

foto berlatar belakang tugu monas

Menurut rencana, kami akan berangkat ke Pulau Tidung dengan menumpang kapal motor (KM) dari dermaga Muara Angke, Jakarta Utara, pada pagi harinya. Oleh karena itu, kami pun terpaksa menginap di stasiun untuk menunggu datangnya pagi.

Sambil mengisi waktu, anak-anak kembali bermain kartu lagi. Sebagian ada yang tidur-tiduran atau bahkan tidur benaran. Sebagian lagi ada yang jalan-jalan melihat-lihat stasiun Gambir. Kami juga menyempatkan untuk berfoto-foto di stasiun dengan mengambil latar belakang Tugu Monas di malam hari. Cantik sekali pemandangan malam itu.

 

Tugu Monas

Tugu Monas di foto dari stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Menginap di stasiun Gambir

Jogging Pagi Kontrakan—Alun-Alun Bandung

Akhirnya dengan “susah payah” rencana jogging pagi dari kontrakan menuju alun-alun kota Bandung via balai kota dan Braga terwujud juga :). Alasan kenapa aku tambahkan keterangan “susah payah” karena rencana sebelum-sebelumnya cuma berakhir menjadi sebuah kebambangan alias hoax. Yup, sudah beberapa minggu yang lalu sebenarnya aku dan dua teman sekontrakanku berencana untuk jogging pagi ke Braga, tapi selalu gagal karena susahnya anak-anak bangun subuh-subuh karena kebiasaan begadang malamnya.

Malam kemarin aku minta mereka termasuk aku tidur cepat agar bisa berangkat jogging habis subuh. Kenapa harus berangkat habis subuh, ya karena jalanan pada jam segitu masih sepi-sepinya, jadi kami bisa leluasa untuk jogging tanpa harus berhenti lari.

Kami berangkat dari kontrakan pukul 5 lewat 15 menit. Sebenarnya ini sudah termasuk siang dan lewat dari target untuk berangkat pukul 5 tepat. Langit juga sudah mulai terang dan jalanan mulai bermunculan kendaraan yang lalu lalang. Jogging pagi hari ini kami mengambil rute Sangkuriang-Tamansari-Purnawarman-Balai kota-Braga.

Orang-orang jogging di area balai kota

Orang-orang jogging di area balai kota

Dalam rute perjalanan itu kami menyempatkan mampir ke dalam area lingkungan balai kota Bandung. Masak sudah 4 tahun menetap di Bandung nggak pernah main-main ke dalam areanya, hihihi. Sebenarnya karena kami melihat banyak orang yang juga berolahraga di sana sih, jadi mumpung ramai main-main ke sana saja sekalian foto-foto.

Setelah puas foto-foto dan lari mengelilingi area balai kota serta menikmati udara sejuk dan asrinya pepohonan di sana, kami melanjutkan perjalanan lagi ke Braga. Langit sudah semakin terang. Jalanan pun semakin ramai. Jam sudah menunjukkan waktu sekitar pukul 6.15.

Jalanan Braga yang lengang

Jalanan Braga yang lengang

Akhirnya sampai juga di Braga. Kami pun berfoto-foto sejenak di sana sambil menikmati jalanan Braga yang agak lengang. Kawasan Braga ini memang terlihat sangat bersih dan trotoarnya pun nyaman untuk dilalui oleh pejalan kaki, tidak seperti beberapa trotoar di tempat lain. Selain itu, trotoarnya juga cukup lebar.

Awalnya niat kami hanya jogging pagi sampai jalanan Braga saja. Tapi kami merasa kurang puas. Cieee… pakai acara nggak puas-puasan segala ini anak-anak. Kami pun melanjutkan langkah kami menuju ke alun-alun kota melalui jalanan Asia-Afrika tentunya.

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Tiang-tiang bendera Gedung Merdeka

Di sekitaran gedung Asia-Afrika lagi-lagi anak-anak berhenti untuk foto-foto kembali. Jalanan Asia-Afrika, tepatnya di area sekitar gedung Merdeka, sudah sangat ramai ketika itu. Walaupun ada beberapa saat di mana jalanan menjadi sangat lengang. Sementara itu, alun-alun dengan menara masjid Agung-nya tampak sangat jelas dari posisi kami saat itu. Ya, jarak kami sudah 100 meteran lagi dari alun-alun.

Setelah sampai alun-alun, terus? Kami berjalan menuju area Pasar Baru untuk mencari angkot ungu yang ke Cisitu. Ya, kami langsung balik pulang dan memutuskan mencari sarapan di daerah Cisitu saja karena ada banyak pilihan. Hmm… lumayanlah jogging pagi hari ini, cukup membakar kalori. Habis ini sepertinya mau merutinkan lari pagi di lapangan SARAGA saja, hehehe.

 

Debut Naik KA Malabar

Akhirnya kesampaian juga keinginan untuk naik KA Malabar. Keinginan itu baru tersalurkan saat perjalanan kembali ke Bandung dari Malang pada hari Ahad, 25 juli 2010. Sebenarnya aku memiliki kesempatan untuk naik pertama kalinya pada hari Jumat, 23 Juli 2010, saat pulang ke Malang. Tapi berhubung nggak keburu untuk mengejar keberangkatan KA Malabar pukul 15.30 karena masih ada kegiatan hingga pukul 15.45, akhirnya terpaksa harus naik KA langganan sebelumnya, KA Mutiara Selatan.

KA Malabar ini memang cukup unik. Dalam satu rangkaian ada 3 kelas kereta berbeda, yaitu ekonomi plus, bisnis, dan eksekutif. Aku sendiri membeli tiket yang kelas ekonomi. Gerbong ekonomi KA Malabar terlihat masih baru. Bahkan ada sebagian kursi yang masih ada plastiknya. Tapi sayang, beberapa kaca tampak sudah retak, sepertinya habis dilempar batu.

Gerbong kelas bisnis dan eksekutif KA Malabar merupakan limpahan dari KA Parahyangan yang sudah tidak dioperasikan lagi. Jadi tidak heran kalau untuk gerbong kelas eksekutifnya tidak ada TV-nya seperti KA Parahyangan.

KA Malabar berangkat dari Malang tepat pukul 15.30 dan tiba di Bandung menurut jadwal adalah pukul 8.37.

Kalau ingin sholat dalam perjalanan, kita bisa numpang di ruangan kecil (ruangan awak KA Malabar) di kereta makan. Tentunya minta izin dulu ke mas-masnya. Ramah kok orangnya…

Yang jelas, dengan adanya KA Malabar ini aku tidak perlu repot-repot siang-siang harus ke Surabaya atau Jombang dulu buat mengejar KA Mutiara Selatan yang ke Bandung.

KA Malabar langsir ke jalur 1 Stasiun Malang

KA Malabar langsir ke jalur 1 Stasiun Malang

KA Malabar melintasi jalur 1 Stasiun Malang

KA Malabar melintasi jalur 1 Stasiun Malang

KA Malabar siap berangkat dari jalur 1

KA Malabar siap berangkat dari jalur 1

Interior kereta penumpang kelas ekonomi KA Malabar

Interior kereta penumpang kelas ekonomi KA Malabar