Category Archives: Opini

Buku-Buku Pun Bisa Diperoleh dengan Gratis

Membeli buku? Wah, mungkin kata-kata itu susah ditemukan dalam kamus mahasiswa sekarang. Bayangkan saja harga buku kuliah, semisal Fisika Dasar Ha***day saja (waktu zaman aku masih tingkat 1 dulu) harganya Rp 120.000,-. Itu baru satu mata kuliah. Belum lagi untuk mata kuliah yang lain. Bisa jadi satu semester kita harus keluar uang lebih dari setengah juta untuk membeli buku (ditambah lagi membayar SPP satu semester). Bahkan, aku masih ingat dulu ingin membeli buku Concepts In Engineering terbitan Mc***w Hill karena melihat ukurannya yang jauh lebih tipis daripada buku fisika dasar Ha***day tadi, eh ternyata perkiraanku salah. Harganya sampai tiga kali lipatnya! Wow kk wow… Untungnya, alhamdulillah, ada perpustakaan jurusan sehingga kita bisa tetap membaca buku referensi. Kalau ngotot tetap ingin punya buku sendiri, ya terpaksa fotocopy. Yah… buku murah memang hanya mimpi. Benar kata orang, pengetahuan itu mahal harganya. Untuk memperolehnya pun ikut-ikutan mahal.

Tetapi ternyata jika kita mempelajari sejarah, buku murah, bahkan buku gratis, itu pernah terjadi pada masa kekhalifahan Islam, tepatnya pada masa Khalifah Al-Makmun. Beliau yang bernama asli Abdullah bin ar-Rasyid bin al-Mahdi (putera dari Khalifah Harun ar-Rasyid dan saudara khalifah sebelumnya, al-Amin) adalah khalifah dari Bani Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 813-833 Masehi. Beliau merupakan seorang negarawan yang sangat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa beliau berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah.

Pada masa beliau itu ilmu pengetahuan benar-benar mencapai puncaknya. Buku-buku dibayarkan oleh negara kepada penulis dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau seharga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak perlu lagi menerima bayaran atau royalti dari penerbit. Salah satu penerjemah yang terkemuka pada masa khalifah al-Makmun adalah Hunain ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika yang. Beliau dibayar oleh khalifah al-Makmun dengan emas seberat kitab-kitab ilmu pengetahuan yang ia salin ke bahasa Arab.

Semua orang berhak untuk memperoleh buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan ataupun ilmu pengetahuan. Pengetahuan bukan milik kalangan tertentu saja. Bahkan ketika seseorang memiliki suatu pengetahuan atau informasi yang bemanfaat bagi kemaslahatan bersama, ia wajib untuk menyebarkannya.

Oleh karena itu, setiap orang berhak untuk menggandakan suatu buku dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut. Tidak ada lagi orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini memang biasa terjadi di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi.

Dalam sistem Islam yang begitu menghargai ilmu pengetahuan, kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya mereka di pasaran. Khalifah akan memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penerjemah dan ilmuwan agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi menjadi lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam dan kemaslahatan umat manusia. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu, melahirkan banyak ilmuwan dan ulama yang terkenal akan ketinggian ilmunya semisal al-Farabi (ahli filsafat), Ibnu Khaldun (sejarawan dan ahli sosiologi), Ibnu Sina (dikenal sebagai”Bapak Kedokteran Dunia”), al-Zahrawi (penemu alat bedah modern pertama), dan masih banyak lainnya.

Tapi sayang sekali, hari ini orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi, kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini. Bahkan acara-acara televisi di negeri ini banyak diisi hiburan-hiburan yang sia-sia. Padahal televisi itu dapat menjadi media penyebar pengetahuan yang efektif dan murah, bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat. Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas begitu dihargai, karena mereka sangat mengerti bahwa boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga dibandingkan dengan seribu orang bodoh.

Sumber: voa-islam, dudung.net, wikipedia

Perbedaan Grup dan Tim?

Pertanyaan ini sebenarnya ditanyakan oleh dosen kepada kami saat kuliah IF3094 atau Komunikasi Antar Personal (KAP) hari ini tadi. Hmm… pertanyaan yang sebenarnya kedengaran cukup simple. Yang terbayang oleh kami di kelas (kebetulan kompak sekali pikiran kami kali ini :D) kalau kata “grup” itu akrab dengan frase “grup band” dan kalau kata “tim” itu akrab dengan frase “tim sepakbola”.

Tapi cuma itu yang terbayang. Ketika ditanyakan lagi apa perbedaan grup dan tim, kami semua kebingungan menjawabnya. Terus dosen kami mencoba menjawab bahwa perbedaannya adalah kalau dalam tim itu posisi semua anggotanya selalu tetap, sedangkan kalau dalam grup setiap anggotanya dapat bertukar peran di mana seseorang kadang-kadang berperan sebagai leader, sementara yang lain mungkin ada yang sebagai notulen, atau anggota biasa. Hmmpfh… tapi aku belum cukup puas dengan pendapat beliau itu. Lalu selesai kuliah aku mencoba mencari-cari referensi yang dapat menjelaskan perbedaan grup dan tim itu dengan jawaban yang memuaskan. Karena aku sendiri penasaran. Kedua kata itu memiliki makna yang serupa, sering kita gunakan sehari-hari, bahkan kita pertukarkan kedua kata itu, tetapi kita sendiri tidak tahu apa perbedaannya. Atau jangan-jangan tidak ada perbedaannya, alias sama saja?

Ada suatu istilah yang sering kita dengar, yaitu team building. Aku pribadi belum pernah mendengar istilah group building. Orang juga lebih sering berkata, “bisakah grup/kelompok ini menjadi sebuah tim?” Secara tersirat dapat dimengerti ada perbedaan di situ antara grup dan tim. Kekuatan dari suatu tim itu terletak dari kesamaan tujuan dan saling keterikatan antar individu di dalam tim, sedangkan kekuatan grup terletak pada kesungguhan anggotanya untuk mengikuti komando dari pemimpin grup itu.

Seringkali jauh lebih mudah membentuk grup dibandingkan membentuk sebuah tim. Misalkan di dalam suatu ruangan ada banyak orang dengan berbagai latar belakang. Dari orang-orang tersebut kita dapat membentuk grup, mungkin dapat berdasarkan usia, jenis kelamin, bidang keahlian, dan faktor-faktor kesamaan lainnya. Membentuk sebuah grup berdasarkan kesamaan tadi itu memang mudah, tetapi tidak menjamin efektifitas dari sebuah grup itu sendiri. Dinamika antarpersonal dalam kelompok dapat membuat tugas seorang group leader menjadi lebih sulit.

Di sisi lain, membentuk tim memang lebih sulit. Dalam mebentuk tim tidak melihat kesamaan anggota, tetapi melihat kepada ketrampilan masing-masing anggota untuk melengkapi satu sama lain. Dalam tim bisnis saja misalnya, ada anggota yang berperan sebagai akuntan, salesman, eksekutif perusahaan, dan sekretaris. Setiap anggota tim memeiliki fungsi masing-masing di dalam tim itu. Oleh karena itu, dalam jarang sekali diberikancukup banyak ruang untuk terjadinya konflik karena akan menggangu fungsionalitas anggotanya.

Ada karakteristik lain yang dapat lebih menggambarkan perbedaan grup dan tim. Keberhasilan dalam sebuah grup biasanya hanya diukur dari hasil akhirnya. Misalkan saja nih grup belajar bareng untuk menghadapi ujian. Berhasil atau tidaknya belajar bareng itu dilihat dari bagaimana nilai ujian anak-anak itu.

Sementara itu, keberhasilan sebuah tim meskipun diukur dari hasil akhir juga, tetapi tetap dilihat bagaimana proses untuk mencapai hasil akhir itu. Sebuah tim investigasi kecelakaan merupakan sebuah contoh yang baik dari tim yang dinamis di dunia nyata. Setiap anggota tim bertugas untuk mengevaluasi satu aspek dari kecelakaan itu. Tim ahli pada adegan rekonstruksi kecelakaan tidak harus berkonsultasi dengan tim ahli pada bukti forensik, misalnya. Anggota tim menggunakan kemampuan masing-masing untuk mencapai hasil kohesif. Dalam proses tersebut mungkin ada anggota tim bekerja sebagai fasilitator, dan itu tidak harus seorang pemimpin tertentu.

Karakteristik lainnya adalah dalam membentuk sebuah grup mungkin hanya mengambil beberapa menit saja, tetapi pembentukan tim yang baik bisa jadi butuh waktu dalam hitungan bulan atau bahkan tahunan. Setiap anggota grup/kelompok memiliki peluang yang besar untuk melepaskan diri dari grup setiap saat ketika jasa atau perannya sudah tidak diperlukan lagi misalnya. Sedangkan dalm tim seorang anggota yang tidak serius dapat menghambat fungsionalitas anggota tim lainnya untuk bekerja secara efektif, sehingga tidak aneh jika dalam membentuk tim dibutuhkan waktu yang lama karena proses untuk membentuk anggota yang memiliki kesetiaan yang sangat kuat untuk tim dan mampu berkomunikasi dengan baik antar anggotanya itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Yaah… Mungkin ada pendapat lain?

Referensi:
http://www.wisegeek.com/what-is-the-difference-between-a-team-and-a-group.htm
http://wiki.answers.com/Q/Difference_between_group_and_team
http://www.sideroad.com/Team_Building/difference-between-team-and-group.html

Salut untuk Program Acara TVRI “Laporan Internasional 14 Maret 2010”

Sebenarnya program acara TVRI ini sudah ditayangkan sebulan yang lalu. Tapi aku baru mengetahuinya dari tulisan temanku dalam note facebook-nya. Maklum anak kosan… nggak ada TV di sini… hehehe… :D. Dalam tulisannya ia memuji-muji sikap TVRI yang kritis terhadap tingkah Amerika. Aku pun penasaran, memang seperti apa acaranya. Apalagi selama ini media massa di Indonesia yang kuamati tidak ada yang berani secara tegas mengkritik atau mengungkap ketidakadilan yang dilakukan Amerika Serikat (USA). Nah, temanku itu kemudian memberikan link untuk mengunduh video rekaman siaran TVRI tersebut. Alamatnya di sini http://www.youtube.com/watch?v=QhJoPwLiSWM.

Program acara TVRI itu sendiri ditayangkan tepatnya pada tanggal 14 Maret 2010 (sebulan yang lalu) pukul 9-10 malam. Program acara itu bernama “Laporan Internasional”. Tetapi pada edisi kali itu cukup menarik karena membahas tentang sikap-sikap Amerika Serikat terhadap persoalan nuklir Iran, Korea Utara, dan Israel.

Dalam tayangan tersebut narator mengatakan bahwa Amerika Serikat adalah pemerintah yang munafik, kontradiktif dengan kebebasan yang selalu didengung-dengungkannya, karena di satu sisi melarang Iran untuk membangun reaktor nuklir yang tujuan sebenarnya dipergunakan untuk sumber energi dan pengembangan isotop untuk pengobatan kanker, tetapi di sisi lain Amerika Serikat malah membiarkan Pakistan dan India mengembangkan nuklir untuk militer, belum lagi dukungannya terhadap Israel yang diperkirakan sebagai pemilik hulu ledak nuklir terbesar di dunia. Padahal, Iran sendiri telah tergabung dalam perjanjian Nuclear Non-Proliferation Treaty (NPT), yaitu perjanjian pengembangan nuklir untuk tujuan damai, sebaliknya Pakistan dan India malah tidak bergabung dengan NPT tersebut.

Alasan yang sama juga dikemukakan oleh Korea Utara yang oleh pemerintah Amerika Serikat mereka diminta untuk menghentikan program nuklirnya. Bagaimana Pyongyang (Korea Utara) bisa mempercayai Amerika Serikat dan mau menghentikan program nuklirnya jika di saat yang sama Amerika Serikat dengan penuh keagresivitasannya malah memamerkan kekuatan angkatan bersenjatanya yang salah satu pesawat perangnya justru telah dilengkapi dengan hulu ledak nuklir. Selain itu juga di saat bersamaan Amerika Serikat semakin intens melakukan kerja sama berupa latihan militer gabungan dengan tentara Korea Selatan. Hal itu menunjukkan betapa sesungguhnya Amerika Serikat tidak bermaksud mengehntikan krisis nuklir di Semenanjung Korea, sebaliknya malah semakin meningkatkan ketegangan di semenanjung Korea itu.

Ada kalimat bijak yang cukup menarik dari Abraham Lincoln: “You may fool all of the people some of the time, you can even fool some of the pople all of the time, but you can not fool all of the people all of the time” (Abraham Lincoln). Serapih apapun kebohongan, kepalsuan, kecurangan, dan muslihat yang disembunyikan Amerika Serikat, pasti suatu saat akan terbongkar. Amerika Serikat memiliki sejarah panjang pendudukan, invasi, operasi-operasi rahasia, dan penggulingan pemerintahan negara lain. Semua itu dilakukan untuk memenuhi agenda mereka yaitu menguasai sumber daya dan ekonomi dunia. Amerika Serikat tidak akan bisa mengelabuhi semua orang untuk selamanya terhadap aksi yang mereka lakukan. Selalu ada kepentingan rahasia di balik setiap aksi yang dilakukan Amerika Serikat.

Salah satu cuplikan siaran TVRI Laporan Internasional 14 Maret 2010

Salah satu cuplikan siaran TVRI Laporan Internasional 14 Maret 2010

Aku pribadi benar-benar sangat salutlah dengan program acara TV ini karena begitu tegas, keras, dan berani dalam menyuarakan kebenaran dan mengkritisi sikap Amerika. Hal itu ditunjukkannya di dalam program ini dengan penggunaan kata-kata seperti munafik, hipokrit, pembohong, penyebar teror yang sebenarnya, dan sering mengintimidasi negara lain, untuk menggambarkan pemerintah Amerika Serikat. Mudah-mudahan sikap kritis TVRI terhadap Amerika ini diikuti juga oleh “pemiliknya” yaitu pemerintah RI yang selama ini cenderung adem ayem saja terhadap sikap Amerika Serikat. Semoga semua orang di TVRI tetap istiqomah dalam menyuarakan kebenaran seperti ini.

Di Balik Cerita My Name Is Khan

Baru saja kemarin malam aku dan beberapa kawan di KOKESMA menonton film My Name is Khan di salah satu sinema di Kota Bandung ini. Cukup telat sih karena sudah sebulan yang lalu film ini dirilis. Aku cukup tertarik untuk menontonnya karena mendengar dari beberapa teman tentang ide cerita dari film ini yang mencoba mengangkat fenomena islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Film Bollywood yang hak distribusinya dibeli oleh FOX STAR ini memang berbeda dengan film-film Bollywood seperti kebanyakan yang banyak menyelipkan musik-musik dan tarian India.

My Name is Khan menceritakan tentang perjalanan hidup seorang muslim India bernama Rizvan Khan, yang diperankan oleh Shahruk Khan. Dalam film ini Rizvan Khan diceritakan sebagai seorang yang memiliki kelainan mental “Aspergus Syndrome”. Meskipun demikian, dia adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Saat dewasa, pasca meninggalnya ibunya,  ia memutuskan untuk menyusul adiknya, Zakir, yang lebih dahulu menetap di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat ia menikahi seorang wanita janda beranak satu bernama Mandira. Pernikahan tersebut sempat ditentang adiknya karena tidak setuju Rizvan menikahi wanita yang berbeda agama dengan dirinya (Mandira seorang Hindu).

Rizvan dan istrinya menjalani kehidupan dengan penuh bahagia dan mereka berdua memiliki usaha produk kosmetik sendiri yang berjalan sukses. namun semuanya berubah sejak kejadian 9/11. Suatu ketika istrinya mengalami depresi berat akibat terbunuhnya anak mereka yang bernama Sameer Khan dalam sebuah insiden yang dilatarbelakangi kebencian teman-temannya karena Sameer adalah anak seorang muslim. Kematian itu sangat menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh Mandira. Mandira mempersalahkan keputusannya menikah dengan seorang muslim sehingga menyebabkan terbunuhnya satu-satunya anak mereka. Mandira pun dalam keadaan emosi yang luar biasa meluapkan amarahnya kepada Rizvan dan meminta suaminya itu memberitahukan kepada seluruh rakyat Amerika dan juga presiden AS bahwa Rizvan Khan adalah seorang muslim dan ia bukan teroris.  Ia tidak diperbolehkan kembali ke istrinya sebelum misinya terpenuhi.

Perjalanan panjang ditempuh Rizvan untuk menunaikan misinya yaitu menyampaikan pesan “My Name is Khan, and I’m not a Terrorist” kepada presiden AS. Berbulan-bulan dan berbagai upaya dilakukan demi misi tersebut. Segala rintangan ia hadapi dengan tenang dan kepolosannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemui presiden amerika dan menyampaikan pesannya.

My Name is Khan menyuguhkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad.

Namun, di balik cerita film tersebut ada beberapa bagian di dalamnya yang menggelitikku. Pertama, pesan dari ibu Rizvan Khan kepada dirinya sewaktu masih kecil saat terjadi konflik Islam dan Hindu di India. Dalam dialognya, ibu Rizvan berkata bahwa “Semua manusia itu sama, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang tidak baik”. Aku menangkap ada ide pluralisme yang ingin disampaikan di sana yaitu bahwa semua agama adalah sama. Memang secara general, semua agama di dunia pasti mengajarkan kebaikan di dalamnya. Namun, di dalam QS. Ali Imran ayat 19 sudah dijelaskan bahwasannya agama yang diridloi di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Jika memang meyakini Islam sebagai Ad-Diin, sudah seharusnya konsep bahwa tidak ada perbedaan Islam dengan agama yang lainnya itu ditolak.

Bagian lainnya adalah ketika Rizvan bersikeras menikahi Mandira, yang seorang Hindu, padahal sudah diingatkan oleh Zakir, adiknya, bahwasannya haram menikahi wanita yang berbeda keyakinan. Namun, Rizvan memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang buruk. Sehingga ia tetap menikahi Mandira. Shahrukh Khan sendiri dalam kehidupan aslinya juga memiliki istri yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Di dalam Al-Quran dinyatakan bahwa seorang muslim haruslah menikahi seorang muslim juga atau menikahi seorang ahli kitab. Ahli kitab adalah orang yang menjadikan kitabnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Masih ada lagi. Yaitu saat Rizvan ikut melakukan doa dan bernyanyi bersama di dalam gereja saat ia berada di Wilhelmina, Georgia. Fenomena yang kutangkap seolah ingin menjelaskan bagaimana sebuah nilai kemanusiaan itu bisa melebihi batas-batas pemisah antar agama. Untuk masalah akidah, Islam secara jelas dan tegas menyatakan bahwa untukku agamaku dan untukmu agamamu (QS. Al-Kafiruun). Toleransi adalah menghormati masing-masing pemeluk agama untuk beribadah sesuai agamanya. Mengikuti acara berdoa bersama dengan pemeluk agama lain bukanlah bentuk toleransi yang dibenarkan itu.

Film ini memang mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat. Film ini turut membantu memulihkan citra bahwa Islam bukan agama terorisme seperti anggapan yang terbentuk pada masyarakat barat secara umum. Film ini juga diharapkan mampu mengurangi perlakuan rasisme yang diterima masyarkat muslim di  negara barat.

Secara keseluruhan film ini memang cukup bagus ditonton karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Namun, di balik itu semua, juga harus dilihat seluruh substansi yang dikandung film “My Name Is Khan” ini dan secara bijak memfilter pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini. Jangan sampai diri ini tertanam pesan yang salah tentang Islam karena terbuai dengan jalan cerita dan akting tokoh-tokohnya. Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini hanya pendapat pribadiku saja yang mencoba melihat film ini dari sudut pandang lain.

Maafkanlah Aku, Kawan

Malam ini sewaktu membuka-buka “brankas” kumpulan artikelku yang sudah kukumpulkan sejak SMA, aku menemukan sebuah artikel yang cukup menarik. Sebenarnya lebih tepatnya mungkin disebut artikel renungan karena mengajak kita memahami makana yang tersirat di dalamnya. Hanya saja sayangnya aku lupa memperoleh artikel ini itu dari mana. Jadi mungkin jika ada teman-teman yang pernah tahu artikel ini, tolong dibagikan sumber asalnya. Saya cukup terkesan dengan makna yang tersirat dalam artikel ini yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan itu, apalagi persahabatan di mana di dalamnya terdapat aktivitas saling mengingatkan satu sama lain, terutama dalam masalah kebaikan dan keimanan (misal, mengingatkan untuk sholat, akademik, dsb.). Berikut ini ceritanya yang juga telah menginspirasiku:

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.

Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Remaja Indonesia Memprihatinkan

Beberapa hari yang lalu aku cukup tercengang ketika melihat berita di televisi yang mengungkapkan fakta mengenai kian tingginya kasus hubungan seks pra nikah oleh remaja di Indonesia ini. Sungguh fakta yang bikin miris… Dalam posting kali ini aku mencoba mengutip sebuah artikel dari hizbut-tahrir.or.id. Pernahkah kita mendengar sabda Nabi SAW:

“Jika zina dan riba sudah menyebar di suatu kampong maka sesungguhnya mereka telah menghalalkan azab Allah atas diri mereka sendiri”. (HR al-Hakim, al-Baihaqi, dan ath-Thabrani).

Na’udzubillah min dzalik. Kita semua tentu tidak ingin azab Allah itu menimpa kita. Data dari Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyatakan bahwa sekitar 63 persen remaja sekolah SMP & SMA di Indonesia mengaku sudah pernah melakukan hubungan seks dan 21 persen di antaranya melakukan aborsi. Data itu merupakan hasil surveu sebuah lembaga survey yang mengambil sample di 33 provinsi di Indonesia pada 2008. Persentase itu meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Benar-benar mengerikan.

Banyak faktor yang mendorong mereka melakukan hubungan seks pra nikah, di antaranya pengaruh liberalisme, pergaulan bebas, lingkungan dan keluarga, serta pengaruh perkembangan media massa. Aku menduga acara-acara televisi seperti reality show yang menayangkan kisah tentang hubungan pemuda-pemudi atau sinetron remaja yang hanya menonjolkan tentang percintaan yang ada saat ini turut mendorong perilaku remaja saat ini.Parahnya, acara seperti itu kemungkinan juga ditonton oleh anak di bawah umur. Sehingga tidak mengherankan apabila ada berita di televisi seorang anak kecil telah memerkosa temannya sendiri. Masya Allah.

Ada kisah menarik yang bisa menjadi teladan kita dari seorang pemuda bernama Abu Bakar Al-Miski. Dia dijuluki Al-Miski (Si Kasturi) karena tubuhnya selalu menebarkan aroma wangi yang sangat harum dan khas. “Kalau boleh tahu, apa yang menyebabkan kamu selalu memakai minyak misk setiap saat?” tanya seseorang suatu ketika. “Demi Allah, sungguh aku tidak pernah memakai minyak misk sejak bertahun-tahun yang lalu. Tapi akan kuceritakan penyebab tubuhku selalu mengeluarkan bau harum minyak kasturi.” tutur Abu Bakar.

Dahulu pernah ada seorang wanita tak berakhlak yang menipu dan mempedayaku sehingga aku terpaksa masuk ke dalam rumahnya. Setelah itu tiba-tiba ia menutup pintu rumahnya, kemudian berusaha menggoda dan merayuku. Aku bingung sekali dan tidak tahu apa yang harus aku lakukan agar bisa keluar dari rumah itu.

Akhit=rnya aku memiliki penyelesaian yang menurutku agak keterlaluan. Aku meminta izin kepada wanita itu untuk pergi ke WC sebentar. Wanita itu memanggil pembantunya dan memerintahkannya untuk mengantarkanku ke WC. Sesampainya di WC, aku mengambil kotoran dan mengoleskannya ke tubuhku. Aku pun kembali kepada wanita itu dengan tubuh belepotan kotoran. Wanita itu pun kaget sekali. Seketika itu juga ia mengusirku pulang. Alhamdulillah, aku pulang dan membersihkan tubuhku dari kotoran.

Malamnya aku bermimpi mendengar sebuah suara, “Wahai Abu Bakar, engkau telah melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan orang selainmu. Mulai sekarang akan Aku jadikan tubuhmu selalu harum di dunia dan akhirat.” Subhanallah.

Kisah di atas mengingatkan kita akan sebuah sabda Nabi SAW: “(Salah satu di antara 7 orang yang diberi naungan oleh Allah pada hari kiamat di mana tiada naungan selain naunganNya adalah) seorang pemuda yang digoda berzina dengan seorang wanita yang berpangkat lagi jelita namun ia menolaknya dan berkata, “Saya takut kepada Allah!” (HR. Bukhari & Muslim)

Memang pada zaman yang hedon ini godaan muncul bertubi-tubi kapanpun dan di manapun. Ini semua adalah buah dari sekularisme yang menghinggapi negeri ini ketika urusan kehidupan sudah tidak lagi diatur oleh agama. Hanya dengan selalu mengingat Allah-lah kita bisa menahan diri kita agar tidak terjerumus.