Category Archives: Curhat

Cenat-Cenut Gigi Bungsu Tumbuh

Ouchh … sepertinya sudah 2-3 hari ini aku merasakan cenat-cenut pada gigi bagian rahang kanan atas. Awalnya aku bingung, ini rasa sakit muncul dari mana perasaan gigiku nggak bermasalah. Setelah iseng-iseng menggerak-gerakkan lidah mencari bagian yang sakit dan membaca referensi ini, ini, dan ini , kusimpulkan bahwa rasa cenat-cenut ini diakibatkan oleh gigi geraham yang baru tumbuh di rahang kanan atas.

Kata beberapa referensi itu sih memang gigi bungsu alias gigi geraham belakang itu biasa tumbuh saat manusia menginjak usia dewasa sekitar 18-30 tahun. Saat tumbuh, sering kali menimbulkan rasa ngilu di bagian gusi. Kalau mau tahu sebabnya, artikel ini cukup memberikan penjelasan. Kalau tidak salah, rasanya dulu pernah juga tumbuh gigi geraham belakang tapi di bagian rahang yang lain. Apa tumbuhnya nggak barengan ya antar rahang? 😕

Sementara ini sih aku wait and see saja dulu. Kalau masih sakit juga dalam beberapa hari ke depan, mungkin harus ke dokter gigi nih. Benar kata pepatah, “lebih baik sakit hati daripada sakit gigi”. Kalau gigi (atau gusi sih?) sudah cenat-cenut, rasa makanan seenak apapun tidak akan nikmat di mulut ini. Hiks … hiks … 😥

Raket Badminton Baru

Sebulan yang lalu aku membeli raket badminton baru. Yeyy … akhirnya aku punya raket badminton juga :D. Selama ini aku selalu main dengan raket yang sudah kupinjam selama 4 tahun atau selama aku kuliah di Bandung ini. Raket yang bermerek Yonex dengan seri B-650 itu kupinjam dari kakak kelas SMA-ku yang juga berkuliah di ITB dan sampai sekarang belum kukembalikan. Wah parah … hahaha.

Yonex B-650

Yonex B-650

Bingung juga sewaktu akan memilih raket baru itu. Yang jelas incaranku adalah raket yang lebih ringan dari yang raket yang biasa kupakai itu (Yonex B-650) agar tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga saat mengayun raket. Pilihanku akhirnya jatuh ke raket Li-Ning Super Series 98 (SS98). Alasannya, aku ingin mencoba raket merek lain selain Yonex dan Li-Ning cukup punya nama karena merupakan sponsor resmi tim nasional bulutangkis China dan beberapa negara lainnya seperti Thailand dan Singapura.

Namun, raket-raket Li-Ning ternyata mahal juga ya. Aku kira karena produk China banyak yang murah, raket Li-Ning juga murah-murah. Di toko tempat aku beli raket waktu itu, raket Li-Ning paling murah itu 250 ribuan. Sedangkan Yonex yang paling murah sekitar 150 ribuan. Hmm … sempat bimbang juga sih. Akhirnya nggak apa-apalah aku beli raket Li-Ning yang SS98 itu. Saat kucoba dan kubandingkan di toko sih, raket Li-Ning yang SS98 ini memang sangat ringan dibandingkan yang Yonex seharga 150 ribuan itu.

Li-Ning SS98

Li-Ning SS98

Tapi ada yang beda ternyata sama raket Li-Ning SS98 yang baru kubeli itu dibandingkan raket Yonex B-650 yang biasa kupakai sebelumnya. Selain lebih ringan, raket Li-Ning SS98 itu juga lebih panjang. Setelah baca di sini, Li-Ning SS98 itu ternyata panjangnya 67,3 cm atau berselisih sekitar 1 cm dengan raket Yonex-ku yang lama.

Memang sih cuma selisih 1 cm doang. Akan tetapi, tetap saja butuh adaptasi dengan raket itu ternyata. Awal-awal pakai raket SS98 ini sering sekali saat aku buat smash gagal menyeberangi net. Tapi enak sih raket ini ringan, jadi nggak perlu banyak keluar tenaga saat melancarkan pukulan.

[VIDEO] Maher Zain – Insha Allah

Sudah lama sebenarnya lagu ini muncul. Tetapi baru benar-benar akrab di telingaku pas Ramadhan ini. Hampir di setiap stasiun radio yang kudengar sering banget muterin lagu ini. Biasanya sesudah adzan maghrib atau subuh.

Lagu ini sangat enak dan easy listening menurutku. Liriknya juga sangat indah dan maknanya sangat dalam. Menyuratkan pesan bahwa Allah selalu ada di sisi kita untuk menunjukkan jalan yang terang bagi hamba-Nya yang yakin kepada-Nya.

Bagi penggemar lagu-lagu Maher Zain, ada kabar gembira karena ia akan melangsungkan konser di 3 kota di Indonesia dalam waktu dekat ini: Bandung (6 Oktober), Surabaya (8 Oktober), dan Jakarta (9 Oktober). Sayangnya, info yang kuperoleh dari situs ini katanya harga tiket terendahnya Rp300.000. Terus terang bagi mahasiswa sepertiku, harga segitu cukup mahal. Sepertinya memang bukan rezekiku buat menikmati langsung lagu-lagu Maher Zain di konser itu.

Inikah Rasanya CINTA

Makan nggak nikmat, jalan-jalan nggak bergairah, main badminton atau olahraga yang lain nggak bisa lepas, setiap mau ngapa-ngapain selalu kepikiran CINTA (Tugas Akhir). Kira-kira itulah sekelumit kesan yang kurasakan sepanjang pengerjaan TA di tingkat empat ini. Perasaan itu semakin bergejolak ketika mendekati deadline pengumpulan draft, seminar, dan juga sidang.

Terkesan berlebihan mungkin. Tapi itulah apa adanya yang kurasakan. Dan setelah share ke sesama pejuang CINTA, ternyata sebagian juga merasakan hal yang sama. Teman-teman mungkin biasa menyebutnya dengan istilah “galau TA”. Kayaknya kalau di Twitter, mereka biasa nge-tweet dengan hashtag #GalauTA, hahaha.

Sisi positifnya, sebenarnya dengan perasaan seperti itu artinya ada rasa aware juga di dalam diri ini untuk segera menyelesaikan TA. Bukan berarti gara-gara nggak ada mood untuk ngapa-ngapain, terus nggak ada mood untuk mengerjakan TA. :mrgreen:

Perasaan galau TA itu kini akhirnya berangsur-angsur lenyap dari diriku, karena tepat pada pagi hari ini tadiSelasa, 16 Agustus 2011 / 16 Ramadhan 1432 H, pukul 10.00-12.00 — aku telah melaksanakan sidang TA S1 ini. Alhamdulillah, aku dinyatakan lulus bersyarat. Artinya, walaupun lulus, tapi masih ada revisi yang harus dikerjakan. Dan revisi yang harus kukerjakan itu lumayan banyak. Walau demikian, ada sebuncah rasa bahagia yang tiba-tiba kurasakan begitu pernyataan hasil sidang tersebut keluar.

Antara perasaan senang dan tidak percaya juga sih aku bisa melaluinya. Tapi yang jelas, rasanya itu: “plooonngg …”. Sepanjang jalan dari kampus menuju kosan, senyuman tak bisa menghilang dari bibirku. Hahaha, biarinlah dibilang orang aneh atau apa.

Sekarang harus direm dulu perasaan bahagianya. Saatnya menatap ke depan, memulai usaha untuk langkah berikutnya mewujudkan plan yang sudah pernah kurancang karena jalan masih panjang.

Sabana Yang Digemari

Sabana

Sabana

Mendengar kata ‘Sabana’ yang terbayang di benakku pertama kali adalah suatu padang rumput yang amat luas di mana kuda-kuda berlarian di atasnya. Tetapi kini, kata ‘Sabana’ sudah berganti korelasinya menjadi ‘ayam goreng’! Ya, Sabana yang saya bicarakan di sini adalah franchise ayam goreng Sabana yang di daerah sekitar kos-kosanku (Cisitu) lagi digemari.

Tulisan ini saya buat bukan untuk mempromosikan franchise Sabana ini :D. Tetapi tiba-tiba saja saya ingin menulis tentang Sabana setelah tahu bahwa pemilik Sabana Cisitu menambah lagi outletnya beberapa hari yang lalu, yang juga masih bertempat di Cisitu.

Sempat terhenyak ketika ada seorang teman yang menulis sebuah note di Facebook mengenai keuntungan yang diperoleh franchise Sabana Cisitu dari hasil ‘wawancara’nya. Kata dia, dalam sehari Sabana Cisitu bisa meraih untung hingga Rp300.000. Wow! Kalau dikalikan selama sebulan, keuntungan yang diraih bisa sampai Rp9juta perbulan! Mungkin karena untung yang besar itu dan demi mendapatkan pasar yang lebih luas lagi, alasan pemilik Sabana Cisitu menambah outlet lagi.

Kalau dipikir-pikir, memang cukup wajar sih bisnis ayam goreng tersebut bisa sampai mendapatkan omzet yang tinggi di Cisitu. Tahu sendirilah, Cisitu merupakan basisnya para kosaners yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Mahasiswa kan maunya yang praktis-praktis saja untuk urusan makan dan kalau bisa murah dan mengenyangkan.

Harga satu ayam goreng (bagian dada/paha atas) plus nasi di sana maksimal ‘cuma’ sampai Rp9000 per porsi. Kalau bagian sayap/paha bawah plus nasi, harganya Rp7000 saja. Harga tersebut bisa dikatakan masih cukup bersaing dengan harga ayam goreng di warung-warung makan sekitar Cisitu. Dengan cita rasa yang enak menurut saya (mirip rasa ayam goreng dari franchise restoran fast food terkenal dari Amerika sana) tentu pelanggan lebih memilih Sabana.

Melihat fenomena tersebut (baca: banyak mahasiswa yang mengkonsumsi ayam goreng (tidak hanya Sabana saja)), saya jadi kepikiran apakah itu pola makan yang sehat. Kata seorang teman yang sangat aware dengan menu makanan, ayam goreng itu memiliki kandungan kolesterol dan lemak yang tinggi. Dia sendiri pernah nggliyeng (diambil dari bahasa Jawa, apa ya bahasa Indonesianya?) setelah makan sampai 2 potong ayam langsung sekali makan. Kata dia itu akibat dia memakan makanan dengan kandungan kolesterol yang cukup tinggi. Hmm… saya cuma bisa mengangguk saja mendengar apa yang dia bilang. Mungkin anak gizi yang lebih tahu. 🙂

Intinya sih, menjadi anak kosaners urusan makan memang menjadi kendali kita. Oleh karena itu kita harus pandai-pandai mengatur menu makanan kita agar memenuhi kriteria 4 sehat 5 sempurna. Mengutip guyonan Loedroek ITB dulu, kalau perlu ‘4 sehat 5 sempurna plus plus’. Plus-plusnya apa ya? Saya lupa, silakan diterjemahkan masing-masing, hehehe.

Saya sendiri sering mengingatkan teman sekosan saya agar tidak sering-sering makan ayam goreng Sabana (dan tentu juga ayam goreng-ayam goreng lainnya). Masak setiap kali dia beli makan, menunya selalu ayam goreng Sabana. Apalagi sejak lokasi outlet ayam goreng Sabana semakin dekat dengan kosan kami.

Tentang Tokek

Tokek

Tokek (jabar.tribunnews.com)

Akhir-akhir ini saya sering mendengarkan suara tokek lagi saat pulang kampung ke Malang. Suara tokek itu sering terdengar dari belakang kamar saya yang memang merupakan kawasan pemakaman alias kuburan.

Tiba-tiba saya jadi tersadar, ternyata selama saya tinggal di Bandung rasanya saya belum pernah mendengar suara tokek di lingkungan sekitar tempat tinggal saya itu. Padahal saya sudah berpindah tempat kosan hingga 3 kali. Namun, di tiap daerah kosan yang saya tinggali, saya belum pernah mendengar suara tokek itu lagi. Padahal di lingkungan tempat tinggal saya di Malang, suara tokek itu sudah menjadi teman akrab sehari-hari (dulu, nggak tau kalo sekarang, hehe).

Waktu masa kecil dulu saya dan teman-teman sering mendapati tokek-tokek berkeliaran di dinding rumah-rumah kosong yang ada di lingkungan tempat tinggal kami. Pernah suatu kali kami dapat tokek kecil yang kebetulan jatuh dari dinding. Namanya anak kecil, suka usil, salah seorang dari kami ada yang usil naruh tokek tersebut ke punggung salah satu anak, hihi.

Hmm… sebenarnya saya penasaran banget sama si tokek a.k.a gecko ini. Mengapa ya tokek itu mengeluarkan bunyinya pada waktu tertentu saja dan suaranya keras sekali? Maksud saya, dibandingkan dengan bangsa reptil lainnya dia satu-satunya yang memiliki keunikan di situ. Kalau iseng kita hitung, setiap kali bersuara, jumlah kata ‘tekek’ yang dia keluarkan juga tidak selalu sama. Pengaruhnya apa ya?

Saya sudah coba googling di Internet, tapi belum menemukan artikel riset yang membahas tentang gecko phenomena ini. Kalau berita di Indonesia, yang ada malah berita tentang praktik jual beli tokek ini yang nilainya (katanya) sampai puluhan juta rupiah.

Kembali ke rasa penasaran saya tadi. Hmm… kenapa ya? Ada yang tahu?