Monthly Archives: January 2021

Layanan Subscription Video On-Demand (SVOD) di Indonesia

Menarik membaca laporan riset oleh Media Partners Asia mengenai jumlah pelanggan berbayar layanan video-on-demand di Indonesia. Laporan riset tersebut dirilis pada 19 Januari kemarin di website mereka (artikelnya di sini). Menariknya adalah ternyata Disney+ Hotstar menempati peringkat pertama dengan jumlah 2,5 juta pelanggan.

Jumlah tersebut jauh mengungguli platform Subscription Video-On-Demand (SVOD) lainnya. Menarik karena Disney+ Hotstar sebenarnya baru meluncur di Indonesia pada awal September 2020 kemarin (beritanya di sini). Sementara platform lainnya sudah lama malang melintang lebih dulu.

Di bawah Disney+ Hotstar menyusul Viu (1,5 juta), Vidio (1,1 juta), dan Netflix (0,85 juta). Dari keempat platform tersebut, jujur saya baru mendengar yang namanya Viu. Haha. Kaget juga saat tahu jumlah pelanggannya sebesar itu.

Di Twitter atau media sosial lainnya, yang sering saya lihat sih orang-orang menawarkan jasa langganan Netflix. Atau mungkin ada juga yang menawarkan Viu, tapi saya nggak ngeh saja.

Untuk Vidio, saya juga kaget ternyata banyak juga pelanggannya, bahkan mengungguli Netflix. Saya pribadi berlangganan Vidio karena mengincar tayangan sepakbola (Serie A, Liga Champions, Liga Eropa), badminton, dan tenis mejanya. Tapi sepertinya tidak semata karena itu saja Vidio banyak pelanggannya. Sepertinya ada konten lain yang juga memiliki segmen peminatnya.

Sementara terkait Netflix, walaupun sering mengeluarkan series baru dan memiliki konten yang jauh lebih banyak dibandingkan Disney+ Hotstar, ternyata pelanggannya hanya sepertiga dari Disney+ Hotstar. Mungkin karena harganya yang jauh lebih mahal kali ya.

Gunung Putri Tidur

Gunung Putri Tidur

Salah satu pemandangan di kampung halaman yang tidak pernah jemu saya pandang adalah deretan gunung yang membentang di horizon barat daya Kota Malang yang dikenal dengan Gunung Putri Tidur. Anda bisa mencarinya di Google Maps atau atlas (eh masih ada yang punya atlas kah, hehe). Tentu saja Anda tidak akan menemukan nama Gunung Putri Tidur ini di sana karena nama tersebut bukanlah nama sebenarnya. Hehehe.

Nama Gunung Putri Tidur ini populer di masyarakat Malang karena memang bentuknya yang tampak seperti seorang gadis yang sedang tidur dari kejauhan. Padahal sejatinya “gunung” ini adalah sebuah pegunungan yang terdiri atas 3 gunung, yakni Gunung Butak di bagian “kepala” (menyerupai rambut yang terurai, cekungan mata, hidung, dan mulut), Gunung Kawi di bagian “dada” dan “perut”, dan Gunung Panderman di bagian “kaki”.

Saya cukup beruntung karena pemandangan Gunung Putri Tidur ini terlihat cukup jelas dari lingkungan tempat tinggal saya karena masih banyak sawah. Mungkin hanya perlu berjalan kaki sekitar 100 meteran agar bisa melihat pemandangan Gunung Putri Tidur itu.

Kalau dulu waktu kecil bahkan mungkin hanya perlu berjalan kaki sekitar 20 meter karena dulu sawahnya masih sangat luas, belum dibangun perumahan seperti sekarang.

Kalau dari area kota, sepertinya pemandangan Gunung Putri Tidur ini tidak tampak jelas karena terhalang bangunan-bangunan dan juga papan-papan reklame.

Oh ya, dulu waktu kecil di kalangan teman-teman sepermainan populer sekali tebak-tebakan begini: “Gunung, gunung apa yang paling tinggi di dunia?”

Jawabannya adalah: “Ya Gunung Putri Tidur! Tidur aja tingginya segitu, apalagi kalau berdiri. Hahaha.”

Tebak-tebakan yang sangat lokal sekali ya. Saya jadi ingat tebak-tebakan lokal semacam ini dulu pernah saya dapatkan juga dari teman kuliah saya yang asli Bandung.

“Sungai, sungai apa yang paling panjang di dunia?”

“Yak, jawabannya adalah Sungai Cikapundung! Gimana nggak panjang, Asia Afrika saja dilewati. Hahaha.”

Saya yang merupakan orang baru di Bandung awalnya nggak nyambung dengan jawaban tersebut. Lalu diberitahu Asia Afrika itu maksudnya adalah nama jalan, yakni Jalan Asia-Afrika yang ada di tengah Kota Bandung. Hehehe.

Bagaimana di daerah Anda? Apakah ada tebak-tebakan lokal semacam ini? Eh, kok topiknya jadi bahas tebak-tebakan ya. Hahaha.

Suunto Spartan Trainer Wrist HR

Review Suunto Spartan Trainer Wrist HR

Saya membeli sports watch Suunto Spartan Trainer Wrist HR ini pada bulan Februari 2018 atau hampir 3 tahun yang lalu. Setelah 6 tahun rutin ikutan event-event lari (nggak rutin juga sih, setahun mungkin minimal ikut 1-2 event lah hehe), akhirnya saya memutuskan untuk memiliki sports watch.

Sports watch ini saya perlukan untuk tracking rute dan waktu lari saya. Sebelum memiliki sports watch, saya selalu menggunakan HP yang saya pasang di lengan saya dengan arm band ketika berlari.

Keinginan memiliki sports watch ini muncul setelah melihat teman saya, Ab, yang juga memakainya ketika kami trekking bareng di Gunung Angsi dulu (baca ceritanya di sini). Kelihatannya praktis sekali. Dan tentu saja yang paling bermanfaat adalah walaupun di dalam hutan yang lebat, GPS-nya masih berfungsi dengan baik dibandingkan jika menggunakan HP.

baca juga: Mendaki Gunung Angsi

Awalnya sempat bingung memutuskan apakah ingin membeli sports watch atau smart watch. Akhirnya karena menyadari yang saya benar-benar perlukan utamanya fitur sports tracking, saya memutuskan untuk membeli sports watch saja. Karena dari ulasan-ulasan yang saya baca, memang sports watch ini lebih akurat dibandingkan smart watch.

Continue reading