Monthly Archives: November 2016

Main ke Teras Cikapundung

Sejak Bandung dipegang Ridwan Kamil, ruang-ruang publik di Kota Bandung ini mulai mendapatkan perhatian yang serius. Taman-taman kota yang sudah ada direnovasi menjadi lebih cantik dan public-friendly. Beberapa taman baru juga dibuat. Salah satunya adalah Teras Cikapundung.

Teras Cikapundung ini sebenarnya sudah dibuka sejak akhir tahun lalu. Namun baru-baru ini saja saya menyempatkan main ke sana bersama seorang teman. Nggak baru-baru banget juga sih, udah 2 bulan yang lalu kayaknya, tapi baru sempat cerita sekarang, wkwkwkwk.

Saya ke sana pada hari Minggu. Suasananya sungguh ramai ketika itu. Kebanyakan warga datang ke sana bersama keluarganya. Tak sedikit pula kelompok muda-mudi yang berkunjung ke sana. Meriah banget lah pokoknya.

Saya ingat ketika jaman saya masih kuliah dulu, lahan Teras Cikapundung ini dulunya adalah kawasan yang kurang tertata. Dahulu di kawasan tersebut terdapat tempat untuk penampungan barang-barang rongsok dan sampah sementara. Juga ditempati oleh sejumlah rumah bedeng. Namun kini sudah Continue reading

Mount HD Eksternal dengan OS Windows di Dalamnya

Masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya, di SSD yang baru ini saya memutuskan untuk hijrah ke OS (Operating System) Ubuntu. Sebelumnya di hard disk (HD) yang lama saya menggunakan Windows 8. HD yang lama itu kemudian saya jadikan sebagai HD eksternal. Di dalamnya masih terinstall Windows 8.

Namun ada hal yang perlu diperhatikan ketika ingin menjadikan hard disk dengan OS Windows (versi 8 ke atas) sebagai HD eksternal. Pastikan bahwa Windows benar-benar telah dalam kondisi fully shutdown, bukan hybrid shutdown (setengah shutdown dan setengah hibernate) yang memang adalah default configuration dari Windows 8 (dan juga 10).

Jika tidak, maka HD tersebut tidak akan bisa diakses saat berada di OS Linux (dalam kasus saya, saya menggunakan Ubuntu). Mounting bisa, tapi hanya dalam mode read-only saja.

Untuk melakukan full shutdown ini cukup simpel. Kita bisa melakukannya dari Command Prompt dengan menjalankan perintah sebagai berikut:

shutdown /s /t 0

Kata “shutdown” sudah jelas adalah perintah untuk melakukan shutdown (atau reboot). Sementara itu parameter “/s” menyatakan shutdown, bukan reboot (dinyatakan dengan “/r”) atau hybrid shutdown (dinyatakan dengan “/hybrid”). Sementara parameter “/t 0” menyatakan berapa detik komputer harus melakukan shutdown sejak perintah itu dieksekusi. Karena itu parameter “/t 0” menyatakan bahwa komputer akan melakukan shutdown seketika command line dieksekusi.

Apabila OS sudah benar-benar shutdown, HD tersebut pun bisa di-mount dengan sebagaimana mestinya di OS Linux. Kita bisa melakukan aksi read & write terhadap HD tersebut.

 

Upgrade Hard Disk Laptop ke SSD

Mulanya upgrade ke SSD bukanlah sebuah opsi bagi saya. Saya masih nggak yakin sih soal lifespan dari SSD. Selain itu saya merasa dengan hard disk (HD) yang ada sudah cukup untuk melakukan pekerjaan saya sehari-hari sebagai kuli kode. Apalagi RAM juga sudah di-upgrade ke 8 GB.

Saya menggunakan laptop mostly untuk ngoding aplikasi web baik PHP maupun Java. Sama browsing juga yang pasti. Untuk menjalankan IDE dan berbagai macam aplikasi servis secara bersamaan, laptop saya masih kuat lah.

Namun beberapa bulan belakangan ini saya harus multitasking sambil ngoding Android juga. Nah di situlah mulai muncul masalah. Laptop saya ternyata tidak cukup kuat untuk dipakai menjalankan Android Studio bersamaan dengan aplikasi yang lain.

Akhirnya saya pun memutuskan untuk meng-upgrade laptop dengan SSD. Agak telat sih. Beberapa teman kantor sudah pada upgrade ke SSD sejak lama. Dan saya coba memang cukup handal dalam menjalankan berbagai aplikasi. Rasanya nyaris tidak pernah ngelag.

Saya membeli SSD merek Samsung dengan tipe 850 EVO 250 GB di Tokopedia. Harga aslinya 1,2 juta. Tapi karena kebetulan saya Continue reading

Surge Pricing Uber

Hari Minggu kemarin teman saya meminta tolong saya untuk memesankan Uber untuk dia. Kebetulan dia memang tidak memiliki akun Uber, jadi minta tolong saya. Ketika itu tengah turun hujan deras.

Saya membuka aplikasi Uber di HP saya. Kemudian memasukkan lokasi penjemputan dan tujuan. Sebelum saya mensubmit, saya mengecek dulu perkiraan tarif rute yang saya pilih.

baca juga: Mencoba Uber Taxi

Alangkah kagetnya saya melihat tarifnya mencapai 63.000-82.000 rupiah. Ada keterangannya bahwa itu adalah 2,1x harga normal. Kalau naik taksi konvensional, harusnya dengan jarak segitu tidak sampai Rp30.000 menurut pengalaman saya.

screenshot_20161030-122313

Saya memang baru hitungan jari sih naik Uber. Baru kali ini menemui yang namanya surge pricing di Uber ini. Sebelumnya hanya pernah mendengar saja tentang adanya kebijakan ini. Namun saya tidak menyangka kalau kenaikan harganya bisa sampai lebih dari 2 kali lipat.

Akhirnya teman saya pun memesan taksi biasa melalui telepon. Well, dalam kasus ini taksi konvensional adalah pilihan yang ideal saat itu. Tak lama setelah ditelepon, taksi pun sudah datang menjemput. Harganya juga masuk akal.