Arak-arakan Wisuda April 2010

Setelah dua wisudaan sebelumnya ( Juli & Oktober 2009) kegiatan arak-arakan wisuda ditiadakan karena tidak mendapatkan izin rektorat, akhirnya kegiatan arak-arakan wisuda kali ini boleh diadakan kembali. Namun, ada yang berbeda pada arakan-arakan kali ini. Yak, masalah rute. Jika arak-arakan sebelum-sebelumnya rute yang dilalui adalah Sabuga-Jl.Tamansari-Jl.Ganeca-Boulevard dan lanjut ke gedung prodi masing-masing, kali ini rutenya diubah menjadi Sabuga-Saraga-Terowongan-SunkenCourt-SBM-Mesin-ParkirSipil-Jl.Ganeca-Boulevard dan lanjut ke gedung prodi masing-masing.

Sepertinya alasan kemacetan menjadi faktor utama diubahnya jalur arak-arakan tersebut. Ya, praktis setiap kali ada acara wisuda ITB di Sabuga, sepanjang jalan Tamansari dan Ganeca sudah pasti “dikuasai” oleh para mahasiswa ITB. Para pengendara yang melalui jalan itu harus bersabar menunggu arak-arakan wisudawan ITB lewat.

Tetapi sejatinya banyak juga masyarakat sekitar atau bahkan orang luar yang sengaja mengunjungi ITB atau rute yang dilalui ntuk melihat aksi dari mahasiswa-mahasiswa ITB yang mengarak para kakak-kakak wisudawan program studinya. Sebagian dari mereka sengaja membawa kamera sendiri untuk mengabadikan momen arak-arakan wisuda yang menjadi tradisi mahasiswa S1 ITB, yang setahu saya universitas lain belum ada yang melakukan kegiatan serupa.

Rute yang sekarang ini ternyata cukup jauh juga. makanya tidak heran sewaktu pulang habis mengarak, rasanya kakiku pegal-pegal mungkin karena kebanyakan berdiri. Rute yang sekarang juga tidak sampai membuat kemacetan parah di sekitar ITB. Rute yang sekarang juga mampu mengurangi, bahkan mungkin menghilangkan, potensi gesekan antar himpunan mahasiswa. Hal ini bisa jadi karena jarak rombongan arak-arakan himpunan antara yang satu dengan yang lainnya jaraknya cukup jauh. Di situ ada faktor panitia satgasnya juga sih yang cukup disiplin mengamankan. Kalau dulu, karena jarak antar rombongan arak-arakan himpunan berdempetan, yaitu persis di depan atau di belakangnya, potensi terjadinya gesekan itu sangat besar. Bahkan aksi perkelahian antar himpunan pasti ada saja.

Jauhnya rute arak-arakan kali ini tidak membuat kreativitas massa himpunan berkurang. Masing-masing himpunan tetap semangat menunjukkan kreativitas dan kekompakan masing-masing himpunan. Keluarga Mahasiswa Seni Rupa (KMSR) seperti biasa menyuguhkan “pasukan” arak-arakan yang unik dan berseni. Kali ini mereka layaknya seperti barisan mayoret drum band. Kostum yang mereka kenakan tampak sangat unik. Musik yang mereka mainkan mampu menghibur massa himpunan lain, keluarga wisudawan, dan masyarakat sekitar yang kebetulan menonton. Semuanya tampak berdecak kagum dan menikmati musik acapella yang mereka mainkan.Sementara itu, himpunan-himpunan yang lain juga tak mau kalah dengan menyanyikan yel-yel himpunannya dengan penuh semangat dan mengibarkan atribut-atribut himpunan dengan penuh kebanggaan.

Parade anak-anak KMSR

Parade anak-anak KMSR

Massa HMIF siap menyambut wisudawan di SARAGA

Massa HMIF siap menyambut wisudawan di SARAGA

Aksi Himpunan TERRA

Aksi Himpunan TERRA

Penyambutan wisudawan di Labtek V

Penyambutan wisudawan di Labtek V

Momen arak-arakan wisudaan seperti ini memang belum pernah kulewatkan. Sejak aku menjadi anggota HMIF, aku selalu mengikuti arak-arakan wisudaan himpunanku. Rasanya senang saja bisa melihat keceriaan wajah para wisudawan dan orang tuanya. Selalu saja ada gairah dan semangat yang meresap dalam diriku agar aku pun bisa seperti mereka, lulus dan membahagiakan orang tua.

Nah, dalam wisuda kali ini, Teknik Informatika sendiri melepas 33 orang putra-putri terbaiknya. Dalam suatu momen ketika arak-arakan berhenti di depan gerbang ITB, mas Catur, salah seorang wisudawan, berdiri di atas tugu tulisan ITB menyampaikan pesan “perpisahan” kepada teman-teman wisudawan yang lain. Dia berharap semoga para wisudawan ini kelak akan sukses dan dapat berkontribusi dalam pembangunan untuk memajukan bangsa ini. Dia juga menyampaikan bahwa hari itu dia benar-benar bersedih berpisah dengan teman-teman terbaiknya dan ia juga berterima kasih momen wisuda ini adalah kado terindah di hari ulang tahunnya. Oh.. ternyata… mas Catur ini kebetulan tepat berulang tahun saat wisuda 10 April kemarin…:D

Oke deh… Sukseslah buat kakak-kakak sekalian.

Informatika berjiwa satria, tidak pernah mengenal keluh kesah
tugas yang berlimpah, bukanlah rintangan
lautan ujian, sudahlah biasa

reff:
hidup.. hidup.. hidup informatika
itb almamater tercinta

Mengikuti Workshop Batik

Dalam rangka memeriahkan ulang tahun ke-39 Perkumpulan Seni Tari dan Karawitan Jawa (PSTK) ITB mengadakan serangkaian acara yang diberi nama “Tanggap Warsa”. Acara ini sudah dimulai sejak tanggal 2 April kemarin dan akan berlangsung hingga 4 April besok. Acaranya cukup banyak, bervariasi, dan mengajak kita untuk ikut melestarikan kebuadayaan Jawa.

Salah satu kegiatan dalam rangkaian acar “Tanggap Warsa” ini adalah workshop batik yang diadakan hari ini, 3 April 2010, mulai pukul 10.30 WIB. Aku bersama beberapa teman dari KOKESMA  dan Informatika bersama-sama mendaftar untuk mengikuti kegiatan tersebut. Biayanya Rp 10.000. Fasilitas yang diperoleh antara lain kain yang akan dibatik, modul tentang membatik, dan perlatan untuk membatik (tapi bukan untuk dibawa pulang yang ini… :p).

Langkah pertama yang dilakukan sebelum membatik adalah membuat sketsa pola yang ingin dibatik. Dengan menggunakan pensil aku menggambar pola dari contoh yang disediakan panitia di atas kain. Aku memilih gambar rumpun bambu.

Sebelum

Sebelum

Sesudah

Sesudah

Setelah selesai menggambar, proses dilanjutkan dengan melakukan pelilinan (pecantingan). Pola yang sudah digambar tadi “ditetesi” dengan lilin yang telah dicairkan (lilin dipanaskan pada wajan kecil di atas kompor). Proses mencanting ini cukup susah juga di awal. Maklumlah, masih pemula…:p. Cara memegangnya harus benar-benar diperhatikan. Idealnya sudut yang dibentuk ketika kita memegang canting adalah 45 derajat.

Sebelum mencanting, kita ambil dulu cairan lilinnya, kita masukkan ke penampung pada cantingnya. Menurut kakak “pembimbing”-nya, sebaiknya ketika kita mencanting, canting itu jangan terlalu lama di udara karena akan menyebabkan cairan lilinnya mengeras sehingga dapat menyumbat mulut canting itu sendiri. Akhirnya, aliran lilin dari penampungnya pun terhambat. Oleh karena itu, harus sering-sering juga canting itu dicelupkan ke dalam wajan berisi cairan lilin tadi agar lilin yang di dalam canting tetap cair. Hal yang paling bikin aku kesal, itu cairan lilin yang terselip di bawah cantingnya. Sehingga sewaktu kita mencanting, lilin tersebut dapat menetes ke kain kita tanpa diharapkan. Dibutuhkan kesabaran memang. Kita harus menyingkirkan lilin yang nyanthol di bawah canting itu dengan cara meniupnya atau dengan cara memukul-mukulkan canting itu pelan-pelan agar lilin itu cepat menetes.

Nah, setelah proses mencanting selesai, selanjutnya masuk ke proses pewarnaan. Kali ini cukup mudah. Tinggal mencelupkan kain ke ember-ember yang telah disediakan pewarna dan pembangkit warna. Jadi, sebelum dicelupkan ke warna tertentu, kain harus dicelupkan terlebih dahulu ke cairan pembangkit warna. Dengan demikian warna yang kita inginkan dapat terserap pada kain. Wah, ini benar-benar mirip praktikum kimia…:D.

Tahap penjemuran

Tahap penjemuran

Kalau sudah, selanjutnya kain itu direbus beberapa menit untuk melarutkan warnanya. Lalu, kain itu dicuci supaya bersih. Terakhir, adalah tahap penjemuran untuk mengeringkan kain yang telah di-“batik” tersebut.

Kuliah Tamu Kriptografi 1 April 2010

Kuliah Kriptografi 1 April 2010 kemarin diisi dengan kuliah tamu oleh Kak Narenda Wicaksono IF”02 yang juga mantan Ketua Himpunan HMIF 2005/2006. Saat ini Kak Narenda sendiri bekerja di Microsoft Indonesia. Dalam kuliah tamu saat itu, Kak Naren membahas, berhubungan dengan kriptografi, yaitu tentang Windows 7 Enterprise Security.

Sebenarnya, secara umum ada 4 isu utama yang mendasari dibutuhkannya kriptografi, yaitu fundamentally secure platform, securing anywhere access, protect users & infrastructure, dan protect data from unauthorized viewing. Untuk contoh fitur yang memenuhi isu protect users & infrastructure adalah AppLocker, yaitu fitur untuk membatasi hak akses penggunaan suatu aplikasi terhadap user tertentu. Namun, sebenarnya yang paling banyak dibahas kemarin itu adalah mengenai isu yang keempat, yaitu protect data from unauthorized viewing. Jadi, dalam Windows 7 Enterprise telah diterapkan fitur Right Management Services (RMS) dan BitLocker.

BitLocker adalah penerapan keamanan dengan menggunakan enkripsi di level hard disk. Yang mahal dari suatu laptop atau komputer setelah digunakan adalah datanya. Oleh karena itu untuk menjaga keamanan data di dalam hard disk tersebut, maka dilakukanlah enkripsi. Enkripsi dalam BitLocker dilakukan dengan menggunakan algoritma AES dalam mode CBC (Chiper Block Chaining) ditambah dengan pendekatan elephant diffuser. Tujuan dari digunakannya elephant diffuser ini adalah untuk membuat usaha serangan-serangan menjadi semakin sulit, tidak cukup hanya dengan AES+CBC saja. Untuk mengetahui lebih jelasnya bisa mengunduh paper yang menjelaskan mengenai algoritma enkripsi BitLocker ini dengan mengklik link berikut: paper BitLocker.

Di samping fitur BitLocker tadi, jug ada fitur RMS yang akan memungkinkan sesorang untuk mengatur pesan yang dikirimnya yang membuat penerima hanya bisa melihat pesan tetapi tidak akan bisa mem-forward, menyalin, atau mencetak ke printer. Dalam perusahaan-perusahaan besar, diceritakan beliau, bahwa untuk pengesahan proposal dsb. sekarang cukup menggunakan email saja dan di-acc langsung dalam email itu. Untuk itu dibuatlah RMS tadi agar keamanan email terjaga.

Selain, pemaparan hal teknis tentang kriptografi khususnya menegnai layanan yang diberikan Microsoft, Kak Naren juga memberikan motivasi kepada kami peserta kuliah Kriptografi mengenai banyak hal terkait dengan akademik, softskill, dan karakteristik dunia kerja nanti.

Tipe orang menurut beliau bisa dibedakan menjadi 4 warna, yaitu kuning, merah, hijau, dan biru. Tipe kuning adalah untuk orang dengan visi jauh ke depan. Orang ini cocok untuk menjadi konseptor. Tipe merah untuk orang yang memiliki karakter sebagai driver atau jago dalam hal-hal eksekusi di lapangan. Tipe hijau adalah untuk orang yang memiliki sifat perfeksionis. Orang ini pantas untuk ditempatkan dalam posisi finance atau dalam dokumentasi karena dia akan memperhatikan kerapian. Terakhir, tipe biru adalah untuk orang yang berkarakter sosialis atau mudah bersosialisasi dengan orang lain dan mampu menyatukan orang-orang di sekitarnya. Empat warna tadi digunakan untuk mengenali potensi setiap orang yang membantu memberikan gambaran seseorang pantas untuk ditempatkan pada posisi mana dalam perusahaan. Hmm… aku di tipe yang mana ya? :p

Di akhir kuliah, Kak Naren memberikan 3 pesan untuk kami. Pertama, solid foundation. Orang-orang yang jago IT itu sekarang sangat banyak. Untuk itulah, kita harus memiliki pengetahuan yang luas mengenai bidang kita itu. Dari berbagai pengetahuan yang kita miliki itu, kita harus mampu expert dalam satu bidang, memiliki pengetahuan yang sangat mendalam tentangnya. Karena, itu yang akan dicari oleh orang. Beliau mencontohkan, ada orang yang jago pemrograman sejenis dengan pemrograman assembly (aku lupa namanya) dan hanya orang tersebut yang mampu sehingga dengan ilmu yang dimilikianya itu ia dibayar bermiliar-miliar rupiah untuk mengerjakan proyek yang berhubungan dengan bidangnya itu.Pesan kedua adalah be different. Untuk yang ini aku lupa apa ya kemarin penjelasannya…hehehe :D. Sedangkan pesan ketiga adalah passion. Intinya sih, lakukan pekerjaan di mana kita memiliki passion di sana.

Kuliah tamu kemarin benar-benar memberikan inspirasilah buat aku. Dengan posisinya sebagai Ketua Himpunan HMIF saat itu, ia tetap mampu menelorkan banyak prestasi, yaitu menjadi juara di LCEN, Juara I Imagine Cup 2006 Indonesia, dsb. Intinya, menjadi mahasiswa itu sayang jika hanya dihabiskan untuk kulaih saja, organisasi itu sangat perlu. Di organisasi itulah kita bisa melakukan latihan softskill dan mendapatkan kesempatan untuk trial and error. Di dunia kerja nanti kesempatan trial & error itu tidak ada. Sekali melakukan kesalahan, ancaman pemecatan akan membayangi. Namun, keduanya, kuliah dan organisasi itu harus seimbang.

3 Idiots: Film Penuh Inspirasi

Pertama kali mendengar judulnya, yang terbayang olehku adalah film ini akan bercerita tentang perilaku kocak “kebodohan” 3 orang sekawan. Apalagi poster film itu menggambarkan seorang yang tampak “menyerah” dengan rumus-rumus kalkulus yang ada di hadapannya di atas sebuah papan tulis.

Ternyata bayanganku itu salah. Film ini malah bercerita tentang sebaliknya, yaitu kisah persahabatan 3 orang yang luar biasa dengan dibumbui kejadian-kejadian kocak, kreatif, jenius, dan penuh drama. Menurutku yang menjadi nilai lebih dari film ini adalah jalan cerita yang sukar ditebak, selalu bikin penasaran, chemistry yang begitu kuat dari ketiga sahabat itu, dan cukup banyak pesan moral yang disampaikan di dalam film ini. Selain itu, hal penting yang membuat film ini menjadi lebih mudah dicerna karena ceritanya mengangkat tema tentang kehidupan yang saat ini kujalani, yaitu dunia kampus, dan juga mengenai persahabatan.

Awalnya aku kurang begitu antusias untuk menonton film ini. Maklumlah… aku tidak begitu suka nonton film India karena sudah bukan rahasia umum jika film India selama ini sangat terkenal dengan adanya nyanyian dan tarian yang kalau ditotal, bisa-bisa sampai 20% dari keseluruhan konten film… hehehe… 🙂 Tetapi, sejak menonton film My Name Is Khan beberapa waktu yang lalu, aku jadi tertarik untuk mengetahui kabar film India yang lainnya. Apalagi teman-temanku yang sudah menonton 3 Idiots, memberikan rekomendasi untuk menontonnya. Aku pun dibuat penasaran. Ternyata benar, film ini memang recommended bangetlah.

Jadi, 3 Idiots ini bercerita tentang kisah 3 sekawan bernama Rancho (diperankan oleh Aamir Khan), Raju (Sharman Joshi), dan Farhan (R. Madhavan). Awal pertemuan mereka terjadi ketika mereka menjalani OSPEK oleh senior mereka di Imperial College of Engineering (ICE), yang diceritakan sebagai institut engineering terbaik di India. Kesan awal bahwa Rancho adalah seorang jenius sudah diperlihatkan dengan ide cemerlang yang dilakukannya demi menghindari paksaan mengikuti perploncoan. Di situ diceritakan bahwasannya sistem pendidikan di kampus tersebut tidak memanusiakan mahasiswanya, tetapi malah memperlakukan mereka layaknya sebuah mesin. Paradigma yang terbentuk di kampus itu adalah lulus dengan nilai bagus, mendapat pekerjaan, gaji tinggi, dan hidup bahagia. Mencoba meng-quote salah satu dialog Rancho dalam film tersebut, “This is a college, not a pressure cooker“.

Dengan sistem pendidikan seperti itu menyebabkan mahasiswanya bukannya semangat mencari ilmu, melainkan hanya berusaha mendapatkan gelar semata. Dalam film itu pada salah satu adegannya dikisahkan ada salah seorang mahasiswa bernama Joy Lobo yang bunuh diri gara-gara putus asa TA-nya ditolak oleh rektor kampus tersebut karena proyeknya dianggap mustahil untuk diselesaikan dalam jangka waktu yang diberikan. Padahal,  sebelum ia bunuh diri, Rancho diam-diam juga membantu mengerjakan proyek TA yang telah ditinggalkan Joy itu dan ternyata berhasil. Fenomena mahasiswa bunuh diri karena tidak kuat menghadapi tekanan dalam proses akademik itu ternyata benar-benar terjadi di India, tidak hanya di film itu. Dalam lagu Give Me Some Sunshine (baru kali ini dengar lagu India yang enak :D) yang dinyanyikan oleh Joy Lobo dalam salah satu adegan keputusasaannya disebutkan bahwa ada sekitar berapa persen (aku lupa, pokoknya gedhe) kasus bunuh diri di India karena masalah tekanan akademik.

Si Joy Lobo meminta kesempatan untuk menyelesaikan proyeknya

Si Joy Lobo meminta kesempatan untuk menyelesaikan proyeknya

Hal menarik lainnya dari film ini adalah ketika Farhan akhirnya memutuskan berhenti kuliah engineering di kampus itu setelah mendapatkan masukan dari Rancho. Ia berniat untuk berkiprah secara total dalam bidang yang disenanginya, yaitu bidang fotografi. Ia ingin mengejar cita-citanya sebagai wild life photographer. Sejak awal ia memang tidak ingin menjadi engineer. Pilihan untuk menjadi engineer itu adalah karena keinginan ayahnya yang bergitu keras. Fenomena serupa (lagi-lagi) ternyata juga terjadi di India di mana diceritakan dalam film itu bahwa pada umumnya sebuah keluarga akan mendorong anak lak-ilakinya agar menjadi engineer sedangkan untuk anak perempuan akan didorong untuk menjadi dokter. Dua profesi tersebut sepertinya dianggap sebagai profesi yang bergengsi di kalangan orang tua di India. Kalau di Jawa mungkin mirip dengan orang tua yang kebanyakan mengharapkan anaknya menjadi PNS kali ya…

Nah, intinya, pesan yang ingin disampaikan dalam film itu adalah “ikuti kata hati kita, lakukan apa yang benar-benar kita sukai, kejar impian itu sampai dapat, jangan paksakan kita mengerjakan sesuatu yang bukan passion kita”.

3 Idiots: Raju, Rancho, Farhan

3 Idiots: Raju, Rancho, Farhan

Ada sebuah jargon menarik yang terus didengun-dengungkan sepanjang film itu, yaitu kata-kata “aal izz well” yang sebenarnya merupakan kalimat bahasa inggris “all is well” (semua baik-baik saja). Maksudnya adalah kita jangan pernah sampai takut menghadapi hidup. Ketakutan-ketakutan tidak beralasan yang ada pada diri kita harus dihilangkan karena hal tersebut akan menjadi gembok diri kita untuk berkembang. Jika kita mengalami kesulitan, yakinlah bahwa pasti akan selalu ada jalan keluar untuk itu. Ada teman-teman di sekeliling kita yang akan siap membantu kita.

Hmm… sebenarnya masih ada banyak inspirasi lain yang bisa diambil dari film ini. Banyak kalimat-kalimat bagus yang dapat kita renungkan. Secara garis besar, film ini memang menawarkan sesuatu yang sungguh berbeda dari film yang ada sekarang. Aku sendiri dibuat penasaran terus sepanjang film itu. Sepanjang film, aku selalu menebak-nebak di manakah Rancho sekarang, seperti apakah dia sekarang, dsb. Benar-benar unpredictable. Film ini juga mampu memainkan emosi penontonnya. Ada kalanya kita terhibur dengan ulah-ulah kocak tokoh-tokohnya, ada juga adegan yang dapat membuat kita terharu melihat begitu kuatnya persahabatan yang mereka jalin. Mereka tidak segan-segan untuk memberikan pengorbanan secara total demi menolong sahabatnya. Banyak nilai-nilai kemanusiaan yang dicontohkan oleh tokoh-tokoh utamanya.Adegan yang cukup menegangkan adalah kejadian di mana anak dari rektornya yang dibenci oleh mahasiswa-mahasiswanya akan melahirkan, sementara cuaca sedang buruk sehingga tidak ada ambulans yang bisa memberikan pertolongan. Akhirnya, dengan modal nekad juga, mahasiswa-mahasiswa itu membantu persalinan dengan alat seadanya, salah satunya yaitu dengan vacuum cleaner untuk “menyedot” bayinya.

Oiya, lagu-lagu yang diputar di film ini bagus-bagus kok. Enak didengar, lebih modern, dan liriknya benar-benar inspiratif. Namun, di balik serunya film itu, ada beberapa hal yang dilakukan oleh tokoh utamanya yang tidak pantas ditiru oleh kita, seperti mabuk-mabukan, (maaf) mengencingi rumah rektornya, ciuman dengan wanita yang belum halal bagi dirinya, dsb. Tetapi, overall, film ini memang recommended-lah.

Rancho lulus dengan predikat yang terbaik

Rancho lulus dengan predikat sebagai yang terbaik

Jalan-Jalan ke Tangkuban Perahu

Akhirnya setelah hampir 3 tahun kuliah di Bandung, kesampaian juga jalan-jalan ke Tangkuban Perahu. Sebelumnya, aku sudah pernah jalan-jalan tempat wisata alamdi daerah sekitaran Bandung, di antaranya kawah putih Ciwidey (3x), Situ Patengang (2x), dan beberapa tempat outbond seperti Ciwangun Indah Camp, Hutan Raya Juanda, dsb. Cukup banyak memang wisata alam yang terdapat di daerah sekitar Bandung ini.

Ok, kenapa tiba-tiba di tengah kesibukan kuliah seperti ini aku malah jalan-jalan… jadi ceritanya begini… Setelah menjalani UTS selama dua minggu kemarin ditambah dengan berbagai tugas besar, aku dan teman-teman satu kontrakanku mulai merasa jenuh dengan rutinitas tersebut. Intinya, kami perlu refreshing. Bayangkan saja, selama dua minggu itu dunia kami terasa sempit, wilayah yang dijangkau cuma Cisitu, Sangkuriang, dan kampus ITB. 😀

Nah, mumpung ada waktu kosong pada hari Sabtu kemarin dan tugas-tugas kuliah juga masih banyak yang belum keluar, maka secara spontan muncul ide untuk jalan-jalan. Tentunya bukan jalan-jalan ke mall yang menjamur di Bandung. Menurut kami solusi tempat yang pas untuk menghilangkan kejenuhan dengan rutinitas kuliah dan ramainya kehidupan perkotaan, tentu saja adalah dengan pergi ke alam. Aku pun mengusulkan untuk pergi ke Tangkuban Perahu saja karena aku belum pernah ke sana. :p

Sabtu pagi pukul 8.00 kami berempat penghuni satu kontrakan, yaitu aku, Khairul, Haris, dan Adi berangkat dari rumah menuju Tangkuban Perahu. Hanya saja, yang disayangkan adalah penghuni kontrakan yang lain Kamal dan Wafi tidak bisa ikut serta karena memiliki acara pribadi masing-masing. Tiket masuk ke wisata alam Tangkuban Perahu ini harganya total adalah Rp 13.000/orang.

Kawah Ratu, kawah terbesar di Tangkuban Perahu

Kawah Ratu, kawah terbesar di Tangkuban Perahu

Sabtu itu Tangkuban Perahu sedang padat pengunjung. Ada beberapa orang berpakaian biksu yang juga menikmati pemandangan alam di sana. Banyak juga orang bule yang plesir di sana. Bahkan Adi dan Khairul sempat berfoto dengan keluarga dari India. Kebetulan saat itu mereka hanya bisa meminta untuk berfoto dengan neneknya (berpakaian sari).

Adi dan Khairul berfoto dengan seorang Ibu dari India

Adi dan Khairul berfoto dengan seorang Ibu dari India

Tangkuban Perahu, dari informasi yang kami dapatkan dari salah seorang pedagang di sana, katanya memiliki 9 kawah. Wew… Banyak sekali ya. Pulangnya aku googling, ternyata memang benar (link). Yang menyebabkan mengapa Tangkuban Perahu dapat memiliki banyak kawah karena banyaknya letusan yang terjadi dalam 1.5 abad terakhir.

Sebenarnya sih ingin juga untuk menjelajahi seluruh kawah di sana. Namun, karena keterbatasan waktu, akhirnya kami cuma bisa mengunjungi 2 kawah saja. Selain kawah utama yang paling besar, yaitu kawah ratu, kami juga mengunjungi kawah upas (kawah terbesar kedua) yang berada sekitar 1,2 km dari kawah ratu. Sebenarnya kami juga sudah sempat jalan ke kawah domas, karena jaraknya juga cukup jauh dan takut kemalaman karena kebetulan sorenya ada janji tugas kelompok maka niat itu diurungkan.

Nah, kalau menurutku pribadi sih, kawah yang pesonanya paling menakjubkan itu di antara keduanya adalah kawah upas. Subhanallah… Di kawah tersebut bisa hidup beberapa pohon di tengah-tengahnya. Meliha pemandangan itu aku jadi merasa seperti pemandagan sebuah pantai dengan pohon bakau di perairannya. Kami pun menghabiskan waktu berlama-lama di kawah itu. Bagaimana tidak betah, kami bisa bermain-main air di situ dan berfoto ria hehehehe….

Berada di Tengah Kawah Upas

Aku dan Khairul berada di tengah Kawah Upas

Bergaya di tengah kawah

Bergaya di tengah kawah

Berempat di tengah-tengah pepohonan

Berempat di tengah-tengah pepohonan

Setelah puas menikmati pemandangan alam yang mengagumkan di Tangkuban Perahu, akhirnya kami pulang juga dari sana pukul 14.00. Kami menyempatkan mapir dulu jalan-jalan keliling UPI, menyempatkan sholat Ashar di Masjid DaruTauhid, dan menikmati wisata kuliner di daerah sekitar Darut Tauhid, Gegerkalong Girang tersebut.

Nah, jalan-jalannya sudah cukup. Semangat juga sudah di-refill. Saatnya menjalani kesibukan di kampus kembali… 😀

Di Balik Cerita My Name Is Khan

Baru saja kemarin malam aku dan beberapa kawan di KOKESMA menonton film My Name is Khan di salah satu sinema di Kota Bandung ini. Cukup telat sih karena sudah sebulan yang lalu film ini dirilis. Aku cukup tertarik untuk menontonnya karena mendengar dari beberapa teman tentang ide cerita dari film ini yang mencoba mengangkat fenomena islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Film Bollywood yang hak distribusinya dibeli oleh FOX STAR ini memang berbeda dengan film-film Bollywood seperti kebanyakan yang banyak menyelipkan musik-musik dan tarian India.

My Name is Khan menceritakan tentang perjalanan hidup seorang muslim India bernama Rizvan Khan, yang diperankan oleh Shahruk Khan. Dalam film ini Rizvan Khan diceritakan sebagai seorang yang memiliki kelainan mental “Aspergus Syndrome”. Meskipun demikian, dia adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Saat dewasa, pasca meninggalnya ibunya,  ia memutuskan untuk menyusul adiknya, Zakir, yang lebih dahulu menetap di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat ia menikahi seorang wanita janda beranak satu bernama Mandira. Pernikahan tersebut sempat ditentang adiknya karena tidak setuju Rizvan menikahi wanita yang berbeda agama dengan dirinya (Mandira seorang Hindu).

Rizvan dan istrinya menjalani kehidupan dengan penuh bahagia dan mereka berdua memiliki usaha produk kosmetik sendiri yang berjalan sukses. namun semuanya berubah sejak kejadian 9/11. Suatu ketika istrinya mengalami depresi berat akibat terbunuhnya anak mereka yang bernama Sameer Khan dalam sebuah insiden yang dilatarbelakangi kebencian teman-temannya karena Sameer adalah anak seorang muslim. Kematian itu sangat menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh Mandira. Mandira mempersalahkan keputusannya menikah dengan seorang muslim sehingga menyebabkan terbunuhnya satu-satunya anak mereka. Mandira pun dalam keadaan emosi yang luar biasa meluapkan amarahnya kepada Rizvan dan meminta suaminya itu memberitahukan kepada seluruh rakyat Amerika dan juga presiden AS bahwa Rizvan Khan adalah seorang muslim dan ia bukan teroris.  Ia tidak diperbolehkan kembali ke istrinya sebelum misinya terpenuhi.

Perjalanan panjang ditempuh Rizvan untuk menunaikan misinya yaitu menyampaikan pesan “My Name is Khan, and I’m not a Terrorist” kepada presiden AS. Berbulan-bulan dan berbagai upaya dilakukan demi misi tersebut. Segala rintangan ia hadapi dengan tenang dan kepolosannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemui presiden amerika dan menyampaikan pesannya.

My Name is Khan menyuguhkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad.

Namun, di balik cerita film tersebut ada beberapa bagian di dalamnya yang menggelitikku. Pertama, pesan dari ibu Rizvan Khan kepada dirinya sewaktu masih kecil saat terjadi konflik Islam dan Hindu di India. Dalam dialognya, ibu Rizvan berkata bahwa “Semua manusia itu sama, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang tidak baik”. Aku menangkap ada ide pluralisme yang ingin disampaikan di sana yaitu bahwa semua agama adalah sama. Memang secara general, semua agama di dunia pasti mengajarkan kebaikan di dalamnya. Namun, di dalam QS. Ali Imran ayat 19 sudah dijelaskan bahwasannya agama yang diridloi di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Jika memang meyakini Islam sebagai Ad-Diin, sudah seharusnya konsep bahwa tidak ada perbedaan Islam dengan agama yang lainnya itu ditolak.

Bagian lainnya adalah ketika Rizvan bersikeras menikahi Mandira, yang seorang Hindu, padahal sudah diingatkan oleh Zakir, adiknya, bahwasannya haram menikahi wanita yang berbeda keyakinan. Namun, Rizvan memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang buruk. Sehingga ia tetap menikahi Mandira. Shahrukh Khan sendiri dalam kehidupan aslinya juga memiliki istri yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Di dalam Al-Quran dinyatakan bahwa seorang muslim haruslah menikahi seorang muslim juga atau menikahi seorang ahli kitab. Ahli kitab adalah orang yang menjadikan kitabnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Masih ada lagi. Yaitu saat Rizvan ikut melakukan doa dan bernyanyi bersama di dalam gereja saat ia berada di Wilhelmina, Georgia. Fenomena yang kutangkap seolah ingin menjelaskan bagaimana sebuah nilai kemanusiaan itu bisa melebihi batas-batas pemisah antar agama. Untuk masalah akidah, Islam secara jelas dan tegas menyatakan bahwa untukku agamaku dan untukmu agamamu (QS. Al-Kafiruun). Toleransi adalah menghormati masing-masing pemeluk agama untuk beribadah sesuai agamanya. Mengikuti acara berdoa bersama dengan pemeluk agama lain bukanlah bentuk toleransi yang dibenarkan itu.

Film ini memang mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat. Film ini turut membantu memulihkan citra bahwa Islam bukan agama terorisme seperti anggapan yang terbentuk pada masyarakat barat secara umum. Film ini juga diharapkan mampu mengurangi perlakuan rasisme yang diterima masyarkat muslim di  negara barat.

Secara keseluruhan film ini memang cukup bagus ditonton karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Namun, di balik itu semua, juga harus dilihat seluruh substansi yang dikandung film “My Name Is Khan” ini dan secara bijak memfilter pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini. Jangan sampai diri ini tertanam pesan yang salah tentang Islam karena terbuai dengan jalan cerita dan akting tokoh-tokohnya. Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini hanya pendapat pribadiku saja yang mencoba melihat film ini dari sudut pandang lain.

Maafkanlah Aku, Kawan

Malam ini sewaktu membuka-buka “brankas” kumpulan artikelku yang sudah kukumpulkan sejak SMA, aku menemukan sebuah artikel yang cukup menarik. Sebenarnya lebih tepatnya mungkin disebut artikel renungan karena mengajak kita memahami makana yang tersirat di dalamnya. Hanya saja sayangnya aku lupa memperoleh artikel ini itu dari mana. Jadi mungkin jika ada teman-teman yang pernah tahu artikel ini, tolong dibagikan sumber asalnya. Saya cukup terkesan dengan makna yang tersirat dalam artikel ini yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan itu, apalagi persahabatan di mana di dalamnya terdapat aktivitas saling mengingatkan satu sama lain, terutama dalam masalah kebaikan dan keimanan (misal, mengingatkan untuk sholat, akademik, dsb.). Berikut ini ceritanya yang juga telah menginspirasiku:

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.

Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.