Category Archives: Islam

Buku-Buku Pun Bisa Diperoleh dengan Gratis

Membeli buku? Wah, mungkin kata-kata itu susah ditemukan dalam kamus mahasiswa sekarang. Bayangkan saja harga buku kuliah, semisal Fisika Dasar Ha***day saja (waktu zaman aku masih tingkat 1 dulu) harganya Rp 120.000,-. Itu baru satu mata kuliah. Belum lagi untuk mata kuliah yang lain. Bisa jadi satu semester kita harus keluar uang lebih dari setengah juta untuk membeli buku (ditambah lagi membayar SPP satu semester). Bahkan, aku masih ingat dulu ingin membeli buku Concepts In Engineering terbitan Mc***w Hill karena melihat ukurannya yang jauh lebih tipis daripada buku fisika dasar Ha***day tadi, eh ternyata perkiraanku salah. Harganya sampai tiga kali lipatnya! Wow kk wow… Untungnya, alhamdulillah, ada perpustakaan jurusan sehingga kita bisa tetap membaca buku referensi. Kalau ngotot tetap ingin punya buku sendiri, ya terpaksa fotocopy. Yah… buku murah memang hanya mimpi. Benar kata orang, pengetahuan itu mahal harganya. Untuk memperolehnya pun ikut-ikutan mahal.

Tetapi ternyata jika kita mempelajari sejarah, buku murah, bahkan buku gratis, itu pernah terjadi pada masa kekhalifahan Islam, tepatnya pada masa Khalifah Al-Makmun. Beliau yang bernama asli Abdullah bin ar-Rasyid bin al-Mahdi (putera dari Khalifah Harun ar-Rasyid dan saudara khalifah sebelumnya, al-Amin) adalah khalifah dari Bani Abbasiyah yang berkuasa pada tahun 813-833 Masehi. Beliau merupakan seorang negarawan yang sangat menghargai orang-orang yang berilmu. Pada masa beliau berdiri lembaga ilmiah pertama di dunia yang dinamakan Darul Hikmah.

Pada masa beliau itu ilmu pengetahuan benar-benar mencapai puncaknya. Buku-buku dibayarkan oleh negara kepada penulis dengan emas seberat buku yang ditulis. Buku tersebut kemudian dipasarkan dengan gratis atau seharga minimal sekadar mengganti ongkos cetak. Sedangkan penulisnya tidak perlu lagi menerima bayaran atau royalti dari penerbit. Salah satu penerjemah yang terkemuka pada masa khalifah al-Makmun adalah Hunain ibn Ishaq (809-877 M), seorang filsuf berbakat sekaligus pakar fisika yang. Beliau dibayar oleh khalifah al-Makmun dengan emas seberat kitab-kitab ilmu pengetahuan yang ia salin ke bahasa Arab.

Semua orang berhak untuk memperoleh buku-buku tersebut ketika isinya adalah ajakan pada kebaikan ataupun ilmu pengetahuan. Pengetahuan bukan milik kalangan tertentu saja. Bahkan ketika seseorang memiliki suatu pengetahuan atau informasi yang bemanfaat bagi kemaslahatan bersama, ia wajib untuk menyebarkannya.

Oleh karena itu, setiap orang berhak untuk menggandakan suatu buku dengan cara apa pun. Tidak akan ada penulis atau penerbit yang merasa dirugikan karena konsumen menggandakan tanpa seizin mereka. Bahkan sebaliknya, mereka akan sangat mendorong setiap orang untuk sama-sama menyebarkan buku dan isinya tersebut. Tidak ada lagi orang yang berteriak-teriak menuntut ganti rugi karena bukunya disalin atau digandakan tanpa seizinnya. Alasannya adalah hak cipta, padahal intinya ia berteriak karena dirugikan secara materi. Hal ini memang biasa terjadi di alam Kapitalisme karena memang segala sesuatu selalu dinilai secara materi.

Dalam sistem Islam yang begitu menghargai ilmu pengetahuan, kaya tidaknya seorang ulama/ilmuwan tidak bergantung dari laku tidaknya karya mereka di pasaran. Khalifah akan memberikan imbalan lebih dari cukup kepada pengarang, penerjemah dan ilmuwan agar mereka bisa hidup layak. Bila kehidupan terjamin maka konsentrasi dan dedikasi menjadi lebih fokus untuk pengembangan ilmu pengetahuan demi kemajuan Islam dan kemaslahatan umat manusia. Tak heran bila saat itu, wilayah kekhilafahan Islam menjadi pusat ilmu pengetahuan dan teknologi mengalahkan peradaban lainnya di zaman itu, melahirkan banyak ilmuwan dan ulama yang terkenal akan ketinggian ilmunya semisal al-Farabi (ahli filsafat), Ibnu Khaldun (sejarawan dan ahli sosiologi), Ibnu Sina (dikenal sebagai”Bapak Kedokteran Dunia”), al-Zahrawi (penemu alat bedah modern pertama), dan masih banyak lainnya.

Tapi sayang sekali, hari ini orang-orang berprestasi dengan keahlian di bidang sains dan teknologi, kurang pendapat perhatian dan penghargaan yang semestinya di negeri ini. Bahkan acara-acara televisi di negeri ini banyak diisi hiburan-hiburan yang sia-sia. Padahal televisi itu dapat menjadi media penyebar pengetahuan yang efektif dan murah, bisa dijangkau oleh seluruh masyarakat. Di negara maju saat ini, orang-orang cerdas begitu dihargai, karena mereka sangat mengerti bahwa boleh jadi satu orang berilmu lebih berharga dibandingkan dengan seribu orang bodoh.

Sumber: voa-islam, dudung.net, wikipedia

Di Balik Cerita My Name Is Khan

Baru saja kemarin malam aku dan beberapa kawan di KOKESMA menonton film My Name is Khan di salah satu sinema di Kota Bandung ini. Cukup telat sih karena sudah sebulan yang lalu film ini dirilis. Aku cukup tertarik untuk menontonnya karena mendengar dari beberapa teman tentang ide cerita dari film ini yang mencoba mengangkat fenomena islamofobia di Amerika Serikat pasca serangan 9/11. Film Bollywood yang hak distribusinya dibeli oleh FOX STAR ini memang berbeda dengan film-film Bollywood seperti kebanyakan yang banyak menyelipkan musik-musik dan tarian India.

My Name is Khan menceritakan tentang perjalanan hidup seorang muslim India bernama Rizvan Khan, yang diperankan oleh Shahruk Khan. Dalam film ini Rizvan Khan diceritakan sebagai seorang yang memiliki kelainan mental “Aspergus Syndrome”. Meskipun demikian, dia adalah seorang yang sangat cerdas dan memiliki jiwa kemanusiaan yang sangat tinggi. Saat dewasa, pasca meninggalnya ibunya,  ia memutuskan untuk menyusul adiknya, Zakir, yang lebih dahulu menetap di Amerika Serikat. Di Amerika Serikat ia menikahi seorang wanita janda beranak satu bernama Mandira. Pernikahan tersebut sempat ditentang adiknya karena tidak setuju Rizvan menikahi wanita yang berbeda agama dengan dirinya (Mandira seorang Hindu).

Rizvan dan istrinya menjalani kehidupan dengan penuh bahagia dan mereka berdua memiliki usaha produk kosmetik sendiri yang berjalan sukses. namun semuanya berubah sejak kejadian 9/11. Suatu ketika istrinya mengalami depresi berat akibat terbunuhnya anak mereka yang bernama Sameer Khan dalam sebuah insiden yang dilatarbelakangi kebencian teman-temannya karena Sameer adalah anak seorang muslim. Kematian itu sangat menyakitkan dan tidak bisa diterima oleh Mandira. Mandira mempersalahkan keputusannya menikah dengan seorang muslim sehingga menyebabkan terbunuhnya satu-satunya anak mereka. Mandira pun dalam keadaan emosi yang luar biasa meluapkan amarahnya kepada Rizvan dan meminta suaminya itu memberitahukan kepada seluruh rakyat Amerika dan juga presiden AS bahwa Rizvan Khan adalah seorang muslim dan ia bukan teroris.  Ia tidak diperbolehkan kembali ke istrinya sebelum misinya terpenuhi.

Perjalanan panjang ditempuh Rizvan untuk menunaikan misinya yaitu menyampaikan pesan “My Name is Khan, and I’m not a Terrorist” kepada presiden AS. Berbulan-bulan dan berbagai upaya dilakukan demi misi tersebut. Segala rintangan ia hadapi dengan tenang dan kepolosannya. Hingga akhirnya ia berhasil menemui presiden amerika dan menyampaikan pesannya.

My Name is Khan menyuguhkan nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan yang dicitrakan pada sesosok pria yang tidak normal secara mental. Namun di tengah keterbatasan tersebut justru Rizvan-lah yang mampu mengetuk pintu hati jutaan rakyat Amerika tentang bagaimana agama itu mengajarkan keindahan. Agama tidak pernah mengajarkan kebencian, dendam, dan pembunuhan atas nama jihad.

Namun, di balik cerita film tersebut ada beberapa bagian di dalamnya yang menggelitikku. Pertama, pesan dari ibu Rizvan Khan kepada dirinya sewaktu masih kecil saat terjadi konflik Islam dan Hindu di India. Dalam dialognya, ibu Rizvan berkata bahwa “Semua manusia itu sama, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang tidak baik”. Aku menangkap ada ide pluralisme yang ingin disampaikan di sana yaitu bahwa semua agama adalah sama. Memang secara general, semua agama di dunia pasti mengajarkan kebaikan di dalamnya. Namun, di dalam QS. Ali Imran ayat 19 sudah dijelaskan bahwasannya agama yang diridloi di sisi Allah SWT hanyalah Islam. Jika memang meyakini Islam sebagai Ad-Diin, sudah seharusnya konsep bahwa tidak ada perbedaan Islam dengan agama yang lainnya itu ditolak.

Bagian lainnya adalah ketika Rizvan bersikeras menikahi Mandira, yang seorang Hindu, padahal sudah diingatkan oleh Zakir, adiknya, bahwasannya haram menikahi wanita yang berbeda keyakinan. Namun, Rizvan memiliki keyakinan bahwa tidak ada yang membedakan antara Islam dan Hindu, yang ada hanyalah manusia yang baik dan manusia yang buruk. Sehingga ia tetap menikahi Mandira. Shahrukh Khan sendiri dalam kehidupan aslinya juga memiliki istri yang berbeda keyakinan dengan dirinya. Di dalam Al-Quran dinyatakan bahwa seorang muslim haruslah menikahi seorang muslim juga atau menikahi seorang ahli kitab. Ahli kitab adalah orang yang menjadikan kitabnya untuk memahami ayat-ayat Allah.

Masih ada lagi. Yaitu saat Rizvan ikut melakukan doa dan bernyanyi bersama di dalam gereja saat ia berada di Wilhelmina, Georgia. Fenomena yang kutangkap seolah ingin menjelaskan bagaimana sebuah nilai kemanusiaan itu bisa melebihi batas-batas pemisah antar agama. Untuk masalah akidah, Islam secara jelas dan tegas menyatakan bahwa untukku agamaku dan untukmu agamamu (QS. Al-Kafiruun). Toleransi adalah menghormati masing-masing pemeluk agama untuk beribadah sesuai agamanya. Mengikuti acara berdoa bersama dengan pemeluk agama lain bukanlah bentuk toleransi yang dibenarkan itu.

Film ini memang mendapatkan antusiasme yang sangat tinggi dari masyarakat. Film ini turut membantu memulihkan citra bahwa Islam bukan agama terorisme seperti anggapan yang terbentuk pada masyarakat barat secara umum. Film ini juga diharapkan mampu mengurangi perlakuan rasisme yang diterima masyarkat muslim di  negara barat.

Secara keseluruhan film ini memang cukup bagus ditonton karena banyak pelajaran yang bisa diambil. Namun, di balik itu semua, juga harus dilihat seluruh substansi yang dikandung film “My Name Is Khan” ini dan secara bijak memfilter pesan-pesan yang disampaikan dalam film ini. Jangan sampai diri ini tertanam pesan yang salah tentang Islam karena terbuai dengan jalan cerita dan akting tokoh-tokohnya. Tanpa bermaksud menggurui, tulisan ini hanya pendapat pribadiku saja yang mencoba melihat film ini dari sudut pandang lain.

Maafkanlah Aku, Kawan

Malam ini sewaktu membuka-buka “brankas” kumpulan artikelku yang sudah kukumpulkan sejak SMA, aku menemukan sebuah artikel yang cukup menarik. Sebenarnya lebih tepatnya mungkin disebut artikel renungan karena mengajak kita memahami makana yang tersirat di dalamnya. Hanya saja sayangnya aku lupa memperoleh artikel ini itu dari mana. Jadi mungkin jika ada teman-teman yang pernah tahu artikel ini, tolong dibagikan sumber asalnya. Saya cukup terkesan dengan makna yang tersirat dalam artikel ini yang menggambarkan betapa indahnya persahabatan itu, apalagi persahabatan di mana di dalamnya terdapat aktivitas saling mengingatkan satu sama lain, terutama dalam masalah kebaikan dan keimanan (misal, mengingatkan untuk sholat, akademik, dsb.). Berikut ini ceritanya yang juga telah menginspirasiku:

Dua orang sahabat karib sedang berjalan melintasi gurun pasir. Di tengah perjalanan, mereka bertengkar, dan salah seorang menampar temannya. Orang yang kena tampar, merasa sakit hati, tapi dengan tanpa berkata-kata, dia menulis di atas pasir : HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENAMPAR PIPIKU.Mereka terus berjalan, sampai menemukan sebuah oasis, dimana mereka memutuskan untuk mandi. Orang yang pipinya kena tampar dan terluka hatinya, mencoba berenang namun nyaris tenggelam, dan berhasil diselamatkan oleh sahabatnya.

Ketika dia mulai siuman dan rasa takutnya sudah hilang, dia menulis di sebuah batu: HARI INI, SAHABAT TERBAIKKU MENYELAMATKAN NYAWAKU. Orang yang menolong dan menampar sahabatnya, bertanya, “Kenapa setelah saya melukai hatimu, kau menulisnya di atas pasir, dan sekarang kamu menulis di batu?” Temannya sambil tersenyum menjawab, “Ketika seorang sahabat melukai kita, kita harus menulisnya di atas pasir agar angin maaf datang berhembus dan menghapus tulisan tersebut. Dan bila sesuatu yang luar biasa terjadi, kita harus memahatnya di atas batu hati kita, agar tidak bisa hilang tertiup angin.”

Cerita di atas, bagaimanapun tentu saja lebih mudah dibaca dibanding diterapkan. Begitu mudahnya kita memutuskan sebuah pertemanan ‘hanya’ karena sakit hati atas sebuah perbuatan atau perkataan yang menurut kita keterlaluan hingga menyakiti hati kita. Sebuah sakit hati lebih perkasa untuk merusak dibanding begitu banyak kebaikan untuk menjaga. Mungkin ini memang bagian dari sifat buruk diri kita.

Karena itu, seseorang pernah memberitahu saya apa yang harus saya lakukan ketika saya sakit hati. Beliau mengatakan ketika sakit hati yang paling penting adalah melihat apakah memang orang yang menyakiti hati kita itu tidak kita sakiti terlebih dahulu.

Bukankah sudah menjadi kewajaran sifat orang untuk membalas dendam? Maka sungguh sangat bisa jadi kita telah melukai hatinya terlebih dahulu dan dia menginginkan sakit yang sama seperti yang dia rasakan. Bisa jadi juga sakit hati kita karena kesalahan kita sendiri yang salah dalam menafsirkan perkataan atau perbuatan teman kita. Bisa jadi kita tersinggung oleh perkataan sahabat kita yang dimaksudkannya sebagai gurauan.

Namun demikian, orang yang bijak akan selalu mengajari muridnya untuk memaafkan kesalahan-kesalahan saudaranya yang lain. Tapi ini akan sungguh sangat berat. Karena itu beliau mengajari kami untuk ‘menyerahkan’ sakit itu kepada Allah -yang begitu jelas dan pasti mengetahui bagaimana sakit hati kita- dengan membaca doa, “Ya Allah, balaslah kebaikan siapapun yang telah diberikannya kepada kami dengan balasan yang jauh dari yang mereka bayangkan. Ya Allah, ampuni kesalahan-kesalahan saudara-saudara kami yang pernah menyakiti hati kami.”

Bukankah Rasulullah pernah berkata, “Tiga hal di antara akhlak ahli surga adalah memaafkan orang yang telah menganiayamu, memberi kepada orang yang mengharamkanmu, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat buruk kepadamu”.

Karena itu, Saudara-saudaraku, mungkin aku pernah menyakiti hatimu dan kau tidak membalas, dan mungkin juga kau menyakiti hatiku karena aku pernah menyakitimu. Namun dengan ijin-Nya aku berusaha memaafkanmu. Tapi yang aku takutkan kalian tidak mau memaafkan.Sungguh, Saudara-saudaraku, dosa-dosaku kepada Tuhanku telah menghimpit kedua sisi tulang rusukku hingga menyesakkan dada.

Saudara-saudaraku, jika kalian tidak sanggup mendoakan aku agar aku ‘ada’ di hadapan-Nya, maka ikhlaskan segala kesalahan-kesalahanku. Tolong jangan kau tambahkan kehinaan pada diriku dengan mengadukan kepada Tuhan bahwa aku telah menyakiti hatimu.

Tuntunan Islam dalam Berbisnis

Beberapa waktu yang lalu saat Jumatan di Masjid Salman, seperti biasa aku mengambil buletin Jumat yang disediakan. Selain “Al-Islam”, aku juga mengambil buletin Jumat “Soeara Jabal Rahmah”. Waktu itu kebetulan topiknya adalah mengenai tuntunan Islam dalam berbisnis. Menarik juga nih. Kebetulan aku jarang mempelajari untuk hal yang satu ini dan kebetulan pula aku ada interest pada hal-hal berkaitan dengan entrepreneurship.

Ada dua puluh pintu rezeki, sembilan belas pintu untuk pedagang dan satu pintu untuk pegawai.

Begitu salah satu kutipan hadits Rasulullah yang terdapat di awal buletin tersebut. Subhanallah, kalau kita pikir memang benar hadits tersebut. Seorang pedagang atau istilah kerennya sekarang, entrepreneur, tentunya dia akan memiliki banyak sumber pemasukan bagi usahanya dengan ide dan kreativitasnya serta kecerdikannya dalam memanfaatkan peluang bisnis yang ada. Sementara itu, seorang pegawai sumber pemasukannya hanya dari gaji tetapnya itu. Tapi kalau pegawai tersebut juga punya usaha sampingan, bagaimana? Wah, berarti pintu rezekinya ada 20 dong hehehe… :D. Tetapi jumlah waktu luang yang terbatas yang dimiliki seorang pegawai biasanya menjadi hambatan untuk ber-entrepreneurship ria.

Nah, kemudian ada lagi hadits Rasulullah untuk para pedagang:

Sesungguhnya para pedagang besok di hari kiamat akan dibangkitkan sebagai orang-orang yang durhaka, kecuali mereka yang bertakwa kepada Allah, berbuat baik dan berbuat jujur.

Mendengar sabda Rasulullah SAW tersebut para pedagang pun bertanya: “Ya Rasulullah, nukankah Allah SWT telah menghalalkan jual beli?”

Lalu Rasulullahbersabda, sebagaimana diriwayatkan oleMuslim:

Benar, akan tetapi mereka (para pedagang) sering mengucapkan sumpah, namun mereka melanggarnya, dan mereka sering berkata-kata (berpromosi), namun (kata-kata promosi) mereka bohong.

Kalau kita lihat di media massa kita sekarang, baik itu televisi, koran, radio, hingga internet pasti kita sering mendengarkan berbagai macam iklan produk-produk atau jasa. Iklan-iklan tersebut biasa dikemas dengan tampilan menarik dan kata-kata yang amat sangat meyakinkan konsumen agar membeli produk tersebut. Tetapi, tidak jarang kenyataan yang terjadi produk yang dibeli tidak sebaik yang dijanjikan pada iklan-iklan tersebut. Sebagai konsumen tentunya harus selektif dan berhati-hati dalam memilih dan membeli suatu produk tertentu. “Jangan sampai termakan iklan”, begitu kata orang-orang. Nah, sebagai pihak perodusen atau penjual pun juga demikian. Harus fair dalam berbisnis. Tidak masalah jika menggunakan kata-kata manis dalam iklannya seperti mengunggul-unggulkan produknya sebagai yang terbaik dibandingkan produk yang lain, asalkan memang kenyataannya seperti itu. Yang penting jangan sampa berbohong dalam melakukan promosi. Jika tidak, maka usahanya tidak akan berkah, sebagai mana sabda Rasulullah:

Sumpah dalam berdagang memang dapat meningkatkan penjualan tetapi (sumpah mereka) mengurangi berkah.

Begitulah Rasulullah sering mengingatkan para bisnisman agar selalu bertakwa kepada Allah, berbuat baik, dan jujur. Namun, beliau juga memotivasi para pebisnis untuk berbisnis yang amanah. Rasulullah bersabda lagi:

Pedagang yang jujur dan terpercaya akan bersanding dengan para Nabi, orang-orang yang jujur dan para syuhada.

Sedikit Cerita Tentang Sholat Berjamaah

Aku punya cerita tentang anak kecil di dekat kosanku. Kira-kira umurnya belum ada 5 tahun.  Aku tertarik untuk menceritakan tentang anak kecil ini karena menurutku dia dapat dijadikan contoh bagi kita semua yang sudah dewasa.

Aku sendiri sebenarnya tidak terlalu mengenal dekat dengan anak itu. Aku hanya bertemu dengan anak itu ketika melaksanakan sholat berjamaah di Musholla yang kebetulan terletak di di belakang kontrakanku. Sudah ada beberapa masjid atau musholla yang pernah kukunjungi untuk sholat berjamaah di daerah cisitu, tetapi aku jarang melihat di masjid atau musholla tersebut anak-anak remaja atau pemuda asli daerah tersebut yang ikut sholat berjamaah. Malah yang paling parah, walaupun sudah terdengar adzan tetapi masih nongkrong-nongkrong di jalan gang. Kalau anak-anak kecil yang sholat memang banyak. Di masjid atau musholla tersebut rata-rata memang ada TPQ-nya.

Tetapi di tempat baruku ini aku bertemu seorang anak kecil yang cukup rajin sholat berjamaah di musholla dekat kontrakanku itu. Hampir setiap waktu sholat berjamaah dia ikut. Nah, yang membuat aku kagum kepada anak tersebut yaitu aku sering bertemu anak itu ikut sholat subuh.

Dia jalan sendirian di jalan-jalan kecil di dalam gang di tengah suasana yang agak gelap dan dingin. Padahal banyak orang dewasa yang mungkin pada saat jam segitu masih berada di balik selimut. Dia sendiri dari yang aku amati anaknya sangat anteng (dalam bahasa Jawa artinya tenang, ora kakean polah). Biasanya anak kecil waktu sholat mengikuti apa yang dibaca imam keras-keras atau lari-lari sendiri. Tapi dia tidak seperti itu.

Melihat itu, aku jadi bergumam dalam diriku, “Ah, masak kita kalah sama anak kecil…”. Aku jadi teringat pada suatu sabda Rasulullah: “Seandainya mereka mengetahui pahala yang terdapat dalam shalat al ‘Atamah (‘Isya’) dan Shubuh, niscaya mereka mendatangi keduanya walaupun dengan merangkak.” (HR. Asy Syaikhan dari Abu Hurairah)

Ya, Shalat berjamaah itu memang sangat tinggi keutamaannya. Sholat sunnah sebelum Shubuh itu pahalanya adalah dunia dan seisinya (bayangkan!). Sungguh rugi sekali jika kita melewatkannya. Pesan orang tuaku ketika mereka melepasku untuk kuliah di Bandung ini cuma satu, jaga sholat, jangan tinggalkan sholat berjamaah di masjid, tepat waktu, dan laksanakan sholat sunnah rawatib dan tahajjud. Intinya cuma sholat.

Aku ada cerita lagi tentang dosenku. Nama beliau adalah Afwarman Manaf atau biasa dipanggil Pak Awang. Beliau mengajar kuliah Jaringan Komputer (Jarkom) semester 5 ini. Penampilan beliau sangat Islami. Awal semester ini jadwal kuliah jarkom sebenarnya adalah Selasa pukul 11.00-13.00 dan Rabu pukul 9.00-10.00. Beliau meminta kami mengganti jadwal kuliah hari Selasa jam 11 itu ke jadwal lain. “Jam ini nggak baik buat saya… buat kalian juga.” itu kata kata yang kuingat dari beliau. Aku berpikir mungkin Pak Awang ada jadwal mengajar atau acar lain jam segitu. Sekitar pukul 11.45 di tengah-tengah kuliah Pak Awang meminta izin untuk keluar dulu karena ada urusan. Lama sekali kami menunggu. Sekitar setengah jam kemudian bapaknya kembali lagi. Setelah mendegar-dengar dari cerita teman-teman dan kakak angkatan, ternyata Pak Awang memang nggak suka mengajar di jam-jam yang memotong waktu awal sholat seperti jam 12 siang atau jam 3 sore. Subhanallah… Jadi Pak Awang saat itu meninggalkan kami karena ada “urusan” dengan qjji (sholat). Beliau sholat Dhuhur berjamaah di Masjid Salman ITB. Akhirnya jadwal kuliah diganti Senin jam 7 pagi. Seandainya jadwal kuliah “aturan” seperti itu, sungguh bagus sekali bagi mahasiswa muslim dapat melaksanakan sholat berjamaah di Masjid, di awal waktu lagi. Amin, mudah-mudahan terjadi.