Category Archives: Islam

Aib

Sumber gambar: http://bit.ly/1fbkX0f

Sumber gambar: http://bit.ly/1fbkX0f

Beberapa hari yang lalu sempat beredar screenshot status seorang cewek di jejaring sosial Path. Status tersebut berisi mengenai keluhan dia terhadap seorang ibu hamil yang memintanya untuk memberikan tempat duduk di KRL.

Screenshot tersebut beredar secara masif di berbagai platform jejaring sosial, baik itu Path, Facebook, Twitter, Instagram, dan mungkin masih ada lagi yang lainnya. Banyak orang bereaksi negatif terhadap status tersebut.

Di sini saya tidak di sini saya tidak bermaksud untuk mengomentari isi status tersebut. Namun, secara konten saya setuju memang apa yang dia keluhkan itu menurut saya tidak bisa dibenarkan. Melalui tulisan ini saya ingin mengungkapkan keheranan saya bagaimana status tersebut bisa tersebar sedemikian hebohnya. Bahkan, sampai ada situs berita yang cukup populer — sering ada iklannya di Facebook — menjadikannya sebagai sebuah berita di halaman websitenya.

Setahu saya Path adalah jejaring sosial yang cukup menjamin privasi penggunanya. Path dimaksudkan sebagai media jejaring sosial tempat kita berbagi kabar — baik foto, teks, ataupun kegiatan kita — (seharusnya) hanya dengan teman-teman dekat kita. Karena itulah jumlah pengguna yang bisa menjadi teman dibatasi hingga 150 saja (terakhir yang saya tahu).

Makanya, ketika screenshot status dari Path ini tersebar, saya cukup terkesima. Kok ada ya seorang “teman” yang tega menyebarkan (sesuatu yang menurut saya adalah) aib dari temannya. Alhasil, temannya tersebut kemudian mendapatkan berbagai kecaman di dunia maya. Bahkan, banyak tangan-tangan kreatif yang sampai membuat meme-meme untuk menjadikannya sebagai sebuah lelucon.

Hmm… bagaimana ya perasaan sang pengambil screenshotKenapa dia tidak mengingatkan langsung temannya mengenai statusnya tersebut? Mungkin dewasa ini orang lebih suka menghukum kesalahan seseorang dengan menyebarkan kesalahannya sehingga publiklah yang menghukum (atau mem-bully) orang tersebut hingga ia akhirnya mengakui kesalahannya dan meminta maaf.

Well… saya bersyukur Islam memiliki ajaran yang sangat indah menurut saya. Kita diajarkan untuk tidak membuka aib orang lain. Jangankan aib orang lain, terhadap aib diri sendiri saja kita tidak dibenarkan untuk membukanya.

كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًا إِلاَّ الْمُجَاهِرِيْنَ, وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ باِللَّيْلِ عَمَلاً, ثُمَّ يُصْبِحُ وَقَدْ سَتَرَهُ اللهُ فَيَقُوْلُ: يَافُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا وَقَدْ بَاتَ سَتَرَهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللهِ عَنْهُ

“Setiap umatku dimaafkan kecuali orang yang terang-terangan (melakukan maksiat). Dan termasuk terang-terangan adalah seseorang yang melakukan perbuatan maksiat di malam hari, kemudian di pagi harinya -padahal Allah SWT telah menutupnya-, ia berkata: wahai fulan, kemarin aku telah melakukan ini dan itu –padahal Allah SWT telah menutupnya- dan di pagi harinya ia membuka tutupan Allah SWT terhadapnya.”

Oke, saya tidak tahu bagaimana perasaan cewek pembuat status tersebut. Namun, saya membayangkan seandainya saya berada di pihak dia. Pertama, tentu saya akan merasa sangat malu. Dan kedua, saya akan merasa sangat kecewa dengan teman saya yang menyebarkannya. Sangat, sangat, sangat kecewa. Saya tentu akan sangat menghargai teman saya jika ia memberikan nasehat secara langsung bahwa apa yang saya katakan atau lakukan itu salah.

Sebagaimana hadits yang disebutkan pada gambar di bagian atas tulisan ini, keutamaan dari menutup aib orang lain ini adalah akan ditutupnya aib kita di dunia dan kelak di akhirat. Setiap orang pasti memiliki kekurangan, cela, dan dosa tertentu pada dirinya. Jika kita tanpa sengaja mengetahuinya, semoga hal tersebut dapat dijadikan pelajaran dan dapat memperbaiki diri agar tidak melakukan hal serupa.

Semoga kita bukan termasuk orang yang menyenangi tersebarnya kejelekan di tengah-tengah kita.

إِنَّ الَّذِيْنَ يُحِبُّوْنَ أَنْ تَشِيْعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِيْنَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيْمٌ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ

“Sesungguhnya orang-orang yang menyenangi tersebarnya kekejian di tengah-tengah orang-orang yang beriman, mereka akan memperoleh azab yang pedih di dunia dan di akhirat.” (QS. An-Nur: 19)

Wallahu a’lam.

Aplikasi Halal Locator

Sebulan yang lalu sebelum berangkat trip ke Penang, Malaysia, aku tiba-tiba kepikiran ada nggak ya aplikasi Android untuk mencari restoran halal. Malaysia walaupun negaranya mayoritas (lebih dari 50%) berpenduduk muslim, tapi tetap saja aku merasa perlu untuk meyakinkan diri bahwa makanan-makanan yang akan kukonsumsi adalah halal.

Apalagi dari review-review yang kubaca di internet terkait wisata kuliner di Penang ini menceritakan bahwa beberapa rumah makan di sana, terutama masakan-masakan China, menyajikan makanan non halal. Tapi salutnya dari pengalaman beberapa traveler ketika mereka akan membeli makanan di sana, oleh pelayan/pemilik beberapa rumah makan di sana ia diperingatkan bahwa makanan yang disajikan di sana adalah non halal.

Kembali ke pencarian aplikasi Android tadi. Eh, ternyata ada lho aplikasi halal locator di Google Play. Ada beberapa, dan yang mendapatkan rate di atas 4 (skala 5) ada aplikasi Halal dan Sri Lanka Halal Product Finder. Well, coverage-nya memang tak seluruh negara di dunia. Aplikasi yang kedua kusebutkan, dari namanya sudah kelihatan lah ya… dia khusus negara Sri Lanka saja. Aplikasi yang pertama, Halal, ternyata hanya mencakup wilayah Malaysia saja. Tapi itu pas banget dengan yang kubutuhkan.

Aku tidak begitu tahu apakah aplikasi ini ada hubungannya dengan MUI-nya Malaysia atau tidak. Tapi di aplikasi itu ada copyright milik HDC (Halal Industry Development Corporation). Apa itu HDC? Silakan baca penjelasan lengkapnya di sini. Singkatnya sih, HDC ini adalah sebuah lembaga yang didirikan oleh pemerintah Malaysia untuk mendorong perkembangan industri halal di Malaysia. Terkait dengan industri halal ini, Malaysia tampaknya memang menunjukkan keseriusannya sih. Mereka ingin menjadi role model dan bahkan leader di industri halal internasional, salah satunya melalu World Halal Forum.

Ok, balik lagi ke aplikasi tadi. Yang jelas direktorinya memang benar-benar lengkap. Hanya saja aku kurang begitu tahu apakah direktori itu terus diperbaharui ataukah tidak. Melalui aplikasi itu, pengguna bisa melakukan pencarian berdasarkan keyword tertentu, di negara bagian tertentu, dan ukuran perusahaan (UKM kah, sedang kah, atau multinasional).

Ini dia beberapa screenshoot dari aplikasi Halal tersebut.

Screenshoot di atas diambil dari menu Directory. Itu berguna sekali ketika kita mau ngecek apakah suatu produk atau restoran sudah tersertifikasi halal atau tidak. Nah, bagaimana kalau kita ingin mencari daftar restoran halal di dekat kita. Di aplikasi ini ada fitur Nearby. Halal locator lah istilah kerennya.

Sayang aku nggak sempat mengambil screenshoot-nya waktu di Penang kemarin. Baru kuambil saat sudah berada di Bandung ini. Tentu saja nggak muncul hasilnya lah, hihi.

Search nearby

Search nearby

It really works. Aku lumayan terbantukan sewaktu kelaparan mencari rumah makan saat jalan-jalan di Georgetown, Penang, sebulan yang lalu. Sebenarnya konsepnya miriplah sama aplikasi semacam foursquare, toresto, atau aplikasi pencari tempat makan yang lain. Cuma ini lebih spesifik ke produk halal (yang sudah tersertifikasi).

Sayang euy di Indonesia belum ada aplikasi semacam ini. Mungkin masih belum merasa perlu ya kita. Kalau di negara di mana umat muslimnya adalah minoritas, jelas akan sangat diperlukan aplikasi semacam ini. Semoga dari World Halal Forum tadi mampu membuat direktori produk-produk dan restoran halal di seluruh dunia kalau bisa. Dan semuanya itu bisa diakses dari satu aplikasi yang sama, jadi tidak perlu menginstal satu aplikasi tiap satu negara, hehe.

PKN

Beberapa hari belakangan ini sedang heboh isu PKN yang dilangsungkan selama satu minggu tanggal 1-7 Desember 2013 ini. Apa itu PKN? PKN adalah singkatan dari Pekan Kuliner Kondom Nasional. Penyelenggaraan PKN yang digagas oleh Kementrian Kesehatan ini dilakukan bertepatan dengan hari AIDS sedunia yang jatuh setiap tanggal 1 Desember.

Wew, cara penanganan isu AIDS zaman sekarang dibandingkan dengan zaman saat aku masih SMP/SMA sudah jauh berbeda ternyata. Dulu seminar edukasi penyakit HIV/AIDS yang aku ikuti saat SMP sangat menekankan kepada kami para pelajar agar menghindari pergaulan bebas yang dapat menghantarkan perilaku seperti free sex, penggunaan narkoba, tato dan tindik karena berisiko tinggi dalam penularan virus HIV, Hepatitis B, atau Hepatitis C. Nah, kalau sekarang ternyata metode “edukasi” HIV/AIDS ke masyarakat itu adalah dengan meluncurkan program Pekan Kondom Nasional. Bahkan salah satu kegiatannya adalah cara meluncurkan “Bus Kondom” yang akan berkeliling ke sejumlah tempat nongkrong anak muda (baca beritanya di sini).

Selama sepekan penuh masyarakat (termasuk anak kecil yang masih polos) akan terpapar berita mengenai kondom, kondom, dan kondom. Bahkan sangat mungkin sekali anak-anak kecil yang kebetulan sedang diajak orang tuanya ke mall akan melihat bus kondom itu dan bertanya pada orang tuanya, “Pa, Ma, itu bus apa sih ada gambar cewek (gambar Jupe) pose tiduran gitu? Kondom itu apa yah?” WTH!!!

Parahnya, di UGM sejumlah orang dari bus kondom (walaupun katanya mangkalnya di luar kampus, bukan di dalam) itu sampai membagi-bagikan kondom gratis kepada orang-orang yang sedang lewat saat itu. Bahkan, sampai ada yang berpesan kondomnya dapat digunakan sama pacar (baca beritanya di sini). Subhanallah!!

Mungkin aku tak cukup pintar untuk memahami logika yang digunakan oleh Kementerian Kesehatan negeriku ini, khususnya sang Ibu Menteri Kesehatan, dalam kampanye HIV/AIDS. Mungkin menurut mereka kampanye gunakan kondom sebelum berhubungan seks mungkin lebih efektif dibandingkan kampanye hindari seks pra nikah dan perselingkuhan karena berisiko tertular penyakit HIV/AIDS. Sudah jelas Pekan Kondom Nasional ini menyasar pada pelaku hubungan seks bebas (baca: seks pra nikah, selingkuh, prostitusi) — karena nggak mungkin kan suami-istri yang disuruh pakai kondom agar tak tertular AIDS — sehingga logika yang kutangkap adalah pemerintah menganggap perilaku seks bebas tersebut adalah biasa karena “mendukung”-nya dengan mengingatkan pelakunya agar jangan lupa menggunakan pengaman (baca: kondom).

Pemikiran bodohku mengatakan kebijakan itu bisa muncul karena kehidupan kita yang semakin sekuler, mengenyampingkan ajaran agama (karena dianggap tradisional), dan mengikuti budaya barat yang liberal. Karena seks bebas ini masuk ranah pribadi, pemerintah merasa tidak berhak melarang-larangnya, sehingga yang bisa dilakukan pemerintah cuma bisa menghimbau saja agar jangan lupa pakai pengaman agar tak sampai terkena HIV/AIDS. Padahal di dalam Al-Qur’an (Al Isra 17:32) bahkan Al-Kitab (Ibrani 13:4) sekalipun manusia sudah diperintahkan untuk menjauhi zina.

Oleh karena itu, logika bodohku berkata kampanye menghindari zina dalam rangka untuk mencegah penyebaran HIV/AIDS jauh lebih substantif ketimbang kampanye kondom itu. Bahkan, kampanye kondom justru meningkatkan peluang (baca: bahasa halus dari mengajak) orang melakukan “seks berisiko”.

Oh ya bodohnya aku, baru ingat beberapa waktu yang lalu sempat beredar juga berita mengenai praktek “seks kilat” di gedung DPR (baca beritanya di sini). Sang ketuanya sendiri telah mengakui adanya praktek seperti itu dan cuma bisa menghimbau agar tidak ada lagi kondom bekas pakai yang ditemukan di tempat sampah gedung DPR. Oh pantes…

Setelah kegiatan Pekan Kondom Nasional dengan “bus kondom”-nya yang kontroversial itu usai, jangan terkejut bila kelak akan kita dapati pemandangan kondom dijual pedagang asongan di tempat-tempat umum seperti mereka menjual rokok sekarang. Ngerilah. Na’udzubillah. Tanda-tanda kehidupan manusia sekarang akan menuju kondisi yang disebutkan di dalam hadits di bawah ini sepertinya sudah semakin tampak:

Dari Abdullah bin Umar, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi sampai orang-orang bersetubuh di jalan-jalan seperti layaknya keledai.” Aku (Ibnu ‘Umar) berkata, “Apa betul ini terjadi?”. Beliau lantas menjawab, “Iya, ini sungguh akan terjadi”. (HR. Ibnu Hibban, Hakim, Bazzar, dan Thabrani)[1]

Sepertinya kita tak perlu menunggu lama untuk hal tersebut terjadi. Karena di belahan dunia barat sana, tepatnya di Swiss, hal itu sudah terjadi. Mereka menyediakan bilik-bilik untuk bercinta di pinggir jalan!! Mereka menyebutnya dengan nama “sex drive-in” (baca beritanya di sini). Kalau lapar dan buru-buru, kita bisa memanfaatkan fasilitas “drive-thru” di beberapa restoran. Nah sekarang kalau tiba-tiba “kebelet” dan buru-buru, jangan khawatir ada fasilitas “sex drive-in” ini. Subhanallah… *speechless*

Bilik-bilik cinta di Swiss

“Bilik-bilik cinta” di Swiss

Dunia, oh dunia… umurmu sudah tak panjang lagi.

[Book] Halal Is My Way

“Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah direzekikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya” (Q.S. Al-Maidah : 88)

Melalui ayat tersebut Allah SWT memerintahkan kita untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik (halalal thayyiban). Tidak cuma halal, tapi juga baik (untuk tubuh kita). Bahkan perintah ini disejajarkan dengan bertakwa kepada Allah. Usaha kita mencari hal-hal yang halal dan menjauhi yang haram, ibarat penggaris yang mengukur keimanan kita kepada Allah SWT. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita wajib tahu mengenai apa-apa yang masuk kategori halal dan haram.

Sebab walaupun kita tinggal di negara yang mayoritasnya Muslim, ternyata tidak menjamin bahwa makanan-makanan yang disajikan, terutama di restoran-restoran oriental atau masakan barat, bebasa dari zat yang diharamkan oleh syariat. Untuk itu, kita dituntut untuk selalu berhati-hati agar tidak sampai mengonsumsi makanan haram. Dan kehati-hatian itu perlu didukung juga dengan wawasan yang cukup.

Buku "Halal Is My Way"

Buku “Halal Is My Way”

Alhamdulillah akhirnya saya bisa menyelesaikan membaca buku “Halal Is My Way” karya Aisha Maharani (pengelola akun @halalcorner). Buku ini cukup ringan dibaca (dan dibawa :D). Konten utamanya saya hitung tidak sampai 100 halaman. Jadi cocok buat Anda yang suka mabuk duluan lihat buku tebal, hehe.

Buku ini dikemas dengan cukup menarik. Ada beberapa bab materi yang menjelaskan mengenai latar belakang edukasi halal, dampak mengonsumsi barang haram, ciri-ciri makanan dan minuman yang diharamkan, hingga pengetahuan mengenai proses sertifikasi halal. Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan beberapa cerita kartun yang saya rasa akan menarik bagi anak-anak untuk belajar tentang halal sejak dini. Tak hanya itu, di buku ini juga disisipi resep-resep makanan dan minuman sederhana yang tentunya halal juga dong.

Bagi saya sendiri, setelah membaca buku ini saya mendapatkan banyak wawasan baru. Wawasan baru itu terutama mengenai varian zat bahan tambahan pangan (BTP) dan proses sertifikasi halal. Selain wawasan baru, melalui buku ini saya juga kembali diingatkan mengenai dampak-dampak dari mengonsumsi barang haram terhadap amalan ibadah dan juga efeknya bagi tubuh kita.

Well, saya tidak akan menceritakan detail isi buku ini tentunya. Bagi rekan-rekan pembaca yang tertarik membeli buku “Halal Is My Way” ini, bisa memesan secara online melalui websitenya di sini. Harganya Rp39.000 (belum termasuk ongkos kirim).

Satu kekurangan buku ini menurut saya adalah bukunya yang kurang tebal :P. Sebenarnya saya mengharapkan pembahasan yang lebih komprehensif mengenai praktik penggunaan varian zat-zat yang diharamkan pada produk makanan dan kosmetik di masa yang teknologinya sudah semakin canggih ini. Tapi katanya akan dibahasa secara khusus di seri buku berikutnya. Mari kita tunggu saja. 🙂

Nikmat Selamat Dalam Perjalanan

Sering kita membaca atau mendengar berita di media massa tentang peristiwa kecelakaan kereta api, mobil, sepeda motor, atau bahkan pejalan kaki sekali pun, seperti kejadian dua minggu lalu yakni meninggalnya seorang mahasiswa ITB karena tertabrak motor ketika tengah menyeberang. Atau peristiwa terbaru, yakni hilangnya seorang mahasiswa ITB ketika tengah melakukan pendakian gunung (baca di sini).

Ketika membaca berita dua peristiwa yang secara kebetulan menimpa anak ITB ini dan waktu kejadiannya juga berdekatan, tiba-tiba ada momen yang membuatku merenung, bahwasannya ternyata nikmat selamat dalam perjalanan itu mahal. Dan parahnya manusia seringkali lupa untuk bersyukur kepada-Nya atas nikmat itu. Ya, jika bukan karena nikmat-Nya, bisa jadi namaku pun akan masuk ke dalam koran dengan berita yang sama saat mendaki Gunung Gede beberapa waktu yang lalu.

Seorang first timer yang akan melakukan perjalanan jauh ke suatu tempat untuk pertama kali, biasanya akan merasakan kegelisahan (anxiety) ketika akan memulai perjalanan. Yang dimaksud dengan ‘pertama kali’ itu bermacam-macam contohnya. Pertama kalinya dia akan ke tempat itu, pertama kali dia akan mendaki gunung, pertama kali dia akan bepergian dengan pesawat, dan lain sabagainya. Lalu, Sebagaimana tabiat alami manusia, yakni ketika merasa terancam, kesusahan, ketakutan, atau kegelisahan, kita akan berdo’a kepada Allah agar diberikan keselamatan dalam perjalanan. Namun, setelah tiba dengan selamat di tempat tujuan, sebagian dari kita seringkali lupa untuk bersyukur kepada Allah, persis sebagaimana yang disindir oleh Allah dalam Q.S. Yunus ayat 12: “Dan apabila manusia ditimpa bahaya dia berdo’a kepada Kami dalam keadaan berbaring, duduk atau berdiri, tetapi setelah Kami hilangkan bahaya itu daripadanya, dia (kembali) melalui (jalannya yang sesat), seolah-olah dia tidak pernah berdo’a kepada Kami untuk (menghilangkan) bahaya yang telah menimpanya.”

Sementara itu, bagi mereka yang sudah biasa melakukan perjalanan jauh, entah itu naik gunung, atau bepergian dengan pesawat, atau lain sebagainya, bahkan untuk berdoa sebelum memulai perjalanan saja kadang-kadang lupa. Sebab bisa jadi bagi mereka perjalanan yang akan mereka lakukan itu adalah just another trip saja.

Sebenarnya pun tak harus perjalanan jauh. Tanpa kita sadari, hampir setiap hari kita pasti melakukan perjalanan meninggalkan rumah, baik untuk pergi ke tempat bekerja, ke kampus, ke mal, berkunjung ke rumah teman, atau sekedar ke warung untuk membeli sesuatu. Di dalam perjalanan itu bisa jadi kita mengalami kecelakaan. Oleh karena itu, bisa kembali lagi ke rumah dengan selamat tanpa kurang satu apapun adalah nikmat luar biasa dari Allah yang harus kita syukuri.

Sebagai seorang muslim sudah seyogyanya kita perlu mengetahui, mempelajari, dan alhamdulillah jika bisa mengamalkan adab-adab yang telah diajarkan di dalam syariat perihal berpergian atau safar ini. Saya menemukan artikel yang bagus di muslim.or.id ini yang menjelaskan adab-adab sekembalinya seseorang dari safar. Salah satu adabnya adalah membaca takbir 3 kali dan doa “Aayibuuna taa-ibuuna ‘aabiduun. Lirobbinaa haamiduun (Kami kembali dengan bertaubat, tetap beribadah dan selalu memuji Rabb kami).” Artikel yang saya tautkan itu sebenarnya adalah artikel berseri, yang menjelaskan tentang adab safar. Di artikel sebelum itu (adab kembali dari safar), kita juga bisa membaca artikel yang menjelaskan perihal adab persiapan dan ketika safar.

Anyway, saya menulis ini bertujuan untuk pengingat dan renungan saya pribadi yang sering lupa untuk bersyukur atas nikmat keselamatan dalam perjalanan yang dianugerahkan-Nya. Semoga kita semua bisa menjadi hamba-Nya yang selalu bersyukur.

Ceramah Tarawih Ridwan Kamil di Cisitu

Seorang Ridwan Kamil — walikota Bandung yang baru saja terpilih — mengisi ceramah tarawih mungkin hal yang biasa saja. Masjid Salman ITB selalu rutin mengundang banyak tokoh nasional untuk mengisi tarawih di sana. Nah, kalau mengisinya di sebuah masjid di sebuah perkampungan padat penduduk nan jalannya berupa gang sempit yang hanya selebar dua motor… hmm… rasanya jarang mendengar hal itu terjadi.

Nah, itulah yang terjadi dua hari yang lalu (10/07), tepatnya pada malam hari ke-2 bulan Ramadhan, di Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo, Cisitu Lama, Bandung. Usai sholat subuh pengurus DKM mengumumkan bahwa penceramah tarawih malam itu adalah Ridwan Kamil. Rasanya agak sukar dipercaya, seorang walikota datang ke masjid yang terletak di dalam suatu gang perkampungan padat begini.

Ba’da maghrib ketika aku pulang kerja dan mampir ke sebuah warung, antusiasme warga menyambut kedatangan kang Emil (panggilan akrab Ridwan Kamil) dapat kurasakan. Bapak-bapak yang kebetulan berkumpul di warung itu, tengah membicarakan Ridwan Kamil. Anak-anak kecil yang tengah bermain dipelataran masjid pun juga tahu akan kedatangan Ridwan Kamil. “Eh, nanti ada Ridwan Kamil lho di tarawihan,” begitu kata salah satu dari mereka. Masjid Al-‘Urwatul Wutsqo malam itu juga sepertinya penuh sekali. Ada muka-muka baru yang kulihat. Jamaah yang biasanya sholat di masjid lain, sepertinya khusus malam itu menyempatkan untuk mengikuti sholat Isya’ dan tarawih di sini.

Di awal ceramahnya beliau mengutip ayat perintah puasa, yakni Al-Baqarah 183. Lalu beliau juga mengutip beberapa ayat Ar-Rahman, mengingatkan jamaah akan betapa pentingnya untuk selalu bersyukur. Menyambung hal tersebut beliau mencoba mengaitkan bahwasannya tiket kebahagiaan itu tak ada hubungannya dengan jumlah kekayaan. Indonesia, walaupun secara GDP (Gross Domestic Product) masih kalah jauh dari negara-negara maju, tingkat kebahagiaannya atau yang dikenal dengan Happy Planet Index (HPI) pada tahun 2012 berada pada peringkat 12, di atas negara-negara maju. (bisa dilihat di sini: wikipedia)

Sebagai warga kota, tanggung jawab kita untuk menjaga kenyamanan kota. Jika kota tetap seperti itu-itu saja tidak mau berubah mengantisipasi peningkatan jumlah penduduk, bukan tidak mungkin ketika kita baru keluar rumah, kemacetan sudah menunggu di depan. Kota yang nyaman salah satu indikatornya adalah warganya nyaman untuk bepergian ke luar rumah, tidak kena copet dan tidak takut kena macet.

Selanjutnya beliau menyinggung beberapa program beliau saat menjabat walikota. Pertama, Masjid-Net. Yakni, memasang wifi atau spot-spot internet di masjid-masjid. Ide di balik gagasan ini adalah untuk mengajak generasi muda yang saat ini haus akan informasi dan gemar mengakses internet untuk mengunjungi masjid. Daripada nongkrong-nongkrong tidak jelas dan tidak bermanfaat, dengan adanya akses internet di masjid ini akan menarik bagi mereka untuk ke masjid. Program itu selaras dengan keinginan beliau untuk memanfaatkan menara masjid sebagai menara untuk pemancar seluler juga. Hal ini dilakukan untuk menyiasati kebutuhan akan lahan untuk memasang menara seluler di kota Bandung. Beliau mengatakan bahwa beliau telah berkomunikasi dengan ketua umum MUI Bandung, bapak K.H. Miftah Farid terkait hal ini.

Program kedua adalah 1 kampung 1 taman bermain (aku tak ingat dengan pasti apakah beliau menyebut 1 RW atau 1 kampung). Idenya adalah dewasa ini anak-anak kita, terutama di pemukiman yang padat penduduk, sedikit sekali yang memiliki area lapang untuk bermain. Idealnya memang satu kampung memiliki satu area terbuka. Oleh karena itu, beliau akan meminta setiap kampung yang belum punya area terbuka tersebut untuk mengajukan kepada pemkot dan akan dibantu oleh pemkot untuk membebaskan lahannya. Range luas lahan itu sekitar 100-200 meter persegi. Sejauh ini sudah ada dua area lahan yang dibebaskan, salah satunya ada di Kopo.

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Sesi bincang-bincang warga dengan Ridwan Kamil

Program ketiga adalah anggaran 100 juta/RW/tahun. Untuk mendapatkan ‘jatah’ ini setiap RW perlu mengajukan proposal akan digunakan apa saja anggaran 100 juta itu. Terkait dengan program ini, di akhir pelaksanaan sholat Tarawih dan Witir Kang Emil mengadakan sesi bincang-bincang khusus untuk berinteraksi dengan warga sekitar setengah jam. Nah, di sesi tersebut itulah muncullah saran atau ide-ide kegiatan atau pengadaan fasilitas untuk memanfaatkan uang 100 juta itu. Dari ceramah dan sesi bicang-bincang itu, beliau menekankan harapannya agar warga Bandung dapat menjadi masyarakat madani, yakni masyarakat yang mampu menemukan solusi untuk permasalahan di lingkungan sekitarnya.

Anyway, aku sangat antusias dengan acara seperti ini. Seorang pemimpin mendatangi warganya untuk secara langsung menyampaikan program-programnya sekaligus mendengarkan masukan-masukan dari warganya. Aku tak melihat adanya pencitraan di sini. Dari dulu sejak beliau belum menjadi walikota, sudah banyak kontribusi konkret yang beliau berikan untuk Kota Bandung ini pada khususnya. Semoga ini menjadi awal yang baik sebelum beliau resmi menjabat sebagai walikota per tanggal 16 September nanti. Semoga beliau tetap istiqomah dan amanah ketika menjalankan tugasnya. 🙂