Menjalankan Apache pada XAMPP

Saat menggunakan XAMPP, sebagian dari kita akan menghadapi error “Apache is not able to start”. Berkali-kali kita mengklik “start” pada tombol di samping label “Apache”, tapi tetap saja Apache tidak mau jalan (Port 80 busy).

XAMPP Control Panel

XAMPP Control Panel

Penyebab yang sangat mungkin terjadi adalah karena telah ada service lain yang telah menempati port 80, misalkan ColdFusion Server, IIS Server, Skype, dll. Apache server sendiri secara default mensyaratkan untuk menempati port 80 agar dapat berjalan. Jika kita menemui hal seperti di atas di mana Apache server tidak mau berjalan, untuk memastikan bahwa port 80 memang digunakan oleh service lain di PC kita, kita bisa mengubah port untuk menjalankan Apache service tersebut. Caranya:

– ubah file “HTTPD.CONF” pada direktori (?:\xampp\apache\conf\)
– ubah “Listen 80” menjadi “Listen 85” (Port 80 diganti menjadi port 85)
– simpan file tersebut
– start kembali Apache Server

Jika Apache server dapat berjalan (running), berarti benar bahwa ada service lain yang sedang berjalan di port 80. Kasus yang sering ditemui adalah port 80 ternyata sudah ditempati oleh IIS Server karena memang service tersebut sudah menjadi bagian pada OS Windows. Oleh karena itu, jika kita ingin Apache server tetap berjalan pada port 80 maka kita harus mematikan IIS Server pada sistem kita.

http://localhost dengan IIS server

http://localhost (pada port 80) ditempati IIS server

Untuk mematikan IIS server tersebut dapat dilakukan melalui Start > Control Panel > Administrative Tools > Services (atau tekan Windows+R lalu ketikkan “services.msc”). Cari “World Wide Web Publishing Service”. Klik “Stop the service”. Ubah kembali “Listen 85” menjadi “Listen 80” pada file “HTTPD.CONF” tadi. Jalankan Apache server (pastikan Apache server telah berjalan / running). Masukkan URL http://localhost pada web browser. Sekarang XAMPP sudah dapat digunakan lagi sebagai local development server.

Disable World Wide Web Publishing Service

Disable World Wide Web Publishing Service

Kasus lain jika ada aplikasi Skype yang berjalan pada PC kita, bisa jadi service  aplikasi tersebut yang telah menempati port 80. Untuk mematikasnnya, buka aplikasi Skype lalu pilih menu Tools -> Advanced -> Connections. Lalu hilangkan tanda centang (uncheck) pilihan “Use Port 80 and 443″ dan tutup aplikasi Skype. Coba jalankan kembali Apache server.

Sebenarnya, ketika di awal tadi kita mencoba mengubah port ke 85, dengan cara itu pun kita sudah dapat menjalankan Apache server. Hanya saja saat memanggil Apache server dari web browser perlu ditambahkan angka port tersebut pada URL sehingga menjadi http://localhost:85.

Joy Trip to Padalarang

Sabtu itu aku numpang browsing artikel-artikel tentang sejarah KA Parahyangan pake internet-nya Adi. Aku tertarik dengan rute yang dilalui KA Parahyangan yang kabarnya sangat menarik dan melalui pemandangan alam yang indah. Terus terang, aku baru sekali naik KA Parahyangan dari Jakarta ke Bandung. Itu pun berangkat dari Jakarta sudah pukul 16.30. Ketika sampai di wilayah pegunungan daerah sekitar Cisaat, Cikubang, Padalarang, dsb, sudah malam hari, sehingga pemandangan di luar tidak tampak. Padahal di daerah-daerah tersebut terdapat pemandangan yang menarik seperti di Cisaat terdapat terowongan yang panjangnya sekitar 1 km dan di daerah Cikubang terdapat jembatan yang cukup tinggi dan panjang ratusan meter melintasi perbukitan.

Lalu iseng-iseng di tengah-tengah ngenet aku ngomong ke Adi, “Di, jalan-jalan ke Padalarang yok!”. Ternyata Adi pun menyambut baik ajakanku. Oke, siang itu juga kami langsung ngajak Khairul dan Kamal ikut jalan-jalan ke Padalarang naik KRD.
Dari kontrakan kami berangkat ke Stasiun Hall. KRD ekonomi ke Padalarang perjalanan berikutnya ternyata baru ada pukul 16.08. Oke, nggak masalah buat kami. Sebagai salah seorang railfan, waktu menunggu kedatangan kereta itu aku manfaatkan untuk menikmati pemandangan kereta api yang lalu lalang di Stasiun Hall. Kebetulan aku masih sempat melihat persiapan keberangkatan KA Malabar tujuan Malang. Kemudian ada juga langsiran lokomotif jenis BB yang baru saja pulang mengantarkan rangkaian KA “Argo Peuyeum” dari Cianjur.

Langsiran Lokomotif KA "Argo Peuyeum"

Langsiran Lokomotif KA "Argo Peuyeum"

Akhirnya KRD Ekonomi tujuan Padalarang tiba sekitar pukul 16.05. Gerbong satu penuh, gerbong dua penuh, … sampai akhirnya lewat entah gerbong ke berapa, dan Alhamdulillah ternyata … sepi! Langsung saja tanpa ragu kita langsung naik ke atas kereta. Tidak berapa lama kemudian KRD melanjutkan perjalanan lagi ke Stasiun Ciroyom.

Bagi temanku, Khairul, naik KRD Ekonomi ini menjadi pengalaman naik kereta pertama kali bagi dirinya. Dia berasal dari Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Di Sumatera Barat kereta api memang bukan angkutan massal yang populer. Kereta api di sana lebih diarahkan sebagai kereta wisata, sejauh yang aku tahu. Dia tampak menikmati perjalanan dan melampiaskan penasarannya dengan kereta api dengan berjalan-jalan di dalam kereta api.

Sampai di Stasiun Padalarang (PDL) sekitar pukul 17.00. Kami langsung Sholat Ashar di masjid di dalam stasiun tersebut. Ada yang unik di toilet di dekat masjid di dalam Stasiun PDL itu, yaitu ada tulisan “Toilet Gratis” di dekat pintu masuk toilet. Tapi di pintu kamar mandi ada tulisan lagi “Toilet Gratis Bagi Pengguna Jasa Kereta Api”. Benar saja, setelah kami keluar dari toilet kami diminta untuk menunjukkan karcis kereta kami. Untungnya karcisnya belum kami buang… 😛

Selesai sholat ternyata di jalur 2 Stasiun PDL telah stabling KA “Argo Peuyeum” yang akan melanjutkan perjalanan ke Stasiun Cianjur dari Stasiun Ciroyom. Menurut jadwal di stasiun, KA tersebut akan berangkat pukul 17.12 dari Stasiun PDL. Sebenarnya kami ingin melanjutkan perjalanan dengan kereta lagi, entah baik itu ke Purwakarta atau ke Cianjur untuk sekedar melihat pemandangan sepanjang perjalanan. Tapi berhubung ternyata sudah mendekati malam, niat itu kami batalkan dan akhirnya kami cuma jalan-jalan di sekitaran Stasiun Padalarang.

Narsis di sawah Padalarang

Narsis di sawah Padalarang

Stasiun Padalarang langsung berhadapan dengan pasar (aku kurang tahu namanya, mungkin Pasar Padalarang). Iseng-iseng jalan menembus pasar itu. Eh, nggak taunya langsung sawah saja. Akhirnya kami jalan-jalan di tengah pematang sawah. Maklum, di Bandung jarang melihat sawah :-P. Jadi teringat kampung halaman di Malang yang dekat persawahan, hehehe. Setelah melihat sawah ini, tiba-tiba jadi terpikir olehku jangan-jangan di dekat sini ada yang jual lalapan belut. Belum pernah aku menemui lalapan belut di tempat-tempat makan di sekitaran Dago. Langsung saja kami hunting tempat makan yang jualan lalapan belut. Setelah berjalan tanpa arah, bahkan sampai Kota Baru Parahyangan, ternyata tidak kami temui. Kami pun memutuskan balik ke stasiun sambil mampir ke tempat makan seadanya.

KRD Ekonomi terakhir dari Padalarang tujuan Cicalengka via Stasiun Hall Bandung berangkat pukul 19.20. Tapi, malam itu KRD datang telat. Baru masuk Stasiun PDL sekitar pukul 19.30. Kami langsung mengincar gerbong paling depan agar bisa melihat langsiran lokomotif yang akan dirangkaikan ke gerbong paling depan. Sebelum lokomotif langsir, ternyata tepat di jalur 2 telah datang KA Argo Parahyangan dari Jakarta tujuan Bandung. Setelah KA Argo Parahyangan melanjutkan perjalanan lagi, lokomotif baru bisa langsir melewati jalur 2. KRD Eknomi akhirnya berangkat sekitar pukul 19.50.

Di Stasiun Ciroyom (kalau tidak salah) lewat KA Argo Parahyangan yang sudah balik lagi ke Jakarta gambir. Wow… sepi sekali KA Argo Parahyangan malam itu. Mungkin okupansinya hanya sekitar 5-10% untuk yang kelas eksekutif. Mungkin karena faktor malam minggu ya…

Akhirnya kereta kami tiba di Stasiun Hall Bandung sekitar pukul 20.20. Di Stasiun Hall Bandung sudah tersedia rangkaian KA Harina tujuan Semarang dan KA Lodaya tujuan Solo Balapan. Kedua KA itu meruapakan KA terakhir yang akan berangkat dari Stasiun Hall Bandung ini. Kami sendiri pun langsung pulang kembali ke kosan.

Warna-Warni Tugas Besar IF Semester 6

Kuliah semester ini selesai juga akhirnya. Hari Jumat 7 Mei 2010 kemarin adalah hari kuliah terakhir semester ini di ITB. Tetapi semester ini masih menyisakan setidaknya 2 minggu ke depan untuk masa UAS.

Bagi sebagian anak angkatan 2006, tanggal 7 Mei 2010 itu bisa jadi akan menjadi kuliah terakhir mereka di ITB. Tidak sedikit dari mereka yang meng-update status di akun facebook-nya untuk menyatakan kesedihannya akan kuliah terakhir di ITB ini. Bahkan ada seorang teman yang menyesal karena dia “gagal” mengikuti kesempatan kuliah terakhir karena bangun kesiangan. Wah, wah… 😀

Bagiku sendiri dan mungkin sebagian teman-teman IF seangkatan denganku semester ini mungkin adalah semester terberat di antara semester-semester sebelumnya. Hampir setiap minggu ada deadline tugas besar yang cukup menyita waktu. Mulai dari kuliah Interaksi Manusia Komputer (IMK), Intelegensia Buatan (IB), Kriptografi, dan Pemrogaman Internet (Progin), serta mungkin kuliah lain di samping kuliah utama semester 6 ini yang disebutkan barusan. Tetapi di situlah aku benar-benar merasakan salah satu “sensasi” menjadi mahasiswa. Aktivitas “menubes” itu juga sangat berperan dalam mengubah pola tidur dan makanku. Seringkali dalam “menubes” itu kami baru tidur sekitar waktu dinihari, kadang-kadang juga sampai lupa atau menunda makan karena saking hectic-nya dalam “menubes”.

Bicara tentang makan dalam aktivitas “menubes”, kami sepertinya memang perlu adanya sukarelawan untuk menjadi “sie konsumsi”… hehehe. Serius lho ini. Sie konsumsi ini bertugas untuk membelikan makanan buat teman-teman sekelompoknya. Dengan demikian, kebutuhan jasmani para anggota kelompok tetap terpenuhi. 😛

Makan dulu...

Makan dulu...

Tertidur

Tertidur

Mengoding

Mengoding

Foto untuk cover tubes kriptografi

Foto untuk cover tubes kriptografi

Sepanjang semester ini rumah kontrakan kami menjadi homebase untuk pengerjaan tugas besar. Tidak jarang bisa sampai 3 kelompok mengerjakan bersama di kontrakan kami ini. Nah, repotnya waktu tidur. Karena kontrakan kami tidak cukup luas, akhirnya terpaksa tidur berjejer kayak ikan pindang dijemur… hehehe.

Efek lain dengan dijadikannya kontrakan kami sebagai homebase adalah tentu saja tagihan listrik jadi melonjak! Bulan Maret yang lalu di mana juga merupakan puncak-puncak tubes, tagihan listrik kontrakan kami melonjak hingga sekitar 80% dari rata-rata bulan biasanya. Wow…

Tetapi di balik itu semua sebenarnya pengalaman “menubes” ria ini akan menjadi pengalaman yang akan selalu dikenang. Suka duka selama tubes dijalani bersama-sama. Tubes kuliah Pemrograman Internet ke-5 yang dikumpulkan pada hari jumat 7 Mei yang lalu mengakhiri rangkaian tugas besar semester ini. Sekarang saatnya mempersiapkan UAS selama 2 minggu ke depan. Semester depan aku sudah menginjak tingkat IV. Wah, tak terasa ternyata kesempatanku belajar di ITB tinggal sebentar lagi… hiks.. hiks…

BumpTop 3D Desktop Technology

Desktop yang terlihat benar-benar seperti nyata dengan antarmuka 3D?  Sebaiknya Anda perlu segera mencoba aplikasi BumpTop 3D ini. Aplikasi ini sebenarnya sudah lama diperkenalkan oleh Anand Agarawala,pengembang teknologi tersebut, pada tahun 2007 dalam suatu konferensi TED  (lihat video). Aplikasi itu sendiri telah dirancang untuk dapat berjalan pada lingkungan Mac dan Windows. Fitur-fitur yang disediakan adalah icon piles, di mana pengguna dapat memanajemen ikon atau berkas-berkas yang diletakkan di desktop. Lalu ada fitur photo pin-ups, di mana pengguna dapat “menempel” atau “menggantung” suatu berkas, ikon, atau foto pada “dinding” virtual pada desktop. User experience lain yang ditawarkan aplikasi ini adalah pengguna dapat secara mudah melakukan drag and drop berkas-berkas atau ikon pada desktop dengan memberikan efek seperti pada di dunia nyata. Misal, melempar berkas ke “dinding”, maka berkas tersebut akan memantul.

Setelah tanggal 7 Mei 2010 aplikasi BumpTop ini tidak akan available secara bebas lagi untuk pengguna karena BumpTop sekarang telah diakuisisi oleh Google  dan kemungkinan aka diadopsi sebagai standard desktop dalam Google Chrome OS. Jadi, bagi Anda yang belum sempat mencobanya dan berminat terhadap aplikasi ini bisa mengunduhnya pada link ini. Aplikasi ini sebenarnya berbayar. Dengan membeli aplikasi ini Anda akan dapat menjadi pro user yang akan mendapatkan fitur-fitur yang lebih daripada pengguna biasa. Installer tersedia untuk lingkungan Mac dan Windows. Setelah tanggal 7 Mei 2010 link untuk mengunduh tersebut akan ditutup.

BumpTop Desktop 3D

BumpTop Desktop 3D

Argo Gede + Parahyangan = Argo Parahyangan

Banyaknya suara masyarakat yang menyayangkan kebijakan PT KA untuk menghentikan operasional KA Parahyangan ternyata didengarkan juga oleh PT KA. Maklum, KA Parahyangan ini sudah menjadi legenda dalam dunia perkeretaapian. Ibaratnya KA Parahyangan ini adalah simbahnya jalur Jakarta-Bandung karena sudah melayani jalur tersebut sejak tahun 1971. Manajemen PT KA akhirnya tetap mengadakan KA Parahyangan tersebut. Hanya saja namanya kini mendapatkan embel-embel “Argo” di depannya karena dilebur dengan “saudara”nya yaitu KA Argo Gede.

Cukup aneh juga sebenarnya kalau namanya berubah menjadi “Argo Parahyangan” mengingat Parahyangan bukan nama gunung, sementara kata “Argo” sendiri berarti gunung. Di samping itu KA Argo biasanya hanya terdiri atas KA kelas eksekutif argo saja, tidak ada tambahan kelas lainnya. Tapi pada rangkaian KA Argo Parahyangan ini akan tersiri 4 gerbong eksekutif milik KA Argo Gede plus 2 gerbong bisinis milik KA Parahyangan.

Yang patut disyukuri adalah meskipun hasil peleburan dengan KA Argo Gede, ternyata tarif mengikuti KA Parahyangan yang lama, yaitu Rp 50.000 untuk eksekutif dan Rp 30.000 untuk bisnis. Jadwal pemberangkatan regular KA Argo Parahyangan dari Bandung sendiri menurut rencana adalah sebanyak enam kali perhari, yaitu pada pukul 05.30, 06.30, 11.30, 14.40, dan 16.30 WIB dengan satu pemberangkatan fakultatif pada malam hari (pukul 20.15 WIB).  Selain itu khusus pada hari Sabtu dan Minggu, PT KA juga akan menambah satu perjalanan pada pukul 08.45 WIB, serta satu pemberangkatan tambahan pada setiap Senin pukul 04.00 WIB  dari Bandung.

Kebijakan PT KA ini jelas disambut gembira oleh masyarakat Bandung atau Jakarta yang biasa menggunakan KA Parahyangan terutama pelanggan kelas bisnis karena kebutuhannya akan terakomodasi dengan adanya KA Argo Parahyangan ini. KA Argo Parahyangan ini akan resmi beroperasi tanggal 27 April 2010 besok. Jadi hari ini, 26 April 2010, adalah kesempatan terakhir bagi pecinta KA Parahyangan dan KA Argo Gede untuk menaikinya.

Gerakan Menabung Air

Masih dalam rangka memperingati hari bumi 22 April 2010 (memangnya Bumi lahir tanggal segitu… :D), hari ini di ITB diadakan kegiatan “Gerakan Menabung Air” yang diprakarsai oleh Forum Ganesha Hijau (forum yang terdiri atas beberapa unit dan himpunan mahasiswa jurusan di ITB yang peduli pada lingkungan). Aku sangat antusias sekali ketika diajak salah seorang teman di divisi Pengabdian Masyarakat HMIF untuk ikut mewakili himpunan dalam acara tersebut. Kebetulan aku punya interest terhadap hal-hal yang berkenaan dengan lingkungan alam.

Berikut ini kutipan dari milis himpunan deskripsi mengenai kegiatan tersebut:

Gerakan ini dilatarbelakangi oleh maraknya pembangunan tidak pada tempatnya yang mengakibatkan berkurangnya area resapan air. Dampak dari fenomena tersebut adalah tingginya limpasan air yang berujung pada bencana banjir di Bandung yang merupakan daerah cekungan. Dengan membuat lubang sebesar 10cm dan kedalaman 100cm maka luas bidang resapan akan bertambah sebanyak 3140cm atau 1/3 m (Brata & Nelistya, 2008). Kegiatan ini dapat menjadi  program solusi jangka panjang untuk menanggulangi banjir dan meningkatkan peran serta masyarakat menjadi lebih pro-aktif, demi Bandung yang semakin lestari.

Kegiatan ini merupakan aksi seluruh warga Bandung yang dikoordinasi oleh partisipan Forum Hijau Bandung (FHB). Isu kunci yang diangkat ialah menambah sistem resapan air di wilayah Bandung, dapat dengan cara membuat lubang biopori, sumur resapan, membersihkan saluran drainase, dll. Kegiatan ini juga didukung oleh Pemerintah Kota, BPLH Kota, dan BPLHD Provinsi, yang sedemikian bersama-sama dengan semangat kolaborasi untuk membuat Bandung semakin lestari.

Kegiatan “Gerakan Menabung Air” ini melibatkan perwakilan himpunan-himpunan jurusan di ITB. Alhamdulillah ternyata teman-teman himpunan lain banyak juga yang antusias mengikuti kegiatan ini. Hampir semua himpunan mengirimkan perwakilannya.

Kegiatan diawali dengan membuat lubang biopori di beberapa spot di dalam kampus. HMIF bergabung bersama HMT (Pertambangan), Nymphaea (Biologi), HMP (Planologi), HME (Elektro Teknik), Himastron (Astronomi), dan juga tentunya beberapa orang dari HMTL (Teknik Lingkungan) menempati spot kantin bengkok.

Untuk membuat lubang biopori kita bisa menggunakan alat bor tanah yang memang dirancang khusus (klik di sini). Dalam kegiatan ini kita menggunakan alat bor tanah yang sudah disediakan oleh HMTL. Sebelum kita mulai bekerja, kita di-briefing dulu oleh teman-teman HMTL. Kedalaman lubang biopori yang akan dibuat idealnya antara 80-100 cm. Ternyata tidak semudah itu kita mengebor tanah. Seringkali lubang buatan teman-teman cuma sedalam 40-50 cm, gara-garanya di dalam tanah tersebut ada batu yang membuat alat tersebut susah untuk mengebor lebih dalam lagi karena tidak kuat menghancurkan batu itu.

Setelah dilubangi, selanjutnya adalah mengisi lubang itu dengan daun-daunan kering yang dipotong kecil-kecil. Tujuannya agar menarik cacing tanah untuk memakan daun-daunan tersebut sekaligus akan membuat lubang biopori menjadi lebih dalam lagi. Terakhir, di ujung permukaan lubang dipasang sebuah paralon dengan panjang kira-kira 15-20 cm untuk menahan lubang tersebut agar tanah di sekelilingnya tidak ambrol.

Setelah satu jam berada di spot dalam kampus, kegiatan dilanjutkan dengan membuat lubang biopori di taman ganesha. Kebetulan selama musim penghujan baru-baru ini, taman ganesha ini selalu terendam oleh air hujan. Air tersebut sulit sekali untuk meresap ke dalam tanah sehingga menggenang beberapa lama di taman ganesha.

Nah, dengan kegiatan membuat lubang biopori ini harapannya tanah akan mudah meresap air hujan sehingga tabungan air di dalam tanah akan menjadi semakin banyak, sesuai dengan namanya “Gerakan Menabung Air”. Di taman ganesha ini semua perwakilan himpunan bergabung, dan kembali disebar di spot-spot taman ganesha untuk membuat lubang biopori. Kira-kira ada satu jam kita membuat lubang-lubang biopori di taman ganesha ini. Setelah itu kegiatan dilanjutkan dengan ngobrol santai diisi dengan sharing mengenai lingkungan. Sambil duduk-duduk menikmati gorengan yang disediakan panitia, kita juga mendengarkan sharing pengalaman dari beberapa orang yang memang aktif dalam kegiatan lingkungan. Semoga dengan adanya kegiatan ini turut membangkitkan sense pada diri kita untuk ikut peduli pada lingkungan kita.

Ngebor terus...

Ngebor terus...

Memasukkan dedaunan ke dalam lubang biopori

Memasukkan dedaunan ke dalam lubang biopori

SMAN 3 Malang Masuk Acara TV Korea

Tiba-tiba saja aku jadi teringat kembali masa SMA. Hal ini terjadi karena tahu-tahu salah seorang teman SMA-ku, Bayu Akbar, menge-tag aku beserta anak-anak yang lain di video yang di-upload-nya di facebook (klik di sini). Wew… Ternyata video itu adalah video rekaman acara salah satu stasiun TV Korea (tentunya Korea Selatan ya maksudnya). Acara TV tersebut sebenarnya mirip-mirip dengan acara “K*SM*S” yang pernah ditayangkan stasiun TV R**I, atau acara “DU**A L**N” yang pernah ditayangkan TR**S TV. Yup, acara TV Korea tersebut memang biasa menyiarkan hasil liputan khusus mengenai fenomena-fenomena “mistis” yang ada di tengah-tengah masyarakat. Uniknya, kali ini yang menjadi liputan adalah SMA-ku, SMAN 3Malang. SMA Tugu (SMA 1, 3, dan 4 yang berada di kompleks Tugu Kota Malang) memang terkenal dengan kisah “keangkerannya”. Wah, tidak disangka, hebat juga ya, kisah tentang sekolahku itu ternyata terdengar juga sampai ke Korea. Wow… 😀 (halah…kok bangga).

Aku masih ingat, saat itu aku masih kelas XI SMA (sekitar bulan-bulan awal 2006). Tiba-tiba suatu hari ada pemandangan yang tidak biasa di sekolah kami. Selama beberapa hari kami melihat orang-orang entah dari mana, yang jelas kelihatan sekali kalau mereka dari Asia Timur, berkeliaran di sekolah. Awalnya aku, dan mungkin teman-teman yang lain, mengira bahwa orang-orang tersebut berada di sekolah kami karena ada urusannya dengan kerjasama sekolah atau sejenisnya. Ternyata prakiraan kami salah. Sempat tidak percaya juga saat tahu bahwa mereka berasal dari salah satu stasiun TV di Korea dan tujuan mereka datang kemari waktu itu adalah untuk meliput tentang fenomena “lantai berdarah” di SMAN 3 Malang.

"Lantai berdarah" di ruang 28 (Matematika)

"Lantai berdarah" di ruang 28 (Matematika)

“Lantai berdarah” itu berada di ruang 28 (ruang Matematika), terletak di pojokan lantai 2 SMAN 3 Malang. Konon katanya warna merah yang muncul di lantai itu adalah warna darah yang merembes ke permukaan lantai. Bahkan konon katanya lagi, meskipun lantai itu sudah diganti berkali-kali warna merah itu tetap saja muncul. Hihihi… Percayakah Anda?

Beberapa guru dan karyawan sempat dimintai komentarnya mengenai fenomena aneh itu oleh host acara tersebut. Di antaranya ada Pak Sukarji dan Pak Subur Waluyo. Pak Sukarji malah sempat diliput juga ketika sedang mengajar kelas 3 IPA 3 di ruangan “horor” tersebut. Tampaknya orang-orang Korea itu ingin mengetahui bagaimana suasana kelas itu saat kegiatan belajar mengajar berlangsung.

Pak Sukarji sedang mengajar di ruang 28

Pak Sukarji sedang mengajar di ruang 28

Selain guru dan karyawan, beberapa siswa juga dimintai “keterangan” mengenai apa yang pernah mereka rasakan tentang ruang 28 itu.

Salah seorang siswa (Mas Tegar, 3 IPA 3) sedang diwawancarai

Salah seorang siswa (Mas Tegar, 3 IPA 3) sedang diwawancarai

Tidak puas dengan hasil pengamatannya di siang hari yang tidak menunjukkan tanda-tanda “mistis”, mereka pun mencobanya lagi di malam harinya langsung. TV Korea itu meminta beberapa siswa SMAN 3 Malang untuk menjadi relawan acara mereka dengan duduk menempati ruang 28 itu saat tengah malam. TV Korea itu ingin sekali menemui fenomena “mistis” yang mereka harapkan. Bahkan, TV Korea itu juga sengaja mengundang salah seorang paranormal lokal untuk hadir juga malam itu. Wew… niat sekali orang-orang Korea ini…

Anak-anak dikumpulkan di ruang 28

Anak-anak dikumpulkan di ruang 28

Memang, menurut sejarah yang kami ketahui, dulunya lokasi SMAN 3 Malang sekarang ini sebelum menjadi sekolah, pernah dipakai juga untuk tempat penyiksaan orang-orang tawanan Belanda. Nah, dari kisah tersebut akhirnya orang-orang menyimpulkan bahwa warna merah yang keluar di lantai itu adalah warna merah dari darah korban-korban penyiksaan dahulu.

Yang jelas, selama aku bersekolah di sana belum pernah aku menemui fenomena-fenomena ganjil seperti yang banyak diceritakan. Pernah beberapa kali juga menginap di sekolah, malamnya keliling kelas, aku tidak menemui apa-apa. Terakhir kali ke sekolah, lantai-lantai yang lama di SMAN 3 Malang sudah ditumpuk dengan lantai-lantai yang baru. Tapi pemasangan lantai itu tidak ada kaitannya dengan fenomena “lantai berdarah” itu lho… Itu murni dalam rangka renovasi sekolah. Sekarang SMAN 3 Malang berubah menjadi sekolah dengan fasilitas yang benar-benar lengkap. Setiap kelas sekarang disediakan komputer dan LCD projector, kamera CCTV, dan ada fasilitas wifi juga. Nah, tentang fenomena “lantai berdarah” itu, entahlah, apakah itu masih terdengar sekarang ini.

SMAN 3 Malang dalam acara TV Korea

SMAN 3 Malang dalam acara TV Korea

—edited—

UPDATE

Barangkali ada yang mau lihat videonya, sudah saya upload di Youtube: