Monthly Archives: April 2019

Terhipnotis oleh Cerita

Belum ada sepekan, film Avengers: Endgame sudah memecahkan rekor box office akhir pekan pertama pemutarannya. Total 1,2 miliar dolar AS sudah diraup dari pemutaran di seluruh dunia.

Dari situ terlihat betapa film ini sangat ditunggu-tunggu oleh para penggemarnya. Bahkan sepanjang setahun semenjak pemutaran Avengers: Infinity War hingga menjelang diputarnya ‘Avengers: Endgame’ ini berbagai teori dan spekulasi telah berseliweran di jagat dunia maya mengenai bagaimana film Marvel Cinematic Universe (MCU) ini akan berakhir.

Orang-orang penasaran bagaimana nasib para hero yang mati dalam ‘Avengers: Infinity War’ dan bagaimana para hero tersisa bisa mengalahkan Thanos. Rasa penasaran itu pun terjawab sudah begitu menyaksikan film yang didaulat sebagai penutup serial MCU fase ketiga itu.

Di balik hype yang begitu tinggi mengenai film tersebut, saya pun jadi kepikiran… kok bisa ya kita sebegitu terhipnotisnya dalam mengikuti sebuah cerita fiksi. Kita mengikuti jalan ceritanya sedemikian rupa, menebak-nebak bagaimana ia akan berujung.

Avengers adalah salah satu contoh saja. Setiap orang saya yakin memiliki cerita favoritnya. Entah itu dari sebuah film, buku, atau media yang lain.

Ketika masih kanak-kanak, kita semua mungkin suka sekali dininabobokkan sembari mendengarkan sebuah cerita. Di sekolah juga mungkin kita sepakat saat-saat guru bercerita adalah saat yang menyenangkan.

Ada apa dengan sebuah cerita? Kadang-kadang saya pun nggak habis pikir juga. Ngapain sih saya niat banget mengikuti film MCU ini. Review-review di internet saya baca untuk memahami apa yang terjadi di film dan apa yang kira-kira akan terjadi di film berikutnya.

Padahal itu cerita fiksi bikinan manusia. Hal-hal detail sudah pasti selalu akan ada yang terlewat. Plot hole adalah sebuah keniscayaan, sedikit atau banyak.

Pertanyaan-pertanyaan atau ungkapan keheranan seperti “Eh, kenapa sih harus A yang mati”, “Kok musuhnya jadi gampang banget dikalahkan”, “Kalau A mati waktu lagi time traveling ke masa lalu, bukannya peristiwa yang terjadi di masa depan jadi berubah”, dan lain sebagainya akan selalu timbul.

Mungkin itulah salah satu asyiknya dalam mengikuti sebuah cerita. Memiliki rasa penasaran. Bertanya-tanya mencoba menjawab rasa keingintahuan. Juga berandai-andai mengenai jalan cerita.

Entahlah. Tapi mestinya ada penjelasan secara sains mengapa kita sebagai manusia bisa begitu tertarik dengan cerita.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Advertisements

Mahalnya Harga Tiket Penerbangan Domestik

Akhirnya saya menuangkan juga kekesalan saya di blog ini. Seperti yang sudah diketahui bersama sejak awal tahun 2019 ini harga tiket pesawat domestik melambung tinggi.

Saya sebetulnya bukan orang yang sering bepergian dengan pesawat antar kota di Indonesia. Kampung dan tempat domisili saya sekarang masih sama-sama di Pulau Jawa. Masih ada bus dan kereta api yang masih menjadi pilihan yang ramah.

Dahulu sesekali saya pergi menaiki pesawat jika ada urusan yang mendadak, atau memang tengah ada promo. Harga rata-rata tiket termurahnya ketika itu memang bersaing dengan kereta api kelas eksekutif.

Ketika harga tiket melambung tinggi awal tahun ini, saya belum merasakan dampaknya secara langsung. Hingga beberapa waktu yang lalu ada kawan dekat saya yang hendak menikah di Pekanbaru.

Saya melihat harga tiket pesawatnya gila-gilaan. Satu arah harga tiketnya 1,1 juta paling murah. Pada tahun kemarin, dengan harga segitu saya sudah bisa pulang-pergi naik pesawat ke nikahan teman saya di Padang. Bahkan lebih murah sedikit.

Karena kenaikan harganya yang tidak masuk akal bagi saya, akhirnya saya pun urung datang ke nikahan kawan saya itu. Mungkin kenaikan harga itu masih bisa ditoleransi jika saya pergi bukan untuk 1-2 hari saja di sana.

Dampak kenaikan harga ini tentunya akan lebih terasa bagi mereka yang domisili dan kampung halamannya berbeda pulau. Seperti kawan kantor saya yang orang tuanya tinggal di Ambon. Sekali naik pesawat sekarang minimal 2,5 juta. Pulang pergi sudah habis 5 juta.

Dengan harga yang sama sudah bisa dapat tiket ke Jepang dan sekitarnya PP. Akhirnya untuk urusan wisata orang lebih pilih ke luar negeri.

Tidak mengherankan apabila jumlah penumpang domestik menurun. Jumlah penerbangan pun juga turut berkurang.

Tapi rupa-rupanya, walaupun jumlah penumpang menurun, kalau menurut artikel ini, jumlah pendapatan maskapai malah meningkat karena naiknya tiket pesawat itu. Well, sepertinya bukan tidak mungkin fenomena ini masih akan terus bertahan untuk beberapa waktu ke depan dan bahkan seterusnya.

*sumber gambar: WordPress Free Photo Library

Outbound di Grafika Cikole

Hari Ahad minggu kemarin (14/4) saya bersama teman-teman kantor mengadakan acara jalan-jalan ke Lembang. Tepatnya di Terminal Wisata Grafika Cikole. Di sana kami bermain paintball dan permainan outbound lainnya.

Seperti jalan-jalan sebelumnya ke Ranca Upas, kali ini kami juga motoran ramai-ramai ke Cikole. Bedanya kali ini perjalanan tak sampai sejauh ke Ranca Upas.

Baca juga: Camping di Kampung Cai Ranca Upas

Gerbang pintu UPI menjadi meeting point kami. Setelah semuanya komplit, pukul 8.30 kami meninggalkan UPI menuju ke Grafika Cikole.

Tidak semuanya ikut meeting point di UPI. Teman-teman yang dari Cimahi janjian langsung ketemu di Grafika Cikole karena memang melalui rute yang berbeda.

Kumpul di depan UPI
Kumpul di depan UPI

Pagi itu jalan menuju Lembang cukup padat di beberapa titik. Terutama menjelang Farm House. Selepas itu jalanan relatif lebih lengang, apalagi selepas Alun-Alun Lembang.

Kurang lebih waktu tempuh perjalanan kami adalah 30 menit untuk sampai di Grafika Cikole. Tak lama kemudian rombongan dari Cimahi tiba juga di Grafika Cikole.

Continue reading