Suatu Ketika di Bus DAMRI

Pada hari Minggu kemarin saya naik bus DAMRI dari Terminal Leuwi Panjang menuju Dago. Kondisi bus ketika telah penuh oleh penumpang ketika saya naik. Tidak padat, tapi semua kursi telah terisi. Saya pun berdiri mengambil tempat di bagian tengah dekat pintu.

Saat bus baru dekat saja keluar dari terminal, bertambah lagi penumpang yang naik. Ada sekitar 6 orang mungkin. Di antaranya ada seorang ibu dengan putrinya yang kelihatannya memasuki usia TK atau kelas 1 SD.

Tiba-tiba dua orang remaja putri usia SMA yang duduk tak jauh dari tempat saya berdiri, kemudian berdiri memanggil ibu tersebut dan mempersilakan beliau dan putrinya untuk duduk di tempat mereka. Ibu itu agak segan awalnya, namun setelah dipersilakan lagi akhirnya beliau mengucapkan terima kasih kepada mereka dan menempati kursi yang diberikan.

Bus melanjutkan perjalanan kembali. Baru sebentar saja bus berjalan sudah ada penumpang yang naik lagi, yaitu seorang ibu dengan (sepertinya) putranya yang sudah dewasa.

Ada kejadian menarik setelah itu. Ibu yang baru duduk sebelumnya, tiba-tiba memanggil ibu yang baru naik itu dan menawarkan tempat duduk putrinya sembari meminta putrinya untuk pindah ke pangkuannya.

Saya tidak menyangka beliau yang baru saja diberikan tempat duduk sekitar 1-2 menit sebelumnya, kemudian berinisiatif untuk memberikan tempat duduknya. Sang anak juga tampak tidak merengek ketika diminta ibunya berdiri dari kursinya untuk pindah ke pangkuan ibunya.

Don’t take people’s kindness for granted

Sekelebat kemudian pikiran saya teringat pada sebuah idiom di atas. Sebenarnya mungkin orang juga akan memaklumi seandainya ibu tersebut tetap membiarkan putrinya yang masih kecil tetap duduk di kursinya. Namun ibu itu memilih untuk berbagi kursi dengan ibu yang baru naik itu dan memangku putrinya.

Sementara itu dua remaja putri yang memberikan kursi itu sebelumnya, saya lihat ekspresi muka mereka juga sepertinya setengah tidak percaya melihat kejadian itu. Tapi kemudian mereka tersenyum, sepertinya senang melihat kebaikan ibu tersebut.

Mungkin yang dilakukan ibu itu hanyalah sebuah gestur sederhana yang biasa, namun ketika suatu kebaikan dilakukan dengan ketulusan hati, akan selalu ada kehangatan yang bisa kita rasakan. Bahkan kehangatan itu pun juga akan turut dirasakan oleh sekelilingnya.

“The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched. They must be felt with the heart.” ― Helen Keller

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s