Monthly Archives: July 2019

Menjajal MRT Jakarta

Setelah 4 bulan lamanya, saya kembali berkunjung ke Jakarta lagi 2 pekan lalu. Kesempatan ke Jakarta itu saya manfaatkan untuk menjajal MRT (Mass Rapid Transit) Jakarta alias Ratangga yang resmi beroperasi pada 1 April 2019 yang lalu.

Sepulang dari urusan di kawasan Kuningan, saya sengaja pergi ke Bundaran HI (Hotel Indonesia), salah satu lokasi stasiun ujung MRT Jakarta. Stasiun Bundaran HI ini berada di bawah tanah. Ada beberapa pintu masuk yang tersebar di trotoar sekitaran Bundaran HI.

Hari itu adalah hari kerja. Saya mencoba MRT ini di saat orang-orang pulang kerja, sekitar jam 6 kurang menjelang maghrib. Ramai sekali pekerja perkantoran Jalan Sudirman yang menumpang MRT ini.

Tujuan saya petang itu adalah Stasiun Istora. Saya meetup dengan teman saya yang memang kantornya dekat dari stasiun tersebut. Mumpung di Jakarta juga kan, ketemuan dengan teman lama. Dia juga baru saja pulang kerja.

Pintu masuk Stasiun Istora

Enaknya Stasiun Istora ini, di dalamnya ada beberapa tenant berupa convenience store, toko roti, dan kafe. Teman saya mengajak ketemuan di Auntie Anne’s. Di sana kami mengobrol sampai sekitar jam 7 malam.

Terkait dengan MRT Jakarta sendiri, menurut saya stasiun dan keretanya sudah keren banget dan bersih juga tentunya. Sayangnya, sepertinya masih ada masalah pada passenger gate-nya, gate tempat kita tap-in dan tap-out kartu kita.

Di dalam MRT Jakarta

Entahlah. Saya merasa scanner yang digunakan di gate tersebut kurang responsif. Antrian sempat sedikit tersendat waktu keluar di Stasiun Bundaran HI. Ada penumpang yang sudah tap kartu dia tapi pintu tidak terbuka. Ketika tiba giliran saya, pintu dibiarkan terbuka terus. Sepertinya sebagai solusi atas masalah sebelumnya itu.

Selain itu, saya merasa jumlah gate yang disediakan agak kurang. Saya membayangkan pada jam sibuk pasti antriannya akan begitu panjang.

Kemudian terkait dengan papan signage. Rasanya agak kurang. Terutama papan signage yang menunjukkan ke mana pintu keluar. Begitu tiba dari naik eskalator peron, saya agak kebingungan akan jalan ke arah mana. Sebab pintu keluar terbagi ke dua arah.

Di depan eskalator atau tangga naik penumpang itu tidak ada papan yang memberitahu nama masing-masing pintu keluar itu. Kita harus jalan dulu hingga ke passenger gate baru menemukan signage nama pintu keluar itu.

Iya kalau arah passenger gate yang kita tuju itu benar. Kalau ternyata pintu keluar yang kita maksud ada di arah berlawanan, kita tentu harus balik arah lagi yang lumayan juga jauhnya.

Terlepas dari kekurangan itu, tentunya dengan hadirnya MRT Jakarta ini akan memudahkan mobilitas warga Jakarta. Sayang jika sampai tidak dimanfaatkan. Apalagi waktu tempuhnya juga sangat cepat dibandingkan transportasi jalan raya, sehingga dapat menjadi solusi menghindari kemacetan Jakarta.

Advertisements

Membuat Es Kopi Susu Kekinian Sendiri

Entah bagaimana awal mulanya, setahun belakangan ini es kopi susu kekinian begitu digemari oleh orang-orang. Tidak hanya kafe, banyak juga kedai kopi kecil yang menyediakan minuman yang satu ini.

Saya pernah mencoba beberapa kali membeli es kopi susu di beberapa kedai. Rata-rata harganya berkisar antara 20-25 ribu rupiah.

Tapi saya sebetulnya tipikal orang yang jarang ngopi di kedai kopi. Sepertinya bisa dihitung dengan jari jumlah ngopi di luar dalam setahun. Itu pun jarinya masih sisa.

Saya lebih suka membuat kopi sendiri di rumah atau kantor. Maklum, banyak ngopi di luar tidak baik bagi kesehatan kantong. Hehehe.

baca juga: Ngopi di Kantor

Selain itu, membuat kopi sendiri itu lebih menyenangkan. Walaupun alat yang saya punya sangat seadanya, tapi insya Allah nggak kalah kok rasa kopi yang dihasilkannya sama yang di kafe-kafe. Hahahaha.

Dua minggu belakangan ini saya tengah bereksperimen membuat es kopi susu sendiri di kantor. Video di YouTube ini jadi referensi saya dalam menentukan komposisi campuran yang saya buat. Saya pun juga menggunakan moka pot untuk menyeduh kopi karena hasilnya mendekati espresso.

Mengenai takaran masing-masing komposisinya, saya tidak sepenuhnya mengikuti resep yang diberikan di video tersebut. Saya mencoba bereksperimen mengubah takaran dalam setiap kopi susu yang saya buat.

Sejauh ini yang paling ok bagi saya campurannya sebagai berikut:
1. 20 gram gula aren cair
2. 100 gram susu full cream (merek Diamond)
3. 80 gram kopi moka pot (10 gram kopi gilingan medium fine + 100 gram air panas)
4. 80 gram es batu

Kenapa di atas saya sebut merek Diamond. Bukan bermaksud promosi, tapi serius, beda pabrikan susu, rasa kopi susu yang dihasilkannya berbeda juga. Saya sempat mencoba juga susu full cream merek Frisian Flag, tapi rasa susunya terlalu dominan dalam kopi susu yang dihasilkan. Terlalu creamy menurut saya. Walaupun sudah saya naikkan takaran kopinya menjadi 100 gram, rasa kopinya masih kalah.

Dibandingkan dengan memakai susu full cream merek Diamond, pahit-asam kopinya masih terasa lah dengan komposisi di atas. Dari segi harga, susu full cream merek Diamond 946 ml harganya sekitar 20 ribu rupiah. Sementara merek Frisian Flag, harganya sekitar 14 ribu rupiah. Lebih mahal Diamond, tapi rasanya lebih ok juga.

Tapi kembali lagi ke selera masing-masing sih. Dengan bereksperimen membuat kopi susu sendiri, nanti juga akan ketemu komposisi favorit kita. Dan tentunya sangat jauh lebih hemat. Hehehehe.

Kopi susu siap dinikmati